Sosok Ibu sebagai Madrasah Perdana

25 November 2010 at 10:35 am | Posted in Gen 6, KELUARGA | Leave a comment


Oleh: Fitri Shabrina Lc.

Islam  memberikan perhatian yang besar terhadap tarbiyah anak sejak dini. Karena anak adalah pemimpin masa depan. Sudah menjadi kewajiban orangtua untuk membentuk figur yang tangguh dalam memikul tanggung jawab, menjadi panutan karena kebersihan jiwanya, ketinggian akhlaknya dan kecerdasan dirinya. Sosok sosok seperti inilah yang diharapkan untuk memimpin ummat dimasa yang akan datang.

Lalu, siapakah pemeran utama pada madrasatul ula ini? Dialah sosok ibu yang mengandung generasi generasi harapan itu, kemudian menyapih mereka dengan air susunya, mendidik mereka dan ibu menjadi pemimpin di dalam rumah suaminya. Maka, tak dikeragui lagi bahwa ibu adalah orang yang paling berpengaruh pada pribadi sang anak. Oleh karena itu, untuk mewujudkan generasi harapan ini sangat tergantung dengan sosok yang akan memberikan suguhan tarbiyah tersebut. Apabila setiap ibu telah menjalankan amanahnya dan mampu menjadi teladan yang baik, Insya Allah, ummat rabbani bukan hanya menjadi sekedar mimipi.

Tanggung jawab besar ini menghasilkan limpahan pahala yang besar pula.  Selain itu, hanya anak yang solehlah yang dapat mendoakan orang tuanya kelak ketika telah tiada. Sebagaimana yang disabdakan oleh rasulullah saw dalam hadisnya

اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث, صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له

(An-Nawawi, Shohih Muslim bi Syarhi Imam Nawawi, vol. 1, hal. 25)

Jika telah meninggal anak Adam, maka terputuslah pahalanya kecuali salah satu dari tiga perkara; shodaqah jariyah, ilmuyang bermanfaat baginya, atau seorang anak soleh yang mendo’akannya

Dalam mendidik anak, tidak hanya usaha saja yang dibutuhkan. Namun, untaian do’a juga akan menentukan. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt. dalam ayatnya:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (74)

 

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan : 74 ) 

 

Fase Fase dalam Mentarbiyah Anak

1  Masa Kehamilan

 

Tarbiyah terhadap anak hendaknya telah dimulai sejak sang buah hati masih dalam kandungan. Walaupun jenis tarbiyah ini masih bersifat permulaan, namun hal ini juga membantu untuk membantu dalam pembentukan kepribadian anak kelak. Jika kita lihat dari ilmu kedokteran, ketika janin telah berusia 14 minggu, panca indranya telah mulai berkembang hingga mencapai fungsi yang sempurna sampai waktu bayi siap untuk dilahirkan. (lih. Perkembangan janin dari minggu keminggu, nakita, hal. 44). Ketika ilmuwan moderen telah menemukan penelitian terbaru untuk menganjurkan ibu memperdengarkan musik musik klasik untuk merangsang  perkembangan indra dan otak bayi, maka mengapa kita tidak memperdengarkan kalimah toyyibah dan lantunanayat suci alqur’an untuk memperkenalkan calon bayi dengan tuhannya. Hal ini akan lebih memperkokoh  ikatan janji Allah dengan sang bayi ketika di zaman azali sebelum ia lahir kedunia untuk mengemban tugas sebagai khalifah di atas

bumi ini. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)” (QS. al-A’raf: 172)

Selain itu, sentuhan lembut sang ibu juga dapat memberikan ketenangan bagi janin. Dan anak akan merasa terlindungi dengan adanya kontak fisik ini.

2  fase ketika anak dilahirkan

 

Ketika sang anak telah terlahir kedunia, maka, dianjuran bagi sang ayah untuk memperdengarkan azan di telinga kanan dan iqamat di telinga kirinya. Ini merupakan tarbiyah bagi anak agar kaimat pertama yang ia dengar ketika terlahir kedunia adalah I’lanu bittauhid.( lih. Tarbiyatul aulad, ‘Athiyah Saqar, hal. 149 )

Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw.  dalam hadisnya yang terdapat pada sunan Abi Daud dan Tirmidzi yang berbunyi:

عن ابي رافع عن ابيه قال رأيت رسولله صلى الله عليه و سلم أذن فى أذن الحسن بن على حين ولدته فاطمة بالصلاة

” Dari Rafi’ maula Rasulullah saw berkata: Aku melihat Rasulullah Saw. Mengazankan Hasan bin Ali pada telinganya ketika Fatimh melahirkannya dengan azan shalat” (Sunan Abu Daud, vol 13, hal. 305)

3  fase menyusui

Fase menyusui adalah fase dimana seorang anak mulai meniru prilaku sang ibu. Jadi, tarbiyah yang berlangsung pada fase ini bersifat spontanitas. Karna seiring dengan berjalannya waktu, kedekatan ibu dan anak akan mempengaruhi jiwa anak. Oleh karena itu, seorang ibu harus memiliki kepribadian yang baik, kondisi kejiwaan yangbagus dan kesehatan yang prima. ( lih. Tarbiyatul Aulad, ‘Athiyah Saqar, hal 125 )

Menyusui merupakan kewajiban setiap ibu. Namun, jika seorang ibu  tidak sanggup menunaikan kewajiban ini, maka Allah memerintahkan orangtua bayi untuk menyusukannya pada wanita lain agar hak bayi dapat terpenuhi. Dalam hal ini, orangtua bayi harus memilih wanita yang baik dari segi kesehatan, akhlaknya dan pribadinya, karena hal itu sangat berpengaruh terahadap pertumbuhan dan pribadi sang anak. Sebagaimana yang dilakukan oleh ibunda Rasulullah Saw. Beliau memilih wanita  badui yang baik dari bani Sa’ad untuk menyusui putranya tercinta.

Islam menganjurkan ibu untuk  menyusui selama 2 tahun.  Hal ini telah termaktub di dalam al-Qur’an:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…”.

Jika kita lihat lebih jauh, ternyata menyusui masa 2 tahun ini memberikan manfaat  yang besar. Diantaranya adalah:

1.  Terjadinya kontak fisik antara ibu dan anak ketika kebersamaan dan kedekatan ibu dengan anak berlangsung.

2  Menumbuhkan  kontak batin antara ibu dan anak. Oleh karena itu, ketika anak sedang tidak berada dekat ibunya, ia akan merasa kehilangan.

3  Anak akan mampu untuk mengekspresikan keinginannya seperti dengan menangis, atau menggerak gerakan anggota tubuhnya. Sehingga ibu dapat memahami bahasa bayi dan segera memenuhi keinginan sang anak.

4  kedekatan ibu dengan bayi selama 2 tahun ini akan mendatangkan perasaan aman dan damai pada jiwanya. Karena  ia akan merasakan adanya seseorang yang siap melindungi di dalam dekapan yang hangat. ( lih. ‘Uzhomaa’ul Athfal, Jamal ‘Abdurrahman, hal. 196)

Dari sisi akhlak, seoang ibu hendaknya menjaga sikapnya dan mulai mengajarkan adab adab yang baik terhadap anak. Seperti membiasakan mengucapkan Basmalah ketika memberikanASI, membaca Hamdalah ketika telah selesai. Memulai dengan Bismillah ketika memakaikan anak pakaian, mengucap Hamdalah ketika selesai dan adab adab lainnya.

Sedangkan dari sisi psikologi, keikhlasan ibu ketika memberi ASI kepada bayi, akan mempermudah keluarnya ASI. Dan kesehatan jasmani ibupun akan mmpengaruhi kualitas Asi yang akan diberiakan. Selain itu, perasaan tenang dan ikhlas ketika menyusui juga mempengaruhi psikologi  sang bayi.

 

4  Fase Kanak Kanak

Masa kanak kanak adalah fase dimana anak meniru prilaku yang ada disekitarnya. Hal ini juga diisyaratkan oleh imam Al Ghazali. Beliau mengatakan “Anak kecil siap menerima segala ukiran dan cenderung pada setiap yang diucapkan “. Oleh karena itu, jika kita mengajari dan membiasakan anak anak kita dengan kebaikan, maka mereka akan tumbuh di dalam kebaikan itu. Namun sebaliknya jika kita membiasakan mereka tumbuh di dalan kejelekan. ( 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak,  Muhammad Rasyid Dimas, hal. 5). Ini disebabkan oleh potensi besar yang dimilikinya untuk menerima pengaruh negatif maupun positif. Maka, oangtualah yang harus memaksimalkan pengaruh positif tersebut.

Adapun macam macam tarbiyah yang harus kita perkenalkan pada anak sejak dini adalah:

 

Tarbiyah Islamiyah

1.  Aqidah Sohihah

Hal yang paling pertama dan utama sekali adalah mengajarkan anak  mengenal Tuhannya, dan mengajari mereka mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian selanjutnya mengajari mereka tentang rukun iman dan rukun islam. ( lih. Tuhfatul ‘Arus, Muhammad Sholah Hilmi, hal. 257 )

Pada tahap awal, ibu bisa kreatif dengan mengajarkan rukun iman dan rukun islam dalm bentuk lagu agar  lebih mudah diingat. Dongeng sebelum tidurpun bias difariasikan dengan kisah kisah para nabi, sahabat dan para salafussalih sebagai keteladan akidah mereka.

 

2. Memperkenalkan Ibadah Sejak Dini

Rasulullah saw bersabda dalam hadisnya:

مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سني

Suruhlah anak anakmu shalat ketika telah mencapai umur 7 tahun” (Sunan Abi Daud, vol. 24, hal. 88)

Pengenalan ibadah sejak dini akan membuat mereka terbiasa melakukannya hingga telah dewasa nanti. Walaupun pada awalnya terasa berat dan enggan, namun, sang ibu hendaknya terus memotivasi anak untuk membiasakannya dengan tanpa memaksa. Misalnya, dengan memberikan hadiah apabila sang anak dapat menunaikan puasa sehari penuh, membelikan mushaf yang baru ketika anak semangat belajar alqur’an.

 

3. Tarbiyah  Adab dan Akhlak Karimah

#  Belajar Meniru Kepribadian Rasulullah Saw.

Sebaik baik teladan adalah Rasulullah saw..  Keindahan pribadi dan akhlaknya tiada tertandingi. Kita sebagai muslim disuruh untuk meneladani akhlak Rasulullah saw.. Aisyah Ra. Pernah mengisahkan tentang keluhuran akhlak beliau. Sesungguhnya akhlak Rasulullah adalah al  Qur’an. Dan beliau diumpamakan dengan al Qu’an yang berjalan di atas bumi.

# Mengajarkan Adab Islam

Ketika sang ibu mengajarkan adab adab islami ketika anaak masih dalam masa menyusui, maka, ketika masa kanak kanak, anak akan mulai terbiasa melakukannya. Seperti berdoa ketika melakukan sesuatu. Ibu juga harus mengajarkan adab ketika anak anak berhadapan dengan orang yang lebih besar darinya, adab ketika makan, ketika, bertamu dan adab adab lainnya.

Namun, sebagai orang tua yang mendidik, ibu hendaklah melakukan terlebih dahulu apa yang ia ajarkan terhadap anak. Karena, betapaun sang anak berpotensi besar untuk menerima kebaikan dan betapa suci dan lurusnya fitrah anak, namun dia akan tidak dapt merespon prinsip prinsip kebaikan dan dasar dasar pendidikan yang baik tersebut selama ia tidak melihat pendidiknya berakhlak mulia dan menjadi sosok ideal. ( lih. 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak, Muhammad Rasyid Dimas, hal. 20). Mari kita kembali mengingat seruan Allah pada orag orang yang beriman   untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang kita ucapkan. :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)

” Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?  Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash-shaf : 2-3)

 

# Ketika Anak Melakukan Kesalahan

Kesalahan adalah hal yang wajar dilakukan oleh anak anak. Sebab, anak tengah melewati fase fase perkembangan secara bertahap. ( lih. 20 Kesalahan Dalam Mendidik Anak, Muhammad Rasyid Dimas, hal. 13). Namun, tugas seorang ibu, tentu tidak akan membiarkan kesalahan itu terus berlanjut dan menjadi sifat yang melekat pada diri sang anak.  Menyikapinya dengan sabar adalah solusi terbaik. Hal yang harus dihindari oleh ibu ketika menyikapi kesalah anak adalah memarahinya habis habisan dan memberikan hukuman fisik. Karena, menghujani anak anak dengan kata kata dan memukulnya akan berpengaruh terhadap kejiwaan anak. Sehingga anak akan lari dari ibunya, dan cenderung mengulangi kesalahan tersebut.

Adapun  dampak negatif yang diakibatkan oleh hukuman fisik ini akan merusak fisik anak, kondisi kejiwaan , dan akal mereka. Dan tanpa kita sadari, hal ini juga berimbas negatif pada kondisi masyarakat dan negara. Karna, masyarakat dan negara merupakan kumpulan dari komponen terkecil yang bernama keluarga. ( lih. Kaifa Tu’addibu Abna’ana Bighairi Dhorob, Muhammad Nabil Kazhim, hal. 112 )

Namun, dalam menyikapi kesalahan yang dilakukan oleh anak  juga dibutuhkan cara  yang bersifat mendidik. Contonhya, dengan mengatakan terus terang bahwa apa yang ia lakukan adalah salah, dengan ungkapan “anak yang baik atau soleh, tidak melakukan hal ini”. Bila perlu, tunjukan sikap bahwa sang ibu tidak menyukai apa yang dilakukan oleh sang anak, namun tetap diiringi  dengn menunjukan rasa kasih sayang terhadap mereka (lih. Kaifa Tu’addibu Abna’ana Bighairi Dhorob, Muhammad Nabil Kazhim, hal. 96)

 

4  Tarbiyah jiwa dan akal anak anak

Didikan jiwa dan akal anak yang dijalani oleh ibu pada saat sekarang ini merupakan langkah dalam menyiapkan anak yang  berjiwa tangguh dan cerdas baik secara emosi maupun kecerdasan berpikir. Bukankah mereka adalah calon calon pemimpin masa depan? Maka, hal yang mesti diperhatikan oleh sang pemilik madrasatul ula adalah:

# Berbicara Terbuka dan Turut Mengajaknya Bermusyawarah

Jalinan komunikasi antara ibu dan anak akan menumbuhkan kedekatan emosi antara keduanya. Sehingga ketika anak menghadapi masalah , ia akan terbuka pada ibu. Hal ini akan mengurangi beban sang anak. Disamping itu ibupun dapat memantau kondisi anak ketika ketika ia tidak berada di sisi sang ibu.

Mengajaknya bermusyawarah dan meminta pendapatnya dengan membuka perbincangan sekitar hal hal yang masih dalam porsi intelektualitas mereka juga turut membantu kedewasaan mereka dalam berpikir. Selain itu, perbincangan ini juga akan menjadikan mereka merasa bahwa mereka adalah orang yang dibutuhkan. Misalnya, bermusyawarah dengan mereka tentang hal hal yang berhubungan dengan keluarga seperti  meminta pendapat mereka tentang pembagian tugas rumah.

Cara berkomunikasi dengan anak  pada tidak hanya melalui kata kata. Kontak fisik juga dapat mewakili ucapan, seperti dengan mencium untuk mengungkapkan rasa sayang, menepuk pundak mereka dengan lembut dan tatapan mata yang meyakinkan sebagai ganti dari kata kata; ” Ayolah anakku. Kamu bisa!”

Sahl Bin Sa’idi meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulkullah saw diberi minuman, lalu beliau meminumnya. Sedangkan di sebelah kanan beliau ada seorang anak laki laki dan di   sebelah kiri ada seorang sahabat yang lebih tua. Rasulullah Saw. pun bertanya pada anak itu; “Apakah kamu mengizinkn aku untuk memberi mereka ( yang tua) minuman ini terlebih dahulu? “. Sianakpun menjawab; “Tidak, demi Allah aku tidak akan memberikan hakku darimu kepada siapapun”

 

# Melatihnya Untuk Bertanggung Jawab

Memberikan suatu tugas merupakan latihan bagi anak untuk bertanggung jawab. Namun, ada hal hal yang mesti diperhatikan dalampemberian tugas tersebut. Diantaranya, memberikan tugas sesuai dengan jenis kelmin anak, memberi tugas sesuai dengan usianya, tidak memarahinya jika ia salah dalam menunaikan tugas yang diberikan. Misalnya, anak laki laki ditugaskan  bembantu ayah untuk membersihkan kebun. Sedangkan anak perempuan diberi tugas untuk membantu ibu di dapur.  Dan ibu juga harus menghindari pendelegasian tugas yang di luar kemampuan anak. Jika ia melakukan kesalahan dalam melaksanakannya, maka  hindari    diri dari mencerca dan memarahinya. Pahamkan ia dengan baik akan tugas tersebut, apalagi tugas yang baru pertama kali ia lakukan. Sebaliknya, jika sang anak  berhasil menunaikan dengan baik, maka berikanlah sebuah apresiasi dan pujian dengan tidak berlebihan yang akan menambah kepercayaan dirinya.

 

5  Memotivasi Mereka Untuk Belajar dan Mengembangkan Bakat

 

Jika kita ingin kecerdasan dan kemampuan anak berkembang, maka arahkanlah ia pada kegiatan kegiatan yang dapat melatih kemampuan mereka dalam berpikir dan berinovasi.  ( lih. 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak, hal. 141 ). Diantara kegiatan yang mendukung hal itu adalah:

 

Memfariasikan Cara Belajar

Agar belajar tidak membosankan, maka ibu mesti mampu memfariasikan cara belajar pada anak. Misalnya, belajar huruf dengan menggambar benda yang dimualai dengan huruf tersebut. Atau mengajak mereka belajar sambil bermain.

Mendukung Bakat Positif Mereka#

Jika sang anak memilki bakat yang positif, maka, dukunglah ia untuk menyalurkan bakat tersebut dan motivasi untuk mengembangkannya. oleh karna itu, ibu mestilah peka terhadap perkembangan dan bakat yang dimiliki oleh anak. Misalnya, jika anak memiliki kecenderungan untuk menulis, maka belikanlah ia alat tulis yang bagus. Dan rahkan mereka untuk menulis hal hal yang positif.

# Berikan Pujian dan Jangan Membandingkan Bandingkan Kemampuan Anak

Jangan sungkan untuk memberikan pujian dan hargailah jika anak berhasil dalam belajar walaupun sekecil apapun keberhasilan itu. Hindari kata kata yang meremehkan. Contohnya, jika anak memberi tahu bahwa ia berasil mendapatkan nilai delapan dalam pelajaran matematika, maka janganlah sorang ibu berkata : “hanya dengan mendapat nilai segitu kamu sangat bergembira?!  Sedangkan ibu waktu seusiamu selalu mendapatkan nilai 10 dalam mata pelajaran ini.”

 

4 fase remaja

Masa remaja adalah masa dimana anak akan menuju ke fase selanjutnya yaitu dewasa. Seorang pakar psikologi, Lily H. Setiono mengatakan dalam  sebuah artikel yang ditulisnya bahwa masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia  yang mana batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja. Karena usia pibertas yang dahulunya terjadi pada usia 15-18 tahun, kini bisa terjadi pada usia 11 tahun. Anak yang berusia 10 tahunpun mungkin saja mengalami masa pubertas pada masa ini. Namun, bukan berarti ia telah memasuki usia remaja dan telah siap untuk siap menghadapi dunia dewasa.

Dalam usia remaja ini, anak mulai mengalami perubahan baik dari segi biologis maupun psikologis. Adapun perubahan pada dimensi biologis yang sekaligus menjadi tanda memasuki usia baligh ini seperti  datangnya menstruasi bagi anak perempuan, berkembangnya hormon reproduksi yang mana mulai mempersiapkan tubuh remaja untuk mengalami masa reproduksi tersebut. Adapun bagi anak laki laki, masa remaja dimulai dengan perubahan suara, fisik yang berkembang drastis.

Sedangkan perubahan pada dimensi psikologis,  masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak dan mulai memiliki rasa ketertarikan pada lawan jenis. Pada masa ini suasana hati bisa berubah dengan cepat. Disaat ini pula remaja mulai mencari sebuah jawaban dari pertanyaan  ” Siapakah diri saya sebenarnya?”. Pada masa labil inilah peran seorang ibu sangat diperlukan untuk terus megarahkan mereka dan mengingatkan jati diri mereka sebenarnya. Adapun tarbiyah yang dapat dilakukan oleh sang ibu adalah:

 

1. Memberikan Pengertian Terhadap Perubahan Yang Terjadi Pada Diri Mereka

Ketika memasuki masa baligh ini, hendaknya seorang ibu berbicara empat mata dengan anak bahwa pada masa ini mereka telah memasuki fase yang mana taklif mereka sebagai muslim/mah telah diperhitungkan. Karna, kadangkala anak merasa malu untuk bertanya tentang perubahan yang terjadi pada diri mereka. Maka, ibu harus menjelaskan kewajiban kewajiban agama kepada mereka seperti berhijab bagi perempuan, menjelaskan batas batas aurat bagi mereka, menjaga adab adab islami apalagi terhadap lawan jenis dan kewajiban lainnya. Tidak ada salahnya pula jika seorang ibu membagi pengalamannya ketika mengalami usia remaja ini.

 

2. Tetap Terbuka dengan Anak

Komunikasi terbuka dengan remaja ini tetaplah dijalin dengan baik. Biasanya anak usia remaja adalah anak yang plin plan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi pada dirinya. Sudah menjadi kewajiban orang tua membantu mereka untuk mengarahkan mereka sehingga mereka tidak jatuh pada hal hal yang tidak diinginkan. brbeda dengan usia kanak kanak, seorang ibu hendaknya menjauhkan sikap cenderung mendikte dan memperlakukan mereka seperti anak anak. Biarkan mereka berpikir untuk mengasah jiwa mereka untuk memasuki kedewasaan tanpa meninggalkan pengarahan tersebut.

Demikianlah fase fase yang dilalui seorang ibu dalam mendidik sang buah hati. Namun, tarbiyah ini tak dapat berlangsung dengan maksimal tanpa dukungan dari sosok yang bernama ayah. Oleh karena itu, diperlukan kekompakan dan komunikasi yang lancar antara ibu dan ayah dalam melewati tahap pendidikan ini.  Sehingga, terwujudlah tujuan dari tarbiyah itu sendiri. Wallahu a’lam bishawab.

 

Advertisements

Karma

25 November 2010 at 9:35 am | Posted in AKHLAK, Gen 6, SASTRA, UKHUWAH | Leave a comment

By: Fitri Shabrina Lc.

“Tingtong…tingtong..tingtong…” Suara-suara itu kembali memenuhi gandang telingaku. Baru saja aku mau menggamit al-Quran kesayanganku, belpun berbunyi lagi. Huuh.. bayangkan! Aku sebelumnya sudah membuka pintu dua kali berturut-turut. Masa harus aku lagi yang buka? “Nyebelin banget” gerutuku dalam hati. “Pokoknya aku gak mau buakain pintu lagii…!”  teriakku dari kamar. Ku gapai Quran biru yang dari tadi kucuekin, dan terus ku baca. “Tingtong…tingtong..tingtong…” belpun berbunyi lagi. Lalu, hening…hatiku mulai gelisah. Kenapa sih penghuni kamar-kamar sebelah gak ada yang mau bukain? Yang mau masuk juga, kenapa gak bawa kunci sih!

“Tingtong…tingtong..tingtong..” Akupun melangkah setengah hati menuju pintu. Segera kubuka, dan kulihat wajah letih menyembul di balik sana. Seburat tampang manyun plus kesal menghiasi wajah Itoh. “Pulang kuliah ya?’ Tanyaku basa basi. Kupun kembali kekamar melanjutkan kegiatanku yang hampir saja tak jadi terlaksana.

***

“Kriing..kriing..” Sekarang giliran telfon yang beraksi. Rasanya hidupku ini selalu dipenuhi suara-suara  aneh itu. Sebenarnya, kalo ada yang ngangkat sih gak masalah. Yang nyebelin itu gak ada satupun yang mau ngangkat karna semua pada sibuk di kamar masing-masing, seolah gak denger bunyi apa-apa. Tapi anehnya, pas lagi ngebet-ngebetnya ngangkap telpon, semuanya pada nyerbu bak pengungsi ngejar bantuan mie instant.

“Aku gak mau terus-terusan ngalah jadi relawan gagang telpon ama gagang pintu” kataku dalam hati sembari terus mengaduk oseng-oseng. “Kriing..kriing..kring..” Si telpon bunyi lagi setelah diam sesaat.  Sejenak ku lirik telpon yang nampaknya sudah letih menjerit melaksanakan tugasnya. Gak mau… Masa mesti aku lagi yang ngangkat? Aku jadi ingat kejadian kemarin.

Pas telpon gak ada yang ngangkat, aku buru-buru keluar kamar mandi menimbang perasaan si penelpon. Yang bikin aku sebel, si Sasa yang asyik makan disamping meja telpon. Seolah punya pertemuan penting sama sepiring nasi dan gak bisa diganggu.. “Eh.. bunyi ya..” selorohnya garing. Yang bikin aku mumet lagi, telponnya buat dia lagi. “Aduhh…Sa,tau begini mah aku gak mesti bela-belain keluar hammam” celotehku. “Maallisy deh Fi..” jawabnya singkat.

Please dong yang merasa punya kepentingan supaya peka ama tuh telpon. Kuteruskan motong-motong sabaneh. Bayangkan sodara-sodara. Padahal jarak dapur ama telpon Cuma dua langkah. Namun…”Kriing..kriing….” Akhirnya egoku mulai luluh. Siapa tau orang itu punya urusan penting” pikirku. Kupun melangkah menuju sumber suara.

Ketika jarak antara tanganku dan telpon tinggal 3 senti…”Tunggu Fi, biar aku aja yang ngangkat. Kayaknya dari Ramen deh.” Ujar Mia di pintu kamar. “Aduuh.. kok gak dari tadi neng” gerutuku. “Aku kan gak perlu perang batin gini ” sambungku dalam hati””

Beginilah nasib telpon sama bel di rumahku. Kalo salah satunya udah mulai unjuk gigi, rumah ini seolah gak ada penghuninya lagi. Semua hening…Semua pada cuek, apalagi aku. Sejak kejadian-kejadian itu aku jadi orang paling anti ngangkat telpon ama bukain pintu.  Jadi, kalo mau masuk rumah, mesti bawa kunci. Atau sebelum keluar pesen gini dulu,” Nanti bukain pintu ya…”

***

Panasnya hari ini gak seperti biasanya. Sinar raja siang yang menggarang ditambah badai pasir membuat ku sesak nafas “Buurrr…” angin  plus semburan debu menerpa tubuhku. Segera ku tempelkan sapu tangan ke mukaku untuk menyaring udara yang akan masuk keparu-paruku. Lima menitr.. sepuluh menit…tiga puluh menit.. Ahh… Sudah setengah jam lewat aku menunggu di sini. Namun bus-bus itu belum juga datang. Allah… Aku bener-benar lemas. Tenggorokan ini terasa kering, sekering kuliku yang yang terbakar matahari. Aku ingin cepat-cepat pulang, meminum sebotol air yang sudah dari tadi pagi aku dinginkan di kulkas. Kemudian merebahkan diri di kasur yang empuk sembari menikmati lembutnya hembusan kipas angin.

Akhirnya bus 939 melongok dari simpang Nurul Khitab.  ” Alhamdulillah.. busku sayangku…cintaku…akhirnya kamu datang juga” bisikku setengah meringis.  Kulambaikan tanganku , dan segera ku naik. Subhanallah… Sangat penuh dan sesak. Bak sarden teri yang ditabur bubuk merica, tubuhku pun meringkik di sela-sela himpitan ikan Salmon. Sabar… Aku harus bertahan

“Mutsallas ma”ek!” Teriakku khas dengan logat mesirku yang gak mirip-mirip amat. Aku menyerobot menyibak dempetan manusia untuk bergerak keluar.  Alhamdulillah… Aku sedikit plong. Ku paksakan langkah gontai ini menuju rumah. Perutku mulai menghentak-hentak kelaparan. Dahaga inipun begitu juga.  Sang panas dan debupun terus berlomba-lomba menerpa tubuhku. Namun tak aku hiraukan. Yang penting sampai rumah terlebih dahulu. Ku paculangkah seribu

“Satu..Dua.. Tiga sembilan…empat puluh..” Akupun telah berada di lantai dua, di depan pintu yang sudah tak sabar lagi kusibak. Kurogoh tasku mencari-cari kunci. Hah.. tak ada! Kembali kubongkar semua isi tasku. Benar-benar tak ada.. Terpaksa ku pencet bel yang selama ini tak kuhiraukan. Berkali-kali kupencet, tak kunjung ada yang menggerakkn gagang pintu di balik sana. Lima menit..sebelas menit…setengah jam. Aku tertuduk lemas. Bukankan Yuni dan Itoh udah dari jam sebelas tadi pulang? Tanyaku dalam hati. Kupun merai Hp mungilku, dan mendial “Baiti jannati”. Hasinya tetap nihil. Allah… Sepertinya ini karma” bisikku. Akupun lunglai di depan pintu

kasih tiada batas

25 October 2010 at 11:22 am | Posted in Gen 6, KELUARGA, SASTRA | Leave a comment


by: Fitri Shabrina

mata nanar itu

bak bendungan yang hendak tumpah

alirkan  deras anak sungai

begitu sayu…

 

garis keras dipipimu

siratkan berjuta makna

dalam menapaki tapak demi tapak hidup

sangat pahit…

 

jemarimu yang mulai gemetaran

dengan buku yang mulai mencuat

kalahkan lapisan kulit yang kian menipis

selalu tadahkan doa-doa

mengharap pada Sang Pencipta

di sudut malam nan gelita

 

saat sang raja siang kian membakar

kau terus ayunkan cangkul tua

menanam benih-benih muda

seraya terus lantunkan do’a

demi lambung anak-anakmu yang menganga

memang,

mengharap pada manusia

selalu berbuah kecewa

 

bunda…

cita kami membuatmu berkalang duka

rentetan pinta kami membuatmu tersiksa

namun, tak ada penolakan walau sepatah kata

hanya seulas senyum yang tersungging di sudut bibirmu yang mulia

 

bunda…

betapa kami tiada berbakti

kami penuhi hidupmu dengan tuntutan tiada henti

sedangkan membalas walau setitik jasamupun tak pernah kami sanggupi

sedang kasihmu tiada berbatas lagi

 

bunda…

begitu egoisnya kami

jutaan pinta mengalir dari lidah ini

padahal,

di pengujung malam hari

kau terus memutar keras memori

siapakah yang dapat dihutangi esok pagi…?

GAGASAN MERUNUTKAN AL-QUR`AN SECARA KRONOLOGIS

18 July 2010 at 3:53 pm | Posted in Gen 6, KAJIAN, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , , , ,

Oleh: Ainul Zikra Lc

Jum`at yang cerah, permulaan musim semi 2 april 2010,  akhirnya kajian dwi mingguan terlaksana,  walaupun  kajiannya sempat mundur satu hari dari hari yang ditetapkan, tapi alhamdulillah kajian tetap berlangsung dengan khidmat. Kajian kali ini  dipresentasikan oleh Alfi Rahmi yang sedang menempuh program s1 tingkat 3 tafsir, dan Faizah Jamili lc.  Kajian yang di moderatori oleh Widya ini bertempat di rumah ummu Wafiyah di madrasah.  Kajian ini berlangsung dari pukul 11 sampai pukul 2 siang,  panasnya hari itu tidak menyurutkan semangat Al-makkiyat ikut serta dalam kajian ini,  walaupun bertempat di sutuah.

Pada kesempatan kali ini,  pemakalah memaparkan tentang jawaban dari gagasan merunutkan Al quran secara kronologis,  yang artinya mengurutkan surat-surat Al quran berdasarkan waktu turunnya dan bukan seperti susunan yang kita lihat pada saat ini. Gagasan ini di di serukan oleh seorang penulis yang bekerja di Kementerian Hukum di Mesir yang bernama Yusuf Rasyid. Dan tulisan ini di tentang dan dijawab oleh Muhammad Abdullah Darraz dalam bukunya Hashadul Qalam.

Pemakalah membagi makalah ini menjadi dua bagian pembahasan,  yang pertama : menjawab dan mendiskusikan gagasan yang di lemparkan oleh Yusuf Rasyid tersebut. Beliau melontarkan beberapa syubhat,  diantaranya beliau mengatakan bahwa susunan Al quran seperti yang ada pada saat ini sangat membingungkan dan mengganggu sistematika pemikiran dan menghilangkan manfaat dari hikmah penurunan Al quran secara berangsur angsur, oleh karena itu hendaknya menyusun Al quran berdasarkan turunnya yaitu surat makkiyah di letakkan berdampingan dengan surat makkiyah, begitu juga surat madaniyyah hendaknya diletakkan berdampingan surat madaniyyah.  Syubhat ini di jawab oleh pemakalah yang di ambil dari berbagai referensi yaitu susunan surat-surat Al quran pada saat ini adalah bersifat tawqifi yaitu datangnya dari Allah dan bukan melalui ijtihad dari sahabat,  maka susunan tersebut tidak boleh di ganggu gugat. Dan penulis itu menerima bahwa dalam satu surat saja boleh jadi mengandung ayat-ayat makkiyah sekaligus madaniyah, kenapa ia tidak bisa menerima bergandengnya dua surat yang berbeda sifatnya, padahal secara logika bergandengannya dua tubuh yang saling berbeda jauh lebih ringan daripada  terdapatnya parsial-parsial yang asing dan sangat berbeda dalam satu tubuh.

Kemudian syubhat selanjutnya yang beliau lontarkan adalah susunan sekarang ini tidak sejalan dengan hikmah tasyri`,benarkah?.

Syubhat ini juga dijawab oleh pemakalah bahwa kritikan ini hanya bersifat teoritis yang tidak memiliki dasar praktis,  dan ini juga menunjukkan bahwa pelontar syubhat lengah terhadap dua sisi pandang yang sangat berbeda. pertama: maqam tanzil dan ta`lim,  dan kedua : maqam tadwin dan tartil.  Maqam tanzil dan ta`li artinya sisi pandang yang lebih menitik beratkan pada kondisi yang mengharuskan diturunkannya wahyu guna mengajarkan manusia kepada yang benar dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.  Sementara maqam tadwin dan tartil artinya sisi pandang yang lebih menfokuskan pada masalah kodifikasi Al quran untuk di baca dan menjadi kitab yang kekal sepanjang zaman serta pegangan bagi umat  manusia sampai hari kiamat nanti.

Pembahasan yang kedua adalah apakah al quran itu besifat tawqifi atau tawfiqi?  Yang dimaksud dengan tawqifi disini adalah susunan  yang telah di tetapkan oleh Allah atau berdasarkan wahyu,  sedangkan yang dimaksud dengan tawfiqi adalah sesuatu yang di tetapkan berdasarkan ijtihad sahabat.  Disini para ulama juga berbeda pendapat dengan memegang berbagai dalil,  yang akhirnya dua pendapat ini ditarjih lagi yaitu al quran itu bersifat tawqifi.

Pemakalah mempresentasikan makalahnya yang berjudul gagasan merunutkan Al quran secara kronologis dan berjumlah 14 halaman ini selama lebih kurang dari 1 jam. Setelah itu di buka sesi tanya jawab,  yang mana peserta kajian sangat antusias dalam sesi ini sehingga hampir seluruh peserta mengajukan pertanyaan dan masukan masukan. Diantaranya ni Dwi memberi usulan untuk menambah kata: “menjawab” di judul makalah agar dipahami bahwa makalah ini bukan mendukung gagasan merunutkan Al quran secara kronologis. Dan juga makalah ini sebaiknya di bagi menjadi 3 bab yaitu,  pendahuluan,  isi, dan penutup serta beberapa masukan lainnya.

Setelah sesi tanya jawab selesai akhirnya selesai juga kajian yang ke-6 itu. Diskusi kali ini memakan waktu lebih kurang 3 jam. Di akhir acara ummu wafiyah menghidangkan kue bolu coklat special..:Subhanallah..acok acok se lah mode ko yo ummu wafi 🙂

Untuk sementara kajian Al makkiyat dicukupkan sampai disini berhubung ujian telah dekat,  selamat menempuh ujian teman-teman semua, mudah-mudahan Allah memberikan nilai yang terbaik.amin…insya Allah kajian akan dilanjutkan kembali setelah dunsanak sadonyo selesai menghadapi ujian termen 2 ini. Don`t miss it..Semangaik  taruih !!!!! 🙂

GODAAN WANITA ALIANSI SETAN

28 March 2010 at 11:16 am | Posted in AKHLAK, Gen 6, MOTIVASI | 2 Comments
Tags: , , ,

Oleh: Ainul Zikra Lc.

Kalau kita mendengar orang mengatakan bahwa wanita adalah makhluk penggoda, apa reaksi kita? Mungkin sebagian kita akan merasa jengkel mendengarnya dan mungkin juga kita menerimanya.

Memang fitnah yang terbesar setiap zaman adalah wanita, karena itulah Rasulullah berpesan benar-benar melindungi wanita. Tak hanya fitnah yang ditimbulkannya tetapi juga syahwat yang menjerumuskan manusia ke dalam kebinasaan. Rasulullah bersabda: “Berhati-hatilah dengan godaan dunia dan waspadailah rayuan wanita, sebab fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah fitnah wanita.” (HR Muslim). Mujahid juga mengatakan: “ketika wanita menghadap ke depan (datang) maka setan duduk di atas kepalanya lalu menghiasinya agi orang yang melihatya. Dan ketika wanita itu menghadap ke belakang (pergi) setan duduk di belakangnya lalu ia memperindahya bagi orang yang melihatnya. (Al-Qurtubi, al-Jami’ Li Ahkami al-Qur’an 12/227).

Jadi perntanyaan kita sekarang adalah, mengapa harus wanita yang menjadi sasaran sebagai penggoda kaum lelaki? Allah berfirman:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (Al-Quran surat Ali Imran: 14)

Dalam ayat diatas Allah menyatakan dengan jelas bahwa manusia mempunyai kecendrungan terhadap syahwat keduniawian terutama wanita. Kita lihat realitanya, serang lelaki bisa bersemangat mencari nafkah dan melakukan amal-amal baik karena wanita. Bahkan tidak sedikit yang rela melakukan pekerjaan tercela hanya demi wanita. Sungguh wanita adalah makhluk luar biasa, dari rahimnya bisa lahir manusia semulia Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan juga sehina Fir’aun la’natullah. Sebagai contoh kisah Nabi Yusuf sdan istri Aziz yang telah membuka mata kita bagaimana wanita dengan mudah mengeluarkan rayuannya, tapi dengan izin Allah, Nabi Yusuf terbebas dari godaannya karena Allah menjaga hamba-Nya yang bertaqwa.

Pada zaman sekarang ini, eksploitasi wanita dimana-mana. Mayoritas kaum wanita itu berani bersolek dan menampakkan lekuk tubuh mereka di pasar-pasar dan di jalan-jalan serta menampakkan perhiasan dan aksesorisnya.

Siapa yang Allah kehendaki terkena godaannya maka ia akan melirik wanita-wanita tersebut lantas bisa jadi timbul syahwat terlarang yang mendorongnya melakukan hal yang diharamkan. Nauzubillah Min Zalik!

Bentuk eksploitasi kaum wanita yang lain melalui film-film, foto-foto mereka di majalah, koran-koran dan sampul barang-barang tertentu. Mereka sengaja memilih wanita-wanita cantik agar menarik minat para pemuda, karena musuh-mush Islam dengan gencarnya menjadikan waita sebagai komoditas perusak moral. Seorang tokoh aliran mansoni (free mansory) berkata: “secangkir minuman keras dan seorang biduanita dapat menghancurkan ummat Muhammad dibanding kekuatan seribu tank baja, peluru kendali dan senjata kimia yang canggih. Oleh karena itu, buatlah mereka tenggelam dalam cinta materi dan syahwat.” Yang lain juga berkata: “kita harus mempergunakan wanita. Sebab setiap kali ia mengulurkan tangannya kepada kita, kita telah mendapatkan apa yang kita inginkan dan dan berhasil memporak-porandakan serdadu penolong agama Islam.”

Tidak diragukan lagi, hal itu termasuk bencana besar pada zaman sekarang ini. Allah meneguhkan hati orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh. Siapa yang mensucikan dirinya, pandangannya tidak akan tertuju pada perkara haram itu. Beruntunglah para wanita yang takut akan azab Allah dan berusaha menjaga kesucian dirinya. Begitu juga dengan para lelaki yang mampu menjaga pandangan dan syahwatnya dari hal-hal yang dilarang Allah.

Allah telah memberikan aturan jelas dalam al-Quran, yang harus dipatuhi orang-orang beriman, laki-laki maupun perempuan dalam surat An-Nisa 30-31:

30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.

31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Jadi, sebagai wanita apa yang harus kita lakukan?


Wahai Ukhti!  Allah  telah menurunkan ayat-ayat-Nya  dengan  jelas,  supaya dengan melaksanakan  tuntutan-tuntutan  syariat  engkau terpelihara  dan terucikan dari kotoran-kotoran jahiliyah. Para penyeru kebebasan berusaha keras  untuk mengembalikan  kaum wanita  ke abad  jahiliyah  dengan  bersembunyi  dibalik  cover  peradaban modernisasi dan kebebasan.  Berhati-hatilah! Wahai  Ukhti  muslimah,  janganlah engkau tertipu dengan semboyan kebebasan yang  sebenarnya  hanya  menjajakan wanita sebagai barang dagangan yang ditawarkan  kepada  siapa  yang menghendakinya.  Jagalah dirimu, perlihara harga dirimu. Jadilah umpama mutiara yang mampu menjaga kemurnian diri ketika para perempuan lain berlomba mengejar pamor demi kesenangan sesaat. Allah SWT telah mengingatkan, Dan jika  kamu menuruti  kebanyakan  orang-orang di muka bumi ini, niscaya  mereka  akan menyesatkanmu  dari  jalan Allah.  Mereka  tidak lain hanyalah mengikuti  persangkaan  belaka, dan mereka  tidak  lain hanyalah berdusta” (al-Qur’an Surat  al-An’am: 116)

Wahai  Ukhti! Engkau Janganlah mengikuti faham feminisme yang berusaha mengotak-atik  akal  manusia  dengan  mengatakan  bahwa  wanita  wanita muslimah tidak  mempunyai kebebasan karena:

1        Aurat  wanita  lebih  susah  di jaga dibanding laki-laki

2        Wanita perlu meminta  izin suaminya jika  keluar  rumah  tapi  tidak  sebaliknya

3        Wanita  persaksiannya  hanya setengah laki-laki

4        Wanita  menerima warisan  yang  kurang  dari laki-laki

5        Wanita  harus  menghadapi  kesusahan mengandung  dan mblahirkan  anak

6        Talak  terletak  di  tangan  suami  dan bukan  di tangan  istri

7        Wanita  kurang  beribadah karena haid  dan  nifas  yang  tidak dialami laki-laki

Makanya mereka  selalu  berpromosi untuk kemerdekaan wanita. Padahal sebenarnya  mereka sendirilah yang  tidak memahami bahwa  syariat  lslam  dipenuhi  dengan  hikmah dan  pengajaran. Wanita  muslimah menerima warisan  kurang  dari  laki-laki  tapi  harta  itu menjadi  milik  pribadinya  karena dia tidak berkewajiban memberi nafkah pada  suaminya,  sedangkan  laki-laki  menerima  warisan lebih banyak tapi harus menafkahi istri  dan  anak-anaknya. Wanita harus bersusah-payah mengandung dan melahirkan anak  tapi  setiap  saat  dia  didoakan oleh seluruh makhluk Allah SWT  di muka  bumi jika  melahirkan, dan posisinya sebagai ibu tiga kali lebih tinggi dari seorang ayah, bahkan surga terletak di bawah telapak kakinya.

Wahai  kaum  hawa!  Ingatlah Allah SWI  berfirman dalam Al-Quran surat Yusuf  ayat 28, bahwa  tipu daya wanita  itu adalah besar,  sedangkan  dalam  surat an-Nisa’ ayat 76 Allah  SWT menerangkan  bahwa  tipu daya  setan  adalah  lemah. Apakah engkau rela menjadi makhluk yang lebih berbahaya dibanding  setan? Na’uzubillah minzalik!

Marilah  kita introspeksi diri dalam menghadapi  kehidupan  semu yang  hanya sebentar  ini. Luruskan  lagi  niat  dan  tujuan  kita agar bisa menjadi wanita shalehah, perhiasan dunia. Wallahu  a’lam.

*Mahasiswi S2 Tafsir Univ. Al-Azhar Cairo

RIHLAH SA’IDAH KE HADIQOH

26 October 2009 at 12:16 am | Posted in Gen 6, KEGIATAN | 4 Comments
Tags:

oleh:  Fitri Sabrina*

Di hari yang cerah, tanggal 17/10 kemarin, FS Almakki kembali mengadakan rihlah untuk memperkuat ukhuwah anggota ke Hadiqoh Athfal, Maqrom ‘Abid, Nasr City. Rihlah ini sekaligus menjadi acara tasyakuran atas prestasi FS Almakki meraih Academic Award dari PPMI dan KBRI Kairo, yang menempatkan Almakki sebagai almamater terbaik bidang akademis dari seluruh mahasiswa Indonesia di Mesir. Waah… Alfu mabruk ya bagi semua anggota Almakki… Semoga penghargaan yang telah diraih dua tahun berturut-turut ini dapat terus dipertahankan…amin..

Kenapa Almakki lagi-lagi menjatuhkan pilihan ke Hadiqoh Athfal untuk rihlah tahun ini? Memang pada rapat sebelumnya Almakki mempunyai 2 tawaran lokasi yaitu Qonatir dan Ismailiyah. Namun, karna berbagai pertimbangan, akhirnya pengurus Almakki menetapkan ke Hadiqoh Athfal yang memang pada beberapa tahun terakhir sudah menjadi langganan tempat rekreasi anggota Almakki. Masalah tempat ini juga sempat jadi pro-kontra bagi Almakkiyat. IMG_4476Sempat terlontar komen “Kok Almakki rihlahnyo ka hadiqoh se taruih?” tapi pas hari H rame juga Almakkiyat yang dengan penuh semangat dan keceriaan melangkahkan kaki ke taman kanak-kanak ini.

Sebenarnya acara dijadwalkan jam 9 pagi WK. Tapi gara-gara kelalaian anggota dan panitia yang masih melestarikan budaya ngaret, akhirnya acara baru dimulai ba’da Zuhur. hehehe..

IMG_4479 Acara pertama dimulai dengan pembukaan kemudian dilanjutkan dengan cerdas-cermat. Seluruh anggota Almakki dibagi menjadi 4 kelompok, 3 kelompok ikhwah dan 1 kelompok akhwat yang menamakan diri kelompok “Ain Syam”. CC berlangsung seru abis, meskipun dari sekian pertanyaan hanya 5 yang bisa dijawab “Ain Syam” dengan benar. Maklum..masih pemanasan hihihi

Tapi pada babak rebutan, ternyata “Ain Syam” malah lebih banyak mengheningkan cipta dan diam beribu bahasa. Entah karna “Ain Syams” emang pada kalem-kalem ato karna bener-bener gak tau jawabannya.. heheheh.. bahkan seringkali anggota “Ain Syams” rapat dulu untuk meyakinkan jawaban, lupa kalo kali ini adalah babak rebutan, sehingga selalu keduluan sama kelompok lain. Hingga CC berakhir, kelompok Ain Syams tetap istiqamah dengan nilai 500-nya. ‘Ala kulli hal, Bravo “Ain syam”! tetep salute atas semangat dan keberaniannya.

IMG_4500Setelah CC, Almakki memulai acara inti yang paling dinanti: permainan kayak masa kecil dulu! Bukan karna masa kecil kurang bahagia nih, tapi karna saking bahagianya, jadi pengen mengulang kembali kenangan-kenangan manis itu di bumi kinanah ini…ceilee… Yang ikhwah mulai “mengkapling” tempat untuk acara mereka sedangkan Almakkiyat dipandu oleh kak Ikhlas (gen 14) memposisikan diri  di lapangan yang berbeda. Jenis permainan kali ini adalah cari petunjuk dari kertas yang disembunyikan di lapangan secara berurutan. Setiap kelompok diberi hadiah 3 “ekor calon bayi ayam” yang direbus. Tragis…IMG_4556

Setelah puas dengan serangkaian permainan seru, acara dilanjutkan dengan makan siang bareng dengan menu spesial ikan goreng balado ala Almakki. Anggota Almakkiyat menyantap dengan lahap… begitu nikmat, yang gak datang, asli rugi banget deh

Azan Ashar berkumandang, para anggota menunaikan sholat di mesjid dekat pintu masuk hadiqoh. Selanjutnya Almakkiyat menggelar permainan balon dan tebak orang. Heboh banget lho! Dalam permainan ini, perhatian terhadap ciri-ciri fisik anggota lain diuji agar bisa menebak walaupun tanpa melihat.IMG_4521

Di penghujung sore, seluruh anggota Almakki kembali berkumpul untuk penutupan acara plus pembagian hadiah. Almakkiyat diberi hadiah spesial buat rame-rame, karna Almakkiyat nggak mendata pemenang lomba dan nggak membagi kelompok dalam permainan. Tapi semuanya tetap have fun aja.

Senja terus merangkak, hingga akhirnya Maghrib pun tiba. Setelah shalat maghrib, seluruh anggota Almakki bersayonara dengan tempat legendaris ini. Kebersamaan yang begitu indah telah menyejukkan kembali jiwa-jiwa yang gersang dan membakar semangat untuk menghadapi perkuliahan term I yang sebentar lagi menjelang. Sebagian anggota Almakki ziarah dulu ke rumah ustadz Akmal Syafar (Gen 4) yang mengalami musibah kecelakaan, sedangkan Almakkiyat segera pulang ke kediaman masing-masing dengan hati riang. Meski masih menyimpan sebuah harapan, semoga gak ke Hadiqoh lagi rihlah tahun depan…:)

* lulusan S1 Tafsir al-Azhar – Gen 6 MAKN Putri

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.