BACK TO KAMPUS (cerpen)

25 November 2010 at 10:12 am | Posted in Gen 8, MOTIVASI, SASTRA | Leave a comment


Oleh: Ervyta Sari

Yup… Start!!! Aku harus mulai dari sekarang, kalau tidak kapan lagi. Kata-kata ini sering menjadi pemacu diri ini kala hati lesu lunglai menjalani hidup dengan banyak bersantai, jalan dengan gontai, dan tangan pun ikut menari lemah gemulai. Kalo udah seperti itu, hidupku seakan hampa, seolah tak ada bingkai cita-cita yang harus ku kejar dan ku jadikan hadiah pada orang tua. Padahal niat mulia yang selalu kusemat dalam dada adalah menjadi thalibatul ilmi yang mulia. Dan ketika kaki sudah menginjak bumi kinanah ini semua seakan menjadi berbeda. Niat yang kutanam kuat mulai goyah dihantam kabut pasir padang sahara. Niat yang lurus mulai bengkok dan lemah dimakan usia. Seakan cita-citaku hanyut dibawa terjangan ombak pantai Alexandria. Namun, ku yakin aku kesini bukan terpesona oleh gemilang kota Alexandria atau cantiknya pesona Cleopatra.

Aku bukanlah gadis yang tak punya mimpi. Menjadi sang pemimpi untuk menjadi sang pemimpin itu sangatlah berarti. Dimulai dengan mimpi berharap menjadi cahaya yang abadi. Paling awal mejadi pemimpin hati diri sendiri agar bisa senantiasa mengaturnya, agar bisa membawa pada jalan yang lurus dan hakiki. Kalau bukan diri ini  yang memulai siapa lagi. Karena ku yakin motivasi terbesar terdapat dalam diri ini sendiri. Yah, aku harus bisa dan aku harus yakin bahwa potensi itu masih ada, masih tertanam kuat dalam jiwa, masih bersih dan belum ternoda. Ku yakin masih ada kesepatan kedua, ku tanamkan dalam relung jiwa taubat nasuha, agar hidupku kembali teratur dan berjaya diakhirnya.

Kata bunda, ku anak manja, kata ayah ku sangatlah gigih hingga mainan yang ku pinta pada ayah belum juga dikasih aku akan terus menangis. Sebelum dapat apa yang dicari tak mau berhenti, untuk sebuah mainan aku mampu seperti itu, karena itu ku sangat yakin untuk cita-citaku ku bisa lebih gigih dari itu. Kata kakak ku orangnya telaten dan rapi, hingga ku jarang lupa jadwal harianku, selalu ku kerjakan tepat waktu. Karena ku tau waktu tak kan setia menemaniku. Dia akan terus berjalan hingga hujung waktu. Karena waktu adalah kehidupanku. Tanpa waktu ku hilang ditelan bumi dan berakhirlah sejarah hidupku. Kata adik, aku sangat penyayang. Bermain bersama disaat ibu sibuk membereskan pekerjaan rumah tangga. Itu kata mereka, namun kataku gimana….?

Yah… inilah aku, yang terkadang sering sedih tak menentu. Kadang aku malu, tak mampu seperti teman-temanku yang semangat dan gigih mencari ilmu. Ku akui, selama ku di Kairo bisa dihitung hari kuliahku. Bisa dihitung kapan ku datang memenuhi jadwal bimbel. Organisasi…? Untuk yang satu ini, aku sudah mulai tidak mau ikutan lagi. Jadwal tidurku melebihi jadwal belajarku. Oh diriku… sedarlah…? Kau bukan berada di tanah airmu. Kau jauh-jauh datang dari negeri hanya untuk tidur dan berdiam diri di kamarmu. Berpisah dengan orang tua, kakak, adik, dan keluarga semua demi ilmu yang sangat kau damba. Oh diriku…? Lihatlah alam luar, kau akan menghirup udara segar. Belajarlah dari dunia sekitar agar kau semakin besar dan bertambah tegar.

Kini jadwal kuliah sudah tertera di dinding kelas. Ku masih asyik bermain dan bermalas-malas. Ya Allah hatiku beku untuk kembali berjuang dalam menuntut ilmu, otak ku beku setelah liburan panjang menemani hari-hariku. Anugrahi salju rindu dalam jiwaku agarku fresh menjalani padang pasir yang berdebu. Pancarkanlah cahaya iman dalam qalbuku agar ku mudah memahami setiap ilmu dari-Mu. Jadikanlah aku diantara para penuntut ilmu yang ilmunya selalu bermanfaat sepanjang waktu. Jadikanlah hari ini lembaran baru bagiku sebagai tebusan lembaran usang yang dulu penuh kesia-siaan dan keputus asaan. Temanilah aku dengan ridho-Mu di setiap jejak langkah yang ku lakukan. Moga ini langkah awalku menuju jalan yang kau cintai, jadikan aku termasuk hamba yang kau cintai, dan bawa aku kesurga yang kau ridhoi, surge yang haqiqi.

“Upsss… gi ngapain mbak…? Cie… cie… yang gi buat surcin…?” Tiba-tiba Khairiyah mengejutkan Annisa yang dari tadi sibuk memainkan jari di notebook mungilya.

Annisa gadis yang hoby baca tulis, jadi wajar dia suka menuliskan isi hatinya di lembaran MS Word. Yang namanya diary ya nggak mau dong dipublikasi, akhirnya teman-temannya sewot sendiri dan godain Annisa dengan gurauan yang kadang bikin geli. Buat surcin la alias surat cinta, buat proposal la, atau gurauan lainnya. Maksud proposal disini bukan proposal bantuan dana, atau program kerja, tapi surat lamaran ke ikhwan…

“Biasa mbak, lagi ngadu ma ke kasih hati. Dah lama ni nggak ngadu via surcin. Kalo dari hati ke hati, dah biasa kali, kalo pake surcin sungguh luar biasa. Bisa merasuk dalam ruang dada”, Nisa menimpali.

“Bisa ja kamu. Oh ya anis, kamu dah dapat jadwal kul belum? Aku dah dapat nich. Kamu mau gak?”

“Hmmm.. gimana ya…? Pikir-pikir dulu deh”

“Kamu masih seperti dulu ya, tak berubah. Ke kul jarang. Kalo gak mau kul, ngapain kesini coba”.

“Hmm… hehehe.. senang banget aku kalo mbak Khairiyah marah. Serasa dapat durian runtuh. Hmmm enaknya buah durian”. Anis masih saja bercanda.

“Mbak Khairiyah sayang, aku dah dapat jadwal kok. Bahkan ada rencana mau jadi yang pertama datang, barisan pertama duduk di bangku kelas”

“Lebay kamu”, Khairiyah menertawakan.

“ Berangkat bareng yuk…”, semangat sedang menggebu di hati Anis.

“Ayuk, siapa takut. Tapi ingat ye… tak boleh tidur pagi”

“Iya.. bu gulu.. back to kampus, keep spirit chayoo…”

 

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

Karma

25 November 2010 at 9:35 am | Posted in AKHLAK, Gen 6, SASTRA, UKHUWAH | Leave a comment

By: Fitri Shabrina Lc.

“Tingtong…tingtong..tingtong…” Suara-suara itu kembali memenuhi gandang telingaku. Baru saja aku mau menggamit al-Quran kesayanganku, belpun berbunyi lagi. Huuh.. bayangkan! Aku sebelumnya sudah membuka pintu dua kali berturut-turut. Masa harus aku lagi yang buka? “Nyebelin banget” gerutuku dalam hati. “Pokoknya aku gak mau buakain pintu lagii…!”  teriakku dari kamar. Ku gapai Quran biru yang dari tadi kucuekin, dan terus ku baca. “Tingtong…tingtong..tingtong…” belpun berbunyi lagi. Lalu, hening…hatiku mulai gelisah. Kenapa sih penghuni kamar-kamar sebelah gak ada yang mau bukain? Yang mau masuk juga, kenapa gak bawa kunci sih!

“Tingtong…tingtong..tingtong..” Akupun melangkah setengah hati menuju pintu. Segera kubuka, dan kulihat wajah letih menyembul di balik sana. Seburat tampang manyun plus kesal menghiasi wajah Itoh. “Pulang kuliah ya?’ Tanyaku basa basi. Kupun kembali kekamar melanjutkan kegiatanku yang hampir saja tak jadi terlaksana.

***

“Kriing..kriing..” Sekarang giliran telfon yang beraksi. Rasanya hidupku ini selalu dipenuhi suara-suara  aneh itu. Sebenarnya, kalo ada yang ngangkat sih gak masalah. Yang nyebelin itu gak ada satupun yang mau ngangkat karna semua pada sibuk di kamar masing-masing, seolah gak denger bunyi apa-apa. Tapi anehnya, pas lagi ngebet-ngebetnya ngangkap telpon, semuanya pada nyerbu bak pengungsi ngejar bantuan mie instant.

“Aku gak mau terus-terusan ngalah jadi relawan gagang telpon ama gagang pintu” kataku dalam hati sembari terus mengaduk oseng-oseng. “Kriing..kriing..kring..” Si telpon bunyi lagi setelah diam sesaat.  Sejenak ku lirik telpon yang nampaknya sudah letih menjerit melaksanakan tugasnya. Gak mau… Masa mesti aku lagi yang ngangkat? Aku jadi ingat kejadian kemarin.

Pas telpon gak ada yang ngangkat, aku buru-buru keluar kamar mandi menimbang perasaan si penelpon. Yang bikin aku sebel, si Sasa yang asyik makan disamping meja telpon. Seolah punya pertemuan penting sama sepiring nasi dan gak bisa diganggu.. “Eh.. bunyi ya..” selorohnya garing. Yang bikin aku mumet lagi, telponnya buat dia lagi. “Aduhh…Sa,tau begini mah aku gak mesti bela-belain keluar hammam” celotehku. “Maallisy deh Fi..” jawabnya singkat.

Please dong yang merasa punya kepentingan supaya peka ama tuh telpon. Kuteruskan motong-motong sabaneh. Bayangkan sodara-sodara. Padahal jarak dapur ama telpon Cuma dua langkah. Namun…”Kriing..kriing….” Akhirnya egoku mulai luluh. Siapa tau orang itu punya urusan penting” pikirku. Kupun melangkah menuju sumber suara.

Ketika jarak antara tanganku dan telpon tinggal 3 senti…”Tunggu Fi, biar aku aja yang ngangkat. Kayaknya dari Ramen deh.” Ujar Mia di pintu kamar. “Aduuh.. kok gak dari tadi neng” gerutuku. “Aku kan gak perlu perang batin gini ” sambungku dalam hati””

Beginilah nasib telpon sama bel di rumahku. Kalo salah satunya udah mulai unjuk gigi, rumah ini seolah gak ada penghuninya lagi. Semua hening…Semua pada cuek, apalagi aku. Sejak kejadian-kejadian itu aku jadi orang paling anti ngangkat telpon ama bukain pintu.  Jadi, kalo mau masuk rumah, mesti bawa kunci. Atau sebelum keluar pesen gini dulu,” Nanti bukain pintu ya…”

***

Panasnya hari ini gak seperti biasanya. Sinar raja siang yang menggarang ditambah badai pasir membuat ku sesak nafas “Buurrr…” angin  plus semburan debu menerpa tubuhku. Segera ku tempelkan sapu tangan ke mukaku untuk menyaring udara yang akan masuk keparu-paruku. Lima menitr.. sepuluh menit…tiga puluh menit.. Ahh… Sudah setengah jam lewat aku menunggu di sini. Namun bus-bus itu belum juga datang. Allah… Aku bener-benar lemas. Tenggorokan ini terasa kering, sekering kuliku yang yang terbakar matahari. Aku ingin cepat-cepat pulang, meminum sebotol air yang sudah dari tadi pagi aku dinginkan di kulkas. Kemudian merebahkan diri di kasur yang empuk sembari menikmati lembutnya hembusan kipas angin.

Akhirnya bus 939 melongok dari simpang Nurul Khitab.  ” Alhamdulillah.. busku sayangku…cintaku…akhirnya kamu datang juga” bisikku setengah meringis.  Kulambaikan tanganku , dan segera ku naik. Subhanallah… Sangat penuh dan sesak. Bak sarden teri yang ditabur bubuk merica, tubuhku pun meringkik di sela-sela himpitan ikan Salmon. Sabar… Aku harus bertahan

“Mutsallas ma”ek!” Teriakku khas dengan logat mesirku yang gak mirip-mirip amat. Aku menyerobot menyibak dempetan manusia untuk bergerak keluar.  Alhamdulillah… Aku sedikit plong. Ku paksakan langkah gontai ini menuju rumah. Perutku mulai menghentak-hentak kelaparan. Dahaga inipun begitu juga.  Sang panas dan debupun terus berlomba-lomba menerpa tubuhku. Namun tak aku hiraukan. Yang penting sampai rumah terlebih dahulu. Ku paculangkah seribu

“Satu..Dua.. Tiga sembilan…empat puluh..” Akupun telah berada di lantai dua, di depan pintu yang sudah tak sabar lagi kusibak. Kurogoh tasku mencari-cari kunci. Hah.. tak ada! Kembali kubongkar semua isi tasku. Benar-benar tak ada.. Terpaksa ku pencet bel yang selama ini tak kuhiraukan. Berkali-kali kupencet, tak kunjung ada yang menggerakkn gagang pintu di balik sana. Lima menit..sebelas menit…setengah jam. Aku tertuduk lemas. Bukankan Yuni dan Itoh udah dari jam sebelas tadi pulang? Tanyaku dalam hati. Kupun merai Hp mungilku, dan mendial “Baiti jannati”. Hasinya tetap nihil. Allah… Sepertinya ini karma” bisikku. Akupun lunglai di depan pintu

kasih tiada batas

25 October 2010 at 11:22 am | Posted in Gen 6, KELUARGA, SASTRA | Leave a comment


by: Fitri Shabrina

mata nanar itu

bak bendungan yang hendak tumpah

alirkan  deras anak sungai

begitu sayu…

 

garis keras dipipimu

siratkan berjuta makna

dalam menapaki tapak demi tapak hidup

sangat pahit…

 

jemarimu yang mulai gemetaran

dengan buku yang mulai mencuat

kalahkan lapisan kulit yang kian menipis

selalu tadahkan doa-doa

mengharap pada Sang Pencipta

di sudut malam nan gelita

 

saat sang raja siang kian membakar

kau terus ayunkan cangkul tua

menanam benih-benih muda

seraya terus lantunkan do’a

demi lambung anak-anakmu yang menganga

memang,

mengharap pada manusia

selalu berbuah kecewa

 

bunda…

cita kami membuatmu berkalang duka

rentetan pinta kami membuatmu tersiksa

namun, tak ada penolakan walau sepatah kata

hanya seulas senyum yang tersungging di sudut bibirmu yang mulia

 

bunda…

betapa kami tiada berbakti

kami penuhi hidupmu dengan tuntutan tiada henti

sedangkan membalas walau setitik jasamupun tak pernah kami sanggupi

sedang kasihmu tiada berbatas lagi

 

bunda…

begitu egoisnya kami

jutaan pinta mengalir dari lidah ini

padahal,

di pengujung malam hari

kau terus memutar keras memori

siapakah yang dapat dihutangi esok pagi…?

KESAKSIAN ANGIN

7 November 2009 at 11:15 pm | Posted in Gen 3, SASTRA | 2 Comments
Tags:

Oleh : Mike Putri Rahayu*

Dibalik sebuah gedung pencakar langit,

jakarta-night-view

Temaram malam menyelimut dalam keremangan Jakarta. Bintang-bintang bertabur membisu. Diantara hiruk  pikuk manusia, aku menyaksikan wanita itu diseret paksa ke balik sebuah gedung. Rontaannya seolah tak berarti tercekal tangan-tangan para lelaki yang jumlahnya entah berapa. Baju yang dikenakannya koyak moyak tak beraturan. Air mata bersimbah melelehi wajah cantiknya. Kemudian dari bibir tipisnya sayup sayup kudengar sayatan ratap mengemis belas diatas ketidakberdayaannya sebagai seorang wanita.

” Tolong, jangan ganggu saya. Kasihanilah saya!”

” Heh, bisa diam tidak?!”

Lelaki berbadan gempal penuh tato menyentak garang. Sementara tangannya mencengkram keras pergelangan tangan kiri wanita itu.

” Sabarlah, cantik! Kami hanya membutuhkanmu sebentar saja. Setelah itu kau bisa kembali pulang dengan mobilmu.”

” ha…ha…ha… ”

Alunan suara tawa komplotan itu begitu memuakkan.

” Biadab!! ” aku meradang.

Badanku meliuk keras meyampaikan protes pada alam. Maka, setan akhirnya meraja meluluhlantakkan sekeping nurani para lelaki durjana itu. Lolongan tangis seorang anak manusia yang ternistakan hanya tertelan kabut malam. Bulan sepotong turut berduka.

Sementara aku? Ingin rasanya kucabik cabik wajah setan-setan berkepala manusia itu. Ingin kuremukkan tulang-tulang mereka hingga aksi hina itu terhentikan. Karena mereka tak lebih dari srigala jahannam yang tak pantas hidup. Ah, andaikan aku punya kekuatan…

Diatas jeritan kepedihan, aku hanya mampu menatap iba. Pilu mengiris kalbuku yang meronta tak rela. 15 menit dalam selimut misteri akhirnya berlalu sudah.

Kini, kusaksikan wanita itu meringkuk ketakutan setelah setan-setan itu selesai melampiaskan nafsu terlaknat mereka. Air matanya mengalir makin deras. Dapat kulihat nyanyian kepedihan dalam tangisnya meratapi kehormatannya yang terampas paksa. Badanku meliuk lembut mencoba membelai wajah cantik wanita itu. Aku masih enggan berlalu sampai kulihat kakinya tertatih-tatih meninggal tempat dirinya diperkosa dengan begitu rupa. Terbang sudah semangat yang semula terpancar dari kedua mata sipitnya. Dari bibirnya kudengar satu rintihan:

” Tuhan, dimanakah keadilan?!”.

————–

1 tahun kemudian, di sebuah panti asuhan,

Aku kembali  menjalani tugas seperti biasa. Meniup, membelai, menghembus atau sekedar memberikan secercah kesegaran pada manusia disela-sela rutinitas mereka. Jam  menunjukkan angka 5 pagi. Aku yakin, tentulah manusia menikmati kesejukanku. Tapi ternyata tidak semua mereka menikmati kesegaran yang kutawarkan. Dikala sang surya baru merangkak naik dari peraduannya, mataku menangkap sesosok tubuh mengendap-endap di keremangan pagi. Dipangkuannya terlihat seraut mungil tertidur lelap. Tiba-tiba naluri ingin tahuku bereaksi.

Kusibak rambut yang menutupi wajah itu dengan sekali tiup hingga muncullah seraut wajah yang  sudah tidak asing lagi di pandanganku. Hei, bukankah aku pernah melihat wanita ini? Ya… tak salah lagi! Dia, wanita yang pernah kusaksikan diperkosa dengan begitu kejam. Apa yang akan diperbuatnya?

Matanya awas memperhatikan sekeliling seolah takut perbuatannya diketahui orang. Setelah yakin tidak ada siapa-siapa, dengan hati-hati diletakkannya bayi yang sedari tadi ada digendongannya. Oh tidak!baby

“jangan!!!” aku berusaha mencegah tapi suaraku hanya menggema dilorong-lorong kegelapan tanpa makna. Tergesa-gesa wanita itu menyeret kakinya menjauh. Tak lama kemudian para penghuni panti dibangunkan oleh suara tangis bayi.

“Ada bayi … ada bayi … cepat kemari !”

—————

Lima tahun kemudian, di sebuah rumah singgah,

Bocah kecil itu kuketahui bernama Tari. Entah kapan ia menjadi penghuni rumah singgah ini. Yang pasti ia dipungut tante Mir – pemilik rumah singgah ini – ketika hampir pingsan kelaparan dekat terminal Senen. Sejak saat itu resmilah Tari menyandang profesi baru sebagai seorang pengemis. Muka bulat telur, kulit putih serta mata sipitnya seperti mengingatkan aku akan seseorang. Kurangsang neuron ingatanku untuk bekerja. Kemudian di pikiranku berloncatan sinyal-sinyal sampai sebuah sketsa wajah terlukis nyata. Ah, bagaimana bisa? Mungkinkah ia anak wanita itu? Aku tak mampu memastikan.

Seperti pagi ini, aku menyapa wajahnya dengan tiupan lembut hingga rambut sebahunya melambai-lambai. Seperti biasa pula, tante Mir memulai wejangan dengan wanti-wantinya,

” Ingat ya, jam 5 sore kalian semua harus pulang. Awas, jangan coba-coba melarikan diri.ok?”

” Baik, tante.” 15 pasang kepala mentarigangguk lesu. Tak ada keriangan terpancar dari raut muka mereka.

Kembali kuperhatikan wajah mungil milik Tari. Ah, tatapan sendu itu,  seolah menagihku membelai laranya. Matanya nanar memandang langit seakan bertanya kapan kebahagiaan akan menjamah hatinya yang masih bening tak bernoda.

Aku mengiringi langkah-langkah kecil Tari menyusuri gang sempit menuju jembatan penyebrangan, sebuah tempat yang dipilihkan Tante Mir untuknya mengemis. Dengan rambut kusut masai, kaki koreng moreng dan baju penuh tambalan, Tari memang mengundang belas kasihan sesiapa saja yang memandangnya. Termasuk aku.

Dugaanku tepat! Jam baru menunjukkan angka 12 siang, tapi lembar lembar lusuh senilai lima ribu rupiah telah dikantonginya. Ketika azan zuhur berkumandang, Tari akan termangu-mangu keheranan. Kemudian langkahnya terseret pelan-pelan mendekati masjid di seberang jalan. Tari memperhatikan orang-orang berwudhu. Dengan wajah yang masih malu-malu, ia juga akan mengikuti gerakan-gerakan sholat di barisan saf paling belakang.

Kadang kala kuperhatikan tersembul dari bibirnya segaris senyum tatkala melihat ukiran kaligrafi yang terpajang indah. Satu hal yang jarang kutemui ketika Tari berada di rumah Tante Mir.

” Ya Allah, Semaikanlah hidayahMu pada hatinya yang masih putih” Kutabur sejumput do’a tulus untuk Tari.

Sinar  si raja siang mulai merangkak turun. Pukul 3 sore hari itu, Tari duduk bersimpuh seperti biasa sambil menadahkan tangan pada orang yang lalu lalang. Ketika sekonyong-konyong segerombolan remaja berandal dengan mata merah menyentak tubuh kecilnya dengan keras. Jembatan sepi, tak ada siapapun yang terlihat.

” Heh, jelek! Dapet berapa hasil lu mengemis hari ini?!”

” Ayo serahkan semua uang lu, kalau tidak…” seorang diantara mereka mengancam dibawah acungan sebilah pisau dapur. Aku tersentak. Kuperhatikan wajah Tari yang menggigil ketakutan.

” Jangan, kak! ” katanya memohon. Tapi tanpa ampun, tangan-tangan mereka telah menggerayangi kantong bajunya.

” Jangan, kak!” Tari masih mengiba.

” Diam!!! Awas kalau teriak…” Berandal itu tertawa menjijikkan  setelah mendapatkan yang mereka cari.

Darahku mendidih menahan murka. Maka dengan sekuat tenaga, kuliukkan tubuhku sekeras-kerasnya. Debu-debu  beterbangan. Tepat! Mata mereka pedih kemasukan debu.

” Angin sialan !!!” Rutuk mereka.

Aku tak peduli. Kembali kupandangi Tari. Mata bulatnya berkaca-kaca. Tubuhnya sesenggukan menahan tangis yang bisa jadi keras jika dilepas.. Tersaruk-saruk kakinya menuruni tangga jembatan. Ya Rabb… ia nekat meminta minta pada pengemudi mobil-mobil pribadi yang berhenti terhalang lampu merah. Ya, aku tahu, sedari tadi pagi, belum sebutir nasi pun menjambangi perut kosongnya.sad

” Om, sedekah, Om. Buat makan, Om.” Air mata masih tersisa di pelupuk, takut-takut Tari mendekati sebuah mobil pribadi. Di dalamnya duduk seorang Bapak berdasi. Orang itu terhenyak kaget. Lalu dengan muka masam dan tanpa perasaan ia menutup kaca mobil sambil merutuk,

” Kalau mau duit, kerja! Dasar pemalas.” Aku terpana. Seandainya aku punya air mata, pastilah sedari tadi ia telah membuncah merangkai lautan nestapa. Seandainya aku… ah…

” Wahai Zat yang maha Adil, dimanakah keadilan. Dimanakah keadilan?” kali ini kubangun tanya diatas asa.

`           Apa yang telah terjadi di negeri ini? Apakah anak bangsa ini sudah tak punya lagi kepekaan terhadap sesama? Kemana hati para tuan-tuan tanah, penghuni gedung-gedung bertingkat, pemilik perusahaan-perusahaan kelas atas?. Kemanakah LSM-LSM yang berkoar-koar mengatasnamakan HAM?. Kemanakah para pejabat yang mengaku reformis dan pancasilais berkoar-koar mengagungkan sila ” kemanusiaan yang adil dan beradab.” Begitu mudah rupiah dihambur-hamburkan di restoran-restoran, mal dan pusat perbelanjaan, hotel-hotel mewah. Sementara si miskin yang papa masih berserak dimana-mana.

Ingin kumusnahkan kesenjangan ini hingga tak ada lagi wanita-wanita yang kehilangan kehormatannya, tak ada lagi orang tua yang tega mengikis naluri keibuan dari dirinya, tak ada lagi bocah-bocah yang jadi korban manusia-manusia licik demi mengejar lembar-lembar fitnah bernama rupiah.

Ternyata aku hanya bisa berandai. Karena aku bukanlah manusia seperti mereka. Kodratku adalah angin yang harus patuh pada SunnahNya.

Entah penindasan apa lagi yang akan kusaksikan esok, lusa atau esoknya lagi. Aku hanya bisa menunggu.

*Lulusan Tafsir Al-Azhar – Gen 3 MAKN Putri

Cerpen ini adalah pemenang juara II dalam lomba karya tulis Media mahasiswa Kairo TëROBOSAN 2004.

SERPIHAN LUKA YANG BERSERAK

31 October 2009 at 10:53 pm | Posted in Gen 3, SASTRA | 2 Comments
Tags: , , ,

Oleh: Mike Putri Rahayu*

Tatkala badai yang mendewasa mengungkung asa, diriku terhempas di terjalnya jurang sukma. Terpuruk ragaku mengenyam empedu. Dalam kebimbangan ini kurasa dunia bukan lagi tempatku bersinggah membangun harap. Bening hatiku pupus dimakan waktu.

uin jakartaAku masih terpaku di antara hiruk pikuk keramaian kampus. Cekikikan beberapa mahasiswi tak membuat kepalaku bergeming untuk menoleh pada mereka. Sapaan ringan teman-teman seangkatan kubalas dengan anggukan sopan. Tentu saja, pikiran dan perasaanku masih hanyut pada bait-bait kalimat di selembar kertas buram yang kini berada dalam genggamanku. Ketika tanpa sengaja aku menemukan sebuah buku tergeletak begitu saja di halaman parkir. Nuraniku menyuruhku untuk memungutnya. Hingga tanpa kusadari, selembar kertas terselip jatuh dari dalamnya.

Hm… siapa gerangan pemilik buku ini? Tanganku sibuk membolak balik sementara mataku awas menelusuri tulisan-tulisan didalamnya sampai akhirnya kubaca sebuah nama di sudut atas sampul bagian dalam buku tersebut:

HARI BUDIMAN, FAKULTAS PSIKOLOGI, TINGKAT TIGA

“Allaaahu akbar… Allaahu akbar!”

Senandung azan magrib menyadarkanku untuk segera mengayun langkah menuju kost-an di seberang jalan. Buru-buru kumasukkan buku tersebut ke ransel miniku. Senja makin merah. Semburat rona pelangi mewarna indah memayungi alam Jakarta.

Nun, jauh di sudut hatiku, masih tersisa sejumput kagum terhadap bait-bait yang tadi kubaca. Ada tanya yang menggantung : apa yang tengah dirasakannya ketika menulis untaian kata itu?

***

Sengatan terik mentari meraja di waktu zuhur usai menjelang. Salat zuhur yang kutunaikan di mesjid kampus, membuka ruang nyaman di bilik hatiku. Segarnya es kelapa cukup menghilangkan senut-senut di kepalaku habis mengikuti kuliah pak Sidarta, si dosen killer itu.

Uff… kuhembuskan nafas lega. Karena siang ini tak ada mata kuliah yang harus kuikuti. Tiba-tiba ingatanku melayang mengenang sesuatu. Buku itu. Ya, semenjak tadi malam telah kupupuk niat untuk mengembalikan buku tersebut kepada si empunya.

fakultas psikologi UIN JakartaKubayar minuman dengan sedikit tergesa. Kakiku pun terayun menuju Fakultas Psikologi. Gesekan langkahku terasa lebih berirama ketika ubin-ubin Fakultas Psikologi ini kutapaki.

“Assalamu’alaikum, Ton…”aku mencegat Toni, calon psikolog sekaligus teman seorganisasiku di LDK (Lembaga Da’wah Kampus).

“Wa’alaikum salam… Arif? Ada angin apa nih?” senyum hangat Toni menyambut sapaku.

“Afwan mengganggu sebentar. Ente kenal yang namanya Hari Budiman nggak? Aku ada perlu sama dia.”

“Tingkat berapa?” Toni balik bertanya.

“Tingkat tiga.” Jawabku cepat.

“Mmm…Hari Budiman?” Toni tampak berpikir keras. “…kayaknya aku nggak kenal deh,Rif. Sebaiknya Ente tanya aja ke teman seangkatannya di lantai empat.”

“Oke deh, kalau begitu. Syukran ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.” Aku dan Toni pun berpisah.

3229278733_39411b3e89_oTernyata mencari seorang Hari Budiman tak semudah yang kubayangkan. Hampir satu jam berlalu ketika kutemukan sosoknya menyendiri di pojok taman kampus. Sepoi-sepoi angin melambaikan rambut gondrongnya. Wajahnya yang tertunduk seolah tenggelam di balik bahu lebarnya. Aku mendekat.

“Hm…maaf, saudara yang bernama Hari Budiman?” Kepala yang semula tertunduk itu mendongak.

“Ya…saya Hari Budiman. Ada apa ya?!” tanyanya kemudian. Aku sempat tertegun sesaat menyaksikan tatapan sendu yang memancar dari kedua mata elangnya.

“Oh, saya hanya ingin mengembalikan ini.” Tanganku cekatan mengulurkan buku miliknya.

“Terima kasih…” ucapnya dengan senyum tipis.

Siapa sangka, ternyata perkenalan itu membawa kami ke gerbang pertemanan. Tak mudah memang bagiku untuk dekat dengan pribadinya yang pendiam. Tapi kurasa itulah sisi unik yang kusuka dari Hari. Maka sejak saat itu, entah mengapa naluri ingin tahuku menyentak-nyentak beraksi mendorongku untuk lebih banyak tahu tentang kehidupannya.

“Dia seorang yang tertutup, suka menyendiri…” ucap seorang temannya ketika kutanya.

Nyamankah ia menikmati kesendiriannya? Akankah bening hatinya terkikis tatkala kesunyian menjemput? Adakah ia merasa sepi? Tanya dihatiku merebak.

***

Bukanlah angin yang mengirimku untuk menjadi sahabat bagi seorang Hari. Mungkin akulah satu-satunya orang yang dibiarkan masuk ke dalam hidupnya. Satu-satunya orang yang diterimanya sebagai teman. Teringat kembali bait-bait yang pernah ditulisnya di selembar kertas waktu itu, membuatku makin berkeinginan untuk menyibak tabir duka yang disimpannya. Tatapan sendu berkabut, Senyum yang hampir tak pernah hadir, permenungan yang kadang dihiasi titik-titik bening, cukuplah sebagai tanda suatu sisi buram bersemayam utuh di ruang hatinya. Meski ia tak pernah berucap.

badai lukaSeperti di suatu pagi yang basah, kutemukan dirinya diam dalam tangis yang menjalar.

“Assalamu’alaikum Har? Ada apa?”

“Wa… wa’alaikum salam ” gelagapan Hari menjawab salamku. Kami sama-sama terdiam.

“Ada apa ? mungkin aku bisa membantu. Berceritalah!…” tanganku menjangkau punggungnya bersimpati.

Sunyi. Rumput-rumput dan dedaunan bergoyang meningkahi tiupan angin. Seliweran mahasiswa mulai kelihatan di gerbang kampus. Namun Hari masih membisu.

“Rif, menurutmu Tuhan itu Maha Adil apa tidak ?”

Katanya pelan.

“Tentu saja !”ujarku cepat.

Setelah itu benar-benar sunyi. Hari membiarku menunggu. Dari mulutnya tak lagi keluar sepatah katapun.

***

“Rif ada titipan…’ sapaan pertama Ahmad, teman sejurusanku menghentikan langkahku menuruni tangga gedung fakultas. Kuliah hari ini begitu melelahkan. Aku ingin secepatnya sampai di rumah. Istirahat.

“Dari siapa ?” tanyaku pada Ahmad. Yang ditanya angkat bahu.

“Terima kasih ya…” kutampilkan segaris senyum pada Ahmad sebelum berlalu.

Setiba di kost-an, hati-hati kubuka bungkusan yang tadi diberikan Ahmad bersampulkan kertas koran. Hei… ternyata sebuah diary. Milik Hari!

8 november 03

Badai tak berkesudahan menghampir. Aku bukanlah malaikat yang senantiasa mampu memikul beban prahara. Bukan pula nabi yang punya segudang kekuatan dengan sejuta kesabaran. Aku hanya seorang nista yang punya lara di atas serpihan duka. Aku juga punya luka tatkala mendengar sebuah berita : bahwa aku bukanlah anak kandung dari orang yang selama ini kupanggil ayah. Ia bukan ayah kandungku. Ia pamanku! lalu ke mana ayahku? Di mana ibuku? Ke mana harus kukejar kasih itu? Dimana harus kutagih cinta itu?.

Kubiarkan senja berlalu yang tak mampu menjawab tanya.

Desember 03

Perjalanan waktu dari hari ke hari semakin tua. Kukuatkan raga untuk menuliskan kilas gelap rantai hidupku yang kejam. Siapa yang bisa menyangka, kalau aku pun berhak tahu atas semua. Telah kurambahi hitamnya gulita. Kukorek-korek hingga muncul sebuah kepastian.

Ayah dan ibuku meninggal di sebuah kecelakaan. Di usiaku 3 tahun kala itu, aku belumlah mampu melukis sosok ayah dalam memoar ingatanku.

Februari 04

Terjawab sudah rangkaian semu yang melilit perjalanan panjangku. Ayahku seorang saudagar kaya. Dan dia! Pamanku, ia menyeretku paksa ke kehidupannya. Melarikanku ke sebuah lembah yang tak kukenal dan memaksaku memanggilnya “Ayah…”. Sementara ia berpesta pora dengan harta peninggalan ayah tanpa sedikit pun memberitahuku. Serakah!!

Takkan menganga lukaku, jika ia tak menganggapku sampah di rumahnya sendiri. Membedakanku dari anak-anaknya yang lain. Menganaktirikanku. Ternyata memang aku bukanlah darah dagingnya.3436404081_b8a3e4072b_o

Kini, 23 tahun sudah aku bagai burung tanpa sarang. Tak punya tempat kembali. Kepada siapa harus kulabuhkan diri ini sementara pelayaran belum lagi mencapai tepi. Apakah dunia ini masih berhak kusinggahi? Masihkah ada harap uintuk merenda keping hatiku yang berserak?

Kuhembuskan nafas berat setelah membaca diary milik Hari. Ah, sebegitu dalam deritamu, Kawan. Kenapa tak berbagi?! Masih ada Dia, Zat Yang Maha Adil dan Penyayang. Ia takkan meninggalkanmu…

Kairo, 10 oktober 2004.

*Lulusan S1 Jur. Tafsir Univ Al-Azhar, Gen 3 MAKN Putri

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin MITRA edisi 51

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.