Dialektik Ulama Dalam Al-Muhkam Dan Al-Mutasyabih

25 July 2010 at 12:11 pm | Posted in AL-QURAN, Gen 5, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , ,

Oleh: Arina Amir Lc.

Pendahuluan

Allah  Swt. menurunkan  al-Quran ke muka bumi  sebagai  petunjuk  bagi umat manusla.  al-Quran  dengan  ayat-ayatnya memberikan  petunjuk  kepada seluruh  muslim  bagaimana  beriman dengan  akidah  yang  benar  dan  beribadah  dengan  cara  yang  benar.  Diantara  ayat-ayat  tersebut  ada  yang  dengan mudah  dipahami  tanpa  memerlukan penafsiran  yang  daqiq (mendalam) dan  sebaliknya. Inilah  nantinya  yang  dikenal  dengan  al-Muhkam dan al-Mutasyabih.

Pengertian al-Muhkam dan al-Mutasyabih

Dari  segi  bahasa,  kata  al-muhkam berasal  dari kata al-ihkam yang  bermakna  al-man’u. Sebagai  contoh  kalimat ahkama al-amr bermakna atqanahu wa mana’ahu ‘an  al-fasad.

Sedangkan  kata al-mutasyabih bermakna  serupa  dari  segi  bentuk  dan sulit  untuk  dibedakan.  Atau  dua  atau lebih  yang serupa  dari  segi  kata,  berbeda  dari segi makna.  Seperti  firman Allah  Swt.  tentang  sifat  buah-buahan  di surga  “wa utu bihi mutasyabiha” (penduduk syurga diberi buah-buahan yang serupa  bentuknya namun  beda  rasanya).

Adapun  pemakaian  keduanya  dari segi  istilah,  terdapat  beberapa  pendapat ulama  yaitu:

Pertama,  muhkam adalah sesuatu  yang diketahui  maknanya,  baik  secara  langsung  maupun  melalui  takwil.  Sedangkan mutasyabih  adalah  sesuatu  yang maknanya  hanya  diketahui  Allah  Swt saja,  seperti  hari  kiamat,  datangnya Dajal, ahruf al-muqaththa’ah pada  permulaan  beberapa  surat  dalam  al-Quran. Ahlussunnah  menganggap  inilah  pendapat  yang  benar.

Kedua,  muhkam adalah  sesuatu yang  hanya  mengandung  satu  makna  atau satu takwil sedangkan mutasyabih mengandung banyak makna. Ibnu Abbas memilih pendapat ini, begitu juga kebanyakan ahli ushul.

Ketiga, muhkan adalah sesuatu yang dipahami secara langsung tanpa perlu penjelasan. Sedangkan mutasyabih adalah sesuatu yang membutuhkan penjelasan akibat berbedanya penakwilan. Dengan artian mutasyabih bersifat kondisional. Pendapat ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Keempat, muhkam adalah sesuatu yang bagus bentuk dan susunannya serta mengacu pada satu makna jelas. Sedangkan mutasyabih adalah sesuatu yang maknanya hanya bisa diketahui jika terdapat petunjuk yang mengacu pada makna yang dimaksud. Pendapat ini disnisbahkan kepada Imam Haramain.

Kelima, muhkam adalah apa yang dalalahnya rajih yaitu nash dan zahir. Sedangka mutasyabih adalah apa yang dalalahnya tidak rajih, yaitu mujmal, muawwal dan musykil. Imam ar-Razy berpegang pada pendapat ini.

Semua pendapat di atas tidak bertentangan satu sama lain. Tetapi mayoritas ahli tahqiq berpendapat bahwa pendapat terakhir adalah pendapat yang paling jelas.

Al-Quran dan Muhkam-Mutasyabih

Di dalam al-Quran terdapat ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Al-Quran itu seluruhnya muhkam, seperti firman Allah: كتاب أحكمت أياته Namun juga ada ayat yang menunjukkan bahwa al-Quran itu seluruhnya mutasyabih, seperti firman Allah: الله نزل أحسن الحديث كتابا متشابها Namun di sisi lain terdapat ayat yang menunjukkan bahwa ayat al-Quran sebagiannya muhkan dan sebaginnya mutasyabih, seperti firman Allah: أنزل عليك الكتاب هن أم الكتاب وأخر متشابهات

Muncul  pertanyaan  apakah  ayat-ayat  ini saling  bertentangan  satu  dengan  yang lainnya?

Jawabannya adalah tidak. Penjelasannya adalah, maksud dari perkataan bahwa  al-Quran  seluruhnya muhkam adalah, al-Quran tersusun dengan sangat  rapi  dan  teliti  serta  tidak  terdapat kekurangan  dari  segi  lafaz maupun makna. Sedangkan yang dimaksud dengan  al-Quran  seluruhnya mutasyabih adalah  bahwa  ayat-ayat al-Quran  serupa dari segi  keindahan,  saling membenarkan  satu  dan yang  lainnya  dari segi makna,  juga serupa  secara  lafaz  serta maknanya  sebagai  sebuah  mukjizat.

Adapun  pernyataan ketiga  bahwa  al-Quran  sebagiannya muhkam dan  sebagiannya  lagi mutasyabih, maknanya  adalah  di dalam  al-Quran terdapat ayat-ayat yang  jelas maknanya yaitu muhkam dan dan ada  ayat-ayat yang  tidak  jelas maknanya  serta butuh penafsiran yaitu mutasyabih. Ulama  berbeda  pendapat  dalam  hal  ini sebagaimana  dijelaskan  dalam  pengertian muhkam dan mutasyabih dari segi istilah.

Bentuk-Bentuk Mutasyabih

Ar-Raghib  mengatakan di dalam kitabnya Mufradat al-Quran bahwa  mutasyabih mempunyai  tiga bentuk: mutasyabih dari segi lafaz, mutasyabih dari segi makna, dan mutasyabih dari segi lafaz dan makna sekaligus.

l.  Mutasyabih dari segi  lafaz

a. Dari  segi  lafaz mufrad (tunggal) terbagi  dua:

-Disebabkan  keanehan  lafaznya, seperti  firman Allah  Swt. وفاكهة وأبا yang  artinya  rumput-rumputan, dengan  dalil  ayat  setelahnya متاعا لكم ولأنعامكم

-Disebabkan  lafaznya  mengandung banyak  makna  seperti  firman Allah Swt.  فراغ عليهم ضربا باليمين.

b. Dari  segi  lafaz murakkab (majemuk) terbagi  tiga  bentuk:

-Karpna  disebabkan  oleh  ringkasnya perkataan  seperti  firman  Allah  Swt.

وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم.

-Karena  disebabkan  oleh  panjangnya kalimat  seperti  firman Allah  Swt. ليس كمثله شيء mungkin  akan  lebih  jelas maknanya  seandainya  huruf  kaf  dihilangkan.

-Karena  disebabkan  oleh  susunan kalimatnya  seperti  firman Allah Swt.  الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجا قيما

2.  Mutasyabih dari segi yaitu makna ayat-ayat tentang sifat Allah Swt, dan hari kiamat. Mutasyabih  lafaz dan  makna.

3.  Dari segi sekaligus, hal ini bisa dilihat dari lima segi:

a. Dari segi umum  dan khusus seperti dalam  firman  Allah Swt. فاقتلوا المشركين حيث وجدتموهم.

b. Dari  segi wajib dan  nadab seperti firman  Allah  Swt. فانكحوا ما طاب لكم من النساء

c. Dari  segi  waktu seperti  nasikh dan mansukh,  firman Allah  Swt. اتقوا الله حق تقاته

d. Dari  segi  tempat  dan perkara  yang menyebabkan  turunnya  ayat seperti firman  Allah  Swt.  إنما نسيء زيادة في الكفر akan  sulit mengetahui  makna ayat  ini  jika  tidak mengetahui  adat dan  kebiasaan  orang-orang  jahiliyah.

e, Dari  segi  syarat-syarat  sah  atau  tidaknya  suatu  perbuatan  seperti syarat-syarat  shalat  dan nikah.

Dari  bentuk-bentuk  mutasyabih  diatas  bisa  disimpulkan  bahwa  ayat-ayat mutasyabihat  di dalam  al-Quran terbagi ke  dalam tiga bagian:

1. Apa yang tidak mungkin diketahui ilmunya  oleh manusia  seperti  ilmu tentang  zat Allah Swt., sifatNya, ilmu tentang hari kiamat dan hal gaib lainnya  yang hanya diketahui oleh Allah Swt.  وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا الله

2. Apa yang  bisa diketahui  maknanya jalan oleh manusia  dengan  belajar dan  meneliti  seperti  mutasyabih yang  disebabkan oleh  ringkasnya kalimat atau susunannya.

3. Apa yang hanya dapat diketahui  oleh para  ulama melalui  tadabur dan ijtihad.

Ayat-Ayat  Sifat

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa  ayat-ayat  mutasyabihat  di  dalam al-Quran terbagi ke dalam beberapa bentuk.  Di antara  seluruh  bentuk  itu yang paling banyak  diperbincangkan adalah ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat Allah Swt (mutasyabih  ash-shifat) dan  ayat-ayat  dipermulaan surat yang terdiri dari kumpulan huruf hijaiyah (fawatih as-suwar). Ibnu al-Labban mengarang sebuah buku khusus  yang membahas tentang  mutasyabih  ash-shifat berjudul رد الشبهات إلى الأيات المحكمات

Para  ulama sepakat dalam  tiga hal mengenai  mutasyabih  ash-shifat yaitu;

1. Untuk menjaga makna  ayat mutasyabih ash-shifat terhindar dari makna yang mustahil, dengan meyakini bahwa Allah Swt. tidak mungkin memaknainya  dengan hal yang mustahil  itu.

2. Seandainya  pembelaan  terhadap agama sangat  tergantung kepada penafsiran  ayat mutasyabih ash-shifat maka diwajibkan untuk menafsirkannya dengan penafsiran  yang menghilangkan  keraguan.

3. Jika sebuah ayat mutasyabih ash-shifat mempunyai  satu penakwilan yang dekat  maknanya,  ulama sepakat untuk  memakai  penakwilan tersebut.

Seperti  fiman  Allah Swt. وهو معكم أين ما كنتم keberadaan Allah Swt. tidak mungkin sama dengan makhluk, dan hal ini sangat mustahil. Sehingga  yang tersisa  hanya satu penakwilan yaitu bahwa ilmu Allah Swt. melingkupi makhluk  dari  segi pendengaran, penglihatan, keinginan,  dan kemampuan.

Selain  tiga  hal di atas  para ulama berbeda  pendapat  mengenal  mutasyabih ash-shifat dalam  ayat-ayat  al-Quran, pendapat-pendapat ulama  terbagi  menjadi tiga:

Pertama, mazhab  salaf yang menyerahkan makna ayat-ayat  ini kepada Allah Swt.  setelah menjauhkannya  dari makna-makna yang mustahil. Dalil mazhab ini adalah:

a. Dalil  aqli, bahwa penentuan makna dari  ayat-ayat  ini bergantung  kepada kaidah-kaidah  bahasa  dan bagaimana orang Arab menggunakannya.  Hal  ini hanya  bersifat  zhan dan  bukan  yaqin. Sementara  sifat-sifat  Allah Swt.  termasuk bagian  dari akidah yang mengharuskan  dalil yang  qath’l  bukan zhanni.  Olen karena  itu  ayat-ayat  Ini tidak  ditafsirkan  dan maknanya  diserahkan  kepada Allah Swt.

b. Dalil naqli, mazhab  ini berpegang kepada  beberapa  hal:

  • Hadis Aisyah  ra. bahwa Rasulullah membaca ayat ini (Ali Imran:3)  lalu Rasulullah  bersabda فإذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فألئك الذين سمى الله فاحذروهم.
  • Ath-Thabrany  meriwayatkan  dari Abu Malik al-Asy’ary bahwa dia mendengar Rasulullah  Saw. bersabda “Aku tidak  khawatir  terhadap  umatku  kecuali  atas  tiga  perkara: mereka  mempunyai  banyak  harta  sehingga  saling iri  dan  saling  bunuh  dan  dibukakan kepada  mereka  kitab  lalu seorang mukmin menghendakinya dan ingin mentakwilkannya وما يعلم تأويله إلا الله .
  • Imam  Malik  ra. pernah ditanya  tentang makna “istiwa” dalam  firman Allah Swt. الرحمان على العرش استوى lalu beliau menjawab  الاستواء معلوم والكيف مجهول والأيمان به واجب والسؤال عنه بدعة وأظنك رجل سيء أخرجوه عني

Kedua,  mazhab  khalaf yang mencoba menakwilkan  ayat-ayat  sifat dengan makna  yang pantas bagi zat Allah Swt.

Ketiga,  mazhab  netral  adalah pendapat dengan menoleransikan  kedua mazhab di atas.  Ibn Daqiq al-Id  mengatakan2  “Kalau  ayat-ayat sifat  ditakwilkan  dengan  makna  yang  tidak asing bagi  orang  Arab  maka  makna ini  diterima. Tetapi jika maknanya jauh  dari makna yang dipahami orang Arab, maka tidak  perlu ditakwilkan.  Kewajiban kita cukup  beriman dengan makna yang diinginkan Allah Swt.

Hikmah  Adanya  Ayat-ayat  Mutasyabihat

Sesungguhnya ayat-ayat mutasyabihat ini mengandung hikmah tersendiri.  Ketika ditadaburi memberi-kan efek berupa penambahan rasa yakin bahwa al-Quran merupakan  suatu mukjizat  yang  tidak  ada tandingannya.

Diantara  hikmahnya  menurut  ulama adalah:

-Ayat-ayat  mutasyabihat  yang  mungkin diketahul maknanya:

1. Mendorong seorang pembaca  lebih berusaha untuk  mengetahui makna apa yang  dibacanya.  Semakin berusaha seseorang memahami maknanya  semakin  bertambah  pahala yang  didapatnya.

2.  Seseorang  yang membaca arat  mutasyabihat dan  ingin mengetahui maknanya akan  terdorong untuk mendalami  ilmu-ilmu yang lain, seperti  ilmu  bahasa, nahwu dan ilmu ushul  fiqh.

3.  Memperlihatkan  kelebihan orang yang berilmu dengan selainnya. Seseorang  yang telah mengetahui makna  satu  ayat mutasyabihat akan semakin bersemangat untuk mengetahui  makna  lainnya.

4.  Adanya ayat mutasyabihat mendorong  pembacanya  untuk menggunakan  nalar  akal  dalam  memahaminya.  Karena  seandainya  seluruh al-Quran  muhkam,  mungkin pembaca  al-Quran  akan  cenderung untuk memahami  apa  adanya  tanpa perlu mempelajari  dan meneliti makna ayat-ayat mutasyabih tersebut.

-Ayat-ayat  mutasyabihat yang maknanya  hanya  diketahui  Allah  swt.

1. Sebagai  rahmat  Allah  Swt.  bagi hamba-Nya  yang  tidak  mampu  mengetahui segala sesuatu. Karena  itulah Allah Swt tidak mengatakan di dalam al-Quran  kapan  akan  terjadinya kiamat sebagaimana Allah Swt tidak mengatakan  kapan  ajal  seseorang manusia  akan  datang.  Sehingga manusia tidak malas untuk mempersiapkan bekal menghadap-Nya.

2. Allah Swt. menurunkan  ayat-ayat mutasyabihat  sebagai ujian dan cobaan  bagi  hamba-Nya.  Apakah beriman  dengan  apa yang  maknanya  dikaburkan  oleh  Allah  Swt.dan  menyerahkan sepenuhnya  ke[ada-Nya atau  tetap bergelut  dengan ayat-ayat itu untuk memahami  maknanya?

3. Sebagai  dalil  bahwa  pada hakikatnya manusia  adalah  makhluk yang  lemah dan bodoh  walaupun memiliki ilmu  yang  banyak.  Juga  sebagai bukti akan kebesaran  kuasa  Allah  Swt.  Dan keluasan  ilmu-Nya  yang  mencakup segala  sesuatu  di  langit dan  di bumi.


Penutup

Dari  pembahasan  di atas  dapat dipahami  bahwa  mengetahui  muhkam dan mutasyabih  yang  terdapat  di dalam al-Quran  adalah  sebuah  kemestian. Karena ayat mutasyabihat harus  dipahami sesuai  dengan  bentuknya,  apakah ayat  tersebut  boleh  dipahami  apa adanya  atau  wajib  mengembalikan maknanya  ke makna  muhkam atau maknanya  diserahkan  sepenuhnya kepada  Allah  Swt. Wallahu A’lam.

*Pernah diterbitkan Buletin Menara

Advertisements

GAGASAN MERUNUTKAN AL-QUR`AN SECARA KRONOLOGIS

18 July 2010 at 3:53 pm | Posted in Gen 6, KAJIAN, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , , , ,

Oleh: Ainul Zikra Lc

Jum`at yang cerah, permulaan musim semi 2 april 2010,  akhirnya kajian dwi mingguan terlaksana,  walaupun  kajiannya sempat mundur satu hari dari hari yang ditetapkan, tapi alhamdulillah kajian tetap berlangsung dengan khidmat. Kajian kali ini  dipresentasikan oleh Alfi Rahmi yang sedang menempuh program s1 tingkat 3 tafsir, dan Faizah Jamili lc.  Kajian yang di moderatori oleh Widya ini bertempat di rumah ummu Wafiyah di madrasah.  Kajian ini berlangsung dari pukul 11 sampai pukul 2 siang,  panasnya hari itu tidak menyurutkan semangat Al-makkiyat ikut serta dalam kajian ini,  walaupun bertempat di sutuah.

Pada kesempatan kali ini,  pemakalah memaparkan tentang jawaban dari gagasan merunutkan Al quran secara kronologis,  yang artinya mengurutkan surat-surat Al quran berdasarkan waktu turunnya dan bukan seperti susunan yang kita lihat pada saat ini. Gagasan ini di di serukan oleh seorang penulis yang bekerja di Kementerian Hukum di Mesir yang bernama Yusuf Rasyid. Dan tulisan ini di tentang dan dijawab oleh Muhammad Abdullah Darraz dalam bukunya Hashadul Qalam.

Pemakalah membagi makalah ini menjadi dua bagian pembahasan,  yang pertama : menjawab dan mendiskusikan gagasan yang di lemparkan oleh Yusuf Rasyid tersebut. Beliau melontarkan beberapa syubhat,  diantaranya beliau mengatakan bahwa susunan Al quran seperti yang ada pada saat ini sangat membingungkan dan mengganggu sistematika pemikiran dan menghilangkan manfaat dari hikmah penurunan Al quran secara berangsur angsur, oleh karena itu hendaknya menyusun Al quran berdasarkan turunnya yaitu surat makkiyah di letakkan berdampingan dengan surat makkiyah, begitu juga surat madaniyyah hendaknya diletakkan berdampingan surat madaniyyah.  Syubhat ini di jawab oleh pemakalah yang di ambil dari berbagai referensi yaitu susunan surat-surat Al quran pada saat ini adalah bersifat tawqifi yaitu datangnya dari Allah dan bukan melalui ijtihad dari sahabat,  maka susunan tersebut tidak boleh di ganggu gugat. Dan penulis itu menerima bahwa dalam satu surat saja boleh jadi mengandung ayat-ayat makkiyah sekaligus madaniyah, kenapa ia tidak bisa menerima bergandengnya dua surat yang berbeda sifatnya, padahal secara logika bergandengannya dua tubuh yang saling berbeda jauh lebih ringan daripada  terdapatnya parsial-parsial yang asing dan sangat berbeda dalam satu tubuh.

Kemudian syubhat selanjutnya yang beliau lontarkan adalah susunan sekarang ini tidak sejalan dengan hikmah tasyri`,benarkah?.

Syubhat ini juga dijawab oleh pemakalah bahwa kritikan ini hanya bersifat teoritis yang tidak memiliki dasar praktis,  dan ini juga menunjukkan bahwa pelontar syubhat lengah terhadap dua sisi pandang yang sangat berbeda. pertama: maqam tanzil dan ta`lim,  dan kedua : maqam tadwin dan tartil.  Maqam tanzil dan ta`li artinya sisi pandang yang lebih menitik beratkan pada kondisi yang mengharuskan diturunkannya wahyu guna mengajarkan manusia kepada yang benar dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.  Sementara maqam tadwin dan tartil artinya sisi pandang yang lebih menfokuskan pada masalah kodifikasi Al quran untuk di baca dan menjadi kitab yang kekal sepanjang zaman serta pegangan bagi umat  manusia sampai hari kiamat nanti.

Pembahasan yang kedua adalah apakah al quran itu besifat tawqifi atau tawfiqi?  Yang dimaksud dengan tawqifi disini adalah susunan  yang telah di tetapkan oleh Allah atau berdasarkan wahyu,  sedangkan yang dimaksud dengan tawfiqi adalah sesuatu yang di tetapkan berdasarkan ijtihad sahabat.  Disini para ulama juga berbeda pendapat dengan memegang berbagai dalil,  yang akhirnya dua pendapat ini ditarjih lagi yaitu al quran itu bersifat tawqifi.

Pemakalah mempresentasikan makalahnya yang berjudul gagasan merunutkan Al quran secara kronologis dan berjumlah 14 halaman ini selama lebih kurang dari 1 jam. Setelah itu di buka sesi tanya jawab,  yang mana peserta kajian sangat antusias dalam sesi ini sehingga hampir seluruh peserta mengajukan pertanyaan dan masukan masukan. Diantaranya ni Dwi memberi usulan untuk menambah kata: “menjawab” di judul makalah agar dipahami bahwa makalah ini bukan mendukung gagasan merunutkan Al quran secara kronologis. Dan juga makalah ini sebaiknya di bagi menjadi 3 bab yaitu,  pendahuluan,  isi, dan penutup serta beberapa masukan lainnya.

Setelah sesi tanya jawab selesai akhirnya selesai juga kajian yang ke-6 itu. Diskusi kali ini memakan waktu lebih kurang 3 jam. Di akhir acara ummu wafiyah menghidangkan kue bolu coklat special..:Subhanallah..acok acok se lah mode ko yo ummu wafi 🙂

Untuk sementara kajian Al makkiyat dicukupkan sampai disini berhubung ujian telah dekat,  selamat menempuh ujian teman-teman semua, mudah-mudahan Allah memberikan nilai yang terbaik.amin…insya Allah kajian akan dilanjutkan kembali setelah dunsanak sadonyo selesai menghadapi ujian termen 2 ini. Don`t miss it..Semangaik  taruih !!!!! 🙂

Diskusi Ilmiah 4: Ayat Al-Quran yang Pertama dan Terakhir Kali Turun

18 March 2010 at 4:29 pm | Posted in AL-QURAN, Gen 5, KAJIAN, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , , , ,

Oleh: Arina, Lc (Gen 5 MAKN Putri)

 

Alhamdulillah, diskusi dwi mingguan Almakkiyat yang ke-4, Kamis 4 Maret 2010 yang diadakan di rumah Ummah Mujahid, berlangsung dengan lancar. Meskipun agak molor setegah jam, karena sebagian besar para peserta sudah mulai aktif kuliah, tetapi tidak mempengaruhi semangat para Almakkiyat untuk mengikuti kajian yang dimoderatori oleh Ismarni ini. Makalah yang berjudul Ayat Al-Quran yang Pertama dan Terakhir Kali Turun dipresentasikan oleh duo Ainul Zikra, Lc dan Fitri Shabrina, Lc yang tengah menempuh program pasca sarjana bidang Tafsir di Univ Al-Azhar.

Makalah ini, sesuai dengan judulnya, membahas tentang ayat Al-Quran yang pertama dan yang terakhir diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. Pemakalah menyampaikan bahwa diantara faedah mempelajari hal ini adalah untuk mengetahui ayat naskh dan mansukh (yang menghapus hukum ayat yang telah diturunkan terlebih dahulu) dan untuk mengetahui sejarah penetapan hukum Islam yang berangsur-angsur. Juga sebagai bukti keotentikan Al-Quran sebagai wahyu dari Allah, dengan tidak adanya kontradiktif apapun antara ayat-ayat Al-Quran meskipun diturunkan bertahap dalam waktu 23 tahun.

Pemakalah membagi permasalahan ini menjadi dua bagian: pertama, ayat yang pertama dan terakhir turun secara tematik dan kedua, ayat yang pertama dan terakhir turun secara mutlak serta perbedaan pendapat para ulama mengenai hal ini. Kemudian didapatlah kesimpulan bahwa pendapat yang paling benar mengenai ayat yang pertama turun adalah surat Al-‘Alaq ayat 1-5 sebagai wahyu pertama yang disampaikan oleh Jibril as ketika Rasulullah saw bertahanus di gua Hira. Sedangkan ayat yang terakhir turun adalah surat Al-Baqarah ayat 281 yang turun 9 hari sebelum Rasulullah saw wafat.

Makalah yang berjumlah tujuh belas halaman ini selesai dipresentasikan dalam waktu lebih kurang 45 menit dan dilanjutkan dengan sesi diskusi setelah menunaikan shalat Ashar. Selain berbagai pertayaan berbobot, saran-saran yang dilontarkan kali ini diantaranya agar setiap pemakalah mentakhrij hadis-hadis yang terdapat di dalam makalahnya sesuai dengan metode takhrij hadis. Juga untuk memperbanyak rujukan kitab untuk memperkaya kandungan makalah.

Tanya jawab berlangsung seru sambil mencicipi jeruk dan strawbery sampai menjelang azan maghrib berkumandang. Selesailah sudah kajian dwi mingguan Almakkiyat kali ini. Sampai jumpa di kajian mendatang…Insya Allah kajian hadis dengan tema Kontradiksi Hadis (Mukhtalif Hadis) oleh Desri Ningsih dan Fadhilah Is di ‘Ala Gambe House…

Diskusi Ilmiah II: KOMPILASI AL-QURAN

10 December 2009 at 2:36 pm | Posted in AL-QURAN, Gen 8, KAJIAN | 4 Comments
Tags: , , , ,

*oleh Fadilah Is

Orientalis selalu gencar menyelinap dan mencari celah menyudutkan Islam, tak mengenal waktu dan medan. Walaupun badai menghadang tidak menghambat teriakkan kosong mereka. Segala upaya pun dikerahkan, sebutlah nama Gerd R. Joseph Puin, Bothmer, Rippin, R. Stephen Humphreys, Gunter Lulling, Yehuda D. Nevo, Patricia Crone, Michael Cook, James Bellamy, William Muir, Lambton, Tolstove, Morozov dan Wansbroughla dan ribuan yang berjejer dibelakang mereka. Tak ketinggalan mereka pun telah berhasil meniup angin kelabu dan menanamkan akar  tunggang di hati umat islam yang tak memiliki rantai kuat keimanan, Nasr Hamid Abu Zaid, Taha Husain, ‘All Dushti, Ahmad Amin, Fazlur Rahman, dan akhirnya Muhammad Arkoun menjadi pengekor mereka yang sangat aktikf dan kreaktif,

Salah satu serangan yang sangat mereka gentolkan adalah kontroversi dalam kompilasi Al-Quran. Mereka tak ingin kitab suci ini tetap menjadi pegangan hidup kaum muslimin. Mereka mensejajarkan Al-Quran dengan kitab Injil dan Taurat –yang memang telah banyak mengalami perubahan- untuk dikritisi dan dihujat. Mereka menganggap umat Islam adalah bodoh, tertipu oleh distorsi sejarah dimana teks-teks Al-Quran telah tercemar kemurniannya dan sumbernya tidak jelas. Bagi mereka kompilasi Al-Quran hanya berpegang pada khayalan dan rekaan para sahabat belaka, sehingga ilmu hermeunetika wajib diaplikasikan dalam penafsirannya.

Sebagaimana pernyataan Tobi Lester dalam majalah The Athlantic Montly, “kendati umat Islam percaya Al-Qur’an sebagai kitab suci yang tak pernah ternodai oleh pemalsuan tapi mereka {umat Islam} tak mampu memgemukakannya secara ilmiah”.

Inilah yang melatarbelakangi para ahli hadis dan tafsir Almakkiyat tuk mengkaji dan mengeksplorasi segala permasalahan yang mencuat dalam proses kompilasi Al-Quran. Pemakalah yang tampil sudah tak asing lagi di kalangan masisir, andalan Almakkiyat, yang lagi s2 di Universitas Al-Azhar jurusan Tafsir, siapa lagi kalau bukan uni Arina Amir Lc.

Kajian yang dilaksanakan di rumah uni Wirza ini benar-benar seru dan menegangkan serta menampilkan banyak pengetahuan baru dalam arena diskusi. Pembahasan dimulai dari pengertian kompilasi kemudian dikelompokkan atas 3 periode: masa Rasulullah saw, masa Abu Bakar dan Usman bin Affan.

Mulai bagaimana wahyu diturunkan dan dibacakan didiktekan oleh Rasullullah kepada para sahabat untuk kemudian dihafal dan dituliskan di pelapah korma dan kulit onta, sehingga Al-Quran pun tetap terjaga dalam dada (dalam hafalan) dan naskah (dalam tulisan).

Cukup banyak riwayat bahwa lebih kurang enam puluh lima sahabat penulis wahyu yang telah ditugaskan oleh Nabi Muhammad. Mereka diantaranya: Abban bin Sa’id, Abu Umama, Abu Ayyub Ansari, Abu Bakr Siddiq, Ubay bin Ka’b, Ja` far bin Abi Talib, Huzaifa, Khalid bin Walid, Zubair bin `Awwam, Zaid bin Tsabit `Abdullah bin Arqam, `Abdullah bin Rawaha, ` ‘Usman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Talib, ‘Umar bin Khattab, ‘Amr bin al-‘As, Mu’az bin Jabal, dan lain-lain.

Waktu terus berputar, manusia terbaik sepanjang masa, Rasulullah saw berpulang ke rahmatullah. Puncuk pimpinan Islam selanjutnya dipegang oleh sahabat Abu Bakar Shiddiq sebagai khalifah pertama. Setelah terjadinya perang Yamamah yang menyebabkan banyaknya syuhada dari para huffaz, Umar bin Khatab mengusulkan agar sang khalifah melakukan kompilasi Al-Quran. Abu Bakar pun menunjuk Zaid bin Tsabit dan timnya untuk mengemban tugas berat ini. Penulisan kembali naskah Al-Quran pada masa itu, didasarkan kepada hafalan dan catatan para sahabat. Panitia menetapkan syarat 2 orang saksi, bahwa hafalan dan tulisan dilakukan di depan Rasulullah saw. Maka terkumpullah Al-Quran dengan ahruf sab’ah dalam bentuk suhuf (naskah-naskah kertas) meskipun belum tersusun dalam kitab seperti sekarang. Tapi dengan proses seleksi dan metode yang super ketat, Al-Quran teruji keotentikannya, tidak seperti yang digembor-digemborkan oleh orientalis

Tahun berganti, kekhalifahan pun sampai pada khalifah ketiga, Usman bin Affan. Dengan adanya berbagai ekspansi, wilayah kekuasaan Islam semakin luas. Para mujahid berangkat dari suku, kabilah dan provinsi yang beragam, sehingga mereka membaca Al-Quran dengan dialek yang berlainan. Ini karena Rasulullah memang telah mengajar mereka membaca Al-Qur’an dalam dialek masing-masing, karena dirasa sulit untuk meninggalkan dialeknya secara spontan. Hal ini memicu terjadinya kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat pada masa itu. Maka khalifah Usman pada tahun 25 H, memerintahkan kembali Zaid bin Tsabit untuk mengkompilasikan Al-Qur’an berdasarkan mushaf yang telah ada, dengan satu luhgah saja yakni lughah Qurasy. Zaid sekali lagi menggunakan seleksi yang sangat ketat sekali dalam melakukan tugas ini dan tetap memperhatikan kemutawatirannya. Mushaf inilah yang disebarkan ke berbagai penjuru Islam dan disepakati ulama hingga saat ini.

Pada masa-masa selanjutnya terjadi penyempurnaan mushaf Usmani mulai dari titik, baris, rubu, juz, pemisah antara ayat dan surah sehingga kitapun dapat membacanya dengan mudah.

Sebenarnya, pembahasan ini telah sering kita kaji dan telaah namun kita  tidak sadar ternyata musuh-musuh Islam berpadu tangan tuk mengacaukan dan mengotak-atik keotentikkan Al-Qur’an. Mereka membuat pertanyaan-pertanyaan yang apabila kita tidak kuat, kita akan mudah terhipnotis, dan tergelincir meragukan Al-Quran yang ada di tangan kita hari ini. Seperti; kenapa Umar bin Khatab khawatir dengan meninggalnya para huffaz, jika memang Al-Qur’an sudah ditulis masa Rasulullah? Mengapa lembaran-lembaran yang ditulis itu tersebar di kalangan sahabat dan tidak disimpan langsung oleh Rasulullah? Kenapa Al-Qur’an tidak langsung dibukukan pada masa Rasulullah tampa harus menunggu periode Usman 15 tahun kemudian? Kenapa terjadi perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an padahal Al-Qur’an adalah mutawatir? Mengapa ketua tim harus Zaid yang notabene masih sangat muda, sedangkan masih banyak sahabat senior lainnya? Mengapa dalam proses kompilasinya tidak mengajak Abdullah bin Mas’ud dan menggunakan shuhuf pribadinya yang disinyalir punya perbedaan? Kenapa 2 ayat terakhir surat at-Taubah tetap dimasukkan padahal hanya Abu Khuzaima al-Ansari saja yang mencatatnya? Dan berbagai pertanyaan lain yang seolah-olah ilmiah dan kritis, tapi ternyata dapat dipatahkan dengan bukti sejarah dan dengan adanya manuskrip-manuskrip Al-Quran sejak abad pertama Hijrah yang masih eksis hingga kini di berbagai museum.

Inilah tantangan kita sebagai mahasiswa al-Azhar khususnya dan penuntut ilmu agama umumnya, untuk menyebarluaskan hujjah-hujjah yang kuat bahwa Al-Quran memang terhindar dari pemalsuan dan perubahan, dan itu dapat dibuktikan secara ilmiah. Salah satu buku yang juga dikupas dalam kajian Almakkiyat kali ini adalah The History of The Qur’anic Text from Revelation to Compilation (Sejarah Teks Al-Quran Dari Wahyu Sampai Kompilasinya) karya Prof. Dr. M.M al A’zami -guru besar Universitas King Saud- yang membeberkan fakta-fakta ilmiah keotentikan Al-Quran dalam proses kompilasi.

Dalam semua tataran, Al-Qur’an akan selalu mendapat hujatan dari kalangan yang memusuhi tegaknya agama Allah di muka bumi. Jika belum mampu berbuat banyak menangkis semua serangan, sekurang-kurangnya kita harus terus berusaha mendalami dan memahami prinsip-prinsip agama kita yang tidak mungkin dapat diubah oleh peredaran zaman. Di atas segalanya, kita harus menjadikan Al-Qur’an sebagai referensi kita. Bagian teks mana pun yang mungkin berlainan dengan mushaf yang ada -terserah apa yang hendak mereka sebutkan- adalah bukan dan tidak akan menjadi bagian dari Al-Qur’an. Demikian halnya, segala upaya dari pihak non­ muslim yang ingin mencekoki pikiran tentang dasar-dasar ajaran agama kita, mesti kita tolak tanpa harus berpikir panjang. Bagaimana pun keadaan suhu politik, pandangan kaum muslimin terhadap kitab suci ini mesti tetap tak akan tergoyahkan: ia adalah kalam Allah, yang konstan, ter­pelihara dari kesalahan, tak mungkin dapat diubah, dan mukjizat yang tak mungkin direkayasa.

Tamim ad-Dari meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

agama ini akan sampai pada apa yang dapat dicapai oleh siang dan malam, dan Allah tidak akan meninggalkan sebuah rumah apa pun, baik itu terbuat dari tanah atau bulu hewan [yaitu di kota atau di desa) sehingga Allah memasukkan agama ini ke dalamnya, baik melalui kebesaran orang-orang yang mulia ataupun melalui kerendahan orang yang di­pandang rendah. Begitulah, Allah akan memberi karunia terhadap Islam, dan Allah akan merendahkannya disebabkan kekufuran.”

Firman Allah telah terang-terang mengatakan :

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyem­purnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk Al-Qur’an dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.

Ini baru secercah pembahasan tentang kitab suci kita. Masih banyak pe-er yang telah menunggu di hadapan kita, ayo Almakkiyat tunjukkan jati dirimu, chayo-cahyo…

Diskusi ditutup shalat magrib dan hidangan mie goreng panas yang semakin menghangatkan sore ceria di awal musin dingin ini. Hmm… perut lapar nih…, otak dah berisi perutpun bernyanyi….saatnya makan…..syukran ya Ummu Usman dan Etek Ira…

Yuk kita ikuti terus episode kajian Almakkiyat selanjutnya, dijamin akan tambah seru dan hangat……..

Tapi sabar yah, ba’da imtihan kita sambung………dengan pemakalah pertama uni Kemala Dewi Lc dengan kajian hadis kontemporer di rumah Ummu Fatimah. Jangan sampai ketinggalan ya……………. Salam ^_^

*Mahasiswi tk 3 Hadis Univ Al-Azhar – gen 7 MAKN Putri

KESALAHAN PENAFSIRAN 2/2

6 November 2009 at 9:45 pm | Posted in AL-QURAN, Gen 1 | Leave a comment
Tags: ,

oleh: Reflita*

Kedua: tidak teliti dalam memahami teks ayat dan dilalahnya.

quranlargeFaktor lain yang dapat menyebabkan kesalahan dalam penafsiran Al-Qur`an adalah ketidaktelitian mufassir dalam memahami teks dan dilalahnya. Hal ini bisa terlihat ketika seseorang yang ingin menafsirkan Al-Qur`an berhadapan dengan ayat-ayat yang nasakh dan mansukh.

Persoalan nasakh wa mansūkh termasuk cabangan ilmu Al-Qur`an yang banyak menuai perbedaan dikalangan ulama. Perbedaan ulama tidak hanya seputar ada atau tidaknya nasakh dalam Al-Qur`an, namun juga ketika menetapkan ayat yang telah dinasakh.

Secara segi etimologi, nasakh bearti mengangkat atau menghilangkan, disamping itu ia juga memiliki pengertian menyalin (nasakhtu al Kitāb=saya menyalin kitab). Tapi secara umum, nasakh bearti mengubah, mengangkat, atau mengganti ketentuan yang ada. Dalam persepsi Ilmu fiqh, nasakh adalah mengganti hukum-hukum yang sudah ada dengan hukum baru yang datang sesudah itu. Karena itu untuk mengetahui nasakh dan mansukh ini, maka harus diketahui mana ayat-ayat yang dianulir dan mana ayat-ayat yang ditetapkan untuk menggantikan posisi ayat pertama. Seorang mufassir harus jeli dalam menetapkan ayat yang nasakh dan mansukh karena hal ini akan sangat berpengaruh terhadap tafsiran ayat.

Ketidaktelitian dalam memahami teks Al-Qur`an juga terjadi ketika mufassir mengutip pendapat dari kitab-kitab tafsir. Sebagian mereka tidak menyeleksi riwayat atau perkataan yang diambil, malah menyamaratakan antara riwayat yang da’if dan sahih. Sudah masyhur bahwa sebagian besar kitab tafsir masih dipenuhi oleh hadis-hadis da’if, kisah-kisah bohong, kejadian-kejadian yang tidak masuk akal, dan perkataan yang tidak berhubungan dengan tafsiran ayat. Mengomentari hal itu, Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan “ ada tiga buku yang tidak memiliki dasar referensi yaitu buku tentang perperangan, vabel, dan tafsir.”

Ketiga; menundukkan nas Al-Qur`an untuk kepentingan hawa nafsu, fanatisme mazhab, dan bid’ah

Kesalahan penafsiran terkadang disebabkan oleh tindakan sebagian mufassir dan orang yang menekuni ilmu Al-Qur`an yang menjadikan nas Al-Qur`an sebagai legimatimasi untuk menguatkan pendapat, mazhab dan aliran mereka. Pemahaman ayat diselaraskan dengan kepentingan mazhab.

Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb menegaskan kecendrungan seperti ini merupakan metode tafsir yang paling berbahaya dan paling buruk. Karena seorang mufassir berangkat dari keyakinan dan asumsi awal yang tidak memiliki landasan, kemudian mencari ayat-ayat yang sesuai dengan keyakinan dan asumsi mereka sebagai penguat. sehingga terkesan adanya pemaksakan pemahaman. Suatu ayat tidak lagi dipahami sebagaimana mestinya, tapi diarahkan untuk mendukung pemahaman mazhab yang dianut mufassirnya.

Tak pelak lagi, fanatisme yang berlebihan baik dalam mazhab fiqh, akidah, atau politik menyebabkan lahirkan taqlid buta, pengagungan dan penyucian terhadap satu individu dan pemikirannya. Orang cendrung mengabaikan ajakan Al-Qur`an untuk berpegang dengan Al-Qur`an dan sunnah dan berpaling dari dalil yang sahih.

Jiwa besar imam-imam terdahulu cukup menjadi pelajaran berharga bagi generasi sekarang ini. Mereka adalah orang-orang yang tawadu’ dan senantiasa memotifasi pengikutnya untuk selalu menganalisa setiap perkataan yang diterima. Kehatian-hatian mereka dapat tercermin dari salah satu perkataan Imam Abu Hanifah dibawah ini;

إن توجه لكم دليل فقولوا به.[9]

Apabila dihadapkan padamu satu dalil, maka komentarilah

Seseorang muslim yang baik, sejatinya harus menghormati ulama-ulama terdahulu yang telah berijtihad dengan penuh keihlasan untuk menemukan kebenaran, mengakui keutamaan dan ilmu mereka, tidak menganggap mereka terbebas dari kesalahan, dan menghilangkan fanatisme yang berlebihan dengan mazhab tertentu.

Keempat; mengabaikan sebagian syarat-syarat mufassir

BACATafsir sebagai sebuah ilmu pengetahuan tentu memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Penafsiran Al-Qur`an tidak akan sempurna tanpa adanya pemenuhan persyaratan tersebut .Imam Ibn Taimiyah dalam al majmu’ al fatāwa mengemukakan ” setiap manusia harus memiliki suatu dasar umum yang menjadi sandaran aspek-aspek yang terkait dengannya supaya dapat berbicara dengan dasar ilmu yang kuat dan penuh keadilan serta mengetahui segala rincian bagamana ia terjadi. Apabila hal ini diabaikan, maka yang akan tertinggal adalah kebohongan dan ketidaktahuan dengan hal-hal yang juz`i (khusus) dan ketidaktahuan serta kekaburan dengan masalah yang umum (kulli). Hal ini akan melahirkan kerusakan yang besar”.

Berangkat dari fatwa ibn Taimiyah tersebut, Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb menemukan empat hal yang termasuk kedalam masalah ini:

1. Menyepelekan penerapan kaidah tarjih yang dirumuskan ulama tafsir.

Yang dimaksud kaidah tarjih disini adalah kaidah umum atau dasar-dasar pokok yang digunakan untuk mengetahui pendapat yang paling kuat ketika terjadi perbedaan pemahaman ketika menafsirkan Al-Qur`an.

Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam menafsirkan Al-Qur`an. Keterbatasan kemampuan manusia, ditambah dengan perbedaan metode yang digunakan menjadi salah atu sebab perbedaan ini. Hal terpenting yang harus diperhatikan bagaimana seorang yang ingin memahami Al-Qur`an bisa objektif dalam menilai perbedaan ini dan berusaha mencari pendapat yang paling kuat.

Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb dalam penelitiannya ini menyebutkan kaidah-kaidah tarjih yang sering diabaikan oleh sebagian mufassir.

a. Qiraah mutawatir lebih didahulukan daripada makna qiraat syaz.

Apabila terdapat perbedaan penafsiran karena disebabkan oleh perbedaan qiraat, seorang mufassir harus mendahulukan makna yang dikandung qiraat mutawatir daripada makna yang dikandung qiraat syaz. sebab dari segi kualitas qiraat mutawatir lebih kuat. Hanya saja sebagian mufassir mengabaikan kaidah ini, mereka mengutamakan qiraat syaz dalam penafsiran.

Sebagai contoh, firman Allah

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا

وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syi’ar (agama) Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha mensyukuri, Maha mengetahui

Sebagian ulama berpendapat bahwa sa’i dari safa ke marwa hukumnya sunnah. Mereka berlandaskan pada qiraah syaz

…فلا جناج عليهما أن الا يطوف بهما…

Penafsiran seperti ini bertentangan dengan pendapat jumhur ulama bahwa sa’i merupakan rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan, berpedoman pada makna qiraat mutawatir.[10]

b. Penafsiran dan penjelasan i’rab yang sesuai dengan rasm usmani lebih utama Dibandingkan penafsiran yang berbeda dengan rasm utsmani.

apabila terjadi perbedaan antara mufassir mengenai tafsiran suatu ayat atau penjelasan makna kosakata, atau penjelasan i’rab, maka penafsiran dan i’rab yang sesuai dengan rasm utsmani yang diperpegangi.

Kesalahan penafsiran menurut penelitian Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb sering kali disebabkan oleh tidak diperhatikannya kaedah ini. Sebagai contoh perbedaan mufassir tentang makna ayat

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى[11]

Kami kami membacakan Al-Qur`an untuk kamu, maka janganlah kamu lupa”

Ulama berbeda pendapat tentang i’rab Menurut jumhur dalam ayat ini adalah nāfiah (لا). Ini merupakan pendapat yang kuat karena sesuai dengan rasm usmani, dimana terdapat alif dalam kalimat (تَنْسَى). Tidak dibuangnya alif dalam kalimat ini menandakan bahwa dalam ayat ini bukan nāhiah.

Sebagian ulama berpendapat dalam ayat ini adalah lā nāhiah, sedangkan alif disini berfungsi sebagai pembatas.

Dalam kasus seperti ini, seyogyanya seorang mufassir harus mengmabil pendapat yang kuat, bukan sebaliknya.[12]

c. Mensinkronisasikan makna suatu kalimat dengan kalimat sebelum dan sesudahnya.

d. Apabila terjadi perbedaan penafsiran disebabkan oleh perbedaan asbab nuzul yang digunakan, penafsiran yang sesuai dengan sabab nuzul yang sahih lebih kuat.

e. Apabila penafsiran suatu ayat didukung oleh adanya ayat lain yang berhubungan dengan ayat tersebut lebih kuat daripada pendapat yang tidak memeliki landasan

f. Apabila terjadi perbedaan antara makna terminologi dengan makna etimologi dalam menafsirkan kalamullah didahulukan makna terminologi

2. Berpaling dari metode salafushalih

BOOKSUntuk mengantarkan pembaca pada pembahasan ini, terlebih dahulu Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb menjelaskan tentang makna salafushalih yang alasan kenapa kita diharuskan mendahulukan pendapat dan penafsiran mereka.

Menurut Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb yang termasuk salafushaleh adalah sahabat, pembesar tabi’in, imam-imam besar yang adil, diakui umat atas keilmuawan dan ketakwaan mereka, memiliki posisi yang tinggi, dan perkataan mereka diterima baik dari kalangan salaf, maupun khalaf. Diantaranya. Imam arba’ah, Sofyan bin sauriy, lais bin sa’ad, ’Abd Allah bin Mubara’, dan imam hadis.

Ayat al-Qur`an banyak memerintahkan umat Islam untuk senantiasa berpegang pada pendapat salafushaleh karena ketinggian derjat dan ketakwaan mereka. Diantaranya ayat 100 surah al-Taubah. Allah berfirman;

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Keredaan Tuhan dengan sahabat dan orang yang mengikuti pendapat mereka, menandakan pendapat mereka benar dan layak diikuti. Kalimat (وَرَضُوا عَنْهُ) dipahami Muhammad Ya’qūb sebagai perintah. Lebih lanjut dia menjelaskan, umat Islam wajib mengikuti segala hal yang diredai Allah, dan alah satu dari perbuatan yang diredai Allah adalah mengikuti metode dan ajaran sahabat.[13]

Disamping mengemukakan dalil naqli, T|a`hir Mahmūd Muhammad Ya’qūb juga menyebutkan kelebihan sahabat dan metode yang mereka gunakan. Dalam menafsirkan Al-Qur`an, sahabat senantiasa berpegang pada Al-Qur`an dan sunnah serta mendahulukan keduanya dibandingkan akal. Mereka juga tidak berusaha mentakwilkan nas. Makna ayat dikembalikan pada makna dasarnya yang sahih. Kelebihan lainnya, sahabat terbebas dari pengaruh fanatisme mazhab serta pengaruh filsafat, bid’ah dan persoalan ilmu kalam. Kapasitas sahabat sebagai orang yang menguasai bahasa Arab dan mengetahui asbabun nuzul menambah kuat penafsiran mereka.[14]

Berpegang dengan pendapat sahabat dan meniru metode mereka dapat membantu mufassir terhindar dari perpecahan dan perselihan seta pengaruh bid’ah dan segala kesesatan lainnya. Berpedoman dengan metode sahabat juga akan membawa mufassir pada cara mengambil dalil dan kesimpulan yang benar.

Oleh karena itu berpaling dari metode sahabat dan mengabaikan pendapat mereka merupakan suatu kesalahan besar. Setiap orang yang ingin menafsirkan Al-Qur`an disetiap zaman harus berpegang dengan penafsiran mereka.

Syaikh Khālid ’Ak dalam kalimat yang sangat indah mengatakan ” mengembalikan pemahaman Al-Qur`an dan sunnah kepada pemahaman salafushaleh adalah perkara yang sangat urgensial. Kebutuhan akan hal ini akan terus berlanjut. Inilah tajdid yang sebenarnya, yang tetap asli dan akan menjadi dasar yang akan mempersatukan umat.”

3. Tidak paham dengan kaedah bahasa Arab

Al-Qur`an diturunkan dengan bahasa Arab, suatu bahasa yang memiliki keistimewaan dari segi tata bahasa dan kandungan maknanya. Untuk sampai kepada pemahaman yang benar, seorang mufassir harus mengetahui dan memahami kaedah bahasa Arab. Ketidaktahuan dengan kaidah kebahasaan akan melahirkan kesalahan pemahaman.

4. Mengabaikan maksud turunnya Al-Qur`an dan tujuannya yang asli.

TafsirAl-Qur`an diturunkan untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia, memberikan cahaya kepada pikiran mereka, mendidik jiwa dan akal mereka. Di waktu yang sama Al-Qur`an memberikan solusi yang benar atas segala persoalan yang berhubungan dengan kehidupan manusia.

Untuk sampai pada pemahaman yang benar, maka mengetahui maksud dan tujuan diturunkannya Al-Qur`an adalah syarat terpenting yang harus dimiliki mufassir ketika ingin menafsirkan Al-Qur`an.[15]

PENUTUP

Dari keseluruhan pembahasan tersebut, kita dapat memperoleh pengertian bahwa penjelasan terhadap makna al-Quran merupakan suatu keharusan. Tetapi keharusan tersebut, di samping memerlukan kehati-hatian, juga memerlukan persyaratan yang tidak selayaknya dilanggar. Meskipun beberapa persyaratan yang dikemukakan oleh para ulama tersebut merupakan hasil ijtihad, tetapi minimal dapat dipahami sebagai patokan dasar yang selayaknya diperhatikan. Pelanggaran terhadap patokan-patokan dasar tersebut, memang, adakalanya tidak menimbulkan kesalahan interpretasi, tetapi kemungkinan terjadinya kesalahan akan menjadi lebih besar.
Di samping itu, sejauh yang telah diupayakan oleh para ulama untuk menaati rambu-rambu yang menjadi patokan dasar tersebut, tetapi dalam realitasnya kesalahan interpetasi terhadap al-Quran pun masih mungkin terjadi. Untuk itu, sangat diperlukan ketelitian dan kehatihatian mufassir dalam memahami Al-Qur`an sehingga menghasilkan penafsiran yang benar. Sekalipun kita tidak dapat menjastifikasi kesalahan yang ditemukan sebagai kesalahan mutlak. Terutama kesalahan yang muncul disebabkan oleh perbedaan metode yang digunakan. Karena tafsir sesuai denagn pengertiannya adalah upaya untuk menjelaskan kalamullah sebatas kemampuan manusia. Siapapun tidak dapat mengklaim bahwa penafsirannnya adalah penafsiran yang paling benar.

Daftar Pustaka:

Az-Zahabi. Tafsir wa Mufassirun. Beirut

Al-Sayuti, Jalal al-Din. Al-Itqa`n fi Ulu`m Al-Qur`a`n. Beiru`t: Da`r Ihya“ al-’Ulu`m. Jilid 2

Khalifah, Abd Rahma`n Muhamad. Dira`sat fi Man`hij al-Mufassiri`n. Beiru`t: da`r al Wafa`, Juz 2

Ibn Hayya`n. Bahr al Muhi`t. Bairu`t: da`r al Kutub al ’Ilmiah. Juz 1

Ya’qub, Ta`hir Mahmu`d Muhammad. Asba`b al Khat}a`fi Tafsi`r (Dira`sah Ta`s}iliah). Da`r Ibn Jauzi.


[1] Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb, Asbāb al-Khata’ fi Tafsīr, (Riyad: Dār al-Jauziy), h. 49. Dikutip dari Ibn Taimiyah, Muqadimah fī Uşūl al Tafsīr, h. 50

 

[2] Thahir Mahmud Muhammad Ya’kub, Asbāb al-Khata’ fi Tafsīr, h. 50

[3] Ibrahīm Abd al Rahmān Muhammad Khalīfah, Dirasāt fi Manāhij al Mufassirīn, Beirut: Dār al wafā`, t.th. juz 2, h. 40

[4] Thahir Mahmud Muhammad Ya’kub, h. 73-74

[5] Ibn Hayyān, Bahr al Muhīt, Beirut: Dār al Kutub al-‘Ilmiyah, juz 1, hal. 104

[6] T|a`hir Mahmūd Muhammad Ya’qūb, h.141-142

[7] T|a`hir Mahmūd Muhammad Ya’qūb, h, 142

[8] Kisah-kisah israiliyat yang terdapat dalam kitab tafsir terbagi tiga. Pertama, sesuai dengan ajaran agama Islam (sesuai dengan Al-Qur`an dan Sunnah), berbeda dan bertentangan dengan Al-qur`an dan Sunnah, ada yang tidak dapat dikategorikan bertentangan atau sesuai. Sekalipun masih ditemukan kisah israiliyah dalam kitab tafsir, dimana pengarangnya terkenal sebagai mutasyaddid (ulama yang menolak kisah israiliyat) Pada umumnya adalah kisah-kisah israilyat yang sesuai dengan ajaran Islam.

[9] T|a`hir Mahmūd Muhammad Ya’qūb, h. 626. Dikutip dari Rasm al Mufti` karangan Ibn ’An, juz 1, h. 23

[10]T|ahir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, hal. 924-926

[11] Surah Al-‘Ala`/87:3

[12] T|ahir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, hal. 929

[13] T{a`hir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, h 948

[14] [14] T|ahir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, h. 950

[15]T{a`hir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, hal. 1010

*Lulusan S2 Tafsir Institut Ilmu Al-Quran Jakarta – Gen 1 MAKN Putri

sumber: reflitalatifah.blogspot

KESALAHAN PENAFSIRAN 1/2

6 November 2009 at 1:11 pm | Posted in AL-QURAN, Gen 1 | 1 Comment
Tags: ,

oleh: Reflita*

Pendahuluan

al-quranIlmu tafsir merupakan ilmu yang menempati posisi yang mulia dan strategis. Al-Ashfahani dengan kalimat yang indah mengungkapkan ”sebaik-baik pekerjaan yang dilakoni manusia adalah menafsirkan Al-Qur`an. Kemulyaan ilmu tafsir dapat dilihat dari tiga segi. Pertama; dari segi objek bahasannya yaitu kalamullah yang melahirkan beribu hikmah dan sumber dari segala keutamaan. Kedua; dari segi tujuan yakni berpegang dengan tali yang kokoh untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki yang tidak akan pernah hilang. Ketiga; dari segi kebutuhan manusia terhadapnya. Dimana kesempurnaan agama atau kebahagiaan dunia dan akhirat sangat membutuhkan pengetahuan keagamaan dan ini berkaitan dengan pengetahuan tentang kitab Allah.[1]

Al-Qur`an secara teks memang tidak berubah, tetapi penafsiran atas teks, selalu berubah, sesuai dengan konteks ruang dan waktu. Karenanya, Al-Qur`an selalu membuka diri untuk dianalisis, dipersepsi, dan diinterpretasikan dengan berbagai alat, metode, dan pendekatan untuk menguak isi sejatinya. Aneka metode dan tafsir yang berkembang merupakan usaha untuk membedah makna terdalam dari Al-Qur`an itu.

Penafsiran Al-Qur`an telah berlangsung sejak zaman Rasul. Rasul sendiri adalah mufassir awal sesuai dengan kapasitasnya sebagai penyampai wahyu dan menjelaskannya kepada umat. Hal ini berlanjut pada zaman sahabat, tabi’in dan terus berlangung sampai dewasa ini. Hanya saja berbeda dengan Al-Quran yang isinya mutlak benar karena berasal dari zat yang maha mengetahui, tafsir tidak luput dari kekurangan bahkan kesalahan. Pengaruh perbedaan mazhab dan aliran turut mewarnai perbedaan penafsiran. Bahkan adanya fanatisme yang berlebihan dari seorang mufassir sering kali melahirkan kesalahan-kesalahan pada produk tafsir yang dia hasilkan.

Metode Tafsir yang Sahih

QURANTujuan ilmu tafsir adalah mengetahui makna ayat-ayat Al-Qur`an dan mengungkap hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Oleh Karena itu untuk bisa menafsirkan Al-Qur`an diperlukan metode yang benar dan cara yang teliti sehingga seorang mufassir tidak tergelincir kedalam kesalahan. Imam Masru` rahimahullah pernah mengingatkan umat Islam untuk berhati-hati dalam menafsirkan Al-Qur`an. Dia berkata:

اتقوا التفسير فإنه رواية من الله

“Berhati-hatilah dengan tafsir karena ia adalah riwayah yang berasal dari Allah”.[1]

Pemahaman paling benar akan makna Al-Qur`an sebagaimana yang disebutkan oleh Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb dalam disertasinya ini, akan didapat apabila metode yang digunakan adalah metode tafsir al-maksur atau tafsir dengan riwayat yang sahih. Dengan metode ini seorang mufassir akan terbebas dari dari penyimpangan dan kesalahan dalam memahami ktabullah.

Tafsir al-Maksur merupakan tafsir yang paling utama dan paling kuat. Karena tafsir ini berasal dari Allah Swt sebagai zat yang menurunkan Al-Qur`an, atau berasal dari Rasul sebagai penyampai dan penjelas wahyu, atau tafsir yang berasal dari sahabat yang hidup disaat wahyu diturunkan, dimana mereka mengetahui takwilan ayat dan belajar langsung kepada Rasul, atau berasal dari tabi’in sebagai penerus sahabat, yang belajar dan mengambil ilmu langsung dari mereka. Hanya saja ulama berbeda pendapat apakah tafsir tabi’in termasuk kedalam jenis tafsir al-maksur atau tafsir bil-rakyi. Hanya saja Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb tidak menjelaskan perbedaan ini. Dia hanya menyebutkan pendapat mayoritas ulama bahwa tafsir tabi’in termasuk tafsir bil-maksur dengan melihat kapasitas tabi’in sebagai generasi yang mendapatkan ilmu langsung dari sahabat dan mereka hidup sezaman dengan sahabat Rasul.[2]

Dalam referensi lain kita bisa menemukan perbedaan ini tidak hanya seputar tafsir tabi’in, namun juga tafsir sahabat. Perkataan sahabat yang secara ijma dianggap sebagai sumber tafsir al-maksur adalah perkataan yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak tidak menjadi lapangan ijtihad, seperti penjelasan tentang asbāb al nuzūl dan ijma’ sahabat. Sedangkan perkataan yang bersifat individual yang berkaitan dengan penafsiran, ulama berbeda mengenai hal itu. Begitu juga dengan penafsiran tabi’in. perbedaan ulama seputas itu sangat banyak. Imam Abu Hanifah termasuk orang yang menolak perkataan tabi’in sebagai sumber tafsir al-maksur dengan alasan mereka juga tidak terbebas dari kesalahan karena sama-sama manusia biasa. Penafsiran tabi’in juga berdasarkan pada ijtihad sebagaimana penafsiran yang dilakukan generasi sesudah mereka. Dengan kalimat lugas Abu berkata;

هم رجال و نحن رجال.[3]

Sekalipun tafsir al-maksur adalah tafsir berdasarkan nas dan riwayat baik dari rasul, sahabat atau tabi’in, namun tidak menafikan peran akal dalam penerapan metode ini. Seorang mufassir harus berijtihad untuk menemukan hubungan ayat yang satu dengan yang lainnya, berijtihad untuk menyeleksi hadis yang menafsirkan ayat Al-Qur`an. Makanya tafsir dengan corak ini juga tidak terbebas dari kesalahan. Sangat diperlukan ijtihad dan ketelitian pembaca untuk menyeleksi tafsir yang benar dan yang salah. Dalam tafsir al-maksur, syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah riwayat yang diambil harus sahih.

Metode lain dalam menafsirkan Al-Qur`an adalah menafsirkan Al-Qur`an dengan akal atau dikenal dengan istilah tafsir bil-rakyi. Dalam penerapannya terdapat tafsir bil-rakyi yang bisa diterima (tafsir bil-rakyi al mahmud) dan tafsir bil-rakyi yang tertolak (tafsir bil-rakyi al mazmum). Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menyebutkan dalam disertasinya empat macam tafsir bir-rakyi yang dibolehkan yaitu:

1. Pendapat atau ijtihad sahabat yang merupakan umat yang paling tahu dan paham dengan Al-Qur`an, menyaksikan proses turunnya wahyu dan mengetahui takwilan ayat .

2. Akal yang digunakan untuk menafsirkan teks Al-Qur`an, menjelaskan dilalahnya serta menerangkan cara mengambil hukum dari ayat Al-Qur`an.

3. Penafsiran bil-rakyi yang umat telah sepakat menerimanya, baik dari kalangan salaf ataupun khalaf. Karena kesepakatan ini menunjukkan kebenaran pendapat tersebut.

4. Penafsiran ini dilakukan setelah terlebih dahulu berusaha menafsirkan Al-Qur`an dengan Al-Qur`an, hadis nabi atau perkataan sahabat.

Untuk sampai pada metode penafsiran yang benar, seorang mufassir harus memperhatikan syarat-syarat dan kaedah yang harus dipenuhi. Syarat dan kaedah ini ada yang berkaitan dengan cara dan metode penafsiran dan ada yang berkaitan dengan keilmuawan mufassir.

Dalam kajian ini, Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menyebutkan 18 syarat yang harus dipenuhi oleh mufassir sebelum menafsirkan Al-Quran. Diantaranya;

1. Akidah dan pikiran yang benar.

2. Niat yang ikhlas dan maksud yang lurus.

3. Memiliki motifasi untuk mentadaburi ayat Al-Qur`an dan mengamalkannya.

4. Mengetahui ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur`an dan tafsirnya.

5. Berpegang dengan riwayat yang sahih.

6. Menguasai Bahasa Arab.

7. Tidak tergesa-gesa mengambil makna bahasa sebelum meneliti riwayat yang terkait.

8. Apabila terdapat perbedaan seputar I’rab, maka wajib memilih I’rab yang sesuai dengan riwayat yang sahih.

9. Mengetahui kaedah-kaedah yang diperlukan dalam menafsirkan Al-Qur`an yang telah dirumuskan oleh ulama salaf.

10. Mengetahui kaedah tarjih.

11. Membersihkan diri dari hawa nafsu dan fanatisme mazhab.

12. Tidak mengambil perkataan ahli bid’ah.

13. Menghindari riwayat israiliyat.

14. Menghindari masalah-masalah kalam dan filsafat.

15. Tidak memaksakan diri dalam tafsir ilmi.

16. Jujur, dan benar dalam mengutip hadis dan perkataan ulama.

17. Mendahulukan orang yang lebih utama ilmunya ketika mengutip.[4]

Sebab-sebab Kesalahan dalam Penafsiran Al-Qur`an

TAFSIRMenafsirkan Al-Qur`an bukanlah suatu perkara yang mudah, karenanya ia memerlukan persyaratan-persyaratan yang ketat melalui proses penguasaan berbagai ilmu alat sehingga seseorang layak disebut mufassir. Penguasaan ilmu alat saja tidak cukup, apabila mufassir tidak memahami metode penafsiran. Ketidak tahuan akan metode ini akan menyebabkan kesulitan mufassir dalam menafsirkan Al-Qur`an. Bahkan cendrung pada kesalahan.

Az-Zahabiy dalam bukunya “Tafsir wa Mufassirun” mengemukakan bentuk-bentuk penyimpangan penafsiran Al-Qur’an dapat dikembalikan pada 3 faktor. Pertama: Berkaitan dengan subyektivitas mufasir. Ini terlihar dari kecenderungan-kecenderungan para mufassir untuk menafsirkan Al-Qur`an menurut seleranya, mazhabnya, bidang kajian yang diminatinya atau bahkan kecenderungan lain yang berkaitan keinginan-keinginan pribadi atau kelompok. Kedua: Berkaitan dengan konteksnya, baik pembicaraan, ruang dan waktu atau dalam konteks sosial kemasyarakatan yang lebih luas. Ketiga: berkaitan dengan kekurangan penguasaan ilmu pokok dan bantu dalam menafsirkan Al-Qur’an. Ini kita bisa dilihat pada kasus penafsiran yang dilakukan oleh para ilmuwan yang tidak memiliki Ilmu pokok (dalam menafsirkan Al-Qur`an) secara memadai atau mufassir yang memiliki kemampuan penguasaan ilmu pokok, tetapi kurang menguasai ilmu bantu. Misalnya, jika seorang ilmuwan berupaya mengaitkan kebenaran penemuan ilmiahnya dengan statemen-statemen Al-Qur`an.

Apa yang dikemukakan Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb dalam disertasinya ini, tampaknya tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Az- Zahabiy di atas. Hanya saja dalam kajiannya, Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menjelaskan sebab-sebab kesalahan tersebut secara terperinci. Kelebihan laiinya, sebelum masuk kepada penyebab kesalahan yang ditemukan, dia menjelaskan terlebih dahulu metode yang seharusnya ditempuh oleh mufassir disertai dengan paparan tentang perkataan ulama mengenai hal itu.

Ada empat penyebab timbulnya kesalahan penafsiran yang sering ditemukan dalam kitab-kitab tafsir yang ada:

Pertama: Berpaling dari sumber dan dasar tafsir yang otentik dan sahih.

Ibarat sebuah rumah yang tidak dapat berdiri tanpa adanya pondasi yang kuat, disiplin ilmu apapun namanya membutuhkan dasar dan kaidah tersendiri yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang bergelut dengan ilmu tersebut. Dasar, yang dalam istilah arabnya disebut uşul merupakan unsur penting yang menjadi penguat suatu ilmu. Seseorang tidak akan sampai pada kesimpulan yang benar, apabila hanya berpedoman kepada kaedah-kaedah umum dan tidak memperhatikan uşul ini.

Sama halnya dengan dasar (us}ul) di atas, sumber yang otentik juga merupakan kunci kebenaran hasil sebuah penelitian. Salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam metode ilmiah, adalah sumber yang digunakan harus sumber primer dan otentik. Begitu juga dengan ilmu tafsir, seorang mufassir harus menggunakan sumber-sumber tafsir yang asli dan otentik demi menghasilkan penafsiran yang benar.

Terjadinya kesalahan dalam penafsiran sering kali disebabkan oleh tindakan mufassir yang mengabaikan sumber-sumber primer yang sahih dan beralih pada sumber-sumber yang lemah. Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menyebutkan ada sembilan unsur yang termasuk dalam kategori ini. Diantaranya;

1. Mengunakan ijtihad dalam menafsirkan ayat, padahal ada nas lain yang menjelaskan maksud ayat tersebut.

Nas dalam ilmu ushul fiqh yaitu suatu lafaz yang memiliki makna yang jelas dan tidak mengandung kemungkinan makna lain. Berbeda dengan defenisi ini, Nas al mufassir (nas yang menjelaskan maksud ayat) yang dimaksudkan Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb disini adalah ayat Al-Qur`an, baik ayat ini berada langsung setelah ayat yang ditafsirkan atau terdapat dalam surah yang berbeda, hadis sahih, perkataan sahabat yang diketahui tidak ada sahabat lain yang menyalahinya dan ijma’ ulama tafsir.

Nas yang termasuk dalam kategori ini adalah nas-nas yang terkait langsung dengan pemahaman ayat, baik jawaban dari pertanyaan, penjelasan tentang asbabun nuzul, penjelasan sahabat tentang makna kata-kata yang musykil, penafsiran Nabi akan makna ayat sebelum membacanya.

Meskipun menafsirkan Al-Quran dengan Al-Qur`an atau riwayat yang sahih merupakan metode tafsir yang paling benar dan utama. Hanya saja sebagian mufassir mengabaikan metode ini. Mereka menafsirkan Al-Qur`an mengunakan ra’yi atau ijtihad sendiri. Sebelum melihat ayat Al-Qur`an dan riwayat yang berhubungan dengan tafsiran ayat tersebut. Hal inilah yang menimbulkan kesalahan pada produk tafsir yang mereka hasilkan.

2. Berpegang pada hadis maudu’ dan da’if

Salah satu metode yang benar dalam menafsirkan Al-Qur`an adalah menafsirkan Al-Qur`an dengan hadis sahih. Imam Alusi sebagaimana dikutip oleh Ibn Hayyān dalam mukadimah tafsirnya mengkritik mufassir yang memasukkan kedalam tafsirnya riwayat-riwayat yang tidak sahih. Dia berkata “ … begitu juga mereka mencantumkan dalam kitab tafsir mereka riwayat-riwayat da’if tentang asbāb al nuzūl, hadis-hadis tentang keutamaan surah, hikayat-hikayat bohong, dan cerita israiliyat, padahal semua ini tidak pantas dimasukkan dalam kitab tafsir”.[5]

Dari hasil penelitiannya, Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menemukan beberapa kitab tafsir yang memuat hadis daif bahkan maudu’. Hadis-hadis ini kebanyakan berhubungan dengan penjelasan tentang keutamaan surah, nama surah, asbāb al nuzūl, dan masalah-masalah akidah, seta kisah-kisah nabi dan umat terdahulu. Contoh sebab nuzul ayat 14 surat Al-Baqarah.

Diriwayatkan dari Ibn Abbas, ayat ini turun berkenaan dengan kasus Abd Allah ibn Ubay dan sahabat-sahabatnya. Pada suatu hari mereka keluar dan berjumpa dengan sahabat-sahabat Rasul. Abd Allah bin Ubay berkata pada sahabat-sabatnya. Lihatlah apa yang diinginkan oleh orang-orang bodoh diantara kamu. Kemuddian dia pergi dan memegang tangan Abu Bakar dan memujinya, kemudian memegang tangan Umar dan Ali dan juga memujinya. Setelah itu dia menjauh dari para sahabat dan kembali menemui kaumnya dan berkata, lakukanlah sebagaimana yang kalian melihat aku melakukannya. Kaumnya pun melakukan seperti yang diperbuat Abd Allab ibn Ubay. Mereka menemui para sahabat dan memujinya. Umat Islam kemudian menyampaikan kejadian ini kepada Rasul. Lalu turunlah ayat ini.

Hadis ini diriwayatkan dari Muhammad ibn Marwan dari Muhammad ibn Sāi`b al Kalbiy dari Abi Shaleh. Silsilah ini merupakan silsilah kazb (rangkadian pewari yang terkenal sebagai pendusta).[6] Sayangnya, beberapa mufassir memuat riwayat ini dalam kitab tafsirnya. Seperti, As\-S|a’labiy, Az\-Z|amakhsyari, Al-Baid}awi, dan Al-Wa>hidi dan Al-H}azen. Hal inilah menurut Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb yang menyebabkan kesalahan tafsir yang dihasilkan.[7] Dari penelitiannya, dia menemukan kitab-kitab tafsir yang banyak memuat hadis-hadis da’if dan maudu’. Diantaranya, Syifa> as-S}ud}u>r karangan Abu Bakr an-Nuqasy, al-Kasya>f wa al-Baya>n ‘an Tafsi>r Al-Qur’a>n karangan Abu Ishaq as\-S|a’labiy, Tafsi>r Abi Hasan al- Wa>hidiy, Luba>b al Ta`wi>l fi Ma’ani> al-Tanzi>l karangan Abu hasan al H}a>zen, al-Kasya>f karangan Z|amakhsyariy, Anwa>r al Tanzi>l karangan al- Baid}awiy, dan Isya>d al-Aql al-Sali>m ila> Maza>ya> Al-Qur`a>n al Kari>m karangan Abu Su’ud.

3. Mengambil riwayat Israiliyat

Tidak dapat dipungkiri, kisah-kisah israiliyat[8] banyak terdapat dalam kitab tafsir, baik yang bercorak al-maksur maupun al-rakyi. Berbeda dengan zaman sahabat, dimana mereka sangat berhati-hati dalam mengambil riwayat israiliyat, pada masa tabi’in dan masa-masa sesudah itu kehatian-kehatian ini semakin berkurang. Imbasnya kisah-kisah israiliyat banyak mempengaruhi penafsiran mereka. Sikap ulama tafsir pun berbeda-beda dalam mengambil riwayat Israiliyat. Ada yang bersikap hati-hati dan hanya mengambil riwayat yang tidak bertentangan dengan Al-Qur`an dan sunnah, seperti Ibn Kasir. Ada yang bersikap sebaliknya, mereka tidak menyeleksi riwayat israiliyat yang dicantumkan dalam kitab tafsir mereka, seperti al-Tabariy. Dan Ada yang sama sangat mengantimasi masuknya kisah-kisah israiliyat dalam kitab tafsirnya , seperti imam Alusi. Hanya saja kalau kita perhatikan kitab tafsir mereka masih ditemukan kisah-kisah israiliyat, hanya saja setelah mengutip kisah ini mereka menjelaskan kualitas kisah yang dikutip. Tujuan dari penyebutannya tidak lain adalah untuk menjelaskan letak kesalahan dan kebohongan kisah tersebut.

4. Berpegang pada prasangka dan hikayah

Yang dimaksud dengan prasangka dan hikayat disini adalah berita-berita, cerita dan dongeng orang-orang terdahulu yang digunakan dalam penafsiran Al-Qur`an, padahal ia tidak memiliki dasar dari Al-Qur`an, sunnah dan ijma’ umat serta tidak memiliki sanad yang sahih.

Cerita-cerita ini sering kali digunakan untuk menjelaskan persoalan-persoalan akidah, hal-hal gaib dan masalah-masalah keagamaan lainnya. Pengunaan hikayat ini merupakan kesalahan yang fatal. Al-Qur`an sendiri mengingatkan umat Islam untuk berpegang dengan dalil yang kuat dan menghindari prasangka.

5. Hanya berpedoman pada makna bahasa semata dan mengutamakannya dibanding riwayat yang sahih.

6. Berpegang pada kewajiban yang bersifat majaziah dan tunduk pada tamsil dan imajinasi.

7. Terlalu mendalam dalam membicarakan filsafat dan ilmu kalam.

8. Hanya mengandalkan rakyi dan mengutamakannya dari pada riwayat yang sahih

Akal merupakan pemberian dan nikmat Allah yang sangat besar. Dengannya manusia dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah. Dalam disiplin ilmu tafsir, penggunaan akal dalam menafsirkan Al-quran termasuk kedalam salah satu metode penafsiran Al-Qur`an. Walaupun begitu, dalam menafsirkan Al-Qur`an, seorang mufassir tidak boleh hanya berlandaskan pada akal semata dan mengabaikan naql. Orang yang hanya mengunakan akal, akan melahirkan tafsir bil-rakyi al mazmum (tidak diterima.)

9. Mengambil perkataan dari ahli bid’ah dan mengikuti hawa nafsu.

*Lulusan S2 Tafsir Institut Ilmu Al-Quran Jakarta – Gen 1 MAKN Putri

sumber: reflitalatifah.blogspot

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.