PROSES DI ATAS SEGALANYA

25 November 2010 at 10:36 am | Posted in AKHLAK, Gen 7, MOTIVASI, ORGANISASI | Leave a comment

Oleh: Musrida Arneili Lc.

Kejayaan Islam yang sedang kita nikmati sekarang bukanlah sebuah hadiah cuma-cuma dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada kekasih-Nya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejarah menyatakan bahwa sang kekasih yang memiliki kedudukan mulia disisi-Nya baru Ia angkat menjadi seorang nabi ketika berumur 40 tahun, setelah terlebih dahulu melalui cobaan yang datang silih berganti demi untuk memantapkan keteguhan iman nabi-Nya. Mulai dari ujian ditinggal mati ayahandanya sejak masih dalam kandungan, kematian ibu ketika kecil dan hingga remaja pun masih sering berpindah tangan dalam pengasuhan, dihina, dicaci dan disakiti. Semua itu proses…
Al-Qur’an diturunkan sedikit demi sedikit, ditalqinkan, dibacakan kepada nabi-Nya selama lebih kurang 23 tahun. Andai Allah mau, pasti Dia bisa saja menjadikan kekasih-Nya itu bisa langsung hapal Al-Qur’an dan menjelaskannya kepada umatnya. Namun kenyataannya tidak! Beliau menerimanya selama bertahun-tahun dan penuh perjuangan. Lagi-lagi itu adalah proses…
Bumi dan langit serta isinya mengalami proses penciptaan dan penyempurnaan dalam kurun waktu 6 masa, sebagaimana dijelaskan dalam surat Fusshilat ayat 9-12 dan dalam surat Qaf ayat 38. Tak diragukan lagi bahwa sang Pemiliknya mampu menciptakannya -dari tiada menjadi ada- hanya dalam waktu sekejap saja,”kun fa yakun”. Namun Dia tak menginginkan hal itu, karena Dia yang Maha bijaksana lewat ayat ini ingin mengajarkan pada hamba-Nya tentang pentingnya arti sebuah proses.
Kesuksesan adalah hasil dari sebuah proses. Mau tak mau seseorang harus berteman dengan proses, sadar atau tidak mengabaikan sebuah proses adalah pintu menuju kekecewaan. Tak ada seorangpun mampu menunjukkan keberhasilannya tanpa melalui sebuah proses. Dan tentunya orang yang melalui proses yang berat dan panjang tentunya akan mendapatkan hasil yang jauh berbeda dibanding orang yang melakukan segala sesuatunya dengan serba instant.

Belakangan kita lihat banyak yang mengabaikan proses, mereka lebih berorientasi pada hasil. Inginnya instant, proses pendek tapi mengharap hasil maksimal. Jika setiap orang lebih mementingkan hasil daripada proses yang ada hanyalah kecendrungan untuk mencari jalan pintas, apalagi di zaman yang serba canggih seperti sekarang. Kriminalitas adalah salah satu akibat dari diabaikannya proses. Mereka ingin punya banyak harta tanpa mau menjalani proses usaha.
Sesuatu yang dihasilkan melalui proses tentu lebih bermutu dibandingkan hasil tanpa proses. Contohnya saja pisang. Pisang yang baru dipetik dan langsung dijual tentu harganya berbeda dengan yang telah diolah dengan tepung dan melalui beberapa proses hingga menjadi lemper. Dan tentunya lagi, pisang yang cuma diolesi tepung dan menjadi goreng pisang tak semahal pisang bakar coklat atau keju yang proses pembuatannya lebih rumit dengan tambahan bahan yang lebih mahal. Proses menentukan kualitas dari sebuah hasil. Semakin sulit, rumit, bahkan berat prosesnya tentu akan menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai.
Dalam keseharian sering kita dengar “Enaknya,,, yang dah wisuda en bentar lagi mo pulang dengan bawa Lc…”. Demikian komentar sang junior melihat keberhasilan seniornya. Dan ketika melihat teman yang sudah banyak hapalannya selalu ada yang bilang “asyik ya, bentar lagi dia khatam”. Begitulah yang sering kita hadapi dan lalui, cuma melihat hasil tanpa mau sedikit merenungi kilas balik perjuangannya. Terkadang banyak yang cuma sekedar berkomentar tanpa mau tahu proses panjang yang mereka lalui untuk menggapai kesuksesan itu. Jika kita hanya melihat hasil dari kesuksesan seseorang, berarti kita tidak sedang mulai mencontoh jejak langkah orang tersebut, melainkan sekedar memuji tanpa aksi nyata untuk ikut sukses di kemudian hari.

Proses panjang akan terasa sangat berat jika kita hanya berorientasi pada hasil akhir. Coba kita perhatikan ibu hamil 9 bulan yang kemana-mana harus bawa “genderang besar”, tentunya berbeda dengan kita yang tiba-tiba mau merasakan keadaan mereka dengan langsung mengikatkan sekantung beras dipinggang, karena mereka telah melewati proses panjang hingga menjadi sebuah kebiasaan yang dijalani dengan ikhlas. Satu poin penting lagi, proses apapun itu harus dijalani dengan sabar, ikhlas dan istimrar.
Nah kebetulan tema kali ini tentang Indo-Kairo-kuliah dan ujian, tentunya ini adalah sebuah rangkaian proses. Proses untuk menjadi seorang muslimah da’iyah yang dinanti kehadirannya oleh umat Islam di Indonesia -tanah air kita- terkhusus keluarga dan kerabat tercinta.
Jauh sebelum hari ini -hari penantian bagi yang mau pulang dan awal perjuangan bagi yang baru datang- kita semua telah mengawali proses itu. Tak ada kata terlambat untuk mampu menjadi yang terbaik demi mereka yang selalu menanti kedatangan kita.

So, hendaknya kita semua selalu tajdid niat untuk menikmati sebuah proses dan bukan sekedar hasil. Kembali hadirkan di depan kita target-target yang telah kita rancang kemaren dan berikan haknya berupa pelaksanaan. Kalo yang mau instant, bersiap-siaplah untuk kecewa suatu saat nanti. Dan bagi yang iltizam, tetaplah istiqamah dan penuh semangat! Wallahu musta’an…

Advertisements

Menyongsong ‘Back To Campus’

25 November 2010 at 10:22 am | Posted in AKHLAK, Gen 7, MASISIR NEWS, MOTIVASI | Leave a comment

 

Oleh: Elvi Rahmi

 

Tidak terasa sudah tiga bulan lamanya kita menikmati libur musim panas. Berarti sudah tiga bulan kita tidak disibukkan oleh aktifitas perkuliahan seperti menghafal muqarrar, muhadharah, membuat bahats dan sebagainya, walaupun mungkin di waktu libur kita masih disibukkan oleh ijraat/administrasi kuliah seperti mengurus tashdiq atau yang lainnya.

Pertanyaannya apakah waktu liburan yang berbulan-bulan ini telah kita menggunakan dengan baik dan mengisinya dengan hal yang bermanfaat? Hanya pribadi kita masing-masing yang bisa menjawab karena kita sendirilah yang bisa merasa dan menilai apakah kita telah menghasilkan hal-hal bermanfaat selama liburan ini atau malah sebaliknya.

Waktu libur yang sangat panjang ini memang merupakan ladang empuk yang bisa diisi dengan seabrek aktifitas bermanfaat. Namun -kita sadari atau tidak- liburan panjang ini juga bisa menjadi ancaman besar yang bisa menghabiskan waktu kita dengan kesia-siaan dan kelalaian lalu berakhir tanpa makna dan hasil apapun.

Jika kita perhatikan di kalangan Bundo Kanduang secara umum, Alhamdulillah waktu libur ini lebih digunakan untuk menambah kegiatan-kegiatan ekskul yang bermanfaat seperti program tahfiz al-Quran dan hadis, les bahasa Arab, les kaligrafi, talaqqi di mesjid Al-Azhar dan sibuk dengan berbagai kegiatan keorganisasian. Tentunya juga dengan berwisata di negeri para Nabi yang eksotik ini dan banyak hal positif lainya. Semoga di liburan kali ini masing-masing kita telah menghasilkan hal-hal yang terbaik dan bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Amiin…

Nah akhir liburan berarti awal kembali lagi ke bangku perkuliahan atau yang lebih populer dengan istilah “back to campus”.

Apa sih back to campus itu? Back campus adalah kembali lagi ke aktivitas perkuliahan setelah meninggalkannya sekian lama untuk liburan.

Kalau di tanah air, awal tahun ajaran baru selalu diwarnai dengan kemeriahan dan gegap gempita. Betapa para mahasiswa dan anak-anak sekolahan menikmatinya dengan suasana baru. Datang ke kampus atau sekolah dengan segala yang serba baru, semangat baru, teman baru bahkan kelengkapan belajar baru. Terlebih anak-anak Sekolah Dasar, ketika mulai sekolah kembali selalu saja identik dengan baju baru, tas baru, sepatu baru serta buku dan alat tulis baru. Mungkin jika tanpa pakaian baru itu serasa tidak naik kelas, sehingga para orang tua pun harus mengeluarkan banyak uang jika telah mulai awal tahun ajaran, malah kadang lebih banyak dibanding pengeluaran lebaran. Para pedagang pun meraup keuntungan berlipat-ganda.

Bagaimana keadaan disini, di Kairo ini? Suasana tahun ajaran baru di Kairo ini tak semeriah di Indonesia. Yang paling kita rasakan disini adalah jika aktivitas sekolah dan perkantoran dimulai, jalan-jalan akan mengalami kemacetan.

Lantas bagaimana kita sebagai seorang mahasiswi al-Azhar menyongsong “back to campus” ini? Apakah sama dengan pemahaman anak-anak sekolah Dasar yang memaknai lebih kepada hal-hal kebendaan yang serba baru, ataukah bahkan tidak merasakan sama sekali “back to campus” itu karena liburan dan kuliah sama saja, tidak harus datang ke kampus dan mengikuti muhadharah?

Sebenarnya ada tantangan tersendiri bagi kita seorang mahasiswa Al-Azhar dalam menyikapi “kembali ke kampus” ini, karena di Al-Azhar para mahasiswa tidak dipaksa untuk hadir kuliah, dengan kata lain hadir atau tidak hadir kuliah tidak jadi masalah. Ini mungkin menjadi salah satu sebab kenapa sebagian kita malah tidak merasakan momentum baru ketika tahun ajaran telah dimulai kembali

Yang ingin ditekankan disini, apakah dengan keadaan seperti ini kita tetap bisa untuk membiasakan diri selalu hadir kuliah meski sebenarnya kehadiran kita tidak pernah dipertanyakan oleh sang dosen, malah datang sekali setahun hanya untuk ujian pun oke-oke saja. Disinilah tolak ukur bukti kesungguhan kita sebagai seorang duta keluarga, masyarakat dan bangsa.

Apakah kita dikirim kesini hanya untuk berdiam di rumah atau hanya sibuk dengan organisasi dan hanya hadir ke kuliah jika ujian? Sementara keluarga kita dan bahkan masyarakat di kampung kita sudah barang tentu berprasangka baik bahwa kita di Kairo ini sedang kerja keras kuliah, menimba ilmu di kampus Al-Azhar dan bertatap muka dengan para dosen Al-Azhar.

Apakah harapan dan prasangka mereka hanya kita bayar dengan duduk-duduk dirumah dan hanya hadir ketika ujian akan digelar? Lalu apa yang akan kita jawab nanti jika mungkin suatu saat timbul pertanyaan dari mereka tantang siapa nama dosen  yang mengajar ini atau itu? Inilah yang harus kita sadari dan selalu menjadi ingatan kita bahwa kegiatan seorang mahasiswa adalah menghadiri kuliah. Lain halnya jika seorang pengangguran kerjanya ya cukup duduk-duduk dirumah saja.

Namun kadangkala banyak diantara kita yang masih menyia-nyiakan keberadaan kita di Kairo ini dengan merasa bisa tetap mendapatkan ilmu walau tanpa hadir kuliah. Padahal tujuan awal kita semua kesini adalah untuk kuliah. Memang tidak ada salahnya berkecimpung dalam aktifitas lain di luar aktifitas kuliah, tapi dengan berbagai kesibukan ekskul tersebut bukan berarti kita meninggalkan bangku kuliah sama sekali.

Betapa banyak manfaat yang bisa kita dapatkan jika hadir kuliah. Yang pasti kita bisa menimba ilmu dari para duktur Al-Azhar yang jelas lebih dalam mempelajari agama di bandingkan kita. Kita bisa belajar bagaimana cara seorang duktur menjelaskan tentang agama ini yang mungkin bisa kita gunakan untuk menyebar dakwah di negara kita nanti. Hendaknya kita jangan pernah merasa puas hanya memahami muqarrar dengan membaca sendiri di rumah. Masih banyak pelajaran-pelajaran di luar muqarrar yang bisa kita dapatkan jika bertemu langsung dengan para duktur. Banyak hal-hal baru yang disampaikan ketika muhadharah yang pasti kita butuhkan nanti jika kembali ke tanah air.

Mudah-mudahan ke depan kita bisa benar-benar mengisi hari-hari kuliah dengan mengikuti muhadharah dan bisa menimba ilmu langsung dari ahlinya.

Tulisan singkat ini hanya sebuah alarm bagi penulis pribadi dan kita semua yang mungkin kadang terlupa atau membiarkan diri untuk lupa dengan tujuan awal kita kesini. Lalu berpuas hati hanya dengan membaca muqarrar di rumah dan hanya hadir kuliah jika ujian saja. Wallahu A’lam bi as-Shawab ^_^

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

BACK TO KAMPUS (cerpen)

25 November 2010 at 10:12 am | Posted in Gen 8, MOTIVASI, SASTRA | Leave a comment


Oleh: Ervyta Sari

Yup… Start!!! Aku harus mulai dari sekarang, kalau tidak kapan lagi. Kata-kata ini sering menjadi pemacu diri ini kala hati lesu lunglai menjalani hidup dengan banyak bersantai, jalan dengan gontai, dan tangan pun ikut menari lemah gemulai. Kalo udah seperti itu, hidupku seakan hampa, seolah tak ada bingkai cita-cita yang harus ku kejar dan ku jadikan hadiah pada orang tua. Padahal niat mulia yang selalu kusemat dalam dada adalah menjadi thalibatul ilmi yang mulia. Dan ketika kaki sudah menginjak bumi kinanah ini semua seakan menjadi berbeda. Niat yang kutanam kuat mulai goyah dihantam kabut pasir padang sahara. Niat yang lurus mulai bengkok dan lemah dimakan usia. Seakan cita-citaku hanyut dibawa terjangan ombak pantai Alexandria. Namun, ku yakin aku kesini bukan terpesona oleh gemilang kota Alexandria atau cantiknya pesona Cleopatra.

Aku bukanlah gadis yang tak punya mimpi. Menjadi sang pemimpi untuk menjadi sang pemimpin itu sangatlah berarti. Dimulai dengan mimpi berharap menjadi cahaya yang abadi. Paling awal mejadi pemimpin hati diri sendiri agar bisa senantiasa mengaturnya, agar bisa membawa pada jalan yang lurus dan hakiki. Kalau bukan diri ini  yang memulai siapa lagi. Karena ku yakin motivasi terbesar terdapat dalam diri ini sendiri. Yah, aku harus bisa dan aku harus yakin bahwa potensi itu masih ada, masih tertanam kuat dalam jiwa, masih bersih dan belum ternoda. Ku yakin masih ada kesepatan kedua, ku tanamkan dalam relung jiwa taubat nasuha, agar hidupku kembali teratur dan berjaya diakhirnya.

Kata bunda, ku anak manja, kata ayah ku sangatlah gigih hingga mainan yang ku pinta pada ayah belum juga dikasih aku akan terus menangis. Sebelum dapat apa yang dicari tak mau berhenti, untuk sebuah mainan aku mampu seperti itu, karena itu ku sangat yakin untuk cita-citaku ku bisa lebih gigih dari itu. Kata kakak ku orangnya telaten dan rapi, hingga ku jarang lupa jadwal harianku, selalu ku kerjakan tepat waktu. Karena ku tau waktu tak kan setia menemaniku. Dia akan terus berjalan hingga hujung waktu. Karena waktu adalah kehidupanku. Tanpa waktu ku hilang ditelan bumi dan berakhirlah sejarah hidupku. Kata adik, aku sangat penyayang. Bermain bersama disaat ibu sibuk membereskan pekerjaan rumah tangga. Itu kata mereka, namun kataku gimana….?

Yah… inilah aku, yang terkadang sering sedih tak menentu. Kadang aku malu, tak mampu seperti teman-temanku yang semangat dan gigih mencari ilmu. Ku akui, selama ku di Kairo bisa dihitung hari kuliahku. Bisa dihitung kapan ku datang memenuhi jadwal bimbel. Organisasi…? Untuk yang satu ini, aku sudah mulai tidak mau ikutan lagi. Jadwal tidurku melebihi jadwal belajarku. Oh diriku… sedarlah…? Kau bukan berada di tanah airmu. Kau jauh-jauh datang dari negeri hanya untuk tidur dan berdiam diri di kamarmu. Berpisah dengan orang tua, kakak, adik, dan keluarga semua demi ilmu yang sangat kau damba. Oh diriku…? Lihatlah alam luar, kau akan menghirup udara segar. Belajarlah dari dunia sekitar agar kau semakin besar dan bertambah tegar.

Kini jadwal kuliah sudah tertera di dinding kelas. Ku masih asyik bermain dan bermalas-malas. Ya Allah hatiku beku untuk kembali berjuang dalam menuntut ilmu, otak ku beku setelah liburan panjang menemani hari-hariku. Anugrahi salju rindu dalam jiwaku agarku fresh menjalani padang pasir yang berdebu. Pancarkanlah cahaya iman dalam qalbuku agar ku mudah memahami setiap ilmu dari-Mu. Jadikanlah aku diantara para penuntut ilmu yang ilmunya selalu bermanfaat sepanjang waktu. Jadikanlah hari ini lembaran baru bagiku sebagai tebusan lembaran usang yang dulu penuh kesia-siaan dan keputus asaan. Temanilah aku dengan ridho-Mu di setiap jejak langkah yang ku lakukan. Moga ini langkah awalku menuju jalan yang kau cintai, jadikan aku termasuk hamba yang kau cintai, dan bawa aku kesurga yang kau ridhoi, surge yang haqiqi.

“Upsss… gi ngapain mbak…? Cie… cie… yang gi buat surcin…?” Tiba-tiba Khairiyah mengejutkan Annisa yang dari tadi sibuk memainkan jari di notebook mungilya.

Annisa gadis yang hoby baca tulis, jadi wajar dia suka menuliskan isi hatinya di lembaran MS Word. Yang namanya diary ya nggak mau dong dipublikasi, akhirnya teman-temannya sewot sendiri dan godain Annisa dengan gurauan yang kadang bikin geli. Buat surcin la alias surat cinta, buat proposal la, atau gurauan lainnya. Maksud proposal disini bukan proposal bantuan dana, atau program kerja, tapi surat lamaran ke ikhwan…

“Biasa mbak, lagi ngadu ma ke kasih hati. Dah lama ni nggak ngadu via surcin. Kalo dari hati ke hati, dah biasa kali, kalo pake surcin sungguh luar biasa. Bisa merasuk dalam ruang dada”, Nisa menimpali.

“Bisa ja kamu. Oh ya anis, kamu dah dapat jadwal kul belum? Aku dah dapat nich. Kamu mau gak?”

“Hmmm.. gimana ya…? Pikir-pikir dulu deh”

“Kamu masih seperti dulu ya, tak berubah. Ke kul jarang. Kalo gak mau kul, ngapain kesini coba”.

“Hmm… hehehe.. senang banget aku kalo mbak Khairiyah marah. Serasa dapat durian runtuh. Hmmm enaknya buah durian”. Anis masih saja bercanda.

“Mbak Khairiyah sayang, aku dah dapat jadwal kok. Bahkan ada rencana mau jadi yang pertama datang, barisan pertama duduk di bangku kelas”

“Lebay kamu”, Khairiyah menertawakan.

“ Berangkat bareng yuk…”, semangat sedang menggebu di hati Anis.

“Ayuk, siapa takut. Tapi ingat ye… tak boleh tidur pagi”

“Iya.. bu gulu.. back to kampus, keep spirit chayoo…”

 

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

KONTINIUTAS ILMU

25 November 2010 at 10:10 am | Posted in AL-QURAN, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment

Oleh: Rike Veronisa*

Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim karena landasannya termaktub dalam Al-Quran dan hadits. Namun, menuntut ilmu tidak hanya sekedar dilaksanakan lalu lepaslah tanggung jawab. Akan tetapi, jika ingin mendapatkan ilmu, khususnya ilmu agama seharusnya setiap muslim melengkapi syarat-syarat sebagai seorang penuntut ilmu. Karena dalam Islam, standar hidup seorang muslim yang ideal adalah batas kecukupan, bukan batas pas-pasan.

Azzarnuji dalam kitabnya Ta’lim Al-Muta’llim menyebutkan perkataan Imam Syafi’i tentang syarat-syarat seorang penuntut ilmu, yaitu :

1. Cerdas.

Kecerdasan merupakan anugrah Allah yang ada pada diri seseorang sejak lahir. Bukan berarti orang yang kurang cerdas tidak bisa belajar karena maksudnya di sini adalah setidaknya seorang yang cerdas mempunyai kemampuan dasar untuk menyerap ilmu dan mengolahnya dengan otaknya. Kecerdasan berbeda dengan kepintaran karena kepintaran diperoleh dari kerajinan.

2. Rakus mencari ilmu.

Menurut Imam Syafi’i penuntut ilmu tidak boleh cepat merasa puas terhadap apa yang telah diketahuinya dan jangan hanya menuntut ilmu di satu daerah saja. Jangan takut menderita, kenikmatan hidup dapat dirasakan sesudah menderita.

3. Penuh perjuangan dan sabar.

Surat Ali Imran yang terdiri dari 200 ayat menjelaskan tentang perjuangan berat Rasulullah sepanjang hidupnya di pertempuran Badar dan Uhud. Sabar yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu adalah sabar yang aktif yaitu mentalitas ketahanan belajar, memiliki mental yang kuat untuk tekun belajar dan berusaha keras. Dan salah satu bagian sabar adalah konsentrasi dalam belajar.

4. Bekal (biaya).

Penuntut ilmu harus yakin bahwa rizki itu telah dijamin Allah swt dan pintu rizki itu banyak. Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang berusaha dan selalu bersyukur terhadap segala nikmat yang dianugrahkan-Nya.

5. Bersahabat dengan guru, tidak hanya mengandalkan membaca buku.

6. Thuluz zaman atau memiliki waktu yang cukup untuk menuntut ilmu bahkan kalau bisa sepanjang hidup.

Enam syarat di atas menunjukkan bahwa untuk mendapatkan ilmu itu tidaklah mudah, butuh perjuangan dan kerja ekstra keras. Dan yang paling menentukan itu adalah proses menuntut ilmu, bukan sekedar hasilnya.

Kondisi mahasiswa dan sistem perkuliahan di universitas Al-Azhar Kairo tentu berbeda dengan tanah air. Yang paling menonjol adalah fatroh liburan di musim panas yang sangat lama. Ada yang mengisi waktu dengan talaqqi di mesjid Azhar, menyetor hafalan di berbagai tempat (dar huffaz), mempelajari buku-buku turas dan berbagai hal bermanfaat lain bahkan ada yang rela mengeluarkan uang untuk menjelajahi objek wisata dan situs bersejarah di negeri seribu menara ini. Namun ada pula yang hanya bermalas-malasan di rumah sambil tidur-tiduran sampai perkuliahan diaktifkan lagi.

Dan kini sudah memasuki bulan Oktober, Idul fitri telah lama usai dan bulan haji segera menjelang. Waktu liburan telah habis, tahun ajaran baru digelar kembali. Perkuliahan sudah menunggu, muqarrar baru sudah menanti, dan muhadarah di kelas pun juga sudah dimulai. Saatnya mahasiswa kembali menyibukkan diri dengan aktivitas kampus dan agenda keilmuan ekskul.

Biasanya kebanyakan mahasiswa cenderung malas ke kampus di awal tahun ajaran dengan alasan dosen-dosen belum ada yang datang, muqarrar belum turun, dan jumlah mahasiswa yang hadir pun masih sedikit. Alasan-alasan klasik yang dilontarkan ini bisa jadi karena terlena dengan masa liburan yang cukup panjang sehingga sulit untuk memulai belajar kembali. Itulah karakter manusia.

Salah seorang guru matematika MAN Koto Baru –yang kini menjabat kepala sekolah MAN Gunung- ustaz Amrizon S.Pd. menyatakan bahwa ketika otak kita telah banyak mendapatkan rehat panjang alias vakum, saat itulah kita harus langsung memaksanya (memulai kembali) dengan pelajaran matematika. Dengan artian otak harus diberi beban dengan permasalahan agar bisa segera berfungsi dan tidak dimanjakan. Jangan sampai terlalu lama menumbuhkan semangat belajar, karena masa ujian pun akan menjelang sehingga mau tidak mau setiap siswa terpaksa untuk belajar keras dan memfungsikan otaknya dengan lebih cepat lagi. Coba kita lihat sistem menghafal Al-Quran yang istimror dan bit takrir yaitu secara terus menerus dan diulang-ulang agar hafalan awet dan tetap di hati. Nah ini juga bisa kita praktikkan juga dalam sistem pembelajaran baik kuliah ataupun otodidak, hendaknya terus menerus menuntut ilmu dan mengasah otak agar proses belajar tidak terhenti.

Memang tidak dapat dipungkiri, ada beberapa kekurangan dalam sistim perkuliahan Al-Azhar yang kurang mendukung proses pembelajaran mahasiswa, antaranya:

1.      Menempuh kuliah di Azhar menuntut kita untuk sabar, mandiri, disiplin, tanggung jawab, ikhlas dan ulet karena kita menghadapi hal-hal seperti perubahan cuaca di Mesir, adat istiadat, bahasa, tempat, serta karakter masyarakat setempat yang membuat kita harus beradaptasi dengan semua hal tersebut.

2.      Di Azhar tidak memiliki sistem absensi yang tetap dan jumlah mahasiswa yang belajar dalam satu kelas sangat banyak jumlahnya sehingga orang acuh tak acuh untuk menghadiri kuliah.

3.      Bahasa pengantar yang digunakan oleh dosen terkadang bahasa Amiyah, sehingga di saat pelajar kurang paham terhadap apa yang dijelaskan dosen, mereka lebih memilih untuk membaca buku di rumah.

4.      Selama proses belajar dan mengikuti muhadarah mahasiswa kurang dituntut aktif, kalapun ada itu sangat jarang. Kekurangan sistem ini dapat kita lengkapi dengan memperbanyak bimbingan dan diskusi dengan kakak kelas dan kajian-kajian bersama teman.

5.      Mahasiswa tidak diwajibkan membuat makalah, tapi ada sebagian dosen yang memberikan tambahan nilai dengan membuat paper (bahts).

Akan tetapi, semua kekurangan ini hendaknya jangan dijadikan kambing hitam atas sebuah kegagalan. Malah seharusnya bisa menjadi motivasi dan lecutan untuk mengembangkan diri menutupi semua kekurangan itu selama belajar di Mesir.  Karena di balik kekurangan tersebut juga terdapat banyak kelebihan seperti kurikulum Al-Azhar yang lebih mendalam dan mengajarkan kita menggali khazanah klasik keilmuan Islam (turats) sehingga ilmu itu benar-benar didapatkan dari sumber asli.

Sedangkan untuk bergaul dengan guru atau dosen, di Azhar sangat mustahil rasanya dosen bisa mengenali mahasiswa satu persatu akibat jumlah yang begitu banyak di setiap muhadharah. Jadi, mahasiswa harus bisa mengenal aktif mengenal karakter para dosen dengan rajin kuliah. Kalau bisa usahakan bertanya saat muhadarah berlangsung, atau menyapa beliau ketika berpapasan di jalan dan menanyakan pelajaran yang kurang dipahami. Bisa juga dengan bertanya pada kakak-kakak senior yang juga belajar dengan beliau.

Hal yang tak kalah penting juga untuk dikuasai adalah cara belajar dan memahami muqarrar. Diantara kiat-kiat yang bisa dijadikan acuan dalam belajar dan memahami muqarrar adalah:

1.      Mengenali bentuk materi kuliah dan jangan sekali-kali menghafal sebelum memahami apa yang hendak dihafal.

2.      Meringkas apa yang dipahami dari penjelasan dosen sewaktu muhadarah dan apa yang dipahami dari buku.

3.      Kalau seandainya ujian sudah dekat dan muqarrar belum turun, ini bisa diatasi dengan rajin mengikuti kuliah dan berusaha meminjam catatan dari orang mesir yang kita yakini kerajinan dan kemampuannya.

4.       Rajin mengikuti kuliah dan bimbingan-bimbingan serta belajar kelompok.

5.      Jangan tergiur dengan tahdidan atau batasan-batasan muqarrar, usahakan membaca dan memahami buku sebaik-baiknya.

6.      Setelah membaca dan memahami muqarrar, kumpulkan soal-soal dari tahun-tahun sebelumnya dan coba untuk menjawabnya.

7.      Jaga kesehatan dan penuhi gizi makanan yang masuk ke dalam tubuh sehingga tubuh tetap fit.

8.      Berdoa dan tawakkal kepada Allah swt karena apapun yang kita usahakan hasilnya ada di tangan Allah SWT.

Dengan kedisiplinan dan usaha maksimal menuntut ilmu, insya Allah setiap langkah kaki kita akan diberkahi dan dimudahkan oleh Allah. Mari segera menyandang tas di pundak, membawa muqarrar ke kuliah, bersiap-siap di pagi hari menuju kuliatul banat Universitas Al-Azhar Asy-Syarif. Sudah saatnya kita mentajdid niat dan menumbuhkan semangat kembali dalam rangka menutut ilmu di negeri para Nabi ini, untuk menggapai ridha Allah dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

* Mahasiswi tk 1 Ushuluddin Univ Al-Azhar Kairo

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

ابن عمرو بن العاص وابن القبطى

31 August 2010 at 8:30 am | Posted in Gen 4, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , ,

بسم الله الرحمن الرحيم

ازيكو اخواتى؟ اتمنى تكونو كويسين وفي صحة جبدة. امين

مرة, مسؤولة عن بلوغ بتعنا طلبت منى ان اكتب مقالة باللغة العامية. ففكرت شويا و قلت هجرب. انشاء الله. فقالت لى ماشى. و اخترت موضوع عن قصة مؤثرة لابن عمرو ابن العاص مع ابن القبطى.

في خلافة عمر ابن الخطاب ولى عمرو ابن العاص اميرا فى مصر.وفي يوم من الأيام عملوا سباق للفرسان. فاشترك فيه محمد ابن عمرو ابن العاص. و اشتد السباق بين ابن عمرو و ابن القبطى. فحصل  شيء غير متوقع.وهوان ابن القبطى سبق ابن اميرا مؤمنين. فغضب ابن عمرو,ازاي ابن القبطى بيبقى احسن منى؟. فانا ابن الأمير, ابن الفاتحين الأكرمين المهتدين. اخذ سوطا ليضرب به ابن القبطى. و الدم يسيل من ظهره لسلطان ابيه.

اشتكى المسكين لابيه. حزن ابوه عليه و استشار ابوه  اهل الرأى و المشوره. فقالو له ان الأمير رجل طيب, نشر العدل و حرر المستعبدين. فراح هو و ابنه لأمير المؤمنين فى المدينة المنورة. يشتكوا له فيما حصل على ابنه. اثر فى نفس الأمير ما اثر فى نفسه. كتب الأمير الرسالة الى عمرو ابن العاص عشان يجي هو و ابنه.

لما وصلوالى الخليفة عمر الفاروق.  تجمع الناس عند امير المومنين

اعطى سوطا الى ابن القبطى. قال له اضربه كما ضربك. ابن القبطى ضرب ظهر ابن عمرو ابن العاص امير مصر, لغيت لما حس انه استوفى حقه قال امير المؤمنين الفاروق: ” لو ضربت عمرو ابن العاص ما منعتك, لأن الغلام انما ضربك لسلطان ابيه.” رد عليه ” لا, انا ضربت اللى ضربنى.”  ثم التفت الى عمرو ابن العاص قائلا : ” متى استعبتم الناس وقد ولدتهم امهاتهم احرارا؟. “

شوفو القصة, شوفو ازاى عدل السلطان على شعبه. خلى ابن المسكين الذي ليس له مكانة بين الناس يضرب ابن الأمير؟. فهكذا فى الاسلام عدل السلطان. علشان ان الناس سواء عند رب العالمين.

لما نشوف لوقتي كلنا نقول ان العدل و الاهتمام و الرعاية على الشعب من السلطان ضاع. ما شفنش دى الوقت السلطان اللى بيتمسك بحقوق الشعب اللى بيدى حقوقهم حتى فى الظلم. الناس الغلبانين اللى اهلهم يتقتل, يتضرب او فلوسهم راح يتسرق ما عملوش فيهم حاجة عشان يرجع حقهم. كل دة عشان ما عندهمش المكان, او الشرف. عشان هما ناس عادي.

فنتمنى ربنا يغير السلطان الظالم با لسلطان العادل. خاصة فى بلدنا و بلاد الاسلام كلها. و فى كمم برض ( اتحات الطلبة سومطر الغربية بمصر ) اللى بيعملو تغيير الرئيس و كل المسؤول عن الطلبة

Mendayagunakan liburan musim panas agar ia tak terbuang percuma

2 August 2010 at 5:34 pm | Posted in AKHLAK, MOTIVASI | Leave a comment
Tags: , ,

oleh: Feni Elfienti

Sangatlah tepat membiacakan musim panas yang kita laluii saat ini. Panasnya terasa begitu menyengat ke tulang belulang kita. Sebagai mahasiswa yang mempunyai segudang acara dan seabrek kegiatan pasti kita jadi serba salah karna panas. Bahkan tak jarang udara yang begitu menyengat menjadi alasan dan justifikasi untuk membatalkan agenda yang telah direncanakan.


Sebenarnya, kita patut bersyukur dengan adanya  musim panas sebagai anugrah dari Alalh. Toh di akhirat nanti, di Padang Mahsyar kita akan merasakan panas yang lebih dahsyat hingga ke ubun-ubun. Sedikitpun tak ada bandingannya dengan musim panas di dunia ini.

Musim panas tahun ini dan pasca imtihan yang baru saja berlalu,hendaknya tidak dihabiskan dengan hal-hal tak bermanfaat. Selayaknya kita membuat planning yang efisien agar liburan ini tidak sia-sia, namun menjadi ajang pesta menuntut ilmu bagi kita di bumi para Nabi ini. Saking pentingnya pemanfaatan waktu, Allah telah bersumpah tentang waktu, salah satunya: “Demi Masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-oragng yang beriman dan meralam shaleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati dalam kesabaran. (Surah Al-Ashr: 1-3).

Natijah yang baru saja turun, bagaimanapun harus disyukuri, jika hasilnya bagus, jangan dulu terlena dan merasa puas. Tetapi harus berusaha meningkatkanya di masa datang, begitu juga kalau hasilnya masih mengecewakan, don’t be sad…banyak-banyaklah introspeksi diri dan berbaik sangkalah kepada Allah. Mungkin usaha kita masih kurangd an butuh kerja keras yang lebih giat lagi. Yang pasti janga berputus asa. Allah berfirman: “boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. (Surah Al-Baqarah: 216).

Jadi, walaubagaimanapun natijah yang didapat, liburan musim panas tetap harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Banyak hal positif yang bisa kita lalukan untuk peningkatan kualitas diri kita. Seperti:

1. Menghafal Al-Quran

Sebagai penuntut ilmu syar’I di Universitas Al-Azhar, tentunya kita senantiasa bergelut dengan dalil-dalil Al-Quran. Apalagi tiap tahun kuliah membebankan hafalan 2 juz Al-Quran. Ini tentu saja harus memacu semangat kita untuk lebih meningkatkan hafalan Al-Quran. Bukan hanya sesuai beban mata kuliah saja tapi hendaknya bisa sampai hafal 30 Juz Al-Quran lengkap dengan sanad resmi dari Syekh Hafiz.

2. Membaca Muqarrar (diktat kuliah)

Selesai imtihan bukan berarti muqarrar dicampakkan atau ditumpuk dalam lemari saja. Sebaiknya dibaca kembali dan dimuthala’ah lagi bagian-bagian yang belum dipahami. Atau bisa jadi membaca muqarrar kakak kelas, setidaknya untuk mendapat gambaran umum tetang pelajaran yang dibahas tahun depan, meskipun nanti buku muqarrarnya akan berbeda.

3. Membaca buku-buku bermanfaat.

Mesir sebagai gudang ilmu Islam memproduksi banyak sekali buku-buku berwawasan kesilaman. Sangat rugi jika kita tidak memanfaatkannya. Rata-rata masisir punya perpustakaan pribadi, dan kita bisa mulai membaca buku-buku kita yang belum disentuh lagi sejak pertama kali beli, atau bisa meminjam buku dari perpustakaan pribadi kawan. Perpustakaan kampus dan perpustakaan PMIK di Wisma Nusantara juga pilihan terbaik untuk menambah pengetahuan.

4. Mengikuti halaqah-halaqah ilmiah.

Sudah jadi kebiasan mesjid-mesjid di Mesir mengadakan halaqah ilmiah, Jika kita ke mesjid Al-Azhar, tertampang jadwal talaqqi dengan para Syekh yang bisa diikuti. Baik materi umum atau khusus yang berkaiatan dengan bidang ilmu tertentu seperti tafsir, hadis, fiqh, nahwu dan lain-lain.

5. Mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Masisir

Liburan musim panas bagaikan pesta kegiatan bagi organisasi-organisasi mahasiswa yang ada di Mesir. Mulai dari PPMI dan Wihdah, organisasi kekeluargaan, almamater dan bahkan acara-acara yang diadakan KBRI Mesir. Tentunya kita harus bijak memilih acara yang sesuai.

Sedangkan hal-hal negatif yang seharusnya dihindari adalah:

1. Kebiasaan begadang dan tidur pagi

Gara-gara udara panas, jadi banyak orang –juga sebagian masyarakat mesir – begadang hingga subuh, lalu tidur setelah shalat subuh sampai zuhur. Hal ini seharusnya tidak dijadikan kebiasaan.

2. Terlalu banyak rihlah

Mesir merupakan negeri eksotis yang menyimpan sejarah peradaban, mulai dari zaman kuno hingga zaman Islam. Sangat banyak tempat wisata pelepas lelah pasca imtihan. Namun, tidak baik jika terlalu bayak jalan-jalan dalam jangka waktu yang berdekatan.

3. Sibuk Tak Menentu (STM)

Ini terjadi jika kita tak punya agenda jelas untuk mengisi liburan, sehingga bingung akan melakukan apa. Lalu larut dalam kegiatan-kegiatan tidak penting dan tidak bermanfaat dalam peningkatan kualitas diri.

Terakhir, penulis berharap kita mampu bijaksana memberdayakan liburan musim panas ini. Alangkah menyedihkan rasanya, ketika malam menjelang tak sedikitpun ilmu dan manfaat yang bisa kita petik pada hari itu. Wallahu A’lam.

MUSLIMAH DAN FASHION

10 July 2010 at 4:24 pm | Posted in AKHLAK, AL-QURAN, Gen 5, MOTIVASI | 2 Comments
Tags: , , , ,

Oleh: Reni Rahmawati

lslam  tidak  melarang  wanita menghias  diri,  berdandan  rapi  dan berpenampilan  anggun,  tetapi  semuanya itu juga  harus  disertai  dengan  niat  untuk beribadah  dan  jangan  sampai menimbulkan  fitnah. Wanita muslimah mestinya  merasa  sedang  melakukan ibadah manakala  ia mengenakan  busana muslimah.

Dalam  beribadah,  kita sebenarnya  berhadapan  dengan  Tuhan, bukan  dengan  yang  lainnya,  maka keikhlasan,  ketabahan  dan  kesabaran dengan  niat  yang  teguh  untuk melaksanakan  perintah Tuhan  itulah yang menjadi pokok utama. Bisa  saja  di  suatu  ketika, pemakai  busana  muslimah  mendapat tantangan,  fitnah  atau  bahkan  sindiran dari  lingkungan sendiri, tapi haruskah  kita lemah  dengan meninggalkan busana khas kita?

Kita  harus  bisa  menghibur  diri bahwa  tantangan  itu  ada  di  mana-mana. Setiap manusia yang  hidup harus  berani menghadapi  tantangan. Untuk  sukses seseorang  harus  akrab  dengan  tantangan, karena  memang  tantangan  itu  lahir  tidak untuk hanya  ditakuti atau dihindari, tetapi juga  untuk diatasi. Kebiasaan orang  yang lari  dari  tantangan  adalah  perbuatan keliru,  karena  kita  bisa  menghindar  dari suatu  tantangan  namun  itu  hanya  untuk menemui  tantangan  baru  yang  belum tentu  lebih  ringan  Jadi  yang  penting adalah,  bagaimana mengatasi tantangan dan  memperkecil  resiko,  bukan menghindarinya.

Prinsip  berbusana negara  kita  menganggap pakaian  wanita  lslam  dengan  sebutan “Busana  Muslimah’ . Mode  pakaian  yang muncul  dewasa  ini  berbeda-beda tergantung  selera  masing-masing  Mode pakaian  pakaian  bisa berubah  dari waktu ke  waktu,  kemudian  menjadi  trend  yang terus  berkembang. Beragam mode,  corak dan warna  busana muslimah begitu  indah dipandang  mata.  Berbagai  pasar  dan pusat perbelanjaan yang merupakan mata rantai  dari  busana  ini  juga jenis menyediakan  keleluasaan  memilih  bagi para  muslimah,  dengan  begitu  banyak mode yang mereka lawarkan.

Dari  sekian  mode  itu,  tidak semua yang masuk ‘kriteria’.  Karena ada sebagian  busana  muslimah  lebih memfokuskan pada mode dan gaya tanpa memperhatikan  cara  berbusana sebagaimana  yang  telah  diajarkan  dalam lslam. Permasalahan yang timbul, apakah kita  mau  ditakluKkan  dengan  mode  yang berkembang  saat  ini  tanpa  memikirkan apa  esensi  pakaian  yang  bernafaskan takwa bagi muslimah? Aneka  pilihan  busana  muslimah saat  ini  membuka  para ialan  bagi muslimah  untuk  tampil  lebih  gaya  dan modis. Tentunya kita memilih bukan gaya yang berlebihan dan  berkonolasi negatif . Namun, langkah  seorang  muslim  dan muslimah  harus seiring dan  sejalan dengan  tuntunan al-Qur’an Hadis yang mulia. Jadi  tidak sekedar  tampil  gaya, kitapun  harus memperhatikan  busana dan  cara  berbusana seperti  yang diajarkan dalam  lslam-  Allah berfirman dalam surat al-A’raf  ayat26:

Wahai anak  cucu Adam!, sesungguhnya  Kami telah  menyediakan pakaian untuk menutupi  auratmu  dan untuk  perhiasan bagimu. Tetapi  pakaian takwa,  itulah  yang  lebih baik. Demikianlah sebagian  tanda-tanda kekuasaan  Allah,  mudah-mudahan  mereka  ingat“.

lbnu  Katsir  dalam  tafsirnya memaparkan  bahwa  dari  ayat  tersebut ada  kata  اللباس  dan  الريش,  dua  kata  ini mempunyai arti yang sama yaitu pakaian. Namun  keduanya  berbeda  dari  segi fungsi. Berdasarkan  ayat  di  atas  اللباس  berfungsi  untuk menutup  aurat. Ini adalah fungsi  utama  pakaian,  sedangkan  الريش berfungsi  sebagai  perhiasan,  pelengkap atau tambahan. Jadi pakaian memiliki  dua fungsi: pertama,  untuk  menutupi  aurat,  dan fungsi  kedua  sebagai  penghias  atau pelengkap dan tambahan. Dalam  hal  ini  fungsi  pertama dalam  pakaian  merupakan  sesuatu  yang bersifat  esensial,  sedangkan  fungsi kedua,  bisa  dikatakan  sah,  telah jika memenuhi kriteria  fungsi utama. Untuk  itu,  yang  perlu diperhatikan dalam  berbusana muslimah adalah:

1. Menutupi  seluruh  tubuh selain  yang  dikecualikan. Pendapat  ulama yang paling kuat  tentang bagian  tubuh  yang dikecualikan  dan boleh terlihat  adalah  muka dan telapak tangan.

2. Memakai  kerudung sampai dada.

Ketentuan ini merujuk pada  al-Qur’an surat  an-Nur  ayat  31  :

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,mdan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,

Juga pada surat al-Ahzab ayat 59:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Dengan  demikian  kriteria  kerudung yang sesuai  dengan  ayat-ayat  di atas adalah  menutup  rambut,  leher  sampai ke dada.  Bukan  hanya  menutup  rambut sampai leher saja!

3. Tidak  tipis  sehingga  terlihat  kulit  dan lekukan  tubuhnya. Dalam  sebuah hadis yang  diriwayatkan imam  Ahmad,  Rasulullah  pernah memberi  Usamah  bin  Zaid  qubthiya (pakaian  dari  katun  tipis)  yang  kasar, tetapi Usamah  tidak  memakai  dan  ia memberikan  pada  istrinya,  Nabi  Saw bersabda:  “Suruhlah  ia  memakai rangkapan  (puring)  di  dalamnya,  agar tidak lerlihat lekuk-lekuk  tulangnya“.

4. Tidak  ketat sehingga tidak  tergambar jelas bentuk  tubuhnya. Busana  ketat  walau  lidak  tipis  akan memperlihatkan tubuh wanila meskipun berpakaian  dan  menutup  rambut. Busana  model  ini  akan  lebih membangkitkan  syahwat  sehingga menimbulkan  semangat  erotis  bagi yang  memandangnya  dan juga mengundang fitnah. Dalam  hadis  yang  diriwayatkan  imam Muslim  disebutkan  bahwa wanita  yang mengenakan  busana  seperti  ini  kelak tidak  akan  masuk  surga  bahkan mencium bau surga pun tak bisa.

5. Tidak dimaksudkan untuk pamer atas menarik perhatian  laki-laki. Wangi  parfum  yang  berlebihan  dan gaya  berjalan  yang  dibuat-buat  dapat menarik  perhatian  laki-laki  dan  bisa menimbulkan  fantasi  yang  seronok. Karenanya  harus  dihindari agar  tujuan memakai busana muslimah yaitu untuk melindungi  muslimah  itu  sendiri tercapai. Prinsip  kesederhanaan tercakup  di  sini,  maksudnya  harus dihindari  gaya busana dan hiasan yang berlebihan  supaya  tidak  menarik perhatian yang tidak semestinya.

6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki dan pakaian wanita-wanita kafir.


Dan  perlu  diketahui  lagi  bahwa pakaian  takwa  bagi  muslimah mengandung unsur sebagai berikut:

  1. Menjauhkan wanita dari gangguan  laki-laki  jahil atau nakal
  2. Membedakan antara wanita yang berakhlak  terpuji  dengan  wanita  yang berkepribadian  tercela
  3. Menghindari  timbulnya  fitnah  seksual bagi kaum pria
  4. Memelihara  kesucian  agama  wanita yang mengenakanannya

Dan  juga  wanita  berbusana muslimah  yang  sepantasnya  secara psikologis  mampu  menanamkan  pada dirinya sikap taat  adil, jujur,  terus  terang dan  kokoh  memegang  prinsip  sehingga akan menimbulkan rasa segan bagi siapa saja  yang  berinteraksi  dan  bergaul dengannya. Sehingga  dengan pakaian mengenakan  muslimah  bisa membangun  citra  dirinya  sebagai wanita muslimah.

Wahai  saudariku!,  tahukah  kita bahwa  pada  waktu  Rasulullah  Saw melaksanakan  lsra Mi’raj, sewaktu Beliau melewati  neraka,  kebanyakan  di dalamnya adalah wanita yang berpakaian api telanjang, na’uzubillah min dzalik. Marilah  kita  memperbaiki enampilan  diri  kita  dan  menjadi  wanita muslimah  yang  selalu  diridhai  Allah karena ‘pakaian takwa’  adalah  pakaian sempurna. Semoga  Allah  selalu melindungi kita dan wanita yang memakai pakaian takwa  tidak akan  dijilat tubuhnya oleh  api  neraka  yang  sangat  panasnya. Amin  Ya Rabb

*Pernah diterbitkan Buletin Almakki edisi VII

Peran Istri, Berat Tapi Menjanjikan

20 June 2010 at 8:26 pm | Posted in AKHLAK, AL-QURAN, Gen 7, hadis, KELUARGA, MOTIVASI | 2 Comments
Tags: , , , ,

oleh: Rahmayanti

Hari itu, seorang wanita menemui Rasulullah, Tiba di hadapan beliau ia berkata: “Ya Rasulullah, saya ini utusan kaum wanita, saya bermaksud menanyakan perihal jihad fi sabilillah. Allah mewajibkannya kepada kaum pria, kaum pra memperoleh pahala yang besar karenanya, bila syahid, ia tetap hidup di sisi Allah. kami kaum wanita juga ingin mendapatkan keutamaan seperti itu, maksud saya apa bagian wanita dalam jihad?” Rasulullah pun menjawab: “Sampaikanlah pesanku ini kepada semua wanita yang engkau temui, sesungguhnya mentaati dan mengakui hak-hak suami pahalanya sepadan dengan jihad, namun hanya sedikit wanita yang mengamalkan itu“.

Siapa yang tidak kenal sosok wanita luar biasa seperti Khadijah? Siapa tak kagum dengan wanita semulia Aisyah, seagung Fatimah dan sederet sosok teladan yang dikenang sepanjang sejarah. Mereka sukses memainkan peran baik sebagai hamba Allah, anak, istri, ibu dan da’iyah. Begitu mulia, begitu tulus, sedemikian ikhlas. Semua aktifitas dicover dengan sempurna dengan tujuan meraih ridha-Nya. Mereka yang kehadirannya merubah panas menjadi sejuk, dingin menjadi hangat, sumpek menjadi lapang dan sedih menjadi gembira. Keteladanan mereka mencakup ketaatan kepada Allah, kuatya shalat malam, khusyuknya berzikir, kesetiaan yang luar biasa kepada sami, kecintaan dan perhatian kepada anak-anak serta semangat menuntut ilmu dan menyebarluaskannya.

Istri memainkan peranan yang sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan rumah tangga. Kemampuan seorang istri menciptakan atmosfer keluarga yang tentram, damai, aman dan penuh kasih sayang merupakan tugas yang sangat berat sekaligus paling mulia. Sehingga tidak salah jika Rasulullah menyebutnya sepadan dengan jihad di jalan Allah. Sungguh, ini merupakan penghargaan yang sangat besar bagi wanita.


Keluarga merupakan komponen terkecil sebuah negara, dan peran wanita di dalamnya sungguh tak tergantikan. Bahkan mungkin tak berlebihan jika kita mengatakan bahwa masa depan generasi suatu bangsa berada dalam genggaman lembut tangan wanita. Tanggung jawab dalam keluarga tak boleh terabaikan dengan alasan apapun. Sungguh sangat menarik sekali apa yang disampaikan seorang anak yang telah hafal al-Quran kala usianya baru menginjak 7 tahun, ditanya siapa yang membantu, mendorong dan menyemangatinya dengan gigih hingga ia bisa jadi hafiz. Ia menjawab: “Ummi, ibuku yang melakukannya”.

Peran besar seorang wanita tentu bukan hanya itu saja. Sebab, setiap peran besar, memerlukan modal besar pula, berupa ilmu dan kesungguhan. Itulah wasilah yang utama, karena keidahnya: Ma La Yatimmu al-Wajib Illa Bihi Fahuwa Wajib (sesuatu yang tidak sempurna sebuah perkara wajib kecuali dengan menyempurkakannya, maka ia pun wajib). Sehingga, jadilah menuntut ilmu bagi seorang wanita merupakan kewajiban mendasar agar dapat memikul peran mulianya dengan sempurna. Tidak mungkin seseorang mampu memberi jika ia tidak memiliki. Bagaimana mungkin seorang wanita mampu berkhidmah kepada keluarga, masyarakat bahkan bangsanya jika ia tidak mempunyai ilmu apa-apa.

Mari kita lihat lebih dekat pada kehidupan kita sebagai mahasiswi.  Bagi yang sudah berkeluarga, kedua peran ini dijalankan sekaligus, menuntut ilmu dan menjadi istri dan ibu dalam rumah tangga. Sebenarnya keduanya dapat seiring sejalan, karena dengan menyempurnakan “separuh agama” tentu hati menjadi lebih tenang dan lebih konsentrasi menyerap ilmu pengetahuan. Meskipun tugas rumah tangga tetap membutuhkan keikhlasan dan kesungguhan menjalani peran ganda. Namun semua itu semakin membuka lebar jalan menuju syurga.

Betapa tidak, Rasulullah menyatakan bahwa seorang yang menempuh jalan menuntut ilmu akan Allah mudahkan baginya jalan menuju syurga. Dalam kesempatan lain Rasulullah juga bersabda bahwa jika seorang wanita melaksanakan shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, menjaga kehormatan dan suaminya redha terhadapnya, maka dia boleh masuk syurga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. Subhanallah…!

Mari kita telusuri sejenak, berawal dari niat karena Allah menilai amalan hamba-Nya dari niat mereka melakukannya. Rasulullah bersabda: “sesungguhnya setiap amal tergantung niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkannya.” Jika kita menikah dengan tujuan meggapai ridha Allah dan menjaga diri –meskipun kita belum begitu yakin mampukah menyempurnakan semua kewajiban yang menanti , bisakah bijak membagi waktu dan berbagai kekhawatiran lain– tetapi Allah jualah yang akan melapangkan jalan dan memberi kekuatan dan kebijaksanaan dengan kekuasaan-Nya. Banyak cara bagi Allah untuk membaguskan hamba-Nya dan meninggikan derjatnya karena niatnya. Selanjutnya tergantung semangat dan keistiqamahan kita menjalani itu semua.

Niat dalam istilah Psikologi dikenal dengan motivasi. Inilah sesungguhnya kekuatan dahsyat yang mampu menjadikan seseorang tegar dalam menghadapi setiap episode kehidupannya. Umpama seorang pendaki yang berniat menaklukkan puncak gunung yang terjal. Segala tanjakan dan jalan setapak yang dikelilingi tebih curam dan jurang menganga dijadikannya sebagai tantangan, karena niat sudah terpancang. Ia pantang mundur, kesulitan sebesar apapun akan tetap dihadapi. Semakin berat mdan yang akan dilalui semakin semangat untuk menaklukkannya. Dan jika ia berhasil, kepuasan tiada tara akan diraihnya. Kita juga seperti itu dalam mengarungi kehidupan ini. Dan balasan yang dijanjikan di puncak sana jauh lebih indah yaitu syurga-Nya. Maka, menuntut ilmu dan berkhidmah untuk keluarga denga ikhlas adalah tantangan yang bernilai ibadah di sisi-Nya.

Jadi, sudah saatnyalah kita mengevalusi kembali diri sendiri dan memperkokoh biduk yang ditumpangi untuk mengarungi samudra luas yang penuh rintangan. Waktunya memperbanyak kembali bekal karena perjalanan masih teramat panjang. Disamping terus mengikhlaskan diri melakukan yang terbaik, karena para malaikat tak pernah luput mencatat setiap gerak yang kita lakukan. Wallahu A’lam

*Mahasiswi Jur. Syariah Univ Al-Azhar Kairo

FALSAFAH KELAPA

10 June 2010 at 3:57 pm | Posted in AKHLAK, Gen 4, hadis, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

Oleh: Lira Erlina Lc.

Allah menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al-Quran surat An-Nahl: 11).


Fenomena kehidupan manusia penuh dengan hikmah dan pelajaran. Semua yang diciptakan Allah – di langit dan di bumi – bisa diambil hikmah yang bermanfaat. Allah tidak menciptakan sesuatu hanya untuk menghiasi langit dan bumi saja, melainkan selalu ada hikmah di baliknya, berupa manfaat yang kembali pada manusia dan makhluk itu sendiri.

Pohon kelapa termasuk jenis tumbuhan yang hidup di pantai dan di ketinggian 900 m dari permukaan laut. Tinginya 10 -14 m, tidak bercabang. Daunnya bersirip genap dengan panjang 2-3 m. buahnya berbungkus serabut tebal berdiameter 25 cm, berisi air dan daging. Pohon ini ternyata memilihi begitu banyak manfaat.


Pohon kelapa adalah pohon kehidupan bagi sebagian besar masyarakat. Semua bagian dari pohon tersebut dapat dianfaatkan sehingga bisa menjadi sumber kehidupan dan mata pencaharian. Mulai dari buah, daun, pelepah, tempurung, batang bahkan akarnya bisa berguna. Maha suci Allah yang menciptakannya.

Air kelapa tidak saja pelepas haus dan dahaga, tapi juga punya nilai gizi yang tinggi. Ia kaya akan potasium (kalium), mineral, gula dan protein. Dengan komposisi gizi yang demikian, air kelapa dapat digunakan sebagai bahan baku produk pangan dan obat-obatan.

Dagingnya mengandung karbohidrat sederhana seperti glukosa, sukrosa, dan frukosa. Selain itu juga mengandung lemak protein, lemak, vitamin dan minyak yang banyak digunakan sebagai bahan makanan. Tempurung dan serabutnya dijadikan bahan kerajinan tangan atau cendera mata yang kini banyak diekspor ke manca negara. Daunnya pun serba guna. Bisa dijadikan ketupat, jahur penghias di akla pesta atau sekedar bahan bakar bagi ibu rumah tangga yang ingin masakan nasinya enak. Sedangkan lidinya bisa dijadikan sapu. Batangnya digunakan untuk keperluan rumah dan jembatan. Terkadang digunakan untuk membuat rumah tradisional modern. Dan banyak lagi manfaat pohon kelapa ini sebagai salah satu ciptaan Allah agar kita memikirkan tanda-tanda kekuasan-Nya.

Maha Suci Allah, segala ciptaan-Nya pasti mempunyai manfaat yang besar bagi kita. Lalu, apa yang telah kita berikan dengan manfaat itu? Kalau kita bermuhasabah dan membandingkan diri kita dengan ciptaan Allah yang ada, dimanakah posisi kita? Sudah mampukah kita mencontoh pohon kelapa yang kesemua bagiannya dapat dimanfaatkan? Apakah kita telah menjadi manusia yag tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri tapi juga orang lain?

Falsafah kelapa adalah ilmu bagi orang yang beriman. Sedangkan iman dan ilmu itu bersaudara dekat. Iman akan terus langgeng jika selalu dipupuk dengan ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah shalalalhu alaihi wasalam: “Jika Allah menghendaki kebaikan para seseorang maka Ia menjadikan hamba tersebut mendalam pemahamannya dalam agama” (HR Bukhari-Muslim).

Jadi marilah kita menjadikan hari-hari kita menjadi hari-hari yang penuh manfaat akan kita juga semakin bermanfaat bagi ummat. Wallahu A’lam.

Success

10 May 2010 at 9:32 pm | Posted in ENGLISH CLUB, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

Written by: Efhila Gabriela Melisa

Success is an achievement of one’s aim. Other perspective, success is an event that accomplishes purpose. Those are definitions.


I perceive success as something much more than that. Success appears some emotion when achieved. Achieving success should make you want to jump off your seat, rush to tell somebody what you’ve done, make you feel elated, sometimes relieved if you’ve been pursuing that success for a long time.

The most obvious successes are, of course, visible in public. When I thing about success, I thing about relative achievement in my own world. Each element of my world, in which I wish to achieve success, is important to me and there is no need to make comparisons with others in their world.

Success is very much achievable to everybody. There are many things that will affect our ability to succeed. And it is those under your immediate control that it is best to focus on. In many ways, society brings us up to “do our best”. At school we are expected to get good grade.

As a student some characteristics we will find who are successful are perseverance, prepared to research, plan and study hard, practice a lot even when things do not seem to be going well, enrich knowledge and an ability to recover and learn.


If you feel you do not naturally have all those characteristics, then do not despair. Each of them can be accomplished by your own application. Fail is standard of comparison success. By the failure we can know success. We can’t mean failure is disappointed one, by failure we can see which way we’ll choose. And we can’t punish who was fail is foolish or disadvantage. These all sacrifice to achieve success.

Presented on Wednesday 3 March 2010 at AEC

Insan Super: Baik dan Bermanfaat

9 May 2010 at 11:58 am | Posted in AKHLAK, Gen 9, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

Oleh: Lina Rizqi Utami

Pendahuluan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خير الناس أنفعهم لناس

Beranjak dari hadits tersebut dapat kita ceritakan kandungan yang terkait dengan sesuatu yang super, baik dan bermanfaat. Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Keanekaragaman yang membuat manusia saling bergantung. Melengkapi kekurangan dengan kelebihan, menghapus kejelekan dengan kebaikan. Keterkaitan yang dimiliki manusia menjadikan kita tak dapat hidup sendiri. Garis horizontal yang menghubungkan satu dengan yang lainnya diikat oleh rumpun dialek masing masing ras serta budaya dan latar belakang akhlak yang berwarna warni. Ikatan ini difilter oleh Islam dalam aturan-aturannya yang tersusun raai baik itu terkait individu maupun sosial. Dengan adanya aturan tersebut tidak membuat perbedaan menjadi penghalang. Manusia dapat saling tolong menolong  dan pastinya setiap dorongan untuk berbuat kebaikan akan dibalasi pahala oleh Allah swt.

Manusia Baik, Manusia Manfaat

Cerminan dari realita yang terjadi pada saat sekarang menggambarkan bayangan hidup yang serba individulis, saling tidak peduli, krisis kebaikan, minim tata karma, terutama para remaja yang saat ini huru hara mereka sangat meresahkan ummat, begitu juga masyarkat yang terkadang kita dapati mereka saling benci dan mencaci, bahkan terhadap tetangga tak ada lagi rasa peka sosial, padahal baginda Rasulullah saw telah bersabda :

عن ابى هريرة رضى الله عنه قا ل , أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : من كان يؤمن با لله واليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت , ومن كان يؤمن با لله واليوم الأخر فليكرم جاره , و ومن كان يؤمن با لله واليوم الأخر فليكرم ضيفه

(رواه البخارى و مسلم)

Dari hadits diatas menjelaskan bagaimana bergaul antara sesama, adab terhadap diri sendiri yang tidak boleh berbicara sembarangan, maka kita dituntut lebih baik diam, adab terhadap tetangga untuk saling menghormati dan menghargai, dan adab terhadap tamu untuk memuliakannya. Hal ini telah diatur semua oleh islam dalam seluruh tatanan kehidupan supaya hidup lebih teratur terutama dalam segi hubungan sosial. Setiap personal dituntut untuk melakukan kebaikan dan pastinya Allah pun akan memberi doorprize terhadap kebaikan yang telah kita lakukan. Allah swt berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 110 :

….وما تقدموا لأنفسكم من خير تجدوه عند الله, إن الله بما تعملون بصير

“…dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan  mendapatkan pahala disisi Allah. Sungguh Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Setiap kesalahan manusia akan dihapus dengan tobat, dan tobat itu merupakan pertanda baik yang datangnya dari Allah, karena Allah telah membungkus satu paket kebaikan beserta imbalannya yang dituntut dari hal yang paling kecil sampai hal hal yang menyangkut masalah ummat. Allah swt berfirman dalam surah Ali Imran

ayat 104:

ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير و يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر, وأولئك هم المفلحون.

Motivasi yang diberi oleh Allah sangat banyak untuk melakukan kebaikan, dan semua perintah untuk berbuat baik itu telah lengkap di dalam Al Qur’an baik terhadap individu maupun social. Diantaranya Allah menyeru untuk bersegera dalam melakukan kebaikan, mendamaikan kepada yang saling berseteru, jujur, berkata baik, istiqomah, memenej hati, saling memaafkan, berkasih sayang antar sesama, bertoleransi, menjaga harga diri, menundukkan pandangan, seimbang dalam setiap urusan, syukur nikmat, sabar, tawadhu, menepati janji, dan menjaga kebersihan. Semua kebaikan inilah yang akan menghapus kelakuan jelek dan kejahatan yang banyak terjadi. Baginda Rasulullah saw bersabda dalam hal ini :

إتق الله حيثما كنت و أتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن

(رواه أحمد و الترمذى)

Jika ada kesalahan yang terjadi, janganlah ditutupi, apalagi kesalahan itu merugikan masyarakat, bahkan jika kita sendiri pelakunya atau keluarga, maka haruslah diberi sanksi, Allah swt berfirman

يأيها الذين امنو كونوا قوامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين , إن يكن غنيا أو فقيرا فالله أولى بها, فلا تتبعوا الهوى إن تعدلوا و ان تلووا او تعرضوا فإن الله كان بما تعملون خبيرا

Kebaikan itu datangnya dari diri sendiri, maka pastinya setiap kebaikan itu akan mendatangkan manfaat bagi orang lain, Allah swt berfirman dalam surah Taha ayat 72 :

…فاقضما انت قاض, إنما تقض هذه الحيوة الدنيا

… maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan, sesungguhnya engkau yang dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini.

Mengutamakan kepentingan orang lain  adalah suatu kebaikan yang dilakukan seseorang, hal ini telah tergambar pada masa nabi yang terdapat dalam surah Al Hasyr ayat 9 :

والذين تبوءوالدار والإيمان من قبلهم يحبون من هاجر إليهم ولايجدون فى صدورهم حاجة مما اوتوا ويؤثرون على أنفسهم ولوكان بهم خصاصة, ومن يوق شح نفسه فألئك هم المفلحون

Bermanfaat dimanapun dan kepada siapa saja, baik jasa maupun tenaga, seperti mengamalkan ilmu  yang telah di dapat, membantu orang yang sedang kesusahan, mengajak pada kebaikan dan memperbaiki kesalahan, seperti sabda baginda rasulullah saw :

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده, فإن لم يستطع فبلسانه, فإن لم يستطع فبقلبه, وذلك أضعف الإيمان

Kesimpulan

Keutamaan akhlak yang baik  sangat banyak, yaitu diantaranya orang menjadi senang, merasakan kenikmatan berakhlak baik yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, kebaikan juga menjadi ciri kemuliaan tabi’at seseorang, terkadang secara tidak sengaja kebaikan bisa merubah musuh pada alur kebenaran, kebaikan juga pertan da kesempurnaan iman serta memberatkan amal timbangan kebaikan di hari kiamat, kemuadian kebaikan juga menjauhkan kita dari siksa api neraka, sebagaimana sabda Rasulullah saw :

عن عبد الله ابن مسعود رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ألا أخبركم بمن يحرم على النار أو بمن تحرم عليه النار : على كل قريب هين سهل

(رواه الترمذى والطبرانى)

Bermanfaat dalam segi apapun, dimana pun, dan kepada siapa pun, Insya Allah berkah Allah akan datang, kasih manusia akan mengenang kebaikan. Seperti kata pepatah kebaikan itu akan dikenang walau kita sudah tiada. Maka jadilah manusia yang baik, bermanfaat dan KEEP YOUR SELFJ WAllahu’alam

BANGKITKAN POTENSI DAN RANCANGLAH MASA DEPAN

28 March 2010 at 11:29 am | Posted in Gen 4, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

Resensi

Judul  buku : Ayqizh Qudratak  wa lshna’ Mustaqbalak

Penulis : Dr. Ibrahirn Faqiy

Penerbit : Dar Ar-Rayah

Junlah  halaman :133

Tahun  terbit :2008

Resentator : Desi Yusdian, Lc.

BANGKITKAN POTENSI  DAN RANCANGLAH  MASA  DEPAN

Anda menbayangkan keseharian  orang yang sukses  dalam hidupnya? Tahukah Anda bagaimana mereka membangkitkan potensi  yang  mereka  miliki?  Pernahkah  Anda  memperhatikan bagaimana mereka merancang masa depan?  Pernahkan  Anda  merenungkan  bahwa  apa  yang mereka  telah  raih  juga  bisa Anda  raih? Manusia diciptakan Allah Swt lengkap dengan segala  potensi yang bisa ia kembangkan.  Memang  tidak  ada  manusia  terlahir  langsung  bisa  mengerti  dan memahani  segala  hal. Namun, Allah  telah menanamkan  bibit-bibit  potensi  yang  dapat mereka  pupuk  dan kembangkan.

Dalam  buku  ini  Dr.  Ibrahim  Faqiy menjelaskan hal  tersebut secara  lugas. Bukankaah  Allah berfirman  “Wafi anfusikum  afala  tubshirun?.”  Oleh sebab itu, orang bijak mengatakar:  “Di dalam  jiwa seorang manusia  terdapat  harta  karun yang  melimpah ruah yang ditanamkan  oleh Allah Swt. pada dirinya.” Di sini tampaklah  bahwa manusia memiliki  potensi dan energi ymg  begitu kuat dan hebat, jika  terus digali  dan diolah maka hasilnya akan lebih optimal. Buku ini  menjelaskm juga  bahwa  ketidaksanggupan  seseorang  mengeksplorasi potensi  tersebut bukanlah  ketetapan  dari  Allah.  Tapi  itu  karena kelemahan mereka sendiri  dalam membaca  dan menggalinya.

Banyak faktor  menyebabkan potensi  itu  membeku  dan  kerap  tidak berpengaruh  dalam kehidupan.  Di antara penghalang tersebut adalah rasa takut yang berlebihan, yang membuat kita  tidak  berani nengambil  resiko. Kekurangan dari segi kesehatan fisik juga sering  dijadikan alasan  untuk tidak berbuat banyak. Selain itu  ia  juga memberikan  beberapa  contoh dari  pribadi-pribadi  sukses sebagai  bentuk  pendekatan  riil  dan  dapat dicerna  oleh  siapapun.

Dr.  Zaki  Ustmao seorang  anak yang dilahirkan dalam keadaan  cacat, namun  ia mampu memperlihatkan pada  dunia  bahwa  cacat bukanlah  penghalang untuk  meraih  masa depan. Ketika berumur  satu  talun  setengah  ia menderita penyakit panas yang  ganas. Penyakit ini mengakibatkan  sebagian anggota  tubulmya  tidak  berfungsi.  Hal  tersebut  tidak menghalanginya untuk  menjadi  pribadi  yang  sukses.  Ia  pun  terus berupaya sesuai dengan kondisi yang ada. Walhasil, kesuksesan  dan  kegemilangan  yang beliau raih jauh mengalahkan mereka  yang normal.

Nyatalah, setiap  individu  yang  diciptakan  Allah  berpotensi untuk  menjadi pribadi yang  sukses.  Untuk bisa  menggapai  cita-cita  tesebut  bangkitkanlah  potensi yang ada. Potensi ibarat  harta karun yang melimpah  ruah. Setelah  itu rancanglah  masa  depan seperti  apa  yang Anda  inginkan.

*Pernah diterbitkan Buletin Mitra edisi LX

GODAAN WANITA ALIANSI SETAN

28 March 2010 at 11:16 am | Posted in AKHLAK, Gen 6, MOTIVASI | 2 Comments
Tags: , , ,

Oleh: Ainul Zikra Lc.

Kalau kita mendengar orang mengatakan bahwa wanita adalah makhluk penggoda, apa reaksi kita? Mungkin sebagian kita akan merasa jengkel mendengarnya dan mungkin juga kita menerimanya.

Memang fitnah yang terbesar setiap zaman adalah wanita, karena itulah Rasulullah berpesan benar-benar melindungi wanita. Tak hanya fitnah yang ditimbulkannya tetapi juga syahwat yang menjerumuskan manusia ke dalam kebinasaan. Rasulullah bersabda: “Berhati-hatilah dengan godaan dunia dan waspadailah rayuan wanita, sebab fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah fitnah wanita.” (HR Muslim). Mujahid juga mengatakan: “ketika wanita menghadap ke depan (datang) maka setan duduk di atas kepalanya lalu menghiasinya agi orang yang melihatya. Dan ketika wanita itu menghadap ke belakang (pergi) setan duduk di belakangnya lalu ia memperindahya bagi orang yang melihatnya. (Al-Qurtubi, al-Jami’ Li Ahkami al-Qur’an 12/227).

Jadi perntanyaan kita sekarang adalah, mengapa harus wanita yang menjadi sasaran sebagai penggoda kaum lelaki? Allah berfirman:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (Al-Quran surat Ali Imran: 14)

Dalam ayat diatas Allah menyatakan dengan jelas bahwa manusia mempunyai kecendrungan terhadap syahwat keduniawian terutama wanita. Kita lihat realitanya, serang lelaki bisa bersemangat mencari nafkah dan melakukan amal-amal baik karena wanita. Bahkan tidak sedikit yang rela melakukan pekerjaan tercela hanya demi wanita. Sungguh wanita adalah makhluk luar biasa, dari rahimnya bisa lahir manusia semulia Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan juga sehina Fir’aun la’natullah. Sebagai contoh kisah Nabi Yusuf sdan istri Aziz yang telah membuka mata kita bagaimana wanita dengan mudah mengeluarkan rayuannya, tapi dengan izin Allah, Nabi Yusuf terbebas dari godaannya karena Allah menjaga hamba-Nya yang bertaqwa.

Pada zaman sekarang ini, eksploitasi wanita dimana-mana. Mayoritas kaum wanita itu berani bersolek dan menampakkan lekuk tubuh mereka di pasar-pasar dan di jalan-jalan serta menampakkan perhiasan dan aksesorisnya.

Siapa yang Allah kehendaki terkena godaannya maka ia akan melirik wanita-wanita tersebut lantas bisa jadi timbul syahwat terlarang yang mendorongnya melakukan hal yang diharamkan. Nauzubillah Min Zalik!

Bentuk eksploitasi kaum wanita yang lain melalui film-film, foto-foto mereka di majalah, koran-koran dan sampul barang-barang tertentu. Mereka sengaja memilih wanita-wanita cantik agar menarik minat para pemuda, karena musuh-mush Islam dengan gencarnya menjadikan waita sebagai komoditas perusak moral. Seorang tokoh aliran mansoni (free mansory) berkata: “secangkir minuman keras dan seorang biduanita dapat menghancurkan ummat Muhammad dibanding kekuatan seribu tank baja, peluru kendali dan senjata kimia yang canggih. Oleh karena itu, buatlah mereka tenggelam dalam cinta materi dan syahwat.” Yang lain juga berkata: “kita harus mempergunakan wanita. Sebab setiap kali ia mengulurkan tangannya kepada kita, kita telah mendapatkan apa yang kita inginkan dan dan berhasil memporak-porandakan serdadu penolong agama Islam.”

Tidak diragukan lagi, hal itu termasuk bencana besar pada zaman sekarang ini. Allah meneguhkan hati orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh. Siapa yang mensucikan dirinya, pandangannya tidak akan tertuju pada perkara haram itu. Beruntunglah para wanita yang takut akan azab Allah dan berusaha menjaga kesucian dirinya. Begitu juga dengan para lelaki yang mampu menjaga pandangan dan syahwatnya dari hal-hal yang dilarang Allah.

Allah telah memberikan aturan jelas dalam al-Quran, yang harus dipatuhi orang-orang beriman, laki-laki maupun perempuan dalam surat An-Nisa 30-31:

30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.

31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Jadi, sebagai wanita apa yang harus kita lakukan?


Wahai Ukhti!  Allah  telah menurunkan ayat-ayat-Nya  dengan  jelas,  supaya dengan melaksanakan  tuntutan-tuntutan  syariat  engkau terpelihara  dan terucikan dari kotoran-kotoran jahiliyah. Para penyeru kebebasan berusaha keras  untuk mengembalikan  kaum wanita  ke abad  jahiliyah  dengan  bersembunyi  dibalik  cover  peradaban modernisasi dan kebebasan.  Berhati-hatilah! Wahai  Ukhti  muslimah,  janganlah engkau tertipu dengan semboyan kebebasan yang  sebenarnya  hanya  menjajakan wanita sebagai barang dagangan yang ditawarkan  kepada  siapa  yang menghendakinya.  Jagalah dirimu, perlihara harga dirimu. Jadilah umpama mutiara yang mampu menjaga kemurnian diri ketika para perempuan lain berlomba mengejar pamor demi kesenangan sesaat. Allah SWT telah mengingatkan, Dan jika  kamu menuruti  kebanyakan  orang-orang di muka bumi ini, niscaya  mereka  akan menyesatkanmu  dari  jalan Allah.  Mereka  tidak lain hanyalah mengikuti  persangkaan  belaka, dan mereka  tidak  lain hanyalah berdusta” (al-Qur’an Surat  al-An’am: 116)

Wahai  Ukhti! Engkau Janganlah mengikuti faham feminisme yang berusaha mengotak-atik  akal  manusia  dengan  mengatakan  bahwa  wanita  wanita muslimah tidak  mempunyai kebebasan karena:

1        Aurat  wanita  lebih  susah  di jaga dibanding laki-laki

2        Wanita perlu meminta  izin suaminya jika  keluar  rumah  tapi  tidak  sebaliknya

3        Wanita  persaksiannya  hanya setengah laki-laki

4        Wanita  menerima warisan  yang  kurang  dari laki-laki

5        Wanita  harus  menghadapi  kesusahan mengandung  dan mblahirkan  anak

6        Talak  terletak  di  tangan  suami  dan bukan  di tangan  istri

7        Wanita  kurang  beribadah karena haid  dan  nifas  yang  tidak dialami laki-laki

Makanya mereka  selalu  berpromosi untuk kemerdekaan wanita. Padahal sebenarnya  mereka sendirilah yang  tidak memahami bahwa  syariat  lslam  dipenuhi  dengan  hikmah dan  pengajaran. Wanita  muslimah menerima warisan  kurang  dari  laki-laki  tapi  harta  itu menjadi  milik  pribadinya  karena dia tidak berkewajiban memberi nafkah pada  suaminya,  sedangkan  laki-laki  menerima  warisan lebih banyak tapi harus menafkahi istri  dan  anak-anaknya. Wanita harus bersusah-payah mengandung dan melahirkan anak  tapi  setiap  saat  dia  didoakan oleh seluruh makhluk Allah SWT  di muka  bumi jika  melahirkan, dan posisinya sebagai ibu tiga kali lebih tinggi dari seorang ayah, bahkan surga terletak di bawah telapak kakinya.

Wahai  kaum  hawa!  Ingatlah Allah SWI  berfirman dalam Al-Quran surat Yusuf  ayat 28, bahwa  tipu daya wanita  itu adalah besar,  sedangkan  dalam  surat an-Nisa’ ayat 76 Allah  SWT menerangkan  bahwa  tipu daya  setan  adalah  lemah. Apakah engkau rela menjadi makhluk yang lebih berbahaya dibanding  setan? Na’uzubillah minzalik!

Marilah  kita introspeksi diri dalam menghadapi  kehidupan  semu yang  hanya sebentar  ini. Luruskan  lagi  niat  dan  tujuan  kita agar bisa menjadi wanita shalehah, perhiasan dunia. Wallahu  a’lam.

*Mahasiswi S2 Tafsir Univ. Al-Azhar Cairo

تقرير حول: افتتاح البـرنـامـج فـى الفـصـل الدراسـى الثـانـى

20 February 2010 at 3:59 pm | Posted in Gen 5, MOTIVASI, ORGANISASI, UKHUWAH | 2 Comments
Tags: , ,

بعد أن انتهينا من الامتحان ….

بعد أن اشترينا كتبا كثيرة من معرض الكتاب الدولي….

وانتهينا من الإجازة …

جاء “منتدى خريجي المدرسة الدينية النموذجية كوتو بارو بادنج بانجانج”

ليقدم لكم افتتاح البرنامج فى الفصل الدراسى الثانى   في يوم الإثنين، 15 فبراير 2010 م.

جرت عادتنا في مثل هذه البرامج أن تعدَّ باللغة الاندونيسية، لكننا ارتأينا هذه المرة
أن يكون برنامجنا مميزاً مختلفاً تُحليه اللغة العربية- لغة القرآن الكريم :”وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)”. [الشعراء/192-195]

من مبدئه إلى منتهاه.

وقد تفضل “شكرى حمدى” بتقديم فقرات البرنامج. ثم بدأ “محمد فطريان قادر” (رئيس المكّى)  بإلقاء كلمة قال فيها : “هذا البيت ليس بيتي وحدي وإنما هو بيتنا جميعاً”.

نستطيع أن نفهم من هذا الكلام أن هذا المكان يستخدم للأنشطة العلمية للطلبة.

وألقى أخونا “مروان إلهامى” (مستشار المكىّ/FS. ALMAKKI) كلمة لتشجيع الطلاب / الطالبات الجدد، موجهاً النصيحة لهم:”لا تظنون أنكم تأخرتم في قدومكم إلى مصر- رغم كل الظروف والصعوبات- فما زال الطريق- طريق العلم أمامكم،فاغتنموا الفرصة واستثمروا وجودكم في مصرلتنهلوا من العلم ما استطعتم، لتكونوا خير ذخر لبلدكم وقت أن تعودوا إليها علماء معلمين”.

وتلتها محاضرة الأستاذ “علي فاضل”- رئيس اتحاد الطلاب والطالبات الإفريقي- حول :” الترغيب فى طلب العلم وتقوية اللغة “.

استهل كلامه بحديث رسول الله – صلى الله عليه وسلم-، متحدثاً عن فضل الخروج فى طلب العلم: عن أنس – رضى الله عنه – قال: قال رسول الله -صلى الله عليه و سلم- : “من خرج فى طلب العلم فهو فى سبيل الله حتى يرجع”.

وعن صفوان بن عسال – رضى الله عنه – قال: قلت: “يا رسول الله ! جئت أطلب العلم، قال: “مرحباً بطالب العلم، إن طالب العلم لتحفّ به الملائكة، و تظّله بأجنحتها، فيركب بعضها على بعض حتى تبلغ السماء الدنيا من حبهم لما يطلب “.

وعن صفوان بن عسال – رضى الله عنه – قال: قلت: “يا رسول الله ! جئت أطلب العلم، قال: “مرحباً بطالب العلم، إن طالب العلم لتحفّ به الملائكة، و تظّله بأجنحتها، فيركب بعضها على بعض حتى تبلغ السماء الدنيا من حبهم لما يطلب “.

أقول: العلم هو عبادة القلب، كان لزاماً على طالبه أن يسعى جاهداً فى اكتسابه.

كما وبيَّن الأستاذ ضرورة تعلم اللغة العربية لأنها مفتاح وأساس كل شيء. ليتمكن الطلبة من التحصيل العلمي المثمر،ويواجهوا الضعف اللغوي الحاصل بينهم،ويكفي قول النبي -عليه الصلاة والسلام-: “إنما العربية اللسان”.

وفي ختام البرنامج، تم تعارف الطلاب والطالبات الجدد على إخوانهم وأخواتهم القدامى، بإشراف “محمد شكرا” (مدير بيت الطلبة المينانج كابويين).

وأعقب ذلك مقترحات من عضوات “المكّيات

وهي:/ALMAKKIYAT”

  • الاهتمام بمدرستنا.
  • تقوية الصلات الأخوّية بيننا.
  • التركيز على القدوة الحسنة والمثل الأعلى بين الطلبة.
  • الاهتمام بالتحصيل الدراسي والتفوق فيه.
  • استمرار الأنشطة العلمية للطلبة.
  • السعي الحثيث للحصول على المرتبة الأولى في: Academy Award PPMI

الحمد الله رب العالمين، أسأل الله أن ينفعنا بهذا البرنامج، ويكتب لنا القبول، وأن يثيبنا جميعاً، ويزيدنا خيراً و بركة – آمين-.

وصلى الله على سيدنا محمد النبى الأكرم، و على آله وصحبه وسلم.

بقلم:  رينى رحماواتى محمد ناصر

المرحلة الخامسة من خريجى المدرسة الدينية النموذجية كوتو بارو بادنج بانجانج

TAHUN BARU HIJRIYAH: MOMENTUM PENINGKATAN TAKWA

19 December 2009 at 2:41 pm | Posted in AKHLAK, Gen 1, MOTIVASI | Leave a comment
Tags: , , ,

oleh: Dwi Sukmanila Sayska*

Perputaran waktu terus bergulir seiring pergantian siang dan malam yang menjadi sunatullah di alam raya ini. Tanpa terasa kita telah sampai lagi ke bulan Muharam, bulan pertama dalam perhitungan kalender hijriyah.

Kedatangan bulan Muharram ini, dapat kita jadikan sebagai salah satu momentum, untuk kembali bertafakur dan bermuhasabah, mengevaluasi hari-hari yang telah berlalu dan merancang target-target baru untuk hari mendatang.

Karena, semakin lama kita menghabiskan umur kita di dunia, berarti semakin dekat dengan kehidupan yang sesungguhnya, yaitu akhirat nan abadi. Sebagaimana firman Allah swt:

Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah senda gurau dan permainan belaka; dan sesungguhnya negeri akhirat itu ialah kehidupan yang sebenar-benarnya; kalaulah mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabut: 64).

Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia dengan segala gemerlapan dan keindahannya, tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kekekalan kehidupan akhirat. Dunia hanyalah panggung sandiwara dimana setiap manusia memainkan peran masing-masing untuk melihat siapa yang terbaik di antara mereka. Dan hari pembalasan itu adalah di akhirat sana, ketika setiap diri akan menerima apa yang pernah mereka usahakan di dunia.

Mari kita renungkan ungkapan Rasulullah saw suri teladan kita, ketika suatu hari beliau bangun dari tempat pembaringannya, dan Abdullah bin Mas’ud melihat bekas jalur-jalur tikar di punggungnya. Ini kerana tikar alas tidur Rasulullah saw dibuat dari daun kurma kasar. Timbullah rasa kasihan di hati Abdullah bin Mas’ud, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah seandainya engkau perintah aku untuk mencari tikar yang lembut untukmu, maka aku akan berusaha mendapatkannya”.

Tetapi Rasulullah saw bersabda: “Bagiku berada di dunia ini ibarat seorang yang berjalan di tengah panas, lalu singgah sebentar berteduh di bawah sepohon kayu yang rindang, setelah istirahat sejenak untuk menghilangkan lelah, maka dia beranjak meninggalkan pohon rindang itu dan meneruskan perjalanan”. (HR. Tirmizi)

Demikianlah Rasulullah mengumpamakan dunia ini, bahwa disini kita hanya sekedar singgah sebentar, untuk kemudian melanjutkan perjalanan yang teramat sangat panjang di akhirat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah juga menggambarkan, bahwa lamanya perjalanan hidup yang kita lalui ibarat es yang mencair. Sungguh sangat singkat bila dibandingkan dengan keabadian yang akan kita hadapi sesudahnya. Maka sangatlah merugi apabila perjalanan hidup yang singkat ini justru berlalu dengan kesia-siaan belaka. Tanpa harga, tanpa makna, tanpa cita-cita. Hingga tiada bekal memadai untuk mengarungi kehidupan hakiki di akhirat nanti.

Lalu bekal apa yang mesti kita persiapkan di dunia untuk menuju kehidupan abadi tersebut? Dengan hartakah? Pangkatkah? Gelarkah? Atau keturunankah? Tentu saja bukan, sebab Allah Maha Kaya, Maha Berkuasa, Maha Suci lagi Maha Tinggi.

Allah telah mengingatkan kita semua dalam firman-Nya:

Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah: 197)

Dan Allah Swt berfirman dalam surat Al-Hasyr:

Artinya: “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)

Bekal yang harus kita persiapkan tiada lain dan tiada bukan hanyalah takwa, karena takwa adalah sebaik-baik bekal dan persiapan. Sungguh naïf jika seorang tidak menyiapkan bekal apa-apa padahal dia sadar betapa panjang dan penuh rintangannya perjalanan yang akan dia hadapi di akhirat nanti. Hendaknya, dalam kehidupan yang sekejap ini, kita telah menyiapkan bekal ketakwaan yang cukup sehingga kehidupan akhirat menjadi lebih baik. Sebagaimana firman Allah swt:

”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’aam ayat 32)

Rasulullah Saw dalam sabdanya juga banyak mewasiatkan ketakwaan kepada para sahabat dan umatnya. Di antaranya adalah dalam khutbah haji wada’, Abu Umamah al-Bahili meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Bertakwalah kepada Allah Tuhanmu, shalatlah lima waktu, berpuasalah pada bulanmu, bayarlah zakat hartamu, taatilah pemimpinmu, maka kamu akan masuk surga Tuhanmu.” (HR. At-Tirmidzi 1/190)

Mu’az bin Jabal juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, timpalilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan dapat menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi No. 1987, HR. Ahmad 5/153 dan al-Hakim 1/54).

Demikian pentingnya nilai ketakwaan agar wujud dalam diri seorang mukmin, sehingga Allah dan Rasul-Nya sangat menekankan hal tersebut dan menjadikannya sebagai syarat utama keselamatan di akhirat nanti. Lantas, bagaimanakah hakikat takwa itu yang sesungguhnya?

Takwa secara bahasa artinya adalah al-shiyanah yaitu memelihara, al-hadzru yaitu hati-hati dan al-wiqayah waspada dan menjaga.

Sedangkan secara istilah takwa berarti menjaga diri dari murka dan azab Allah dengan tunduk kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Para sahabat dan ulama terdahulu, telah memberikan pengertian yang cukup jelas tentang hakikat takwa dalam jiwa seorang mukmin. Diantaranya, dalam kitab Fathul Qadir karya al-Syaukani dikisahkan, Khalifah Umar bin Khattab pernah ditanya tentang takwa, beliau menjawab, “Apakah engkau pernah melalui jalan yang banyak bertaburan duri?”. “Ya pernah” jawab si penanya. “Maka apa yang kamu lakukan?” Umar kembali bertanya. Penanya menjawab, “Saya akan berjalan dengan berhati-hati”. Lantas Umar berkata, “Seperti itulah takwa”.

Hasan al-Basri berkata: “takwa adalah berhati-hati terhadap yang diharamkan Allah dan melaksanakan kewajiban yang telah diperintahkan-Nya”. Dan Mujahid berkata: “Takwa kepada Allah artinya, Allah harus ditaati dan pantang dimaksiati, selalu diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud sebenar-benarnya takwa adalah selalu taat kepada Allah dan berusaha untuk tidak berbuat maksiat, selalu berdzikir kepada Allah dan segera bertaubat, serta selalu bersyukur atas segala anugrah Allah. Sayyid Sabiq dalam kitabnya “Islamuna” menerangkan bahwa takwa bermuatan keyakinan (akidah), pengabdian (ibadah), akhlak (adab) dan berbagai kebajikan (al-bir). Lebih lanjut dia mengatakan bahwa orang yang berhak menyandang sebutan “muttaqin” hanyalah orang yang mampu menahan dan mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi semua hal-hal yang syubhat serta berani berjihad di jalan Allah. Sedangkan menurut Sayyid Qutub dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—takwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua halangan dalam kehidupan.

Jadi, esensi takwa adalah menghadirkan keagungan Allah swt di dalam hati dan merasakan kebesaran dan keMahaan-Nya, kemudian merasa takut terhadap murka-Nya sehingga berusaha sedaya upaya menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian, takwa bukan sekedar menjauhi dosa-dosa besar saja, tapi mencakup semua penyelewengan dan penyimpangan meski itu hanya kecil. Layaknya pendaki gunung yang tinggi, mereka tidak terlalu takut dengan ancaman batu-batu besar, karena batu-batu besar mudah dihindari. Mereka jauh lebih takut kepada kerikil-kerikil kecil yang masuk tanpa disadari ke dalam sepatu, sehingga kaki akan menjadi luka dan menyebabkan cedera parah di ketinggian gunung yang bersuhu rendah. Begitu pula seorang yang berusaha untuk menggapai derjat takwa, ia bukan hanya takut dengan dosa-dosa besar, namun ia lebih takut dengan dosa-dosa kecil yang kemudian berpeluang menggelincirkannya pada kemudharatan.

Di dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan gambaran tentang indikasi ketakwaan dalam diri seorang mukmin, agar kita mengetahui ciri-cirinya sehingga kita dapat mengevaluasi dan mengukur diri sendiri, sudahkah kita berada dalam derjat muttaqin atau minimal berusaha menggapainya. Antaranya indikasinya adalah:

Beriman kepada perkara yang ghaib (QS Al-Baqarah: 3)

Iman kepada yang ghaib mencakup keimanan terhadap semua berita yang disampaikan Allah dalam al-Quran dan melalui lisan Rasul-Nya, tentang hari kiamat dan kehidupan akhirat dengan segala fase-fasenya. Keyakinan akan adanya kiamat dan hari akhirat inilah yang menjadikan orang yang bertakwa senantiasa menjaga dirinya di dunia, agar selamat di akhirat kelak.

Menegakkan shalat (QS Al-Baqarah : 3 dan 177)

Shalat adalah sarana untuk mengingat Allah secara kontinyu, yang menjadi pembeda antara orang mukmin dengan kafir. Allah telah menetapkan waktu-waktunya bagi kita, dan memerintahkan untuk tidak melalaikannya. Menegakkan shalat bagi orang yang bertakwa tidaklah semata-mata demi menggugurkan kewajiban, akan tetapi lebih dari itu, ia merupakan komunikasi dengan Allah yang bersumber dari kekhusyukan, yang berimplikasi tercegahnya diri dari perbuatan keji dan munkar.

Mengeluarkan zakat dan infaq (QS Al-Baqarah : 3, 177; Ali Imran : 134; Al-Zariyat : 19)

Bagi orang yang bertakwa, anugrah harta yang Allah berikan adalah salah satu sarana untuk semakin dekat dengan-Nya. Ia sadar betul bahwa dalam harta yang dititipkan kepadanya, terdapat hak-hak orang lain, sehingga ia tidak akan merasa berat untuk menginfakkan sebagian hartanya baik ketika rizkinya lapang maupun ketika sempit.

Banyak mengingat Allah dan gemar bertaubat (QS Ali Imran : 135; QS Al-Zariyat: 17, 18)

Orang yang bertakwa pasti banyak mengingat Allah di setiap waktu, dalam segala keadaan. Ia mengingat Allah dengan segenap anggota badannya: dengan hati, lisan dan gerak-gerik organ tubuhnya. Ia juga senantiasa memperbaharui taubatnya dan memperbanyak istighfar terutama di waktu sahur/sebelum subuh, sehingga ia tidak berlarut-larut dalam kesalahan.

Menunaikan janji dan amanah (QS Al-Baqarah : 177)

Orang yang bertakwa jauh dari sifat melanggar janji dan mengkhianati amanah, yang merupakan sifat orang munafik. Adapun janji dan amanah yang paling agung adalah kesediaan dan kerelaan untuk beribadah kepada Allah, Rabb semesta alam. Ia juga selalu berusaha untuk menepati janji terhadap sesama manusia serta menunaikan amanah yang diembankan kepadanya.

Bersikap adil dalam segala urusan (QS Al-Maidah : 8)

Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak mengurangi proporsi satu hak dengan melebihkan yang lainnya. Termasuk adil terhadap diri sendiri, dengan memberikan hak jasmani dan rohani sebagaimana mestinya. Keadilan juga harus diterapkan kepada semua manusia, sehingga kebencian pada seseorang atau suatu kaum tidak menghalangi berlaku adil kepadanya.

Bersabar terhadap berbagai musibah yang menimpa dirinya (QS Al-Baqarah : 177)

Orang yang bertakwa sadar bahwa semua yang ada di dunia adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya. Ia tidak akan hanyut dalam kesedihan jika diuji oleh Allah dengan suatu musibah, namun menerima dengan lapang dada sembari menguak hikmah-hikmah Allah dibalik semua peristiwa. Malah ia menjadikan ujian sebagai batu loncatan meningkatkan kecintaan kepada Allah, Penggenggam alam semesta ini.

Pandai menahan amarah dan suka memaafkan (QS Al-Baqarah : 237; Ali Imran : 134)

Pengendalian diri dan hawa nafsunya adalah ciri orang bertakwa. Ia tidak mudah terjerat hasutan setan yang selalu mengobarkan amarah dan kebencian dalam jiwa bani Adam. Disamping itu, orang yang bertakwa juga suka memberikan maaf kepada orang lain yang berbuat kesalahan kepadanya, bahkan sebelum orang tersebut meminta maaf kepadanya.

Berdasarkan beberapa ciri di atas, jelaslah bahwa orang yang bertakwa selalu berusaha sungguh-sungguh berada dalam ketaatan kepada Allah secara menyeluruh, baik dalam perkara wajib maupun sunnah, berupaya meninggalkan kemaksiatan serta menghindarkan diri dari perkara yang tidak bermanfaat karena khawatir terjerumus ke dalam dosa. Semua inilah yang harus kita tingkatkan di hari-hari mendatang, agar waktu yang masih tersisa dalam setiap hembusan nafas kita, menjadi bekal berharga untuk mengarungi kehidupan abadi di akhirat nanti.

Namun yang tidak kalah penting adalah, terdapat banyak sekali hadiah yang dijanjikan Allah dalam Al Qur’an bagi orang-orang yang bertakwa, bukan hanya keselamatan di akhirat namun juga kepalangan hidup di dunia. Diantaranya, adalah:

  1. Mendapatkan keselamatan dari bencana dan mendapatkan rezeki dari tepat yang tak terduga-duga. Inilah yang dijanjikan dalam firman Allah:

Artinya: Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan Siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS Al-Thalaq 2-3)

  1. Allah memberikan furqan yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil. Sebagaimana Allah janjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS Al-Anfal 29)

  1. Mendapat kecintaan Allah, seperti dijelaskan dalam firman-Nya:

Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Taubah 7)

  1. Menjadi yang termulia disisi Allah. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya:

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat 13)

  1. Takwa menjadi sebab kesuksesan dan keberuntungan.  Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

Artinya: Dan siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan. (QS Al-Nur 52)

  1. Menjadi wali Allah dengan dasar firman Allah:

Artinya: Sungguh wali-waliNya hanyalah orang-orang yang bertakwa; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Al-Anfal 34)

  1. Allah menjadi wali/pelindung orang yang bertakwa. Sebagaimana difirmankan Allah:

Artinya: Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Jatsiyah 19)

  1. Dijaga dari para musuhnya, sebagaimana difirmankan Allah:

Artinya: Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS Ali-Imran: 120)

  1. Mendapatkan bantuan dari Allah, seperti dijelaskan dalam firmanNya:

Artinya: Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS Al-Nahl 128)

  1. Takwa menjadi sebab mendapatkan berkah, seperti dalam janji Allah pada firmanNya:

Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raf 96)

  1. Amalannya diterima Allah, sebagaimana dalam firman Allah:

Artinya: Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS Al-Maidah 27)

  1. Selamat dari adzab Allah di neraka. Ini dijanjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu; hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan; kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS Maryam 71-72)

  1. Tidak merasa takut, berduka dan selalu bahagia didunia dan akherat serta mendapatkan kemenangan agung. Berdasarkan firman Allah:

Artinya: Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS Yunus 62-64)

  1. Dimudahkan urusannya didunia dan akherat, sebab Allah jelaskan hal ini dalam firmanNya:

Artinya: Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Al-Thalaq 4)

  1. Dihapuskan dosa dan kesalahannya sebagai anugerah Allah atas ketakwaannya. Allah berfirman:

Artinya: Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (QS Al-Thalaq 5)

Dan firmanNya: Artinya: Dan Sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. (QS Al-Maidah 65)

  1. Mendapatkan syurga-syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Ini dijanjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.(QS  Ali Imran 198)

Dan firmanNya: Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi, di sisi Tuhan yang berkuasa. (QS Al-Qamar 54-55)

Demikianlah keistimewaan yang dikhususkan bagi orang yang bertakwa kepada Allah. Semoga kita mampu menempa diri meskipun letih dan tertatih, untuk meningkatkan kembali ketakwaan dalam diri. Dan perhitungan tahun baru ini, dapat menjadi ajang untuk membuka lembaran baru dalam sejarah hidup kita yang singkat ini, dan membangkitkan kembali semangat perjuangan memperbaiki diri. Dengan memulai hari baru, juga bisa menjadi langkah awal ketaatan yang menyeluruh dalan setiap perjalanan hidup kita ke depan. Karna, andai takwa itu tidak bersemayam dalam jiwa sedikitpun, lalu bekal apa lagi yang bisa kita andalkan menghadap Allah di akhir nanti. Wa’lLahu a’lam bi al-shawab.

*Tulisan ini pernah dimuat di buletin “Yasmin” FOKMA (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia)

Mahasiswa Muslim Ideal

17 December 2009 at 10:00 am | Posted in AKHLAK, Gen 9, MOTIVASI | Leave a comment
Tags: ,

Oleh : Lina Rizqi Utami

Pendahuluan

Dalam sebuah tahapan hidup telah ada ketentuan dasar terhadap pendidikan. Dimulai dari playgroup, TK, SD, SMP, SMU dan kemudian status paling produktif yaitu mahasiswa. Ketika jenjang ini telah kita lalui tahap demi tahap, maka kesempurnaan akan terasa tatkala ilmu yang didapat segera diamalkan. Oleh karena itu, banyak perguruan tinggi yang menawarkan jurusan-jurusan terbaik sebagai modal hidup untuk mendapatkan skill. Pilihan terbaik ada di tangan kita sebagai generasi muda, karena jika salah pilihan maka kita akan kehilangan orientasi untuk menentukan target hidup. Sebagai mahasiswa dituntut untuk menggali ilmu lebih dalam dunia maupun akhirat. Karena orang berilmu adalah pewaris para ulama dan orang yang paling takut kepada Allah. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Fatir:28

انما يخشى الله من عباده العلماء

Realita Mahasiswa Zaman Modern

Waktu telah unjuk gigi, dimana manusia bisa mengikuti arus globalnya yang terbentang luas. Mahasiswa jadi santapan lahap oleh sang zaman, ketika mahasiswa tidak mampu membendung arus yang semakin kencang. Contoh dari arus itu adalah pemikiran-pemikiran liberal yang ditawarkan oleh orang orientalis untuk mencuci otak mahasiswa muslim. Kewajiban yang seharusnya di kerjakan oleh seorang mahasiswa jadi terabaikan. Pemikiran yang rasional kini tidak lagi bertumpu pada akal sehat. Kenapa ini bisa terjadi? Jawabannya ada pada diri sendiri. Mungkin sebagian mereka tidak lagi menyadari hakikat seorang penuntut ilmu. Keganasan zaman menjadikan generasi muda kita rusak seiring berkurangnya uswah hasanah dalam menuntut ilmu. Norma dalam tatanan masyarakat telah diabaikan karena pengaruh ghazwul fikri yang menimpa kaum muslimin, mulai dari anak-anak, orang tua dan para remaja. Inilah yang menjadi problematika kegagalan seorang mahasiswa dalam urusan diin, bisa jadi sebagian diantara mereka dimudahkan Allah SWT jalan untuk menuju sukses dunia, tapi tidak untuk ummat, hakikatnya mereka yang sukses tanpa agama, hanya tipuan belaka, seperti sabda Rasulullah SAW

الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الا ذكر الله تعالى وما والاه و عالما او متعلما (رواه اترمذى و قال (حديث حسن)

Hakikat Sang Mahasiswa Ideal

Mahasiswa yang terampil ilmu dan agama dan dunia tentu mempunyai strategi jitu, bagaimana kesuksesan mereka sebagai mahasiswa dambaan ummat dan negara, yaitu dengan teknik beradab yang ditanamkan dalam diri, terutama bagi kita yang sedang menyandang status mahasiswa :

  1. Menyadari bahwa menuntut ilmu itu adalah ibadah.
  2. Semakin tinggi ilmu yang kita miliki maka, semakin takut kita kepada Allah.
  3. Meneladani kisah para salafus shaleh dalam mencari ilmu, serta keikhlasan mereka dalam menuntut ilmu.
  4. Zuhud dan tawadhu terhadap fatamorgana dunia.
  5. Mengamalkan dan mengajarkan  ilmu yang telah didapat. Karena itu merupakan sebuah amalan yang tidak putus-putus pahalanya, seperti sabda Rasulullah SAW :

اذا ما ت ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له (رواه مسلم)

  1. Tidak sombong dengan ilmu yang telah dimiliki.

Oleh karena itu, kesadaran yang mulai ditumbuhkan akan mewujudkan hakikat seorang mahasiswa ideal dengan adab dan pengamalan dalam kesehariannya serta melaksanakan kewajiban sebagai mahasiswa.

Mahasiswa adalah dambaan ummat dan negara, karena ditangan mereka akan berlanjut estafet kemajuan Negara. Tapi tidak semua mahasiswa dapat dikatakan penerus bangsa. Yang dikatakan penerus bangsa itu adalah mahasiswa yang ideal, seimbang agama dan dunia. Mereka yang faqih dalam urusan agama, dan eksis dalam urusan dunia, Allah SWT berfirman dalam surat  At-taubah:122

و ما كا ن المؤمنون لينفروا كافة فلولانفرمن كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا فى الدين ولينذروا قومهم اذا رجعوا اليهم لعلهم يحذرون

Mahasiswa yang ideal peduli terhadap kemajuan agama dan ummat. Mereka sangat prihatin terhadap perkembangan zaman yang banyak merusak moral kaum muslimin terutama mahasiswa sebagai calon penerus. Mereka berkhidmat untuk organisasi sebagai latihan menjaga amanah, bertanggung jawab, sosialisasi dengan berbagai karakter, disiplin, bertoleransi, dan tentunya belajar sabar. Karena organisasi adalah salah satu wadah untuk mencerdaskan emosional mahasiswa, sedangkan spiritual harus sudah tertanam dari kecil, dan disempurnakan pada masa-masa produktif ini sebagai mahasiswa yaitu dengan ikut kajian islam, talaqqi bagi mahasiswa yang menuntut ilmu di Mesir, tahfizul qur’an, dan intinya pembinaan diri sendiri untuk dekat dengan Sang Khaliq.

Intelektual akan sempurna ketika pembinaan emosional dan spiritual telah terjalani. Karena sebagai mahasiswa tidak dituntut untuk mengejar gelar dan naik tingkat, tetapi  kedalaman ilmu lah yang mesti diraih. Allah SWT berfirman dalam surat Taha:114

و قل رب زدنى علما

Dengan adanya ilmu maka akhirat dapat kita kejar dan dunia dapat kita raih. Keistimewaan orang berilmu sangat banyak, karena ilmu bagai permata di dasar lautan, tak lekang oleh waktu dan tak hapus di makan zaman. Rasulullah SAW bersabda:

عن ابى الدرداء رضى الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول من سلك طريقا يبتغى فيه علما سهل الله طريقا الى الجنة و ان     الملائكة لتضع اجنحتها لطلب العلم رضا بما يصنع و ان العلم ليستغفر له من فى السماوات ومن فى الا رض حتى الحيتان فى الماء و فضل العلم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب و ان العلماء ورثة الانبياء و ان الانبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما و انما ورثوا العلم فمن اخذه يحظ وافر( رواه ابو درداء و الترمذى )

Dari hadits diatas jelaslah bahwa orang yang memiliki ilmu mendapat keutamaan, semua yang berada dilangit dan dibumi memintakan ampun kepada Allah SWT untuk sohibul ‘ilmi. Karena ilmu itu bagai mutiara dan alam pun bertasbih memuji hamba Allah yang berilmu. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa tanamkanlah azzam untuk cinta kepada ilmu, karena betapa gembiranya ummat dan negara memiliki penerus yang berilmu dan berwawasan luas.

Kesimpulan

Apa yang ditanam itulah yang dituai, seperti itulah hakikat kita sebagai seorang mahasiswa. Apa yang kita usahakan sekarang maka, akan muncul hasilnya dikemudian hari. Sadarilah, apa yang akan kita wariskan oleh anak cucu kalau bukan ilmu yang bermanfaat. Ilmu agama dan dunia. Karena tanpa agama manusia binasa, tanpa ilmu manusia buta, dan tanpa iman manusia sengsara. Tak ada yang patut disombongkan dengan apa yang telah diusahakan. Mumtaz, jayyid jiddan, jayyid bukanlah sebuah kata “final” bagi penuntut ilmu sejati, tetapi mardhotillah lah sebagai tujuan dari penghambaan kita kepada Rabbul Jalal. Asalallahu ta’ala ayyaj’alani wa iyyakum man haa ulaai allazina faqqahu fidinillahi wa ‘amiluu wa ‘allamu wa nafa’u wa intafa’u bih.

*MAhasiswi tk 1 Al-Azhar Mesir – Gen 7 MAKN Putri

Ranah Minang Mananti Kito

10 December 2009 at 5:15 pm | Posted in MOTIVASI | Leave a comment
Tags: , , ,

By: ‘Ala Gambe Property

Bismillahirrohmanirrohim,,,

Jo bismillah ambo mulai supayo barakaik langkah salanjuiknyo, bak kato junjuangan kito Muhammad SAW kullu amrin dzu balin la yubda-u bibasmalah fahuwa abtar“. Puji syukur untuak Tuhan kito nan satu dan ndak ado duonyo, panagak alam rayoko sahinggo kito bisa banauang di dalamnyo. Shalawaik sarato salam  untuak junjuangan kito anak ameh dari Abdullah bin Muthalib pamato hati Siti Aminah panyajuak qolbu dek Khadijah, palipua lara Sayyidah Aisyah (Radhiallahu ‘anhum), banyak basalawaik untuak baliau kambalinyo kapado kito juo, Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

Sabalun malangkah jauah, nan ambo minta maaf lah dulu kapado dunsanak sadonyo, disusun jari nan sapuluah, batakuakkan kapalo nan ciek, kok ado nan ndak pado tampeknyo beko maaf tuluih dari ambo, ambo nan bukan cadiak pandai, alim bukan ulama tidak, pangalaman bintang-bintangan sakadar tau dek manyimak, sakalaik ambiak kasalendang pambaok anak turun mandi kain baturap batarawang, jo adaik ambo mangapalang, jo syara’ jauah sakali, ilimu bakurang-kurang, mako dek sabab karano itu, kok singkek arok kadiuleh, panjang bakarek lamah bataua salah basapo, innama ana basyarun mislukum.

Alah ampia sabulan kito salasai ujian term 1, lah lapeh pulo panek dek bagadang, tunggang tunggik dek maapa malawan kantuak dek udaro nan dingin sangaik(bara “dek” sa ons;-). Mudah-mudahan rancak hasilnyo, bisa jadikaba baiak ntuak rang gaek, batu loncatan wak kamuko, jo do’a wak saratokan.

Dunsanak, o…dunsanak dima wak kini ko?  Manga wak disiko? Apo nan bacari? Tolong tanyo diri awak baliak, katuak hati ketek tu baliak! Sakileh wak mancaliak kalakang, tapi ingek bukan untuak manangisi nasib malang nan manimpo namun untuak maambiak sapatiak ibrahnyo nak taratik langkah wak kamuko. Katiko wak barancana kamari sado jalan wak tampuah, kian kamari mancari biaya, masuakan proposal ka sado paluang nan nampak, ado juo kamungkinan masuak lai baphoto copy juo naskah tu, tahajuik tiok malam basaratoan jo do’a nan ndak hanti-hantinyo, lai takana? (a, alah se tu lu, beko tabik lo tangih dek e). Nah, kini wak baliak kamari liak, ciek lai tanyo ambo, lai babuek target tahun bara wak pulang? Iko pantiang ko, jan cek maniru falsafah aie se, falsafah urang falsafah wak nan difalsafahan urang awak, tadanga urang mangecek, “coba perhatikan air”, nan dimakasuik urang tu ndak cek mangaliaenyo se do, tapi lain pulo dunsanak, panjang lo kajie tu, wak tinggan se lah lu dih, nah baliak wak ka kaji tadi. Ingek ndak slogan di Rumah Gadang waktu manyaambuik MABA patangko, disinan tatulih “ANDA DATANG UNTUK KEMBALI”, a… ikonyo dunsanak. Wak ndak slamonyo disiko do, banyak nan mananti, manunggu panuah harok, disinan Ayah nan indak kamanuntuik balasan payah manggadangkan, yang ndak tau siang jo malam, hujan badai untuak mahiduik-i awak, Mandeh nan indak kamanagiah hutang mangasuah awak sajak ketek sajak dirahim, sampai satitiak aia susu, batanggang mato malalokkan. Anak nan kadipangku isuak, kaponakan nan kadibimbiang nantik.

Ndak itu sajo do, masyarakaik nan mananti awak, maharok awak nan kamambimbiang mereka mamanuahi sarugo firdaus-Nyo.

Banyak nan ka wak benahi di kampuang du, dunsanak  nan di Pasaman lai rela  hati tu manarimo fakta kalo gereja nan paliang banyak di Sumbar tu adolah di Pasaman. Nan di Padangpanjang barasihan baliak namo serambi mekah yang dulu identik dengan anak gadihnyo kama pai mamakai baju kuruang, dan kini dinodai dek urang-urang nan basirancak mamakai baju nan serba ketat. Baitu juo nan di Padang, Payokumbuah, Agam dan sekitarnyo, ranah minang menanti kita…

Nah dunsanak, ndak pai manyilau fir’aun wak kamari do, ndak pai mancari namo wak kamari do, barek baban nan kadipikua sajak langkah bamulo ka Bandara Tabiang/BIM  kapatangko. Rang mudo yang isuak kajadi biduak tampek panompangan, atau rantiang katampek inggok gagak, (tampuak tangkai pucuak pimpinan pamacik taraju rumah tanggo, payuang panji kabakeh balinduang) dan bundo kanduang nan kajadi caminan anak cucu, palito di rumah tanggo. Nah itu sadonyo paralu baka. Dan juo niaik mandidik kamanakan atau mauruih anak mambantu sanak famili bukan dek ingin baleh budi do, sarato arok baleh jaso, bukan, bukan itu tujuan wak, bakarajo karano suruah baranti karano tagah amanah dipaliharo, itulah amalan banamokan, mako naknyo dapek nilai ibadah batua-batua niaik dipangka hanyo karano Allah sajo, bukan karano sabab lain. Dek sabab karano itu, ikhlas-ikhlas kalo manolong, suko-suko kalo mambari, usah kuniang karano kunik, lamaknyo karano santan, maharok buliah mako bajariah.

Akhir carito, mangiriang do’a jo tawakal nan ujuangnyo di tangan Tuhan, bak pituah cadiak pandai “usah dipandang laweh sawah, tapi madok sajo manakua tanah nan dipangkua baransuik juo dari satapak kasatapak indak taraso disadari lah tibo ditapi pamatang, salasai satupak bunta baraliah kapiriang panjang, sawah lah luluak tingga manuga mananami hari patang awak baranti. Tidak pernah keterpaksaan menghasilkan  yang terbaik, tapi lakukan dengan ikhlas karano Tuhan dan tangguang jawab sajo”.

Wallahu’alam bisshowab.,.

EMAK INGIN NAIK HAJI…

3 November 2009 at 12:55 pm | Posted in Gen 1, MOTIVASI | 3 Comments
Tags: , , ,

kaver-emak-final

oleh: Dwi Sukmanila Sayska*

Ini bukannya judul film religi yang akan dirilis 12 November mendatang, yang diadaptasi dari cerpen Asma Nadia? Kok tiba-tiba ngomongin film? Apa shootingnya di Kairo lagi? Hehehe jelas bukan sodara-sodara…

Sebenarnya disini bukan membahas filmnya, tapi pesan moral dari film tersebut, terutama tentang  HAJI-nya itu… hajiapalagi sekarang-sekarang ini kan masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir) lagi sibuk-sibuknya ngurus keberangkatan haji, ada yang jadi petugas temus (tenaga musiman) dan ada yang haji pribadi.

Bahkan dari Almakkiyat juga ada lho yg haji…selamat jalan ya ukhty…semoga meraih haji mabrur…jangan lupa doakan kami semuwa…agar diampuni dosa, diberi bahagia di dunia dan di surga, dan dipanggil Allah pula kesana ^_^ Oh ya…oleh-olehnya jangan lupa…

Kembali ke film, berdasarkan info dari berbagai sumber dan kesimpulan sepihak stelah liat trailernya, film Emak Ingin Naik Haji menyentil fenomena sosial ketimpangan umat Islam Indonesia dalam melaksanakan rukun Islam kelima. Emak adalah representasi dari kelompok masyarakat yang sangat merindukan Mekkah tapi karena faktor finansial, pergi haji hanyalah impian yang sangat jauh di awang-awang (kayak Asrul dan Udin di PPT 3 juga). Sementara itu, Juragan Haji bersama keluarganya yang kaya raya, dengan sgala kemudahan bisa pergi haji dan umroh kapan saja mereka suka. Adapula Pak Joko, politisi yang memaksakan diri pergi haji karena ingin memamerkan titel hajinya saat pemilu demi meraup banyak suara. Sedangkan putri juragan yang masih belia pergi umroh hanya karna bareng artis idola.

Hal yang paling menyentuh adalah kegigihan Emak mewujudkan impiannya, menyisihkan rupiah demi rupiah dari hasil jualan kue dan sebagian hasil jual lukisan anaknya, Zein untuk ditabung jadi ONH. Bagaimana dengan kita? Sementara jarak ke Mekkah jauh lebih dekat dibanding dari Indonesia. Memang sih, haji dari Mesir tidaklah mudah, walau ONH cuma ½ dari ONH Indonesia, tapi tetap saja MAHHALL karna belum termasuk akomodasi dan komsumsi di tanah suci. Belum lagi wanita harus punya mahram, jadwal haji yang bentrok sama waktu kuliah atau ujian, si kecil yang tak mungkin ditinggal dll.

panggil kami ya Rabb

Tapi setidaknya, apakah kerinduan itu sudah bersemayam di hati kita, untuk segera menjadi tamu di rumah-NYA? Atau malah kekurangan dana sudah bikin kita putus asa tanpa terus berjuang agar bisa haji tahun depan, depannya lagi atau depan-depannya lagi? Atau karena merasa masih muda, belum terfikir untuk menyambut panggilan suci-Nya? Memang benar, haji hanya wajib bagi merka yang mampu menunaikannya, dan itu bukan sekedar masalah dana…tapi apakah kita sudah berusaha untuk mampu? Akhwati fillah… Sudahkah niat terpancang di jiwa kita agar pergi haji bukan tinggal khayalan semata? Seperti ungkapan Emak: “raga Emak mungkin tidak mampu kesana, tapi Allah tahu, hati Mak udah lama ada disitu…”

masjiid-alharamnabawi

bundaDi sisi lain, film ini (baca: trailernya) juga menyentak kalbu menyaksikan perjuangan Zein untuk menghajikan ibunya.  Mengingatkan kita tentang bakti pada ibunda, atas kasihnya yang tak akan terbalas dengan dunia dan seisinya. Sudahkah kita mampu walaupun sekedar mengukirkan seulas senyum di wajah tulus ibu terkasih? Telahkah kita percikkan sedikit bahagia di bening hati bunda tersayang? hujan

Untuk menambah tabungan haji Emak, Zein bahkan sempat berniat mencuri, hingga akhirnya ikutan undian di koran dan menang. Namun saat akan memberitahu kabar gembira itu pada Emak, dia kecelakaan, koran di tangannya berhamburan dibasahi hujan.

doakuPerjuangan itu menyusupkan rindu, melayang jauh ke sebrang benua sana, mengenang ayah bunda tercinta… betapa ingin membawa mereka ke Mekkah…Ya Allah kabulkanlah…

Mak
ingin kubawa kau pada rumah mimpimu
yang dari dalamnya terpancar keindahan Ilahi
dan berjuta tanda kebesaran-Nya

Tapi Mak
tanganku terlalu lemah dan daya yang kupunya
seperti hembusan angin melintas celah batu karang

Mak
rumah mimpimu
entah kapan kupersembahkan
tapi ia selalu ada dalam doaku

(puisi dikutip dari anadia.multiply)

*Lulusan S2 al-Quran Sunnah Univ Kebangsaan Malaysia – Gen 1 MAKN Putri

MUTIARA YANG HILANG

31 October 2009 at 10:42 pm | Posted in Gen 7, MOTIVASI, Uncategorized | 2 Comments
Tags: ,

oleh: Desri Nengsih*

Tidak ada makhluk yang paling sempurna selain wanita. Sosok penuh misteri yang tak ada tandingannya. Saban hari jutaan lelaki memuja dan bersimpuh memohon cintanya. Para penulis novel klasik hingga modern mengakuinya sebagai ratu dunia akhirat. Mereka dipuji lewat untaian kata yang begitu indah dan syair lagu-lagu yang merdu. Wanita menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering, di mana ada wanita di sana kehangatan hidup dapat dirasakan. Begitulah filosof barat memandang wanita.Itulah yang terjadi pada saat sekarang ini.

3155928814_a492f9954bNamun Islam memandang wanita bukanlah seperti itu. Dalam Islam wanita merupakan sosok yang sangat indah, ibarat batu permata yang penuh dengan harga diri. Kita akan temukan banyak ayat dan hadits bercerita tentang wanita hingga kita akan merasakan betapa agungnya wanita dalam kaca mata Islam, yang terkenal dengan kelembutan dan keanggunannya. Namun dengan keanggunannya itu bukanlah berarti ia lemah.

Di balik tabir kelembutan dan keanggunanya itulah tersimpan kilauan mutiara yang akan menggemilangkan Islam di mata dunia. Muslimah yang beridentitas gemilang inilah yang pernah menjadi sayap kiri dalam perjuangan li I’lâ kalimatillâh.

Tetapi pada zaman sekarang ini masih adakah muslimah yang berjiwa kental seperti Sayyidatina Aisyah atau Ummu Habibah, mutiara Islam yang lahir dari tapak berlumpur darah yang tercatat dalam sejarah agung Islam? Apakah mutiara itu hanya bersinar pada zaman tersebut, bukan pada zaman sekarang?

Fenomena Muslimah Hari Ini

Pada zaman sekarang, kita telah kehilangan mutiara Islam terbesar, bahkan lebih besar dari pada kepergian seorang ulama, karena tangan wanita mampu menggoncang dunia, hingga hilanglah mutiara Islam dan lahirlah kaca yang telah pudar kilauannya. Adakalanya keterlaluan dalam satu perkara tetapi mengabaikan perkara yang lain. Melaksanakan ketaatan kepada suami tetapi gagal dalam hubungan kekeluargaan. Melaksanakan ketaatan kepada keluarga tetapi gagal dalam membina rumah tangga. Menjaga hubungan dengan orang lain tetapi melalaikan tuntutan istiqomah dalam menambah ilmu pengetahuan. Berikrar ingin menegakkan daulah tapi gagal menyelesaikan masalah sendiri, lantas hidup dalam dunia angan-angan, menjadikan afdhalunnisa’ sebagai impiannya tetapi hanya eksternal saja.

Padahal Islam tidak pernah sedikitpun memerintahkan umatnya seperti itu, bahkan Islam tidak pernah bersikap diskriminasi dalam menghukum dan menjelaskan suatu hukum, tapi kitalah yang mendiskriminasikannya.

Firman Allah Swt. dalam Al-Baqarah ayat 85 Apakah kamu beriman dengan sebagian kitab dan ingkar dengan sebagian yang lain?”. Itulah yang terjadi pada saat ini, kita sebagai seorang muslimah begitu jauh dari hakikat sebenarnya, telah kehilangan identitas dan kekuatan jiwa, namun tidak menyadarinya.

Kemudian ironisnya lagi, banyak wanita Islam yang tergiur dengan kebebasan model barat mulai dari pakaian bahkan sampai ke harga diri mereka. Banyak kita lihat wanita-wanita antri dalam membeli tiket kebebAsan, dan saban hari kita saksikan wanita yang masih mengaku Islam tetapi sikap mereka tak ubahnya seperti wanita barat dan kafirîn. Mereka tanggalkan kehormatan yang diberikan Islam dan memilih tempat di emperan.

2917562366_9f2722e9ed_oDi sisi lain, kita juga menemukan muslimah yang kembali ke masa kejayaan jahiliyah dengan menyukai mistik keuntungan fatamorgana lewat arisan dan berbagai hal lain yang menggadaikan harga diri dan iffah mereka. Itu semua adalah misi-misi orang barat, yang notabenenya Yahudi dan Nasrani untuk menghancurkan Islam dengan “7F” yaitu food, film, fashion of life style, free thingkers, financial, faith, and friction. Bahkan mereka juga menambahkan freedom of religion dan frustration, semuanya ini mempunyai dampak yang begitu luas bagi kaum muslimin khususnya di kalangan muslimah terutama di Indonesia.

Sejarah telah membuktikan, betapa karir gemilang ukiran tokoh-tokoh legendaris dunia tidak dapat dipisahkan dari sentuhan lembut cinta seorang wanita. Betapa banyaknya pula persaudaraan mukmin terputus hanya karena fitnah wanita. Seorang anak tega meninggalkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita. Islam datang memberikan solusi terhadap permasalahan umatnya dari yang sekecil-kecilnya sampai ke yang sebesar-besarnya. Bahkan Al-Quran dan sunnah pun telah memaparkan tips-tips yang penting dilaksanakan dan dijaga dalam membentuk muslimah yang berkredibiliti unggul. Mulai dari syakhsiah muslimah terhadap Robbnya, diri, kedua orang tua, suami, anak-anak, kereabat, jiran, saudara, sahabat dan masyarakat.

Islampun talah merangka sebuah kehidupan yang sangat perfect dalam membina kepribadian muslimah. Tapi muslimah itu lalai dalam mencari dan menerimanya. Misalnya dalam menjalani fatroh pertunangan, muslimah tidak mudah terpedaya dengan desakan tunangan untuk melakukan hal-hal yang menjatuhkan dan menodai muruah diri dan keluarga, serta dalam pemilihan seorang suami muslimah perlu mempunyai pegangan agar tidak mudah goyah apabila terpaksa menerima pilihan keluarga yang terpikat dengan rupa, harta, atau kedudukan yang tidak memiliki dîn.

Menjelmakan roh idola srikandi Islam

Siapa sih yang nggak kenal dengan Ummu Sulaim? Rugi banget kalau nggak tahu… Dialah  seorang idola pilihan Islam, ketika ia dan anak-anaknya memaparkan kecekalan dan kekuatan imannya, dalam keadaan suaminya Malik Bin Dinar berada dalam kekufuran dan menentang Islam. Begitu juga dengan sohabiyat lainnya seperti Ummu Habibah Binti Abi Sofyan dalam memperthankan akidah dan agamanya pada hari suami kesayanganya murtad.

2828242048_db0c14b344Suatu asas yang perlu dijaga dan diperhatikan oleh seorang muslimah ialah menjaga agamanya, kesucian akidahnya, dan menjadi muslimah yang diridhoi Allah. Seorang muslimah yang tidak mempunyai kekuatan iman niscaya tidak akan merasakan kemulian dirinya sebagai seorang muslimah. Tapi jika ia mempunyai iman yang kuat, akidah yang mantap niscaya ia tidak akan mudah terbawa arus yang menjatuhkannya ke jurang kehinaan, apalagi dalam menjalani kehidupan yang glamour. Dengan pakaian iman dan takwa inilah ia mampu membentuk dirinya, mempertimbangkan suatu perkara dengan bijaksana, menghiasi kesehariannya dengan pebuatan  dan perkataannya yang tidak melukai perasaan orang lain. Berpikir sebelum bertindak dan berbuat serta tidak gegabah dalam menghadapi masalah. Walupun dalam keadaan marah ia masih bertindak dengan bijaksana dan terkendali dengan kekuatan imannya.

Sayyidatuna Aisyah, Ummul Mukminîn yang terkenal dalam arena srikandi Islam mempunyai kepribadian yang tinggi, sifat ridho yang mendalam terhadap Allah dan rasulnya, segala prilakunya disulami dengan adab dan penuh kehormatan. Seperti peristiwa yang dihadapinya ketika dirinya difitnah sewaktu pulang dari peperangan Musthaliq. Perang Musthaliq merupakan suatu peristiwa yang dijadikan Allah untuk menguji Rasulullah dan seluruh umat Islam pada zaman itu. Dalam peristiwa itu terlihatlah ketegaran Aisyah sebagai muslimah sejati yang sabar dan mempunyai keimanan dan kepercayaan kepada Allah dalam membela diri.

Ibnu Qoyyim berkata Semasa ujian itu didatangkan, Allah telah menahan wahyu kepada Rasulullah selama sebulan karena Aisyah, dan untuk mendatangkan hikmah yang telah diqodho dan diqadarkan sebelumnya.” Kemudian kehebatan Aisyah dari segi ma’rifat, kekuatan iman, ketauhidan, dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan menzalimi hambanya yang beriman, serta keyakinan terhadap suaminya Rasulullah.

deuy-kt-cypSaudariku… Walaupun mereka telah lama tiada, tetapi ruh jihad dan ketakwaan mereka masih tetap hidup, maka tugas kitalah untuk menjelmakan ruh dan ketakwaan wanita-wanita agung itu dalam kehidupan kita. Meniupkannya ke jiwa insan yang lain demi menyelamatkan dunia hari ini dari keruntuhan. So… mulailah dari diri sendiri, mulailah detik ini juga. Bersiaplah menjadi wanita hebat karena kitalah Aisyah-Aisyah abad ini.

Wallahul musta’an. Wallâhu ‘a’lam bish-showâb.

*Mahasiswi tk3 jurusan Hadis Univ Al-Azhar, Gen 7 MAKN Putri

Tulisan ini pernah diterbitkan Buletin Mitra edisi 5o

REAKTUALISASI BACK TO CAMPUS

27 October 2009 at 10:19 pm | Posted in Gen 8, MOTIVASI | 3 Comments
Tags: ,

Oleh: Mukrima Azzahra*

Kita berangan-angan…merangkai masa depan

Di bawah kerindangan dahan

Semua bahagia semua bahagia

Kita berlari-lari…bersama mengejar mimpi

Tak ada kata tuk berhenti

Semua bahagia semua bahagia

(Ku Bahagia, Sherina)

Liburan sudah berakhir, saatnya mahathah-mahathah kembali dipadati mahasiswa yang disertai semangat baru untuk menuntut ilmu. Mereka tidak peduli dengan segala tantangan. Meski harus berdesak-desakan di atas bus tidak menyurutkan langkah mereka untuk datang ke kuliah.

Back to Campus…

5175Mungkin begitu mereka menyebutnya. Sebuah slogan yang membangkitkan semangat untuk menghadiri bangku perkuliahan. Jika diartikan secara tekstual, back to campus berarti kembali ke kampus. Namun dalam memaknainya secara istilah, terdapat multi interpretasi. Hal ini disebabkan beragamnya sudut pandang, begitupun kondisi lingkungan sangat mempengaruhi pemahaman mereka.

278438671EPyayr_ph

Pada prinsipnya, yang dimaksud oleh mahasiswa dari back to campus adalah mengaktifkan diri kembali dalam kegiatan belajar guna mendapatkan ilmu dan prestasi yang dicita-citakan. Bukan hanya datang ke kampus sekedar setor muka, ngerumpi dan lain sebagainya dari kegiatan yang tidak bermanfaat. Atau sekedar ijra`at, beli muqarrar, ngambil minhah dan kemudian menghilang.

Jadi, datang ke kuliah merupakan salah satu cara dari sekian cara mewujudkan makna back to campus. Memang susah untuk menaklukkan Al-Azhar University. Selain harus datang ke kuliah, kita juga harus bisa membagi waktu di rumah untuk menguasai, memahami dan menghafal muqarrar. Inipun tak terlepas dari deretan tangtangan yang harus dilalui.

Banyak hal yang menjadi tantangan bagi kita untuk bisa datang ke kuliah, baik bersifat ekternal ataupun internal. Di antaranya adalah, kuliah di al-Azhar tidak memiliki sistem absensi yang tetap. Hal ini membuat kebanyakan kita merasa tidak terikat dengan kuliah. Datang atau tidak datang tidak ada masalah yang terpenting muqarrar ada di tangan, ijra`at selesai dan terakhir bisa menghadapi ujian.

336883551lCTVci_phSelain itu jumlah mahasiswa yang telalu banyak, sedangkan ruangan tidak mencukupi. Biasanya jumlah mahasiswa yang hadir sudah melebihi dari ruangan yang ada. Tentunya jumlah yang banyak ini akan menciptakan suasana yang tidak efektif dalam belajar. Oleh sebab itu kebanyakan mahasiswa melamun, tidur, ngerumpi dan lain sebagainya ketika dosen menyajikan materi. Sebagian mereka ada yang berpendapat dari pada tidur di kuliah lebih baik baca muqarrar di rumah.

Tantangan yang akan kita temui juga adalah kebanyakan dosen di kuliah tidak menggunakan bahasa Fushah melainkan bahasa ‘Ammiyah. Belum lagi jika dosen-dosen tidak hadir.

Jika kondisi belajar demikian dan tantangan belajar sedemikian berat, kira-kira apa sich langkah yang bisa kita lakukan?

Di sini penulis merincikannya menjadi beberapa poin.

allah-in-heart-1Pertama, Perbaharui niat. Sebab salah satu bentuk kesungguhan itu adalah kelurusan niat, visi dan orientasi. Jika kita memiliki azam yang kuat, segala tantangan akan menjadi sebuah warna kehidupan yang mesti dijalani dengan senang hati.

Kedua, hadirilah muhadharah. Meski muhadharah tidak ada absen akan tetapi kehadiran dalam kegiatan belajar dan mengajar bagian dari perjuangan dalam menuntut ilmu.  Success is a journey, not a destination (Ben Sweetland). Kesuksesan itu merupakan sebuah proses yang dilakukan secara istimrar dengan kesungguhan, ketekunan dan juga kesabaran yang sangat dalam menjalaninya.

Ketiga, kenalilah dosen (duktur atau dukturah). Sebab salah satu cara dalam mendapatkan ilmu adalah bergaul dengan guru (shuhbatu’l ustadz). Dengan mengenal dan memahami karakter guru kita akan banyak terbantu dalam memahami pelajaran yang beliau sampaikan begitupun dalam menjawab soal ujian nantinya.

Keempat, coba beranikan diri dan aktif dalam setiap muhadharah. Jangan pernah minder dan tidak percaya diri dengan kemampuan. Ajukanlah pertanyaan ataupun itu hanya sekedar tanggapan. Sebab dengan demikian akan melatih mental dan kemampuan kita untuk berani dan percaya diri.

Kelima, membaca materi yang akan dipelajari di rumah terlebih dahulu sehingga ketika dosen menerangkan, kita bisa lebih fokus dan mengetahui tambahan-tambahan yang ada.

Keenam, aktifkan otak dan fokuskan fikiran ketika dosen menjelaskan materi kuliah serta hindari penyakit melamun.writing-2

Ketujuh, tulis ungkapan-ungkapan penting dan penjelasan tambahan dari dosen.

Kedelapan, manfaatkan waktu kosong di rumah dengan banyak belajar, menyusun catatan-catatan kecil yang berbentuk talkhisan ataupun tulisan ringan yang mambantu kita untuk belajar. Sebab ini akan memudahkan kita untuk mengingat apa yang telah kita baca.

Kesembilan, hilangkan prinsip baca muqarrar di rumah lebih baik daripada hadir kuliah. Jika kita menghadiri kuliah, usahakan semaksimal mungkin mendapatkan manfaat yang banyak. Ini bisa disiasati dengan datang pagi-pagi dan mengambil bangku urutan pertama yang akan membuat konsentrasi kita tertuju penuh pada penjelasan dosen. Jika sebaliknya, datang ke kuliah hanya untuk ngerumpi ataupun hanya untuk sekedar bertemu dengan teman, maka belajar di rumah itu lebih baik. Sebab manfaat yang kita dapatkan lebih terasa ketimbang kuliah hanya untuk melepaskan keinginan untuk berjumpa dengan teman dan lain sebagainya dari kegiatan yang tidak bermanfaat.

postermujahadah_akhwtKesebelas, perbanyaklah mengadakan kelompok belajar. Bergerak sendiri akan lebih mudah kalah ketimbang bergerak secara berjamaah. Dalam kelompok belajar kita bisa saling membantu, saling memberi dan saling menerima. Gunakan kesempatan luang untuk saling berdiskusi tentang muqarrar dan lain sebagainya.

Kedua belas, maksimalkan usaha. Setelah semua usaha telah kita lakukan, mulai dari hadir kuliah, membuat kelompok belajar hingga belajar sendiri di rumah, maka optimalkanlah semua itu. Bacalah muqarrar berulang-ulang hingga kita benar-benar paham hingga kita bisa menghafalnya.

Ikhwati fillah… Semua tujuan kita di negeri seribu menara ini adalah sama-sama menuntut ilmu dan mayoritas kita belajar di Universitas Al Azhar meskipun tidak sedikit di antara kita yang menutut ilmu di tempat-tempat lain seperti talaqqi ‘ulum syar’iyyah. Namun yang menjadi prioritas utama tentunya menuntut ilmu di Al-Azhar dan tentunya dengan selalu menghadiri kuliah dan mendengarkan keterangan-keterangan dari para dosen. Bagi mahasiswa yang benar-benar mengikuti muhadarah tersebut tentu akan mendapatkan nilai plus baik dari penjelasan yang didapatkan dan juga peningkatan dalam pemahaman bahasa. Jadi, meskipun kita memiliki segudang kesibukan di luar kuliah jadikanlah kuliah sebagai kebutuhan yang paling utama dari yang lainnya.

Jika kebanyakan waktu kita berada di bangku perkulihaan, akan timbul pertanyaan, bagaimanakah harmonisasi antara kuliah dengan aktivitas non kuliah? Sebab tidak sedikit orang yang sukses secara akademis juga sukses aktivitas luarnya seperti organisasi dan lain-lain. Selain itu kita di sini tidak hanya dituntut untuk menuntut ilmu di kuliah. Karena ilmu yang didapatkan di kuliah belumlah cukup bagi kita para thalabatul ilmi. Kita benar-benar dituntut extra aktif dalam menikmati khazanah ilmu Islam di Mesir yang merupakan qiblatu’l ilmi baik secara formal yaitu di kampus ataupun nonformal di luar kampus. Dan seorang pelajar sejati tidak akan pernah puas dengan ilmu yang didapati dari kuliah saja. Karena sukses akademis saja tidak bisa menjadi barometer mutlak bagi pelajar sejati. Untuk mewujudkan semua ini, kita perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:

time-cut-2570Pertama, optimalisasi waktu. Mungkin kita sering berapologi dengan kesibukan untuk menghindari beban, mencari alasan untuk pembenaran kesalahan dan bermalas-malasan untuk sebuah perubahan karena sulitnya keaadaan dan minimnya kemampuan, sehingga apapun yang kita lakukan tidak ada yang membuahkan hasil maksimal. Janganlah sampai kita termasuk golongan the quitters, yaitu orang yang tergesa-gesa, ingin mendapatkan hasil terbaik namun tidak berani mengambil resiko. Atau orang yang hanya mendapatkan hasil setengah-setengah yang disebut sebagai the campers, yaitu orang yang hanya puas dengan apa yang sudah ia dapatkan, padahal ia baru menghadapi sebagian tantangan dalam hidupnya. Maka berusahalah untuk menjadi the climbers, yaitu pendaki abadi yang mampu mengambil resiko dan tantangan apapun dengan kemampuannnya dalam menyeimbangkan antara yang muhim dan aham, sehingga ia benar-benar sampai di puncak kemenangan.

neraca1Kedua, adanya keseimbangan (balance) di antara pentingnya kuliah dan aktivitas luar kuliah yang juga sudah menanti. Keseimbangan hanya bisa dilakukan oleh orang yang bisa memanajemen waktu.

So…kembali kepada masing-masing kita apakah bisa menjalaninya dengan baik atau sebaliknya.

semangatDO IT NOW!!! “Kalau kita memulai langkah dengan rasa takut, maka sebenarnya kita tidak akan pernah melangkah…”(AH Nayyar, Ph.D. Presiden Peace Coalition)

The time passes quickly, jadi tunggu apalagi? Skala prioritas adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi dan pasti sebagai thalabatul ilmi prioritas kita adalah belajar dan belajar untuk mewujudkan cita-cita menjadi penerang umat nantinya.

Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan duni,  Berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya…(Laskar Pelangi, Nidji)

Mahasiswi tk 3 Jur.Syari’ah Islamiyah Al-Azhar, Gen 8 MAKN Putri*

Tulisan ini pernah diterbitkan Buletin Menara Edisi I Desember 2008

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.