ROMANTIKA PEREMPUAN DI RANAH MINANG

27 July 2011 at 9:31 pm | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 8, KELUARGA | Leave a comment

Oleh: Ismarni Ismail

Masyarakat Minangkabau tumbuh dalam kondisi sosial yang selalu ingin berubah menuju arah perbaikan. Ketika Islam masuk ke Ranah Minang,  diadaptasikanlah syariatnya  ke dalam adat hingga lahirlah falsafah yang sangat kuat yaitu: Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah, syara’ mangato adat mamakai artinya adat berdasarkan syariat, syariat berdasarkan Kitabullah (Al-Quran), syariat memerintahkan dan adat melaksanakan. Ini berarti Islam dan adat Minangkabau bak dua sisi mata uang, tak dapat dipisahkan. Namun, masih ada sistem sosial kemasyarakatan yang tetap belum terkikis habis hingga kini -yang disinyalemen bertentangan dengan syariat Islam- yaitu sistem matrilinealnya dan masalah harta pusaka.

Kedudukan Perempuan Minangkabau dan Sistim Matrilineal

Masyarakat Minangkabau, terikat oleh satu keturunan yang ditarik menurut garis ibu (matrilineal). Kesatuan dasar keturunan itu disebut Suku. Sistem hukum Matrilineal ini yang menjadi ujung tombak perbedaan perempuan Minang dengan perempuan dari suku lain di Indonesia.

Sehingga banyak pertanyaan yang muncul, mengapa sistem Matrilineal dan syariat Islam dapat hidup berdampingan di Ranah Minang? Padahal keduanya mengatur tata aturan yang saling bertolak belakang. Islam menetapkan nasab dari garis keturunan ayah, sementara pada sistem matrilineal, adat menetapkan ibu sebagai penarikan garis keturunan. Ayah tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam sukunya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal. Oleh karena itu, harta pusaka diturunkan menurut garis ibu pula.

Sistem matrilineal mempunyai ciri-ciri antara lain;

1. Keturunan dihitung menurut garis ibu.

2. Suku terbentuk menurut garis ibu

3. Tiap orang diharuskan menikah dengan orang luar sukunya (exogami)

4. Pembalasan dendam merupakan satu kewajiban bagi seluruh suku

5. Kekuasaan di dalam suku, menurut teori, terletak di tangan “ibu”, tetapi jarang sekali dipergunakan,

6. Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-laki ibu

7. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami tinggal di rumah istrinya

8. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak (paman dari pihak ibu) kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita perlu mencermati terlebih dahulu, kedudukan perempuan di Minangkabau.

Perempuan/ibu –yang disebut bundokanduang– digambarkan sebagai limpapeh (tiang) rumah nan gadang (rumah tangga). Peran utamanya ada dua; pertama, melanjutkan keberadaan suku dalam garis Matrilineal dan kedua, menjadi ibu rumah tangga dari keluarga, suami dan anak-anaknya. Dalam sistim keluarga matrilineal, selain memiliki keluarga inti (ayah, ibu dan anak) juga punya keluarga kaum (extended family). Dalam keluarga kaum terhimpun keluarga Samandeh (se-ibu). Anggota keluarga Samandeh berasal dari satu Rumah Gadang dan dari saudara seibu. Pimpinan dari keluarga Samandeh adalah Mamak Rumah (yaitu seorang saudara laki-laki dari ibu). Sistem ini menempatkan laki-laki pada peran pelindung, dan pemelihara harta dari perempuan dan anak turunan saudara perempuannya.

Keterkaitan dan keterlibatan seorang individu dalam sistim matrilineal terhadap keluarga inti dan keluarga kaum adalah sama. Dimana seorang perempuan, walau sudah menikah tidak lepas dari ikatan kaumnya. Perempuan Minang dikatakan memegang “kekuasaan” seluruh kekayaan, rumah, anak, suku dan kaum, ia memiliki kebesaran yang bertuah (kata-katanya didengar oleh anak cucu). Hal ini makin memperjelas kokohnya kedudukan perempuan Minang pada posisi sentral.

Sedangkan ayah dalam masyarakat hukum adat Minangkabau, adalah bapak dari anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang diikat dengan satu hubungan pernikahan. Suku anak-anak yang lahir dari pernikahan tersebut ditentukan mengikuti garis keturunan ibu mereka. Seorang suami tidak punya kewenangan mengatur keluarga pihak istrinya namun kedudukannya sebagai sumando (menantu) begitu dihormati oleh kaum istrinya. Dan di sisi lain, dia tetap mempunyai keterikatan dan tanggung jawab terhadap kaumnya sebagai penghulu dan niniak mamak. Sehingga, seorang ayah tidak hanya berperan sebagai bapak dari anak-anaknya, tapi juga sebagai mamak dari kemenakannya dan berkewajiban memperhatikan dan menjaga para kemenakan tersebut. Dia wajib melindungi keduanya, sesuai pepatah adat Minang “anak dipangku kamanakan dibimbiang” (anak dipangku keponakan dibimbing).

Oleh karena itu lahirlah sebuah kompromi dari sistim matrilineal dan syariat Islam, bahwa generasi Minangkabau yang dilahirkan senantiasa bernasab ayahnya dan bersuku ibunya. Suatu persenyawaan agama dan budaya yang sangat indah.

Perempuan Minang Dan Harta Pusaka Tinggi

Dalam adat Minangkabau, harta dibagi empat :

1. Harta Pusaka Tinggi

Harta ini adalah harta yang diwarisi secara turun temurun dari beberapa generasi menurut garis keturunan ibu. Harta ini ada yang berupa material seperti sawah, ladang, kebun dan lain-lain yang disebut dengan harta pusako. Disamping itu ada pula harta pusaka tinggi yang berupa moril yaitu gelar pusaka kaum yang diwarisi secara turun- temurun yang disebut harta sako.

2. Harta Pusaka Rendah

Harta ini merupakan harta tambahan bagi sebuah kaum dan ini diperoleh dengan membuka sawah, ladang atau perladangan baru tetapi masih di tanah milik kaum. Jadi tanah yang dibuka itu sudah merupakan pusaka tinggi, hanya pembukaan sawah ladangnya yang baru.

3. Harta Pencaharian

Harta ini merupakan hasil kerja suami istri selama pernikahan, bila terjadi perceraian maka harta ini dibagi secara hukum waris Islam (faraidh).

4. Harta Suarang

Suarang asal katanya adalah surang artinya pribadi. Jadi harta Suarang adalah harta yang dimiliki sesorang, baik oleh suami maupun istri sebelum terjadi pernikahan. Setelah terjadi pernikahan, status harta ini tetap milik masing- masing.

Sebagian pakar adat, hanya membagi harta di Minangkabau kepada 2 klasifikasi:

1. Harta Pusaka Tinggi

Harta ini ialah harta yang diwarisi secara turun temurun dari beberapa generasi menurut garis keturunan ibu. Anggota kaum baik laki-laki maupun perempuan berhak memanfaatkannya tanpa memilikinya.Harta ini tidak boleh dibagi atau dijual, hanya boleh dimanfaatkan secara bersama.

2. Harta Pusaka Rendah

Harta yang didapat selama dalam masa ikatan pernikahan, harta ini merupakan harta pencaharian bersama antara suami dan istri yang diwariskan secara hukum waris Islam (faraidh).

Dalam lingkup harta pusaka tinggilah peran kaum perempuan terlihat sangat dominan, karena harta pusaka tinggi diwariskan menurut garis keturunan ibu. Pemilik asli dari harta pusaka tinggi ini adalah pihak perempuan yang dikepalai oleh seorang perempuan yang dituakan atau disebut Anduang. Walaupun pihak laki-laki (niniak mamak) yang merupakan pemimpin kaum dan mempunyai kewenangan mengelola harta pusaka tinggi, namun Anduanglah yang mempunyai kewenangan komersialisasi, menyimpan dan mendistribusikan hasil pengolahan harta pusaka tinggi ini kepada anggota kaum lainnya. Jadi, adat Minangkabau telah memberikan secara khusus jaminan keselamatan hidup perempuan dalam kondisi bagaimanapun juga. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan kelak, berupa perceraian atau lain sebagainya, anggota kaum yang perempuan akan terus survive bersama anak-anaknya dengan mengandalkan harta pusaka tinggi.

Sistem Matrilineal yang telah disepakati dan dipatuhi secara turun temurun ini, setidaknya telah banyak memberikan keuntungan pada kaum perempuan di Minangkabau. Ketika perempuan di luar suku Minang baru menyuarakan emansipasi dan hak perlindungan bagi kaum perempuan, maka perempuan Minangkabau telah mengecap emansipasi dan hak-hak perlindungan tersebut. Para ninik-mamak telah membuatkan suatu “aturan main” antara laki-laki dan perempuan dengan hak dan kewajiban yang berimbang antar sesamanya.

Advertisements

Sosok Ibu sebagai Madrasah Perdana

25 November 2010 at 10:35 am | Posted in Gen 6, KELUARGA | Leave a comment


Oleh: Fitri Shabrina Lc.

Islam  memberikan perhatian yang besar terhadap tarbiyah anak sejak dini. Karena anak adalah pemimpin masa depan. Sudah menjadi kewajiban orangtua untuk membentuk figur yang tangguh dalam memikul tanggung jawab, menjadi panutan karena kebersihan jiwanya, ketinggian akhlaknya dan kecerdasan dirinya. Sosok sosok seperti inilah yang diharapkan untuk memimpin ummat dimasa yang akan datang.

Lalu, siapakah pemeran utama pada madrasatul ula ini? Dialah sosok ibu yang mengandung generasi generasi harapan itu, kemudian menyapih mereka dengan air susunya, mendidik mereka dan ibu menjadi pemimpin di dalam rumah suaminya. Maka, tak dikeragui lagi bahwa ibu adalah orang yang paling berpengaruh pada pribadi sang anak. Oleh karena itu, untuk mewujudkan generasi harapan ini sangat tergantung dengan sosok yang akan memberikan suguhan tarbiyah tersebut. Apabila setiap ibu telah menjalankan amanahnya dan mampu menjadi teladan yang baik, Insya Allah, ummat rabbani bukan hanya menjadi sekedar mimipi.

Tanggung jawab besar ini menghasilkan limpahan pahala yang besar pula.  Selain itu, hanya anak yang solehlah yang dapat mendoakan orang tuanya kelak ketika telah tiada. Sebagaimana yang disabdakan oleh rasulullah saw dalam hadisnya

اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث, صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له

(An-Nawawi, Shohih Muslim bi Syarhi Imam Nawawi, vol. 1, hal. 25)

Jika telah meninggal anak Adam, maka terputuslah pahalanya kecuali salah satu dari tiga perkara; shodaqah jariyah, ilmuyang bermanfaat baginya, atau seorang anak soleh yang mendo’akannya

Dalam mendidik anak, tidak hanya usaha saja yang dibutuhkan. Namun, untaian do’a juga akan menentukan. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt. dalam ayatnya:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (74)

 

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan : 74 ) 

 

Fase Fase dalam Mentarbiyah Anak

1  Masa Kehamilan

 

Tarbiyah terhadap anak hendaknya telah dimulai sejak sang buah hati masih dalam kandungan. Walaupun jenis tarbiyah ini masih bersifat permulaan, namun hal ini juga membantu untuk membantu dalam pembentukan kepribadian anak kelak. Jika kita lihat dari ilmu kedokteran, ketika janin telah berusia 14 minggu, panca indranya telah mulai berkembang hingga mencapai fungsi yang sempurna sampai waktu bayi siap untuk dilahirkan. (lih. Perkembangan janin dari minggu keminggu, nakita, hal. 44). Ketika ilmuwan moderen telah menemukan penelitian terbaru untuk menganjurkan ibu memperdengarkan musik musik klasik untuk merangsang  perkembangan indra dan otak bayi, maka mengapa kita tidak memperdengarkan kalimah toyyibah dan lantunanayat suci alqur’an untuk memperkenalkan calon bayi dengan tuhannya. Hal ini akan lebih memperkokoh  ikatan janji Allah dengan sang bayi ketika di zaman azali sebelum ia lahir kedunia untuk mengemban tugas sebagai khalifah di atas

bumi ini. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)” (QS. al-A’raf: 172)

Selain itu, sentuhan lembut sang ibu juga dapat memberikan ketenangan bagi janin. Dan anak akan merasa terlindungi dengan adanya kontak fisik ini.

2  fase ketika anak dilahirkan

 

Ketika sang anak telah terlahir kedunia, maka, dianjuran bagi sang ayah untuk memperdengarkan azan di telinga kanan dan iqamat di telinga kirinya. Ini merupakan tarbiyah bagi anak agar kaimat pertama yang ia dengar ketika terlahir kedunia adalah I’lanu bittauhid.( lih. Tarbiyatul aulad, ‘Athiyah Saqar, hal. 149 )

Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw.  dalam hadisnya yang terdapat pada sunan Abi Daud dan Tirmidzi yang berbunyi:

عن ابي رافع عن ابيه قال رأيت رسولله صلى الله عليه و سلم أذن فى أذن الحسن بن على حين ولدته فاطمة بالصلاة

” Dari Rafi’ maula Rasulullah saw berkata: Aku melihat Rasulullah Saw. Mengazankan Hasan bin Ali pada telinganya ketika Fatimh melahirkannya dengan azan shalat” (Sunan Abu Daud, vol 13, hal. 305)

3  fase menyusui

Fase menyusui adalah fase dimana seorang anak mulai meniru prilaku sang ibu. Jadi, tarbiyah yang berlangsung pada fase ini bersifat spontanitas. Karna seiring dengan berjalannya waktu, kedekatan ibu dan anak akan mempengaruhi jiwa anak. Oleh karena itu, seorang ibu harus memiliki kepribadian yang baik, kondisi kejiwaan yangbagus dan kesehatan yang prima. ( lih. Tarbiyatul Aulad, ‘Athiyah Saqar, hal 125 )

Menyusui merupakan kewajiban setiap ibu. Namun, jika seorang ibu  tidak sanggup menunaikan kewajiban ini, maka Allah memerintahkan orangtua bayi untuk menyusukannya pada wanita lain agar hak bayi dapat terpenuhi. Dalam hal ini, orangtua bayi harus memilih wanita yang baik dari segi kesehatan, akhlaknya dan pribadinya, karena hal itu sangat berpengaruh terahadap pertumbuhan dan pribadi sang anak. Sebagaimana yang dilakukan oleh ibunda Rasulullah Saw. Beliau memilih wanita  badui yang baik dari bani Sa’ad untuk menyusui putranya tercinta.

Islam menganjurkan ibu untuk  menyusui selama 2 tahun.  Hal ini telah termaktub di dalam al-Qur’an:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…”.

Jika kita lihat lebih jauh, ternyata menyusui masa 2 tahun ini memberikan manfaat  yang besar. Diantaranya adalah:

1.  Terjadinya kontak fisik antara ibu dan anak ketika kebersamaan dan kedekatan ibu dengan anak berlangsung.

2  Menumbuhkan  kontak batin antara ibu dan anak. Oleh karena itu, ketika anak sedang tidak berada dekat ibunya, ia akan merasa kehilangan.

3  Anak akan mampu untuk mengekspresikan keinginannya seperti dengan menangis, atau menggerak gerakan anggota tubuhnya. Sehingga ibu dapat memahami bahasa bayi dan segera memenuhi keinginan sang anak.

4  kedekatan ibu dengan bayi selama 2 tahun ini akan mendatangkan perasaan aman dan damai pada jiwanya. Karena  ia akan merasakan adanya seseorang yang siap melindungi di dalam dekapan yang hangat. ( lih. ‘Uzhomaa’ul Athfal, Jamal ‘Abdurrahman, hal. 196)

Dari sisi akhlak, seoang ibu hendaknya menjaga sikapnya dan mulai mengajarkan adab adab yang baik terhadap anak. Seperti membiasakan mengucapkan Basmalah ketika memberikanASI, membaca Hamdalah ketika telah selesai. Memulai dengan Bismillah ketika memakaikan anak pakaian, mengucap Hamdalah ketika selesai dan adab adab lainnya.

Sedangkan dari sisi psikologi, keikhlasan ibu ketika memberi ASI kepada bayi, akan mempermudah keluarnya ASI. Dan kesehatan jasmani ibupun akan mmpengaruhi kualitas Asi yang akan diberiakan. Selain itu, perasaan tenang dan ikhlas ketika menyusui juga mempengaruhi psikologi  sang bayi.

 

4  Fase Kanak Kanak

Masa kanak kanak adalah fase dimana anak meniru prilaku yang ada disekitarnya. Hal ini juga diisyaratkan oleh imam Al Ghazali. Beliau mengatakan “Anak kecil siap menerima segala ukiran dan cenderung pada setiap yang diucapkan “. Oleh karena itu, jika kita mengajari dan membiasakan anak anak kita dengan kebaikan, maka mereka akan tumbuh di dalam kebaikan itu. Namun sebaliknya jika kita membiasakan mereka tumbuh di dalan kejelekan. ( 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak,  Muhammad Rasyid Dimas, hal. 5). Ini disebabkan oleh potensi besar yang dimilikinya untuk menerima pengaruh negatif maupun positif. Maka, oangtualah yang harus memaksimalkan pengaruh positif tersebut.

Adapun macam macam tarbiyah yang harus kita perkenalkan pada anak sejak dini adalah:

 

Tarbiyah Islamiyah

1.  Aqidah Sohihah

Hal yang paling pertama dan utama sekali adalah mengajarkan anak  mengenal Tuhannya, dan mengajari mereka mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian selanjutnya mengajari mereka tentang rukun iman dan rukun islam. ( lih. Tuhfatul ‘Arus, Muhammad Sholah Hilmi, hal. 257 )

Pada tahap awal, ibu bisa kreatif dengan mengajarkan rukun iman dan rukun islam dalm bentuk lagu agar  lebih mudah diingat. Dongeng sebelum tidurpun bias difariasikan dengan kisah kisah para nabi, sahabat dan para salafussalih sebagai keteladan akidah mereka.

 

2. Memperkenalkan Ibadah Sejak Dini

Rasulullah saw bersabda dalam hadisnya:

مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سني

Suruhlah anak anakmu shalat ketika telah mencapai umur 7 tahun” (Sunan Abi Daud, vol. 24, hal. 88)

Pengenalan ibadah sejak dini akan membuat mereka terbiasa melakukannya hingga telah dewasa nanti. Walaupun pada awalnya terasa berat dan enggan, namun, sang ibu hendaknya terus memotivasi anak untuk membiasakannya dengan tanpa memaksa. Misalnya, dengan memberikan hadiah apabila sang anak dapat menunaikan puasa sehari penuh, membelikan mushaf yang baru ketika anak semangat belajar alqur’an.

 

3. Tarbiyah  Adab dan Akhlak Karimah

#  Belajar Meniru Kepribadian Rasulullah Saw.

Sebaik baik teladan adalah Rasulullah saw..  Keindahan pribadi dan akhlaknya tiada tertandingi. Kita sebagai muslim disuruh untuk meneladani akhlak Rasulullah saw.. Aisyah Ra. Pernah mengisahkan tentang keluhuran akhlak beliau. Sesungguhnya akhlak Rasulullah adalah al  Qur’an. Dan beliau diumpamakan dengan al Qu’an yang berjalan di atas bumi.

# Mengajarkan Adab Islam

Ketika sang ibu mengajarkan adab adab islami ketika anaak masih dalam masa menyusui, maka, ketika masa kanak kanak, anak akan mulai terbiasa melakukannya. Seperti berdoa ketika melakukan sesuatu. Ibu juga harus mengajarkan adab ketika anak anak berhadapan dengan orang yang lebih besar darinya, adab ketika makan, ketika, bertamu dan adab adab lainnya.

Namun, sebagai orang tua yang mendidik, ibu hendaklah melakukan terlebih dahulu apa yang ia ajarkan terhadap anak. Karena, betapaun sang anak berpotensi besar untuk menerima kebaikan dan betapa suci dan lurusnya fitrah anak, namun dia akan tidak dapt merespon prinsip prinsip kebaikan dan dasar dasar pendidikan yang baik tersebut selama ia tidak melihat pendidiknya berakhlak mulia dan menjadi sosok ideal. ( lih. 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak, Muhammad Rasyid Dimas, hal. 20). Mari kita kembali mengingat seruan Allah pada orag orang yang beriman   untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang kita ucapkan. :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)

” Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?  Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash-shaf : 2-3)

 

# Ketika Anak Melakukan Kesalahan

Kesalahan adalah hal yang wajar dilakukan oleh anak anak. Sebab, anak tengah melewati fase fase perkembangan secara bertahap. ( lih. 20 Kesalahan Dalam Mendidik Anak, Muhammad Rasyid Dimas, hal. 13). Namun, tugas seorang ibu, tentu tidak akan membiarkan kesalahan itu terus berlanjut dan menjadi sifat yang melekat pada diri sang anak.  Menyikapinya dengan sabar adalah solusi terbaik. Hal yang harus dihindari oleh ibu ketika menyikapi kesalah anak adalah memarahinya habis habisan dan memberikan hukuman fisik. Karena, menghujani anak anak dengan kata kata dan memukulnya akan berpengaruh terhadap kejiwaan anak. Sehingga anak akan lari dari ibunya, dan cenderung mengulangi kesalahan tersebut.

Adapun  dampak negatif yang diakibatkan oleh hukuman fisik ini akan merusak fisik anak, kondisi kejiwaan , dan akal mereka. Dan tanpa kita sadari, hal ini juga berimbas negatif pada kondisi masyarakat dan negara. Karna, masyarakat dan negara merupakan kumpulan dari komponen terkecil yang bernama keluarga. ( lih. Kaifa Tu’addibu Abna’ana Bighairi Dhorob, Muhammad Nabil Kazhim, hal. 112 )

Namun, dalam menyikapi kesalahan yang dilakukan oleh anak  juga dibutuhkan cara  yang bersifat mendidik. Contonhya, dengan mengatakan terus terang bahwa apa yang ia lakukan adalah salah, dengan ungkapan “anak yang baik atau soleh, tidak melakukan hal ini”. Bila perlu, tunjukan sikap bahwa sang ibu tidak menyukai apa yang dilakukan oleh sang anak, namun tetap diiringi  dengn menunjukan rasa kasih sayang terhadap mereka (lih. Kaifa Tu’addibu Abna’ana Bighairi Dhorob, Muhammad Nabil Kazhim, hal. 96)

 

4  Tarbiyah jiwa dan akal anak anak

Didikan jiwa dan akal anak yang dijalani oleh ibu pada saat sekarang ini merupakan langkah dalam menyiapkan anak yang  berjiwa tangguh dan cerdas baik secara emosi maupun kecerdasan berpikir. Bukankah mereka adalah calon calon pemimpin masa depan? Maka, hal yang mesti diperhatikan oleh sang pemilik madrasatul ula adalah:

# Berbicara Terbuka dan Turut Mengajaknya Bermusyawarah

Jalinan komunikasi antara ibu dan anak akan menumbuhkan kedekatan emosi antara keduanya. Sehingga ketika anak menghadapi masalah , ia akan terbuka pada ibu. Hal ini akan mengurangi beban sang anak. Disamping itu ibupun dapat memantau kondisi anak ketika ketika ia tidak berada di sisi sang ibu.

Mengajaknya bermusyawarah dan meminta pendapatnya dengan membuka perbincangan sekitar hal hal yang masih dalam porsi intelektualitas mereka juga turut membantu kedewasaan mereka dalam berpikir. Selain itu, perbincangan ini juga akan menjadikan mereka merasa bahwa mereka adalah orang yang dibutuhkan. Misalnya, bermusyawarah dengan mereka tentang hal hal yang berhubungan dengan keluarga seperti  meminta pendapat mereka tentang pembagian tugas rumah.

Cara berkomunikasi dengan anak  pada tidak hanya melalui kata kata. Kontak fisik juga dapat mewakili ucapan, seperti dengan mencium untuk mengungkapkan rasa sayang, menepuk pundak mereka dengan lembut dan tatapan mata yang meyakinkan sebagai ganti dari kata kata; ” Ayolah anakku. Kamu bisa!”

Sahl Bin Sa’idi meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulkullah saw diberi minuman, lalu beliau meminumnya. Sedangkan di sebelah kanan beliau ada seorang anak laki laki dan di   sebelah kiri ada seorang sahabat yang lebih tua. Rasulullah Saw. pun bertanya pada anak itu; “Apakah kamu mengizinkn aku untuk memberi mereka ( yang tua) minuman ini terlebih dahulu? “. Sianakpun menjawab; “Tidak, demi Allah aku tidak akan memberikan hakku darimu kepada siapapun”

 

# Melatihnya Untuk Bertanggung Jawab

Memberikan suatu tugas merupakan latihan bagi anak untuk bertanggung jawab. Namun, ada hal hal yang mesti diperhatikan dalampemberian tugas tersebut. Diantaranya, memberikan tugas sesuai dengan jenis kelmin anak, memberi tugas sesuai dengan usianya, tidak memarahinya jika ia salah dalam menunaikan tugas yang diberikan. Misalnya, anak laki laki ditugaskan  bembantu ayah untuk membersihkan kebun. Sedangkan anak perempuan diberi tugas untuk membantu ibu di dapur.  Dan ibu juga harus menghindari pendelegasian tugas yang di luar kemampuan anak. Jika ia melakukan kesalahan dalam melaksanakannya, maka  hindari    diri dari mencerca dan memarahinya. Pahamkan ia dengan baik akan tugas tersebut, apalagi tugas yang baru pertama kali ia lakukan. Sebaliknya, jika sang anak  berhasil menunaikan dengan baik, maka berikanlah sebuah apresiasi dan pujian dengan tidak berlebihan yang akan menambah kepercayaan dirinya.

 

5  Memotivasi Mereka Untuk Belajar dan Mengembangkan Bakat

 

Jika kita ingin kecerdasan dan kemampuan anak berkembang, maka arahkanlah ia pada kegiatan kegiatan yang dapat melatih kemampuan mereka dalam berpikir dan berinovasi.  ( lih. 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak, hal. 141 ). Diantara kegiatan yang mendukung hal itu adalah:

 

Memfariasikan Cara Belajar

Agar belajar tidak membosankan, maka ibu mesti mampu memfariasikan cara belajar pada anak. Misalnya, belajar huruf dengan menggambar benda yang dimualai dengan huruf tersebut. Atau mengajak mereka belajar sambil bermain.

Mendukung Bakat Positif Mereka#

Jika sang anak memilki bakat yang positif, maka, dukunglah ia untuk menyalurkan bakat tersebut dan motivasi untuk mengembangkannya. oleh karna itu, ibu mestilah peka terhadap perkembangan dan bakat yang dimiliki oleh anak. Misalnya, jika anak memiliki kecenderungan untuk menulis, maka belikanlah ia alat tulis yang bagus. Dan rahkan mereka untuk menulis hal hal yang positif.

# Berikan Pujian dan Jangan Membandingkan Bandingkan Kemampuan Anak

Jangan sungkan untuk memberikan pujian dan hargailah jika anak berhasil dalam belajar walaupun sekecil apapun keberhasilan itu. Hindari kata kata yang meremehkan. Contohnya, jika anak memberi tahu bahwa ia berasil mendapatkan nilai delapan dalam pelajaran matematika, maka janganlah sorang ibu berkata : “hanya dengan mendapat nilai segitu kamu sangat bergembira?!  Sedangkan ibu waktu seusiamu selalu mendapatkan nilai 10 dalam mata pelajaran ini.”

 

4 fase remaja

Masa remaja adalah masa dimana anak akan menuju ke fase selanjutnya yaitu dewasa. Seorang pakar psikologi, Lily H. Setiono mengatakan dalam  sebuah artikel yang ditulisnya bahwa masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia  yang mana batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja. Karena usia pibertas yang dahulunya terjadi pada usia 15-18 tahun, kini bisa terjadi pada usia 11 tahun. Anak yang berusia 10 tahunpun mungkin saja mengalami masa pubertas pada masa ini. Namun, bukan berarti ia telah memasuki usia remaja dan telah siap untuk siap menghadapi dunia dewasa.

Dalam usia remaja ini, anak mulai mengalami perubahan baik dari segi biologis maupun psikologis. Adapun perubahan pada dimensi biologis yang sekaligus menjadi tanda memasuki usia baligh ini seperti  datangnya menstruasi bagi anak perempuan, berkembangnya hormon reproduksi yang mana mulai mempersiapkan tubuh remaja untuk mengalami masa reproduksi tersebut. Adapun bagi anak laki laki, masa remaja dimulai dengan perubahan suara, fisik yang berkembang drastis.

Sedangkan perubahan pada dimensi psikologis,  masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak dan mulai memiliki rasa ketertarikan pada lawan jenis. Pada masa ini suasana hati bisa berubah dengan cepat. Disaat ini pula remaja mulai mencari sebuah jawaban dari pertanyaan  ” Siapakah diri saya sebenarnya?”. Pada masa labil inilah peran seorang ibu sangat diperlukan untuk terus megarahkan mereka dan mengingatkan jati diri mereka sebenarnya. Adapun tarbiyah yang dapat dilakukan oleh sang ibu adalah:

 

1. Memberikan Pengertian Terhadap Perubahan Yang Terjadi Pada Diri Mereka

Ketika memasuki masa baligh ini, hendaknya seorang ibu berbicara empat mata dengan anak bahwa pada masa ini mereka telah memasuki fase yang mana taklif mereka sebagai muslim/mah telah diperhitungkan. Karna, kadangkala anak merasa malu untuk bertanya tentang perubahan yang terjadi pada diri mereka. Maka, ibu harus menjelaskan kewajiban kewajiban agama kepada mereka seperti berhijab bagi perempuan, menjelaskan batas batas aurat bagi mereka, menjaga adab adab islami apalagi terhadap lawan jenis dan kewajiban lainnya. Tidak ada salahnya pula jika seorang ibu membagi pengalamannya ketika mengalami usia remaja ini.

 

2. Tetap Terbuka dengan Anak

Komunikasi terbuka dengan remaja ini tetaplah dijalin dengan baik. Biasanya anak usia remaja adalah anak yang plin plan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi pada dirinya. Sudah menjadi kewajiban orang tua membantu mereka untuk mengarahkan mereka sehingga mereka tidak jatuh pada hal hal yang tidak diinginkan. brbeda dengan usia kanak kanak, seorang ibu hendaknya menjauhkan sikap cenderung mendikte dan memperlakukan mereka seperti anak anak. Biarkan mereka berpikir untuk mengasah jiwa mereka untuk memasuki kedewasaan tanpa meninggalkan pengarahan tersebut.

Demikianlah fase fase yang dilalui seorang ibu dalam mendidik sang buah hati. Namun, tarbiyah ini tak dapat berlangsung dengan maksimal tanpa dukungan dari sosok yang bernama ayah. Oleh karena itu, diperlukan kekompakan dan komunikasi yang lancar antara ibu dan ayah dalam melewati tahap pendidikan ini.  Sehingga, terwujudlah tujuan dari tarbiyah itu sendiri. Wallahu a’lam bishawab.

 

kasih tiada batas

25 October 2010 at 11:22 am | Posted in Gen 6, KELUARGA, SASTRA | Leave a comment


by: Fitri Shabrina

mata nanar itu

bak bendungan yang hendak tumpah

alirkan  deras anak sungai

begitu sayu…

 

garis keras dipipimu

siratkan berjuta makna

dalam menapaki tapak demi tapak hidup

sangat pahit…

 

jemarimu yang mulai gemetaran

dengan buku yang mulai mencuat

kalahkan lapisan kulit yang kian menipis

selalu tadahkan doa-doa

mengharap pada Sang Pencipta

di sudut malam nan gelita

 

saat sang raja siang kian membakar

kau terus ayunkan cangkul tua

menanam benih-benih muda

seraya terus lantunkan do’a

demi lambung anak-anakmu yang menganga

memang,

mengharap pada manusia

selalu berbuah kecewa

 

bunda…

cita kami membuatmu berkalang duka

rentetan pinta kami membuatmu tersiksa

namun, tak ada penolakan walau sepatah kata

hanya seulas senyum yang tersungging di sudut bibirmu yang mulia

 

bunda…

betapa kami tiada berbakti

kami penuhi hidupmu dengan tuntutan tiada henti

sedangkan membalas walau setitik jasamupun tak pernah kami sanggupi

sedang kasihmu tiada berbatas lagi

 

bunda…

begitu egoisnya kami

jutaan pinta mengalir dari lidah ini

padahal,

di pengujung malam hari

kau terus memutar keras memori

siapakah yang dapat dihutangi esok pagi…?

Peran Istri, Berat Tapi Menjanjikan

20 June 2010 at 8:26 pm | Posted in AKHLAK, AL-QURAN, Gen 7, hadis, KELUARGA, MOTIVASI | 2 Comments
Tags: , , , ,

oleh: Rahmayanti

Hari itu, seorang wanita menemui Rasulullah, Tiba di hadapan beliau ia berkata: “Ya Rasulullah, saya ini utusan kaum wanita, saya bermaksud menanyakan perihal jihad fi sabilillah. Allah mewajibkannya kepada kaum pria, kaum pra memperoleh pahala yang besar karenanya, bila syahid, ia tetap hidup di sisi Allah. kami kaum wanita juga ingin mendapatkan keutamaan seperti itu, maksud saya apa bagian wanita dalam jihad?” Rasulullah pun menjawab: “Sampaikanlah pesanku ini kepada semua wanita yang engkau temui, sesungguhnya mentaati dan mengakui hak-hak suami pahalanya sepadan dengan jihad, namun hanya sedikit wanita yang mengamalkan itu“.

Siapa yang tidak kenal sosok wanita luar biasa seperti Khadijah? Siapa tak kagum dengan wanita semulia Aisyah, seagung Fatimah dan sederet sosok teladan yang dikenang sepanjang sejarah. Mereka sukses memainkan peran baik sebagai hamba Allah, anak, istri, ibu dan da’iyah. Begitu mulia, begitu tulus, sedemikian ikhlas. Semua aktifitas dicover dengan sempurna dengan tujuan meraih ridha-Nya. Mereka yang kehadirannya merubah panas menjadi sejuk, dingin menjadi hangat, sumpek menjadi lapang dan sedih menjadi gembira. Keteladanan mereka mencakup ketaatan kepada Allah, kuatya shalat malam, khusyuknya berzikir, kesetiaan yang luar biasa kepada sami, kecintaan dan perhatian kepada anak-anak serta semangat menuntut ilmu dan menyebarluaskannya.

Istri memainkan peranan yang sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan rumah tangga. Kemampuan seorang istri menciptakan atmosfer keluarga yang tentram, damai, aman dan penuh kasih sayang merupakan tugas yang sangat berat sekaligus paling mulia. Sehingga tidak salah jika Rasulullah menyebutnya sepadan dengan jihad di jalan Allah. Sungguh, ini merupakan penghargaan yang sangat besar bagi wanita.


Keluarga merupakan komponen terkecil sebuah negara, dan peran wanita di dalamnya sungguh tak tergantikan. Bahkan mungkin tak berlebihan jika kita mengatakan bahwa masa depan generasi suatu bangsa berada dalam genggaman lembut tangan wanita. Tanggung jawab dalam keluarga tak boleh terabaikan dengan alasan apapun. Sungguh sangat menarik sekali apa yang disampaikan seorang anak yang telah hafal al-Quran kala usianya baru menginjak 7 tahun, ditanya siapa yang membantu, mendorong dan menyemangatinya dengan gigih hingga ia bisa jadi hafiz. Ia menjawab: “Ummi, ibuku yang melakukannya”.

Peran besar seorang wanita tentu bukan hanya itu saja. Sebab, setiap peran besar, memerlukan modal besar pula, berupa ilmu dan kesungguhan. Itulah wasilah yang utama, karena keidahnya: Ma La Yatimmu al-Wajib Illa Bihi Fahuwa Wajib (sesuatu yang tidak sempurna sebuah perkara wajib kecuali dengan menyempurkakannya, maka ia pun wajib). Sehingga, jadilah menuntut ilmu bagi seorang wanita merupakan kewajiban mendasar agar dapat memikul peran mulianya dengan sempurna. Tidak mungkin seseorang mampu memberi jika ia tidak memiliki. Bagaimana mungkin seorang wanita mampu berkhidmah kepada keluarga, masyarakat bahkan bangsanya jika ia tidak mempunyai ilmu apa-apa.

Mari kita lihat lebih dekat pada kehidupan kita sebagai mahasiswi.  Bagi yang sudah berkeluarga, kedua peran ini dijalankan sekaligus, menuntut ilmu dan menjadi istri dan ibu dalam rumah tangga. Sebenarnya keduanya dapat seiring sejalan, karena dengan menyempurnakan “separuh agama” tentu hati menjadi lebih tenang dan lebih konsentrasi menyerap ilmu pengetahuan. Meskipun tugas rumah tangga tetap membutuhkan keikhlasan dan kesungguhan menjalani peran ganda. Namun semua itu semakin membuka lebar jalan menuju syurga.

Betapa tidak, Rasulullah menyatakan bahwa seorang yang menempuh jalan menuntut ilmu akan Allah mudahkan baginya jalan menuju syurga. Dalam kesempatan lain Rasulullah juga bersabda bahwa jika seorang wanita melaksanakan shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, menjaga kehormatan dan suaminya redha terhadapnya, maka dia boleh masuk syurga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. Subhanallah…!

Mari kita telusuri sejenak, berawal dari niat karena Allah menilai amalan hamba-Nya dari niat mereka melakukannya. Rasulullah bersabda: “sesungguhnya setiap amal tergantung niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkannya.” Jika kita menikah dengan tujuan meggapai ridha Allah dan menjaga diri –meskipun kita belum begitu yakin mampukah menyempurnakan semua kewajiban yang menanti , bisakah bijak membagi waktu dan berbagai kekhawatiran lain– tetapi Allah jualah yang akan melapangkan jalan dan memberi kekuatan dan kebijaksanaan dengan kekuasaan-Nya. Banyak cara bagi Allah untuk membaguskan hamba-Nya dan meninggikan derjatnya karena niatnya. Selanjutnya tergantung semangat dan keistiqamahan kita menjalani itu semua.

Niat dalam istilah Psikologi dikenal dengan motivasi. Inilah sesungguhnya kekuatan dahsyat yang mampu menjadikan seseorang tegar dalam menghadapi setiap episode kehidupannya. Umpama seorang pendaki yang berniat menaklukkan puncak gunung yang terjal. Segala tanjakan dan jalan setapak yang dikelilingi tebih curam dan jurang menganga dijadikannya sebagai tantangan, karena niat sudah terpancang. Ia pantang mundur, kesulitan sebesar apapun akan tetap dihadapi. Semakin berat mdan yang akan dilalui semakin semangat untuk menaklukkannya. Dan jika ia berhasil, kepuasan tiada tara akan diraihnya. Kita juga seperti itu dalam mengarungi kehidupan ini. Dan balasan yang dijanjikan di puncak sana jauh lebih indah yaitu syurga-Nya. Maka, menuntut ilmu dan berkhidmah untuk keluarga denga ikhlas adalah tantangan yang bernilai ibadah di sisi-Nya.

Jadi, sudah saatnyalah kita mengevalusi kembali diri sendiri dan memperkokoh biduk yang ditumpangi untuk mengarungi samudra luas yang penuh rintangan. Waktunya memperbanyak kembali bekal karena perjalanan masih teramat panjang. Disamping terus mengikhlaskan diri melakukan yang terbaik, karena para malaikat tak pernah luput mencatat setiap gerak yang kita lakukan. Wallahu A’lam

*Mahasiswi Jur. Syariah Univ Al-Azhar Kairo

Anti Fi Ruhi Ya Roja i

11 January 2010 at 8:25 pm | Posted in KELUARGA, Uncategorized | Leave a comment
Tags:

Oleh Balqis Elfudhla*

ولدتك أمك يابنى آدم باكيا

والناس حولك يضحكون سرورا

فاجهد فى نفسك أن تكون إذا بكوا

فى يوم موتك ضاحكا مسرور

ذا الصبح صباح مفرح و مضيئ. الشمس تطلع من منامها تهيئا والسحاب يمر بتدوير حولها والحمامة تنشد نشادا بصوتها المسخركل المخلوق السامع ذا. كأنها تقول:”صباح الخير، يا دنيا حانت الفرصة للعمل الصالح خذي! وقذي! وسقي العيش فى الأرض الحما”

فاضل يتسم عندما يفتح نافذة حجرته وقال “صباح النور يا حمامة” كأنه يعرف أن الجماعة تقول له. يقبل صالح بسرور ويرجي أن يعمل أي شيئ نافع فى اليوم وفى المطبخ أمه تطبخ الطعام استعداد تناول الفطورلعائلتها و قالت للفاضل “استحم يا ابني” وفاضل يستحم بعد الرياضة الأسبوعية لتحلية أجازته الجمعية. وأمه تنتهي بالطبخ وتنظيف أدوات مطبخية. ولما نظفت المكتب أمه تجد ورقة متسوهة وتختتم بتوقيع ابنها فتقرأها تكتب هناك:

– أجرة كنس الأرض 5 جنيه

– أجرة غسل الصحن 5 جنيه

– أجرة سقي الأزهر 5 جنيه

– أجرة غسل الملبس 5 جنيه

( ابنك )

فا

فاضل

تبتسم أمه وتأخذ القلم فتكتب ورائها:

– أجرة الحامل مجانا

– أجرة الرضاعة مجانا

– أجرة الرعاية مجانا

– أجرة التربوية مجانا

( أمك المحبوب )

م

( مروة )

اذا يجيئ فاضل بامه في المطبخ ليتناول الفطور برجاء ان تقرأها أمه وتدفع النقود المكتوبة فيها. قيجلس الفاضل على المقعد وتتحرك قلبه ان يقرأ الكتابة وراء كتابته ويبكي فاضل بعد قرائتها و يحزن حزنا عميقا فيندم عمله ندما.

ويطلب العفو الى أمه ويقبلها فذهب الى الكرسى ويأخذ القلم و يكتب تحت كتابته ( الدين مدفوع ) وقال لأمه “أنت أحب الناس الي وأعزها”

تأملوا يا إخوتي الأحباء!!! التشوة القليل علينا يبين لنا على أن الأم مدرسة وهى أغلى من عيننا وهى أحق الناس الى حبنا بعد الله والرسول. فعسى ان نكون من الأولاد الصالحين.

( الجنة تحت أقدام الأمهات )

Sekilas Renungan tentang “Pahlawan Devisa”

17 December 2009 at 11:56 am | Posted in Gen 8, KELUARGA | 1 Comment
Tags: , , ,

Oleh: Ismarni Ismail*

Bandara Internasional Dubai, 04 Desember 2007

Pagi itu rombongan calon mahasiswa Al-Azhar sampai dengan selamat di bandara Internasional Dubai. Menunggu waktu transit menjelang penerbangan ke Kairo, Mesir. Beragam aktifitas mereka kerjakan untuk mengisi waktu, ada yang memanfaatkannya untuk istirahat, membaca, dan berjalan-jalan keliling bandara nan mewah mencengangkan dengan orang-orang yang juga tak kalah mencengangkan. Ragam rupa, gaya, dan bahasa menjadi tontonan yang tak biasa bagi kami yang mungkin jarang bertemu orang asing kecuali pada beberapa kesempatan saja, terasa sekali qudrah dan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam penciptaan manusia yang berbeda-beda.

`Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang Mengetahui. (Q.S Ar-Rum:22)

Tak jauh dari samping kiri kami, terlihat serombongan perempuan Indonesia, sedang santai beristirahat. Sekilas tak diragukan lagi mereka adalah muslimah, dengan pakaian seragam hitam putih dan jilbab hitam nan rapi. Berniat hendak berta’aruf dengan saudara-saudara sebangsa, kami mendekati mereka, mengucapkan salam dan duduk diantara mereka untuk berta’aruf dan berbagi cerita. Singkat cerita terjadi dialog di antara kami dengan seorang saudari sebut saja namanya Lilis, dari Jawa (25 tahun), yang akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kuwait untuk kontrak kerja selama 2 tahun.

“Mbak kenapa kok mau kerja ke luar negeri, kan jauh dari kampung sendiri?”

“Kerja di luar negeri enak Dek…gajinya besar, bisa untuk biaya bikin rumah di kampung, ya…walaupun nyicil, gaji kerja di Indo gak cukup buat menghidupi keluarga”

“Maaf… memangnya Mbak sudah berkeluarga?”

“Udah…baru 2 bulan kemarin melahirkan”

“Melahirkan..?!?jadi bayi Mbak sama siapa?”

“Ditinggal sama suami dan keluarga di kampung, ntar dikirimin duit dari tempat kerja, kalo cuma mengandalkan gaji suami, mungkin kami sekeluarga gak akan bisa makan 3 kali sehari”

“Maaf nih Mbak…klo Mbak kerja, apa masih pake jilbab?”

“Tergantung majikannya sih…klo majikannya pake jilbab, ya…saya ikut pake, tapi klo majikannya gak pake jilbab, saya juga gak pake. 6 bulan lalu saya baru selesai kontrak sama majikan di Dubai ini, dia gak pake jilbab tapi Islam, dia bilang ke saya…klo kamu mau pake jilbab, silakan…, tapi klo mau lepas juga boleh…, ya udah saya lepas aja, lagian juga repot pake jilbab sambil kerja…majikan saya itu baiiik sekali, dia sering membelikan saya baju mode terbaru dan bagus-bagus, kayak baju-baju artis itu lho…”

Dari dialog singkat ini, menyisakan banyak renungan bagi kita sebagai saudara sebangsa umumnya, dan sebagai saudara sesama muslim khususnya:

  • Seorang muslimah meninggalkan anak dan suaminya untuk mencari nafkah keluarga, padahal suaminya masih hidup dan mampu bekerja. Dimanakah letak izzah seorang laki-laki sebagai suami yang seharusnya bisa menjadi qawwam bagi istri dan keluarganya?
  • Doktrin materialis dan hedonis yang telah mendarah daging, bahwa harta telah menjadi tujuan hidup bukan lagi sebagai wasilah dalam ketaatan kepada Allah.
  • Seorang muslimah tidak melaksanakan kewajibannya lagi, untuk mengasuh dan mentarbiyah anak kandungnya dan rela meninggalkan tugas utamanya untuk mengejar kontrak kerja yang menjanjikan kekayaan.
  • Tidak memahami agama Islam dengan kaffah, menganggap syariat sebagai benda yang mudah dipakai dan mudah juga ditinggalkan.

Mungkin ini hanyalah sedikit bahan renungan dari dialog singkat tadi. Miris sekali hati ini, seorang perempuan dengan identitas muslimah, bangga meninggalkan keluarga untuk jangka waktu yang lama, hanya untuk mencari materi duniawi. Ia pun diagung-agungkan sebagai pahlawan devisa negeri ini. Padahal sejatinya, ia menelantarkan anak, suami dan keluarga, serta mengabaikan tanggung jawab utamanya dalam rumah tangga.

Ia tak pikirkan apa yang akan terjadi dengan dirinya sebagai pekerja perempuan di negeri orang yang banyak kita temukan fakta, bahwa mereka banyak mendapatkan perlakuan kasar dan pelecehan. Ia juga tak fikirkan bagaimana anak dan suami yang ia tinggalkan, Ia tak fikirkan kalau seandainya ia bekerja pada majikan yang beragama Yahudi atau Nashrani. Ia tak peduli akan semua kemungkinan yang akan terjadi ini, yang ada di fikirannya sederhana saja, bagaimana bisa memperoleh gaji besar, lalu pulang kampung membangun rumah baru…, membeli alat rumah tangga nan mewah dan memiliki sepeda motor, dan membuat tetangga terkagum-kagum karena ia bisa menafkahi keluarganya.

Mungkin saudari kita ini tak sempat sampai kesitu, atau malah mungkin ia belum pernah tahu bahwa Allah telah menetapkan Syariat Islam yang mengatur sistem interaksi kehidupan di masyarakat. Bahkan ia juga telah menikah dengan seorang laki-laki yang semestinya punya izzah sebagai seorang qawwam yang bisa menafkahi, menjaga, melindungi, dan mendidik istri dan keluarga dengan baik.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[1] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[2]. (Q.S. An-nisa : 34)

[1]  Maksudnya: tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya. [2]  Maksudnya: Allah Telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.

Saudari kita ini adalah cermin perwakilan dari kondisi masyarakat kita yang tak memahami Islam dengan kaffah…Maka disinilah dituntut peran kita sebagai seorang penuntut ilmu dan pendakwah. Inilah ladang dakwah, yang telah menunggu kepulangan kita ke tanah air tercinta, dan untuk pembekalan dakwah inilah kita datang ke negeri Para Nabi ini.

Paling penting untuk diingat adalah bahwa amanah ini pasti akan dihisab oleh Allah Rabbul ‘Alamin. Terserah bagaimana cara/metode tepat, yang kita pilih dalam menjalankan tugas utama ini, selama kita bisa bermanfaat di tengah masyarakat dengan dakwah Islam.

Bahkan kita juga berkewajiban menjadi seorang fasilitator agar masyarakat Islam bisa mengenal dan memahami Syariat agamanya sendiri dengan ilmu dan akal mereka sendiri, dengan cara memotivasi mereka untuk berproses dalam kegiatan ta’allum, untuk kemudian beramal shalih berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah yang shahih. Ini agar masyarakat Islam terjaga dari taqlid buta terhadap ulama atau mazhab tertentu yang membawa kepada pengkultusan individu yang dianggap baik dan sempurna tanpa mempunyai neraca pemahaman yang kuat. Tak bisa dipungkiri bahwa taqlid mazhab telah membingungkan masyarakat kita, bahkan sampai menyalahkan satu sama lain karena berbeda mazhab.

Sekarang saatnya memahami Islam dengan menggunakan ilmu dalam mengkaji dan mentela’ah Al-Quran dan Sunnah Rasulullah, dengan menjadikan mazhab sebagai wasilah menuju pemahaman Syar’i, sampai kita menemukan titik kebenaran yang haq dalam mengamalkan Syariat Islam. Allah telah menciptakan akal bagi manusia tidak lain untuk mengenal Allah dan syariat-Nya dengan fasilitas akal yang telah Allah amanahkan kepada kita.

*Mahasiswi tk 3 Jur. Hadis, Univ. al-Azhar Mesir – Gen 7 MAKN Putri

ANTARA DUA PILIHAN…

31 October 2009 at 11:25 pm | Posted in Gen 2, KELUARGA | 1 Comment
Tags: , , , , ,

oleh: Retno Suzanne Handayani*

1123129614620_Al_Azhar_University_Cairo_PicturePerjalanan hidup kadang susah ditebak, kita berencana lain yang terjadi pun berbeda. Inilah yang kerap terjadi dalam kehidupan kita. Walaupun sudah kita rencanakan matang-matang namun akhirnya bertolak belakang dengan apa yang kita inginkan.

Berangkat ke Kairo berniat untuk menguasai ilmu-ilmu agama namun ditengah jalan dicegat pemuda sholeh untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Tawaranpun diterima. get marriedAkad dilafadhkan. Status berubah menjadi nyonya…beberapa bulan menikah si mungil hadir. Kondisi naik turun. Masalahpun timbul…

onion-dp38

Antara studi dan rumah tangga, mana yang harus diprioritaskan?..pusiiiiiiing…

Diambil dua-duanya kerepotan, capek dan mumet..harus ada yang dikorbankan. Tapi aku gak mau… kondisi jadi labil…hu..hu..cinta suami,anak, tapi studi juga…waa..gedubrak.. pusing..

Akhirnya, suatu pertemuan dengan kakak senior di masjid Al-azhar mengubah kehidupan saya yang lesu menjadi lebih bersemangat. Pribadi yang sangat kuat dan lincah serta gesit ini memberi inspirasi buat saya untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. She is the inspirator for me..

Menjalani kehidupan dengan tiga status tidak lah mudah. Itu membutuhkan manajemen dan kekuatan ekstra. Ketika harus berhadapan dengan masalah-masalah yang bakal membuat kita lesu dan stress. Ketika itu kita membutuhkan energi tambahan yang bernama tausiah dan ruhiyah.

2801407387_e0602caa70_o

Status sebagai seorang istri dan ibu adalah sangat urgen dan hal yang muhim tidak bisa ditinggalkan tapi di sisi lain status sebagai pelajar mendesak untuk dikerjakan. Dalam masalah ini dituntut kejelian untuk memilah hal-hal yang lebih utama dikerjakan antara hal–hal utama. Tidak semua orang memiliki kejelian dan kepandaian dalam masalah ini.

2935422518_2e26e22b5b_o

Bagi ibu yang memiliki peranan ganda seperti ini, kadang emosinya mudah tersulut, cepat membludak. doaku harapankuJadi kekuatan ruhiyah, serta manajemen diri sangatlah penting. Pertolongan Allah swt adalah solusi dalam masalah ini, banyak berdoa semoga diberi kemudahan dalam segala kegiatan dan diberi kesabaran dalam menjalaninya. Inilah bait-bait nasehat yang dapat saya petik. Nasehat yang sangat berharga pembangun jiwa..

*Mahasiswi tk 3 Jur Hadis Univ Al-Azhar, Gen 2 MAKN Putri

Sumber tulisan: tufahah.multiply.com/

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.