HAJI TANPA MAHRAM, BOLEHKAH?

25 November 2010 at 10:10 am | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 8, hadis | Leave a comment

Oleh: Fadhilah Is*

Labbaikka Allahumma labbaik.

Marhaban ya Syahr al-Hajj, bulan haram yang penuh berkah dan maghfirah. Dengan  iman dan ketundukkan jutaan umat Islam berbondong-bondong menyambut seruan tuhan-Nya. Memang, ibadah haji adalah dambaan setiap muslim. Apalagi zaman sekarang dengan  fasilitas yang serba canggih membuat segalanya menjadi mudah. Lonjakan peminat hajipun tak dapat dielakkan. Laki-laki dan perempuan berlomba-lomba menggapai rahmat Allah di “rumah-Nya”. Namun timbul pertanyaan, bagaimana dengan muslimah yang tidak memiliki mahram, apakah dia diperbolehkan berhaji sendirian? Dalam hal ini ulama berbeda pendapat.

  1. Pendapat yang menyatakan haram (Hanafiah, Hambali dan Ibnu Jauzi)

Kewajiban yang harus dipenuhi laki-laki (Islam, baligh, berakal, merdeka dan kemampuan dalam bekal dan kendaraan) dalam menunaikan haji juga merupakan kewajiban bagi perempuan. Ditambah syarat khusus yaitu adanya suami atau mahram. Maka tidak adanya mahram yang menyertai seorang wanita dalam menunaikan ibadah haji menjadi sebab terhapusnya kewajiban haji baginya. Pendapat ini dikuatkan dengan dalil-dalil:

1. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari Ibnu Abbas, beliau mendengar Rasulullah berkhutbah: ”tidak boleh berkhalwat seorang perempuan dengan laki-laki kecuali bersama mahram”. Kemudian seorang laki-laki berdiri:” wahai Rasulullah sesungguhnya istriku hendak menunaikan ibadah haji sedangkan saya ingin mengikuti perang ini dan ini,”  Rasulullah berkata: ”pergi dan berhajilah bersama istrimu”.

Wajhu dilalah: Kewajiban adanya mahram dalam haji disebabkan perintah Rasulullah agar  menemani istrinya menunaikan haji dan meninggalkan perang padahal perang itu wajib baginya.

2. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari Abi Sa’id ”Rasulullah melarang seorang wanita bepergian selama 2 hari 2 malam kecuali bersama suami atau mahramnya”.

Wajhu dilalah: Jelas bahwa wanita tidak dihalalkan melakukan safar tanpa mahramnya. Banyak hadis yang senada dengan ini, ada yang meriwayatkan larangan safar selama 1 hari ada juga 3 hari. Semua riwayat tersebut tidak bertentangan karena inti masalah bukan pada jumlah harinya tapi pada kewajiban mahram bagi wanita jika bepergian.

Pandangan ini sekaligus menafikan keabsahan ibadah haji seorang muslimah sendirian tanpa mahram, meskipun ditemani seorang muslimah tsiqah ataupun jamaah muslimah lainnya, karena mereka semua bukan termasuk golongan mahram yang mampu menjaganya sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

  1. Pendapat yang menyatakan boleh (Syafi’i, Ibnu Qudamah, Malik dan Auza’i)

Tidak ada kemestian adanya mahram bagi wanita untuk melaksanakan haji wajib, dan cukup bersamanya jama’ah  wanita (yang terpercaya). Pendapat ini dikuatkan dengan dalil-dalil:

  1. Al-Quran surat Ali Imran: 97 Artinya: “(dan diantara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke baitullah yaitu bagi orang-orang yang mampu)”.

Wajhu dilalah: Wanita yang dalam keadaan aman dari mara bahaya diwajibkan menunaikan ibadah haji. Karena syarat utama beribadah haji adalah kemampuan untuk berangkat dan pulang kembali serta mampu menyempurnakan seluruh rangkaian manasik haji.

  1. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari Ibnu Umar, ketika Rasulullah ditanya; ”apakah yang mewajibkan haji?’,beliau berkata: “al-zat (bekal pulang-pergi) dan al-rihalah (kendaraan yang memberikan rasa aman)”.

Wajhu dilalah: Apabila wanita memiliki  kemampuan dan adanya rasa aman dalam perjalanan haji haji maka tidak adanya mahram bukanlah menjadi penghalang yang mutlak. Boleh baginya pergi dengan rombongan haji perempuan lainnya.

  1. Perbuatan sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, ketika Umar memberikan izin bagi istri-istri Rasulullah menunaikan ibadah haji ditemani Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.

Wajhu dilalah: Adanya kesepakatan antara Umar, Usman, Abdurrahman bin Auf dan istri-istri Rasulullah serta tidak ada  diantara sahabat yang mengikari keberangkatan haji tersebut merupakan Ijma’ yang membolehkan wanita menunaikan ibadah haji bersama rombongan wanita terpercaya.

  1. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari ‘Ady bin Khatim berkata: “ketika saya sedang bersama Rasulullah saw datang kepada beliau seorang laki-laki mengadu tentang kemiskinan, kemudian datang laki-laki lain mengadu tentang perampokkan. Kemudian Rasulullah berkata: ”wahai ‘Ady apakah kamu telah melihat alKhiyarah (desa dekat Kufah)?” ‘Ady menjawab: “saya belum melihatnya tapi saya sudah pernah mendengarnya”. Rasulullah berkata: ”apabila panjang usiamu maka kamu akan melihat al-dha’inah (tandu pada punggung onta di dalamnya ada perempuan atau tidak) berjalan dari al-Khiyarah hingga berthawaf mengelilingi Ka’bah tidak ada ketakutan sedikitpun kecuali terhadap Allah”.

Wajhu dilalah: Boleh bagi wanita menunaikan ibadah haji jika terjamin keamanannya meskipun tanpa adanya mahram karena qiyas dari hadis ini.

Dari dalil-dalil yang dipaparkan diatas jelaslah bahwa adanya perbedaan persfektif ulama dalam memandang kemestian adanya mahram bagi wanita dalam menunaikan ibadah haji.  Kalau kita lihat realita sekarang pemerintah Arab Saudi mewajibkan keikutsertaan mahram haji bagi perempuan melalui selembar surat pernyataan demi keamanan selama perjalanan dan prosesi haji. Di sisi lain mulai menjamurnya jasa-jasa travel haji dan KBIH membuat para muslimah berlomba-lomba untuk menjawab panggilan Allah tiap tahunnya.

Maka semuanya kembali kepada kita pribadi. Bagi yang mewajibkan mahram mereka berlandaskan kepada dalil-dalil yang kuat dan bagi yang meyakini cukup adanya sekolompok wanita yang dipercaya mereka pun berpegang kepada dalil-dalil yang kuat.

Dan yang mesti dingat bagi setiap muslimah yang akan berhaji dengan atau tanpa mahram, hendaknya mempersiapkan segala-galanya. Tidak cuma fisik dan materi, tetapi juga mental dan ilmu manasik haji, sehingga bisa maksimal menunaikan semua ibadah di tanah suci sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan meraih haji mabrur. Ya Allah jadikanlah kami diantara tamu-tamu yang engkau panggil bersujud di “rumah-Mu”. Amin!!!

*Mahasiswi tk 4 Jur Hadis Univ Al-Azhar Kairo

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

Advertisements

Peran Istri, Berat Tapi Menjanjikan

20 June 2010 at 8:26 pm | Posted in AKHLAK, AL-QURAN, Gen 7, hadis, KELUARGA, MOTIVASI | 2 Comments
Tags: , , , ,

oleh: Rahmayanti

Hari itu, seorang wanita menemui Rasulullah, Tiba di hadapan beliau ia berkata: “Ya Rasulullah, saya ini utusan kaum wanita, saya bermaksud menanyakan perihal jihad fi sabilillah. Allah mewajibkannya kepada kaum pria, kaum pra memperoleh pahala yang besar karenanya, bila syahid, ia tetap hidup di sisi Allah. kami kaum wanita juga ingin mendapatkan keutamaan seperti itu, maksud saya apa bagian wanita dalam jihad?” Rasulullah pun menjawab: “Sampaikanlah pesanku ini kepada semua wanita yang engkau temui, sesungguhnya mentaati dan mengakui hak-hak suami pahalanya sepadan dengan jihad, namun hanya sedikit wanita yang mengamalkan itu“.

Siapa yang tidak kenal sosok wanita luar biasa seperti Khadijah? Siapa tak kagum dengan wanita semulia Aisyah, seagung Fatimah dan sederet sosok teladan yang dikenang sepanjang sejarah. Mereka sukses memainkan peran baik sebagai hamba Allah, anak, istri, ibu dan da’iyah. Begitu mulia, begitu tulus, sedemikian ikhlas. Semua aktifitas dicover dengan sempurna dengan tujuan meraih ridha-Nya. Mereka yang kehadirannya merubah panas menjadi sejuk, dingin menjadi hangat, sumpek menjadi lapang dan sedih menjadi gembira. Keteladanan mereka mencakup ketaatan kepada Allah, kuatya shalat malam, khusyuknya berzikir, kesetiaan yang luar biasa kepada sami, kecintaan dan perhatian kepada anak-anak serta semangat menuntut ilmu dan menyebarluaskannya.

Istri memainkan peranan yang sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan rumah tangga. Kemampuan seorang istri menciptakan atmosfer keluarga yang tentram, damai, aman dan penuh kasih sayang merupakan tugas yang sangat berat sekaligus paling mulia. Sehingga tidak salah jika Rasulullah menyebutnya sepadan dengan jihad di jalan Allah. Sungguh, ini merupakan penghargaan yang sangat besar bagi wanita.


Keluarga merupakan komponen terkecil sebuah negara, dan peran wanita di dalamnya sungguh tak tergantikan. Bahkan mungkin tak berlebihan jika kita mengatakan bahwa masa depan generasi suatu bangsa berada dalam genggaman lembut tangan wanita. Tanggung jawab dalam keluarga tak boleh terabaikan dengan alasan apapun. Sungguh sangat menarik sekali apa yang disampaikan seorang anak yang telah hafal al-Quran kala usianya baru menginjak 7 tahun, ditanya siapa yang membantu, mendorong dan menyemangatinya dengan gigih hingga ia bisa jadi hafiz. Ia menjawab: “Ummi, ibuku yang melakukannya”.

Peran besar seorang wanita tentu bukan hanya itu saja. Sebab, setiap peran besar, memerlukan modal besar pula, berupa ilmu dan kesungguhan. Itulah wasilah yang utama, karena keidahnya: Ma La Yatimmu al-Wajib Illa Bihi Fahuwa Wajib (sesuatu yang tidak sempurna sebuah perkara wajib kecuali dengan menyempurkakannya, maka ia pun wajib). Sehingga, jadilah menuntut ilmu bagi seorang wanita merupakan kewajiban mendasar agar dapat memikul peran mulianya dengan sempurna. Tidak mungkin seseorang mampu memberi jika ia tidak memiliki. Bagaimana mungkin seorang wanita mampu berkhidmah kepada keluarga, masyarakat bahkan bangsanya jika ia tidak mempunyai ilmu apa-apa.

Mari kita lihat lebih dekat pada kehidupan kita sebagai mahasiswi.  Bagi yang sudah berkeluarga, kedua peran ini dijalankan sekaligus, menuntut ilmu dan menjadi istri dan ibu dalam rumah tangga. Sebenarnya keduanya dapat seiring sejalan, karena dengan menyempurnakan “separuh agama” tentu hati menjadi lebih tenang dan lebih konsentrasi menyerap ilmu pengetahuan. Meskipun tugas rumah tangga tetap membutuhkan keikhlasan dan kesungguhan menjalani peran ganda. Namun semua itu semakin membuka lebar jalan menuju syurga.

Betapa tidak, Rasulullah menyatakan bahwa seorang yang menempuh jalan menuntut ilmu akan Allah mudahkan baginya jalan menuju syurga. Dalam kesempatan lain Rasulullah juga bersabda bahwa jika seorang wanita melaksanakan shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, menjaga kehormatan dan suaminya redha terhadapnya, maka dia boleh masuk syurga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. Subhanallah…!

Mari kita telusuri sejenak, berawal dari niat karena Allah menilai amalan hamba-Nya dari niat mereka melakukannya. Rasulullah bersabda: “sesungguhnya setiap amal tergantung niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkannya.” Jika kita menikah dengan tujuan meggapai ridha Allah dan menjaga diri –meskipun kita belum begitu yakin mampukah menyempurnakan semua kewajiban yang menanti , bisakah bijak membagi waktu dan berbagai kekhawatiran lain– tetapi Allah jualah yang akan melapangkan jalan dan memberi kekuatan dan kebijaksanaan dengan kekuasaan-Nya. Banyak cara bagi Allah untuk membaguskan hamba-Nya dan meninggikan derjatnya karena niatnya. Selanjutnya tergantung semangat dan keistiqamahan kita menjalani itu semua.

Niat dalam istilah Psikologi dikenal dengan motivasi. Inilah sesungguhnya kekuatan dahsyat yang mampu menjadikan seseorang tegar dalam menghadapi setiap episode kehidupannya. Umpama seorang pendaki yang berniat menaklukkan puncak gunung yang terjal. Segala tanjakan dan jalan setapak yang dikelilingi tebih curam dan jurang menganga dijadikannya sebagai tantangan, karena niat sudah terpancang. Ia pantang mundur, kesulitan sebesar apapun akan tetap dihadapi. Semakin berat mdan yang akan dilalui semakin semangat untuk menaklukkannya. Dan jika ia berhasil, kepuasan tiada tara akan diraihnya. Kita juga seperti itu dalam mengarungi kehidupan ini. Dan balasan yang dijanjikan di puncak sana jauh lebih indah yaitu syurga-Nya. Maka, menuntut ilmu dan berkhidmah untuk keluarga denga ikhlas adalah tantangan yang bernilai ibadah di sisi-Nya.

Jadi, sudah saatnyalah kita mengevalusi kembali diri sendiri dan memperkokoh biduk yang ditumpangi untuk mengarungi samudra luas yang penuh rintangan. Waktunya memperbanyak kembali bekal karena perjalanan masih teramat panjang. Disamping terus mengikhlaskan diri melakukan yang terbaik, karena para malaikat tak pernah luput mencatat setiap gerak yang kita lakukan. Wallahu A’lam

*Mahasiswi Jur. Syariah Univ Al-Azhar Kairo

FALSAFAH KELAPA

10 June 2010 at 3:57 pm | Posted in AKHLAK, Gen 4, hadis, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

Oleh: Lira Erlina Lc.

Allah menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al-Quran surat An-Nahl: 11).


Fenomena kehidupan manusia penuh dengan hikmah dan pelajaran. Semua yang diciptakan Allah – di langit dan di bumi – bisa diambil hikmah yang bermanfaat. Allah tidak menciptakan sesuatu hanya untuk menghiasi langit dan bumi saja, melainkan selalu ada hikmah di baliknya, berupa manfaat yang kembali pada manusia dan makhluk itu sendiri.

Pohon kelapa termasuk jenis tumbuhan yang hidup di pantai dan di ketinggian 900 m dari permukaan laut. Tinginya 10 -14 m, tidak bercabang. Daunnya bersirip genap dengan panjang 2-3 m. buahnya berbungkus serabut tebal berdiameter 25 cm, berisi air dan daging. Pohon ini ternyata memilihi begitu banyak manfaat.


Pohon kelapa adalah pohon kehidupan bagi sebagian besar masyarakat. Semua bagian dari pohon tersebut dapat dianfaatkan sehingga bisa menjadi sumber kehidupan dan mata pencaharian. Mulai dari buah, daun, pelepah, tempurung, batang bahkan akarnya bisa berguna. Maha suci Allah yang menciptakannya.

Air kelapa tidak saja pelepas haus dan dahaga, tapi juga punya nilai gizi yang tinggi. Ia kaya akan potasium (kalium), mineral, gula dan protein. Dengan komposisi gizi yang demikian, air kelapa dapat digunakan sebagai bahan baku produk pangan dan obat-obatan.

Dagingnya mengandung karbohidrat sederhana seperti glukosa, sukrosa, dan frukosa. Selain itu juga mengandung lemak protein, lemak, vitamin dan minyak yang banyak digunakan sebagai bahan makanan. Tempurung dan serabutnya dijadikan bahan kerajinan tangan atau cendera mata yang kini banyak diekspor ke manca negara. Daunnya pun serba guna. Bisa dijadikan ketupat, jahur penghias di akla pesta atau sekedar bahan bakar bagi ibu rumah tangga yang ingin masakan nasinya enak. Sedangkan lidinya bisa dijadikan sapu. Batangnya digunakan untuk keperluan rumah dan jembatan. Terkadang digunakan untuk membuat rumah tradisional modern. Dan banyak lagi manfaat pohon kelapa ini sebagai salah satu ciptaan Allah agar kita memikirkan tanda-tanda kekuasan-Nya.

Maha Suci Allah, segala ciptaan-Nya pasti mempunyai manfaat yang besar bagi kita. Lalu, apa yang telah kita berikan dengan manfaat itu? Kalau kita bermuhasabah dan membandingkan diri kita dengan ciptaan Allah yang ada, dimanakah posisi kita? Sudah mampukah kita mencontoh pohon kelapa yang kesemua bagiannya dapat dimanfaatkan? Apakah kita telah menjadi manusia yag tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri tapi juga orang lain?

Falsafah kelapa adalah ilmu bagi orang yang beriman. Sedangkan iman dan ilmu itu bersaudara dekat. Iman akan terus langgeng jika selalu dipupuk dengan ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah shalalalhu alaihi wasalam: “Jika Allah menghendaki kebaikan para seseorang maka Ia menjadikan hamba tersebut mendalam pemahamannya dalam agama” (HR Bukhari-Muslim).

Jadi marilah kita menjadikan hari-hari kita menjadi hari-hari yang penuh manfaat akan kita juga semakin bermanfaat bagi ummat. Wallahu A’lam.

Diskusi Ilmiah 3: Imam Bukhari Dan Penulisan Kitab Shahihnya

18 March 2010 at 4:05 pm | Posted in Gen 7, hadis, KAJIAN, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , , ,

Oleh: Desri Ningsih (Gen 7 MAKN Putri)

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, dua minggu masa liburan ujian termen satu telah berakhir, masa liburan yang dilalui dengan berbagai kegiatan, tak terkecuali dengan anggota Almakkiyat, Diskusi Tafsir Hadis yang sempat tawaquf sebulan lebih karna ujian kembali hidup dan aktif. Kamis 18 Februari 2009 merupakan diskusi yang ketiga kalinya, bertempat di rumah uni Retno dengan pemakalah Ummah Mujahid (Kemala Dewi Lc), mahasiswi pasca sarjana Al-Azhar jurusan hadis. Makalah yang disampaikan mengupas tuntas profil Imam Bukhari dan penulisan kitab shahihnya serta  membahas tentang kritikan-kritikan atau syubhat dari orientalis bahkan dari orang Islam sendiri terhadap beliau.

Sunnah merupakan sumber kedua syariat Islam setelah Al-Qur’an, yang merupakan wahyu ghoiru ma’thlu yang membedakannya denagan Alqur’an, karena itu maka hadis yang shahih merupakan hal paling utama dan urgen sekali dalam khazanah hukum Islam. Dengan demikian maka Al-Qur’an dan Sunnah merupakan dwi tunggal yang tak bisa dipisahkan, namun tidak berarti kedudukan keduanya itu sejajar.

Untuk menshahihkan atau mencari dan mendapatkan sebuah hadis bukanlah hal yang mudah, butuh waktu dan perjalanan yang panjang, seperti yang dilakukan oleh Imam Bukhari Rahimahullah. Dalam mencari  dan menentukan keshahihan sebuah hadis beliau melakukan rihlah atau perjalanan dari daerah ke daerah lain hanya dengan menunggang unta atau kuda dengan bekal hanya sepotong pinu (sejenis roti), bukan seperti sekarang ini dengan perkembangan teknologi yang serba canggih dan moderen. Adapun tujuan rihlah ini beliau lakukan agar ia langsung mendengar hadis tersebut dari sumbernya, walaupun itu hanya satu hadis beliau rela mengunjungi kota demi kota demi mendapatkan atau mencari keshahihan sanad hadis tersebut sampai benar –benar bersambung keRasulullah SAW tanpa adanya munqoti’.

Imam Bukhari merupakan salah satu dari pembesar ahli hadis yang sangat masyhur, sejak umur sepuluh tahun beliau telah hapal ribuan hadis, dan ketika berumur enam belas tahun beliau juga telah hafal kitab Ibnu Almubarok dan Waki’, kemudian pada umur delapan belas tahun beliau mulai menulis kitab tarikh yang ditulisnya disamping kuburan nabi SAW. Dalam pengembaraannya menuntut ilmu telah menemukannya dengan guru-guru yang berbobot, dia mempunyai guru yang tak terhitung, ini dapat kita bayangkan betapa banyak hadis yang beliau susun dalam kitabnya, sedangkan untuk satu hadis saja beliau harus sabar mendatangi dan mengunjungi beberapa guru sampai ia mendapatkannya benar-benar utuh sanad dan matannya. Dan begitu juga dengan murid-muridnya, sangat banyak sekali yang berguru kepadanya.

Dia mempunyai kecerdasan dan kemahiran yang luar biasa sekali yang mungkin tak ada lagi seperti dia pada zaman sekarang ini. Hal ini terbukti ketika dia datang ke  Bagdad, dan ulama-ulama disana berkumpul untuk menguji kekuatan hafalannya dengan mengambil seratus hadis dan mengacak sanad dan matan hadis- hadis tersebut. Imam Bukhari dengan kecerdasannya yg luar biasa mampu mengembalikan dan membetulkan sanad dan matan hadis-hadis tersebut dengan benar tanpa ada salah sedikit pun, sehingga membuat orang-orang yang ada disana kagum terhadapnya. Dan begitu juga  ketika beliau belajar kepada beberapa orang syaikh di Bashroh, pada waktu itu dia masih anak-anak, dan dia tidak pernah menulis sesuatu pun yang telah didengarnya dan dipelajarinya, hingga sampailah pada suatu hari berkatalah sahabat-sahabatnya” engkau sangat berbeda sekali dari kami, tidak pernah menulis sesuatu pun yang telah kamu pelajari, sunnguh engkau telah menyia-nyiakan waktumu disini dan apa yang telah engkau perbuat? Lalu dia berkata” datangkanlah atau lihatkanlah  kepadaku apa yang telah engkau tulis!”lalu dia menambahnya sekitar lima belas ribu hadis yang dibacanya dari zohri qolbihi (dalam hafalan hatinya), lalu berkata kpd sahabatnya” apakah engkau melihatku  menyia-nyiakan waktu dan hari-hariku?????.

Sebagai seorang pembesar ahli hadis, dia mempunyai karya-karya yang begitu banyak, diantara buku atau karyanya yang paling terkenal adalah al-Jami’us Shahih yang merupakan sebuah kitab hadis yang mencakupberbagai macam pembahasan agama, dan dia mempunyai alasan tersendiri kenapa dia menulis buku ini seperti dalam riwayat disebutkan karna mimpinya pada suatu malam melihat nabi SAW dan ketika Ishaq Bin Rahawaih berkata kepadanya. Dia menyusun kitab ini selama enam belas tahun yang mencakup sebanyak 7275 hadis yang berulang-ulang, adapun yg tidak berulang mencakup sekitar 4000 hadis dengan berbagai manhaj, baik manhajnya dalam penulisan maupun manhajnya dalam menghukum seorang rawi dan otentisitas hadis. Dalam merumuskan manhajnya ini, ia tidak hanya terbatas pada hasil usahanya sendiri tetapi selalu meminta kepada Allah SWT petunjuk pada setiap hadis yang ingin ia tuliskan dalam kitabnya. Imam Bukhari sendiri” saya tidak menuliskan satu hadispun dalam kitab shahih kecuali saya mandi sebelumnya dan shalat dua rakaat“. Dan seluruh hadis yang tercakup dalam kitabya  ini merupakan hadis-hadis shahih dari Rasulullah SAW. Bahkan semua muallaqat yang ada didalamnya dinyatakan shahih oleh para ahli hadis, karena hadis muallaqat tersebut telah beliau tuliskan sanadnya secara lengkap di bagian lain kitab Shahihnya. Sehingga Imam Ibnu Kastir mengomentari dalam kitabnya” Albidayah wan Nihayah“: para ulama telah sepakat menerimanya dan apa-apa yang ada didalamnya, demikian pula seluruh umat Islam”

Waktupun terus berlalu, tiga abad setelah kitab shahih ini disusun, muncul segelintir ulama yang mengkritik hadis-hadis dalam kitab Shahih ini, diantaranya adalah Daruqutni. Kritikan tersebut berdasarkan pada konsep ilmu hadis juga, namun para ulama memandang bahwa pendapat-pendapat yang mengkritik, hanyalah pendapat yang lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah. Bahkan, dua abad setelah kritikan-kritikan itu muncul, para ulama menetapkan Shahih Bukhari sebagai kitab paling otentik kedua setelah Al-Quran. Sehingga tak heran, begitu banyak dari ulama-ulama yang mensyarah (menuliskan penjelasan) kitab ini dan mentakhrijnya.

Namun di zaman kontemporer ini, para tokoh orientalis masih saja mencari dan mencari kekemahan kitab ini. Seperti kritikan mereka terhadap beberapa rijal isnad yang ada didalamnya dan beberapa hadis yang mereka anggap kontradiksi. Namun para ahli hadis tidak lengah dan menyerah begitu saja, seluruh kritikan-kritikan yang mereka lemparkan berhasil dibantah dan dijawab dengan jawaban yang rasional sekali. Sebenarnya tujuan mereka itu adalah untuk menjatuhkan dan menghancurkan Islam, namun mereka tak pernah berhasil melakukannya, karena Allah SWT telah menjamin dan menjaganya sebagai mana Ia menjaga kesucian Al-Qur’an.

Tapi sebuah kenyataan yang tak bisa dipungkiri  lagi atau sangat disayangkan sekali pada saat sekarang ini banyak dari  orang Islam sendiri yang cendrung dan mempercayai kritikan-kritikan orientalis tersebu. Bahkan para dosen atau mahasiswa perguruan-perguruan tinggi Islam di dunia telah banyak terpedaya dan terpengaruh oleh pemahaman mereka. Inilah yang menjadi tantangan besar sekaligus tanggung jawab bagi kita sebagai tholibul ilmi sejati untuk terus mendifa’ (membela) dan berusaha meluruskan mereka ke hakikat yang sebenarnya….

Demikianlah sekilas profil Imam Al-Hafiz Al-Fadhil Al-Muhaddis Al-Bukhari. Begitu besar perjuangan, pengorbanan dan kesabarannya dalam menjaga Sunnah Rasulullah SAW. Dan kini kitalah para penuntut ilmu agama yang akan melanjutkan perjuangan, harapan serta cita-cita beliau. Begitu juga untuk menyebarluaskan karya-karyanya yang begitu banyak serta untuk terus menjaganya dari masa kemasa.

Setelah break shalat Ashar, dibukalah sesi diskusi. Semangat dan kecerian yang terpancar di wajah peserta menjadikan diskusi lebih terasa dan bersahaja. Diskusi berjalan hangat, tanpa terasa lima jam telah berlalu. Tempat-tempat jeruk dan strawbery kelihatan “bersih” ludes, piring tahu isi pun tak mau kalah. Azan magrib pun berkumandang syahdu di telinga yang menegur setiap orang yang beriman untuk memenuhi panggilannya. Diskusipun segera ditutup oleh moderator yang begitu semangat sekali membawa acara dari awal sampai akhir…..Almakkiyat tetap semangat!!!!!!!!! See u all next month dalam kajian tafsir Insyaallah di rumah Uni Kem, Saqor Qurays dengan pemateri Ainul Zikra Lc. dan Sabrina Lc. Don’t forget it!:)

Penyebaran Sunnah Masa Rasulullah

11 January 2010 at 11:55 pm | Posted in Gen 1, hadis | 3 Comments
Tags: ,

oleh: Dwi Sukmanila Sayska

Al-sunnah tersebar seiring dengan tersebarnya al-Quran sejak ditegakkan syiar Islam. Pada semua tahapan dakwah Rasulullah sama ada di Mekkah maupun Medinah, Beliau menyampaikan risalah ilahiyah kepada ummat manusia, memberi fatwa, memutuskan perkara dan hukum-hukum, memimpin mereka pada saat damai maupun perang, berkhutbah, serta mendidik dan mengajari mereka mengenai agama baru yang mulia ini. Para sahabat generasi awal pun sangat bersemangat mempelajari dan menghafal ilmu-ilmu baru yang mereka terima dari Nabi saw. Sehingganya, banyak faktor yang memungkinkan dan menjamin al-Sunnah menyebar dengan cepat dan merata ke pelbagai kawasan dunia.

Manurut  Ajaj al-Khatib dalam kitabnya Sunnah Qobla Al-Tadwin (lihat hlmn 68-73), kita dapat menyimpulkan, diantara faktor-faktor pendukung tersebut ialah:

  1. Semangat dan kesungguhan Rasulullah saw dalam menyampaikan dakwah menyebarkan Islam. Beliau memanfaatkan setiap metode dalam setiap kesempatan dan periode dakwah. Tampa mengenal siksaan dan kepayahan, Beliau senantiasa berbuat maksimal dalam menyampaikan risalah sehingga kokohlah Islam dan kuatlah kedaulatannya. Mesjid merupakan tempat paling utama untuk menuntut ilmu, mendengar fatwa dan mendapat nasehat bagi para sahabat. Dari Menurut penelitian M.M. Azami tentang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di zaman Rasulullah saw, pada tahun 2 H madrasah-madrasah sudah mulai dibuka. Terbukti dengan penuturan Ibn Saad, ketika Ummi Maktum tiba di Medinah sesudah perang Badar, ia tinggal di “Dar al-Kubra” (rumah para pembaca al-Quran) iaitu rumah milik Makhrimah bin Naufal (Ibnu Sa’ad, jld 1 hlmn 150). Selain itu tidak mustahil adanya sekolah-sekolah lain, seperti dituturkan Ibnu Mas’ud, bahawa pada waktu ia belajar al-Quran dari Rasulullah saw, sebanyak tujuh puluh surah, Zaid bin Thabit telah mempunyai sejenis buku yang disimpan di “kuttab”/tempat-tempat belajar.(Musnad Imam Ahmad, jld 1 hlmn 273). Pemakaian kata “kuttab” pengganti kata ’suffah” menunjukkan bahawa saat itu ada tempat belajar untuk kanak-kanak. Di Medinah peta pada waktu itu telah menunjukkan ada sembilan mesjid (al-Badzuri, al-Ansab, jld 1 hlmn 273), yang kemungkinan juga dipakai sebagai madrasah.(MM A’zami, 1980, 85) Rasulullah saw juga menyelang-nyelingi pemberian nesahat antara suatu waktu dan waktu lainnya, kerana pengajaran dan penyuluhan yang monoton dan langsung-menerus akan menimbulkan rasa bosan dalam jiwa, sehingga tujuan yang ingin dicapai tidak maksimal. Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah saw mengganti-ganti waktu pengajaran kepada kami, kerana tidak ingin kami bosan. (Bukhari, jld 1 hlmn 172 dan 173, dan Ahmad jld 5 hlmn 202)
  2. Karaktristik Islam dan sistim kehidupan baru yang dibawanya. Ini membuat masyarakat bertanya-tanya apa sesungguhnya Islam itu, bagaimana hukumnya dan tujuan yang akan dicapai. Islam memberikan nuansa baru dalam kehidupan masyarakat jahiliyah yang serba keras dan biadab. Banyak yang mendatangi Rasulullah saw dari tempat yang jauh sekalipun, untuk mempertanyakan tentang Islam dan akhirnya memeluk agama rahmah ini dan kemudian menyampaikannya pula kepada orang lain.
  3. Semangat para sahabat Rasulullah saw dan motivasi mereka mencari ilmu, menghafalkan dan menyampaikan kepada orang lain. Kecintaan mereka kepada Rasulullah saw membuat mereka senantiasa memperhatikan tentang semua segi kehidupan Rasul untuk diteladani dan dipraktekkan dalam kehidupan harian.
  4. Ummahatul-mukminin yang menjadi tempat bertanya bagi kaum muslimin terutama para sahabiyah jika mereka malu langsung bertanya kepada Rasulullah saw tentang pelbagai hukum dan sunnah Rasulullah saw. Mereka akan mendapatkan jawaban dari istri-istri Rasulullah yang selalu berkomunikasi dan mempelajari pelbagai hal secara langsung dari Beliau, terutama masalah rumah tangga dan wanita.
  5. Para sahabiyah pula mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam penyebaran sunnah Rasulullah. Mereka senantiasa bertanya bila ada perkara-perkara yang tidak difahami dan diketahui hukumnya, dan mengajarkan kepada muslimah lainnya. Rasulullah juga menitikberatkan pendidikan muslimah dengan menyediakan waktu khusus untuk majelis mereka (lihat Musnad Ahmad hlmn 85 juz 13 hadis ke-7351 dan Fathul Bari jld 1 hlmn206). Sehingga mereka telah menjadi wanit-wanita terpelajar dan menebar teladan untuk ummat, di saat para wanita hanya menjadi budak dunia dan hamba sahaya di Eropa sana.
  6. Pengaruh para da’i dan utusan yang dikirim ke daerah-daerah. Sejak bai’at Aqabah pertama Rasulullah saw telah mulai mengirimkan utusan, iaitu Mus’ab bin Umair untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Medinah. Setelah hijrah terutama saat berlaku perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw mengirimkan da’i-da’i kepada kabilah-kabilah sekitar Medinah dan di pelosok-pelosok negeri untuk mengajarkan hukum dan sistim kehidupan Islam. Rasulullah saw senantiasa mengarahkan setiap utusan untuk berdakwah kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, serta tidak mempersulit apapun, hendaknya mempermudah dan memberi kabar gembira, sehingga dakwah akan mudah diterima oleh pelbagai kalangan. Di antara contohnya iaitu: wasiat Rasulullah saw kepada Muaz bin Jabal dan Abu Musa al-Anshari ketika keduanya diutus ke Yaman.(lihat sahih Bukhari, juz 3 hlmn 72. pengiriman untusan itu terjadi pada tahun 7 H). Begitu pula nasihat dan motivasi Beliau kepada Ali bin Abi Thalib ketika diutus ke Yaman sebagai qadhi.(Musnad Imam Ahmad, juz 2, hlmn 72, hadis ke-666, melalui isnad sahih.) disamping itu, Rasulullah saw juga mengirimkan utusan kepada raja-raja diantaranya kepada; kaisar Romawi (lihat sirah Ibnu Hisyam juz 4 hlmn 279 dan sahih Muslim juz 3 hlmn 1393 dan 1397, da lihat pula keterangan tentang para utusan kepada raja-raja dan para gubernur secara terperinci dalam kitab al-Mishah al-Mudli’, hlmn 60-114), kepada gubernur Bashrah, gubernur Damaskus (wilayah ekuasaan Helakrius), al-Najasyi (Raja Habsyhah), Kisra (raja Persia) dan al-Munzir bin Sawi (Raja Bahrain). Selain itu Beliau juga menulis surat ke Aman, Yamamah dan daerah-daerah lain. Bagi setiap kaum atau kabilah yang memeluk Islam, Rasulullah saw akan mengangkat seorang gabenor dari mereka dan mengirimkan sahabat untuk mengajarkan Islam kepada mereka.
  7. Fathu’l Makkah yang terjadi setelah Musyrik Qurays melanggar perjanjian Hudaibiyah pada tahuan 8 H, dimana Rasulullah saw menyeru semua kabilah yang telah memeluk Islam umtuk hadir di Medinah pada bulan Ramadhan. Bersama 10.000 mujahid, Beliau berangkat ke Makkah. (lihat sirah Ibnu Hisyam, juz 4 hlmn 17). Setelah berhasil menaklukkan Makkah tampa pertumpahan darah dan menghancurkan berhala-berhala, Rasulullah saw berpidato di depan semua muslimin dan musyrikin. Kemudian semua manusia secara serentak membai’at Rasululllah saw. Peristiwa bersejarah tersebut, disaksikan oleh banyak sahabat dalam jumlah yang tidak terhad, sehingga semua yang hadir saat itu, menyampaikan pidato Rasulullah ke pelbagai kawasan.
  8. Haji wada’ pada bulan Zulhijjah tahun 10 H, juga merupakan perstiwa penting dalam sejarah penyebaran sunnah Rasulullah saw. Beliau menunaikan ibadah haji bersama sekelompok besar sahabat yang berjumlah sekitar 90.000 orang (tedapat perbezaan riwayat tentang jumlah kaum muslimin yang ikut hadir pada haji wada,. Menurut satu riwayat dari Abu Zur’ah, jumlahnya 40.000 orang sahaja. Lihat Talqih Ahl al-Atsar hlmn 27). Ketika wuquf di Arafah, Beliau berpidato dengan tajuk yang lengkap dan mencakup pelbagai persoalan agama. Dan Beliau berwasiat agar sahabat yang hadir, menyampaikan kepada yang tidak hadir.
  9. Setelah penaklukkan Makkah dan haji Wada’, utusan-utusan dari pelbagai kawasan dan kabilah datang ke Medinah untuk membai’at Rasulullah dan bersatu di bawah panji agama Allah. Rasulullah menyambut baik setiap utusan yang datang dan mengajari mereka tentang Islam dan sistim kehidupannya. Sebahagian mereka bermukim di Medinah beberapa hari sebelum kembali ke kaumnya masing-masing untuk menyampaikan ajaran Islam. Sehingga mereka melihat dengan jelas perilaku dan ibadah yang dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah dan mendengar hadis-hadis dari Beliau. Diantara utusan-utusan tersebut adalah: Dhimam bin Tsa’labah, Abdul Qais, utusan Bani Hanifah, Thai, Kindahm Azdasynuah dan utusan raja-raja Himyar. Selain itu ada pula utusan dari kabila Hamdan dan Tujaib, Bani Sa’d, Huzaim dan masih banyak lagi.(lihat Sirah Ibnu Hisyam juz 2 hlmn 221).

Mahasiswa Mesir Tolak Kritikan Dr. Muhibbin Terhadap Shahih Bukhari

20 December 2009 at 10:54 pm | Posted in hadis, MASISIR NEWS, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

Geliat aktifitas Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) ternyata masih segar. Di tengah kesibukan mempersiapkan ujian, mereka masih antusias untuk menghadiri acara “ Dialog Umum ” yang diadakan oleh El-Montada, KPMJB dan FATIHA, Jum’at 11/12/09 di auditorium pesanggrahan KPMBJ.

Dialog ini ini diisi oleh dua nara sumber dari Indonesia yaitu Prof. Dr. Endang Soetari M. Si (Guru Besar UIN Sunan Gunung Jati Bandung) yang menyampaikan materi seputar Problematika Studi Hadits di Indonesia dan Prof. Dr Muhibbin M. Ag (Guru Besar IAIN Walisongo Semarang) yang menyampaikan materi tentang Urgensi Kritik Matan dalam Pembuktian Validitas Hadits. Hadir sebagai Pembanding Ust. Ahmad Ikhwani, Lc. Dipl (Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Al-Azhar jurusan Hadits) dengan moderator Ust. Roni Fajar, Lc. (Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jurusan Hadits)

Di awal acara, Ust. Saifuddin M.A. selaku ketua El-Montada (organisasi mahasiswa program pasca sarjana dan doktoral) menyampaikan sambutan yang antara lain menyatakan bahwa antusias para masisir untuk mengkaji kegiatan yang bersifat keilmuan ternyata lebih tinggi daripada mengkaji tentang politik, terbukti dengan jumlah peserta yang hadir melebihi kapasitas auditorium yang disediakan.

Dr. Endang Soetari. M.Si yang mendapat giliran pertama dalam diskusi ini menyebutkan tentang Problematika Ilmu hadits di Indonesia. Hingga saat ini metode digunakan oleh beliau ialah penetapan keshahihan hadits dengan cara Takhrij.

Pemaparan kedua dilanjutkan oleh Dr. Muhibbin. M. Ag. yang pernah menulis buku tentang kritik kitab “Shahih Bukhari”. Beliau menyatakan tidak semua hadits dalam Shahih Bukhari itu shahih, bahkan terdapat beberapa hadits termasuk kategori lemah dan palsu.

Dinginnya kairo yang sempat terkena percikan gerimis sebelumnya berubah menjadi hangat setelah pemaparannya yang mengkritik matan hadits. Menurutnya ini untuk membela Nabi Muhammad sabda beliau yang telah melalui beberapa kurun waktu itu tidak ada yang bertentangan dengan akal.

Contohnya hadits tentang lalat dan tentang mayit yang disiksa karena tangisan keluarganya yang menurutnya tidak rasional. Semua kritikan itu bisa ditanggapi dengan baik oleh pemateri pembanding, Ust. Ahmad Ikhwani, Lc. Dipl.

Acara pun berlanjut ke sesi tanya jawab. Setelah moderator mempersilahkan para hadirin untuk bertanya bak gayung bersambut begitu banyak tangan-tangan yang mengacung ingin bertanya. Tanggapan pertama disampaikan Ust Zulfi Akmal, Lc. Dipl. (Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Tafsir Univ. Al-Azhar) menyampaikan bahwa seorang mahasiswa Al-Azhar tingkat dua pun sanggup mengkonter hadits tersebut dari syubuhat yang disampaikan oleh Dr. Muhibbin tadi. Ust. Zulfi juga menolak adanya proses belajar hadits tanpa guru, seperti yang dilakukan oleh Dr. Muhibbin.

Kemudian Ust Bukhari, Lc. Dipl. (Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Hadits Univ. Al-Azhar) angkat bicara membantah pernyataan keraguan Dr. Muhibbin terhadap hadits pada Shahih Bukhari. Ia menjelaskan secara gamblang status beberapa hadits yang dikritik berikut dalil tentang kedudukan hadits tersebut. Ust. Bukhari menganggap hasil penelitian Dr. Muhibbin ini kurang referensi dan juga kurang pemahaman bahasa Arab.

Pertanyaan-pertanyaan beserta tanggapan-tanggapan yang ditanyakan akhirnya dijawab oleh Dr. Muhibbin dengan berusaha membela argumen beliau. Beliau menganggap hadits-hadits itu diragukan karena irrasional. Sebab mengkaji hadits tidak hanya dari matan dan sanad saja, tapi perlu memperhatikan aspek rasionan, sejarah dan sirah. “Apabila naql bertentangan dengan akal, maka yang didahulukan adalah akal.” tegasnya. Sontak mahasiswa yang hadir pada saat itu seakan tertawa meringis akan tanggapan yang diuraikan oleh beliau.

Acara yang mulai beranjak malam tersebut tidak mengendurkan semangata para hadirin, terbukti dengan antusias para penanya pada sesi ke dua yang semakin membuat hangat suasana. Diantara pernyataan yang paling menyentak disampaikan oleh Riyadh, Mahasiswa Al-Azhar Fakultas Dirasat slamiyah konsentrasi Ushuluddin yang menanyakan standarisasi tesis kandidat doktor di Indonesia, karena begitu mudahnya hanya tinggal mengangkat sesuatu yang berbenturan antara nash Al-Quran dengan nash Hadits bisa lulus membondong gelar doktor. “kalau gitu saya ingin cepat-cepat pulanglah ke Indonesia melihat segampang itu bapak menjadi Doktor” ungkap Riyadh. Sontak seluruh hadirin riuh seketika.

Kemudian disusul dengan pernyataan Umarulfaruq Abubakar, Mahasiswa Fakultas Darul Ulum Universitas Kairo, yang menyebutkan bahwa yang sedang di permasalahkan saat ini tidak murni kritik matan. Yang terjadi adalah mengkritik matan hadits karena belum bisa dipahami oleh si pengkritik. Hal ini tentu sama tidak menurunkan derajat sebuah hadits shahih, pemahamannyalah yang perlu dikaji kembali.

Antusias masisir dalam menanggapi dialog ini masih berlanjut. “Bahkan sampai pagi pun masih siap” ungkap salah seorang hadirin. Namun karena waktu pula, sesi tanya jawab berakhir setelah adanya kata penutup dari kedua nara sumber. Kedua nara sumber ini adalah anggota adalah bagian dari rombongan para Doktor yang sedang menjalankan studi singkat di Mesir dalam rangka meningkatkan kompetensi selaku dosen di universitas masing-masing. (sn/fjr – eramuslim.com)

DISKUSI ILMIAH I: KAJIAN HADIS ANTARA ULAMA DAN FEMINIS

9 November 2009 at 3:39 pm | Posted in Gen 9, hadis, KAJIAN | 2 Comments
Tags: , , ,

oleh: Lina Rizki Utami*

Kalo bicara soal kajian, biasanya tak terlepas dari sorotan membosankan dan bikin ngantuk, tapi tidak untuk kajian yang satu ini. Diskusi Ilmiah Tafsir-Hadis Almakkiyat, yang membuat wawasan bertambah dan ilmu meluas. Alhamdulillah, 5 November 2009 kemaren, Almakkiyat telah menyelenggarakan salah satu agenda istimrornya, yaitu kajian ilmiah tafsir hadis yang rencananya diadakan rutin setiap kamis di mingu pertama dan ketiga tiap bulannya. Kajian berdurasi 3,5 jam di rumah Ummu Abdullah ini, diisi oleh Uni Dwi Sukmanila Sayska sebagai pemakalah perdana. Dikemas dengan bahasa lugas dan sederhana dalam sebuah makalah ilmiah, dan dipresentasikan dengan enjoy oleh pemakalah. Tapi kajian yang dihadiri 15 anggota ini, tetap memegang norma-normanya yang bersifat ilmiah, akurat dan terdepan. Informasi yang kita terima adalah hotnews yang ter-update, so…ga bakal ketinggalan isu-isu kontemporer deh.

Tema yang diusung adalah “Metode Kritik Dan Pemahaman Hadis Antara Ulama Dan Feminis”. Tema ini sangat menarik bagi Almakkiyat, karena selain menyuguhkan metode kritik sanad dan matan hadis menurut para ulama klasik dan kontemporer, juga membuka wawasan kita tentang kajian feminis dalam memahami hadis, terutama hadis tentang kewanitaan. Contohnya, hadis tentang wanita penduduk neraka paling banyak serta kurang akal dan agamanya, hadis tentang istri sujud pada suami, hadis tentang wali nikah yang mesti seorang lelaki, bahkan wali berhak memaksanya sehingga menghalangi wanita menikah dengan calon pilihannya, hadis tentang konsep mahram bagi wanita dalam perjalanan sehingga membatasi ruang gerak kaum wanita, hadis yang menyatakan laknat malaikat atas istri, jika enggan memenuhi panggilan suami ke tempat tidur, sehingga istri bagaikan sekedar objek pemuas nafsu lelaki dan sebagainya.

Dalam menseleksi sebuah hadis, ulama telah menerapkan kritik sanad yang sangat ketat sejak abad pertama Hijrah. Seorang rawi tidak saja dinilai kecerdasan dan kekuatan hafalannya (dhabt), tapi juga kewaraan dan keshalehan pribadinya (‘adalah). Ibnu Sirin (w.110 H) mengisahkan kejadian di masa shahabat: “Pada mulanya kaum muslimin jika mendengar sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berdirilah bulu roma mereka. Namun, setelah terjadinya fitnah, jika mendengar hadis mereka selalu menanyakan: “Sebutkanlah rawi-rawi hadis kalian itu”. Jika rawinya adalah orang-orang yang berpegang pada sunnah (ahl al-sunnah) maka hadis mereka terima, tetapi jika rawi-rawinya pelaku bid’ah (ahli al-bidah) maka hadisnya ditolak.

Memang hadis baru dibukukan secara resmi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (w.101 H), tetapi bukan berarti tidak ada shahabat yang menulis hadis. Bahkan untuk menentukan otentisitas sebuah hadis, selain meneliti kredibilitas rawi, para ulama shabat juga saling membandingkan riwayat-riwayat yang mereka dengar dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Pemakalah memberikan contoh riwayat tentang kritik matan yang terjadi di kalangan shahabat, yaitu Aisyah mengkritik riwayat Abu Hurairah, dan kisah Khulafaurrasyidin menguji keotentikan hadis dengan meminta rawi mendatangkan saksi atau bersumpah. Inilah cikal bakal kritik matan yang kemudian semakin berkembang dan melahirkan berbagai cabang ilmu hadis seperti ilmu mukhtalaf hadis, nasikh mansukh, dan lain-lain. sekaligus mematahkan tudingan kalangan feminis bahwa ulama hadis mengabaikan kritik matan sehingga meloloskan hadis-hadis misoginis.

Tongkat eftafet penelitian hadis dan penjagaannya dari pemalsuan terus berlanjut dalam majlis ilmu dan pena para ulama dari generasi ke generasi. Hingga di abad ke 3 Hijrah menjadi masa keemasan dalam pembukuan hadis dimana lahirlah kitab-kitab hadis monumental yang kita nikmati hari ini.

Sedangkan dalam memahami sebuah hadis, para ulama juga telah menetapkan berbagai kaidah, yaitu: memahami hadis sesuai petunjuk Al-Quran, menggabung hadis-hadis yang bertema sama dan menyelesaikan jika seolang-olah saling bertentangan, meneliti asbabul wurud dan kondisi ketika disabdakan, menganalisa redaksi bahasa (majaz/kiasan atau fakta, muthlaq atau muqayyad dll). Semua ini dilakukan para ulama demi menyebarkan pemahaman yang lurus terhadap hadis-hadis Rasulullah yang merupakan pilar kedua agama ini setelah Al-Quranul karim. Bukan seperti kecurigaan segelintir feminis muslim bahwa ulama memahami hadis dan meletakkan pondasi fiqh demi mengukuhkan dominasi laki-laki dan budaya patariarki. Sedangkan kaum feminis sendiri dalam menilai sebuah hadis cendrung memakai logika akal semata berdasarkan ide kesetaraan gender yang diusungnya.

Setelah dikupas tuntas dengan diskusi aktif dengan para anggota, terbukti bahwa para feminis mengkaji hadis tidaklah mendalam, hanya mengekori pendapat  orang-orang sebelum mereka dari kalangan orientalis dan pemikir Islam yang berpegang pada ideologi feminis. Mereka lebih mengedepankan logika akal semata dan berpegang pada ilmu humaniora barat, sehingga mendapat kesimpulan yang jauh berbeda dari apa yang telah disepakati oleh ulama klasik maupun kontemporer.

Klaim mereka yang mengatakan dalam hadis terdapat unsur misoginis yang tak sesuai dengan kesetaraan gender tidaklah terbukti. Sebab, dalam Islam keadilan antara lelaki dan perempuan bukanlah semata-mata sama segala sesuatunya, tapi menempatkan posisi mereka secara adil, setara hak dan kewajiban sesuai fitrah masing-masing. Semestinya, para feminis muslim, dalam memperjuangkan hak-hak wanita, tetap membangun kerangka berfikir dengan menggunakan cara hidup (worldview) Islam. Bukan malah menarik masalah sosial ke akar ideologis yang membuat mereka selalu menyalahkan teks-teks agama –al-Quran dan hadis– serta penafsiran ulama sebagai pemicu terjadinya ketidakadilan dan penindasan terhadap wanita dalam masyarakat muslim.

So…jelaslah sudah, dengan kajian ini bertambahlah wawasan tentang perbandingan cara mengkritik dan memahami hadis antara ulama dan feminis yang menentang sebagian hadis sahih demi mengusung ide kesetaraan gender yang mereka anut.

Bagi yang belum ikutan diskusi perdana, gak usah kecil hati…tuk kajian berikutnya Almakkiyat punya Uni Arina Amir yang akan membahas kajian tafsir. Insya Allah akan digelar hari Kamis, 19 November 2009 jam 2 siang waktu Kairo di rumah Ummu Utsman. Bagi anggota tetap (yang juga akan dapat giliran presentasi), makalah akan disebar satu atau dua hari sebelum acara. Tapi tidak menutup peluang bagi akhwat lain untuk tetap hadir diskusi, meskipun harus copy makalah sendiri…^_^

Come on ukhti fillah….Lets kita hadiri, kita simak, n kita amalkan. Wallahua’lam bishawab.

*Mahasiswi Syariah Islamiyah Univ Al-Azhar – Gen 9 MAKN Putri

UMMAHATUL MUKMININ DALAM PERIWAYATAN HADIS

7 November 2009 at 11:07 pm | Posted in Gen 1, hadis | Leave a comment
Tags: , , ,

oleh: Dwi Sukmanila Sayska*

muslimahDalam lintas sejarah Islam, Umahatul mukminin mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyebaran hadis dan pengajaran agama pada generasi sahabat dan tabi’in terutama kepada kalangan wanita muslimah. Tidak dapat dipungkiri, bahwa mereka adalah wanita-wanita mulia yang mendapat kesempatan merekam secara detail segala perikehidupan Rasulullah saw, yang kemudian disampaikan pada kaum muslimin. Mereka merupakan rujukan pertama bagi para sahabat – setelah wafatnya Rasulullah saw– dalam menanyakan masalah-masalah tertentu, terlebih masalah yang berkaitan dengan keluarga dan wanita. Rumah-rumah mereka dijadikan sebagai madrasah-madrasah ilmu, tempat kaum muslimin bertanya dan meminta fatwa. Sehingga keberadaan Ummahatul mukminin menempati posisi terpenting, baik sebagai sumber pembelajaran ataupun sebagai figur teladan — khususnya bagi kaum muslimah — dalam keimanan. Begitu juga dalam komitmen mereka mempertahankan norma-norma Islam, dimana mereka harus mengemban kewajiban-kewajiban khusus dan berat, sebagai konsekwensi logis atas tingkatan prestise yang mereka dapat melampaui wanita-wanita lain dalam masyarakat , sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-Ahzab ayat 32-33, yang artinya :

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita-wanita lain jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu “tunduk” dalam berbicara, sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah terdahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya,. Sesungguhnya Allah ingi menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlu bait dan memberihkanmu sebersih-bersihnya.”

rumah ummahatul mukminin - kini nabawi

Bagaimanapun, Al-quran dan hadis juga menggambarkan mereka sebagai sejumlah gambaran pribadi yang diwarnai berbagai konflik. Bahkan, mereka merupakan pemicu turunnya mayoritas ayat-ayat dan hadis-hadis tentang keluarga dan wanita. Mereka digambarkan sebagai implementasi emosionalisme, irrsionalitas, keserakahan dan sikap pembangakangan perempuan, yang pada dasarnya, mewakili gambaran sikap dan tindak tanduk perempuan secara keseluruhan.

Rasulullah saw wafat dan meninggalkan sembilan Ummahatul mukminin, yang masing-masing mempunyai andil dalam periwayatan hadis. Perbedaan kuantitas hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah saw, dipengaruhi sedikitnya oleh 5 faktor, yaitu :

1.      perbedaan daya tangkap, daya hafal dan kapasitas intelektual.

2.      perbedaan durasi waktu mendampingi atau bersama dengan Rasulullah saw.

3.      perbedaa dalam menahan diri untuk meriwayatkan hadis

4.      perbedaan kesibukan

5.      perbedaan umur atau masa hidup setelah Rasulullah saw wafat.

flower-power

AISYAH BINTI ABU BAKAR

Aisyah merupakan anak perempuan Abu Bakar, sahabat senior yang termasuk orang pertama memeluk Islam. Ia dilahirkan dalam cahaya Islam. Di usia yang sangat muda dan masih suka bermain, ia pindah ke rumah Nabi saw, empat turunnya wahtu dan sumber ilmu. Rasulullah sangat mencintai Aisyah dan memiliki posisi yang istimewa disisi Rasulullah. Banyak hadis dan riwayat yang menunjukan hal tersebut.

Ia terkenal dengan kedalaman ilmu dan kuat hafalannya. Sejak kecil, ia sudah sering mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran, menghafalkan serta mencatat waktu turunnya, mengingat wahyu tidak pernah turun saat Nabi bersama istri-istri beliau kecuali ketika bersama Aisyah. Pemahamannya tentang al-Quran juga ditunjang oleh keilmuannya di bidang bahasa, syair dan sastra. Itulah yang menjadikannya sebagai salah satu tokoh tafsir di kalangan sahabat. Dia memiliki mushaf khusus yang menghimpun Al-Quran dan tafsirnya, dan jika dikumpulkan, besarnya mencapai tiga kali lipat mushaf Ustmani.

Keistimewaannya di bidang intelektual juga terbukti dengan posisinya sebagai seorang muhaddis dan penghafal Sunnah. Peranannya dalam transformasi Sunnah dan penyebarannya pada kaum muslimin sangat penting sekali, terutama menyangkut masalah keluarga dan prilaku Nabi saw dalam rumah tangganya. Hafalan dan pemahamannya yang brilian, menjadikannya sebagai referensi bagi para sahabat dalam memutuskan masalah-masalah yang diperselisihkan.

Kejeniusan Aisyah tidak sampai disitu saja. Dia juga ahli fikih dan menguasai hukum-hukum Islam. Hal ini diakui oleh tokoh-tokoh sahabat, bahkan para sahabat senior pun tak segan-segan menanyakan permasalahan yang tidak mereka fahami kepada Aisyah. Sejak Rasulullah saw wafat, Aisyah aktif memberikan fatwa dan pengajaran pada kaum muslimin, sampai akhir hayatnya.

Diantara semua Ummahatul Mukminin, Aisyah lah yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw. Tercatat 2210 hadis yang diriwayatkannya, sehingga menempatkannya di posisi kedua terbanyak setelah Abi hurairah.
Sementara itu tema-tema hadis yang diriwayatkan Aisyah diantaranya :

1.      keimanan, wahyu, ilmu, bacaan Al-Quran dan tafsir.

2.      masalah thaharah : wudlu, tayammum, mandi untuk shalat Jum’at, hadas besar, haid dan istihadlah

3.      masalah shalat : tata cara dan waktu shalat, shalat-shalat Sunnah dan shalat mayyit, hukum-hukum shalat, azan Rasulullah, zikir, doa, imam dan keutamaan berjamaah,  etika dan keutamaan mesjid.

4.      masalah puasa : penetapan hilal dan waktu sahur, hukum puasa bagi orang yang junub di pagi hari, mencium istri saat puasa, puasa Sunnah dan I;tikaf, larangan puasa wishal (tampa berbuka di waktu magrib), qadha puasa dan lailatul qadar.

5.      masalah haji : memakai wangi-wangian sebelum ihram dan tawaf ifadlah, pembayaran hadyu (denda haji), umrah Rasulullah saw, pembangunan Ka’bah dan keutamaannya, hewan semblihan dan kurban

6.      masalah jual beli dan sedekah

7.      masalah pembebasan budak

8.      penyembuhan orang sakit dengan obat dan doa (ruqyah)

9.      masalah Nazar, kesaksian dan hudud (hukuman)

10.  Jihad dan peperangan Rasul

11.  Pernikahan : hubungan suami istri dan thalak.

12.  kejadian-kejadian fitnah, tanda-tanda kiamat, Qadar dan penciptaan.

Mereka yang banyak meriwayatkan hadis dari Aisyah diantaranya :

  • kalangan shahabat : Abu Bakar, Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar, Abu Musa al Asy’ary, Abdullah bin Abbas, Amr bin Ash, Syafiyah binti Syaibah.
  • Kalangan keluarganya : Urwah bin Zubair, Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Ummu Kultsum, Hafsah dan Asma, Abdullah bin Zubair dan Aisyah binti Thalhah.
  • Kalangan tabi’in : Masruq bin Ajda, Al Aswad bin Yazid, Sa’id bin Musayyab, Mujahid, Ikrimah, Abu Salamah bin Abdurrahman bin auf, Amrah binti Abdurrahman, Shafiyah binti Abu Ubaid dan Alqamah binti Qais.

Sedangkan rantai periwayatan aisyah yang paling shahih adalah :

§  Hisyam -> Urwah -> Abu Bakar -> Aisyah

§  Yahya bin Sa’id -> Ubaidillah bin Amr bin Hafsh -> al Qasim -> Aisyah

§  Abdurrahman bi al Qasim -> Abu Bakar -> Aisyah

§  Aflah bin Hamid -> Al Qsim -> Aisyah

§  Az zuhri -> Urwah -> Aisyah

UMMU SALAMAH

Dia adalah Hindun binti Umayyah bin al Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makzum. Ayahnya merupakan putra Qurays yang masyhur dan disegani. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Ummu Salamah telah menikah dengan Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makzum, yang merupakan saudara sesusuan Rasulullah. Ia juga merupakan anak dari bibi Rasulullah saw; Barrah binti Abdul Muthalib dan pernah dua kali hijrah bersama Rasulullah saw.

Abu Salamah dan Ummu Salamah berasal dari keturunan bangsawan yang mempunyai andil besar di awal perjuangan Islam. Mereka ikut hijrah ke Habsyah dan juga ke Medinah. Di Medinah, Ummu Salamah mengurus anak-anak sementara Abu salamah ikut berjihad dengan kaum muslimin. Ia tidak ketinggalan dalam perang Badar dan Uhud yang menyebabkannya meninggal dunia tahun 4 H. Kemudian Rasulullah menggantikan posisi Abu Salamah.

Ummu Salamah adalah wanita yang pandai dan agamis, Rasulullah sangat menghargai pendapatnya. Ia juga dianggap ahli fikih yang termasuk kelompok sahabat mutawassith dalam memberikan fatwa. Ia merupakan ummulmukminin yang paling terakhir meninggal, yaitu pada tahun 62 H, tidak lama setelah pembunuhan Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Hadis yang diriwayatkan Ummu Salamah berjumlah 378. Tema riwayat hadis Ummu Salamah –sebagaimana halnya riwayat Aisyah– didominasi oleh hukum dan ibadah. Diantaranya :

1.      masalah thaharah tentang : mandi junub, wanita haid dan istihadhah.

2.      masalah shalat : bacaan Al-Quran Nabi dan cra shalatnya, shalat witir dan sunnah, doa setelah shalat, pakaian perempuan dalam shalat, membaca shalawat Nabi saat tahiyat dan qunut.

3.      masalah zakat : nafkah suami terhadap anak dan istri, keutamaan sedekah dan zakat perhiasan.

4.      masalah puasa : puasa orang yang berhadas ketika shubuh, mencium istri saat puasa dan keutamaan puasa tiga hari setiap bulan dan bulan Zulhijjah.

5.      masalah haji : haji bagi wanita, haji dan umrah di mesjidil aqsha dan Tawaf perpisahan.

6.      masalah jenazah : doa mayit, laragan bercelak bagi wanita yang sedang ihdad (ditinggal mati suaminya)

7.      masalah etika : menutup aurat, miuman dan mengangkat kepala ketika keluar Ka’bah.

8.      masalah pernikahan : ihdad dan menyusui.

9.      masalah peperangan : peperangan di masa Rasulullah saw dan tragedi pasca wafat Rasulullah saw dan Imam mahdi.

Diantara mereka yang meriwayatkan hadis dari Ummu Salamah adalah :

1.      kalangan sahabat : Aisyah, Abu Said al Khudry, Umar bin Abi Salamah, Anas bin Malik, Buraidah bin Hashin, Sulaiman bin Buraidah, Abu Rafi’ dan Ibn Abbas.

2.      kalangan tabi’in, yang paling masyhur adalah : Sa;id bin Musyyab, Sulaiman bin Yasar, Saqiq bin Salamah, Abdullah bin abi Malikah, Atha’ bin abi Ra’bah, Nafi’ bin Jubair dan lain-lain.

3.      kalangan wanita : anaknya Zainab, Hindun binti al Haris, Shafiyah binti syaibah, Shafiyah binti abi Ubaid, Ummu Walad Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, amrah binti Abdurrrahman dan Ummu Muhammad bin Ibnu Qais.

MAIMUNAH

Dia adalah Maimunah binti al Haris bin Hazn bin Bujair bin al Huzam bin Ruwaibah. Dia merupakan saudari Ummul Fadl, istri al Abbas, dan bibi dari Khalid bin al Walid dan ibn Abbas. Sebelum menikah dengan Nabi saw Mas’ud bin Umar al Tsaqafy kemudian dengan Abu Rahm bin Abdul Uzza. Dia meninggal tahun 51 H sebelum Aisyah.

Maimunah meriwayatkan 76 hadis dari Rasulullah saw, 31 diantaranya terdapat dalam Kutubussittah. Yang meriwayatkan hadis darinya adalah; keponakannya, Ibn abbas, Abdurrahman bin as-Saib dan Yazid bin al-Aslam. Juga Ubaid bin as-Sabaq, Kuraib, dan para hamba sahayanya.

Hadis-hadis yang diriwayatkan Maimunah pada umumya adalah hadis fi’ly atau berkaitan dengan perbuatan Nabi saw. Tentang masalah thaharah, ia meriwayatkan tentang cara mandi untuk menghilangkan hadas besar, wudlu Nabi dengan air sisa mandi beliau dan istrinya, membaca al-Quran di pangkuan wanita yang sedang haid, shalat setelah makan tampa wudlu kembali dan lain-lai yang berhubungan dengan prilaku Rasulullah saw.

Dalam bab shalat ia meriwayatkan hadis tentang keutamaan shalat di Mesjid Nabawi dan mayit yang dishalati sekelompok masyarakat. Tentang puasa ia meriwyatkan hadis yang berkaitan dengan puasa Nabi saw di Arafah. Tema lain adalah tentang rumah-rumah yang tidak dimasuki malaikat dan pengobatan Nabi saw dengan doa.

Walaupun hanya tiga tahun hidup bersama Nabi saw, tetapi Maimunah terbilang banyak meriwayatkan hadis yang menggambarkan secara terperinci kehidupan Rasulullah saw dalam rumah tangga. Apalagi kisah perkawinannya dengan Rasulullah saw termasuk pembahasan penting dalam Fikih Islam, dimana para ulama mengedepankan berbagai pendapat dalam masalah ini.

Diantara faktor yang mendukung banyaknya periwayatan Maimunah adalah, karena dia termasuk istri Nabi saw yang wafat lebih akhir dan yang banyak meriwayatkan darinya yaitu Ibn Abbas, mahramnya yang leluasa menemuninya menanyakan berbagai persoalan.

UMMU HABIBAH

Dia adalah anak perempuan Abu Sufyan bin Harb bin Umayah bin Abd Syams bin abd Manaf bin Qushay. Dialah satu-satunya istri Nabi saw yang mempunyai garis keturunan paling dekat. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Ummu Habibah pernah menikah dengan Ubaidillah bin Jahsydan ikut hijrah bersamanya ke Habsyah. Namun kemudian Ubaidillah memeluk agama Nasrani, sedangkan Ummu Habibah tetap mempertahankan kalimah tauhid.

Rasulullah meminangnya pada tahun 6 H, dengan mengutus seseorang ke Habsyah, dan memberikan mahar sebanyak 4000 yang dibawa oleh Syarahbil bin Hasanah. Inilah mahar tertinggi diantara semua istri-istri Nabi saw.

Ummu Habibah lahir 17 tahun sebelum kenabian dan meninggal dunia pada tahun 44 H. Sebelum meninggal beliau meminta maaf pada Aisyah dan Ummu Salamah atas apa yang terjadi selama mereka menjadi madu Rasulullah saw.

Orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Ummu Habibah diantaranya: saudaranya Mu’awiyyah, Urwah bin az-Zubair, Abu Sufyan bin Sa’id, Abdullah bin atabah, Abu Shalih bin Dzikwan, Shafiyah binti Syaibah dan Zainab binti abu Salamah. Ummu habibah meriwayatkan 65 hadis, 29 diantaranya terdapat dalam Kutubussittah.

Tema hadis riwayatnya yang terkenal berkaitan dengan pengharaman menikahi anak tiri perempuan dan saudara istri, dan tentang iddah dan permasalahannya. Juga tentang shalat sunah rawatib sesudah shalat fardu. Dalam masalah haji, hadisnya menceritakan tentang sunnah meningalkan Mina menuju Muzdalifah bagi mereka yang lemah atau karena kondisi di Mina yang penuh sesak.

Dalam masalah thaharah, dia meriwayatkan tentag wudlu, dan hal yang boleh dilakukan suami terhadap istrinya yang sedang haid. Sedangkan dalam maalah puasa, hadis yang diriwayatkannya berkaitan dengan bolehnya mencium istri saat puasa, doa setelah azan dan sebagainya.

HAFSAH BINTI UMAR

Dia adalah anak perempuan Umar bin Khattab bin Nufail bin ‘Abdul Uzzah bin Rab’ah. Sebelumnya ia pernah menikah dengan Khunnais bin Hadzafah as-Sami’. Ketika suaminya meninggal dalam perang Uhud, Umar menawarkan Hafsah kepada Abu Bakar dan Usman, namun mereka menolak karena Rasulullah pernah menyebut-nyebutnya. Ketika Umar mengadukannya kepada Rasulullah saw., maka Rasulullah saw. mengutarakan bahwa beliau akan menikahinya, sementara Utsman juga akan dinikahkan dengan Ummu Kultsum binti Rasulullah saw.

Hafsah lahir lima tahun sebelum kenabian, dan meninggal tahun 41 H. Rasulullah pernah menceraikannya dan kemudian merujuknya kembali.

Hfsah meriwayatkan enam puluh hadis, dan yang tercatat dalam Kutub as-Sittah hanya 28 Hadis, empat di antaranya disepakati oleh Bukhari dan Muslim., dan enam hadis diriwayatkan oleh Muslim.tema hadi syang diriwayatkannya adalah :

1.      dalam masalah thaharah tentang kewajiban mandi bagi orang yang bermimpi dan mengeluarkan sperma, dan menggunakan tangan kanan untuk makan dan minum.

2.      dalam masalah shalat tentang shalat Sunnah dua rakaat sebelum subuh.

3.      dalam masalah puasa tentang puasa Rasul tiga hari setiap bulan, mencium isteri saat puasa, puasa senin-kamis, puasa ‘Asyura dan lain-lain.

4.      dalam manasik haji, hadisnya membahas tentang pembunuhan hewan melata, sifat-sifat dalam kamar Nabi saw dan lain-lain.

5.      dalam masalah etika, yang membahas tentang hal yang layak dilakukan sebalem tidur.

6.      dalam masalah pengobatan dengan semut.

7.      dalam kisah-kisah fitnah, membahas tentang kemunculan Dajjal.

8.      dalam masalah tafsir mimpi.

Pada umumnya hadis-hadis yag diriwayatkan oleh Hafsah merupakan hadis-hadis fi’ly atau menggambarkan perbuatan Rasulullah saw. Hafsah termasuk istri Nabi saw yang banyak meriwayatkan hadis, yang diantara tidak diriwayatkan oleh istri-istri Nabi saw yang lain.

ZAINAB BINT JAHSY

Dia adalah Zaenab binti  Jahsy bin Riab bin Ya’mar bin Shabarah bin Marrah, anak dari bibi Rasulullah saw (Umaimah binti abdul Muthalib). Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Zaenab menikah dengan Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah saw. Setelah Zaed menceraikannya, Allah menikahkannya dengan Rasulullah berdasarkan nash al-Quran. Pernikahan tersebut tanpa saksi dan wali, itulah yang menjadikan ia berbangga terhadap isteri-isteri Nabi saw yang lain, karena mendapat dispensasi khusus langsung dari Allah swt.

Nabi menikahinya pada bulan Dzulqa’dah tahun 5 H. Ia wanita shalihah yang rajin beribadah di malam hari, berpuasa di siang hari, dan dia sangat dermawan terhadap orang lain. Ia bekerja menyamak kulit, melubanginya dan hasilnya diberikan pada orang lain. Beliau lah isteri pertama yang wafat setelah Rasulullah saw pada tahun 20 H. Ia hidup bersama Rasulullah selama lima tahun, dan meriwayatkan sebelas hadis dari Rasulullah saw., lima di antaranya terdapat pada Kutub as-Sittah.

Muridnya yang paling masyhur adalah keponakannya, Muhammad bin Abdullah bin Jahsy, Ummu Habibah, dan Zanab binti Ummu Salamah. Meskipun hadis yang diriwayatkannya terbilang sedikit, namun dialah perawi hadis Ya’juj ma’juj yang shahih. Ia juga meriwayatkan hadis tentang istihadah, iddah dan thaharah. Walaupun dia wafat lebih awal dari isteri-isteri Rasulullah yang lain, namun banyak kalangan yang meriwayatkan kisah pernikahannya dengan Rasulullah saw.

SHAFIYAH RA

Dia adalah Shafiyah binti Huyay binti Sa’yah, yang termasuk bani Israil (keturunan Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim as). Sebelum menikah dengan Rasulullah saw. dia telah menikah dengan Salam bin Abu Haqiq dan kemudian dengan Kinanah bin Haqiq, yang terbunuh dalam perang Khaibar. Ini mengakibatkan Shafiyah ditawan dan menjadi budak Dahyah al-Kalabi.

Ia wanita mulia yang pandai, cerdas dan agamis. Rasulullah sangat menghormati dan bersimpati padanya. Terbukti dengan pembelaan terhadapnya tatkala isteri-isteri beliau yang lain menjelek-jelekkannya, karena ia seorang Yahudi. Dia juga wanita yang suka berderma, bahkan pernah memerdekakan budak perempuan yang pernh menghinanya di depan para sahabat. Dia wafat tahun 36 H.

Diantara yang meriwayatkan hadis darinya adalah : Ali bin al-Husein, Ishaq bin Abdullah bin al-Haris, Kinanah (hamba sahayanya). Ada sepuluh hdis yang diriwayatknnya, enam di antaranya terdapat dalam Kutub as-Sittah.Tema periwayatannya mengenai i’tikaf, takaran sha’ Nabi saw, pernikahan Nabi saw dengan Maimunah, kisah pasukan yang dibantai (yang juga diriwayatkan oleh Salamah dan Hafsah).

JUWAIRIYAH BINTI AL HARIS

Dia adalah Juwairiyah binti al Haris bin abu Dharar al Khazaiyyah al Musthalaqiyyah. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, ia menikah dengan Musafi’ bin shafwan yang terbunuh dalam perang Al Marisii’ pada tahun 5 H, sehingga Juwairiyyah menjadi tawanan perang. Lalu ia meminta Rasulullah saw untuk membnatu memerdekakannya. Rasulullah saw memenuhi permintaannya, bahkan menikahinya. Hal ini membuat semua tawanan bani Mushthaliq dimerdekakan.

Juwairiyyah meninggal tahun 50 H, dan menurut sebagian pakar sejarah yang lain tahun 56 H.

Di antara orang yang meriwayatkan hadis darinya: Ibnu Abbas, Ubaid bin As-Sabaq, Mujahid, Abu Ayyub. Ia meriwayatan tujuh hadis, empat diantaranya terdapat dalam Kutub as-sittah. Temanya mencakup masalah puasa, doa-doa, zakat, hewan sembelihan, dan kemerdekaan budak.

SAUDAH BINTI ZAM’AH

Dia adalah Saudah binti Zam’ah bin Qais al-Qursyiyyah al-Amriyyah wanita kedua yang dinikahi Rasulullah saw setelah wafatnya Khadijah ra. Rasulullh saw menikahinya pada bulan Ramadhan tahun 10 H dan satu-satunya istri selama tiga tahun, hingga kemudian Rasulullah saw menikahi Aisyah ra. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw ia menikah dengan Sakran bin Amr.

Saudah merupakan wanita mulia yag disebut Rasulullah saw sebagai perempuan yang paling mencintai beliau. Namun saat ia tidak lagi mempunyai keinginan yang besar dalam kehidupan seksual, ia memberikan waktu gilirannya kepada Aisyah ra.

Ia hanya meriwayatkan 5 hadis dari Rasulullah, salah satunya mengenai hewan sembelihan yang dimuat dalam shahih Bukhary. Diantara musrid-muridnya adalah ; Ibnu Abbas, Yahya bin Abdullah Al anshari.

flower-rose-Dari pemaparan singkat tentang cuplikan biografi para Ummahatul mukminin, kita dapat memetik kesimpulan, bahwa mereka juga memegang peranan yang sangat penting dalam meriwayatkan hadis dan menyebarkan sunnah Rasulullah di kalangan kaum muslimin. Juga dalam menyampaikan ilmu dan fatwa-fatwa dalam meyelesaikan permasalahan yang muncul setelah Rasulullah saw berpulang ke hadirat Rabb-Nya.

SILSILAH

Walaupun periwayatan yang mereka punyai –kecuali Aisyah- terbilang sedikit, namun mengandung hal-hal yang tidak dapat terekam oleh orang lain, kecuali oleh mereka yang menyandang gelar ummahatul mukminin. Dan jika tidak ada periwayatan dari mereka, tentu para shahabat tidak akan mengetahui hal-hal tersebut, apalagi kita, generasi akhir zaman yang hidup berabad-abad setelah wafatnya Rasulullah saw. Wallahu A’lam bisshawab.

DAFTAR PUSTAKA

al Qardasi, Amal binti al-Husain, Daur Almar’ah fi Khidmah al hadist fi Alqurun Ats-tsalatsah al ula, Darul Kutub al Qatariyah, 1999

as-Syayuti, Jalaluddin Abdurrahman bin abu Bakr, Tadribur rawi(darul kutub al-ilmiyah, Beirut.

_________, Itqon fi ulumil Qur’an, Al- maktabah Ats-qafiyah.tt

Thohan, Mohammad, Taisir Musthalahul Hadist. Darul fikr,tt

Az Zahaby, Sair A’laam an-Nubala. Darul fikr. tt

az Zarkasyi, Badruddin, Al Ijabah li irad ma istdrakathu aisyah ala ashahabah, al Maktab al Islamy.tt

*Lulusan s2 Univ Kebangsaan Malaysia, Gen 1 MAKN Putri

sumber: sukmanila.multiply

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.