ابن عمرو بن العاص وابن القبطى

31 August 2010 at 8:30 am | Posted in Gen 4, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , ,

بسم الله الرحمن الرحيم

ازيكو اخواتى؟ اتمنى تكونو كويسين وفي صحة جبدة. امين

مرة, مسؤولة عن بلوغ بتعنا طلبت منى ان اكتب مقالة باللغة العامية. ففكرت شويا و قلت هجرب. انشاء الله. فقالت لى ماشى. و اخترت موضوع عن قصة مؤثرة لابن عمرو ابن العاص مع ابن القبطى.

في خلافة عمر ابن الخطاب ولى عمرو ابن العاص اميرا فى مصر.وفي يوم من الأيام عملوا سباق للفرسان. فاشترك فيه محمد ابن عمرو ابن العاص. و اشتد السباق بين ابن عمرو و ابن القبطى. فحصل  شيء غير متوقع.وهوان ابن القبطى سبق ابن اميرا مؤمنين. فغضب ابن عمرو,ازاي ابن القبطى بيبقى احسن منى؟. فانا ابن الأمير, ابن الفاتحين الأكرمين المهتدين. اخذ سوطا ليضرب به ابن القبطى. و الدم يسيل من ظهره لسلطان ابيه.

اشتكى المسكين لابيه. حزن ابوه عليه و استشار ابوه  اهل الرأى و المشوره. فقالو له ان الأمير رجل طيب, نشر العدل و حرر المستعبدين. فراح هو و ابنه لأمير المؤمنين فى المدينة المنورة. يشتكوا له فيما حصل على ابنه. اثر فى نفس الأمير ما اثر فى نفسه. كتب الأمير الرسالة الى عمرو ابن العاص عشان يجي هو و ابنه.

لما وصلوالى الخليفة عمر الفاروق.  تجمع الناس عند امير المومنين

اعطى سوطا الى ابن القبطى. قال له اضربه كما ضربك. ابن القبطى ضرب ظهر ابن عمرو ابن العاص امير مصر, لغيت لما حس انه استوفى حقه قال امير المؤمنين الفاروق: ” لو ضربت عمرو ابن العاص ما منعتك, لأن الغلام انما ضربك لسلطان ابيه.” رد عليه ” لا, انا ضربت اللى ضربنى.”  ثم التفت الى عمرو ابن العاص قائلا : ” متى استعبتم الناس وقد ولدتهم امهاتهم احرارا؟. “

شوفو القصة, شوفو ازاى عدل السلطان على شعبه. خلى ابن المسكين الذي ليس له مكانة بين الناس يضرب ابن الأمير؟. فهكذا فى الاسلام عدل السلطان. علشان ان الناس سواء عند رب العالمين.

لما نشوف لوقتي كلنا نقول ان العدل و الاهتمام و الرعاية على الشعب من السلطان ضاع. ما شفنش دى الوقت السلطان اللى بيتمسك بحقوق الشعب اللى بيدى حقوقهم حتى فى الظلم. الناس الغلبانين اللى اهلهم يتقتل, يتضرب او فلوسهم راح يتسرق ما عملوش فيهم حاجة عشان يرجع حقهم. كل دة عشان ما عندهمش المكان, او الشرف. عشان هما ناس عادي.

فنتمنى ربنا يغير السلطان الظالم با لسلطان العادل. خاصة فى بلدنا و بلاد الاسلام كلها. و فى كمم برض ( اتحات الطلبة سومطر الغربية بمصر ) اللى بيعملو تغيير الرئيس و كل المسؤول عن الطلبة

Advertisements

FALSAFAH KELAPA

10 June 2010 at 3:57 pm | Posted in AKHLAK, Gen 4, hadis, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

Oleh: Lira Erlina Lc.

Allah menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al-Quran surat An-Nahl: 11).


Fenomena kehidupan manusia penuh dengan hikmah dan pelajaran. Semua yang diciptakan Allah – di langit dan di bumi – bisa diambil hikmah yang bermanfaat. Allah tidak menciptakan sesuatu hanya untuk menghiasi langit dan bumi saja, melainkan selalu ada hikmah di baliknya, berupa manfaat yang kembali pada manusia dan makhluk itu sendiri.

Pohon kelapa termasuk jenis tumbuhan yang hidup di pantai dan di ketinggian 900 m dari permukaan laut. Tinginya 10 -14 m, tidak bercabang. Daunnya bersirip genap dengan panjang 2-3 m. buahnya berbungkus serabut tebal berdiameter 25 cm, berisi air dan daging. Pohon ini ternyata memilihi begitu banyak manfaat.


Pohon kelapa adalah pohon kehidupan bagi sebagian besar masyarakat. Semua bagian dari pohon tersebut dapat dianfaatkan sehingga bisa menjadi sumber kehidupan dan mata pencaharian. Mulai dari buah, daun, pelepah, tempurung, batang bahkan akarnya bisa berguna. Maha suci Allah yang menciptakannya.

Air kelapa tidak saja pelepas haus dan dahaga, tapi juga punya nilai gizi yang tinggi. Ia kaya akan potasium (kalium), mineral, gula dan protein. Dengan komposisi gizi yang demikian, air kelapa dapat digunakan sebagai bahan baku produk pangan dan obat-obatan.

Dagingnya mengandung karbohidrat sederhana seperti glukosa, sukrosa, dan frukosa. Selain itu juga mengandung lemak protein, lemak, vitamin dan minyak yang banyak digunakan sebagai bahan makanan. Tempurung dan serabutnya dijadikan bahan kerajinan tangan atau cendera mata yang kini banyak diekspor ke manca negara. Daunnya pun serba guna. Bisa dijadikan ketupat, jahur penghias di akla pesta atau sekedar bahan bakar bagi ibu rumah tangga yang ingin masakan nasinya enak. Sedangkan lidinya bisa dijadikan sapu. Batangnya digunakan untuk keperluan rumah dan jembatan. Terkadang digunakan untuk membuat rumah tradisional modern. Dan banyak lagi manfaat pohon kelapa ini sebagai salah satu ciptaan Allah agar kita memikirkan tanda-tanda kekuasan-Nya.

Maha Suci Allah, segala ciptaan-Nya pasti mempunyai manfaat yang besar bagi kita. Lalu, apa yang telah kita berikan dengan manfaat itu? Kalau kita bermuhasabah dan membandingkan diri kita dengan ciptaan Allah yang ada, dimanakah posisi kita? Sudah mampukah kita mencontoh pohon kelapa yang kesemua bagiannya dapat dimanfaatkan? Apakah kita telah menjadi manusia yag tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri tapi juga orang lain?

Falsafah kelapa adalah ilmu bagi orang yang beriman. Sedangkan iman dan ilmu itu bersaudara dekat. Iman akan terus langgeng jika selalu dipupuk dengan ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah shalalalhu alaihi wasalam: “Jika Allah menghendaki kebaikan para seseorang maka Ia menjadikan hamba tersebut mendalam pemahamannya dalam agama” (HR Bukhari-Muslim).

Jadi marilah kita menjadikan hari-hari kita menjadi hari-hari yang penuh manfaat akan kita juga semakin bermanfaat bagi ummat. Wallahu A’lam.

Insan Super: Baik dan Bermanfaat

9 May 2010 at 11:58 am | Posted in AKHLAK, Gen 9, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

Oleh: Lina Rizqi Utami

Pendahuluan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خير الناس أنفعهم لناس

Beranjak dari hadits tersebut dapat kita ceritakan kandungan yang terkait dengan sesuatu yang super, baik dan bermanfaat. Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Keanekaragaman yang membuat manusia saling bergantung. Melengkapi kekurangan dengan kelebihan, menghapus kejelekan dengan kebaikan. Keterkaitan yang dimiliki manusia menjadikan kita tak dapat hidup sendiri. Garis horizontal yang menghubungkan satu dengan yang lainnya diikat oleh rumpun dialek masing masing ras serta budaya dan latar belakang akhlak yang berwarna warni. Ikatan ini difilter oleh Islam dalam aturan-aturannya yang tersusun raai baik itu terkait individu maupun sosial. Dengan adanya aturan tersebut tidak membuat perbedaan menjadi penghalang. Manusia dapat saling tolong menolong  dan pastinya setiap dorongan untuk berbuat kebaikan akan dibalasi pahala oleh Allah swt.

Manusia Baik, Manusia Manfaat

Cerminan dari realita yang terjadi pada saat sekarang menggambarkan bayangan hidup yang serba individulis, saling tidak peduli, krisis kebaikan, minim tata karma, terutama para remaja yang saat ini huru hara mereka sangat meresahkan ummat, begitu juga masyarkat yang terkadang kita dapati mereka saling benci dan mencaci, bahkan terhadap tetangga tak ada lagi rasa peka sosial, padahal baginda Rasulullah saw telah bersabda :

عن ابى هريرة رضى الله عنه قا ل , أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : من كان يؤمن با لله واليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت , ومن كان يؤمن با لله واليوم الأخر فليكرم جاره , و ومن كان يؤمن با لله واليوم الأخر فليكرم ضيفه

(رواه البخارى و مسلم)

Dari hadits diatas menjelaskan bagaimana bergaul antara sesama, adab terhadap diri sendiri yang tidak boleh berbicara sembarangan, maka kita dituntut lebih baik diam, adab terhadap tetangga untuk saling menghormati dan menghargai, dan adab terhadap tamu untuk memuliakannya. Hal ini telah diatur semua oleh islam dalam seluruh tatanan kehidupan supaya hidup lebih teratur terutama dalam segi hubungan sosial. Setiap personal dituntut untuk melakukan kebaikan dan pastinya Allah pun akan memberi doorprize terhadap kebaikan yang telah kita lakukan. Allah swt berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 110 :

….وما تقدموا لأنفسكم من خير تجدوه عند الله, إن الله بما تعملون بصير

“…dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan  mendapatkan pahala disisi Allah. Sungguh Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Setiap kesalahan manusia akan dihapus dengan tobat, dan tobat itu merupakan pertanda baik yang datangnya dari Allah, karena Allah telah membungkus satu paket kebaikan beserta imbalannya yang dituntut dari hal yang paling kecil sampai hal hal yang menyangkut masalah ummat. Allah swt berfirman dalam surah Ali Imran

ayat 104:

ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير و يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر, وأولئك هم المفلحون.

Motivasi yang diberi oleh Allah sangat banyak untuk melakukan kebaikan, dan semua perintah untuk berbuat baik itu telah lengkap di dalam Al Qur’an baik terhadap individu maupun social. Diantaranya Allah menyeru untuk bersegera dalam melakukan kebaikan, mendamaikan kepada yang saling berseteru, jujur, berkata baik, istiqomah, memenej hati, saling memaafkan, berkasih sayang antar sesama, bertoleransi, menjaga harga diri, menundukkan pandangan, seimbang dalam setiap urusan, syukur nikmat, sabar, tawadhu, menepati janji, dan menjaga kebersihan. Semua kebaikan inilah yang akan menghapus kelakuan jelek dan kejahatan yang banyak terjadi. Baginda Rasulullah saw bersabda dalam hal ini :

إتق الله حيثما كنت و أتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن

(رواه أحمد و الترمذى)

Jika ada kesalahan yang terjadi, janganlah ditutupi, apalagi kesalahan itu merugikan masyarakat, bahkan jika kita sendiri pelakunya atau keluarga, maka haruslah diberi sanksi, Allah swt berfirman

يأيها الذين امنو كونوا قوامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين , إن يكن غنيا أو فقيرا فالله أولى بها, فلا تتبعوا الهوى إن تعدلوا و ان تلووا او تعرضوا فإن الله كان بما تعملون خبيرا

Kebaikan itu datangnya dari diri sendiri, maka pastinya setiap kebaikan itu akan mendatangkan manfaat bagi orang lain, Allah swt berfirman dalam surah Taha ayat 72 :

…فاقضما انت قاض, إنما تقض هذه الحيوة الدنيا

… maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan, sesungguhnya engkau yang dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini.

Mengutamakan kepentingan orang lain  adalah suatu kebaikan yang dilakukan seseorang, hal ini telah tergambar pada masa nabi yang terdapat dalam surah Al Hasyr ayat 9 :

والذين تبوءوالدار والإيمان من قبلهم يحبون من هاجر إليهم ولايجدون فى صدورهم حاجة مما اوتوا ويؤثرون على أنفسهم ولوكان بهم خصاصة, ومن يوق شح نفسه فألئك هم المفلحون

Bermanfaat dimanapun dan kepada siapa saja, baik jasa maupun tenaga, seperti mengamalkan ilmu  yang telah di dapat, membantu orang yang sedang kesusahan, mengajak pada kebaikan dan memperbaiki kesalahan, seperti sabda baginda rasulullah saw :

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده, فإن لم يستطع فبلسانه, فإن لم يستطع فبقلبه, وذلك أضعف الإيمان

Kesimpulan

Keutamaan akhlak yang baik  sangat banyak, yaitu diantaranya orang menjadi senang, merasakan kenikmatan berakhlak baik yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, kebaikan juga menjadi ciri kemuliaan tabi’at seseorang, terkadang secara tidak sengaja kebaikan bisa merubah musuh pada alur kebenaran, kebaikan juga pertan da kesempurnaan iman serta memberatkan amal timbangan kebaikan di hari kiamat, kemuadian kebaikan juga menjauhkan kita dari siksa api neraka, sebagaimana sabda Rasulullah saw :

عن عبد الله ابن مسعود رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ألا أخبركم بمن يحرم على النار أو بمن تحرم عليه النار : على كل قريب هين سهل

(رواه الترمذى والطبرانى)

Bermanfaat dalam segi apapun, dimana pun, dan kepada siapa pun, Insya Allah berkah Allah akan datang, kasih manusia akan mengenang kebaikan. Seperti kata pepatah kebaikan itu akan dikenang walau kita sudah tiada. Maka jadilah manusia yang baik, bermanfaat dan KEEP YOUR SELFJ WAllahu’alam

GODAAN WANITA ALIANSI SETAN

28 March 2010 at 11:16 am | Posted in AKHLAK, Gen 6, MOTIVASI | 2 Comments
Tags: , , ,

Oleh: Ainul Zikra Lc.

Kalau kita mendengar orang mengatakan bahwa wanita adalah makhluk penggoda, apa reaksi kita? Mungkin sebagian kita akan merasa jengkel mendengarnya dan mungkin juga kita menerimanya.

Memang fitnah yang terbesar setiap zaman adalah wanita, karena itulah Rasulullah berpesan benar-benar melindungi wanita. Tak hanya fitnah yang ditimbulkannya tetapi juga syahwat yang menjerumuskan manusia ke dalam kebinasaan. Rasulullah bersabda: “Berhati-hatilah dengan godaan dunia dan waspadailah rayuan wanita, sebab fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah fitnah wanita.” (HR Muslim). Mujahid juga mengatakan: “ketika wanita menghadap ke depan (datang) maka setan duduk di atas kepalanya lalu menghiasinya agi orang yang melihatya. Dan ketika wanita itu menghadap ke belakang (pergi) setan duduk di belakangnya lalu ia memperindahya bagi orang yang melihatnya. (Al-Qurtubi, al-Jami’ Li Ahkami al-Qur’an 12/227).

Jadi perntanyaan kita sekarang adalah, mengapa harus wanita yang menjadi sasaran sebagai penggoda kaum lelaki? Allah berfirman:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (Al-Quran surat Ali Imran: 14)

Dalam ayat diatas Allah menyatakan dengan jelas bahwa manusia mempunyai kecendrungan terhadap syahwat keduniawian terutama wanita. Kita lihat realitanya, serang lelaki bisa bersemangat mencari nafkah dan melakukan amal-amal baik karena wanita. Bahkan tidak sedikit yang rela melakukan pekerjaan tercela hanya demi wanita. Sungguh wanita adalah makhluk luar biasa, dari rahimnya bisa lahir manusia semulia Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan juga sehina Fir’aun la’natullah. Sebagai contoh kisah Nabi Yusuf sdan istri Aziz yang telah membuka mata kita bagaimana wanita dengan mudah mengeluarkan rayuannya, tapi dengan izin Allah, Nabi Yusuf terbebas dari godaannya karena Allah menjaga hamba-Nya yang bertaqwa.

Pada zaman sekarang ini, eksploitasi wanita dimana-mana. Mayoritas kaum wanita itu berani bersolek dan menampakkan lekuk tubuh mereka di pasar-pasar dan di jalan-jalan serta menampakkan perhiasan dan aksesorisnya.

Siapa yang Allah kehendaki terkena godaannya maka ia akan melirik wanita-wanita tersebut lantas bisa jadi timbul syahwat terlarang yang mendorongnya melakukan hal yang diharamkan. Nauzubillah Min Zalik!

Bentuk eksploitasi kaum wanita yang lain melalui film-film, foto-foto mereka di majalah, koran-koran dan sampul barang-barang tertentu. Mereka sengaja memilih wanita-wanita cantik agar menarik minat para pemuda, karena musuh-mush Islam dengan gencarnya menjadikan waita sebagai komoditas perusak moral. Seorang tokoh aliran mansoni (free mansory) berkata: “secangkir minuman keras dan seorang biduanita dapat menghancurkan ummat Muhammad dibanding kekuatan seribu tank baja, peluru kendali dan senjata kimia yang canggih. Oleh karena itu, buatlah mereka tenggelam dalam cinta materi dan syahwat.” Yang lain juga berkata: “kita harus mempergunakan wanita. Sebab setiap kali ia mengulurkan tangannya kepada kita, kita telah mendapatkan apa yang kita inginkan dan dan berhasil memporak-porandakan serdadu penolong agama Islam.”

Tidak diragukan lagi, hal itu termasuk bencana besar pada zaman sekarang ini. Allah meneguhkan hati orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh. Siapa yang mensucikan dirinya, pandangannya tidak akan tertuju pada perkara haram itu. Beruntunglah para wanita yang takut akan azab Allah dan berusaha menjaga kesucian dirinya. Begitu juga dengan para lelaki yang mampu menjaga pandangan dan syahwatnya dari hal-hal yang dilarang Allah.

Allah telah memberikan aturan jelas dalam al-Quran, yang harus dipatuhi orang-orang beriman, laki-laki maupun perempuan dalam surat An-Nisa 30-31:

30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.

31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Jadi, sebagai wanita apa yang harus kita lakukan?


Wahai Ukhti!  Allah  telah menurunkan ayat-ayat-Nya  dengan  jelas,  supaya dengan melaksanakan  tuntutan-tuntutan  syariat  engkau terpelihara  dan terucikan dari kotoran-kotoran jahiliyah. Para penyeru kebebasan berusaha keras  untuk mengembalikan  kaum wanita  ke abad  jahiliyah  dengan  bersembunyi  dibalik  cover  peradaban modernisasi dan kebebasan.  Berhati-hatilah! Wahai  Ukhti  muslimah,  janganlah engkau tertipu dengan semboyan kebebasan yang  sebenarnya  hanya  menjajakan wanita sebagai barang dagangan yang ditawarkan  kepada  siapa  yang menghendakinya.  Jagalah dirimu, perlihara harga dirimu. Jadilah umpama mutiara yang mampu menjaga kemurnian diri ketika para perempuan lain berlomba mengejar pamor demi kesenangan sesaat. Allah SWT telah mengingatkan, Dan jika  kamu menuruti  kebanyakan  orang-orang di muka bumi ini, niscaya  mereka  akan menyesatkanmu  dari  jalan Allah.  Mereka  tidak lain hanyalah mengikuti  persangkaan  belaka, dan mereka  tidak  lain hanyalah berdusta” (al-Qur’an Surat  al-An’am: 116)

Wahai  Ukhti! Engkau Janganlah mengikuti faham feminisme yang berusaha mengotak-atik  akal  manusia  dengan  mengatakan  bahwa  wanita  wanita muslimah tidak  mempunyai kebebasan karena:

1        Aurat  wanita  lebih  susah  di jaga dibanding laki-laki

2        Wanita perlu meminta  izin suaminya jika  keluar  rumah  tapi  tidak  sebaliknya

3        Wanita  persaksiannya  hanya setengah laki-laki

4        Wanita  menerima warisan  yang  kurang  dari laki-laki

5        Wanita  harus  menghadapi  kesusahan mengandung  dan mblahirkan  anak

6        Talak  terletak  di  tangan  suami  dan bukan  di tangan  istri

7        Wanita  kurang  beribadah karena haid  dan  nifas  yang  tidak dialami laki-laki

Makanya mereka  selalu  berpromosi untuk kemerdekaan wanita. Padahal sebenarnya  mereka sendirilah yang  tidak memahami bahwa  syariat  lslam  dipenuhi  dengan  hikmah dan  pengajaran. Wanita  muslimah menerima warisan  kurang  dari  laki-laki  tapi  harta  itu menjadi  milik  pribadinya  karena dia tidak berkewajiban memberi nafkah pada  suaminya,  sedangkan  laki-laki  menerima  warisan lebih banyak tapi harus menafkahi istri  dan  anak-anaknya. Wanita harus bersusah-payah mengandung dan melahirkan anak  tapi  setiap  saat  dia  didoakan oleh seluruh makhluk Allah SWT  di muka  bumi jika  melahirkan, dan posisinya sebagai ibu tiga kali lebih tinggi dari seorang ayah, bahkan surga terletak di bawah telapak kakinya.

Wahai  kaum  hawa!  Ingatlah Allah SWI  berfirman dalam Al-Quran surat Yusuf  ayat 28, bahwa  tipu daya wanita  itu adalah besar,  sedangkan  dalam  surat an-Nisa’ ayat 76 Allah  SWT menerangkan  bahwa  tipu daya  setan  adalah  lemah. Apakah engkau rela menjadi makhluk yang lebih berbahaya dibanding  setan? Na’uzubillah minzalik!

Marilah  kita introspeksi diri dalam menghadapi  kehidupan  semu yang  hanya sebentar  ini. Luruskan  lagi  niat  dan  tujuan  kita agar bisa menjadi wanita shalehah, perhiasan dunia. Wallahu  a’lam.

*Mahasiswi S2 Tafsir Univ. Al-Azhar Cairo

TAHUN BARU HIJRIYAH: MOMENTUM PENINGKATAN TAKWA

19 December 2009 at 2:41 pm | Posted in AKHLAK, Gen 1, MOTIVASI | Leave a comment
Tags: , , ,

oleh: Dwi Sukmanila Sayska*

Perputaran waktu terus bergulir seiring pergantian siang dan malam yang menjadi sunatullah di alam raya ini. Tanpa terasa kita telah sampai lagi ke bulan Muharam, bulan pertama dalam perhitungan kalender hijriyah.

Kedatangan bulan Muharram ini, dapat kita jadikan sebagai salah satu momentum, untuk kembali bertafakur dan bermuhasabah, mengevaluasi hari-hari yang telah berlalu dan merancang target-target baru untuk hari mendatang.

Karena, semakin lama kita menghabiskan umur kita di dunia, berarti semakin dekat dengan kehidupan yang sesungguhnya, yaitu akhirat nan abadi. Sebagaimana firman Allah swt:

Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah senda gurau dan permainan belaka; dan sesungguhnya negeri akhirat itu ialah kehidupan yang sebenar-benarnya; kalaulah mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabut: 64).

Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia dengan segala gemerlapan dan keindahannya, tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kekekalan kehidupan akhirat. Dunia hanyalah panggung sandiwara dimana setiap manusia memainkan peran masing-masing untuk melihat siapa yang terbaik di antara mereka. Dan hari pembalasan itu adalah di akhirat sana, ketika setiap diri akan menerima apa yang pernah mereka usahakan di dunia.

Mari kita renungkan ungkapan Rasulullah saw suri teladan kita, ketika suatu hari beliau bangun dari tempat pembaringannya, dan Abdullah bin Mas’ud melihat bekas jalur-jalur tikar di punggungnya. Ini kerana tikar alas tidur Rasulullah saw dibuat dari daun kurma kasar. Timbullah rasa kasihan di hati Abdullah bin Mas’ud, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah seandainya engkau perintah aku untuk mencari tikar yang lembut untukmu, maka aku akan berusaha mendapatkannya”.

Tetapi Rasulullah saw bersabda: “Bagiku berada di dunia ini ibarat seorang yang berjalan di tengah panas, lalu singgah sebentar berteduh di bawah sepohon kayu yang rindang, setelah istirahat sejenak untuk menghilangkan lelah, maka dia beranjak meninggalkan pohon rindang itu dan meneruskan perjalanan”. (HR. Tirmizi)

Demikianlah Rasulullah mengumpamakan dunia ini, bahwa disini kita hanya sekedar singgah sebentar, untuk kemudian melanjutkan perjalanan yang teramat sangat panjang di akhirat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah juga menggambarkan, bahwa lamanya perjalanan hidup yang kita lalui ibarat es yang mencair. Sungguh sangat singkat bila dibandingkan dengan keabadian yang akan kita hadapi sesudahnya. Maka sangatlah merugi apabila perjalanan hidup yang singkat ini justru berlalu dengan kesia-siaan belaka. Tanpa harga, tanpa makna, tanpa cita-cita. Hingga tiada bekal memadai untuk mengarungi kehidupan hakiki di akhirat nanti.

Lalu bekal apa yang mesti kita persiapkan di dunia untuk menuju kehidupan abadi tersebut? Dengan hartakah? Pangkatkah? Gelarkah? Atau keturunankah? Tentu saja bukan, sebab Allah Maha Kaya, Maha Berkuasa, Maha Suci lagi Maha Tinggi.

Allah telah mengingatkan kita semua dalam firman-Nya:

Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah: 197)

Dan Allah Swt berfirman dalam surat Al-Hasyr:

Artinya: “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)

Bekal yang harus kita persiapkan tiada lain dan tiada bukan hanyalah takwa, karena takwa adalah sebaik-baik bekal dan persiapan. Sungguh naïf jika seorang tidak menyiapkan bekal apa-apa padahal dia sadar betapa panjang dan penuh rintangannya perjalanan yang akan dia hadapi di akhirat nanti. Hendaknya, dalam kehidupan yang sekejap ini, kita telah menyiapkan bekal ketakwaan yang cukup sehingga kehidupan akhirat menjadi lebih baik. Sebagaimana firman Allah swt:

”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’aam ayat 32)

Rasulullah Saw dalam sabdanya juga banyak mewasiatkan ketakwaan kepada para sahabat dan umatnya. Di antaranya adalah dalam khutbah haji wada’, Abu Umamah al-Bahili meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Bertakwalah kepada Allah Tuhanmu, shalatlah lima waktu, berpuasalah pada bulanmu, bayarlah zakat hartamu, taatilah pemimpinmu, maka kamu akan masuk surga Tuhanmu.” (HR. At-Tirmidzi 1/190)

Mu’az bin Jabal juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, timpalilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan dapat menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi No. 1987, HR. Ahmad 5/153 dan al-Hakim 1/54).

Demikian pentingnya nilai ketakwaan agar wujud dalam diri seorang mukmin, sehingga Allah dan Rasul-Nya sangat menekankan hal tersebut dan menjadikannya sebagai syarat utama keselamatan di akhirat nanti. Lantas, bagaimanakah hakikat takwa itu yang sesungguhnya?

Takwa secara bahasa artinya adalah al-shiyanah yaitu memelihara, al-hadzru yaitu hati-hati dan al-wiqayah waspada dan menjaga.

Sedangkan secara istilah takwa berarti menjaga diri dari murka dan azab Allah dengan tunduk kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Para sahabat dan ulama terdahulu, telah memberikan pengertian yang cukup jelas tentang hakikat takwa dalam jiwa seorang mukmin. Diantaranya, dalam kitab Fathul Qadir karya al-Syaukani dikisahkan, Khalifah Umar bin Khattab pernah ditanya tentang takwa, beliau menjawab, “Apakah engkau pernah melalui jalan yang banyak bertaburan duri?”. “Ya pernah” jawab si penanya. “Maka apa yang kamu lakukan?” Umar kembali bertanya. Penanya menjawab, “Saya akan berjalan dengan berhati-hati”. Lantas Umar berkata, “Seperti itulah takwa”.

Hasan al-Basri berkata: “takwa adalah berhati-hati terhadap yang diharamkan Allah dan melaksanakan kewajiban yang telah diperintahkan-Nya”. Dan Mujahid berkata: “Takwa kepada Allah artinya, Allah harus ditaati dan pantang dimaksiati, selalu diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud sebenar-benarnya takwa adalah selalu taat kepada Allah dan berusaha untuk tidak berbuat maksiat, selalu berdzikir kepada Allah dan segera bertaubat, serta selalu bersyukur atas segala anugrah Allah. Sayyid Sabiq dalam kitabnya “Islamuna” menerangkan bahwa takwa bermuatan keyakinan (akidah), pengabdian (ibadah), akhlak (adab) dan berbagai kebajikan (al-bir). Lebih lanjut dia mengatakan bahwa orang yang berhak menyandang sebutan “muttaqin” hanyalah orang yang mampu menahan dan mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi semua hal-hal yang syubhat serta berani berjihad di jalan Allah. Sedangkan menurut Sayyid Qutub dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—takwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua halangan dalam kehidupan.

Jadi, esensi takwa adalah menghadirkan keagungan Allah swt di dalam hati dan merasakan kebesaran dan keMahaan-Nya, kemudian merasa takut terhadap murka-Nya sehingga berusaha sedaya upaya menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian, takwa bukan sekedar menjauhi dosa-dosa besar saja, tapi mencakup semua penyelewengan dan penyimpangan meski itu hanya kecil. Layaknya pendaki gunung yang tinggi, mereka tidak terlalu takut dengan ancaman batu-batu besar, karena batu-batu besar mudah dihindari. Mereka jauh lebih takut kepada kerikil-kerikil kecil yang masuk tanpa disadari ke dalam sepatu, sehingga kaki akan menjadi luka dan menyebabkan cedera parah di ketinggian gunung yang bersuhu rendah. Begitu pula seorang yang berusaha untuk menggapai derjat takwa, ia bukan hanya takut dengan dosa-dosa besar, namun ia lebih takut dengan dosa-dosa kecil yang kemudian berpeluang menggelincirkannya pada kemudharatan.

Di dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan gambaran tentang indikasi ketakwaan dalam diri seorang mukmin, agar kita mengetahui ciri-cirinya sehingga kita dapat mengevaluasi dan mengukur diri sendiri, sudahkah kita berada dalam derjat muttaqin atau minimal berusaha menggapainya. Antaranya indikasinya adalah:

Beriman kepada perkara yang ghaib (QS Al-Baqarah: 3)

Iman kepada yang ghaib mencakup keimanan terhadap semua berita yang disampaikan Allah dalam al-Quran dan melalui lisan Rasul-Nya, tentang hari kiamat dan kehidupan akhirat dengan segala fase-fasenya. Keyakinan akan adanya kiamat dan hari akhirat inilah yang menjadikan orang yang bertakwa senantiasa menjaga dirinya di dunia, agar selamat di akhirat kelak.

Menegakkan shalat (QS Al-Baqarah : 3 dan 177)

Shalat adalah sarana untuk mengingat Allah secara kontinyu, yang menjadi pembeda antara orang mukmin dengan kafir. Allah telah menetapkan waktu-waktunya bagi kita, dan memerintahkan untuk tidak melalaikannya. Menegakkan shalat bagi orang yang bertakwa tidaklah semata-mata demi menggugurkan kewajiban, akan tetapi lebih dari itu, ia merupakan komunikasi dengan Allah yang bersumber dari kekhusyukan, yang berimplikasi tercegahnya diri dari perbuatan keji dan munkar.

Mengeluarkan zakat dan infaq (QS Al-Baqarah : 3, 177; Ali Imran : 134; Al-Zariyat : 19)

Bagi orang yang bertakwa, anugrah harta yang Allah berikan adalah salah satu sarana untuk semakin dekat dengan-Nya. Ia sadar betul bahwa dalam harta yang dititipkan kepadanya, terdapat hak-hak orang lain, sehingga ia tidak akan merasa berat untuk menginfakkan sebagian hartanya baik ketika rizkinya lapang maupun ketika sempit.

Banyak mengingat Allah dan gemar bertaubat (QS Ali Imran : 135; QS Al-Zariyat: 17, 18)

Orang yang bertakwa pasti banyak mengingat Allah di setiap waktu, dalam segala keadaan. Ia mengingat Allah dengan segenap anggota badannya: dengan hati, lisan dan gerak-gerik organ tubuhnya. Ia juga senantiasa memperbaharui taubatnya dan memperbanyak istighfar terutama di waktu sahur/sebelum subuh, sehingga ia tidak berlarut-larut dalam kesalahan.

Menunaikan janji dan amanah (QS Al-Baqarah : 177)

Orang yang bertakwa jauh dari sifat melanggar janji dan mengkhianati amanah, yang merupakan sifat orang munafik. Adapun janji dan amanah yang paling agung adalah kesediaan dan kerelaan untuk beribadah kepada Allah, Rabb semesta alam. Ia juga selalu berusaha untuk menepati janji terhadap sesama manusia serta menunaikan amanah yang diembankan kepadanya.

Bersikap adil dalam segala urusan (QS Al-Maidah : 8)

Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak mengurangi proporsi satu hak dengan melebihkan yang lainnya. Termasuk adil terhadap diri sendiri, dengan memberikan hak jasmani dan rohani sebagaimana mestinya. Keadilan juga harus diterapkan kepada semua manusia, sehingga kebencian pada seseorang atau suatu kaum tidak menghalangi berlaku adil kepadanya.

Bersabar terhadap berbagai musibah yang menimpa dirinya (QS Al-Baqarah : 177)

Orang yang bertakwa sadar bahwa semua yang ada di dunia adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya. Ia tidak akan hanyut dalam kesedihan jika diuji oleh Allah dengan suatu musibah, namun menerima dengan lapang dada sembari menguak hikmah-hikmah Allah dibalik semua peristiwa. Malah ia menjadikan ujian sebagai batu loncatan meningkatkan kecintaan kepada Allah, Penggenggam alam semesta ini.

Pandai menahan amarah dan suka memaafkan (QS Al-Baqarah : 237; Ali Imran : 134)

Pengendalian diri dan hawa nafsunya adalah ciri orang bertakwa. Ia tidak mudah terjerat hasutan setan yang selalu mengobarkan amarah dan kebencian dalam jiwa bani Adam. Disamping itu, orang yang bertakwa juga suka memberikan maaf kepada orang lain yang berbuat kesalahan kepadanya, bahkan sebelum orang tersebut meminta maaf kepadanya.

Berdasarkan beberapa ciri di atas, jelaslah bahwa orang yang bertakwa selalu berusaha sungguh-sungguh berada dalam ketaatan kepada Allah secara menyeluruh, baik dalam perkara wajib maupun sunnah, berupaya meninggalkan kemaksiatan serta menghindarkan diri dari perkara yang tidak bermanfaat karena khawatir terjerumus ke dalam dosa. Semua inilah yang harus kita tingkatkan di hari-hari mendatang, agar waktu yang masih tersisa dalam setiap hembusan nafas kita, menjadi bekal berharga untuk mengarungi kehidupan abadi di akhirat nanti.

Namun yang tidak kalah penting adalah, terdapat banyak sekali hadiah yang dijanjikan Allah dalam Al Qur’an bagi orang-orang yang bertakwa, bukan hanya keselamatan di akhirat namun juga kepalangan hidup di dunia. Diantaranya, adalah:

  1. Mendapatkan keselamatan dari bencana dan mendapatkan rezeki dari tepat yang tak terduga-duga. Inilah yang dijanjikan dalam firman Allah:

Artinya: Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan Siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS Al-Thalaq 2-3)

  1. Allah memberikan furqan yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil. Sebagaimana Allah janjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS Al-Anfal 29)

  1. Mendapat kecintaan Allah, seperti dijelaskan dalam firman-Nya:

Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Taubah 7)

  1. Menjadi yang termulia disisi Allah. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya:

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat 13)

  1. Takwa menjadi sebab kesuksesan dan keberuntungan.  Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

Artinya: Dan siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan. (QS Al-Nur 52)

  1. Menjadi wali Allah dengan dasar firman Allah:

Artinya: Sungguh wali-waliNya hanyalah orang-orang yang bertakwa; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Al-Anfal 34)

  1. Allah menjadi wali/pelindung orang yang bertakwa. Sebagaimana difirmankan Allah:

Artinya: Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Jatsiyah 19)

  1. Dijaga dari para musuhnya, sebagaimana difirmankan Allah:

Artinya: Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS Ali-Imran: 120)

  1. Mendapatkan bantuan dari Allah, seperti dijelaskan dalam firmanNya:

Artinya: Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS Al-Nahl 128)

  1. Takwa menjadi sebab mendapatkan berkah, seperti dalam janji Allah pada firmanNya:

Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raf 96)

  1. Amalannya diterima Allah, sebagaimana dalam firman Allah:

Artinya: Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS Al-Maidah 27)

  1. Selamat dari adzab Allah di neraka. Ini dijanjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu; hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan; kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS Maryam 71-72)

  1. Tidak merasa takut, berduka dan selalu bahagia didunia dan akherat serta mendapatkan kemenangan agung. Berdasarkan firman Allah:

Artinya: Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS Yunus 62-64)

  1. Dimudahkan urusannya didunia dan akherat, sebab Allah jelaskan hal ini dalam firmanNya:

Artinya: Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Al-Thalaq 4)

  1. Dihapuskan dosa dan kesalahannya sebagai anugerah Allah atas ketakwaannya. Allah berfirman:

Artinya: Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (QS Al-Thalaq 5)

Dan firmanNya: Artinya: Dan Sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. (QS Al-Maidah 65)

  1. Mendapatkan syurga-syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Ini dijanjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.(QS  Ali Imran 198)

Dan firmanNya: Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi, di sisi Tuhan yang berkuasa. (QS Al-Qamar 54-55)

Demikianlah keistimewaan yang dikhususkan bagi orang yang bertakwa kepada Allah. Semoga kita mampu menempa diri meskipun letih dan tertatih, untuk meningkatkan kembali ketakwaan dalam diri. Dan perhitungan tahun baru ini, dapat menjadi ajang untuk membuka lembaran baru dalam sejarah hidup kita yang singkat ini, dan membangkitkan kembali semangat perjuangan memperbaiki diri. Dengan memulai hari baru, juga bisa menjadi langkah awal ketaatan yang menyeluruh dalan setiap perjalanan hidup kita ke depan. Karna, andai takwa itu tidak bersemayam dalam jiwa sedikitpun, lalu bekal apa lagi yang bisa kita andalkan menghadap Allah di akhir nanti. Wa’lLahu a’lam bi al-shawab.

*Tulisan ini pernah dimuat di buletin “Yasmin” FOKMA (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia)

Mahasiswa Muslim Ideal

17 December 2009 at 10:00 am | Posted in AKHLAK, Gen 9, MOTIVASI | Leave a comment
Tags: ,

Oleh : Lina Rizqi Utami

Pendahuluan

Dalam sebuah tahapan hidup telah ada ketentuan dasar terhadap pendidikan. Dimulai dari playgroup, TK, SD, SMP, SMU dan kemudian status paling produktif yaitu mahasiswa. Ketika jenjang ini telah kita lalui tahap demi tahap, maka kesempurnaan akan terasa tatkala ilmu yang didapat segera diamalkan. Oleh karena itu, banyak perguruan tinggi yang menawarkan jurusan-jurusan terbaik sebagai modal hidup untuk mendapatkan skill. Pilihan terbaik ada di tangan kita sebagai generasi muda, karena jika salah pilihan maka kita akan kehilangan orientasi untuk menentukan target hidup. Sebagai mahasiswa dituntut untuk menggali ilmu lebih dalam dunia maupun akhirat. Karena orang berilmu adalah pewaris para ulama dan orang yang paling takut kepada Allah. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Fatir:28

انما يخشى الله من عباده العلماء

Realita Mahasiswa Zaman Modern

Waktu telah unjuk gigi, dimana manusia bisa mengikuti arus globalnya yang terbentang luas. Mahasiswa jadi santapan lahap oleh sang zaman, ketika mahasiswa tidak mampu membendung arus yang semakin kencang. Contoh dari arus itu adalah pemikiran-pemikiran liberal yang ditawarkan oleh orang orientalis untuk mencuci otak mahasiswa muslim. Kewajiban yang seharusnya di kerjakan oleh seorang mahasiswa jadi terabaikan. Pemikiran yang rasional kini tidak lagi bertumpu pada akal sehat. Kenapa ini bisa terjadi? Jawabannya ada pada diri sendiri. Mungkin sebagian mereka tidak lagi menyadari hakikat seorang penuntut ilmu. Keganasan zaman menjadikan generasi muda kita rusak seiring berkurangnya uswah hasanah dalam menuntut ilmu. Norma dalam tatanan masyarakat telah diabaikan karena pengaruh ghazwul fikri yang menimpa kaum muslimin, mulai dari anak-anak, orang tua dan para remaja. Inilah yang menjadi problematika kegagalan seorang mahasiswa dalam urusan diin, bisa jadi sebagian diantara mereka dimudahkan Allah SWT jalan untuk menuju sukses dunia, tapi tidak untuk ummat, hakikatnya mereka yang sukses tanpa agama, hanya tipuan belaka, seperti sabda Rasulullah SAW

الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الا ذكر الله تعالى وما والاه و عالما او متعلما (رواه اترمذى و قال (حديث حسن)

Hakikat Sang Mahasiswa Ideal

Mahasiswa yang terampil ilmu dan agama dan dunia tentu mempunyai strategi jitu, bagaimana kesuksesan mereka sebagai mahasiswa dambaan ummat dan negara, yaitu dengan teknik beradab yang ditanamkan dalam diri, terutama bagi kita yang sedang menyandang status mahasiswa :

  1. Menyadari bahwa menuntut ilmu itu adalah ibadah.
  2. Semakin tinggi ilmu yang kita miliki maka, semakin takut kita kepada Allah.
  3. Meneladani kisah para salafus shaleh dalam mencari ilmu, serta keikhlasan mereka dalam menuntut ilmu.
  4. Zuhud dan tawadhu terhadap fatamorgana dunia.
  5. Mengamalkan dan mengajarkan  ilmu yang telah didapat. Karena itu merupakan sebuah amalan yang tidak putus-putus pahalanya, seperti sabda Rasulullah SAW :

اذا ما ت ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له (رواه مسلم)

  1. Tidak sombong dengan ilmu yang telah dimiliki.

Oleh karena itu, kesadaran yang mulai ditumbuhkan akan mewujudkan hakikat seorang mahasiswa ideal dengan adab dan pengamalan dalam kesehariannya serta melaksanakan kewajiban sebagai mahasiswa.

Mahasiswa adalah dambaan ummat dan negara, karena ditangan mereka akan berlanjut estafet kemajuan Negara. Tapi tidak semua mahasiswa dapat dikatakan penerus bangsa. Yang dikatakan penerus bangsa itu adalah mahasiswa yang ideal, seimbang agama dan dunia. Mereka yang faqih dalam urusan agama, dan eksis dalam urusan dunia, Allah SWT berfirman dalam surat  At-taubah:122

و ما كا ن المؤمنون لينفروا كافة فلولانفرمن كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا فى الدين ولينذروا قومهم اذا رجعوا اليهم لعلهم يحذرون

Mahasiswa yang ideal peduli terhadap kemajuan agama dan ummat. Mereka sangat prihatin terhadap perkembangan zaman yang banyak merusak moral kaum muslimin terutama mahasiswa sebagai calon penerus. Mereka berkhidmat untuk organisasi sebagai latihan menjaga amanah, bertanggung jawab, sosialisasi dengan berbagai karakter, disiplin, bertoleransi, dan tentunya belajar sabar. Karena organisasi adalah salah satu wadah untuk mencerdaskan emosional mahasiswa, sedangkan spiritual harus sudah tertanam dari kecil, dan disempurnakan pada masa-masa produktif ini sebagai mahasiswa yaitu dengan ikut kajian islam, talaqqi bagi mahasiswa yang menuntut ilmu di Mesir, tahfizul qur’an, dan intinya pembinaan diri sendiri untuk dekat dengan Sang Khaliq.

Intelektual akan sempurna ketika pembinaan emosional dan spiritual telah terjalani. Karena sebagai mahasiswa tidak dituntut untuk mengejar gelar dan naik tingkat, tetapi  kedalaman ilmu lah yang mesti diraih. Allah SWT berfirman dalam surat Taha:114

و قل رب زدنى علما

Dengan adanya ilmu maka akhirat dapat kita kejar dan dunia dapat kita raih. Keistimewaan orang berilmu sangat banyak, karena ilmu bagai permata di dasar lautan, tak lekang oleh waktu dan tak hapus di makan zaman. Rasulullah SAW bersabda:

عن ابى الدرداء رضى الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول من سلك طريقا يبتغى فيه علما سهل الله طريقا الى الجنة و ان     الملائكة لتضع اجنحتها لطلب العلم رضا بما يصنع و ان العلم ليستغفر له من فى السماوات ومن فى الا رض حتى الحيتان فى الماء و فضل العلم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب و ان العلماء ورثة الانبياء و ان الانبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما و انما ورثوا العلم فمن اخذه يحظ وافر( رواه ابو درداء و الترمذى )

Dari hadits diatas jelaslah bahwa orang yang memiliki ilmu mendapat keutamaan, semua yang berada dilangit dan dibumi memintakan ampun kepada Allah SWT untuk sohibul ‘ilmi. Karena ilmu itu bagai mutiara dan alam pun bertasbih memuji hamba Allah yang berilmu. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa tanamkanlah azzam untuk cinta kepada ilmu, karena betapa gembiranya ummat dan negara memiliki penerus yang berilmu dan berwawasan luas.

Kesimpulan

Apa yang ditanam itulah yang dituai, seperti itulah hakikat kita sebagai seorang mahasiswa. Apa yang kita usahakan sekarang maka, akan muncul hasilnya dikemudian hari. Sadarilah, apa yang akan kita wariskan oleh anak cucu kalau bukan ilmu yang bermanfaat. Ilmu agama dan dunia. Karena tanpa agama manusia binasa, tanpa ilmu manusia buta, dan tanpa iman manusia sengsara. Tak ada yang patut disombongkan dengan apa yang telah diusahakan. Mumtaz, jayyid jiddan, jayyid bukanlah sebuah kata “final” bagi penuntut ilmu sejati, tetapi mardhotillah lah sebagai tujuan dari penghambaan kita kepada Rabbul Jalal. Asalallahu ta’ala ayyaj’alani wa iyyakum man haa ulaai allazina faqqahu fidinillahi wa ‘amiluu wa ‘allamu wa nafa’u wa intafa’u bih.

*MAhasiswi tk 1 Al-Azhar Mesir – Gen 7 MAKN Putri

BERSATULAH

26 November 2009 at 8:03 pm | Posted in UKHUWAH, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

oleh: Fatma Febrian*

Artinya : Janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” [Ar-Rum : 31-32]


Fenomena yang tidak bisa dipungkiri dewasa ini adalah banyaknya firqoh-firqoh (kelompok/golongan) yang bernaung dibawah syariat Islam, yang timbul di tengah kehidupan kaum muslimin. Mereka mengajak masuk kepada kelompok mereka,dan bergabung di dalam satu “wadah” untuk menyatukan kekuatan dalam menegakkan agama Islam. Dalam hal ini mereka berpendapat:” agar lebih terorganisir, yang penting tujuannya sama yaitu menegakkan kalimatullah.”

Tapi fakta yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Konsep awal adalah menyamakan barisan tapi yang terjadi adalah memecah belah barisan. Satu sama lain saling gontok-gontokan membela “bendera”nya, lebih loyal terhadap kelompok mereka sendiri ketimbang yang berbeda dengan mereka, ironisnya lagi sesama muslim tega mencela saudara muslimnya yang lain hanya gara-gara perbedaan dalam metode dakwah. Apakah ini yang disebut dengan persatuan? Kenapa kita tidak bersatu dibawah Alquran dan assunnah saja dan menanggalkan semua atribut-atribut perbedaan ini.

Hal yang sering mengganjal di benak kita,”bukankah mereka juga berpegang kepada al-Quran dan sunnah?” atau “asalkan berpegang kepada alquran dan sunnah, saya rasa sah-sah saja.” Asy-Syaikh Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi berkata: “Jika benar apa yang dinyatakan oleh kelompok-kelompok yang amat banyak ini, bahwa mereka berpegang dengan Al Qur’an dan As Sunnah, niscaya mereka tidak akan berpecah belah, karena kebenaran itu hanya satu dan berbilangnya mereka merupakan bukti yang kuat atas perselisihan di antara mereka, suatu perselisihan yang muncul dikarenakan masing-masing kelompok berpegang dengan prinsip yang berbeda dengan kelompok lainnya. Tatkala keadaannya demikian, pasti terjadi perselisihan, perpecahan, dan permusuhan.” (An-Nashrul Azis ‘Alaa Ar Raddil Waziz, karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali rahimahullah, hal. 46)

Wajib atas kalian berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku. Pegang dan gigitlah dengan gigi geraham kuat-kuat. Hati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru. Karena setiap perkara yang baru (dalam dien) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat” [dikeluarkan oleh Abu Dawud 4607, At-Tirmidzi 2676.]

Kita memang tidak menvonis ini adalah hal yang bid’ah, tapi yang jelas kewajiban kita adalah berhati-hati dalam perkara agama. Apakah hal-hal semacam ini akan mendekatkan diri kita kepadaNya, atau bahkan mengantarkan kita kepada jurang kemurkaan Allah ‘azza wa jalla,ini yang harus kita sadari.

Sebagai tholibul ilmi, kewajiban kita adalah menyampaikan apa yang telah kita dapatkan kepada masyarakat nanti, tapi ketika seseorang telah bergabung dengan kelompok tertentu, ini akan menghalanginya untuk menyampaikan ilmu tersebut. Seseorang yang berbeda kelompok dengan kita misalnya, akan enggan menerima apa yang kita sampaikan, jangankan untuk mendengarkan untuk bertemu saja akan merasa risih. Fakta lain yang penulis lihat ketika sebuah masjid dijadikan basecamp oleh jamaah/partai tertentu, akan menghalangi jemaah lain untuk masuk. Seseorang yang merasa kelompok A, cenderung menghindari masjid B yang diisi oleh komunitas B, begitupun sebaliknya. Belum lagi masalah taqlid (loyalitas) dan fanatisme terhadap kelompok masing-masing, yang tidak bisa dihindari ketika sudah bergabung dengan salah satu kelompok, seseorang akan merasa cinta dengan kelompoknya, dan melakukan apa saja demi kepentingan golongan, bahkan dengan hal-hal yang dilarang sekalipun. Riya dan ketidak-ikhlasan akan timbul dengan sendirinya ketika kelompok-kelompok itu membangga-banggakan amal mereka, baik itu dengan spanduk-spanduk yang berjejer disepanjang jalan, laporan keuangan bantuan korban bencana alam, atau disitus-situs maupun pemancar milik mereka, naudzubillah. “Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali Imran: 103)

Intinya, ukhuwah dan persatuan diantara kaum muslimin harus dibangun. Namun harus berdasarkan syarat, yaitu ikhlas karena Allah, dan dalam koridor ketaatan kepada Allah. dengan kata lain, persaudaraan yang bersih dari noda-noda dan motif-motif duniawi beserta kaitan-kaitannya. Yang menjadi pendorong persaudaraan ini hanyalah keimanan kepada Allah, bukan kesamaan kelompok, kesamaan kepentingan, atau kesamaan-kesamaan lain yang bersifat duniawi, seperti: politik, kedudukan, uang, dll.

Semoga kita semua terhindar dari api neraka dan tergolong kepada orang-orang yang bartakwa kepada-Nya.

” Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92]. Allahu a’lam bishowab

*Siswi Ma’had Al-Azhar Kairo – Adik gen 14 MAKN

MUSLIMAH DAN GHIBAH

7 November 2009 at 11:11 pm | Posted in AKHLAK, Gen 2 | Leave a comment
Tags: , , ,

Oleh: Wirza Rahmah*

ghibahIslam sebagai agama yang berpegang kepada Al-Qur’an dan sunnah mengajarkan umatnya untuk saling mengasihi dan menyayangi sesama. Menutupi aib dan kekurangan saudaranya merupakan salah satu bukti kasih dan sayang yang diajarkan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Maka ketika seseorang membeberkan aib orang lain, walaupun itu benar adanya, ketika itulah ia menyalahi ajaran Islam yang mengharamkan ghibah (bergunjing).

Secara bahasa ghibah berarti membicarakan orang lain. Dan secara istilah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw., makna ghibah adalah menceritakan kekurangan saudara kita di belakangnya kepada orang lain. Seorang sahabat bertanya: walaupun perkara itu benar wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: ya, itulah ghibah, jika perkara itu tidak benar, maka ia telah memfitnah saudaranya.

ghibahIronisnya, ghibah yang merupakan salah satu dosa besar ini, sering kali dilakukan oleh kaum hawa antar sesamanya. Bahkan para muslimah yang notabene orang-orang yang mengerti agama pun sering tergelincir ke dalam hal ini. Tidak jarang pembicaraan mereka dibumbui dengan gosip, ngerumpi, dan menggunjing. Hal ini, disadari atau tidak, memiliki dampak negatif yang cukup besar. Ia dapat merusak hubungan ukhuwah serta mencerai-beraikan ikatan kasih sayang sesama manusia.

Al-Qur’an menggambarkan bahwa perumpamaan orang yang menggunjing ibarat memakan bangkai saudaranya. Allah SWT. berfirman: “Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing (ghibah) sebagian yang lainnya. Apakah kalian suka salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya  yang sudah mati? Maka tentulah kalian membencinya. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih.” (QS. Al Hujurat: 12).

Sungguh hina perbuatan ghibah ini jika kita merenungkan sabda Nabi Saw:  ”Ketika aku mi’raj (naik ke langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya terbuat dari tembaga sedang mencakar wajah-wajah dan dada-dada mereka. Lalu aku bertanya: “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Malaikat Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan merusak kehormatannya.” (H.R. Abu Dawud). Yang dimaksud dengan ‘memakan daging-daging manusia’ dalam hadis ini adalah berbuat ghibah (menggunjing), sebagaimana permisalan pada surat Al Hujurat ayat: 12.

Dalam hadis lain, dari shahabat Jabir bin Abdillah ra., beliau berkata: “Suatu ketika kami pernah bersama Rasulullah mencium bau bangkai yang busuk. Lalu Rasulullah bersabda: ‘Apakah kalian tahu bau apa ini? (Ketahuilah) bau busuk ini berasal dari orang-orang yang berbuat ghibah.” (H.R. Ahmad).

gosipAda beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya ghibah, sehingga ia seakan demikian populer di tengah-tengah masyarakat. Diantara faktor-faktor tersebut adalah:

1        Tidak tabayun sebelumnya, artinya ketika mendengarkan sesuatu yang jelek tentang seseorang tidak dicari tau kebenaran berita tersebut.

2        Kemarahan seseorang terhadap saudaranya bisa menyebabkan terjadinya ghibah, karena dengan kemarahan itu, tanpa berfikir panjang ia gampang menyebutkan aib dan kekurangan saudaranya.

3 Hasad dan dengki jika orang lain dipuji menyebabkan seseorang tidak bisa mengontrol lisannya. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. bersabda: “Berhati-hatilah dengan kedengkian, karena dengki bisa memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

4        Tidak teliti dalam mengungkapkan sesuatu atau menggambarkan tujuan yang dimaksud. Artinya, ketika seseorang salah dalam menyampaikan suatu berita, maka tidak tertutup kemungkinan si pendengar salah dalam gosipmemahami berita tersebut dan mengakibatkan salah persepsi.

5        Berlepas diri dari suatu tuduhan dan kesalahan juga menjadi penyebab terjadinya ghibah, karena ingin membela diri.

6        Bercanda juga menjadi salah satu penyebab terjadinya gosip dan gunjingan, kerena membuka aib orang lain dan mencemarkan nama baik seseorang, walaupun tujuannya ingin membuat orang lain tertawa dan senang.

Walaupun tidak dapat divonis secara umum, tapi juga tidak dapat dipungkiri bahwa ghibah banyak dilakukan oleh kaum wanita. Perasaan marah, dengki, malu lalu menutup kesalahannya, atau bahkan hanya untuk sekedar bercanda dan omong kosong saja, merupakan beberapa motivasi terjadinya ghibah ini. Acara kumpul ibu-ibu tidak jarang berubah menjadi ajang membicarakan orang lain. Contoh konkrit yang sering kita lihat di tanah air adalah ketika ibu-ibu arisan, bertemu di pasar, atau bahkan sedang menyuapkan anaknya di teras rumah dan berkumpul dengan teman sebaya. Ada saja hal-hal yang dianggap menarik untuk dibicarakan: gosip artis di televisi, tetangga yang bertengkar, urusan suami orang, dan lain sebagainya. Tentu saja, ini bukan berarti bahwa kaum adam tidak terjangkit ‘kegiatan ini’.

Gossip

Padahal, ghibah ini jika sering dilakukan akan berdampak negatif bagi si pelakunya, diantaranya: mengeraskan hati, mendapatkan murka dan kemarahan Allah, sehingga azab pedih dari Allah yang akan diterimanya di kubur dan di akhirat nanti. Adapun dampak negatif dalam masyarakat, ghibah bisa menimbulkan perselisihan dan perpecahan, sehingga akan sulit tercipta ketenangan dan hubungan yang harmonis ditengah-tengah masyarakat.

Berikut ini adalah beberapa kiat yang bisa menangkal bahaya ghibah:

quran1        Meningkatkan ketaqwaan dengan mendekatkan diri kapada Allah, misalnya sering bertilawah dan berzikir agar hati menjadi lunak dan jiwa menjadi tenang.

2        Berfikir sebelum memulai pembicaraan, agar yang keluar dari mulut adalah perkataan yang baik-baik saja, dan mengingat bahwa semua yang kita bicarakan dan kerjakan akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid.

3        Tabayun sebelum menyampaikan berita, supaya ukhuwah tetap terjaga dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

4        Mengingatkan orang lain ketika ia menceritakan saudaranya, agar ia tidak terjatuh kedalam lembah yang bernama ghibah.

Ada beberapa pengecualian yang disebutkan Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim dan Riyadhus Shalihin. Beliau menyebutkan bahwa menyebut keburukan orang lain diperbolehkan untuk tujuan syara’, yaitu yang disebabkan oleh enam hal:

1        Orang yang teraniaya (mazhlum) boleh menceritakan dan mengadukan kezaliman orang yang menzhaliminya kepada seorang penguasa atau hakim atau kepada orang yang berwenang untuk menegakkan amar makruf nahi munkar dan memutuskan suatu perkara dalam rangka menuntut hak orang yang teraniaya ini. Asalkan ia bertujuan untuk meminta bantuan dan keadilan, karena Al-Qur’an dalam surat An-Nisa ayat 148 sudah menerangkan hal ini: “Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

2        Meminta tolong untuk mencegah kemungkaran dan mengembalikan orang yang berbuat maksiat kembali ke jalan yang benar. Hal ini termasuk amar ma’ruf nahi munkar.

3        Meminta fatwa (istifta’) atau minta keterangan terhadap suatu penjelasan, hal ini hanya boleh dilakukan dengan tidak menyebutkan keburukan seseorang secara berlebihan. Sebagai contoh kita mengambil ibrah dari kisah istri Abu sofyan yang diam-diam mengambil uang suaminya lalu ia mengadukan kepada Rasulullah saw kalau suaminya pelit, lalu Rasulullah saw membolehkannya asalkan tidak berlebihan.

4        Memperingatkan kaum muslimin dari beberapa kejahatan seperti:

a. Apabila ada perawi hadis, saksi, atau pengarang buku yang bersifat jelek atau berkelakuan tidak baik, menurut ijma’ fatwaulama kita boleh bahkan wajib memberitahukannya kepada kaum muslimin. Hal ini dilakukan untuk memelihara kebersihan syariat. Ghibah dengan tujuan seperti ini jelas diperbolehkan, bahkan diwajibkan untuk menjaga kesucian hadis dan syariat. Apalagi hadis merupakan sumber hukum kedua bagi kaum muslimin setelah Al-Qur’an.

b. Apabila kita melihat seseorang membeli barang yang cacat atau membeli budak (untuk masa sekarang bisa dianalogikan dengan mencari seorang pembantu rumah tangga) yang pencuri, peminum khamar, dan sejenisnya, sedangkan si pembelinya tidak mengetahui, maka kita boleh memberitahunya untuk memberi nasihat atau mencegah kejahatan terhadap saudara kita, bukan untuk menyakiti salah satu pihak.

c.   Apabila kita melihat seorang penuntut ilmu agama belajar kepada seseorang yang fasik atau ahli bid’ah dan kita khawatir terhadap bahaya yang akan menimpanya. Maka kita wajib menasehati dengan cara menjelaskan sifat dan keadaan guru tersebut dengan tujuan hanya untuk kebaikan semata.

5        Menceritakan kepada khalayak ramai tentang seseorang yang berbuat fasik atau ahli bid’ah seperti, peminum minuman keras, penyita harta orang lain secara paksa, pemungut pajak liar atau perkara-perkara bathil lainnya.
Ketika menceritakan keburukan itu kita tidak boleh menambah-nambahinya dan hanya diniatkan untuk kebaikan.

6        Jika seseorang sudah dikenal dengan julukan si pincang, si pendek, si bisu, si buta, atau sebagainya, maka kita boleh memanggilnya dengan julukan-julukan itu agar orang lain langsung mengerti,namun jika tujuannya untuk menghina, maka haram hukumnya. Jika ia mempunyai nama lain yang lebih baik, maka lebih baik memanggilnya dengan nama lain itu.

tulisWahai para muslimah! Ku persembahkan tulisan ini agar kita bisa saling mengingatkan ketika lupa, dan sama-sama kita berdoa kepada Allah agar lidah-lidah kita selalu terjaga dari hal-hal yang dilarang. Untuk kaum Adam semoga juga bisa mengambil ibrah dari tulisan ini. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

*Mahasiswi S2 Liga Arab & tk 4 Tafsir al-Azhar – Gen 2 MAKN Putri

Tulisan ini pernah dimuat dalam buletin SINAI

ANTARA DUA PILIHAN…

31 October 2009 at 11:25 pm | Posted in Gen 2, KELUARGA | 1 Comment
Tags: , , , , ,

oleh: Retno Suzanne Handayani*

1123129614620_Al_Azhar_University_Cairo_PicturePerjalanan hidup kadang susah ditebak, kita berencana lain yang terjadi pun berbeda. Inilah yang kerap terjadi dalam kehidupan kita. Walaupun sudah kita rencanakan matang-matang namun akhirnya bertolak belakang dengan apa yang kita inginkan.

Berangkat ke Kairo berniat untuk menguasai ilmu-ilmu agama namun ditengah jalan dicegat pemuda sholeh untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Tawaranpun diterima. get marriedAkad dilafadhkan. Status berubah menjadi nyonya…beberapa bulan menikah si mungil hadir. Kondisi naik turun. Masalahpun timbul…

onion-dp38

Antara studi dan rumah tangga, mana yang harus diprioritaskan?..pusiiiiiiing…

Diambil dua-duanya kerepotan, capek dan mumet..harus ada yang dikorbankan. Tapi aku gak mau… kondisi jadi labil…hu..hu..cinta suami,anak, tapi studi juga…waa..gedubrak.. pusing..

Akhirnya, suatu pertemuan dengan kakak senior di masjid Al-azhar mengubah kehidupan saya yang lesu menjadi lebih bersemangat. Pribadi yang sangat kuat dan lincah serta gesit ini memberi inspirasi buat saya untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. She is the inspirator for me..

Menjalani kehidupan dengan tiga status tidak lah mudah. Itu membutuhkan manajemen dan kekuatan ekstra. Ketika harus berhadapan dengan masalah-masalah yang bakal membuat kita lesu dan stress. Ketika itu kita membutuhkan energi tambahan yang bernama tausiah dan ruhiyah.

2801407387_e0602caa70_o

Status sebagai seorang istri dan ibu adalah sangat urgen dan hal yang muhim tidak bisa ditinggalkan tapi di sisi lain status sebagai pelajar mendesak untuk dikerjakan. Dalam masalah ini dituntut kejelian untuk memilah hal-hal yang lebih utama dikerjakan antara hal–hal utama. Tidak semua orang memiliki kejelian dan kepandaian dalam masalah ini.

2935422518_2e26e22b5b_o

Bagi ibu yang memiliki peranan ganda seperti ini, kadang emosinya mudah tersulut, cepat membludak. doaku harapankuJadi kekuatan ruhiyah, serta manajemen diri sangatlah penting. Pertolongan Allah swt adalah solusi dalam masalah ini, banyak berdoa semoga diberi kemudahan dalam segala kegiatan dan diberi kesabaran dalam menjalaninya. Inilah bait-bait nasehat yang dapat saya petik. Nasehat yang sangat berharga pembangun jiwa..

*Mahasiswi tk 3 Jur Hadis Univ Al-Azhar, Gen 2 MAKN Putri

Sumber tulisan: tufahah.multiply.com/

MUTIARA YANG HILANG

31 October 2009 at 10:42 pm | Posted in Gen 7, MOTIVASI, Uncategorized | 2 Comments
Tags: ,

oleh: Desri Nengsih*

Tidak ada makhluk yang paling sempurna selain wanita. Sosok penuh misteri yang tak ada tandingannya. Saban hari jutaan lelaki memuja dan bersimpuh memohon cintanya. Para penulis novel klasik hingga modern mengakuinya sebagai ratu dunia akhirat. Mereka dipuji lewat untaian kata yang begitu indah dan syair lagu-lagu yang merdu. Wanita menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering, di mana ada wanita di sana kehangatan hidup dapat dirasakan. Begitulah filosof barat memandang wanita.Itulah yang terjadi pada saat sekarang ini.

3155928814_a492f9954bNamun Islam memandang wanita bukanlah seperti itu. Dalam Islam wanita merupakan sosok yang sangat indah, ibarat batu permata yang penuh dengan harga diri. Kita akan temukan banyak ayat dan hadits bercerita tentang wanita hingga kita akan merasakan betapa agungnya wanita dalam kaca mata Islam, yang terkenal dengan kelembutan dan keanggunannya. Namun dengan keanggunannya itu bukanlah berarti ia lemah.

Di balik tabir kelembutan dan keanggunanya itulah tersimpan kilauan mutiara yang akan menggemilangkan Islam di mata dunia. Muslimah yang beridentitas gemilang inilah yang pernah menjadi sayap kiri dalam perjuangan li I’lâ kalimatillâh.

Tetapi pada zaman sekarang ini masih adakah muslimah yang berjiwa kental seperti Sayyidatina Aisyah atau Ummu Habibah, mutiara Islam yang lahir dari tapak berlumpur darah yang tercatat dalam sejarah agung Islam? Apakah mutiara itu hanya bersinar pada zaman tersebut, bukan pada zaman sekarang?

Fenomena Muslimah Hari Ini

Pada zaman sekarang, kita telah kehilangan mutiara Islam terbesar, bahkan lebih besar dari pada kepergian seorang ulama, karena tangan wanita mampu menggoncang dunia, hingga hilanglah mutiara Islam dan lahirlah kaca yang telah pudar kilauannya. Adakalanya keterlaluan dalam satu perkara tetapi mengabaikan perkara yang lain. Melaksanakan ketaatan kepada suami tetapi gagal dalam hubungan kekeluargaan. Melaksanakan ketaatan kepada keluarga tetapi gagal dalam membina rumah tangga. Menjaga hubungan dengan orang lain tetapi melalaikan tuntutan istiqomah dalam menambah ilmu pengetahuan. Berikrar ingin menegakkan daulah tapi gagal menyelesaikan masalah sendiri, lantas hidup dalam dunia angan-angan, menjadikan afdhalunnisa’ sebagai impiannya tetapi hanya eksternal saja.

Padahal Islam tidak pernah sedikitpun memerintahkan umatnya seperti itu, bahkan Islam tidak pernah bersikap diskriminasi dalam menghukum dan menjelaskan suatu hukum, tapi kitalah yang mendiskriminasikannya.

Firman Allah Swt. dalam Al-Baqarah ayat 85 Apakah kamu beriman dengan sebagian kitab dan ingkar dengan sebagian yang lain?”. Itulah yang terjadi pada saat ini, kita sebagai seorang muslimah begitu jauh dari hakikat sebenarnya, telah kehilangan identitas dan kekuatan jiwa, namun tidak menyadarinya.

Kemudian ironisnya lagi, banyak wanita Islam yang tergiur dengan kebebasan model barat mulai dari pakaian bahkan sampai ke harga diri mereka. Banyak kita lihat wanita-wanita antri dalam membeli tiket kebebAsan, dan saban hari kita saksikan wanita yang masih mengaku Islam tetapi sikap mereka tak ubahnya seperti wanita barat dan kafirîn. Mereka tanggalkan kehormatan yang diberikan Islam dan memilih tempat di emperan.

2917562366_9f2722e9ed_oDi sisi lain, kita juga menemukan muslimah yang kembali ke masa kejayaan jahiliyah dengan menyukai mistik keuntungan fatamorgana lewat arisan dan berbagai hal lain yang menggadaikan harga diri dan iffah mereka. Itu semua adalah misi-misi orang barat, yang notabenenya Yahudi dan Nasrani untuk menghancurkan Islam dengan “7F” yaitu food, film, fashion of life style, free thingkers, financial, faith, and friction. Bahkan mereka juga menambahkan freedom of religion dan frustration, semuanya ini mempunyai dampak yang begitu luas bagi kaum muslimin khususnya di kalangan muslimah terutama di Indonesia.

Sejarah telah membuktikan, betapa karir gemilang ukiran tokoh-tokoh legendaris dunia tidak dapat dipisahkan dari sentuhan lembut cinta seorang wanita. Betapa banyaknya pula persaudaraan mukmin terputus hanya karena fitnah wanita. Seorang anak tega meninggalkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita. Islam datang memberikan solusi terhadap permasalahan umatnya dari yang sekecil-kecilnya sampai ke yang sebesar-besarnya. Bahkan Al-Quran dan sunnah pun telah memaparkan tips-tips yang penting dilaksanakan dan dijaga dalam membentuk muslimah yang berkredibiliti unggul. Mulai dari syakhsiah muslimah terhadap Robbnya, diri, kedua orang tua, suami, anak-anak, kereabat, jiran, saudara, sahabat dan masyarakat.

Islampun talah merangka sebuah kehidupan yang sangat perfect dalam membina kepribadian muslimah. Tapi muslimah itu lalai dalam mencari dan menerimanya. Misalnya dalam menjalani fatroh pertunangan, muslimah tidak mudah terpedaya dengan desakan tunangan untuk melakukan hal-hal yang menjatuhkan dan menodai muruah diri dan keluarga, serta dalam pemilihan seorang suami muslimah perlu mempunyai pegangan agar tidak mudah goyah apabila terpaksa menerima pilihan keluarga yang terpikat dengan rupa, harta, atau kedudukan yang tidak memiliki dîn.

Menjelmakan roh idola srikandi Islam

Siapa sih yang nggak kenal dengan Ummu Sulaim? Rugi banget kalau nggak tahu… Dialah  seorang idola pilihan Islam, ketika ia dan anak-anaknya memaparkan kecekalan dan kekuatan imannya, dalam keadaan suaminya Malik Bin Dinar berada dalam kekufuran dan menentang Islam. Begitu juga dengan sohabiyat lainnya seperti Ummu Habibah Binti Abi Sofyan dalam memperthankan akidah dan agamanya pada hari suami kesayanganya murtad.

2828242048_db0c14b344Suatu asas yang perlu dijaga dan diperhatikan oleh seorang muslimah ialah menjaga agamanya, kesucian akidahnya, dan menjadi muslimah yang diridhoi Allah. Seorang muslimah yang tidak mempunyai kekuatan iman niscaya tidak akan merasakan kemulian dirinya sebagai seorang muslimah. Tapi jika ia mempunyai iman yang kuat, akidah yang mantap niscaya ia tidak akan mudah terbawa arus yang menjatuhkannya ke jurang kehinaan, apalagi dalam menjalani kehidupan yang glamour. Dengan pakaian iman dan takwa inilah ia mampu membentuk dirinya, mempertimbangkan suatu perkara dengan bijaksana, menghiasi kesehariannya dengan pebuatan  dan perkataannya yang tidak melukai perasaan orang lain. Berpikir sebelum bertindak dan berbuat serta tidak gegabah dalam menghadapi masalah. Walupun dalam keadaan marah ia masih bertindak dengan bijaksana dan terkendali dengan kekuatan imannya.

Sayyidatuna Aisyah, Ummul Mukminîn yang terkenal dalam arena srikandi Islam mempunyai kepribadian yang tinggi, sifat ridho yang mendalam terhadap Allah dan rasulnya, segala prilakunya disulami dengan adab dan penuh kehormatan. Seperti peristiwa yang dihadapinya ketika dirinya difitnah sewaktu pulang dari peperangan Musthaliq. Perang Musthaliq merupakan suatu peristiwa yang dijadikan Allah untuk menguji Rasulullah dan seluruh umat Islam pada zaman itu. Dalam peristiwa itu terlihatlah ketegaran Aisyah sebagai muslimah sejati yang sabar dan mempunyai keimanan dan kepercayaan kepada Allah dalam membela diri.

Ibnu Qoyyim berkata Semasa ujian itu didatangkan, Allah telah menahan wahyu kepada Rasulullah selama sebulan karena Aisyah, dan untuk mendatangkan hikmah yang telah diqodho dan diqadarkan sebelumnya.” Kemudian kehebatan Aisyah dari segi ma’rifat, kekuatan iman, ketauhidan, dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan menzalimi hambanya yang beriman, serta keyakinan terhadap suaminya Rasulullah.

deuy-kt-cypSaudariku… Walaupun mereka telah lama tiada, tetapi ruh jihad dan ketakwaan mereka masih tetap hidup, maka tugas kitalah untuk menjelmakan ruh dan ketakwaan wanita-wanita agung itu dalam kehidupan kita. Meniupkannya ke jiwa insan yang lain demi menyelamatkan dunia hari ini dari keruntuhan. So… mulailah dari diri sendiri, mulailah detik ini juga. Bersiaplah menjadi wanita hebat karena kitalah Aisyah-Aisyah abad ini.

Wallahul musta’an. Wallâhu ‘a’lam bish-showâb.

*Mahasiswi tk3 jurusan Hadis Univ Al-Azhar, Gen 7 MAKN Putri

Tulisan ini pernah diterbitkan Buletin Mitra edisi 5o

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.