Karma

25 November 2010 at 9:35 am | Posted in AKHLAK, Gen 6, SASTRA, UKHUWAH | Leave a comment

By: Fitri Shabrina Lc.

“Tingtong…tingtong..tingtong…” Suara-suara itu kembali memenuhi gandang telingaku. Baru saja aku mau menggamit al-Quran kesayanganku, belpun berbunyi lagi. Huuh.. bayangkan! Aku sebelumnya sudah membuka pintu dua kali berturut-turut. Masa harus aku lagi yang buka? “Nyebelin banget” gerutuku dalam hati. “Pokoknya aku gak mau buakain pintu lagii…!”  teriakku dari kamar. Ku gapai Quran biru yang dari tadi kucuekin, dan terus ku baca. “Tingtong…tingtong..tingtong…” belpun berbunyi lagi. Lalu, hening…hatiku mulai gelisah. Kenapa sih penghuni kamar-kamar sebelah gak ada yang mau bukain? Yang mau masuk juga, kenapa gak bawa kunci sih!

“Tingtong…tingtong..tingtong..” Akupun melangkah setengah hati menuju pintu. Segera kubuka, dan kulihat wajah letih menyembul di balik sana. Seburat tampang manyun plus kesal menghiasi wajah Itoh. “Pulang kuliah ya?’ Tanyaku basa basi. Kupun kembali kekamar melanjutkan kegiatanku yang hampir saja tak jadi terlaksana.

***

“Kriing..kriing..” Sekarang giliran telfon yang beraksi. Rasanya hidupku ini selalu dipenuhi suara-suara  aneh itu. Sebenarnya, kalo ada yang ngangkat sih gak masalah. Yang nyebelin itu gak ada satupun yang mau ngangkat karna semua pada sibuk di kamar masing-masing, seolah gak denger bunyi apa-apa. Tapi anehnya, pas lagi ngebet-ngebetnya ngangkap telpon, semuanya pada nyerbu bak pengungsi ngejar bantuan mie instant.

“Aku gak mau terus-terusan ngalah jadi relawan gagang telpon ama gagang pintu” kataku dalam hati sembari terus mengaduk oseng-oseng. “Kriing..kriing..kring..” Si telpon bunyi lagi setelah diam sesaat.  Sejenak ku lirik telpon yang nampaknya sudah letih menjerit melaksanakan tugasnya. Gak mau… Masa mesti aku lagi yang ngangkat? Aku jadi ingat kejadian kemarin.

Pas telpon gak ada yang ngangkat, aku buru-buru keluar kamar mandi menimbang perasaan si penelpon. Yang bikin aku sebel, si Sasa yang asyik makan disamping meja telpon. Seolah punya pertemuan penting sama sepiring nasi dan gak bisa diganggu.. “Eh.. bunyi ya..” selorohnya garing. Yang bikin aku mumet lagi, telponnya buat dia lagi. “Aduhh…Sa,tau begini mah aku gak mesti bela-belain keluar hammam” celotehku. “Maallisy deh Fi..” jawabnya singkat.

Please dong yang merasa punya kepentingan supaya peka ama tuh telpon. Kuteruskan motong-motong sabaneh. Bayangkan sodara-sodara. Padahal jarak dapur ama telpon Cuma dua langkah. Namun…”Kriing..kriing….” Akhirnya egoku mulai luluh. Siapa tau orang itu punya urusan penting” pikirku. Kupun melangkah menuju sumber suara.

Ketika jarak antara tanganku dan telpon tinggal 3 senti…”Tunggu Fi, biar aku aja yang ngangkat. Kayaknya dari Ramen deh.” Ujar Mia di pintu kamar. “Aduuh.. kok gak dari tadi neng” gerutuku. “Aku kan gak perlu perang batin gini ” sambungku dalam hati””

Beginilah nasib telpon sama bel di rumahku. Kalo salah satunya udah mulai unjuk gigi, rumah ini seolah gak ada penghuninya lagi. Semua hening…Semua pada cuek, apalagi aku. Sejak kejadian-kejadian itu aku jadi orang paling anti ngangkat telpon ama bukain pintu.  Jadi, kalo mau masuk rumah, mesti bawa kunci. Atau sebelum keluar pesen gini dulu,” Nanti bukain pintu ya…”

***

Panasnya hari ini gak seperti biasanya. Sinar raja siang yang menggarang ditambah badai pasir membuat ku sesak nafas “Buurrr…” angin  plus semburan debu menerpa tubuhku. Segera ku tempelkan sapu tangan ke mukaku untuk menyaring udara yang akan masuk keparu-paruku. Lima menitr.. sepuluh menit…tiga puluh menit.. Ahh… Sudah setengah jam lewat aku menunggu di sini. Namun bus-bus itu belum juga datang. Allah… Aku bener-benar lemas. Tenggorokan ini terasa kering, sekering kuliku yang yang terbakar matahari. Aku ingin cepat-cepat pulang, meminum sebotol air yang sudah dari tadi pagi aku dinginkan di kulkas. Kemudian merebahkan diri di kasur yang empuk sembari menikmati lembutnya hembusan kipas angin.

Akhirnya bus 939 melongok dari simpang Nurul Khitab.  ” Alhamdulillah.. busku sayangku…cintaku…akhirnya kamu datang juga” bisikku setengah meringis.  Kulambaikan tanganku , dan segera ku naik. Subhanallah… Sangat penuh dan sesak. Bak sarden teri yang ditabur bubuk merica, tubuhku pun meringkik di sela-sela himpitan ikan Salmon. Sabar… Aku harus bertahan

“Mutsallas ma”ek!” Teriakku khas dengan logat mesirku yang gak mirip-mirip amat. Aku menyerobot menyibak dempetan manusia untuk bergerak keluar.  Alhamdulillah… Aku sedikit plong. Ku paksakan langkah gontai ini menuju rumah. Perutku mulai menghentak-hentak kelaparan. Dahaga inipun begitu juga.  Sang panas dan debupun terus berlomba-lomba menerpa tubuhku. Namun tak aku hiraukan. Yang penting sampai rumah terlebih dahulu. Ku paculangkah seribu

“Satu..Dua.. Tiga sembilan…empat puluh..” Akupun telah berada di lantai dua, di depan pintu yang sudah tak sabar lagi kusibak. Kurogoh tasku mencari-cari kunci. Hah.. tak ada! Kembali kubongkar semua isi tasku. Benar-benar tak ada.. Terpaksa ku pencet bel yang selama ini tak kuhiraukan. Berkali-kali kupencet, tak kunjung ada yang menggerakkn gagang pintu di balik sana. Lima menit..sebelas menit…setengah jam. Aku tertuduk lemas. Bukankan Yuni dan Itoh udah dari jam sebelas tadi pulang? Tanyaku dalam hati. Kupun merai Hp mungilku, dan mendial “Baiti jannati”. Hasinya tetap nihil. Allah… Sepertinya ini karma” bisikku. Akupun lunglai di depan pintu

Advertisements

Ta’aruf MABA dan Grand Opening Kegiatan Al Makki Term 1

25 November 2010 at 7:50 am | Posted in ORGANISASI, UKHUWAH | Leave a comment

by: admin

Senin 24 Oktober 2010 pukul 16.00 clt Fs Al-Makki mengadakan Grand Opening kegiatan term 1 serta Ta’aruf Maba (mahasiswa baru) Universitas Al-Azhar Kairo tahun 2010/2011. Selain memperkenalkan 18 orang mahasiswa baru alumni MAN Kotobaru Padang Panjang (16 putra dan 2 putri), Al-Makki juga mengundang generasi pertama alumni pesantren Ar-Risalah Padang yang juga baru menginjakkan kaki di bumi Kinanah, Mesir.

Acara yang diadakan di sekretariat Al-Makki ini mengangkat tema “Sambut Laskar Pemimpi Dengan Meretas Silatulaturahmi”. Tausiyah disampaikan dengan bahasa Arab Fushah oleh Ust. Hafiz Muhammad Al-Afgani, sarjana hadits Universtitas Al-Azhar berkebangsaan Afganistan. Beliau memotivasi seluruh peserta agar semangat menuntut ilmu dan berjuang menaklukkan segala rintangan internal maupun eksternal di bumi para Nabi ini. Tak hanya pemaparan Al-Quran dan Hadis yang beliau ulas, tapi dibarengi dengan berbagai contoh ketekukan dan kesabaran para ulama terdahulu dalam perjuangan menuntut ilmu. Antusiasme 70 lebih anggota yang hadir terlihat jelas, apalagi ketika berkali-kali ditanyakan: “aina nahnu minhum?” (dinama posisi kita dibanding mereka –para ulama tersebut).

Sosialisasi kegiatan Al-Makki 2010-2011 disampaikan ketua Al-Makki baru, Taufiq Hidayat Nazar dan dilanjutkan dengan perkenalan seluruh peserta yang hadir dengan para mahasiswa baru. Sementara itu, Almakkiyat juga mengadakan ta’aruf dengan maba putri di ruangan terpisah, serta mensosialisasikan program Almakkiyat term 1 yaitu (1) Workshop Tafsir-Hadis, (2) Pelatihan Penyelenggaraan Jenazah dan (3) Kajian Fakultatif (memakai format yang sama dengan diskusi ilmiah periode lalu, namun tahun ini bekerjasama dengan Bundo Kanduang KMM Mesir dan Ikathiyah Mesir). Pengurus Almakkiyat periode ini adalah Sari Husna, Ervyta Sari dan Rike Veronisa.

Sebelum acara ditutup panitia menghidangkan mie ayam spesial, menambah kehangatan suasana ukhuwah di awal musim dingin kota Kairo yang selalu cerah.

SELAMAT IDUL FITRI 1431 H

10 September 2010 at 12:37 am | Posted in ORGANISASI, UKHUWAH | 1 Comment

Perjalanan menuju Port Said (Rihlah II Almakki & Almakkiyat)

21 August 2010 at 9:25 am | Posted in Gen 5, KEGIATAN, UKHUWAH, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

oleh: Reni Rahmawati

Uni2, kawan2…masih ingat g’ kenangan rihlah kita ke Portsaid…??
Kira-kira dah bikin report lom buat si diary? Bagi yang udah, bolehlah baca lagi tulisan sederhana ini untuk mengingat-ingat kembali perjalanan kita. hmmm…bagi yang belum, ahlan kopi pes aja tulisan ini tuk melengkapi diary mu.

Rabu, 4 agustus 2009 adalah hari bersejarah bagi Almakki dan Almakkiyat. Satu-satunya kenangan indah bagi kita semua dengan adanya rihlah perdana ke luar kota, yaitu Port Said. Ini adalah rihlah Almakki kedua (periode 2009-2010).Rihlah awal Almakki adalah ke hadiqah yang merupakan rihlah langganan meregenenasi bagi Almakki dari tahun ke tahun. Tidak bisa dipungkuri, kita tinggal ditengah gurun pasir dan jarang sekali melihat tumbuhan hijau dan asri. Makanya rihlah ke hadiqah sangat urgen bagi kita semua.

Peserta rihlah kali ini bukan hanya anggota Almakki aja, ternyata anggota lainpun ikut bergabung demi memeriahkan suasana rihlah.

Kira-kira pukul 2 pagi, kita berangkat menuju Port Said. Kota ini berada tepat diperbatasan benua Asia dan Afrika. Ceritanya, porsaid ini merupakan kawan kamp kerja dibangun tahun 1859 oleh Said Pasha untuk menampung para pekerja di terusan Suez. Nah, dari nama Said Pasha inilah kota ini dinamakan “Port Said” (pelabuhan Said) sampai abad 19. Selain itu, Port Said sebagai pelabuhan terpenting dimana angkatan laut mesir berpusat. Dan juga daerah persengketaan Mesir dengan Israel sejak tahun 1956, namun dapat dipertahankan Mesir hingga meraih kemenangan dalam perang oktober 1973. wah, hebat ya Mesir….!! Sehingga sampai saat ini, kota ini banyak mengalami pembangunan di segala bidang. Dan yang pastinya, menjadi salah satu tujuan wisata bagi masyarakat Mesir di musim panas, terkhusus kita nih sebagai turis, mahasiswa asing yang tinggal di lingkungan masyarakat Mesir.

Kira-kira pukul 5, alhamdulillah kita sampai ke Port Said, kemudian menyebrangi terusan Suez, yang dikenal dengan penyebrangan Ma’diyah. Udara segar mengisi suasana pagi itu. Semua mata tertegun dan terpesona dikala mamandang dan menikmati indahnya pemandangan dikala pagi yang cerah. Setelah kapal berhenti, kemudian kita menuju mesjid yang berdiri kokoh dan megah, tidak jauh dari tempat pemberhentian kapal, namanya mesjid Mujamma’ Kabir. Masih ingat kan..?? Mesjid ini ada keunikan tersendiri,lho. Temen-teman bisa temukan bangunan ini persis sama dan mirip dengan mesjid Nur di Abbasiyah dan juga mesjid yang di Ismailiyah. Katanya pembangunan mesjid ini dibangun dengan arsitek yang sama dan masa yang juga sama. Kalo ga’ percaya telurusuri aja sebagai bahan penelitian…. Nah, disitulah mesjid tempat kita shalat shubuh.

Ternyata, kita mengadakan perjalanan tidak hanya sekedar rihlah, tapi kita juga bisa ketemu uni leli yang domisili di sana…,,

Setelah itu langsung ke pantai, pembukaan di handel langsung dengan kata-kata sambutan dari ketua Almakki dan beberapa senior Almakki. Kemudian, kita Almakkiyat bikin acara yang spesial tuk kita buat kita-kita aja. Canda tawa mulai berhamburan, ketika ni dwi dan dila sebagai PeJe acara memulai simulasi dan games yang fun dan edukatif di depan pantai. Ami, sebagai ketua panitia akhwat, juga ikut berpartisipasi sebagai peserta simulasi. Di akhir pemainan, dilanjutkan dengan tabadul hadaya alias tukar kado dengan hadiah yang unik dan menarik.

Kemudian siangnya, kita menuju Museum Militer (Mathaf Harbi). Museum ini adalah tempat bersejarah, kenapa? Karena menyimpan persenjataan yang pernah dipakai dalam peperanagn masa Fir’aun dan Islam. Bayangkan, peralatan yang kita amati saat itu adalah peralatan masa perang tahun 1967 dan 1973. Wow,, kuno abizzz…

Sorenya, acara bebas sampai menjelang magrib. Ada yang istirahat di mesjid Syathi’ yang posisinya tepat di belakang museum tadi. Mesjid yang megah, nyaman dan bersih posisinya dekat dengan pantai Kornesy sehingga ada sebagian yang melepaskan penat seharian disana. Dan di depan museum ini, jalan lurus ke depannya ada pusat perbelanjaan yang luas, namanya suq Libiya. Inilah pasar bebas (suq hurrah), yang dimiliki kota ini yang sesuai dengan letaknya di jalur ekspor impor. Semua ada disini, mau baju, sepatu dan berbagai peralatan dapur pun ada. Made in Indonesia pun juga ada lho, seperti baju batik. Jadi ga’ heran, selain tempat wisata sekaligus berbelanja, apalagi untuk persiapan musim dingin. Masih ada lagi pasar yang belum kita kunjungi, seperti pasar Tujari dan Hamidi. Pasar ini juga luas, dengan menampilkan harga standar dan kualitas yang ok.

Acara penutupan di pantai Kornesy, letaknya dibelakang museum Militer tadi, sambil menikmati udara sore dan indahnya sunset. Disinilah pembagain hadiah bagi para pemenang simulasi dan games.

Saatnya pulang menuju Kairo…..
Setelah sholat Maqrib, kita beranjak menuju Kairo. Suasana hening dan diam di mobil. Ternyata semua pada terlelap pulas. Kita sampai pukul 1.30 pagi di Madrasah.

Perjalanan seharian penuh yang panjang dan mengesankan, akan jadi kenangan yang tidak terlupakan nantinya….
Loving you Almakkiyat…
إذا لـم تـجـمـعـنـا الأيـام جـمـعـتـنـا الذكـريـات
وإذا العـيـن لـم تـراك فـالقـلـب لـن يـنـسـاك

Silaturrahim relawan KISPA dengan mahasiwa Minang di Mesir

11 August 2010 at 4:06 pm | Posted in MASISIR NEWS, ORGANISASI, UKHUWAH, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , , ,

Sambil mengisi waktu keluarnya izin masuk Gaza oleh state security dari pemerintah Mesir, pada hari Senin, 9 Agustus 2010, tepatnya ba’da Maghrib waktu Kairo, Relawan KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina) berkunjung dan bersilaturrahim dengan mahasiswa Minangkabau di kantor KMM (Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau), Block 502 Complex Emarat 1st Settlement New Cairo Helwan, Mesir.

Ust. Ferry Nur menjelaskan pengalamannya di Mavi Marmara

Dalam kunjungan silaturrahim tersebut, Relawan KISPA yang terdiri dari Ust. Ferry Nur, Ust. Muhendri Muchtar, Andi Syaifuddin, Agus Daroesman yang didampingi Muhammad Syarif, Mahasiswa Indonesia di Mesir, disambut oleh Alnofiandri Dinar, Lc, yang merupakan putra X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumbar dan Afdhalul Syukri, Direktur Badan Pengelola Rumah Gadang KMM Mesir.

Setelah Shalat Maghrib berjama’ah, acara silaturrahim dibuka oleh ketua KMM Mesir periode 2010 – 2011, Alnofiandri Dinar, Lc,  kemudian dilanjutkan dengan serita dan penjelasan oleh ustadz. Ferry Nur perihal alasan mengapa mengikuti misi kemanusiaan armada Freedom Flotilla serta persiapan dan kegiatan yang dilakukan oleh KISPA selama berada di Turki dan juga dalam perjalanan menuju Gaza diatas kapal Mavi Marmara.

Perjalanan relawan KISPA dimulai dari pelabuhan di Istanbul kemudian Antalya menuju Gaza. Ustadz. Ferry Nur juga menjelaskan kejadian demi kejadian yang dialami selama berada diatas kapal Mavi Marmara, serta adanya sebuah ikatan ukhwah yang kuat diantara para relawan yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, negara dan agama. Namun di dalam kapal Mavi Marmara hanya ada satu komando, yaitu dari IHH sebagai penyelanggara Vivapalestina ke 4.

Ustadz. Ferry Nur juga menggambarkan betapa kejinya tentara Israel yang telah menjarah kapal Mavi Marmara, semua peralatan elektronik yang dibawa hilang diambil oleh Zionis Israel, namun Allah masih memberikan perlindungan serta menunjukkan betapa kuasanya Allah Swt, karena pada saat di dalam seorang sipir penjara memaggilnya dan menyerahkan kembali dana amanah dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina.

Ust. Muhendri saat menjelaskan pengalamannya

Pada pembicaraan kedua ustadz. Muhendri Muchtar yang juga merupakan salah seorang relawan KISPA menjelaskan pengalaman yang dialaminya atas kekejian Zionis Israel selama berada di kapal Mavi Marmara dan juga pada saat mengalami interogasi yang dilakukan oleh tentara zionis Israel.

Ustadz. Muhendri juga menyampaikan beberapa pengalaman relawan KISPA lainnya yang juga mengalami pelecehan, ini sudah menunjukkan betapa sombongnya Zionis Israel, namun disisi lain mereka juga pengecut kalau melihat orang yang diinterogasi memiliki kepercayaan diri yang tinggi seperti yang dialami oleh Hardjito tambah Muhendri.

Sebelum acara berakhir, diadakan sesi tanya jawab, diantara peserta yang terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi, terlihat begitu antusias mendengar penjelasan pengalaman relawan Freedom Flotilla.

Para mahasiswa sedang meminta tanda tangan Ust. Ferry Nur pada buku Mavi Marmara Menembus GazaPara mahasiswa sedang meminta tanda tangan Ust. Ferry Nur pada buku Mavi Marmara Menembus Gaza

Foto bersama KMM Mesir
Foto bersama KMM Mesir

Acara ditutup oleh ketua KMM Mesir dan dilanjutkan dengan ramah tamah serta pada kesempatan tersebut juga penulis buku Mavi Marmara Menembus Gaza, Ustadz. Ferry Nur membubuhkan tanda tangan pada buku yang diperoleh oleh para mahasiswa dan mahasiswi serta melakukan foto bersama sebagai kenang-kenangan. (KISPA/aa/fn)

تقرير حول: افتتاح البـرنـامـج فـى الفـصـل الدراسـى الثـانـى

20 February 2010 at 3:59 pm | Posted in Gen 5, MOTIVASI, ORGANISASI, UKHUWAH | 2 Comments
Tags: , ,

بعد أن انتهينا من الامتحان ….

بعد أن اشترينا كتبا كثيرة من معرض الكتاب الدولي….

وانتهينا من الإجازة …

جاء “منتدى خريجي المدرسة الدينية النموذجية كوتو بارو بادنج بانجانج”

ليقدم لكم افتتاح البرنامج فى الفصل الدراسى الثانى   في يوم الإثنين، 15 فبراير 2010 م.

جرت عادتنا في مثل هذه البرامج أن تعدَّ باللغة الاندونيسية، لكننا ارتأينا هذه المرة
أن يكون برنامجنا مميزاً مختلفاً تُحليه اللغة العربية- لغة القرآن الكريم :”وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)”. [الشعراء/192-195]

من مبدئه إلى منتهاه.

وقد تفضل “شكرى حمدى” بتقديم فقرات البرنامج. ثم بدأ “محمد فطريان قادر” (رئيس المكّى)  بإلقاء كلمة قال فيها : “هذا البيت ليس بيتي وحدي وإنما هو بيتنا جميعاً”.

نستطيع أن نفهم من هذا الكلام أن هذا المكان يستخدم للأنشطة العلمية للطلبة.

وألقى أخونا “مروان إلهامى” (مستشار المكىّ/FS. ALMAKKI) كلمة لتشجيع الطلاب / الطالبات الجدد، موجهاً النصيحة لهم:”لا تظنون أنكم تأخرتم في قدومكم إلى مصر- رغم كل الظروف والصعوبات- فما زال الطريق- طريق العلم أمامكم،فاغتنموا الفرصة واستثمروا وجودكم في مصرلتنهلوا من العلم ما استطعتم، لتكونوا خير ذخر لبلدكم وقت أن تعودوا إليها علماء معلمين”.

وتلتها محاضرة الأستاذ “علي فاضل”- رئيس اتحاد الطلاب والطالبات الإفريقي- حول :” الترغيب فى طلب العلم وتقوية اللغة “.

استهل كلامه بحديث رسول الله – صلى الله عليه وسلم-، متحدثاً عن فضل الخروج فى طلب العلم: عن أنس – رضى الله عنه – قال: قال رسول الله -صلى الله عليه و سلم- : “من خرج فى طلب العلم فهو فى سبيل الله حتى يرجع”.

وعن صفوان بن عسال – رضى الله عنه – قال: قلت: “يا رسول الله ! جئت أطلب العلم، قال: “مرحباً بطالب العلم، إن طالب العلم لتحفّ به الملائكة، و تظّله بأجنحتها، فيركب بعضها على بعض حتى تبلغ السماء الدنيا من حبهم لما يطلب “.

وعن صفوان بن عسال – رضى الله عنه – قال: قلت: “يا رسول الله ! جئت أطلب العلم، قال: “مرحباً بطالب العلم، إن طالب العلم لتحفّ به الملائكة، و تظّله بأجنحتها، فيركب بعضها على بعض حتى تبلغ السماء الدنيا من حبهم لما يطلب “.

أقول: العلم هو عبادة القلب، كان لزاماً على طالبه أن يسعى جاهداً فى اكتسابه.

كما وبيَّن الأستاذ ضرورة تعلم اللغة العربية لأنها مفتاح وأساس كل شيء. ليتمكن الطلبة من التحصيل العلمي المثمر،ويواجهوا الضعف اللغوي الحاصل بينهم،ويكفي قول النبي -عليه الصلاة والسلام-: “إنما العربية اللسان”.

وفي ختام البرنامج، تم تعارف الطلاب والطالبات الجدد على إخوانهم وأخواتهم القدامى، بإشراف “محمد شكرا” (مدير بيت الطلبة المينانج كابويين).

وأعقب ذلك مقترحات من عضوات “المكّيات

وهي:/ALMAKKIYAT”

  • الاهتمام بمدرستنا.
  • تقوية الصلات الأخوّية بيننا.
  • التركيز على القدوة الحسنة والمثل الأعلى بين الطلبة.
  • الاهتمام بالتحصيل الدراسي والتفوق فيه.
  • استمرار الأنشطة العلمية للطلبة.
  • السعي الحثيث للحصول على المرتبة الأولى في: Academy Award PPMI

الحمد الله رب العالمين، أسأل الله أن ينفعنا بهذا البرنامج، ويكتب لنا القبول، وأن يثيبنا جميعاً، ويزيدنا خيراً و بركة – آمين-.

وصلى الله على سيدنا محمد النبى الأكرم، و على آله وصحبه وسلم.

بقلم:  رينى رحماواتى محمد ناصر

المرحلة الخامسة من خريجى المدرسة الدينية النموذجية كوتو بارو بادنج بانجانج

BERSATULAH

26 November 2009 at 8:03 pm | Posted in UKHUWAH, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

oleh: Fatma Febrian*

Artinya : Janganlah kalian termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” [Ar-Rum : 31-32]


Fenomena yang tidak bisa dipungkiri dewasa ini adalah banyaknya firqoh-firqoh (kelompok/golongan) yang bernaung dibawah syariat Islam, yang timbul di tengah kehidupan kaum muslimin. Mereka mengajak masuk kepada kelompok mereka,dan bergabung di dalam satu “wadah” untuk menyatukan kekuatan dalam menegakkan agama Islam. Dalam hal ini mereka berpendapat:” agar lebih terorganisir, yang penting tujuannya sama yaitu menegakkan kalimatullah.”

Tapi fakta yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Konsep awal adalah menyamakan barisan tapi yang terjadi adalah memecah belah barisan. Satu sama lain saling gontok-gontokan membela “bendera”nya, lebih loyal terhadap kelompok mereka sendiri ketimbang yang berbeda dengan mereka, ironisnya lagi sesama muslim tega mencela saudara muslimnya yang lain hanya gara-gara perbedaan dalam metode dakwah. Apakah ini yang disebut dengan persatuan? Kenapa kita tidak bersatu dibawah Alquran dan assunnah saja dan menanggalkan semua atribut-atribut perbedaan ini.

Hal yang sering mengganjal di benak kita,”bukankah mereka juga berpegang kepada al-Quran dan sunnah?” atau “asalkan berpegang kepada alquran dan sunnah, saya rasa sah-sah saja.” Asy-Syaikh Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi berkata: “Jika benar apa yang dinyatakan oleh kelompok-kelompok yang amat banyak ini, bahwa mereka berpegang dengan Al Qur’an dan As Sunnah, niscaya mereka tidak akan berpecah belah, karena kebenaran itu hanya satu dan berbilangnya mereka merupakan bukti yang kuat atas perselisihan di antara mereka, suatu perselisihan yang muncul dikarenakan masing-masing kelompok berpegang dengan prinsip yang berbeda dengan kelompok lainnya. Tatkala keadaannya demikian, pasti terjadi perselisihan, perpecahan, dan permusuhan.” (An-Nashrul Azis ‘Alaa Ar Raddil Waziz, karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali rahimahullah, hal. 46)

Wajib atas kalian berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku. Pegang dan gigitlah dengan gigi geraham kuat-kuat. Hati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru. Karena setiap perkara yang baru (dalam dien) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat” [dikeluarkan oleh Abu Dawud 4607, At-Tirmidzi 2676.]

Kita memang tidak menvonis ini adalah hal yang bid’ah, tapi yang jelas kewajiban kita adalah berhati-hati dalam perkara agama. Apakah hal-hal semacam ini akan mendekatkan diri kita kepadaNya, atau bahkan mengantarkan kita kepada jurang kemurkaan Allah ‘azza wa jalla,ini yang harus kita sadari.

Sebagai tholibul ilmi, kewajiban kita adalah menyampaikan apa yang telah kita dapatkan kepada masyarakat nanti, tapi ketika seseorang telah bergabung dengan kelompok tertentu, ini akan menghalanginya untuk menyampaikan ilmu tersebut. Seseorang yang berbeda kelompok dengan kita misalnya, akan enggan menerima apa yang kita sampaikan, jangankan untuk mendengarkan untuk bertemu saja akan merasa risih. Fakta lain yang penulis lihat ketika sebuah masjid dijadikan basecamp oleh jamaah/partai tertentu, akan menghalangi jemaah lain untuk masuk. Seseorang yang merasa kelompok A, cenderung menghindari masjid B yang diisi oleh komunitas B, begitupun sebaliknya. Belum lagi masalah taqlid (loyalitas) dan fanatisme terhadap kelompok masing-masing, yang tidak bisa dihindari ketika sudah bergabung dengan salah satu kelompok, seseorang akan merasa cinta dengan kelompoknya, dan melakukan apa saja demi kepentingan golongan, bahkan dengan hal-hal yang dilarang sekalipun. Riya dan ketidak-ikhlasan akan timbul dengan sendirinya ketika kelompok-kelompok itu membangga-banggakan amal mereka, baik itu dengan spanduk-spanduk yang berjejer disepanjang jalan, laporan keuangan bantuan korban bencana alam, atau disitus-situs maupun pemancar milik mereka, naudzubillah. “Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali Imran: 103)

Intinya, ukhuwah dan persatuan diantara kaum muslimin harus dibangun. Namun harus berdasarkan syarat, yaitu ikhlas karena Allah, dan dalam koridor ketaatan kepada Allah. dengan kata lain, persaudaraan yang bersih dari noda-noda dan motif-motif duniawi beserta kaitan-kaitannya. Yang menjadi pendorong persaudaraan ini hanyalah keimanan kepada Allah, bukan kesamaan kelompok, kesamaan kepentingan, atau kesamaan-kesamaan lain yang bersifat duniawi, seperti: politik, kedudukan, uang, dll.

Semoga kita semua terhindar dari api neraka dan tergolong kepada orang-orang yang bartakwa kepada-Nya.

” Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92]. Allahu a’lam bishowab

*Siswi Ma’had Al-Azhar Kairo – Adik gen 14 MAKN

SWEET FRIENDSHIP

25 November 2009 at 12:21 pm | Posted in Gen 9, UKHUWAH | 5 Comments
Tags: , ,

BY: LiNA kIyOeT*

Object : SGC-9 Gank,, (SMART GIRLS CLASS_9)

Teman-teman miss you….miss you…miss you…..miss you all. Kata-kata itulah  yang sering terlontar diantara kami angkatan 9 MAKN Putri atau nama kerennya SMART GIRLS- 9 ketika chatting n talking via net. Persahabatan yang indah di kala pertemuan, terlerai oleh sebuah perpisahan. Setiap generasi MAKN pasti merasakan pula. Tiga tahun ukhuwah terjalin di kampus MAN/MAKN Kotobaru Padang-Panjang. Sebuah ikatan yang tak mudah merajutnya dan otomatis terlalu sulit untuk mengurainya kembali, karena persahabatan itu telah terjalin erat dengan ikatan kasih sayang karena Allah.

Sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Anfal ayat 63, artinya:

Dan Dia yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.

Kenapa anugrah persahabatan ini bisa kita raih? Karena kita satu tujuan, satu rasa, satu cita-cita ketika kita masih cupu, imut dan culun abis. Segala program kita jalani selama di asrama, yang menuntut kedisiplinan dan pengendalian emosional. Kekompakan dan persaudaraan, terkadang ditingkahi oleh percikan-percikan kecil perselisihan dan prasangka. Semuanya menambah warna-warni persahabatan kita. Tak ada yang dapat mengganti sgala keterikatan itu, yang telah melekat kuat di memori terdalam diantara  kita. Suka, duka, tawa dan air mata telah kita satukan dalam satu filter perjuangan; mempertebal iman, memperdalam ilmu pengetahuan.

Hmmm…sungguh perjuangan yang begitu indah, tak terlukiskan dengan kata-kata. Marapi dan Singgalang menjadi saksi, betapa kuat jalinan rasa dan emosi kita. Tak ada yang tau apa yang kan terjadi ketika rasa rindu kita memuncak di hiruk pikuk aktivitas kampus ketika peran kita telah berubah menjadi mahasiswa. Kita sudah terpisah oleh jarak dan waktu, pemikiran pun akan mulai berbeda.


Tapi saya yakin dari relung hati terdalam, yang namanya SMART GIRLS- 9 tetap harum namanya di hati masing-masing anggota, Karena tak mudah untuk mengukirnya. Banyak kenangan yang terjadi di dalamnya, disaksikan dinginnya udara Kotobaru, indahnya talago dan kokohnya Marapi dan Singgalang yang menjulang tinggi. Agenda mingguan, bulanan, tahunan yang nyaris menyentuh habis jiwa dan raga ini, merubah hal yang tak biasa menjadi biasa, merubah yang biasa menjadi luar biasa. Kegersangan rohani  disegarkan oleh lantunan Al-Qur’an kala pagi dan petang. Setoran yang disepakati dalam tahfizul Al-Qur’an dan serba-serbi hukuman yang membuat kenangan itu semakin manis. Ah… KotoBaru itu memang kampus seribu satu kenangan.

Gejolak remaja pun terkontrol dengan peraturan yang mengikat namun indah, yang membuat rasa akan terjaga, lebih mementingkan redha-Nya. Keakraban dan kedamaian yang membuat kita nyaman, diselingi candaan yang menjadi banyolan ketika disiplin ditegakkan, penghilang ketegangan atas pelanggaran yang terjadi karena khilaf masa remaja, ‘iqob “menyeramkan” tapi tetap dijalankan.

Ketegangan ujian dihanyutkan dengan panorama Ilahi yang menakjubkan dan suasana dingin yang menyentuh relung jiwa. Menyusupkan kedamaian dalam balutan selimut ketika istirahat malam setelah seharian penuh beraktivitas; sekolah, tutorial sore hingga program-program asrama.

Semangat menggebu dalam agenda Ramadhan,  kerjasama antara anggota persatuan daerah, menyatu dalam arena panggung perpisahan kelas 3, yang dilengkapi dengan kelas 2 sebagai panitia pelaksana, dan kelas 1 yang mengisi acara. Muaffat dan Firqoh Mubarah jadi agenda pelepas penat. Tarbiyatul Ula sebagai perkenalan bagi anak-anak baru menjadi momentum  pendewasaan diri bagi kelas 3 untuk menjadi teladan bagi adik-adiknya.

Bagi MAKN Putri generasi awal hingga kini, Aspi III adalah tempat ukhuwah terindah yang pernah ada. Ustad dan ustadzah yang sabar membimbing dan mendidik kami supaya menjadi manusia berguna bagi agama dan bangsa. Warna-warni kebersamaan dengan teman-teman, kakak-kakak dan adik-adik kelas mendewasakan diri dalam menapaki perjalanan selanjutnya. Ah…sebuah kenangan hidup yang tak akan terlupa….

ASPI III, ASPA, KNPI, KNPA, Mesjid Noer_El Hikmah, Menara, Tembok Berlin (xixixixi,,,istilah kita2 aja tu), dan seluruh kampus MAN/MAKN, serta sawah, talago, pasar Kotobaru, gunung Marapi dan Singgalang…telah mengukir pengalaman hidup terindah. Dan sekarang, sebuah persatuan almamater telah mengikatnya di negeri para nabi, ardul anbiya’ -meski telah berubah status sebagai mahasiswa Al-Azhar University, Cairo- yaitu Almakki / Almakkiyat…

*one of members SG-9, mahasiswi tk 1 Syariah Islamiyah Al-Azhar Kairo

Foto-foto sekolah diambil dari FB MAKN Koto Baru Padang Panjang

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.