KELUARGA BERENCANA DALAM ANALISA SYARI’AT (2/2)

31 December 2009 at 11:33 pm | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 3 | 1 Comment
Tags: , , ,

IV. Dampak Negatif Tahdid Al-Nasl


Diantara dampak negatif yang ditimbulkan terhadap program KB yang berujung  pada pembatasan keturunan adalah:

  1. Pelanggaran terhadap syari’at Islam. Karena program pembatasan kelahiran telah dijadikan program global dunia, maka terdapat penyebaran alat-alat kontrasepsi yang membludak dan kemudahan untuk mendapatkannya memancing masyarakat untuk tidak mau dibebani tanggung jawab keturunan.
  2. Timbulnya keinginan untuk menggunakan alat-alat kontrasepsi untuk merealisasikan keinginan yang salah (perzinaan) dengan aman.
  3. Timbulnya penyakit menular seperti penyakit kelamin dan AIDS karena perzinaan merajalela.
  4. Karena pengunaan alat kontrasepsi yang tersembunyi dan aman dari akibat kehamilan, maka mengakibatkan hilangnya rasa malu, krisis moral, rusaknya nasab dan keretakan hubungan keluarga.
  5. Terputusnya regenerasi yang mengakibatkan minimnya tenaga kerja produktif dan melemahnya dakwah akibat kurangnya pejuang pembela agama dan umat.
  6. Pengaruh negatif alat-alat kontrasepsi tehadap tubuh. Penelitian medis membuktikan bahwa alat kontrasespsi yang tidak cocok dapat merusak keseimbangan hormon-hormon dalam tubuh, kanker rahim, melemahkan daya ingat dan lumpuh kedua kaki dan tangan.[1]
  7. Untuk mencapai target yang diinginkan dalam program global pembatasan kelahiran, membutuhkan biaya yang diambil dari kas suatu bangsa secara besar-besaran. Akhirnya terdapat penggunaan dana pada jalan yang salah. Akan lebih baik jika dana itu digunakan untuk pertumbuhan ekonomi demi kemakmuran bangsa (Majma’ Fiqh Islami di Makkah Mukarramah).[2]

V. Hukum Man’u’l Haml (pemandulan selamanya) /Vasektomi dan Tubektomi

Sterilisasi (Man’u’l Haml/pemandulan selamanya) adalah salah satu program KB yang dikampanyekan pemerintah Indonesia saat ini. Dalam istilah medis, sterilisasi dikenal dengan nama Tubektomi dan Vasektomi.

Prof.Dr.H. Masjfuk Zuhdi dalam bukunya: Masa’il Fiqhiyyah menerangkan tentang sterilisasi sebagai berikut:

1.Tubektomi

– Tubektomi adalah: Operasi ringan dan cepat yang dilakukan pada perempuan (tubal ligation) agar steril dan tidak mampu lagi memproduksi anak dengan arti bahwa kemungkinan kehamilan sudah hampir nol.

– Caranya adalah: dibuat dua irisan kecil di bawah bagian perut perempuan kemudian memotong saluran sel telur (tuba paluppi) dan menutup kedua-duanya sehingga sel telur tidak dapat  keluar dan sel sperma tidak dapat pula masuk bertemu dengan sel telur, sehingga tidak terjadi kehamilan.

– Durasi waktu yang dibutuhkan untuk tubektomi adalah: kira-kira 30 menit.

2. Vasektomi

– Adalah operasi sederhana pada laki-laki untuk mensterilkan sehingga tidak bisa lagi membuahi untuk menghasilkan anak.

– Caranya: memotong saluran mani (vas deverens) kemudian kedua ujungnya diikat, sehingga sperma tidak dapat mengalir keluar penis (urethra)

– Durasi waktu yang dibutuhkan: Hanya beberapa menit saja. Cendrung lebih cepat dibanding tubektomi.[3] (situs BKKBN online.com, edisi Selasa, 3 oktober 2006))

Sterilisasi baik vasektomi maupun tubektomi sama dengan abortus, yang mana hal ini berakibat kemandulan. Karena itu ,International Planned Parenthood Federation (IPPF) tidak menganjurkan kepada negara-negara anggotanya termasuk Indonesia untuk melaksanakan sterilisasi sebagai alat kontrasepsi.

Hasil Ijtihad para ulama Islam tentang hukum vasektomi dan tubektomi:

  1. Keputusan Majma’ Fiqh Islami di Kuwait tanggal 5/9/1988 menyebutkan: diharamkan untuk memutuskan kemampuan mempunyai anak bagi laki-laki dan perempuan  yang dikenal dengan pemandulan (vasektomi dan tubektomi) tanpa adanya alasan yang dibenarkan syari’at.
  2. Keputusan Majma’ Fiqh Islami di Makkah Mukarramah menyebutkan: Tidak dibolehkan pemutusan kehamilan selamanya (pemandulan) tanpa adanya alasan yang darurat secara syar’i. Yaitu apabila membahayakan hidupnya karena suatu penyakit, maka jika pemandulan adalah cara untuk menyelamatkan hidup si perempuan dari kematian maka itu dibolehkan.

Pada dasarnya, hukum sterilisasi vasektomi dan tubektomi dalam Islam adalah haram dengan beberapa sebab:

1.Sterilisasi  (vasektomi/tubektomi) berakibat pemandulan. Hal ini bertentangan dengan tujuan pokok perkawinan dalam Islam yaitu perkawinan selain bertujuan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat juga untuk mendapatkan keturunan yang sah.

2. Mengubah ciptaan Tuhan dengan jalan memotong dan menghilangkan sebagaian anggota tubuh yang sehat dan berfungsi).

3. Melihar aurat besar orang lain.

Namun apabila suami istri dalam keadaan terpaksa ( darurat/emergency) seperti terancamnya jiwa si ibu apabila ia mengandung maka hal itu dibolehkan. Hal ini berdasarkan kaidah hukum Islam: Keadaan darurat itu membolehkan hal hal yang dilarang.[4]

V1. Tanzhim Al-Nasl (Pengaturan Kelahiran)/ KB yang Dibolehkan Islam

Dalil-dalil syariat yang menunjukkan kebolehan pengaturan kelahiran antara lain:

1.QS: Al Baqarah: 233

Para ibu hendaklah menyusui anaknya selama dua tahun  yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya.”

Rahasia ayat: menunjukkan adanya hak seorang anak untuk menerima pasokan gizi yang cukup (ASI) sehingga si anak terhindar dari keterlantaran jasmani)

2. QS: Luqman: 14

Dan kami amanatkan kepada maunsia untuk berbuat baik terhadap kedua orang tuanya. Ibunya yang telah mengandungnya dan menyapihnya selama dua tahun.”

3.QS: Al Ahqaf:15

Mengandung sampai menyapihnya adalah 30 bulan.”

Imam Qurthubi di dalam tafsirnya mengatakan bahwa: jika hamilnya 6 bulan maka masa menyusuinya adalah 24 bulan, jika hamilnya 7 bulan maka masa menyusuinya  adalah 23 bulan, jika hamilnya 8 bulan maka masa menyusuinya adalah 22 bulan dan seterusnya…

Ayat-ayat diatas mengandung beberapa hikmah:

  • Terpeliharanya kesehatan ibu dan anak
  • Terjaminnya keselamatan jiwa ibu karena beban jasmani dan rohani selama hamil
  • Terjaminnya kesehatan jiwa si anak dan tersedianya pendidikan yang cukup baginya
  • Terjaminnya keselamatan agama orang tua yang dibebani kewajiban mencukupkan kebutuhan keluarga.[5]

Hasil ijtihad ulama tentang Tanzhim Al-Nasl:

1. Dr. Yusuf Qaradhawi dalam bukunya menjelaskan: pengaturan kelahiran adalah dibolehkan jika terdapat sebab-sebab yang membolehkannya yaitu:

a. Khawatir terhadap kehidupan dan kesehatan ibu apabila hamil atau melahirkan,setelah dilakukan suatu pemeriksaan medis oleh dokter yang terpercaya.

Dengan dalil:

–                “Janganlah engkau menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan” (QS:Al Baqarah: 195)

–                “Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri.Sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadap kamu sekalian.” (Qs:An Nisa’:29)

b. Khawatir terjadinya bahaya pada urusan dunia yang kadang-kadang bisa mempersukar urusan agama (ibadah) sehingga menyebabkan orang mau menerima barang yang haram dan mengerjakan yang terlarang justru untuk kepentingan anak-anaknya.

Dengan dalil:

–  “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran untukmu.” (QS: Al Baqarah:185)

– “Allah tidak menginginkan untuk menjadikan kamu teraniaya (menderita)” (Qs: Al Maidah:6)

c.Khawatir akan nasib anak, membahayakan kesehatan dan pendidikannya.

Dengan dalil: “Sungguh saya bermaksud melarang ghilah (bersetubuh dengan perempuan yang menyusui karena itu dapat merusak air susu dan melemahkan anak),kemudian saya melihat orang-orang Persi dan Rum melakukannya, ternyata tidak membayakan kepada anak-anak mereka.”

  1. Khawatir terhadap kondisi kesehatan wanita yang masih menyusui jika dia hamil kembali dalam masa menyusui tersebut.[6]

2. Syeih ‘Athiyyah Shaqr menjelaskan dalam bukunya, bahwa kebolehan Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran)sama dengan kebolehan ‘Azl (senggama terputus) dengan alasan:

– Jika dimaksudkan untuk menjaga kondisi kecantikan seorang wanita untuk menyenangkan suaminya maka tidak ada larangan padanya.

– Khawatir akan memperbanyak penderitaan dengan banyaknya anak dan mempersempit usaha untuk mememuhi kebutuhan hidup maka ‘Azl dibolehkan.

Syeikh ‘Athiyyah Shaqr menambahkan: Adapun hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa beliau SAW akan bangga dengan banyaknya umat Islam pada hari kiamat bukan dimaksudkan dengan generasi yang lemah. Namun yang dimaksudkan disana adalah generasi  yang kuat dan berkualitas dalam artian bahwa Islam menyukai generasi yang sholeh akal dan akhlaknya serta kuat badannya sehingga mempunyai kesanggupan memikul amanah.[7]

3. Syeikh Utsaimin dalam fatwanya menjelaskan: Dibolehkan bagi seorang wanita untuk tidak hamil dalam waktu yang temporal sesuai dengan kebutuhan si wanita untuk memulihkan kembali jasmaninya yang melemah dalam masa satu atau dua tahun.

4. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengatakan: Apabila seorang wanita mempunyai suatu penyakit di rahimnya atau ia sudah mempunyai begitu banyak anak dan memberatkan untuknya hamil kembali, maka dibolehkan baginya menangguhkan kehamilan kembali dalam masa satu atau dua tahun dengan menggunakan obat-obatan. Ataupun dibolehkan baginya menangguhkan kehamilan apabila ada rekomendasi dari dokter yang berwewenang.

5. Dikutip dari pendapat buya Hamka di dalam tafsir Al Azharnya mengatakan: “Bahkan banyak ibu subur yang melahirkan anak tahun ini, melahirkan pula tahun depan, kemudian melahirkan yang satu lagi dan menyusui pula sesudah itu, sehingga tahun ini beranak, tahun depan menyusui. Lama-lama anak kian banyak dan badan kian lama kian lemah…”

V1. Penutup

Dari uraian diatas akhirnya penulis menyimpulkan:

  1. Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran) adalah tidak dibenarkan dalam Islam secara mutlak. Namun Islam memberikan rukhsah (keringanan) kepada umatnya untuk mengatur jarak kelahiran (Tanzhim Al-Nasl)
  2. Pemutusan kehamilan secara mutlak (man’u Al-Haml)/ pemandulan selamanya (vasektomi atau tubektomi) tidak dibolehkan dalam Islam kecuali dalam kondisi yang darurat atau alasan yang dibenarkan syar’i seperti seorang wanita yang mempunyai penyakit di rahimnya dan pemandulan adalah satu-satunya cara. Namun apabila masih ada alternatif pengobatan lain maka vasektomi dan tubektomi diharamkan.
  3. Penggunaan metode vasektomi dan tubektomi dalam program KB pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) adalah diharamkan.
  4. Batas waktu dibolehkannya Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) tergantung pada kesepakatan pasangan suami istri  menilik pada kemaslahan bersama.
  5. Pemakaian berbagai jenis alat kontrasepsi seperti  kondom, pil, suntik dan spiral  dalam Tanzhim Al-Nasl adalah dibolehkan selama alat-alat tersebut tidak mengandung zat-zat yang diharamkan secara syariat.
  6. Menempuh metode alami seperti senggama terputus (‘Azl/ mengeluarkan sperma di luar rahim) dalam Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) adalah dibolehkan karena itu termasuk cara yang ditempuh pada masa  Rasulullah.

Dengan dalil: “Dari Jabir RA: kami melakukan ‘Azl/senggama terputus pada masa Rasulullah sedang Al-Qur’an masih turun.” (HR. Muslim)[8]

  1. Jika vasektomi dan tubektomi tidak dibolehkan dalam program KB pembatasan kelahiran maka lebih tidak dibolehkan lagi penggunaan metode vasektomi dan tubektomi dalam Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran).
  2. Sengaja penulis tidak membahas tentang alat kontrasespi yang beragam karena kecocokan atau tidaknya suatu alat kontrasespi dalam Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing individu. Karena siklus kesehatan individu sangat relatif. Maka untuk memilih alat kontrasepsi yang aman dan cocok untuk kondisi kesehatan si pemakai,  tergantung pada konsultasi dokter yang berwewenang.

Wa’lLahu A’lam Bi al-Shawab.

V11. Daftar Pustaka

–                Athiyyah Shaqr, Tarbiyyatul Aulad fil Islam, Cairo: Maktabah Wahbah, 2003 M/1424 H, cet.1.

–                Fatawa Mar’ah at-Tibbiyah.

–                Masjfuk Zuhdi, Masa’il Fiqhiyyah, Jakarta: Gunung Agung, 1996, cet. Ke 9.

–                Muhammad Shafwat Nuruddin, Fathu’l Karim bi Ahkâmi’l Hâmil wa al-Janîn, Kairo: Dâr al-Jauziy, 2006, cet. I.

–                Yususf Qaradhawi, Al-Halal wal Haram Fil Islam, Cairo: Maktabah Wahbah, 2002 M/1423 H, cetakan ke 27.

–                BKKBN online

–                Hidayatullah.com

–                Wikipedia


[1] Tahdid Al-Nasl dalam Wekepedia, Mausu’ah Hurrah

[2] Muhammad Shafwat Nuruddin, Op.cit,  hal 142

[3] Prof. Dr.H. Masjfuk Zuhdi, Op.cit,  hal 67-68.

[4] Ibid, hal 68-69.

[5] Ibid, hal58-60.

[6] Yusuf Qaradhawi, Al Halal wal Haram Fil Islam, Cairo: maktabah Wahbah., 2002 M/1423 H) cet.27 hal.176-177.

[7] ‘Athiyyah Shaqr , Op.cit, hal 69-72.

[8] ‘Athiyyah Shaqr, Op.cit, hal.57, Yusuf Qaradhawi, Op.cit, hal 175.

Advertisements

KELUARGA BERENCANA DALAM ANALISA SYARI’AT (1/2)

31 December 2009 at 11:05 pm | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 3, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , ,

Oleh: Mike Putri Rahayu[1]

  1. I. Pendahuluan

Kilas Balik Program  KB (Keluarga Berencana).

Ada banyak wacana yang beredar hingga kini sejak program KB digulirkan tanggal 29 juni 1970.  Gagasan yang diusung pemerintah Indonesia sejak beberapa tahun lalu ini ternyata tidak selalu menuju ke satu titik persamaan. BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) yang berada di bawah Kementrian Kesehatan gencar mempromosikan pendidikan KB secara maksimal dengan maksud dapat menjangkau semua lapisan masyarakat baik yang tinggal di pojok perkotaan atau pun di pelosok pedalaman. Namun seiring berjalannya waktu, kian melebarlah pandangan berbagai pihak tentang program KB. Lahirlah versi-versi tersendiri dalam mengartikan program ini. Sehingga setiap hal yang berhubungan dengan KB tidak lagi  hanya disandarkan kepada opini  BKKBN semata.

Di awal masa kemunculannya, masyarakat Indonesia mengenal KB sebagai sesuatu yang benar-benar masih baru. Sehingga ketika bermunculan iklan-iklan dengan slogan Keluarga Berencana Keluarga Bahagia, semua dianggap wajar. Namun ketika penawaran itu mulai terkesan sporadis, diperkuat dengan keluarnya Undang-undang no.10 tahun 1992 tentang Perkembangan kependudukan dan Pembentukan Keluarga Sejahtera – keluarga bahagia cukup dengan dua anak saja – maka reaksi pun bermunculan dimana-mana. Sebagian pihak akhirnya menolak mati-matian bahkan mengharamkan KB bagaimanapun bentuknya. Sebagian yang lain mencari jalan tengah dengan memilah dan memilih manfaat dan mudharatnya untuk kemanusiaan.

Di tahun 2007, ketika program KB makin meredup tergilas situasi politik dalam negeri, pemerintah beniat kembali menggalakkan program KB yang sempat mati suri beberapa saat itu. Kecaman pun lagi-lagi berdatangan karena jika pemerintah merealisasikan KB menjadi peraturan resmi maka akan menjebak pemerintah ke dalam pelanggaran HAM!

Apa yang sesungguhnya terjadi? Untuk mengetahui akar permasalahan ini lebih lanjut, kita perlu mencermati hal-hal yang berkaitan dengan KB itu sendiri seperti: pengertian KB dan hukum KB dalam tinjauan syari’at  Islam, agar kita sebagai umat terdidik tidak terjebak ke dalam pragmatisasi dan justifikasi yang salah kaprah.

II. KB dalam berbagai persepsi

  1. KB Berdasarkan Teori Populasi Thomas Robert Malthus.

Thomas Robert Malthus merupakan orang yang pertama kali di Eropa yang menyerukan  program pembatasan kelahiran untuk mengurangi jumlah pertumbuhan manusia.[2]

Dapat dipahami sebagai sebuah program nasional yang dicanangkan untuk mengurangi pertumbuhan populasi penduduk karena diasumsikan pertumbuhan populasi penduduk tidak seimbang dengan ketersediaaan barang dan jasa.[3]

Dari teori populasi ini, lahirlah istilah birth control (pembatasan kelahiran). Sedangkan istilah Birth Control itu sendiri mempunyai konotasi yang negatif karena bisa mencakup sterilisasi, aborsi dan penundaan kawin sampai usai lanjut sebagaimana yang disarankan oleh Malthus (1766-1834) untuk mengatasi fertility of men (kesuburan manusia) dan fertility of soil (kesuburan tanah) yang tidak seimbang sebagai deret ukur berbanding dengan deret hitung.[4]

  1. KB Menurut Pandangan Gereja Katholik.

Di dalam buku berjudul: Membangun keluarga Sejahtera dan Bertanggung Jawab Berdasarkan perspektif Agama Katholik, karangan Romo Jeremias Balapito Duan MSF disebutkan :

–                Gereja Katholik memandang bahwa pelaksanaan pengaturan kelahiran harus memperhatikan harkat dan martabat manusia serta mengindahkan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang berlaku

–                Di dalam sabda Ensilik 10 dan Konsili, umat Katholik mempunyai tugas mengatur kelahiran untuk membangun kesejahteraan keluarga. Namun bukan orang lain atau negara yang boleh menentukan jumlah anak. Cara-cara mengatur kelahiran harus diputuskan oleh suami istri secara bersama.[5]

  1. KB dalam pandangan Islam

Di dalam Islam, terdapat tiga hal yang berkaitan dengan KB:

1. Man’u’l Haml (Pemutusan kehamilan)

Yaitu Menggunakan sarana atau cara-cara yang dapat mencegah seorang wanita dari kehamilan selamanya baik itu dengan cara alamiah (‘azl/senggama terputus), atau dengan bantuan alat tertentu yang dipasang di faraj/kemaluan.dll.

2. Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran)

Yaitu menghentikan proses kelahiran secara mutlak dengan membatasi jumlah anak. Dapat dilakukan dengan alamiah atau menggunakan alat-alat kontrasepsi yang beragam.

3. Tanzhim Al-Nasl (pengaturan atau penjarangan kelahiran)

Yaitu Menggunakan sarana-sarana atau metode-metode yang dapat mencegah kehamilan dalam masa yang temporal/berkala/sementara dan tidak dimaksudkan untuk pemutusan keturunan selamanya. Tetapi dilakukan untuk tujuan kemaslahatan yang disepakati oleh suami istri.

Adapun perbedaan dari masing-masing hal di atas adalah:

–                Man’ul Haml (pemutusan kehamilan) bertujuan untuk tidak mempunyai keturunan selamanya. Baik itu dengan menggunakan perantaraan obat-obatan untuk pemandulan ataupun tidak.

–                Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran) bertujuan untuk membatasi jumlah keturunan sampai beberapa orang anak saja. Diikuti dengan pemutusan kehamilan secara mutlak baik itu dengan perantaraan obat-obatan ataupun tidak.

–                Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan seorang wanita dengan melakukan penghentian kehamilan untuk waktu berkala saja. Baik itu dengan perantaraaan obat-obatan ataupun tidak. Sehingga si wanita mempunyai kesiapan yang cukup untuk melakukan reproduksi selanjutnya. Yang membedakan hal ini dengan hal diatas adalah tidak adanya pemutusan kehamilan secara mutlak.[6]

III. Hukum Pembatasan Kelahiran (Tahdid Al-Nasl)

Islam adalah agama penuh rahmat. Islam sangat peduli dengan kondisi sosial manusia. Begitu pun dalam masalah yang berkaitan dengan keturunan. Islam memberikan hak-hak mutlak untuk setiap manusia dalam memiliki keturunan. Namun Islam juga tidak ingin manusia tersiksa dan terbebani karena keturunannya. Walaupun begitu, Islam tak menghendaki sebuah pemusnahan. Pemusnahan keturunan adalah tindakan tercela yang nyata-nyata dikutuk oleh agama apapun di atas muka bumi ini. Karena itu berarti pembunuhan hak-hak hidup terhadap makhluk yang utuh dan berakal.

Maka, apabila istilah KB diidentikkan sebagai program pengurangan, pembatasan apalagi menghambat            pertumbuhan populasi penduduk, hal ini sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip aqidah Islam yang syumul (sempurna). Karena pada dasarnya, Islam sangat sempurna dalam mengurus hidup pemeluk-pemeluknya. Itu berarti Yang Maha Pencipta sangat teliti dalam mengurus seluruh keperluan makhluk yang diciptakanNya. Manusia telah diberikan jaminan hidup oleh Allah bahkan jauh sebelum seorang manusia dilahirkan. Mustahil jika Allah menciptakan seorang hamba tanpa memberikan bekal penghidupan untuk hamba tersebut.

Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allah lah yang memberikan rizkinya.” (Qs:Hud:11)

Terdapat sebab-sebab keliru yang dilangsir sebagai alasan konkrit dilakukannya Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran):

  1. Populasi penduduk yang semakin meningkat

Adanya anggapan bahwa populasi penduduk yang tidak terkendali akan menyebabkan kurangnya daya suatu negara dalam penyediaan barang dan jasa.

  1. Kesulitan merawat anak dan mendidiknya

Adanya opini yang dikembangkan oleh pihak-pihak yang mendukung pembatasan kelahiran bahwa kesulitan merawat anak dan mendidiknya tidak akan terjadi jika dilakukan pembatasan kelahiran secara kontinyu dan teratur oleh semua lapisan penduduk.

  1. Mengangkat kesejahteraan keluarga

Adanya hitung-hitungan materi dengan semakin banyaknya jumlah kepala dalam satu keluarga menuntut penyediaan materi yang lebih banyak pula untuk memenuhi kebutuhan. Disini terdapat pembatasan materi dalam pemahaman yang lux. Materi tidak lagi dipahami dalam kerangka primer.

  1. Kelalaian perempuan akan fitrahnya

Dengan alasan untuk aktualisasi dan pengembangan diri, banyak wanita yang terjebak pada stigma kerepotan mengurus anak, bahkan enggan untuk menyusui sehingga mereka lebih memilih langkah pembatasan kelahiran untuk penyeimbangan karir.[7]

Jika kita telisik kembali teori populasi yang digagas Robert Malthus, maka kita akan temukan beberapa kekeliruan yang mendasar diantaranya:

  1. Tidak adanya kesesuaian antara teori dan fakta dunia

Dari segi tinjauan fakta, teori Robert Malthus tidak sesuai dengan realitas yang ada. Menurut penelitian FAO (Food And Agriculture Organization) di tahun 1990, produksi pangan dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk dunia karena mengalami surplus 10 % pangan.

Jika kita analogikan secara akal, mustahil manusia sebagai makhluk yang berakal tidak menemukan cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan segala sarana dan prasarana bertebaran dimana-mana. Jika manusia bisa maju dengan laju teknologi, mustahil manusia tidak bisa maju untuk sekedar memenuhi kebutuhan primer dalam hidupnya.

  1. Teori populasi adalah produk ekonomi kapitalis.

Menurut Rudolf H. Strahm bahwa terjadinya kemiskinan di dunia ketiga adalah akal-akalan negara kapitalis. Ketidakcukupan barang dan jasa sesungguhnya bukan disebabkan padatnya populasi penduduk dunia, tetapi karena ada pendiskriminasian (ketidakseimbangan) dalam distribusi barang dan jasa. Sebanyak 80 % barang dan jasa dunia hanya berporos pada kepentingan kapitalis dalam artian dinikmati hanya oleh negara kapitalis yang hanya berpenduduk 25 % dari penduduk dunia.[8]

Secara syari’at, pengharaman pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) didasarkan pada beberapa pondasi hukum:

  1. Al-Quran

–                Qs: Al Isra’: 31

Janganlah Engkau membunuh anak-anakmu karena takut jatuh miskin. Kamilah yang memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah kesalahan yang besar.”

– Qs. Al An’am: 151

Janganlah engkau membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rizki untukmu dan untuk mereka.”

Dari dua ayat diatas dapat ditarik beberapa pemahaman Qiyas:

1. Sesungguhnya pemberian rezki oleh Allah swt berbanding lurus dengan adanya keturunan. Karena Allah tidak menciptakan seorang makhluk tanpa menciptakan rezki untuknya.

2. Rezki yang diberikan Allah adalah rezki inti untuk menopang kehidupan sesorang di muka bumi. Bukan rezki dalam artian rumah yang mewah dan harta benda berlimpah karena semua itu adalah kebatilan yang dihembuskan syetan ke dalam dada manusia.

3. Dengan bertambahnya anak yang lahir ke dunia, maka secara tidak langsung bertambah pula aset dunia untuk memperoleh kemajuan. Karena peradaban dan kemajuan merupakan bagian dari andil tangan-tangan trampil manusia.[9]

  1. Hadis Rasulullah.

–                HR. Abu daud:

Nikahilah perempuan-perempuan yang penyayang dan peranak (sanggup melahirkan anak yang banyak.”

–                HR. Imam Ahmad:

Sesungguhnya aku akan bangga karena umatku yang terbanyak pada hari kiamat.

Rahasia hadis:

1. Dua hadis diatas secara tidak langsung melarang kita untuk membatasi kelahiran atau jumlah keturunan. Malah Rasul saw menganjurkan umatnya untuk menikahi perempuan yang peranak untuk menambah jumlah umat dan memperkuat barisan kaum muslimin di jagad ini.

2. Dengan banyaknya keturunan berarti mendatangkan manfaat untuk alam semesta. Sebab keberadaan manusia berarti menambah jumlah tenaga kerja& kekuatan dalam masyarakat untuk memakmurkan alam.

3. Pemikiran pembatasan kelahiran adalah pemikiran yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam untuk mengurangi jumlah generasi penerus Islam sehingga akhirnya Islam melemah dengan sedikitnya individu.[10]

  1. Fatwa-fatwa Pendukung/ Ijma’ Ulama.

Di sebuah konferensi pertemuan Ulama kerajaaan Saudi Arabia yang berlangsung pada pertengahan rabi’ul Akhir tahun 1397 H  diputuskan beberapa hal berikut:

Memandang : bahwa syari’at Islam menganjurkan untuk memperbanyak keturunan, karena keturunan adalah nikmat dan pertolongan terbesar dari Allah untuk hambaNya dengan dilandasi nash syari’at yang sah yaitu Alqur an dan sunnah Rasulullah,

Memandang: pemikiran pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) adalah pemikiran yang bertentangan dengan fitrah manusia sebagai makhluk Allah yang suci,

Memandang: bahwa seruan pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) dan pemutusan kehamilan secara mutlak (Man’ul Haml)adalah untuk menghancurkan pondasi Islam secara umum dan bangsa arab secara khusus sehingga tidak ada kemampuan untuk mereka memabangun bangsa dan negaranya,

Maka masjlis memutuskan bahwa:

*Pembatasan keturunan adalah mutlak tidak dibolehkan.

*Tidak dibolehkan pencegahan kehamilan (Man’ul Haml) atas motivasi karena takut jatuh miskin.

*Apabila pencegahan kehamilan dilakukan karena alasan darurat seperti: kondisi seorang perempuan yang tidak bisa melahirkan secara normal ataupun mengundurkan proses kehamilan untuk sementara demi kemaslahatan keluarga maka tindakan pencegahan kehamilan tersebut dibolehkan.

*Dibolehkan pencegahan kehamilan sementara dengan meminum obat-obatan untuk menghambat produksi indung telur sebelum seseorang itu berumur 40 tahun.[11]

  • Keputusan Majma’ (tim) Fiqh Islam di Makkah Mukarramah memutuskan bahwa: Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran) tidak dibolehkan secara mutlak.
  • Keputusan Majma’ Fiqh Islami di Kuwait no. 1 tertanggal 5/9/1988 memutuskan:

–                Tidak dibolehkan adanya suatu undang-undang hukum untuk mengatur pembatasan kelahiran suatu janin karena itu adalah hak mutlak pasangan suami istri.

  • Keputusan Majma’ Buhust Islamiyah di Cairo pada Muharram 1385 H/ Mei 1965:

Tidak sah secara syariat membuat undang-undang yang memaksa manusia untuk membatasi kelahirannya.[12]


[1] Diterbitkan dalam kumpulan tulisan Bundo Kanduang KMM Mesir sebagai oleh-oleh atas kedatangan duta Gubernur dan DPRD Sumbar untuk Peresmian Rumah Gadang KMM.

[2] ‘Athiyyah Shaqr, Tarbiyyatul Aulad Fil Islam, (Cairo: maktabah Wahbah, 2003 M) juz 4 cet. 1 hal 52

[3] hidayatullah.com

[4] Prof.Dr.H. Masjfuk Zuhdi, Masa’il Fiqhiyah, PT. Toko Gunung Agung, Jakarta, cet.9, 1996 M, hal 55

[5] Situs BKKBN online.com, edisi Minggu, 24 Februari 2008

[6] Muhammad Shafwat Nuruddin, Fathu’l Karim bi Ahkamil Haml Wal Janin, Cairo, Dar Al Jauziy, 2006, cet.1 hal 137

[7] Tahdid Al-Nasl dalam wekepedia, mausu’ah Hurrah

[8] Hidayatullah.com

[9] Berdasarkan fatwa mufti Shalih bin Fauzan Al Fauzan dalam kitab fatawa mar’ah attibbiyyah hal 88.

[10] Ibid, hal 86-87

[11] Muhammad Shafwat Nuruddin, Op.cit, hal 138

[12] ‘Athiyyah Shaqr, Op.cit, hal 72.

SEPUCUK SURAT KALENG

24 November 2009 at 7:32 pm | Posted in Gen 3, Uncategorized | Leave a comment

Oleh: Mike Putri Rahayu Syamsuir

Lurah Parman  termenung di teras rumahnya. Tak seperti hari-hari biasa yang selalu dilaluinya dengan semangat milennium, ide-ide brilian dan terobosan-terobosan baru selama masa profesi kelurahannya, kali ini khususnya hari ini tampak berbeda. Pancaran wajahnya yang penuh siasat-siasat cerdas kini tampak berubah-ubah ekspresi. Awalnya termangu-mangu. Kemudian manggut-manggut. Setelah itu menerawang ke atas persada raya. Sesaat lagi geleng-geleng kepala. Dan tiba-tiba seperti terbelalak tak percaya. Dilihat dari gayanya sih seperti orang yang menebak-nebak sesuatu. Untungnya Parman lagi sendirian. Kalau sampai Parmin, tetangga sebelahnya yang super usil itu melihat tingkahnya barusan, pasti punya seribu satu kata untuk menertawakannya. Si kurus yang energik itu bahkan dengan pedenya menobatkan diri sebagai kembarannya hanya lantaran nama mereka rada-rada mirip. Hanya beda tipis vocal a dan i saja. Padahal sungguh mati bagaimana dan darimana  asal muasalnya tuh anak dia sendiri nggak berminat untuk tau.  Mengingat itu Parman melengos. Jengah sendiri…

Ada apa gerangan?

Uff…Lurah Parman menghela napas berat. Teringat kembali insiden tengah malam yang menimpanya semalam. Mula-mula suara jangkrik yang berisik mengganggu kepulasan tidurnya, kemudian suara kodok sahut menyahut. Tiba-tiba pintu rumahnya digedor-gedor lembut entah oleh siapa…

Tok tok tok!  Sepi beberapa saat.

Tok tok tok! Masih hening. Parman menunggu kalau-kalau ada suara manusia yang memanggilnya atau mengucapkan salam. Tapi…

Tok tok tok!

“Tamu tengah malam, siapa dan ada urusan apa?” Tanya Parman dalam hati.

Tok tok tok! Ketokan dil uar makin terdengar tak sabaran.

Parman melirik jam di tangan. Jam dua malam!

“Iseng amat sih bangunin orang di malam buta begini.” Parman menggerutu sembari berjalan terhuyung menuju pintu.

Tok tok tok!

“Ah siapa tau pak camat ngasih bonus dadakan lagi seperti kemaren.” Memikirkan hal itu mata Parman langsung bersinar-sinar.

Kreek! Parman membuka pintu. Ia melongokkan kepala.

“Siapa ya?”  ternyata tak ada siapa-siapa.

Parman menunggu. Memastikan kalau-kalau si pengetok tengah malam itu menonjolkan batang hidungnya. Tapi sekali lagi, memang tak ada siapa-siapa di luar sana.

“Oahmm…” kantuk kembali menjalar sampai ke ubun-ubun kepala Parman. Ia pun menutup pintu.

Belum sempat Parman merebahkan badan di pembaringannya, kembali suara ketokan terdengar. Sementara istrinya terlihat masih pulas dengan mimpi-mimpi malamnya.

Tok tok tok!

Bersicepat kaki Parman melangkah ke arah pintu. Takut si pengetok kabur karena ia terlalu lama membuka pintu rumahnya .Namun, ketika pintu dibukanya, hanya hembusan dingin angin malam yang menyapa.

“Aaah…” Parman mulai gusar.Tak habis pikir. Pelan-pelan rasa ngeri menyusup dan menyelinap masuk ke hatinya. Ia bergidik. Ada apa ini?

Tok tok tok! Sekali lagi!

Kali ini langkah Parman tak secepat tadi. Tak lupa ia raih gagang sapu di belakang pintu untuk jaga-jaga. Siapa tau ada maling yang sengaja beraksi menebar teror untuk melumpuhkannya.

“Siapa?!” katanya dengan suara keras untuk melawan rasa wa-was yang makin menjalar. Tak ada sahutan.

“Woi..siapa di luar sana?” tanyanya sekali lagi. Tetap tak ada siapa-siapa selain lolongan anjing yang terdengar sayup sayup sampai dari kejauhan.. Bulu tengkuk Parman  berdiri ketakutan.

Parman hendak berbalik ke kamar, ketika tiba-tiba matanya menangkap sesuatu di bawah pintu…sesuatu berwarna putih…

Tangannya terjulur meraih si amplop putih. Dengan perasaan campur aduk antara takut, kesal, marah dan lain-lain, penasaran lurah Parman membuka surat itu. Selembar kertas kecil menyembul dari amplop putih. Parman pun hendak mengeja huruf-huruf yang tertera…

“Pak, ada apa?!!!” ya ampun, Parman terlonjak kaget…sapaan lembut istrinya yang datang tiba-tiba itu terdengar seperti bom di telinganya…

“ngg…nggak…nggak ada apa-apa kok, Bu.” Tukasnya terbata-bata.Dirasakan jantungnya turun naik kelelahan. Meski melihat gelagat aneh suaminya, namun bu lurah memilih tak bertanya-tanya lagi.

Surat itu…lurah Parman pun membukanya,

Pak lurah yang terhormat,

Sesungguhnya bangsa ini sudah teramat miskin, maka tolong jangan lagi ditambah miskin! Sesungguhnya  negeri ini sudah teramat susah, jangan lagi ditambah susah! Dan sesungguhnya rakyat negeri ini sudah lama kelaparan. Jangan tega lagi menambah lapar. Ingatlah, Pak…di tengah rasa lapar, ada amarah, ada jurang kekufuran menanti di depan mata-mata  mereka.

Bapak tentu bertanya-tanya siapa saya? Namun itu bukanlah hal urgen. Hal paling penting  adalah, tolong hentikan semua kebohongan-kebohongan bapak, hentikan semua manuver-manuver politik yang menyengsarakan. Jangan lagi menebar teror terselubung terhadap warga sekitar.

Kalau bapak tetap ingin tau siapa saya, silahkan temui  saya jam 12  di malam bulan purnama minggu depan di bawah pohon beringin di depan kantor kelurahan nanti.

Wassalam…


Seram! Itulah kesan Parman setelah selesai membaca.

Parman tertegun. Langkahnya terseret menuju kamar. Setiba di kamar, Parman tertegun lagi. Dilihatnya sang istri tengah khusyu’ bertahajud di selembar sajadah panjang.

Sekarang Parman betul-betul tak sanggup menjabarkan perasaannya…

——————-

Pasca  surat misterius itu, kehidupan Parman menjadi lain. Rupa-rupanya peristiwa itu betul-betul mengusik sensitifitas kelurahannya. Ya, sudah sepuluh tahun ia menjadi lurah, selama itu pula ia merasa enjoy dengan semua yang diperbuatnya. Tak peduli halal dan haram, asal ada uang semua menjadi gampang dan menyenangkan. Dan Parman tau betul bagaimana menyalurkan uang-uang itu ke kantongnya. Tanpa harus takut dituduh korupsi dan kolusi karena Parman punya seribu macam cara berkelit untuk itu. Dan istrinya yang semakin alim selama tahun-tahun belakangan itu pun tak perlu tau…

Parman pun termenung-menung mengingat kilas balik hidupnya sebagai seorang lurah. Maklum, dalam catatan sejarah wilayahnya, Parman merupakan lurah terlama.

Di kali pertama dilantik menjadi lurah, Parman melakukan manuver perdana. Ia menggelar hajatan dan syukuran dengan mengundang seluruh warga desa bawahannya. Semua diizinkan makan dan minum sepuasnya.

Celetukan simpati pun bertebaran kemudian. Dari yang malu-malu sampai terang-terangan. Komplit semua ada.

“Wah, pak lurah kita yang baru baik hati sekali ya.”

“Kalau tau begini sudah dari dulu saya dukung beliau jadi pemimpin kita.”

“Pak Lurah, tengkyu berat nih…semoga jabatannya berkah dan langgeng.”

“ Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu. Terima kasih sodara sodara.” Ujar Parman sembari tersenyum lebar.

Secara diam-diam pula, Parman menghubungi reporter radio setempat. Supaya tak terlalu kentara, sang reporter datang di tengah meriahnya acara.

Berlagak seolah-olah baru mendapat informasi, si reporter pun mewawancarai lurah Parman di atas pentas, disaksikan seluruh hadirin.

“Pak Parman, saya barusan memperoleh info dari informan kami bahwa bapak menggelar silaturahmi dengan semua warga. Makanya saya segera meluncur kesini. Pertanyaan saya singkat saja, Pak. Bagaimana perasaan bapak setelah menyandang jabatan baru ini?”

“Ah, saya tak tau harus bilang apa. Yang jelas saya ingin berbuat yang terbaik untuk wilayah ini.”

Dan tepukan pun riuh disana sini menyambut ucapan itu.

Dada lurah Parman membuncah bahagia. Tak lupa sang reporter disumbangnya dengan selembar amplop berharga, secara diam-diam tentunya.

—————-

Parman bersiap dengan manuver selanjutnya. Parman menurunkan perintah untuk sekretarisnya.

“Tolong kamu data ulang semua warga di kelurahan kita. Hasil sensusnya kamu laporkan sore ini untuk saya. Oke?!”

Setelah mendata satu demi satu warga kelurahannya, Parman memulai proyek barunya. Memungut pajak!…

Supaya tak timbul reaksi mencurigakan, Parman melakukan aksinya tidak secara beruntun. Namun secara pelan-pelan. Mula-mula ia memungut iuran warga dengan alasan pembangunan. Tentu saja warga lingkungannya yang mayoritas dari kelas bawah itu keberatan. Namun karena perintah atasan, mereka sebagai wong cilik tak berani bersuara. Apalagi para suruhannya telah terlatih untuk melobi rakyat kecil,

“Rakyat bijak taat pajak. Ini slogan dari atas lho, Pak, Bu…”

Rentang waktu selanjutnya, Parman memberlakukan pajak rumah. Selang beberapa bulan kemudian diikuti dengan pajak sawah. Semuanya selalu berujung pada satu kata: Uang!

Akhirnya warga pun membentuk konsolidasi untuk menyuarakan aspirasi. Mereka pun mendatangi bu Lurah yang terkenal baik hati.

“Tolong, Bu Lurah. Keputusan pak lurah dicabut saja. Kami sudah tidak punya apa-apa untuk dibayarkan.”

Bu Lurah pun menyalurkan simpati dan berjanji akan membantu. Tak lupa wanita paroh baya itu menyedekahkan sedikit uang untuk keperluan mereka.

“Pak, apa iuran-iuran itu tidak memberatkan warga? Kasihan mereka,Pak. Untuk makan sehari-hari saja susah.” Kata Bu Lurah sembari menyuguhkan secangkir kopi hangat.

“Bapak bisa apa sih, Bu? Ini perintah dari pak camat. Pak camat dapat perintah dari bupati. Pak Bupati dapat perintah dari Gubernur. Pak gubernur dapat perintah dar…”

“Iya. Iya. Ibu ngerti. Tapi apa tak bisa dibicarakan dengan pak camat? Yang susah itu warga kita juga, Pak.”

“Ah, Ibu ini kayak nggak ngerti aja. Bapak Cuma bawahan, Bu. Ba…wa…han!”

“Apa bapak nggak takut didemo rakyat?” pancing bu lurah.

“Ah, demo di negeri ini bukan barang baru, Bu. Setiap pejabat harus terbiasa dengan demo. Kecil itu, Bu. Kecciil…!” Lurah Parman memang seorang pemain sandiwara jempolan. Terbukti Bu Lurah pun diam seribu bahasa.

—————–

Lurah Parman semakin terlatih memainkan  peran. Sudah tak terhitung bonus-bonus fiktif yang diterimanya dari berbagai kalangan yang meminta perlindungan. Bahkan proyek perbaikan dan pelebaran jalan pun bisa jadi bisnis menguntungkan untuk lurah Parman. Karena jalan wilayahnya merupakan  salah satu jalan lintas pulau yang dilalui berbagai jenis kendaraan luar dan dalam propinsi. Maka hanya dengan bantuan membuat beberapa lembar proposal untuk proyek jalan tersebut, lurah Parman bisa mendapat belasan juta rupiah dari yang empunya proyek. Hingga sepucuk surat kaleng itu datang menyambanginya di gelap malam…

———————

Lurah Parman teringat lagi akan surat itu. Hari ini tepat seminggu setelah surat tanpa alamat tersebut datang. Berarti jam 12 nanti malam ia akan bertemu dengan si pengirim surat.

Parman menebak-nebak lagi. Siapa dia? aktivis LSM kah? mahasiswa sosialis kah? atau jangan-jangan  ini kerjaan bawahannya di kantor kelurahan yang sengaja menakut-nakutinya? Atau ini ulah si Parmin tetangganya yang norak dan kepedean itu? Atau pak camat, konco politiknya selama bertahun-tahun? Pastinya, si pengirim aneh itu adalah orang pintar yang tau sepak terjangnya sebagai lurah. Atau lebih gila lagi, si dia adalah istrinya sendiri? Ah, tak mungkin. Tepisnya segera. Selama ini Parman selalu berusaha menampilkan dirinya sebagai suami teladan. Yang jelas, semua orang bisa jadi tersangka di mata lurah Parman.

Jam 12 malam, lurah Parman memenuhi undangan si misterius. Ia berjalan sendirian menuju pohon beringin yang sepi. Suara lengkingan burung hantu sesekali terdengar di atas pohon-pohon tinggi. Tapi lurah Parman sudah membuang rasa takut jauh-jauh sebelum dia berangkat dari rumah tanpa sepengetahuan istrinya.

Sepi, tak ada siapa-siapa. Tak ada tanda-tanda ada orang yang tengah menunggu. Lurah Parman tetap sebatang kara di sana. Sampai-sampai ia dapat mendengar bunyi nafasnya sendiri. Tiba-tiba Parman melihat selembar amplop putih lagi menclok di tubuh beringin. Seperti sengaja ditempelkan disana.

Assalamu’alaikum…

Pak lurah yang terhormat,

sebaiknya bapak memang tidak perlu tau siapa saya. Cukuplah dengan surat ini saja saya menjumpai bapak. Anggaplah saya adalah seseorang yang dikirim Allah untuk mengingatkan bapak.

Yang pasti, meski bapak tidak tau siapa saya, tapi tolong diingat, bahwa saya sangat tau siapa bapak. Jadi tolong bapak penuhi permintaan saya di surat tempo hari. Sudahilah semua dosa-dosa bapak. Dan mohon ampunlah kepadaNya.

Jika bapak tidak memenuhi harapan saya tersebut, mungkin surat-surat lainnya akan menyusul dari saya dengan skenario yang lebih asyik lagi.

Wassalam…

NB: Don’t worry, saya tidak akan menyusahkan bapak. Selamat berubah…

Lurah Parman menengadah ke langit kelam. Bintang kecil melihat malu-malu dari balik awan…

—– TAMAT —–

Tafahna El Asyraf, 27 september 2009

Cerpen ini dibuat sebagai apresiasi sederhana atas bebasnya  wartawan Irak dari hotel prodeo, Muntahar El Zeidy atas aksi pelemparan sepatunya kepada seseorang…tau dong siapa?! 🙂 ….

KESAKSIAN ANGIN

7 November 2009 at 11:15 pm | Posted in Gen 3, SASTRA | 2 Comments
Tags:

Oleh : Mike Putri Rahayu*

Dibalik sebuah gedung pencakar langit,

jakarta-night-view

Temaram malam menyelimut dalam keremangan Jakarta. Bintang-bintang bertabur membisu. Diantara hiruk  pikuk manusia, aku menyaksikan wanita itu diseret paksa ke balik sebuah gedung. Rontaannya seolah tak berarti tercekal tangan-tangan para lelaki yang jumlahnya entah berapa. Baju yang dikenakannya koyak moyak tak beraturan. Air mata bersimbah melelehi wajah cantiknya. Kemudian dari bibir tipisnya sayup sayup kudengar sayatan ratap mengemis belas diatas ketidakberdayaannya sebagai seorang wanita.

” Tolong, jangan ganggu saya. Kasihanilah saya!”

” Heh, bisa diam tidak?!”

Lelaki berbadan gempal penuh tato menyentak garang. Sementara tangannya mencengkram keras pergelangan tangan kiri wanita itu.

” Sabarlah, cantik! Kami hanya membutuhkanmu sebentar saja. Setelah itu kau bisa kembali pulang dengan mobilmu.”

” ha…ha…ha… ”

Alunan suara tawa komplotan itu begitu memuakkan.

” Biadab!! ” aku meradang.

Badanku meliuk keras meyampaikan protes pada alam. Maka, setan akhirnya meraja meluluhlantakkan sekeping nurani para lelaki durjana itu. Lolongan tangis seorang anak manusia yang ternistakan hanya tertelan kabut malam. Bulan sepotong turut berduka.

Sementara aku? Ingin rasanya kucabik cabik wajah setan-setan berkepala manusia itu. Ingin kuremukkan tulang-tulang mereka hingga aksi hina itu terhentikan. Karena mereka tak lebih dari srigala jahannam yang tak pantas hidup. Ah, andaikan aku punya kekuatan…

Diatas jeritan kepedihan, aku hanya mampu menatap iba. Pilu mengiris kalbuku yang meronta tak rela. 15 menit dalam selimut misteri akhirnya berlalu sudah.

Kini, kusaksikan wanita itu meringkuk ketakutan setelah setan-setan itu selesai melampiaskan nafsu terlaknat mereka. Air matanya mengalir makin deras. Dapat kulihat nyanyian kepedihan dalam tangisnya meratapi kehormatannya yang terampas paksa. Badanku meliuk lembut mencoba membelai wajah cantik wanita itu. Aku masih enggan berlalu sampai kulihat kakinya tertatih-tatih meninggal tempat dirinya diperkosa dengan begitu rupa. Terbang sudah semangat yang semula terpancar dari kedua mata sipitnya. Dari bibirnya kudengar satu rintihan:

” Tuhan, dimanakah keadilan?!”.

————–

1 tahun kemudian, di sebuah panti asuhan,

Aku kembali  menjalani tugas seperti biasa. Meniup, membelai, menghembus atau sekedar memberikan secercah kesegaran pada manusia disela-sela rutinitas mereka. Jam  menunjukkan angka 5 pagi. Aku yakin, tentulah manusia menikmati kesejukanku. Tapi ternyata tidak semua mereka menikmati kesegaran yang kutawarkan. Dikala sang surya baru merangkak naik dari peraduannya, mataku menangkap sesosok tubuh mengendap-endap di keremangan pagi. Dipangkuannya terlihat seraut mungil tertidur lelap. Tiba-tiba naluri ingin tahuku bereaksi.

Kusibak rambut yang menutupi wajah itu dengan sekali tiup hingga muncullah seraut wajah yang  sudah tidak asing lagi di pandanganku. Hei, bukankah aku pernah melihat wanita ini? Ya… tak salah lagi! Dia, wanita yang pernah kusaksikan diperkosa dengan begitu kejam. Apa yang akan diperbuatnya?

Matanya awas memperhatikan sekeliling seolah takut perbuatannya diketahui orang. Setelah yakin tidak ada siapa-siapa, dengan hati-hati diletakkannya bayi yang sedari tadi ada digendongannya. Oh tidak!baby

“jangan!!!” aku berusaha mencegah tapi suaraku hanya menggema dilorong-lorong kegelapan tanpa makna. Tergesa-gesa wanita itu menyeret kakinya menjauh. Tak lama kemudian para penghuni panti dibangunkan oleh suara tangis bayi.

“Ada bayi … ada bayi … cepat kemari !”

—————

Lima tahun kemudian, di sebuah rumah singgah,

Bocah kecil itu kuketahui bernama Tari. Entah kapan ia menjadi penghuni rumah singgah ini. Yang pasti ia dipungut tante Mir – pemilik rumah singgah ini – ketika hampir pingsan kelaparan dekat terminal Senen. Sejak saat itu resmilah Tari menyandang profesi baru sebagai seorang pengemis. Muka bulat telur, kulit putih serta mata sipitnya seperti mengingatkan aku akan seseorang. Kurangsang neuron ingatanku untuk bekerja. Kemudian di pikiranku berloncatan sinyal-sinyal sampai sebuah sketsa wajah terlukis nyata. Ah, bagaimana bisa? Mungkinkah ia anak wanita itu? Aku tak mampu memastikan.

Seperti pagi ini, aku menyapa wajahnya dengan tiupan lembut hingga rambut sebahunya melambai-lambai. Seperti biasa pula, tante Mir memulai wejangan dengan wanti-wantinya,

” Ingat ya, jam 5 sore kalian semua harus pulang. Awas, jangan coba-coba melarikan diri.ok?”

” Baik, tante.” 15 pasang kepala mentarigangguk lesu. Tak ada keriangan terpancar dari raut muka mereka.

Kembali kuperhatikan wajah mungil milik Tari. Ah, tatapan sendu itu,  seolah menagihku membelai laranya. Matanya nanar memandang langit seakan bertanya kapan kebahagiaan akan menjamah hatinya yang masih bening tak bernoda.

Aku mengiringi langkah-langkah kecil Tari menyusuri gang sempit menuju jembatan penyebrangan, sebuah tempat yang dipilihkan Tante Mir untuknya mengemis. Dengan rambut kusut masai, kaki koreng moreng dan baju penuh tambalan, Tari memang mengundang belas kasihan sesiapa saja yang memandangnya. Termasuk aku.

Dugaanku tepat! Jam baru menunjukkan angka 12 siang, tapi lembar lembar lusuh senilai lima ribu rupiah telah dikantonginya. Ketika azan zuhur berkumandang, Tari akan termangu-mangu keheranan. Kemudian langkahnya terseret pelan-pelan mendekati masjid di seberang jalan. Tari memperhatikan orang-orang berwudhu. Dengan wajah yang masih malu-malu, ia juga akan mengikuti gerakan-gerakan sholat di barisan saf paling belakang.

Kadang kala kuperhatikan tersembul dari bibirnya segaris senyum tatkala melihat ukiran kaligrafi yang terpajang indah. Satu hal yang jarang kutemui ketika Tari berada di rumah Tante Mir.

” Ya Allah, Semaikanlah hidayahMu pada hatinya yang masih putih” Kutabur sejumput do’a tulus untuk Tari.

Sinar  si raja siang mulai merangkak turun. Pukul 3 sore hari itu, Tari duduk bersimpuh seperti biasa sambil menadahkan tangan pada orang yang lalu lalang. Ketika sekonyong-konyong segerombolan remaja berandal dengan mata merah menyentak tubuh kecilnya dengan keras. Jembatan sepi, tak ada siapapun yang terlihat.

” Heh, jelek! Dapet berapa hasil lu mengemis hari ini?!”

” Ayo serahkan semua uang lu, kalau tidak…” seorang diantara mereka mengancam dibawah acungan sebilah pisau dapur. Aku tersentak. Kuperhatikan wajah Tari yang menggigil ketakutan.

” Jangan, kak! ” katanya memohon. Tapi tanpa ampun, tangan-tangan mereka telah menggerayangi kantong bajunya.

” Jangan, kak!” Tari masih mengiba.

” Diam!!! Awas kalau teriak…” Berandal itu tertawa menjijikkan  setelah mendapatkan yang mereka cari.

Darahku mendidih menahan murka. Maka dengan sekuat tenaga, kuliukkan tubuhku sekeras-kerasnya. Debu-debu  beterbangan. Tepat! Mata mereka pedih kemasukan debu.

” Angin sialan !!!” Rutuk mereka.

Aku tak peduli. Kembali kupandangi Tari. Mata bulatnya berkaca-kaca. Tubuhnya sesenggukan menahan tangis yang bisa jadi keras jika dilepas.. Tersaruk-saruk kakinya menuruni tangga jembatan. Ya Rabb… ia nekat meminta minta pada pengemudi mobil-mobil pribadi yang berhenti terhalang lampu merah. Ya, aku tahu, sedari tadi pagi, belum sebutir nasi pun menjambangi perut kosongnya.sad

” Om, sedekah, Om. Buat makan, Om.” Air mata masih tersisa di pelupuk, takut-takut Tari mendekati sebuah mobil pribadi. Di dalamnya duduk seorang Bapak berdasi. Orang itu terhenyak kaget. Lalu dengan muka masam dan tanpa perasaan ia menutup kaca mobil sambil merutuk,

” Kalau mau duit, kerja! Dasar pemalas.” Aku terpana. Seandainya aku punya air mata, pastilah sedari tadi ia telah membuncah merangkai lautan nestapa. Seandainya aku… ah…

” Wahai Zat yang maha Adil, dimanakah keadilan. Dimanakah keadilan?” kali ini kubangun tanya diatas asa.

`           Apa yang telah terjadi di negeri ini? Apakah anak bangsa ini sudah tak punya lagi kepekaan terhadap sesama? Kemana hati para tuan-tuan tanah, penghuni gedung-gedung bertingkat, pemilik perusahaan-perusahaan kelas atas?. Kemanakah LSM-LSM yang berkoar-koar mengatasnamakan HAM?. Kemanakah para pejabat yang mengaku reformis dan pancasilais berkoar-koar mengagungkan sila ” kemanusiaan yang adil dan beradab.” Begitu mudah rupiah dihambur-hamburkan di restoran-restoran, mal dan pusat perbelanjaan, hotel-hotel mewah. Sementara si miskin yang papa masih berserak dimana-mana.

Ingin kumusnahkan kesenjangan ini hingga tak ada lagi wanita-wanita yang kehilangan kehormatannya, tak ada lagi orang tua yang tega mengikis naluri keibuan dari dirinya, tak ada lagi bocah-bocah yang jadi korban manusia-manusia licik demi mengejar lembar-lembar fitnah bernama rupiah.

Ternyata aku hanya bisa berandai. Karena aku bukanlah manusia seperti mereka. Kodratku adalah angin yang harus patuh pada SunnahNya.

Entah penindasan apa lagi yang akan kusaksikan esok, lusa atau esoknya lagi. Aku hanya bisa menunggu.

*Lulusan Tafsir Al-Azhar – Gen 3 MAKN Putri

Cerpen ini adalah pemenang juara II dalam lomba karya tulis Media mahasiswa Kairo TëROBOSAN 2004.

SERPIHAN LUKA YANG BERSERAK

31 October 2009 at 10:53 pm | Posted in Gen 3, SASTRA | 2 Comments
Tags: , , ,

Oleh: Mike Putri Rahayu*

Tatkala badai yang mendewasa mengungkung asa, diriku terhempas di terjalnya jurang sukma. Terpuruk ragaku mengenyam empedu. Dalam kebimbangan ini kurasa dunia bukan lagi tempatku bersinggah membangun harap. Bening hatiku pupus dimakan waktu.

uin jakartaAku masih terpaku di antara hiruk pikuk keramaian kampus. Cekikikan beberapa mahasiswi tak membuat kepalaku bergeming untuk menoleh pada mereka. Sapaan ringan teman-teman seangkatan kubalas dengan anggukan sopan. Tentu saja, pikiran dan perasaanku masih hanyut pada bait-bait kalimat di selembar kertas buram yang kini berada dalam genggamanku. Ketika tanpa sengaja aku menemukan sebuah buku tergeletak begitu saja di halaman parkir. Nuraniku menyuruhku untuk memungutnya. Hingga tanpa kusadari, selembar kertas terselip jatuh dari dalamnya.

Hm… siapa gerangan pemilik buku ini? Tanganku sibuk membolak balik sementara mataku awas menelusuri tulisan-tulisan didalamnya sampai akhirnya kubaca sebuah nama di sudut atas sampul bagian dalam buku tersebut:

HARI BUDIMAN, FAKULTAS PSIKOLOGI, TINGKAT TIGA

“Allaaahu akbar… Allaahu akbar!”

Senandung azan magrib menyadarkanku untuk segera mengayun langkah menuju kost-an di seberang jalan. Buru-buru kumasukkan buku tersebut ke ransel miniku. Senja makin merah. Semburat rona pelangi mewarna indah memayungi alam Jakarta.

Nun, jauh di sudut hatiku, masih tersisa sejumput kagum terhadap bait-bait yang tadi kubaca. Ada tanya yang menggantung : apa yang tengah dirasakannya ketika menulis untaian kata itu?

***

Sengatan terik mentari meraja di waktu zuhur usai menjelang. Salat zuhur yang kutunaikan di mesjid kampus, membuka ruang nyaman di bilik hatiku. Segarnya es kelapa cukup menghilangkan senut-senut di kepalaku habis mengikuti kuliah pak Sidarta, si dosen killer itu.

Uff… kuhembuskan nafas lega. Karena siang ini tak ada mata kuliah yang harus kuikuti. Tiba-tiba ingatanku melayang mengenang sesuatu. Buku itu. Ya, semenjak tadi malam telah kupupuk niat untuk mengembalikan buku tersebut kepada si empunya.

fakultas psikologi UIN JakartaKubayar minuman dengan sedikit tergesa. Kakiku pun terayun menuju Fakultas Psikologi. Gesekan langkahku terasa lebih berirama ketika ubin-ubin Fakultas Psikologi ini kutapaki.

“Assalamu’alaikum, Ton…”aku mencegat Toni, calon psikolog sekaligus teman seorganisasiku di LDK (Lembaga Da’wah Kampus).

“Wa’alaikum salam… Arif? Ada angin apa nih?” senyum hangat Toni menyambut sapaku.

“Afwan mengganggu sebentar. Ente kenal yang namanya Hari Budiman nggak? Aku ada perlu sama dia.”

“Tingkat berapa?” Toni balik bertanya.

“Tingkat tiga.” Jawabku cepat.

“Mmm…Hari Budiman?” Toni tampak berpikir keras. “…kayaknya aku nggak kenal deh,Rif. Sebaiknya Ente tanya aja ke teman seangkatannya di lantai empat.”

“Oke deh, kalau begitu. Syukran ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.” Aku dan Toni pun berpisah.

3229278733_39411b3e89_oTernyata mencari seorang Hari Budiman tak semudah yang kubayangkan. Hampir satu jam berlalu ketika kutemukan sosoknya menyendiri di pojok taman kampus. Sepoi-sepoi angin melambaikan rambut gondrongnya. Wajahnya yang tertunduk seolah tenggelam di balik bahu lebarnya. Aku mendekat.

“Hm…maaf, saudara yang bernama Hari Budiman?” Kepala yang semula tertunduk itu mendongak.

“Ya…saya Hari Budiman. Ada apa ya?!” tanyanya kemudian. Aku sempat tertegun sesaat menyaksikan tatapan sendu yang memancar dari kedua mata elangnya.

“Oh, saya hanya ingin mengembalikan ini.” Tanganku cekatan mengulurkan buku miliknya.

“Terima kasih…” ucapnya dengan senyum tipis.

Siapa sangka, ternyata perkenalan itu membawa kami ke gerbang pertemanan. Tak mudah memang bagiku untuk dekat dengan pribadinya yang pendiam. Tapi kurasa itulah sisi unik yang kusuka dari Hari. Maka sejak saat itu, entah mengapa naluri ingin tahuku menyentak-nyentak beraksi mendorongku untuk lebih banyak tahu tentang kehidupannya.

“Dia seorang yang tertutup, suka menyendiri…” ucap seorang temannya ketika kutanya.

Nyamankah ia menikmati kesendiriannya? Akankah bening hatinya terkikis tatkala kesunyian menjemput? Adakah ia merasa sepi? Tanya dihatiku merebak.

***

Bukanlah angin yang mengirimku untuk menjadi sahabat bagi seorang Hari. Mungkin akulah satu-satunya orang yang dibiarkan masuk ke dalam hidupnya. Satu-satunya orang yang diterimanya sebagai teman. Teringat kembali bait-bait yang pernah ditulisnya di selembar kertas waktu itu, membuatku makin berkeinginan untuk menyibak tabir duka yang disimpannya. Tatapan sendu berkabut, Senyum yang hampir tak pernah hadir, permenungan yang kadang dihiasi titik-titik bening, cukuplah sebagai tanda suatu sisi buram bersemayam utuh di ruang hatinya. Meski ia tak pernah berucap.

badai lukaSeperti di suatu pagi yang basah, kutemukan dirinya diam dalam tangis yang menjalar.

“Assalamu’alaikum Har? Ada apa?”

“Wa… wa’alaikum salam ” gelagapan Hari menjawab salamku. Kami sama-sama terdiam.

“Ada apa ? mungkin aku bisa membantu. Berceritalah!…” tanganku menjangkau punggungnya bersimpati.

Sunyi. Rumput-rumput dan dedaunan bergoyang meningkahi tiupan angin. Seliweran mahasiswa mulai kelihatan di gerbang kampus. Namun Hari masih membisu.

“Rif, menurutmu Tuhan itu Maha Adil apa tidak ?”

Katanya pelan.

“Tentu saja !”ujarku cepat.

Setelah itu benar-benar sunyi. Hari membiarku menunggu. Dari mulutnya tak lagi keluar sepatah katapun.

***

“Rif ada titipan…’ sapaan pertama Ahmad, teman sejurusanku menghentikan langkahku menuruni tangga gedung fakultas. Kuliah hari ini begitu melelahkan. Aku ingin secepatnya sampai di rumah. Istirahat.

“Dari siapa ?” tanyaku pada Ahmad. Yang ditanya angkat bahu.

“Terima kasih ya…” kutampilkan segaris senyum pada Ahmad sebelum berlalu.

Setiba di kost-an, hati-hati kubuka bungkusan yang tadi diberikan Ahmad bersampulkan kertas koran. Hei… ternyata sebuah diary. Milik Hari!

8 november 03

Badai tak berkesudahan menghampir. Aku bukanlah malaikat yang senantiasa mampu memikul beban prahara. Bukan pula nabi yang punya segudang kekuatan dengan sejuta kesabaran. Aku hanya seorang nista yang punya lara di atas serpihan duka. Aku juga punya luka tatkala mendengar sebuah berita : bahwa aku bukanlah anak kandung dari orang yang selama ini kupanggil ayah. Ia bukan ayah kandungku. Ia pamanku! lalu ke mana ayahku? Di mana ibuku? Ke mana harus kukejar kasih itu? Dimana harus kutagih cinta itu?.

Kubiarkan senja berlalu yang tak mampu menjawab tanya.

Desember 03

Perjalanan waktu dari hari ke hari semakin tua. Kukuatkan raga untuk menuliskan kilas gelap rantai hidupku yang kejam. Siapa yang bisa menyangka, kalau aku pun berhak tahu atas semua. Telah kurambahi hitamnya gulita. Kukorek-korek hingga muncul sebuah kepastian.

Ayah dan ibuku meninggal di sebuah kecelakaan. Di usiaku 3 tahun kala itu, aku belumlah mampu melukis sosok ayah dalam memoar ingatanku.

Februari 04

Terjawab sudah rangkaian semu yang melilit perjalanan panjangku. Ayahku seorang saudagar kaya. Dan dia! Pamanku, ia menyeretku paksa ke kehidupannya. Melarikanku ke sebuah lembah yang tak kukenal dan memaksaku memanggilnya “Ayah…”. Sementara ia berpesta pora dengan harta peninggalan ayah tanpa sedikit pun memberitahuku. Serakah!!

Takkan menganga lukaku, jika ia tak menganggapku sampah di rumahnya sendiri. Membedakanku dari anak-anaknya yang lain. Menganaktirikanku. Ternyata memang aku bukanlah darah dagingnya.3436404081_b8a3e4072b_o

Kini, 23 tahun sudah aku bagai burung tanpa sarang. Tak punya tempat kembali. Kepada siapa harus kulabuhkan diri ini sementara pelayaran belum lagi mencapai tepi. Apakah dunia ini masih berhak kusinggahi? Masihkah ada harap uintuk merenda keping hatiku yang berserak?

Kuhembuskan nafas berat setelah membaca diary milik Hari. Ah, sebegitu dalam deritamu, Kawan. Kenapa tak berbagi?! Masih ada Dia, Zat Yang Maha Adil dan Penyayang. Ia takkan meninggalkanmu…

Kairo, 10 oktober 2004.

*Lulusan S1 Jur. Tafsir Univ Al-Azhar, Gen 3 MAKN Putri

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin MITRA edisi 51

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.