Penutupan Program Almakkiyat 2009-2010

31 August 2010 at 12:15 pm | Posted in Gen 9, KEGIATAN, Uncategorized | 1 Comment
Tags: , , ,

By: Lina Rizqi Utami

Bismillahirrahmanirrahim.

Seiring berjalannya waktu, berputarnya bumi pada poros dengan ketentuan-Nya, mengalirnya riak air tak henti henti, dan alam tetap pada kepasrahannya menjalankan titah Sang Pencipta, maka Qadarullah pun menetapkan berakhirnya periode masa bakti kepengurusan Al Makkiyat 2009/2010 dengan koordinator ustazah Reni Rahmawati.
Sabtu, 28/8/2010 menjadi saksi berakhirnya kegiatan Almakkiyat periode 2009/2010 sekaligus silaturrahmi akbar anggota Al makkiyat dengan suguhan acara yang menarik. Acara dilaksanakan di rumah salah satu grand senior Al makkiyat yaitu ustazah Dwi Sukmanila Sayska bertempat di Saqor Quraisy. Acara ini dimulai pada jam 16.15 WK, yang di bawakan oleh Lina Rizqi Utami. Kemudian setelah beberapa kata sambutan dari sohibul bait sekaligus penjamu kami pada malam itu dan koordinator Almakkiyat, acara di meriahkan dengan adanya doorprize dari pengurus.

Terbukti para hadirin sangat antusias menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut dengan menipisnya hadiah yang telah disiapkan. Pertanyaan itu seputar pembahasan kajian Tafsir Hadis Almakkiyat, ke KMM_an, hafalan Al-qur’an dan pertanyaan2 umum. Acara selanjutnya cerdas cermat tuhfatul atfal yang sebenarnya diikuti oleh 3 peserta, tetapi yang siap diujikan adalah 2 peserta. Sesi ini dimenangkan oleh ustazah Elvi Rahmi.
Acara di pending beberapa jam karena azan telah berkumandang. Hidangan yang telah tersedia menjadi penyegar kerongkongan, dan penghilang rasa lapar setelah menahan diri dari lapar dan haus selama sehari penuh. Es bandung buah, Pargedel jagung, dan kue dorayaki chocolatah menjadi menu buka puasa yang disiapkan oleh pengurus sekaligus sohibul bait. Setelah bersantap ria, maka Salat maghrib berjamaah pun segera ditunaikan dan sesudahnya makanan berat siap untuk disantap dengan menu nasi sup daging special dan sambalado mantap.
Setelah berehat sejenak, acara disambung dengan doorprize dadakan karena hadiah tinggal satu buah. Pertanyaan dari pembawa acara dijawab oleh ustazah Kemala Dewi sebagai penunjuk pertama. Kemudian acara terakhir sekaligus penutup, yaitu pembagian sertifikat kepada para pemakalah kajian tafsir hadits Al makkiyat, sekaligus pembagian sertifikat kepada peserta terbaik khat riq’ah yaitu ustazah Desri Ningsih, dan ustazah Regita Asy Syifa. Acara ditutup dengan foto bareng dan pembacaan do’a kafaratul majlis

Advertisements

21 ORANG SISWA MAN/MAKN KOTO BARU PADANGPANJANG DITERIMA PADA UNIVERSITAS AL-AZHAR KAIRO MESIR

17 June 2010 at 1:14 pm | Posted in MASISIR NEWS, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , , , ,

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, siswa MAN/MAKN Koto Baru Padang Panjang mendapat kesempatan untuk melanjutkan studinya pada sejumlah universitas terkemuka di Timur Tengah seperti Universitas Al-Azhar di Kairo Mesir. Khusus siswa yang tamat tahun pelajaran 2009/2010 ini, dari 24 orang siswa/ i MAN/MAKN Koto Baru Padang Panjang yang mengikuti seleksi, sebanyak 21 orang berhasil lulus seleksi dan diterima sebagai mahasiswa pada Universitas Al-Azhar Kairo Mesir tersebut.

Keberhasilan siswa-siswi tersebut, setelah mengikuti serangkaian tes yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia pada bulan Mei 2010 yang lalu di Medan Sumatera Utara. Ketika di konfirmasikan kepada pihak MAN/MAKN Koto baru, melalui wakil kepala bidang humas Dra. Eri Arifin menyebutkan bahwa siswa-siswi yang lulus seleksi tersebut akan diterima sebagai mahasiswa di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Adapun biaya akan ditanggung oleh masing-masing siswa, karena pihak Kementerian Agama Republik Indonesia hanya memfasilitasi pada penjaringan saja. Lebih lanjut Erni Arifin menyebutkan, bahwa setelah mengikuti kuliah selama semester awal, barulah anak-anak kita bisa mengikuti serangkaian tahapan untuk mendapatkan beasiswa dari pihak Universitas Al-Azhar Mesir.

Untuk diketahui bahwa para alumni MAN/MAKN Koto Baru Padang Panjang yang sudah menyelesaikan kuliahnya pada Universitas Al-Azhar Kairo Mesir sudah mencapai 200 orang. Saat ini tercatat kurang lebih 150 orang yang sedang mengikuti perkuliahan.

Siswa-siswi yang lulus seleksi dan diterima di Universitas Al-Azhar tersebut adalah Rafiqul Huda Siregar, Irham Amir, Alfendri, Muhammad Afdhal, Gusti Rahma Yeni, Ikhwal Syaifullah, Ahmad Dzaki, Dailami Ismail, Ramiz Rahma Wita, Muhammad Rafdi, Deded Bakti Anggara, Amal Khairat, Ahmad Suryadi, Insanul Maruf, Yanuarta Wijaya, Hamdani Irawan, Ahmad Zaki, Nenen Adrita, Asfar Hamdi, Iqbal. Setelah dinyatakan lulus dan diterima, saat ini sedang mempersiapkan persyaratan administrasi untuk keperluan keberangkatannya dan pada bulan September 2010 mereka akan berangkat ke Kairo Mesir. (http://sumbar.kemenag.go.id/)

BERSATULAH

26 November 2009 at 8:03 pm | Posted in UKHUWAH, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

oleh: Fatma Febrian*

Artinya : Janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” [Ar-Rum : 31-32]


Fenomena yang tidak bisa dipungkiri dewasa ini adalah banyaknya firqoh-firqoh (kelompok/golongan) yang bernaung dibawah syariat Islam, yang timbul di tengah kehidupan kaum muslimin. Mereka mengajak masuk kepada kelompok mereka,dan bergabung di dalam satu “wadah” untuk menyatukan kekuatan dalam menegakkan agama Islam. Dalam hal ini mereka berpendapat:” agar lebih terorganisir, yang penting tujuannya sama yaitu menegakkan kalimatullah.”

Tapi fakta yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Konsep awal adalah menyamakan barisan tapi yang terjadi adalah memecah belah barisan. Satu sama lain saling gontok-gontokan membela “bendera”nya, lebih loyal terhadap kelompok mereka sendiri ketimbang yang berbeda dengan mereka, ironisnya lagi sesama muslim tega mencela saudara muslimnya yang lain hanya gara-gara perbedaan dalam metode dakwah. Apakah ini yang disebut dengan persatuan? Kenapa kita tidak bersatu dibawah Alquran dan assunnah saja dan menanggalkan semua atribut-atribut perbedaan ini.

Hal yang sering mengganjal di benak kita,”bukankah mereka juga berpegang kepada al-Quran dan sunnah?” atau “asalkan berpegang kepada alquran dan sunnah, saya rasa sah-sah saja.” Asy-Syaikh Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi berkata: “Jika benar apa yang dinyatakan oleh kelompok-kelompok yang amat banyak ini, bahwa mereka berpegang dengan Al Qur’an dan As Sunnah, niscaya mereka tidak akan berpecah belah, karena kebenaran itu hanya satu dan berbilangnya mereka merupakan bukti yang kuat atas perselisihan di antara mereka, suatu perselisihan yang muncul dikarenakan masing-masing kelompok berpegang dengan prinsip yang berbeda dengan kelompok lainnya. Tatkala keadaannya demikian, pasti terjadi perselisihan, perpecahan, dan permusuhan.” (An-Nashrul Azis ‘Alaa Ar Raddil Waziz, karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali rahimahullah, hal. 46)

Wajib atas kalian berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku. Pegang dan gigitlah dengan gigi geraham kuat-kuat. Hati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru. Karena setiap perkara yang baru (dalam dien) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat” [dikeluarkan oleh Abu Dawud 4607, At-Tirmidzi 2676.]

Kita memang tidak menvonis ini adalah hal yang bid’ah, tapi yang jelas kewajiban kita adalah berhati-hati dalam perkara agama. Apakah hal-hal semacam ini akan mendekatkan diri kita kepadaNya, atau bahkan mengantarkan kita kepada jurang kemurkaan Allah ‘azza wa jalla,ini yang harus kita sadari.

Sebagai tholibul ilmi, kewajiban kita adalah menyampaikan apa yang telah kita dapatkan kepada masyarakat nanti, tapi ketika seseorang telah bergabung dengan kelompok tertentu, ini akan menghalanginya untuk menyampaikan ilmu tersebut. Seseorang yang berbeda kelompok dengan kita misalnya, akan enggan menerima apa yang kita sampaikan, jangankan untuk mendengarkan untuk bertemu saja akan merasa risih. Fakta lain yang penulis lihat ketika sebuah masjid dijadikan basecamp oleh jamaah/partai tertentu, akan menghalangi jemaah lain untuk masuk. Seseorang yang merasa kelompok A, cenderung menghindari masjid B yang diisi oleh komunitas B, begitupun sebaliknya. Belum lagi masalah taqlid (loyalitas) dan fanatisme terhadap kelompok masing-masing, yang tidak bisa dihindari ketika sudah bergabung dengan salah satu kelompok, seseorang akan merasa cinta dengan kelompoknya, dan melakukan apa saja demi kepentingan golongan, bahkan dengan hal-hal yang dilarang sekalipun. Riya dan ketidak-ikhlasan akan timbul dengan sendirinya ketika kelompok-kelompok itu membangga-banggakan amal mereka, baik itu dengan spanduk-spanduk yang berjejer disepanjang jalan, laporan keuangan bantuan korban bencana alam, atau disitus-situs maupun pemancar milik mereka, naudzubillah. “Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali Imran: 103)

Intinya, ukhuwah dan persatuan diantara kaum muslimin harus dibangun. Namun harus berdasarkan syarat, yaitu ikhlas karena Allah, dan dalam koridor ketaatan kepada Allah. dengan kata lain, persaudaraan yang bersih dari noda-noda dan motif-motif duniawi beserta kaitan-kaitannya. Yang menjadi pendorong persaudaraan ini hanyalah keimanan kepada Allah, bukan kesamaan kelompok, kesamaan kepentingan, atau kesamaan-kesamaan lain yang bersifat duniawi, seperti: politik, kedudukan, uang, dll.

Semoga kita semua terhindar dari api neraka dan tergolong kepada orang-orang yang bartakwa kepada-Nya.

” Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92]. Allahu a’lam bishowab

*Siswi Ma’had Al-Azhar Kairo – Adik gen 14 MAKN

SWEET FRIENDSHIP

25 November 2009 at 12:21 pm | Posted in Gen 9, UKHUWAH | 5 Comments
Tags: , ,

BY: LiNA kIyOeT*

Object : SGC-9 Gank,, (SMART GIRLS CLASS_9)

Teman-teman miss you….miss you…miss you…..miss you all. Kata-kata itulah  yang sering terlontar diantara kami angkatan 9 MAKN Putri atau nama kerennya SMART GIRLS- 9 ketika chatting n talking via net. Persahabatan yang indah di kala pertemuan, terlerai oleh sebuah perpisahan. Setiap generasi MAKN pasti merasakan pula. Tiga tahun ukhuwah terjalin di kampus MAN/MAKN Kotobaru Padang-Panjang. Sebuah ikatan yang tak mudah merajutnya dan otomatis terlalu sulit untuk mengurainya kembali, karena persahabatan itu telah terjalin erat dengan ikatan kasih sayang karena Allah.

Sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Anfal ayat 63, artinya:

Dan Dia yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.

Kenapa anugrah persahabatan ini bisa kita raih? Karena kita satu tujuan, satu rasa, satu cita-cita ketika kita masih cupu, imut dan culun abis. Segala program kita jalani selama di asrama, yang menuntut kedisiplinan dan pengendalian emosional. Kekompakan dan persaudaraan, terkadang ditingkahi oleh percikan-percikan kecil perselisihan dan prasangka. Semuanya menambah warna-warni persahabatan kita. Tak ada yang dapat mengganti sgala keterikatan itu, yang telah melekat kuat di memori terdalam diantara  kita. Suka, duka, tawa dan air mata telah kita satukan dalam satu filter perjuangan; mempertebal iman, memperdalam ilmu pengetahuan.

Hmmm…sungguh perjuangan yang begitu indah, tak terlukiskan dengan kata-kata. Marapi dan Singgalang menjadi saksi, betapa kuat jalinan rasa dan emosi kita. Tak ada yang tau apa yang kan terjadi ketika rasa rindu kita memuncak di hiruk pikuk aktivitas kampus ketika peran kita telah berubah menjadi mahasiswa. Kita sudah terpisah oleh jarak dan waktu, pemikiran pun akan mulai berbeda.


Tapi saya yakin dari relung hati terdalam, yang namanya SMART GIRLS- 9 tetap harum namanya di hati masing-masing anggota, Karena tak mudah untuk mengukirnya. Banyak kenangan yang terjadi di dalamnya, disaksikan dinginnya udara Kotobaru, indahnya talago dan kokohnya Marapi dan Singgalang yang menjulang tinggi. Agenda mingguan, bulanan, tahunan yang nyaris menyentuh habis jiwa dan raga ini, merubah hal yang tak biasa menjadi biasa, merubah yang biasa menjadi luar biasa. Kegersangan rohani  disegarkan oleh lantunan Al-Qur’an kala pagi dan petang. Setoran yang disepakati dalam tahfizul Al-Qur’an dan serba-serbi hukuman yang membuat kenangan itu semakin manis. Ah… KotoBaru itu memang kampus seribu satu kenangan.

Gejolak remaja pun terkontrol dengan peraturan yang mengikat namun indah, yang membuat rasa akan terjaga, lebih mementingkan redha-Nya. Keakraban dan kedamaian yang membuat kita nyaman, diselingi candaan yang menjadi banyolan ketika disiplin ditegakkan, penghilang ketegangan atas pelanggaran yang terjadi karena khilaf masa remaja, ‘iqob “menyeramkan” tapi tetap dijalankan.

Ketegangan ujian dihanyutkan dengan panorama Ilahi yang menakjubkan dan suasana dingin yang menyentuh relung jiwa. Menyusupkan kedamaian dalam balutan selimut ketika istirahat malam setelah seharian penuh beraktivitas; sekolah, tutorial sore hingga program-program asrama.

Semangat menggebu dalam agenda Ramadhan,  kerjasama antara anggota persatuan daerah, menyatu dalam arena panggung perpisahan kelas 3, yang dilengkapi dengan kelas 2 sebagai panitia pelaksana, dan kelas 1 yang mengisi acara. Muaffat dan Firqoh Mubarah jadi agenda pelepas penat. Tarbiyatul Ula sebagai perkenalan bagi anak-anak baru menjadi momentum  pendewasaan diri bagi kelas 3 untuk menjadi teladan bagi adik-adiknya.

Bagi MAKN Putri generasi awal hingga kini, Aspi III adalah tempat ukhuwah terindah yang pernah ada. Ustad dan ustadzah yang sabar membimbing dan mendidik kami supaya menjadi manusia berguna bagi agama dan bangsa. Warna-warni kebersamaan dengan teman-teman, kakak-kakak dan adik-adik kelas mendewasakan diri dalam menapaki perjalanan selanjutnya. Ah…sebuah kenangan hidup yang tak akan terlupa….

ASPI III, ASPA, KNPI, KNPA, Mesjid Noer_El Hikmah, Menara, Tembok Berlin (xixixixi,,,istilah kita2 aja tu), dan seluruh kampus MAN/MAKN, serta sawah, talago, pasar Kotobaru, gunung Marapi dan Singgalang…telah mengukir pengalaman hidup terindah. Dan sekarang, sebuah persatuan almamater telah mengikatnya di negeri para nabi, ardul anbiya’ -meski telah berubah status sebagai mahasiswa Al-Azhar University, Cairo- yaitu Almakki / Almakkiyat…

*one of members SG-9, mahasiswi tk 1 Syariah Islamiyah Al-Azhar Kairo

Foto-foto sekolah diambil dari FB MAKN Koto Baru Padang Panjang

MUSLIMAH DAN GHIBAH

7 November 2009 at 11:11 pm | Posted in AKHLAK, Gen 2 | Leave a comment
Tags: , , ,

Oleh: Wirza Rahmah*

ghibahIslam sebagai agama yang berpegang kepada Al-Qur’an dan sunnah mengajarkan umatnya untuk saling mengasihi dan menyayangi sesama. Menutupi aib dan kekurangan saudaranya merupakan salah satu bukti kasih dan sayang yang diajarkan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Maka ketika seseorang membeberkan aib orang lain, walaupun itu benar adanya, ketika itulah ia menyalahi ajaran Islam yang mengharamkan ghibah (bergunjing).

Secara bahasa ghibah berarti membicarakan orang lain. Dan secara istilah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw., makna ghibah adalah menceritakan kekurangan saudara kita di belakangnya kepada orang lain. Seorang sahabat bertanya: walaupun perkara itu benar wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: ya, itulah ghibah, jika perkara itu tidak benar, maka ia telah memfitnah saudaranya.

ghibahIronisnya, ghibah yang merupakan salah satu dosa besar ini, sering kali dilakukan oleh kaum hawa antar sesamanya. Bahkan para muslimah yang notabene orang-orang yang mengerti agama pun sering tergelincir ke dalam hal ini. Tidak jarang pembicaraan mereka dibumbui dengan gosip, ngerumpi, dan menggunjing. Hal ini, disadari atau tidak, memiliki dampak negatif yang cukup besar. Ia dapat merusak hubungan ukhuwah serta mencerai-beraikan ikatan kasih sayang sesama manusia.

Al-Qur’an menggambarkan bahwa perumpamaan orang yang menggunjing ibarat memakan bangkai saudaranya. Allah SWT. berfirman: “Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing (ghibah) sebagian yang lainnya. Apakah kalian suka salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya  yang sudah mati? Maka tentulah kalian membencinya. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih.” (QS. Al Hujurat: 12).

Sungguh hina perbuatan ghibah ini jika kita merenungkan sabda Nabi Saw:  ”Ketika aku mi’raj (naik ke langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya terbuat dari tembaga sedang mencakar wajah-wajah dan dada-dada mereka. Lalu aku bertanya: “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Malaikat Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan merusak kehormatannya.” (H.R. Abu Dawud). Yang dimaksud dengan ‘memakan daging-daging manusia’ dalam hadis ini adalah berbuat ghibah (menggunjing), sebagaimana permisalan pada surat Al Hujurat ayat: 12.

Dalam hadis lain, dari shahabat Jabir bin Abdillah ra., beliau berkata: “Suatu ketika kami pernah bersama Rasulullah mencium bau bangkai yang busuk. Lalu Rasulullah bersabda: ‘Apakah kalian tahu bau apa ini? (Ketahuilah) bau busuk ini berasal dari orang-orang yang berbuat ghibah.” (H.R. Ahmad).

gosipAda beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya ghibah, sehingga ia seakan demikian populer di tengah-tengah masyarakat. Diantara faktor-faktor tersebut adalah:

1        Tidak tabayun sebelumnya, artinya ketika mendengarkan sesuatu yang jelek tentang seseorang tidak dicari tau kebenaran berita tersebut.

2        Kemarahan seseorang terhadap saudaranya bisa menyebabkan terjadinya ghibah, karena dengan kemarahan itu, tanpa berfikir panjang ia gampang menyebutkan aib dan kekurangan saudaranya.

3 Hasad dan dengki jika orang lain dipuji menyebabkan seseorang tidak bisa mengontrol lisannya. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. bersabda: “Berhati-hatilah dengan kedengkian, karena dengki bisa memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

4        Tidak teliti dalam mengungkapkan sesuatu atau menggambarkan tujuan yang dimaksud. Artinya, ketika seseorang salah dalam menyampaikan suatu berita, maka tidak tertutup kemungkinan si pendengar salah dalam gosipmemahami berita tersebut dan mengakibatkan salah persepsi.

5        Berlepas diri dari suatu tuduhan dan kesalahan juga menjadi penyebab terjadinya ghibah, karena ingin membela diri.

6        Bercanda juga menjadi salah satu penyebab terjadinya gosip dan gunjingan, kerena membuka aib orang lain dan mencemarkan nama baik seseorang, walaupun tujuannya ingin membuat orang lain tertawa dan senang.

Walaupun tidak dapat divonis secara umum, tapi juga tidak dapat dipungkiri bahwa ghibah banyak dilakukan oleh kaum wanita. Perasaan marah, dengki, malu lalu menutup kesalahannya, atau bahkan hanya untuk sekedar bercanda dan omong kosong saja, merupakan beberapa motivasi terjadinya ghibah ini. Acara kumpul ibu-ibu tidak jarang berubah menjadi ajang membicarakan orang lain. Contoh konkrit yang sering kita lihat di tanah air adalah ketika ibu-ibu arisan, bertemu di pasar, atau bahkan sedang menyuapkan anaknya di teras rumah dan berkumpul dengan teman sebaya. Ada saja hal-hal yang dianggap menarik untuk dibicarakan: gosip artis di televisi, tetangga yang bertengkar, urusan suami orang, dan lain sebagainya. Tentu saja, ini bukan berarti bahwa kaum adam tidak terjangkit ‘kegiatan ini’.

Gossip

Padahal, ghibah ini jika sering dilakukan akan berdampak negatif bagi si pelakunya, diantaranya: mengeraskan hati, mendapatkan murka dan kemarahan Allah, sehingga azab pedih dari Allah yang akan diterimanya di kubur dan di akhirat nanti. Adapun dampak negatif dalam masyarakat, ghibah bisa menimbulkan perselisihan dan perpecahan, sehingga akan sulit tercipta ketenangan dan hubungan yang harmonis ditengah-tengah masyarakat.

Berikut ini adalah beberapa kiat yang bisa menangkal bahaya ghibah:

quran1        Meningkatkan ketaqwaan dengan mendekatkan diri kapada Allah, misalnya sering bertilawah dan berzikir agar hati menjadi lunak dan jiwa menjadi tenang.

2        Berfikir sebelum memulai pembicaraan, agar yang keluar dari mulut adalah perkataan yang baik-baik saja, dan mengingat bahwa semua yang kita bicarakan dan kerjakan akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid.

3        Tabayun sebelum menyampaikan berita, supaya ukhuwah tetap terjaga dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

4        Mengingatkan orang lain ketika ia menceritakan saudaranya, agar ia tidak terjatuh kedalam lembah yang bernama ghibah.

Ada beberapa pengecualian yang disebutkan Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim dan Riyadhus Shalihin. Beliau menyebutkan bahwa menyebut keburukan orang lain diperbolehkan untuk tujuan syara’, yaitu yang disebabkan oleh enam hal:

1        Orang yang teraniaya (mazhlum) boleh menceritakan dan mengadukan kezaliman orang yang menzhaliminya kepada seorang penguasa atau hakim atau kepada orang yang berwenang untuk menegakkan amar makruf nahi munkar dan memutuskan suatu perkara dalam rangka menuntut hak orang yang teraniaya ini. Asalkan ia bertujuan untuk meminta bantuan dan keadilan, karena Al-Qur’an dalam surat An-Nisa ayat 148 sudah menerangkan hal ini: “Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

2        Meminta tolong untuk mencegah kemungkaran dan mengembalikan orang yang berbuat maksiat kembali ke jalan yang benar. Hal ini termasuk amar ma’ruf nahi munkar.

3        Meminta fatwa (istifta’) atau minta keterangan terhadap suatu penjelasan, hal ini hanya boleh dilakukan dengan tidak menyebutkan keburukan seseorang secara berlebihan. Sebagai contoh kita mengambil ibrah dari kisah istri Abu sofyan yang diam-diam mengambil uang suaminya lalu ia mengadukan kepada Rasulullah saw kalau suaminya pelit, lalu Rasulullah saw membolehkannya asalkan tidak berlebihan.

4        Memperingatkan kaum muslimin dari beberapa kejahatan seperti:

a. Apabila ada perawi hadis, saksi, atau pengarang buku yang bersifat jelek atau berkelakuan tidak baik, menurut ijma’ fatwaulama kita boleh bahkan wajib memberitahukannya kepada kaum muslimin. Hal ini dilakukan untuk memelihara kebersihan syariat. Ghibah dengan tujuan seperti ini jelas diperbolehkan, bahkan diwajibkan untuk menjaga kesucian hadis dan syariat. Apalagi hadis merupakan sumber hukum kedua bagi kaum muslimin setelah Al-Qur’an.

b. Apabila kita melihat seseorang membeli barang yang cacat atau membeli budak (untuk masa sekarang bisa dianalogikan dengan mencari seorang pembantu rumah tangga) yang pencuri, peminum khamar, dan sejenisnya, sedangkan si pembelinya tidak mengetahui, maka kita boleh memberitahunya untuk memberi nasihat atau mencegah kejahatan terhadap saudara kita, bukan untuk menyakiti salah satu pihak.

c.   Apabila kita melihat seorang penuntut ilmu agama belajar kepada seseorang yang fasik atau ahli bid’ah dan kita khawatir terhadap bahaya yang akan menimpanya. Maka kita wajib menasehati dengan cara menjelaskan sifat dan keadaan guru tersebut dengan tujuan hanya untuk kebaikan semata.

5        Menceritakan kepada khalayak ramai tentang seseorang yang berbuat fasik atau ahli bid’ah seperti, peminum minuman keras, penyita harta orang lain secara paksa, pemungut pajak liar atau perkara-perkara bathil lainnya.
Ketika menceritakan keburukan itu kita tidak boleh menambah-nambahinya dan hanya diniatkan untuk kebaikan.

6        Jika seseorang sudah dikenal dengan julukan si pincang, si pendek, si bisu, si buta, atau sebagainya, maka kita boleh memanggilnya dengan julukan-julukan itu agar orang lain langsung mengerti,namun jika tujuannya untuk menghina, maka haram hukumnya. Jika ia mempunyai nama lain yang lebih baik, maka lebih baik memanggilnya dengan nama lain itu.

tulisWahai para muslimah! Ku persembahkan tulisan ini agar kita bisa saling mengingatkan ketika lupa, dan sama-sama kita berdoa kepada Allah agar lidah-lidah kita selalu terjaga dari hal-hal yang dilarang. Untuk kaum Adam semoga juga bisa mengambil ibrah dari tulisan ini. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

*Mahasiswi S2 Liga Arab & tk 4 Tafsir al-Azhar – Gen 2 MAKN Putri

Tulisan ini pernah dimuat dalam buletin SINAI

SERPIHAN LUKA YANG BERSERAK

31 October 2009 at 10:53 pm | Posted in Gen 3, SASTRA | 2 Comments
Tags: , , ,

Oleh: Mike Putri Rahayu*

Tatkala badai yang mendewasa mengungkung asa, diriku terhempas di terjalnya jurang sukma. Terpuruk ragaku mengenyam empedu. Dalam kebimbangan ini kurasa dunia bukan lagi tempatku bersinggah membangun harap. Bening hatiku pupus dimakan waktu.

uin jakartaAku masih terpaku di antara hiruk pikuk keramaian kampus. Cekikikan beberapa mahasiswi tak membuat kepalaku bergeming untuk menoleh pada mereka. Sapaan ringan teman-teman seangkatan kubalas dengan anggukan sopan. Tentu saja, pikiran dan perasaanku masih hanyut pada bait-bait kalimat di selembar kertas buram yang kini berada dalam genggamanku. Ketika tanpa sengaja aku menemukan sebuah buku tergeletak begitu saja di halaman parkir. Nuraniku menyuruhku untuk memungutnya. Hingga tanpa kusadari, selembar kertas terselip jatuh dari dalamnya.

Hm… siapa gerangan pemilik buku ini? Tanganku sibuk membolak balik sementara mataku awas menelusuri tulisan-tulisan didalamnya sampai akhirnya kubaca sebuah nama di sudut atas sampul bagian dalam buku tersebut:

HARI BUDIMAN, FAKULTAS PSIKOLOGI, TINGKAT TIGA

“Allaaahu akbar… Allaahu akbar!”

Senandung azan magrib menyadarkanku untuk segera mengayun langkah menuju kost-an di seberang jalan. Buru-buru kumasukkan buku tersebut ke ransel miniku. Senja makin merah. Semburat rona pelangi mewarna indah memayungi alam Jakarta.

Nun, jauh di sudut hatiku, masih tersisa sejumput kagum terhadap bait-bait yang tadi kubaca. Ada tanya yang menggantung : apa yang tengah dirasakannya ketika menulis untaian kata itu?

***

Sengatan terik mentari meraja di waktu zuhur usai menjelang. Salat zuhur yang kutunaikan di mesjid kampus, membuka ruang nyaman di bilik hatiku. Segarnya es kelapa cukup menghilangkan senut-senut di kepalaku habis mengikuti kuliah pak Sidarta, si dosen killer itu.

Uff… kuhembuskan nafas lega. Karena siang ini tak ada mata kuliah yang harus kuikuti. Tiba-tiba ingatanku melayang mengenang sesuatu. Buku itu. Ya, semenjak tadi malam telah kupupuk niat untuk mengembalikan buku tersebut kepada si empunya.

fakultas psikologi UIN JakartaKubayar minuman dengan sedikit tergesa. Kakiku pun terayun menuju Fakultas Psikologi. Gesekan langkahku terasa lebih berirama ketika ubin-ubin Fakultas Psikologi ini kutapaki.

“Assalamu’alaikum, Ton…”aku mencegat Toni, calon psikolog sekaligus teman seorganisasiku di LDK (Lembaga Da’wah Kampus).

“Wa’alaikum salam… Arif? Ada angin apa nih?” senyum hangat Toni menyambut sapaku.

“Afwan mengganggu sebentar. Ente kenal yang namanya Hari Budiman nggak? Aku ada perlu sama dia.”

“Tingkat berapa?” Toni balik bertanya.

“Tingkat tiga.” Jawabku cepat.

“Mmm…Hari Budiman?” Toni tampak berpikir keras. “…kayaknya aku nggak kenal deh,Rif. Sebaiknya Ente tanya aja ke teman seangkatannya di lantai empat.”

“Oke deh, kalau begitu. Syukran ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.” Aku dan Toni pun berpisah.

3229278733_39411b3e89_oTernyata mencari seorang Hari Budiman tak semudah yang kubayangkan. Hampir satu jam berlalu ketika kutemukan sosoknya menyendiri di pojok taman kampus. Sepoi-sepoi angin melambaikan rambut gondrongnya. Wajahnya yang tertunduk seolah tenggelam di balik bahu lebarnya. Aku mendekat.

“Hm…maaf, saudara yang bernama Hari Budiman?” Kepala yang semula tertunduk itu mendongak.

“Ya…saya Hari Budiman. Ada apa ya?!” tanyanya kemudian. Aku sempat tertegun sesaat menyaksikan tatapan sendu yang memancar dari kedua mata elangnya.

“Oh, saya hanya ingin mengembalikan ini.” Tanganku cekatan mengulurkan buku miliknya.

“Terima kasih…” ucapnya dengan senyum tipis.

Siapa sangka, ternyata perkenalan itu membawa kami ke gerbang pertemanan. Tak mudah memang bagiku untuk dekat dengan pribadinya yang pendiam. Tapi kurasa itulah sisi unik yang kusuka dari Hari. Maka sejak saat itu, entah mengapa naluri ingin tahuku menyentak-nyentak beraksi mendorongku untuk lebih banyak tahu tentang kehidupannya.

“Dia seorang yang tertutup, suka menyendiri…” ucap seorang temannya ketika kutanya.

Nyamankah ia menikmati kesendiriannya? Akankah bening hatinya terkikis tatkala kesunyian menjemput? Adakah ia merasa sepi? Tanya dihatiku merebak.

***

Bukanlah angin yang mengirimku untuk menjadi sahabat bagi seorang Hari. Mungkin akulah satu-satunya orang yang dibiarkan masuk ke dalam hidupnya. Satu-satunya orang yang diterimanya sebagai teman. Teringat kembali bait-bait yang pernah ditulisnya di selembar kertas waktu itu, membuatku makin berkeinginan untuk menyibak tabir duka yang disimpannya. Tatapan sendu berkabut, Senyum yang hampir tak pernah hadir, permenungan yang kadang dihiasi titik-titik bening, cukuplah sebagai tanda suatu sisi buram bersemayam utuh di ruang hatinya. Meski ia tak pernah berucap.

badai lukaSeperti di suatu pagi yang basah, kutemukan dirinya diam dalam tangis yang menjalar.

“Assalamu’alaikum Har? Ada apa?”

“Wa… wa’alaikum salam ” gelagapan Hari menjawab salamku. Kami sama-sama terdiam.

“Ada apa ? mungkin aku bisa membantu. Berceritalah!…” tanganku menjangkau punggungnya bersimpati.

Sunyi. Rumput-rumput dan dedaunan bergoyang meningkahi tiupan angin. Seliweran mahasiswa mulai kelihatan di gerbang kampus. Namun Hari masih membisu.

“Rif, menurutmu Tuhan itu Maha Adil apa tidak ?”

Katanya pelan.

“Tentu saja !”ujarku cepat.

Setelah itu benar-benar sunyi. Hari membiarku menunggu. Dari mulutnya tak lagi keluar sepatah katapun.

***

“Rif ada titipan…’ sapaan pertama Ahmad, teman sejurusanku menghentikan langkahku menuruni tangga gedung fakultas. Kuliah hari ini begitu melelahkan. Aku ingin secepatnya sampai di rumah. Istirahat.

“Dari siapa ?” tanyaku pada Ahmad. Yang ditanya angkat bahu.

“Terima kasih ya…” kutampilkan segaris senyum pada Ahmad sebelum berlalu.

Setiba di kost-an, hati-hati kubuka bungkusan yang tadi diberikan Ahmad bersampulkan kertas koran. Hei… ternyata sebuah diary. Milik Hari!

8 november 03

Badai tak berkesudahan menghampir. Aku bukanlah malaikat yang senantiasa mampu memikul beban prahara. Bukan pula nabi yang punya segudang kekuatan dengan sejuta kesabaran. Aku hanya seorang nista yang punya lara di atas serpihan duka. Aku juga punya luka tatkala mendengar sebuah berita : bahwa aku bukanlah anak kandung dari orang yang selama ini kupanggil ayah. Ia bukan ayah kandungku. Ia pamanku! lalu ke mana ayahku? Di mana ibuku? Ke mana harus kukejar kasih itu? Dimana harus kutagih cinta itu?.

Kubiarkan senja berlalu yang tak mampu menjawab tanya.

Desember 03

Perjalanan waktu dari hari ke hari semakin tua. Kukuatkan raga untuk menuliskan kilas gelap rantai hidupku yang kejam. Siapa yang bisa menyangka, kalau aku pun berhak tahu atas semua. Telah kurambahi hitamnya gulita. Kukorek-korek hingga muncul sebuah kepastian.

Ayah dan ibuku meninggal di sebuah kecelakaan. Di usiaku 3 tahun kala itu, aku belumlah mampu melukis sosok ayah dalam memoar ingatanku.

Februari 04

Terjawab sudah rangkaian semu yang melilit perjalanan panjangku. Ayahku seorang saudagar kaya. Dan dia! Pamanku, ia menyeretku paksa ke kehidupannya. Melarikanku ke sebuah lembah yang tak kukenal dan memaksaku memanggilnya “Ayah…”. Sementara ia berpesta pora dengan harta peninggalan ayah tanpa sedikit pun memberitahuku. Serakah!!

Takkan menganga lukaku, jika ia tak menganggapku sampah di rumahnya sendiri. Membedakanku dari anak-anaknya yang lain. Menganaktirikanku. Ternyata memang aku bukanlah darah dagingnya.3436404081_b8a3e4072b_o

Kini, 23 tahun sudah aku bagai burung tanpa sarang. Tak punya tempat kembali. Kepada siapa harus kulabuhkan diri ini sementara pelayaran belum lagi mencapai tepi. Apakah dunia ini masih berhak kusinggahi? Masihkah ada harap uintuk merenda keping hatiku yang berserak?

Kuhembuskan nafas berat setelah membaca diary milik Hari. Ah, sebegitu dalam deritamu, Kawan. Kenapa tak berbagi?! Masih ada Dia, Zat Yang Maha Adil dan Penyayang. Ia takkan meninggalkanmu…

Kairo, 10 oktober 2004.

*Lulusan S1 Jur. Tafsir Univ Al-Azhar, Gen 3 MAKN Putri

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin MITRA edisi 51

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.