MUSLIMAH DAN FASHION

10 July 2010 at 4:24 pm | Posted in AKHLAK, AL-QURAN, Gen 5, MOTIVASI | 2 Comments
Tags: , , , ,

Oleh: Reni Rahmawati

lslam  tidak  melarang  wanita menghias  diri,  berdandan  rapi  dan berpenampilan  anggun,  tetapi  semuanya itu juga  harus  disertai  dengan  niat  untuk beribadah  dan  jangan  sampai menimbulkan  fitnah. Wanita muslimah mestinya  merasa  sedang  melakukan ibadah manakala  ia mengenakan  busana muslimah.

Dalam  beribadah,  kita sebenarnya  berhadapan  dengan  Tuhan, bukan  dengan  yang  lainnya,  maka keikhlasan,  ketabahan  dan  kesabaran dengan  niat  yang  teguh  untuk melaksanakan  perintah Tuhan  itulah yang menjadi pokok utama. Bisa  saja  di  suatu  ketika, pemakai  busana  muslimah  mendapat tantangan,  fitnah  atau  bahkan  sindiran dari  lingkungan sendiri, tapi haruskah  kita lemah  dengan meninggalkan busana khas kita?

Kita  harus  bisa  menghibur  diri bahwa  tantangan  itu  ada  di  mana-mana. Setiap manusia yang  hidup harus  berani menghadapi  tantangan. Untuk  sukses seseorang  harus  akrab  dengan  tantangan, karena  memang  tantangan  itu  lahir  tidak untuk hanya  ditakuti atau dihindari, tetapi juga  untuk diatasi. Kebiasaan orang  yang lari  dari  tantangan  adalah  perbuatan keliru,  karena  kita  bisa  menghindar  dari suatu  tantangan  namun  itu  hanya  untuk menemui  tantangan  baru  yang  belum tentu  lebih  ringan  Jadi  yang  penting adalah,  bagaimana mengatasi tantangan dan  memperkecil  resiko,  bukan menghindarinya.

Prinsip  berbusana negara  kita  menganggap pakaian  wanita  lslam  dengan  sebutan “Busana  Muslimah’ . Mode  pakaian  yang muncul  dewasa  ini  berbeda-beda tergantung  selera  masing-masing  Mode pakaian  pakaian  bisa berubah  dari waktu ke  waktu,  kemudian  menjadi  trend  yang terus  berkembang. Beragam mode,  corak dan warna  busana muslimah begitu  indah dipandang  mata.  Berbagai  pasar  dan pusat perbelanjaan yang merupakan mata rantai  dari  busana  ini  juga jenis menyediakan  keleluasaan  memilih  bagi para  muslimah,  dengan  begitu  banyak mode yang mereka lawarkan.

Dari  sekian  mode  itu,  tidak semua yang masuk ‘kriteria’.  Karena ada sebagian  busana  muslimah  lebih memfokuskan pada mode dan gaya tanpa memperhatikan  cara  berbusana sebagaimana  yang  telah  diajarkan  dalam lslam. Permasalahan yang timbul, apakah kita  mau  ditakluKkan  dengan  mode  yang berkembang  saat  ini  tanpa  memikirkan apa  esensi  pakaian  yang  bernafaskan takwa bagi muslimah? Aneka  pilihan  busana  muslimah saat  ini  membuka  para ialan  bagi muslimah  untuk  tampil  lebih  gaya  dan modis. Tentunya kita memilih bukan gaya yang berlebihan dan  berkonolasi negatif . Namun, langkah  seorang  muslim  dan muslimah  harus seiring dan  sejalan dengan  tuntunan al-Qur’an Hadis yang mulia. Jadi  tidak sekedar  tampil  gaya, kitapun  harus memperhatikan  busana dan  cara  berbusana seperti  yang diajarkan dalam  lslam-  Allah berfirman dalam surat al-A’raf  ayat26:

Wahai anak  cucu Adam!, sesungguhnya  Kami telah  menyediakan pakaian untuk menutupi  auratmu  dan untuk  perhiasan bagimu. Tetapi  pakaian takwa,  itulah  yang  lebih baik. Demikianlah sebagian  tanda-tanda kekuasaan  Allah,  mudah-mudahan  mereka  ingat“.

lbnu  Katsir  dalam  tafsirnya memaparkan  bahwa  dari  ayat  tersebut ada  kata  اللباس  dan  الريش,  dua  kata  ini mempunyai arti yang sama yaitu pakaian. Namun  keduanya  berbeda  dari  segi fungsi. Berdasarkan  ayat  di  atas  اللباس  berfungsi  untuk menutup  aurat. Ini adalah fungsi  utama  pakaian,  sedangkan  الريش berfungsi  sebagai  perhiasan,  pelengkap atau tambahan. Jadi pakaian memiliki  dua fungsi: pertama,  untuk  menutupi  aurat,  dan fungsi  kedua  sebagai  penghias  atau pelengkap dan tambahan. Dalam  hal  ini  fungsi  pertama dalam  pakaian  merupakan  sesuatu  yang bersifat  esensial,  sedangkan  fungsi kedua,  bisa  dikatakan  sah,  telah jika memenuhi kriteria  fungsi utama. Untuk  itu,  yang  perlu diperhatikan dalam  berbusana muslimah adalah:

1. Menutupi  seluruh  tubuh selain  yang  dikecualikan. Pendapat  ulama yang paling kuat  tentang bagian  tubuh  yang dikecualikan  dan boleh terlihat  adalah  muka dan telapak tangan.

2. Memakai  kerudung sampai dada.

Ketentuan ini merujuk pada  al-Qur’an surat  an-Nur  ayat  31  :

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,mdan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,

Juga pada surat al-Ahzab ayat 59:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Dengan  demikian  kriteria  kerudung yang sesuai  dengan  ayat-ayat  di atas adalah  menutup  rambut,  leher  sampai ke dada.  Bukan  hanya  menutup  rambut sampai leher saja!

3. Tidak  tipis  sehingga  terlihat  kulit  dan lekukan  tubuhnya. Dalam  sebuah hadis yang  diriwayatkan imam  Ahmad,  Rasulullah  pernah memberi  Usamah  bin  Zaid  qubthiya (pakaian  dari  katun  tipis)  yang  kasar, tetapi Usamah  tidak  memakai  dan  ia memberikan  pada  istrinya,  Nabi  Saw bersabda:  “Suruhlah  ia  memakai rangkapan  (puring)  di  dalamnya,  agar tidak lerlihat lekuk-lekuk  tulangnya“.

4. Tidak  ketat sehingga tidak  tergambar jelas bentuk  tubuhnya. Busana  ketat  walau  lidak  tipis  akan memperlihatkan tubuh wanila meskipun berpakaian  dan  menutup  rambut. Busana  model  ini  akan  lebih membangkitkan  syahwat  sehingga menimbulkan  semangat  erotis  bagi yang  memandangnya  dan juga mengundang fitnah. Dalam  hadis  yang  diriwayatkan  imam Muslim  disebutkan  bahwa wanita  yang mengenakan  busana  seperti  ini  kelak tidak  akan  masuk  surga  bahkan mencium bau surga pun tak bisa.

5. Tidak dimaksudkan untuk pamer atas menarik perhatian  laki-laki. Wangi  parfum  yang  berlebihan  dan gaya  berjalan  yang  dibuat-buat  dapat menarik  perhatian  laki-laki  dan  bisa menimbulkan  fantasi  yang  seronok. Karenanya  harus  dihindari agar  tujuan memakai busana muslimah yaitu untuk melindungi  muslimah  itu  sendiri tercapai. Prinsip  kesederhanaan tercakup  di  sini,  maksudnya  harus dihindari  gaya busana dan hiasan yang berlebihan  supaya  tidak  menarik perhatian yang tidak semestinya.

6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki dan pakaian wanita-wanita kafir.


Dan  perlu  diketahui  lagi  bahwa pakaian  takwa  bagi  muslimah mengandung unsur sebagai berikut:

  1. Menjauhkan wanita dari gangguan  laki-laki  jahil atau nakal
  2. Membedakan antara wanita yang berakhlak  terpuji  dengan  wanita  yang berkepribadian  tercela
  3. Menghindari  timbulnya  fitnah  seksual bagi kaum pria
  4. Memelihara  kesucian  agama  wanita yang mengenakanannya

Dan  juga  wanita  berbusana muslimah  yang  sepantasnya  secara psikologis  mampu  menanamkan  pada dirinya sikap taat  adil, jujur,  terus  terang dan  kokoh  memegang  prinsip  sehingga akan menimbulkan rasa segan bagi siapa saja  yang  berinteraksi  dan  bergaul dengannya. Sehingga  dengan pakaian mengenakan  muslimah  bisa membangun  citra  dirinya  sebagai wanita muslimah.

Wahai  saudariku!,  tahukah  kita bahwa  pada  waktu  Rasulullah  Saw melaksanakan  lsra Mi’raj, sewaktu Beliau melewati  neraka,  kebanyakan  di dalamnya adalah wanita yang berpakaian api telanjang, na’uzubillah min dzalik. Marilah  kita  memperbaiki enampilan  diri  kita  dan  menjadi  wanita muslimah  yang  selalu  diridhai  Allah karena ‘pakaian takwa’  adalah  pakaian sempurna. Semoga  Allah  selalu melindungi kita dan wanita yang memakai pakaian takwa  tidak akan  dijilat tubuhnya oleh  api  neraka  yang  sangat  panasnya. Amin  Ya Rabb

*Pernah diterbitkan Buletin Almakki edisi VII

Advertisements

Penyebaran Sunnah Masa Rasulullah

11 January 2010 at 11:55 pm | Posted in Gen 1, hadis | 3 Comments
Tags: ,

oleh: Dwi Sukmanila Sayska

Al-sunnah tersebar seiring dengan tersebarnya al-Quran sejak ditegakkan syiar Islam. Pada semua tahapan dakwah Rasulullah sama ada di Mekkah maupun Medinah, Beliau menyampaikan risalah ilahiyah kepada ummat manusia, memberi fatwa, memutuskan perkara dan hukum-hukum, memimpin mereka pada saat damai maupun perang, berkhutbah, serta mendidik dan mengajari mereka mengenai agama baru yang mulia ini. Para sahabat generasi awal pun sangat bersemangat mempelajari dan menghafal ilmu-ilmu baru yang mereka terima dari Nabi saw. Sehingganya, banyak faktor yang memungkinkan dan menjamin al-Sunnah menyebar dengan cepat dan merata ke pelbagai kawasan dunia.

Manurut  Ajaj al-Khatib dalam kitabnya Sunnah Qobla Al-Tadwin (lihat hlmn 68-73), kita dapat menyimpulkan, diantara faktor-faktor pendukung tersebut ialah:

  1. Semangat dan kesungguhan Rasulullah saw dalam menyampaikan dakwah menyebarkan Islam. Beliau memanfaatkan setiap metode dalam setiap kesempatan dan periode dakwah. Tampa mengenal siksaan dan kepayahan, Beliau senantiasa berbuat maksimal dalam menyampaikan risalah sehingga kokohlah Islam dan kuatlah kedaulatannya. Mesjid merupakan tempat paling utama untuk menuntut ilmu, mendengar fatwa dan mendapat nasehat bagi para sahabat. Dari Menurut penelitian M.M. Azami tentang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di zaman Rasulullah saw, pada tahun 2 H madrasah-madrasah sudah mulai dibuka. Terbukti dengan penuturan Ibn Saad, ketika Ummi Maktum tiba di Medinah sesudah perang Badar, ia tinggal di “Dar al-Kubra” (rumah para pembaca al-Quran) iaitu rumah milik Makhrimah bin Naufal (Ibnu Sa’ad, jld 1 hlmn 150). Selain itu tidak mustahil adanya sekolah-sekolah lain, seperti dituturkan Ibnu Mas’ud, bahawa pada waktu ia belajar al-Quran dari Rasulullah saw, sebanyak tujuh puluh surah, Zaid bin Thabit telah mempunyai sejenis buku yang disimpan di “kuttab”/tempat-tempat belajar.(Musnad Imam Ahmad, jld 1 hlmn 273). Pemakaian kata “kuttab” pengganti kata ’suffah” menunjukkan bahawa saat itu ada tempat belajar untuk kanak-kanak. Di Medinah peta pada waktu itu telah menunjukkan ada sembilan mesjid (al-Badzuri, al-Ansab, jld 1 hlmn 273), yang kemungkinan juga dipakai sebagai madrasah.(MM A’zami, 1980, 85) Rasulullah saw juga menyelang-nyelingi pemberian nesahat antara suatu waktu dan waktu lainnya, kerana pengajaran dan penyuluhan yang monoton dan langsung-menerus akan menimbulkan rasa bosan dalam jiwa, sehingga tujuan yang ingin dicapai tidak maksimal. Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah saw mengganti-ganti waktu pengajaran kepada kami, kerana tidak ingin kami bosan. (Bukhari, jld 1 hlmn 172 dan 173, dan Ahmad jld 5 hlmn 202)
  2. Karaktristik Islam dan sistim kehidupan baru yang dibawanya. Ini membuat masyarakat bertanya-tanya apa sesungguhnya Islam itu, bagaimana hukumnya dan tujuan yang akan dicapai. Islam memberikan nuansa baru dalam kehidupan masyarakat jahiliyah yang serba keras dan biadab. Banyak yang mendatangi Rasulullah saw dari tempat yang jauh sekalipun, untuk mempertanyakan tentang Islam dan akhirnya memeluk agama rahmah ini dan kemudian menyampaikannya pula kepada orang lain.
  3. Semangat para sahabat Rasulullah saw dan motivasi mereka mencari ilmu, menghafalkan dan menyampaikan kepada orang lain. Kecintaan mereka kepada Rasulullah saw membuat mereka senantiasa memperhatikan tentang semua segi kehidupan Rasul untuk diteladani dan dipraktekkan dalam kehidupan harian.
  4. Ummahatul-mukminin yang menjadi tempat bertanya bagi kaum muslimin terutama para sahabiyah jika mereka malu langsung bertanya kepada Rasulullah saw tentang pelbagai hukum dan sunnah Rasulullah saw. Mereka akan mendapatkan jawaban dari istri-istri Rasulullah yang selalu berkomunikasi dan mempelajari pelbagai hal secara langsung dari Beliau, terutama masalah rumah tangga dan wanita.
  5. Para sahabiyah pula mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam penyebaran sunnah Rasulullah. Mereka senantiasa bertanya bila ada perkara-perkara yang tidak difahami dan diketahui hukumnya, dan mengajarkan kepada muslimah lainnya. Rasulullah juga menitikberatkan pendidikan muslimah dengan menyediakan waktu khusus untuk majelis mereka (lihat Musnad Ahmad hlmn 85 juz 13 hadis ke-7351 dan Fathul Bari jld 1 hlmn206). Sehingga mereka telah menjadi wanit-wanita terpelajar dan menebar teladan untuk ummat, di saat para wanita hanya menjadi budak dunia dan hamba sahaya di Eropa sana.
  6. Pengaruh para da’i dan utusan yang dikirim ke daerah-daerah. Sejak bai’at Aqabah pertama Rasulullah saw telah mulai mengirimkan utusan, iaitu Mus’ab bin Umair untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Medinah. Setelah hijrah terutama saat berlaku perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw mengirimkan da’i-da’i kepada kabilah-kabilah sekitar Medinah dan di pelosok-pelosok negeri untuk mengajarkan hukum dan sistim kehidupan Islam. Rasulullah saw senantiasa mengarahkan setiap utusan untuk berdakwah kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, serta tidak mempersulit apapun, hendaknya mempermudah dan memberi kabar gembira, sehingga dakwah akan mudah diterima oleh pelbagai kalangan. Di antara contohnya iaitu: wasiat Rasulullah saw kepada Muaz bin Jabal dan Abu Musa al-Anshari ketika keduanya diutus ke Yaman.(lihat sahih Bukhari, juz 3 hlmn 72. pengiriman untusan itu terjadi pada tahun 7 H). Begitu pula nasihat dan motivasi Beliau kepada Ali bin Abi Thalib ketika diutus ke Yaman sebagai qadhi.(Musnad Imam Ahmad, juz 2, hlmn 72, hadis ke-666, melalui isnad sahih.) disamping itu, Rasulullah saw juga mengirimkan utusan kepada raja-raja diantaranya kepada; kaisar Romawi (lihat sirah Ibnu Hisyam juz 4 hlmn 279 dan sahih Muslim juz 3 hlmn 1393 dan 1397, da lihat pula keterangan tentang para utusan kepada raja-raja dan para gubernur secara terperinci dalam kitab al-Mishah al-Mudli’, hlmn 60-114), kepada gubernur Bashrah, gubernur Damaskus (wilayah ekuasaan Helakrius), al-Najasyi (Raja Habsyhah), Kisra (raja Persia) dan al-Munzir bin Sawi (Raja Bahrain). Selain itu Beliau juga menulis surat ke Aman, Yamamah dan daerah-daerah lain. Bagi setiap kaum atau kabilah yang memeluk Islam, Rasulullah saw akan mengangkat seorang gabenor dari mereka dan mengirimkan sahabat untuk mengajarkan Islam kepada mereka.
  7. Fathu’l Makkah yang terjadi setelah Musyrik Qurays melanggar perjanjian Hudaibiyah pada tahuan 8 H, dimana Rasulullah saw menyeru semua kabilah yang telah memeluk Islam umtuk hadir di Medinah pada bulan Ramadhan. Bersama 10.000 mujahid, Beliau berangkat ke Makkah. (lihat sirah Ibnu Hisyam, juz 4 hlmn 17). Setelah berhasil menaklukkan Makkah tampa pertumpahan darah dan menghancurkan berhala-berhala, Rasulullah saw berpidato di depan semua muslimin dan musyrikin. Kemudian semua manusia secara serentak membai’at Rasululllah saw. Peristiwa bersejarah tersebut, disaksikan oleh banyak sahabat dalam jumlah yang tidak terhad, sehingga semua yang hadir saat itu, menyampaikan pidato Rasulullah ke pelbagai kawasan.
  8. Haji wada’ pada bulan Zulhijjah tahun 10 H, juga merupakan perstiwa penting dalam sejarah penyebaran sunnah Rasulullah saw. Beliau menunaikan ibadah haji bersama sekelompok besar sahabat yang berjumlah sekitar 90.000 orang (tedapat perbezaan riwayat tentang jumlah kaum muslimin yang ikut hadir pada haji wada,. Menurut satu riwayat dari Abu Zur’ah, jumlahnya 40.000 orang sahaja. Lihat Talqih Ahl al-Atsar hlmn 27). Ketika wuquf di Arafah, Beliau berpidato dengan tajuk yang lengkap dan mencakup pelbagai persoalan agama. Dan Beliau berwasiat agar sahabat yang hadir, menyampaikan kepada yang tidak hadir.
  9. Setelah penaklukkan Makkah dan haji Wada’, utusan-utusan dari pelbagai kawasan dan kabilah datang ke Medinah untuk membai’at Rasulullah dan bersatu di bawah panji agama Allah. Rasulullah menyambut baik setiap utusan yang datang dan mengajari mereka tentang Islam dan sistim kehidupannya. Sebahagian mereka bermukim di Medinah beberapa hari sebelum kembali ke kaumnya masing-masing untuk menyampaikan ajaran Islam. Sehingga mereka melihat dengan jelas perilaku dan ibadah yang dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah dan mendengar hadis-hadis dari Beliau. Diantara utusan-utusan tersebut adalah: Dhimam bin Tsa’labah, Abdul Qais, utusan Bani Hanifah, Thai, Kindahm Azdasynuah dan utusan raja-raja Himyar. Selain itu ada pula utusan dari kabila Hamdan dan Tujaib, Bani Sa’d, Huzaim dan masih banyak lagi.(lihat Sirah Ibnu Hisyam juz 2 hlmn 221).

Mahasiswa Mesir Tolak Kritikan Dr. Muhibbin Terhadap Shahih Bukhari

20 December 2009 at 10:54 pm | Posted in hadis, MASISIR NEWS, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

Geliat aktifitas Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) ternyata masih segar. Di tengah kesibukan mempersiapkan ujian, mereka masih antusias untuk menghadiri acara “ Dialog Umum ” yang diadakan oleh El-Montada, KPMJB dan FATIHA, Jum’at 11/12/09 di auditorium pesanggrahan KPMBJ.

Dialog ini ini diisi oleh dua nara sumber dari Indonesia yaitu Prof. Dr. Endang Soetari M. Si (Guru Besar UIN Sunan Gunung Jati Bandung) yang menyampaikan materi seputar Problematika Studi Hadits di Indonesia dan Prof. Dr Muhibbin M. Ag (Guru Besar IAIN Walisongo Semarang) yang menyampaikan materi tentang Urgensi Kritik Matan dalam Pembuktian Validitas Hadits. Hadir sebagai Pembanding Ust. Ahmad Ikhwani, Lc. Dipl (Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Al-Azhar jurusan Hadits) dengan moderator Ust. Roni Fajar, Lc. (Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jurusan Hadits)

Di awal acara, Ust. Saifuddin M.A. selaku ketua El-Montada (organisasi mahasiswa program pasca sarjana dan doktoral) menyampaikan sambutan yang antara lain menyatakan bahwa antusias para masisir untuk mengkaji kegiatan yang bersifat keilmuan ternyata lebih tinggi daripada mengkaji tentang politik, terbukti dengan jumlah peserta yang hadir melebihi kapasitas auditorium yang disediakan.

Dr. Endang Soetari. M.Si yang mendapat giliran pertama dalam diskusi ini menyebutkan tentang Problematika Ilmu hadits di Indonesia. Hingga saat ini metode digunakan oleh beliau ialah penetapan keshahihan hadits dengan cara Takhrij.

Pemaparan kedua dilanjutkan oleh Dr. Muhibbin. M. Ag. yang pernah menulis buku tentang kritik kitab “Shahih Bukhari”. Beliau menyatakan tidak semua hadits dalam Shahih Bukhari itu shahih, bahkan terdapat beberapa hadits termasuk kategori lemah dan palsu.

Dinginnya kairo yang sempat terkena percikan gerimis sebelumnya berubah menjadi hangat setelah pemaparannya yang mengkritik matan hadits. Menurutnya ini untuk membela Nabi Muhammad sabda beliau yang telah melalui beberapa kurun waktu itu tidak ada yang bertentangan dengan akal.

Contohnya hadits tentang lalat dan tentang mayit yang disiksa karena tangisan keluarganya yang menurutnya tidak rasional. Semua kritikan itu bisa ditanggapi dengan baik oleh pemateri pembanding, Ust. Ahmad Ikhwani, Lc. Dipl.

Acara pun berlanjut ke sesi tanya jawab. Setelah moderator mempersilahkan para hadirin untuk bertanya bak gayung bersambut begitu banyak tangan-tangan yang mengacung ingin bertanya. Tanggapan pertama disampaikan Ust Zulfi Akmal, Lc. Dipl. (Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Tafsir Univ. Al-Azhar) menyampaikan bahwa seorang mahasiswa Al-Azhar tingkat dua pun sanggup mengkonter hadits tersebut dari syubuhat yang disampaikan oleh Dr. Muhibbin tadi. Ust. Zulfi juga menolak adanya proses belajar hadits tanpa guru, seperti yang dilakukan oleh Dr. Muhibbin.

Kemudian Ust Bukhari, Lc. Dipl. (Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Hadits Univ. Al-Azhar) angkat bicara membantah pernyataan keraguan Dr. Muhibbin terhadap hadits pada Shahih Bukhari. Ia menjelaskan secara gamblang status beberapa hadits yang dikritik berikut dalil tentang kedudukan hadits tersebut. Ust. Bukhari menganggap hasil penelitian Dr. Muhibbin ini kurang referensi dan juga kurang pemahaman bahasa Arab.

Pertanyaan-pertanyaan beserta tanggapan-tanggapan yang ditanyakan akhirnya dijawab oleh Dr. Muhibbin dengan berusaha membela argumen beliau. Beliau menganggap hadits-hadits itu diragukan karena irrasional. Sebab mengkaji hadits tidak hanya dari matan dan sanad saja, tapi perlu memperhatikan aspek rasionan, sejarah dan sirah. “Apabila naql bertentangan dengan akal, maka yang didahulukan adalah akal.” tegasnya. Sontak mahasiswa yang hadir pada saat itu seakan tertawa meringis akan tanggapan yang diuraikan oleh beliau.

Acara yang mulai beranjak malam tersebut tidak mengendurkan semangata para hadirin, terbukti dengan antusias para penanya pada sesi ke dua yang semakin membuat hangat suasana. Diantara pernyataan yang paling menyentak disampaikan oleh Riyadh, Mahasiswa Al-Azhar Fakultas Dirasat slamiyah konsentrasi Ushuluddin yang menanyakan standarisasi tesis kandidat doktor di Indonesia, karena begitu mudahnya hanya tinggal mengangkat sesuatu yang berbenturan antara nash Al-Quran dengan nash Hadits bisa lulus membondong gelar doktor. “kalau gitu saya ingin cepat-cepat pulanglah ke Indonesia melihat segampang itu bapak menjadi Doktor” ungkap Riyadh. Sontak seluruh hadirin riuh seketika.

Kemudian disusul dengan pernyataan Umarulfaruq Abubakar, Mahasiswa Fakultas Darul Ulum Universitas Kairo, yang menyebutkan bahwa yang sedang di permasalahkan saat ini tidak murni kritik matan. Yang terjadi adalah mengkritik matan hadits karena belum bisa dipahami oleh si pengkritik. Hal ini tentu sama tidak menurunkan derajat sebuah hadits shahih, pemahamannyalah yang perlu dikaji kembali.

Antusias masisir dalam menanggapi dialog ini masih berlanjut. “Bahkan sampai pagi pun masih siap” ungkap salah seorang hadirin. Namun karena waktu pula, sesi tanya jawab berakhir setelah adanya kata penutup dari kedua nara sumber. Kedua nara sumber ini adalah anggota adalah bagian dari rombongan para Doktor yang sedang menjalankan studi singkat di Mesir dalam rangka meningkatkan kompetensi selaku dosen di universitas masing-masing. (sn/fjr – eramuslim.com)

TAHUN BARU HIJRIYAH: MOMENTUM PENINGKATAN TAKWA

19 December 2009 at 2:41 pm | Posted in AKHLAK, Gen 1, MOTIVASI | Leave a comment
Tags: , , ,

oleh: Dwi Sukmanila Sayska*

Perputaran waktu terus bergulir seiring pergantian siang dan malam yang menjadi sunatullah di alam raya ini. Tanpa terasa kita telah sampai lagi ke bulan Muharam, bulan pertama dalam perhitungan kalender hijriyah.

Kedatangan bulan Muharram ini, dapat kita jadikan sebagai salah satu momentum, untuk kembali bertafakur dan bermuhasabah, mengevaluasi hari-hari yang telah berlalu dan merancang target-target baru untuk hari mendatang.

Karena, semakin lama kita menghabiskan umur kita di dunia, berarti semakin dekat dengan kehidupan yang sesungguhnya, yaitu akhirat nan abadi. Sebagaimana firman Allah swt:

Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah senda gurau dan permainan belaka; dan sesungguhnya negeri akhirat itu ialah kehidupan yang sebenar-benarnya; kalaulah mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabut: 64).

Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia dengan segala gemerlapan dan keindahannya, tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kekekalan kehidupan akhirat. Dunia hanyalah panggung sandiwara dimana setiap manusia memainkan peran masing-masing untuk melihat siapa yang terbaik di antara mereka. Dan hari pembalasan itu adalah di akhirat sana, ketika setiap diri akan menerima apa yang pernah mereka usahakan di dunia.

Mari kita renungkan ungkapan Rasulullah saw suri teladan kita, ketika suatu hari beliau bangun dari tempat pembaringannya, dan Abdullah bin Mas’ud melihat bekas jalur-jalur tikar di punggungnya. Ini kerana tikar alas tidur Rasulullah saw dibuat dari daun kurma kasar. Timbullah rasa kasihan di hati Abdullah bin Mas’ud, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah seandainya engkau perintah aku untuk mencari tikar yang lembut untukmu, maka aku akan berusaha mendapatkannya”.

Tetapi Rasulullah saw bersabda: “Bagiku berada di dunia ini ibarat seorang yang berjalan di tengah panas, lalu singgah sebentar berteduh di bawah sepohon kayu yang rindang, setelah istirahat sejenak untuk menghilangkan lelah, maka dia beranjak meninggalkan pohon rindang itu dan meneruskan perjalanan”. (HR. Tirmizi)

Demikianlah Rasulullah mengumpamakan dunia ini, bahwa disini kita hanya sekedar singgah sebentar, untuk kemudian melanjutkan perjalanan yang teramat sangat panjang di akhirat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah juga menggambarkan, bahwa lamanya perjalanan hidup yang kita lalui ibarat es yang mencair. Sungguh sangat singkat bila dibandingkan dengan keabadian yang akan kita hadapi sesudahnya. Maka sangatlah merugi apabila perjalanan hidup yang singkat ini justru berlalu dengan kesia-siaan belaka. Tanpa harga, tanpa makna, tanpa cita-cita. Hingga tiada bekal memadai untuk mengarungi kehidupan hakiki di akhirat nanti.

Lalu bekal apa yang mesti kita persiapkan di dunia untuk menuju kehidupan abadi tersebut? Dengan hartakah? Pangkatkah? Gelarkah? Atau keturunankah? Tentu saja bukan, sebab Allah Maha Kaya, Maha Berkuasa, Maha Suci lagi Maha Tinggi.

Allah telah mengingatkan kita semua dalam firman-Nya:

Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah: 197)

Dan Allah Swt berfirman dalam surat Al-Hasyr:

Artinya: “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)

Bekal yang harus kita persiapkan tiada lain dan tiada bukan hanyalah takwa, karena takwa adalah sebaik-baik bekal dan persiapan. Sungguh naïf jika seorang tidak menyiapkan bekal apa-apa padahal dia sadar betapa panjang dan penuh rintangannya perjalanan yang akan dia hadapi di akhirat nanti. Hendaknya, dalam kehidupan yang sekejap ini, kita telah menyiapkan bekal ketakwaan yang cukup sehingga kehidupan akhirat menjadi lebih baik. Sebagaimana firman Allah swt:

”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’aam ayat 32)

Rasulullah Saw dalam sabdanya juga banyak mewasiatkan ketakwaan kepada para sahabat dan umatnya. Di antaranya adalah dalam khutbah haji wada’, Abu Umamah al-Bahili meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Bertakwalah kepada Allah Tuhanmu, shalatlah lima waktu, berpuasalah pada bulanmu, bayarlah zakat hartamu, taatilah pemimpinmu, maka kamu akan masuk surga Tuhanmu.” (HR. At-Tirmidzi 1/190)

Mu’az bin Jabal juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, timpalilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan dapat menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi No. 1987, HR. Ahmad 5/153 dan al-Hakim 1/54).

Demikian pentingnya nilai ketakwaan agar wujud dalam diri seorang mukmin, sehingga Allah dan Rasul-Nya sangat menekankan hal tersebut dan menjadikannya sebagai syarat utama keselamatan di akhirat nanti. Lantas, bagaimanakah hakikat takwa itu yang sesungguhnya?

Takwa secara bahasa artinya adalah al-shiyanah yaitu memelihara, al-hadzru yaitu hati-hati dan al-wiqayah waspada dan menjaga.

Sedangkan secara istilah takwa berarti menjaga diri dari murka dan azab Allah dengan tunduk kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Para sahabat dan ulama terdahulu, telah memberikan pengertian yang cukup jelas tentang hakikat takwa dalam jiwa seorang mukmin. Diantaranya, dalam kitab Fathul Qadir karya al-Syaukani dikisahkan, Khalifah Umar bin Khattab pernah ditanya tentang takwa, beliau menjawab, “Apakah engkau pernah melalui jalan yang banyak bertaburan duri?”. “Ya pernah” jawab si penanya. “Maka apa yang kamu lakukan?” Umar kembali bertanya. Penanya menjawab, “Saya akan berjalan dengan berhati-hati”. Lantas Umar berkata, “Seperti itulah takwa”.

Hasan al-Basri berkata: “takwa adalah berhati-hati terhadap yang diharamkan Allah dan melaksanakan kewajiban yang telah diperintahkan-Nya”. Dan Mujahid berkata: “Takwa kepada Allah artinya, Allah harus ditaati dan pantang dimaksiati, selalu diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud sebenar-benarnya takwa adalah selalu taat kepada Allah dan berusaha untuk tidak berbuat maksiat, selalu berdzikir kepada Allah dan segera bertaubat, serta selalu bersyukur atas segala anugrah Allah. Sayyid Sabiq dalam kitabnya “Islamuna” menerangkan bahwa takwa bermuatan keyakinan (akidah), pengabdian (ibadah), akhlak (adab) dan berbagai kebajikan (al-bir). Lebih lanjut dia mengatakan bahwa orang yang berhak menyandang sebutan “muttaqin” hanyalah orang yang mampu menahan dan mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi semua hal-hal yang syubhat serta berani berjihad di jalan Allah. Sedangkan menurut Sayyid Qutub dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—takwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua halangan dalam kehidupan.

Jadi, esensi takwa adalah menghadirkan keagungan Allah swt di dalam hati dan merasakan kebesaran dan keMahaan-Nya, kemudian merasa takut terhadap murka-Nya sehingga berusaha sedaya upaya menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian, takwa bukan sekedar menjauhi dosa-dosa besar saja, tapi mencakup semua penyelewengan dan penyimpangan meski itu hanya kecil. Layaknya pendaki gunung yang tinggi, mereka tidak terlalu takut dengan ancaman batu-batu besar, karena batu-batu besar mudah dihindari. Mereka jauh lebih takut kepada kerikil-kerikil kecil yang masuk tanpa disadari ke dalam sepatu, sehingga kaki akan menjadi luka dan menyebabkan cedera parah di ketinggian gunung yang bersuhu rendah. Begitu pula seorang yang berusaha untuk menggapai derjat takwa, ia bukan hanya takut dengan dosa-dosa besar, namun ia lebih takut dengan dosa-dosa kecil yang kemudian berpeluang menggelincirkannya pada kemudharatan.

Di dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan gambaran tentang indikasi ketakwaan dalam diri seorang mukmin, agar kita mengetahui ciri-cirinya sehingga kita dapat mengevaluasi dan mengukur diri sendiri, sudahkah kita berada dalam derjat muttaqin atau minimal berusaha menggapainya. Antaranya indikasinya adalah:

Beriman kepada perkara yang ghaib (QS Al-Baqarah: 3)

Iman kepada yang ghaib mencakup keimanan terhadap semua berita yang disampaikan Allah dalam al-Quran dan melalui lisan Rasul-Nya, tentang hari kiamat dan kehidupan akhirat dengan segala fase-fasenya. Keyakinan akan adanya kiamat dan hari akhirat inilah yang menjadikan orang yang bertakwa senantiasa menjaga dirinya di dunia, agar selamat di akhirat kelak.

Menegakkan shalat (QS Al-Baqarah : 3 dan 177)

Shalat adalah sarana untuk mengingat Allah secara kontinyu, yang menjadi pembeda antara orang mukmin dengan kafir. Allah telah menetapkan waktu-waktunya bagi kita, dan memerintahkan untuk tidak melalaikannya. Menegakkan shalat bagi orang yang bertakwa tidaklah semata-mata demi menggugurkan kewajiban, akan tetapi lebih dari itu, ia merupakan komunikasi dengan Allah yang bersumber dari kekhusyukan, yang berimplikasi tercegahnya diri dari perbuatan keji dan munkar.

Mengeluarkan zakat dan infaq (QS Al-Baqarah : 3, 177; Ali Imran : 134; Al-Zariyat : 19)

Bagi orang yang bertakwa, anugrah harta yang Allah berikan adalah salah satu sarana untuk semakin dekat dengan-Nya. Ia sadar betul bahwa dalam harta yang dititipkan kepadanya, terdapat hak-hak orang lain, sehingga ia tidak akan merasa berat untuk menginfakkan sebagian hartanya baik ketika rizkinya lapang maupun ketika sempit.

Banyak mengingat Allah dan gemar bertaubat (QS Ali Imran : 135; QS Al-Zariyat: 17, 18)

Orang yang bertakwa pasti banyak mengingat Allah di setiap waktu, dalam segala keadaan. Ia mengingat Allah dengan segenap anggota badannya: dengan hati, lisan dan gerak-gerik organ tubuhnya. Ia juga senantiasa memperbaharui taubatnya dan memperbanyak istighfar terutama di waktu sahur/sebelum subuh, sehingga ia tidak berlarut-larut dalam kesalahan.

Menunaikan janji dan amanah (QS Al-Baqarah : 177)

Orang yang bertakwa jauh dari sifat melanggar janji dan mengkhianati amanah, yang merupakan sifat orang munafik. Adapun janji dan amanah yang paling agung adalah kesediaan dan kerelaan untuk beribadah kepada Allah, Rabb semesta alam. Ia juga selalu berusaha untuk menepati janji terhadap sesama manusia serta menunaikan amanah yang diembankan kepadanya.

Bersikap adil dalam segala urusan (QS Al-Maidah : 8)

Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak mengurangi proporsi satu hak dengan melebihkan yang lainnya. Termasuk adil terhadap diri sendiri, dengan memberikan hak jasmani dan rohani sebagaimana mestinya. Keadilan juga harus diterapkan kepada semua manusia, sehingga kebencian pada seseorang atau suatu kaum tidak menghalangi berlaku adil kepadanya.

Bersabar terhadap berbagai musibah yang menimpa dirinya (QS Al-Baqarah : 177)

Orang yang bertakwa sadar bahwa semua yang ada di dunia adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya. Ia tidak akan hanyut dalam kesedihan jika diuji oleh Allah dengan suatu musibah, namun menerima dengan lapang dada sembari menguak hikmah-hikmah Allah dibalik semua peristiwa. Malah ia menjadikan ujian sebagai batu loncatan meningkatkan kecintaan kepada Allah, Penggenggam alam semesta ini.

Pandai menahan amarah dan suka memaafkan (QS Al-Baqarah : 237; Ali Imran : 134)

Pengendalian diri dan hawa nafsunya adalah ciri orang bertakwa. Ia tidak mudah terjerat hasutan setan yang selalu mengobarkan amarah dan kebencian dalam jiwa bani Adam. Disamping itu, orang yang bertakwa juga suka memberikan maaf kepada orang lain yang berbuat kesalahan kepadanya, bahkan sebelum orang tersebut meminta maaf kepadanya.

Berdasarkan beberapa ciri di atas, jelaslah bahwa orang yang bertakwa selalu berusaha sungguh-sungguh berada dalam ketaatan kepada Allah secara menyeluruh, baik dalam perkara wajib maupun sunnah, berupaya meninggalkan kemaksiatan serta menghindarkan diri dari perkara yang tidak bermanfaat karena khawatir terjerumus ke dalam dosa. Semua inilah yang harus kita tingkatkan di hari-hari mendatang, agar waktu yang masih tersisa dalam setiap hembusan nafas kita, menjadi bekal berharga untuk mengarungi kehidupan abadi di akhirat nanti.

Namun yang tidak kalah penting adalah, terdapat banyak sekali hadiah yang dijanjikan Allah dalam Al Qur’an bagi orang-orang yang bertakwa, bukan hanya keselamatan di akhirat namun juga kepalangan hidup di dunia. Diantaranya, adalah:

  1. Mendapatkan keselamatan dari bencana dan mendapatkan rezeki dari tepat yang tak terduga-duga. Inilah yang dijanjikan dalam firman Allah:

Artinya: Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan Siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS Al-Thalaq 2-3)

  1. Allah memberikan furqan yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil. Sebagaimana Allah janjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS Al-Anfal 29)

  1. Mendapat kecintaan Allah, seperti dijelaskan dalam firman-Nya:

Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Taubah 7)

  1. Menjadi yang termulia disisi Allah. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya:

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat 13)

  1. Takwa menjadi sebab kesuksesan dan keberuntungan.  Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

Artinya: Dan siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan. (QS Al-Nur 52)

  1. Menjadi wali Allah dengan dasar firman Allah:

Artinya: Sungguh wali-waliNya hanyalah orang-orang yang bertakwa; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Al-Anfal 34)

  1. Allah menjadi wali/pelindung orang yang bertakwa. Sebagaimana difirmankan Allah:

Artinya: Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Jatsiyah 19)

  1. Dijaga dari para musuhnya, sebagaimana difirmankan Allah:

Artinya: Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS Ali-Imran: 120)

  1. Mendapatkan bantuan dari Allah, seperti dijelaskan dalam firmanNya:

Artinya: Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS Al-Nahl 128)

  1. Takwa menjadi sebab mendapatkan berkah, seperti dalam janji Allah pada firmanNya:

Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raf 96)

  1. Amalannya diterima Allah, sebagaimana dalam firman Allah:

Artinya: Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS Al-Maidah 27)

  1. Selamat dari adzab Allah di neraka. Ini dijanjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu; hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan; kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS Maryam 71-72)

  1. Tidak merasa takut, berduka dan selalu bahagia didunia dan akherat serta mendapatkan kemenangan agung. Berdasarkan firman Allah:

Artinya: Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS Yunus 62-64)

  1. Dimudahkan urusannya didunia dan akherat, sebab Allah jelaskan hal ini dalam firmanNya:

Artinya: Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Al-Thalaq 4)

  1. Dihapuskan dosa dan kesalahannya sebagai anugerah Allah atas ketakwaannya. Allah berfirman:

Artinya: Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (QS Al-Thalaq 5)

Dan firmanNya: Artinya: Dan Sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. (QS Al-Maidah 65)

  1. Mendapatkan syurga-syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Ini dijanjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.(QS  Ali Imran 198)

Dan firmanNya: Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi, di sisi Tuhan yang berkuasa. (QS Al-Qamar 54-55)

Demikianlah keistimewaan yang dikhususkan bagi orang yang bertakwa kepada Allah. Semoga kita mampu menempa diri meskipun letih dan tertatih, untuk meningkatkan kembali ketakwaan dalam diri. Dan perhitungan tahun baru ini, dapat menjadi ajang untuk membuka lembaran baru dalam sejarah hidup kita yang singkat ini, dan membangkitkan kembali semangat perjuangan memperbaiki diri. Dengan memulai hari baru, juga bisa menjadi langkah awal ketaatan yang menyeluruh dalan setiap perjalanan hidup kita ke depan. Karna, andai takwa itu tidak bersemayam dalam jiwa sedikitpun, lalu bekal apa lagi yang bisa kita andalkan menghadap Allah di akhir nanti. Wa’lLahu a’lam bi al-shawab.

*Tulisan ini pernah dimuat di buletin “Yasmin” FOKMA (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia)

DISKUSI ILMIAH I: KAJIAN HADIS ANTARA ULAMA DAN FEMINIS

9 November 2009 at 3:39 pm | Posted in Gen 9, hadis, KAJIAN | 2 Comments
Tags: , , ,

oleh: Lina Rizki Utami*

Kalo bicara soal kajian, biasanya tak terlepas dari sorotan membosankan dan bikin ngantuk, tapi tidak untuk kajian yang satu ini. Diskusi Ilmiah Tafsir-Hadis Almakkiyat, yang membuat wawasan bertambah dan ilmu meluas. Alhamdulillah, 5 November 2009 kemaren, Almakkiyat telah menyelenggarakan salah satu agenda istimrornya, yaitu kajian ilmiah tafsir hadis yang rencananya diadakan rutin setiap kamis di mingu pertama dan ketiga tiap bulannya. Kajian berdurasi 3,5 jam di rumah Ummu Abdullah ini, diisi oleh Uni Dwi Sukmanila Sayska sebagai pemakalah perdana. Dikemas dengan bahasa lugas dan sederhana dalam sebuah makalah ilmiah, dan dipresentasikan dengan enjoy oleh pemakalah. Tapi kajian yang dihadiri 15 anggota ini, tetap memegang norma-normanya yang bersifat ilmiah, akurat dan terdepan. Informasi yang kita terima adalah hotnews yang ter-update, so…ga bakal ketinggalan isu-isu kontemporer deh.

Tema yang diusung adalah “Metode Kritik Dan Pemahaman Hadis Antara Ulama Dan Feminis”. Tema ini sangat menarik bagi Almakkiyat, karena selain menyuguhkan metode kritik sanad dan matan hadis menurut para ulama klasik dan kontemporer, juga membuka wawasan kita tentang kajian feminis dalam memahami hadis, terutama hadis tentang kewanitaan. Contohnya, hadis tentang wanita penduduk neraka paling banyak serta kurang akal dan agamanya, hadis tentang istri sujud pada suami, hadis tentang wali nikah yang mesti seorang lelaki, bahkan wali berhak memaksanya sehingga menghalangi wanita menikah dengan calon pilihannya, hadis tentang konsep mahram bagi wanita dalam perjalanan sehingga membatasi ruang gerak kaum wanita, hadis yang menyatakan laknat malaikat atas istri, jika enggan memenuhi panggilan suami ke tempat tidur, sehingga istri bagaikan sekedar objek pemuas nafsu lelaki dan sebagainya.

Dalam menseleksi sebuah hadis, ulama telah menerapkan kritik sanad yang sangat ketat sejak abad pertama Hijrah. Seorang rawi tidak saja dinilai kecerdasan dan kekuatan hafalannya (dhabt), tapi juga kewaraan dan keshalehan pribadinya (‘adalah). Ibnu Sirin (w.110 H) mengisahkan kejadian di masa shahabat: “Pada mulanya kaum muslimin jika mendengar sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berdirilah bulu roma mereka. Namun, setelah terjadinya fitnah, jika mendengar hadis mereka selalu menanyakan: “Sebutkanlah rawi-rawi hadis kalian itu”. Jika rawinya adalah orang-orang yang berpegang pada sunnah (ahl al-sunnah) maka hadis mereka terima, tetapi jika rawi-rawinya pelaku bid’ah (ahli al-bidah) maka hadisnya ditolak.

Memang hadis baru dibukukan secara resmi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (w.101 H), tetapi bukan berarti tidak ada shahabat yang menulis hadis. Bahkan untuk menentukan otentisitas sebuah hadis, selain meneliti kredibilitas rawi, para ulama shabat juga saling membandingkan riwayat-riwayat yang mereka dengar dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Pemakalah memberikan contoh riwayat tentang kritik matan yang terjadi di kalangan shahabat, yaitu Aisyah mengkritik riwayat Abu Hurairah, dan kisah Khulafaurrasyidin menguji keotentikan hadis dengan meminta rawi mendatangkan saksi atau bersumpah. Inilah cikal bakal kritik matan yang kemudian semakin berkembang dan melahirkan berbagai cabang ilmu hadis seperti ilmu mukhtalaf hadis, nasikh mansukh, dan lain-lain. sekaligus mematahkan tudingan kalangan feminis bahwa ulama hadis mengabaikan kritik matan sehingga meloloskan hadis-hadis misoginis.

Tongkat eftafet penelitian hadis dan penjagaannya dari pemalsuan terus berlanjut dalam majlis ilmu dan pena para ulama dari generasi ke generasi. Hingga di abad ke 3 Hijrah menjadi masa keemasan dalam pembukuan hadis dimana lahirlah kitab-kitab hadis monumental yang kita nikmati hari ini.

Sedangkan dalam memahami sebuah hadis, para ulama juga telah menetapkan berbagai kaidah, yaitu: memahami hadis sesuai petunjuk Al-Quran, menggabung hadis-hadis yang bertema sama dan menyelesaikan jika seolang-olah saling bertentangan, meneliti asbabul wurud dan kondisi ketika disabdakan, menganalisa redaksi bahasa (majaz/kiasan atau fakta, muthlaq atau muqayyad dll). Semua ini dilakukan para ulama demi menyebarkan pemahaman yang lurus terhadap hadis-hadis Rasulullah yang merupakan pilar kedua agama ini setelah Al-Quranul karim. Bukan seperti kecurigaan segelintir feminis muslim bahwa ulama memahami hadis dan meletakkan pondasi fiqh demi mengukuhkan dominasi laki-laki dan budaya patariarki. Sedangkan kaum feminis sendiri dalam menilai sebuah hadis cendrung memakai logika akal semata berdasarkan ide kesetaraan gender yang diusungnya.

Setelah dikupas tuntas dengan diskusi aktif dengan para anggota, terbukti bahwa para feminis mengkaji hadis tidaklah mendalam, hanya mengekori pendapat  orang-orang sebelum mereka dari kalangan orientalis dan pemikir Islam yang berpegang pada ideologi feminis. Mereka lebih mengedepankan logika akal semata dan berpegang pada ilmu humaniora barat, sehingga mendapat kesimpulan yang jauh berbeda dari apa yang telah disepakati oleh ulama klasik maupun kontemporer.

Klaim mereka yang mengatakan dalam hadis terdapat unsur misoginis yang tak sesuai dengan kesetaraan gender tidaklah terbukti. Sebab, dalam Islam keadilan antara lelaki dan perempuan bukanlah semata-mata sama segala sesuatunya, tapi menempatkan posisi mereka secara adil, setara hak dan kewajiban sesuai fitrah masing-masing. Semestinya, para feminis muslim, dalam memperjuangkan hak-hak wanita, tetap membangun kerangka berfikir dengan menggunakan cara hidup (worldview) Islam. Bukan malah menarik masalah sosial ke akar ideologis yang membuat mereka selalu menyalahkan teks-teks agama –al-Quran dan hadis– serta penafsiran ulama sebagai pemicu terjadinya ketidakadilan dan penindasan terhadap wanita dalam masyarakat muslim.

So…jelaslah sudah, dengan kajian ini bertambahlah wawasan tentang perbandingan cara mengkritik dan memahami hadis antara ulama dan feminis yang menentang sebagian hadis sahih demi mengusung ide kesetaraan gender yang mereka anut.

Bagi yang belum ikutan diskusi perdana, gak usah kecil hati…tuk kajian berikutnya Almakkiyat punya Uni Arina Amir yang akan membahas kajian tafsir. Insya Allah akan digelar hari Kamis, 19 November 2009 jam 2 siang waktu Kairo di rumah Ummu Utsman. Bagi anggota tetap (yang juga akan dapat giliran presentasi), makalah akan disebar satu atau dua hari sebelum acara. Tapi tidak menutup peluang bagi akhwat lain untuk tetap hadir diskusi, meskipun harus copy makalah sendiri…^_^

Come on ukhti fillah….Lets kita hadiri, kita simak, n kita amalkan. Wallahua’lam bishawab.

*Mahasiswi Syariah Islamiyah Univ Al-Azhar – Gen 9 MAKN Putri

UMMAHATUL MUKMININ DALAM PERIWAYATAN HADIS

7 November 2009 at 11:07 pm | Posted in Gen 1, hadis | Leave a comment
Tags: , , ,

oleh: Dwi Sukmanila Sayska*

muslimahDalam lintas sejarah Islam, Umahatul mukminin mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyebaran hadis dan pengajaran agama pada generasi sahabat dan tabi’in terutama kepada kalangan wanita muslimah. Tidak dapat dipungkiri, bahwa mereka adalah wanita-wanita mulia yang mendapat kesempatan merekam secara detail segala perikehidupan Rasulullah saw, yang kemudian disampaikan pada kaum muslimin. Mereka merupakan rujukan pertama bagi para sahabat – setelah wafatnya Rasulullah saw– dalam menanyakan masalah-masalah tertentu, terlebih masalah yang berkaitan dengan keluarga dan wanita. Rumah-rumah mereka dijadikan sebagai madrasah-madrasah ilmu, tempat kaum muslimin bertanya dan meminta fatwa. Sehingga keberadaan Ummahatul mukminin menempati posisi terpenting, baik sebagai sumber pembelajaran ataupun sebagai figur teladan — khususnya bagi kaum muslimah — dalam keimanan. Begitu juga dalam komitmen mereka mempertahankan norma-norma Islam, dimana mereka harus mengemban kewajiban-kewajiban khusus dan berat, sebagai konsekwensi logis atas tingkatan prestise yang mereka dapat melampaui wanita-wanita lain dalam masyarakat , sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-Ahzab ayat 32-33, yang artinya :

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita-wanita lain jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu “tunduk” dalam berbicara, sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah terdahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya,. Sesungguhnya Allah ingi menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlu bait dan memberihkanmu sebersih-bersihnya.”

rumah ummahatul mukminin - kini nabawi

Bagaimanapun, Al-quran dan hadis juga menggambarkan mereka sebagai sejumlah gambaran pribadi yang diwarnai berbagai konflik. Bahkan, mereka merupakan pemicu turunnya mayoritas ayat-ayat dan hadis-hadis tentang keluarga dan wanita. Mereka digambarkan sebagai implementasi emosionalisme, irrsionalitas, keserakahan dan sikap pembangakangan perempuan, yang pada dasarnya, mewakili gambaran sikap dan tindak tanduk perempuan secara keseluruhan.

Rasulullah saw wafat dan meninggalkan sembilan Ummahatul mukminin, yang masing-masing mempunyai andil dalam periwayatan hadis. Perbedaan kuantitas hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah saw, dipengaruhi sedikitnya oleh 5 faktor, yaitu :

1.      perbedaan daya tangkap, daya hafal dan kapasitas intelektual.

2.      perbedaan durasi waktu mendampingi atau bersama dengan Rasulullah saw.

3.      perbedaa dalam menahan diri untuk meriwayatkan hadis

4.      perbedaan kesibukan

5.      perbedaan umur atau masa hidup setelah Rasulullah saw wafat.

flower-power

AISYAH BINTI ABU BAKAR

Aisyah merupakan anak perempuan Abu Bakar, sahabat senior yang termasuk orang pertama memeluk Islam. Ia dilahirkan dalam cahaya Islam. Di usia yang sangat muda dan masih suka bermain, ia pindah ke rumah Nabi saw, empat turunnya wahtu dan sumber ilmu. Rasulullah sangat mencintai Aisyah dan memiliki posisi yang istimewa disisi Rasulullah. Banyak hadis dan riwayat yang menunjukan hal tersebut.

Ia terkenal dengan kedalaman ilmu dan kuat hafalannya. Sejak kecil, ia sudah sering mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran, menghafalkan serta mencatat waktu turunnya, mengingat wahyu tidak pernah turun saat Nabi bersama istri-istri beliau kecuali ketika bersama Aisyah. Pemahamannya tentang al-Quran juga ditunjang oleh keilmuannya di bidang bahasa, syair dan sastra. Itulah yang menjadikannya sebagai salah satu tokoh tafsir di kalangan sahabat. Dia memiliki mushaf khusus yang menghimpun Al-Quran dan tafsirnya, dan jika dikumpulkan, besarnya mencapai tiga kali lipat mushaf Ustmani.

Keistimewaannya di bidang intelektual juga terbukti dengan posisinya sebagai seorang muhaddis dan penghafal Sunnah. Peranannya dalam transformasi Sunnah dan penyebarannya pada kaum muslimin sangat penting sekali, terutama menyangkut masalah keluarga dan prilaku Nabi saw dalam rumah tangganya. Hafalan dan pemahamannya yang brilian, menjadikannya sebagai referensi bagi para sahabat dalam memutuskan masalah-masalah yang diperselisihkan.

Kejeniusan Aisyah tidak sampai disitu saja. Dia juga ahli fikih dan menguasai hukum-hukum Islam. Hal ini diakui oleh tokoh-tokoh sahabat, bahkan para sahabat senior pun tak segan-segan menanyakan permasalahan yang tidak mereka fahami kepada Aisyah. Sejak Rasulullah saw wafat, Aisyah aktif memberikan fatwa dan pengajaran pada kaum muslimin, sampai akhir hayatnya.

Diantara semua Ummahatul Mukminin, Aisyah lah yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw. Tercatat 2210 hadis yang diriwayatkannya, sehingga menempatkannya di posisi kedua terbanyak setelah Abi hurairah.
Sementara itu tema-tema hadis yang diriwayatkan Aisyah diantaranya :

1.      keimanan, wahyu, ilmu, bacaan Al-Quran dan tafsir.

2.      masalah thaharah : wudlu, tayammum, mandi untuk shalat Jum’at, hadas besar, haid dan istihadlah

3.      masalah shalat : tata cara dan waktu shalat, shalat-shalat Sunnah dan shalat mayyit, hukum-hukum shalat, azan Rasulullah, zikir, doa, imam dan keutamaan berjamaah,  etika dan keutamaan mesjid.

4.      masalah puasa : penetapan hilal dan waktu sahur, hukum puasa bagi orang yang junub di pagi hari, mencium istri saat puasa, puasa Sunnah dan I;tikaf, larangan puasa wishal (tampa berbuka di waktu magrib), qadha puasa dan lailatul qadar.

5.      masalah haji : memakai wangi-wangian sebelum ihram dan tawaf ifadlah, pembayaran hadyu (denda haji), umrah Rasulullah saw, pembangunan Ka’bah dan keutamaannya, hewan semblihan dan kurban

6.      masalah jual beli dan sedekah

7.      masalah pembebasan budak

8.      penyembuhan orang sakit dengan obat dan doa (ruqyah)

9.      masalah Nazar, kesaksian dan hudud (hukuman)

10.  Jihad dan peperangan Rasul

11.  Pernikahan : hubungan suami istri dan thalak.

12.  kejadian-kejadian fitnah, tanda-tanda kiamat, Qadar dan penciptaan.

Mereka yang banyak meriwayatkan hadis dari Aisyah diantaranya :

  • kalangan shahabat : Abu Bakar, Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar, Abu Musa al Asy’ary, Abdullah bin Abbas, Amr bin Ash, Syafiyah binti Syaibah.
  • Kalangan keluarganya : Urwah bin Zubair, Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Ummu Kultsum, Hafsah dan Asma, Abdullah bin Zubair dan Aisyah binti Thalhah.
  • Kalangan tabi’in : Masruq bin Ajda, Al Aswad bin Yazid, Sa’id bin Musayyab, Mujahid, Ikrimah, Abu Salamah bin Abdurrahman bin auf, Amrah binti Abdurrahman, Shafiyah binti Abu Ubaid dan Alqamah binti Qais.

Sedangkan rantai periwayatan aisyah yang paling shahih adalah :

§  Hisyam -> Urwah -> Abu Bakar -> Aisyah

§  Yahya bin Sa’id -> Ubaidillah bin Amr bin Hafsh -> al Qasim -> Aisyah

§  Abdurrahman bi al Qasim -> Abu Bakar -> Aisyah

§  Aflah bin Hamid -> Al Qsim -> Aisyah

§  Az zuhri -> Urwah -> Aisyah

UMMU SALAMAH

Dia adalah Hindun binti Umayyah bin al Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makzum. Ayahnya merupakan putra Qurays yang masyhur dan disegani. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Ummu Salamah telah menikah dengan Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makzum, yang merupakan saudara sesusuan Rasulullah. Ia juga merupakan anak dari bibi Rasulullah saw; Barrah binti Abdul Muthalib dan pernah dua kali hijrah bersama Rasulullah saw.

Abu Salamah dan Ummu Salamah berasal dari keturunan bangsawan yang mempunyai andil besar di awal perjuangan Islam. Mereka ikut hijrah ke Habsyah dan juga ke Medinah. Di Medinah, Ummu Salamah mengurus anak-anak sementara Abu salamah ikut berjihad dengan kaum muslimin. Ia tidak ketinggalan dalam perang Badar dan Uhud yang menyebabkannya meninggal dunia tahun 4 H. Kemudian Rasulullah menggantikan posisi Abu Salamah.

Ummu Salamah adalah wanita yang pandai dan agamis, Rasulullah sangat menghargai pendapatnya. Ia juga dianggap ahli fikih yang termasuk kelompok sahabat mutawassith dalam memberikan fatwa. Ia merupakan ummulmukminin yang paling terakhir meninggal, yaitu pada tahun 62 H, tidak lama setelah pembunuhan Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Hadis yang diriwayatkan Ummu Salamah berjumlah 378. Tema riwayat hadis Ummu Salamah –sebagaimana halnya riwayat Aisyah– didominasi oleh hukum dan ibadah. Diantaranya :

1.      masalah thaharah tentang : mandi junub, wanita haid dan istihadhah.

2.      masalah shalat : bacaan Al-Quran Nabi dan cra shalatnya, shalat witir dan sunnah, doa setelah shalat, pakaian perempuan dalam shalat, membaca shalawat Nabi saat tahiyat dan qunut.

3.      masalah zakat : nafkah suami terhadap anak dan istri, keutamaan sedekah dan zakat perhiasan.

4.      masalah puasa : puasa orang yang berhadas ketika shubuh, mencium istri saat puasa dan keutamaan puasa tiga hari setiap bulan dan bulan Zulhijjah.

5.      masalah haji : haji bagi wanita, haji dan umrah di mesjidil aqsha dan Tawaf perpisahan.

6.      masalah jenazah : doa mayit, laragan bercelak bagi wanita yang sedang ihdad (ditinggal mati suaminya)

7.      masalah etika : menutup aurat, miuman dan mengangkat kepala ketika keluar Ka’bah.

8.      masalah pernikahan : ihdad dan menyusui.

9.      masalah peperangan : peperangan di masa Rasulullah saw dan tragedi pasca wafat Rasulullah saw dan Imam mahdi.

Diantara mereka yang meriwayatkan hadis dari Ummu Salamah adalah :

1.      kalangan sahabat : Aisyah, Abu Said al Khudry, Umar bin Abi Salamah, Anas bin Malik, Buraidah bin Hashin, Sulaiman bin Buraidah, Abu Rafi’ dan Ibn Abbas.

2.      kalangan tabi’in, yang paling masyhur adalah : Sa;id bin Musyyab, Sulaiman bin Yasar, Saqiq bin Salamah, Abdullah bin abi Malikah, Atha’ bin abi Ra’bah, Nafi’ bin Jubair dan lain-lain.

3.      kalangan wanita : anaknya Zainab, Hindun binti al Haris, Shafiyah binti syaibah, Shafiyah binti abi Ubaid, Ummu Walad Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, amrah binti Abdurrrahman dan Ummu Muhammad bin Ibnu Qais.

MAIMUNAH

Dia adalah Maimunah binti al Haris bin Hazn bin Bujair bin al Huzam bin Ruwaibah. Dia merupakan saudari Ummul Fadl, istri al Abbas, dan bibi dari Khalid bin al Walid dan ibn Abbas. Sebelum menikah dengan Nabi saw Mas’ud bin Umar al Tsaqafy kemudian dengan Abu Rahm bin Abdul Uzza. Dia meninggal tahun 51 H sebelum Aisyah.

Maimunah meriwayatkan 76 hadis dari Rasulullah saw, 31 diantaranya terdapat dalam Kutubussittah. Yang meriwayatkan hadis darinya adalah; keponakannya, Ibn abbas, Abdurrahman bin as-Saib dan Yazid bin al-Aslam. Juga Ubaid bin as-Sabaq, Kuraib, dan para hamba sahayanya.

Hadis-hadis yang diriwayatkan Maimunah pada umumya adalah hadis fi’ly atau berkaitan dengan perbuatan Nabi saw. Tentang masalah thaharah, ia meriwayatkan tentang cara mandi untuk menghilangkan hadas besar, wudlu Nabi dengan air sisa mandi beliau dan istrinya, membaca al-Quran di pangkuan wanita yang sedang haid, shalat setelah makan tampa wudlu kembali dan lain-lai yang berhubungan dengan prilaku Rasulullah saw.

Dalam bab shalat ia meriwayatkan hadis tentang keutamaan shalat di Mesjid Nabawi dan mayit yang dishalati sekelompok masyarakat. Tentang puasa ia meriwyatkan hadis yang berkaitan dengan puasa Nabi saw di Arafah. Tema lain adalah tentang rumah-rumah yang tidak dimasuki malaikat dan pengobatan Nabi saw dengan doa.

Walaupun hanya tiga tahun hidup bersama Nabi saw, tetapi Maimunah terbilang banyak meriwayatkan hadis yang menggambarkan secara terperinci kehidupan Rasulullah saw dalam rumah tangga. Apalagi kisah perkawinannya dengan Rasulullah saw termasuk pembahasan penting dalam Fikih Islam, dimana para ulama mengedepankan berbagai pendapat dalam masalah ini.

Diantara faktor yang mendukung banyaknya periwayatan Maimunah adalah, karena dia termasuk istri Nabi saw yang wafat lebih akhir dan yang banyak meriwayatkan darinya yaitu Ibn Abbas, mahramnya yang leluasa menemuninya menanyakan berbagai persoalan.

UMMU HABIBAH

Dia adalah anak perempuan Abu Sufyan bin Harb bin Umayah bin Abd Syams bin abd Manaf bin Qushay. Dialah satu-satunya istri Nabi saw yang mempunyai garis keturunan paling dekat. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Ummu Habibah pernah menikah dengan Ubaidillah bin Jahsydan ikut hijrah bersamanya ke Habsyah. Namun kemudian Ubaidillah memeluk agama Nasrani, sedangkan Ummu Habibah tetap mempertahankan kalimah tauhid.

Rasulullah meminangnya pada tahun 6 H, dengan mengutus seseorang ke Habsyah, dan memberikan mahar sebanyak 4000 yang dibawa oleh Syarahbil bin Hasanah. Inilah mahar tertinggi diantara semua istri-istri Nabi saw.

Ummu Habibah lahir 17 tahun sebelum kenabian dan meninggal dunia pada tahun 44 H. Sebelum meninggal beliau meminta maaf pada Aisyah dan Ummu Salamah atas apa yang terjadi selama mereka menjadi madu Rasulullah saw.

Orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Ummu Habibah diantaranya: saudaranya Mu’awiyyah, Urwah bin az-Zubair, Abu Sufyan bin Sa’id, Abdullah bin atabah, Abu Shalih bin Dzikwan, Shafiyah binti Syaibah dan Zainab binti abu Salamah. Ummu habibah meriwayatkan 65 hadis, 29 diantaranya terdapat dalam Kutubussittah.

Tema hadis riwayatnya yang terkenal berkaitan dengan pengharaman menikahi anak tiri perempuan dan saudara istri, dan tentang iddah dan permasalahannya. Juga tentang shalat sunah rawatib sesudah shalat fardu. Dalam masalah haji, hadisnya menceritakan tentang sunnah meningalkan Mina menuju Muzdalifah bagi mereka yang lemah atau karena kondisi di Mina yang penuh sesak.

Dalam masalah thaharah, dia meriwayatkan tentag wudlu, dan hal yang boleh dilakukan suami terhadap istrinya yang sedang haid. Sedangkan dalam maalah puasa, hadis yang diriwayatkannya berkaitan dengan bolehnya mencium istri saat puasa, doa setelah azan dan sebagainya.

HAFSAH BINTI UMAR

Dia adalah anak perempuan Umar bin Khattab bin Nufail bin ‘Abdul Uzzah bin Rab’ah. Sebelumnya ia pernah menikah dengan Khunnais bin Hadzafah as-Sami’. Ketika suaminya meninggal dalam perang Uhud, Umar menawarkan Hafsah kepada Abu Bakar dan Usman, namun mereka menolak karena Rasulullah pernah menyebut-nyebutnya. Ketika Umar mengadukannya kepada Rasulullah saw., maka Rasulullah saw. mengutarakan bahwa beliau akan menikahinya, sementara Utsman juga akan dinikahkan dengan Ummu Kultsum binti Rasulullah saw.

Hafsah lahir lima tahun sebelum kenabian, dan meninggal tahun 41 H. Rasulullah pernah menceraikannya dan kemudian merujuknya kembali.

Hfsah meriwayatkan enam puluh hadis, dan yang tercatat dalam Kutub as-Sittah hanya 28 Hadis, empat di antaranya disepakati oleh Bukhari dan Muslim., dan enam hadis diriwayatkan oleh Muslim.tema hadi syang diriwayatkannya adalah :

1.      dalam masalah thaharah tentang kewajiban mandi bagi orang yang bermimpi dan mengeluarkan sperma, dan menggunakan tangan kanan untuk makan dan minum.

2.      dalam masalah shalat tentang shalat Sunnah dua rakaat sebelum subuh.

3.      dalam masalah puasa tentang puasa Rasul tiga hari setiap bulan, mencium isteri saat puasa, puasa senin-kamis, puasa ‘Asyura dan lain-lain.

4.      dalam manasik haji, hadisnya membahas tentang pembunuhan hewan melata, sifat-sifat dalam kamar Nabi saw dan lain-lain.

5.      dalam masalah etika, yang membahas tentang hal yang layak dilakukan sebalem tidur.

6.      dalam masalah pengobatan dengan semut.

7.      dalam kisah-kisah fitnah, membahas tentang kemunculan Dajjal.

8.      dalam masalah tafsir mimpi.

Pada umumnya hadis-hadis yag diriwayatkan oleh Hafsah merupakan hadis-hadis fi’ly atau menggambarkan perbuatan Rasulullah saw. Hafsah termasuk istri Nabi saw yang banyak meriwayatkan hadis, yang diantara tidak diriwayatkan oleh istri-istri Nabi saw yang lain.

ZAINAB BINT JAHSY

Dia adalah Zaenab binti  Jahsy bin Riab bin Ya’mar bin Shabarah bin Marrah, anak dari bibi Rasulullah saw (Umaimah binti abdul Muthalib). Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Zaenab menikah dengan Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah saw. Setelah Zaed menceraikannya, Allah menikahkannya dengan Rasulullah berdasarkan nash al-Quran. Pernikahan tersebut tanpa saksi dan wali, itulah yang menjadikan ia berbangga terhadap isteri-isteri Nabi saw yang lain, karena mendapat dispensasi khusus langsung dari Allah swt.

Nabi menikahinya pada bulan Dzulqa’dah tahun 5 H. Ia wanita shalihah yang rajin beribadah di malam hari, berpuasa di siang hari, dan dia sangat dermawan terhadap orang lain. Ia bekerja menyamak kulit, melubanginya dan hasilnya diberikan pada orang lain. Beliau lah isteri pertama yang wafat setelah Rasulullah saw pada tahun 20 H. Ia hidup bersama Rasulullah selama lima tahun, dan meriwayatkan sebelas hadis dari Rasulullah saw., lima di antaranya terdapat pada Kutub as-Sittah.

Muridnya yang paling masyhur adalah keponakannya, Muhammad bin Abdullah bin Jahsy, Ummu Habibah, dan Zanab binti Ummu Salamah. Meskipun hadis yang diriwayatkannya terbilang sedikit, namun dialah perawi hadis Ya’juj ma’juj yang shahih. Ia juga meriwayatkan hadis tentang istihadah, iddah dan thaharah. Walaupun dia wafat lebih awal dari isteri-isteri Rasulullah yang lain, namun banyak kalangan yang meriwayatkan kisah pernikahannya dengan Rasulullah saw.

SHAFIYAH RA

Dia adalah Shafiyah binti Huyay binti Sa’yah, yang termasuk bani Israil (keturunan Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim as). Sebelum menikah dengan Rasulullah saw. dia telah menikah dengan Salam bin Abu Haqiq dan kemudian dengan Kinanah bin Haqiq, yang terbunuh dalam perang Khaibar. Ini mengakibatkan Shafiyah ditawan dan menjadi budak Dahyah al-Kalabi.

Ia wanita mulia yang pandai, cerdas dan agamis. Rasulullah sangat menghormati dan bersimpati padanya. Terbukti dengan pembelaan terhadapnya tatkala isteri-isteri beliau yang lain menjelek-jelekkannya, karena ia seorang Yahudi. Dia juga wanita yang suka berderma, bahkan pernah memerdekakan budak perempuan yang pernh menghinanya di depan para sahabat. Dia wafat tahun 36 H.

Diantara yang meriwayatkan hadis darinya adalah : Ali bin al-Husein, Ishaq bin Abdullah bin al-Haris, Kinanah (hamba sahayanya). Ada sepuluh hdis yang diriwayatknnya, enam di antaranya terdapat dalam Kutub as-Sittah.Tema periwayatannya mengenai i’tikaf, takaran sha’ Nabi saw, pernikahan Nabi saw dengan Maimunah, kisah pasukan yang dibantai (yang juga diriwayatkan oleh Salamah dan Hafsah).

JUWAIRIYAH BINTI AL HARIS

Dia adalah Juwairiyah binti al Haris bin abu Dharar al Khazaiyyah al Musthalaqiyyah. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, ia menikah dengan Musafi’ bin shafwan yang terbunuh dalam perang Al Marisii’ pada tahun 5 H, sehingga Juwairiyyah menjadi tawanan perang. Lalu ia meminta Rasulullah saw untuk membnatu memerdekakannya. Rasulullah saw memenuhi permintaannya, bahkan menikahinya. Hal ini membuat semua tawanan bani Mushthaliq dimerdekakan.

Juwairiyyah meninggal tahun 50 H, dan menurut sebagian pakar sejarah yang lain tahun 56 H.

Di antara orang yang meriwayatkan hadis darinya: Ibnu Abbas, Ubaid bin As-Sabaq, Mujahid, Abu Ayyub. Ia meriwayatan tujuh hadis, empat diantaranya terdapat dalam Kutub as-sittah. Temanya mencakup masalah puasa, doa-doa, zakat, hewan sembelihan, dan kemerdekaan budak.

SAUDAH BINTI ZAM’AH

Dia adalah Saudah binti Zam’ah bin Qais al-Qursyiyyah al-Amriyyah wanita kedua yang dinikahi Rasulullah saw setelah wafatnya Khadijah ra. Rasulullh saw menikahinya pada bulan Ramadhan tahun 10 H dan satu-satunya istri selama tiga tahun, hingga kemudian Rasulullah saw menikahi Aisyah ra. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw ia menikah dengan Sakran bin Amr.

Saudah merupakan wanita mulia yag disebut Rasulullah saw sebagai perempuan yang paling mencintai beliau. Namun saat ia tidak lagi mempunyai keinginan yang besar dalam kehidupan seksual, ia memberikan waktu gilirannya kepada Aisyah ra.

Ia hanya meriwayatkan 5 hadis dari Rasulullah, salah satunya mengenai hewan sembelihan yang dimuat dalam shahih Bukhary. Diantara musrid-muridnya adalah ; Ibnu Abbas, Yahya bin Abdullah Al anshari.

flower-rose-Dari pemaparan singkat tentang cuplikan biografi para Ummahatul mukminin, kita dapat memetik kesimpulan, bahwa mereka juga memegang peranan yang sangat penting dalam meriwayatkan hadis dan menyebarkan sunnah Rasulullah di kalangan kaum muslimin. Juga dalam menyampaikan ilmu dan fatwa-fatwa dalam meyelesaikan permasalahan yang muncul setelah Rasulullah saw berpulang ke hadirat Rabb-Nya.

SILSILAH

Walaupun periwayatan yang mereka punyai –kecuali Aisyah- terbilang sedikit, namun mengandung hal-hal yang tidak dapat terekam oleh orang lain, kecuali oleh mereka yang menyandang gelar ummahatul mukminin. Dan jika tidak ada periwayatan dari mereka, tentu para shahabat tidak akan mengetahui hal-hal tersebut, apalagi kita, generasi akhir zaman yang hidup berabad-abad setelah wafatnya Rasulullah saw. Wallahu A’lam bisshawab.

DAFTAR PUSTAKA

al Qardasi, Amal binti al-Husain, Daur Almar’ah fi Khidmah al hadist fi Alqurun Ats-tsalatsah al ula, Darul Kutub al Qatariyah, 1999

as-Syayuti, Jalaluddin Abdurrahman bin abu Bakr, Tadribur rawi(darul kutub al-ilmiyah, Beirut.

_________, Itqon fi ulumil Qur’an, Al- maktabah Ats-qafiyah.tt

Thohan, Mohammad, Taisir Musthalahul Hadist. Darul fikr,tt

Az Zahaby, Sair A’laam an-Nubala. Darul fikr. tt

az Zarkasyi, Badruddin, Al Ijabah li irad ma istdrakathu aisyah ala ashahabah, al Maktab al Islamy.tt

*Lulusan s2 Univ Kebangsaan Malaysia, Gen 1 MAKN Putri

sumber: sukmanila.multiply

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.