PROSES DI ATAS SEGALANYA

25 November 2010 at 10:36 am | Posted in AKHLAK, Gen 7, MOTIVASI, ORGANISASI | Leave a comment

Oleh: Musrida Arneili Lc.

Kejayaan Islam yang sedang kita nikmati sekarang bukanlah sebuah hadiah cuma-cuma dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada kekasih-Nya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejarah menyatakan bahwa sang kekasih yang memiliki kedudukan mulia disisi-Nya baru Ia angkat menjadi seorang nabi ketika berumur 40 tahun, setelah terlebih dahulu melalui cobaan yang datang silih berganti demi untuk memantapkan keteguhan iman nabi-Nya. Mulai dari ujian ditinggal mati ayahandanya sejak masih dalam kandungan, kematian ibu ketika kecil dan hingga remaja pun masih sering berpindah tangan dalam pengasuhan, dihina, dicaci dan disakiti. Semua itu proses…
Al-Qur’an diturunkan sedikit demi sedikit, ditalqinkan, dibacakan kepada nabi-Nya selama lebih kurang 23 tahun. Andai Allah mau, pasti Dia bisa saja menjadikan kekasih-Nya itu bisa langsung hapal Al-Qur’an dan menjelaskannya kepada umatnya. Namun kenyataannya tidak! Beliau menerimanya selama bertahun-tahun dan penuh perjuangan. Lagi-lagi itu adalah proses…
Bumi dan langit serta isinya mengalami proses penciptaan dan penyempurnaan dalam kurun waktu 6 masa, sebagaimana dijelaskan dalam surat Fusshilat ayat 9-12 dan dalam surat Qaf ayat 38. Tak diragukan lagi bahwa sang Pemiliknya mampu menciptakannya -dari tiada menjadi ada- hanya dalam waktu sekejap saja,”kun fa yakun”. Namun Dia tak menginginkan hal itu, karena Dia yang Maha bijaksana lewat ayat ini ingin mengajarkan pada hamba-Nya tentang pentingnya arti sebuah proses.
Kesuksesan adalah hasil dari sebuah proses. Mau tak mau seseorang harus berteman dengan proses, sadar atau tidak mengabaikan sebuah proses adalah pintu menuju kekecewaan. Tak ada seorangpun mampu menunjukkan keberhasilannya tanpa melalui sebuah proses. Dan tentunya orang yang melalui proses yang berat dan panjang tentunya akan mendapatkan hasil yang jauh berbeda dibanding orang yang melakukan segala sesuatunya dengan serba instant.

Belakangan kita lihat banyak yang mengabaikan proses, mereka lebih berorientasi pada hasil. Inginnya instant, proses pendek tapi mengharap hasil maksimal. Jika setiap orang lebih mementingkan hasil daripada proses yang ada hanyalah kecendrungan untuk mencari jalan pintas, apalagi di zaman yang serba canggih seperti sekarang. Kriminalitas adalah salah satu akibat dari diabaikannya proses. Mereka ingin punya banyak harta tanpa mau menjalani proses usaha.
Sesuatu yang dihasilkan melalui proses tentu lebih bermutu dibandingkan hasil tanpa proses. Contohnya saja pisang. Pisang yang baru dipetik dan langsung dijual tentu harganya berbeda dengan yang telah diolah dengan tepung dan melalui beberapa proses hingga menjadi lemper. Dan tentunya lagi, pisang yang cuma diolesi tepung dan menjadi goreng pisang tak semahal pisang bakar coklat atau keju yang proses pembuatannya lebih rumit dengan tambahan bahan yang lebih mahal. Proses menentukan kualitas dari sebuah hasil. Semakin sulit, rumit, bahkan berat prosesnya tentu akan menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai.
Dalam keseharian sering kita dengar “Enaknya,,, yang dah wisuda en bentar lagi mo pulang dengan bawa Lc…”. Demikian komentar sang junior melihat keberhasilan seniornya. Dan ketika melihat teman yang sudah banyak hapalannya selalu ada yang bilang “asyik ya, bentar lagi dia khatam”. Begitulah yang sering kita hadapi dan lalui, cuma melihat hasil tanpa mau sedikit merenungi kilas balik perjuangannya. Terkadang banyak yang cuma sekedar berkomentar tanpa mau tahu proses panjang yang mereka lalui untuk menggapai kesuksesan itu. Jika kita hanya melihat hasil dari kesuksesan seseorang, berarti kita tidak sedang mulai mencontoh jejak langkah orang tersebut, melainkan sekedar memuji tanpa aksi nyata untuk ikut sukses di kemudian hari.

Proses panjang akan terasa sangat berat jika kita hanya berorientasi pada hasil akhir. Coba kita perhatikan ibu hamil 9 bulan yang kemana-mana harus bawa “genderang besar”, tentunya berbeda dengan kita yang tiba-tiba mau merasakan keadaan mereka dengan langsung mengikatkan sekantung beras dipinggang, karena mereka telah melewati proses panjang hingga menjadi sebuah kebiasaan yang dijalani dengan ikhlas. Satu poin penting lagi, proses apapun itu harus dijalani dengan sabar, ikhlas dan istimrar.
Nah kebetulan tema kali ini tentang Indo-Kairo-kuliah dan ujian, tentunya ini adalah sebuah rangkaian proses. Proses untuk menjadi seorang muslimah da’iyah yang dinanti kehadirannya oleh umat Islam di Indonesia -tanah air kita- terkhusus keluarga dan kerabat tercinta.
Jauh sebelum hari ini -hari penantian bagi yang mau pulang dan awal perjuangan bagi yang baru datang- kita semua telah mengawali proses itu. Tak ada kata terlambat untuk mampu menjadi yang terbaik demi mereka yang selalu menanti kedatangan kita.

So, hendaknya kita semua selalu tajdid niat untuk menikmati sebuah proses dan bukan sekedar hasil. Kembali hadirkan di depan kita target-target yang telah kita rancang kemaren dan berikan haknya berupa pelaksanaan. Kalo yang mau instant, bersiap-siaplah untuk kecewa suatu saat nanti. Dan bagi yang iltizam, tetaplah istiqamah dan penuh semangat! Wallahu musta’an…

Menyongsong ‘Back To Campus’

25 November 2010 at 10:22 am | Posted in AKHLAK, Gen 7, MASISIR NEWS, MOTIVASI | Leave a comment

 

Oleh: Elvi Rahmi

 

Tidak terasa sudah tiga bulan lamanya kita menikmati libur musim panas. Berarti sudah tiga bulan kita tidak disibukkan oleh aktifitas perkuliahan seperti menghafal muqarrar, muhadharah, membuat bahats dan sebagainya, walaupun mungkin di waktu libur kita masih disibukkan oleh ijraat/administrasi kuliah seperti mengurus tashdiq atau yang lainnya.

Pertanyaannya apakah waktu liburan yang berbulan-bulan ini telah kita menggunakan dengan baik dan mengisinya dengan hal yang bermanfaat? Hanya pribadi kita masing-masing yang bisa menjawab karena kita sendirilah yang bisa merasa dan menilai apakah kita telah menghasilkan hal-hal bermanfaat selama liburan ini atau malah sebaliknya.

Waktu libur yang sangat panjang ini memang merupakan ladang empuk yang bisa diisi dengan seabrek aktifitas bermanfaat. Namun -kita sadari atau tidak- liburan panjang ini juga bisa menjadi ancaman besar yang bisa menghabiskan waktu kita dengan kesia-siaan dan kelalaian lalu berakhir tanpa makna dan hasil apapun.

Jika kita perhatikan di kalangan Bundo Kanduang secara umum, Alhamdulillah waktu libur ini lebih digunakan untuk menambah kegiatan-kegiatan ekskul yang bermanfaat seperti program tahfiz al-Quran dan hadis, les bahasa Arab, les kaligrafi, talaqqi di mesjid Al-Azhar dan sibuk dengan berbagai kegiatan keorganisasian. Tentunya juga dengan berwisata di negeri para Nabi yang eksotik ini dan banyak hal positif lainya. Semoga di liburan kali ini masing-masing kita telah menghasilkan hal-hal yang terbaik dan bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Amiin…

Nah akhir liburan berarti awal kembali lagi ke bangku perkuliahan atau yang lebih populer dengan istilah “back to campus”.

Apa sih back to campus itu? Back campus adalah kembali lagi ke aktivitas perkuliahan setelah meninggalkannya sekian lama untuk liburan.

Kalau di tanah air, awal tahun ajaran baru selalu diwarnai dengan kemeriahan dan gegap gempita. Betapa para mahasiswa dan anak-anak sekolahan menikmatinya dengan suasana baru. Datang ke kampus atau sekolah dengan segala yang serba baru, semangat baru, teman baru bahkan kelengkapan belajar baru. Terlebih anak-anak Sekolah Dasar, ketika mulai sekolah kembali selalu saja identik dengan baju baru, tas baru, sepatu baru serta buku dan alat tulis baru. Mungkin jika tanpa pakaian baru itu serasa tidak naik kelas, sehingga para orang tua pun harus mengeluarkan banyak uang jika telah mulai awal tahun ajaran, malah kadang lebih banyak dibanding pengeluaran lebaran. Para pedagang pun meraup keuntungan berlipat-ganda.

Bagaimana keadaan disini, di Kairo ini? Suasana tahun ajaran baru di Kairo ini tak semeriah di Indonesia. Yang paling kita rasakan disini adalah jika aktivitas sekolah dan perkantoran dimulai, jalan-jalan akan mengalami kemacetan.

Lantas bagaimana kita sebagai seorang mahasiswi al-Azhar menyongsong “back to campus” ini? Apakah sama dengan pemahaman anak-anak sekolah Dasar yang memaknai lebih kepada hal-hal kebendaan yang serba baru, ataukah bahkan tidak merasakan sama sekali “back to campus” itu karena liburan dan kuliah sama saja, tidak harus datang ke kampus dan mengikuti muhadharah?

Sebenarnya ada tantangan tersendiri bagi kita seorang mahasiswa Al-Azhar dalam menyikapi “kembali ke kampus” ini, karena di Al-Azhar para mahasiswa tidak dipaksa untuk hadir kuliah, dengan kata lain hadir atau tidak hadir kuliah tidak jadi masalah. Ini mungkin menjadi salah satu sebab kenapa sebagian kita malah tidak merasakan momentum baru ketika tahun ajaran telah dimulai kembali

Yang ingin ditekankan disini, apakah dengan keadaan seperti ini kita tetap bisa untuk membiasakan diri selalu hadir kuliah meski sebenarnya kehadiran kita tidak pernah dipertanyakan oleh sang dosen, malah datang sekali setahun hanya untuk ujian pun oke-oke saja. Disinilah tolak ukur bukti kesungguhan kita sebagai seorang duta keluarga, masyarakat dan bangsa.

Apakah kita dikirim kesini hanya untuk berdiam di rumah atau hanya sibuk dengan organisasi dan hanya hadir ke kuliah jika ujian? Sementara keluarga kita dan bahkan masyarakat di kampung kita sudah barang tentu berprasangka baik bahwa kita di Kairo ini sedang kerja keras kuliah, menimba ilmu di kampus Al-Azhar dan bertatap muka dengan para dosen Al-Azhar.

Apakah harapan dan prasangka mereka hanya kita bayar dengan duduk-duduk dirumah dan hanya hadir ketika ujian akan digelar? Lalu apa yang akan kita jawab nanti jika mungkin suatu saat timbul pertanyaan dari mereka tantang siapa nama dosen  yang mengajar ini atau itu? Inilah yang harus kita sadari dan selalu menjadi ingatan kita bahwa kegiatan seorang mahasiswa adalah menghadiri kuliah. Lain halnya jika seorang pengangguran kerjanya ya cukup duduk-duduk dirumah saja.

Namun kadangkala banyak diantara kita yang masih menyia-nyiakan keberadaan kita di Kairo ini dengan merasa bisa tetap mendapatkan ilmu walau tanpa hadir kuliah. Padahal tujuan awal kita semua kesini adalah untuk kuliah. Memang tidak ada salahnya berkecimpung dalam aktifitas lain di luar aktifitas kuliah, tapi dengan berbagai kesibukan ekskul tersebut bukan berarti kita meninggalkan bangku kuliah sama sekali.

Betapa banyak manfaat yang bisa kita dapatkan jika hadir kuliah. Yang pasti kita bisa menimba ilmu dari para duktur Al-Azhar yang jelas lebih dalam mempelajari agama di bandingkan kita. Kita bisa belajar bagaimana cara seorang duktur menjelaskan tentang agama ini yang mungkin bisa kita gunakan untuk menyebar dakwah di negara kita nanti. Hendaknya kita jangan pernah merasa puas hanya memahami muqarrar dengan membaca sendiri di rumah. Masih banyak pelajaran-pelajaran di luar muqarrar yang bisa kita dapatkan jika bertemu langsung dengan para duktur. Banyak hal-hal baru yang disampaikan ketika muhadharah yang pasti kita butuhkan nanti jika kembali ke tanah air.

Mudah-mudahan ke depan kita bisa benar-benar mengisi hari-hari kuliah dengan mengikuti muhadharah dan bisa menimba ilmu langsung dari ahlinya.

Tulisan singkat ini hanya sebuah alarm bagi penulis pribadi dan kita semua yang mungkin kadang terlupa atau membiarkan diri untuk lupa dengan tujuan awal kita kesini. Lalu berpuas hati hanya dengan membaca muqarrar di rumah dan hanya hadir kuliah jika ujian saja. Wallahu A’lam bi as-Shawab ^_^

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

Karma

25 November 2010 at 9:35 am | Posted in AKHLAK, Gen 6, SASTRA, UKHUWAH | Leave a comment

By: Fitri Shabrina Lc.

“Tingtong…tingtong..tingtong…” Suara-suara itu kembali memenuhi gandang telingaku. Baru saja aku mau menggamit al-Quran kesayanganku, belpun berbunyi lagi. Huuh.. bayangkan! Aku sebelumnya sudah membuka pintu dua kali berturut-turut. Masa harus aku lagi yang buka? “Nyebelin banget” gerutuku dalam hati. “Pokoknya aku gak mau buakain pintu lagii…!”  teriakku dari kamar. Ku gapai Quran biru yang dari tadi kucuekin, dan terus ku baca. “Tingtong…tingtong..tingtong…” belpun berbunyi lagi. Lalu, hening…hatiku mulai gelisah. Kenapa sih penghuni kamar-kamar sebelah gak ada yang mau bukain? Yang mau masuk juga, kenapa gak bawa kunci sih!

“Tingtong…tingtong..tingtong..” Akupun melangkah setengah hati menuju pintu. Segera kubuka, dan kulihat wajah letih menyembul di balik sana. Seburat tampang manyun plus kesal menghiasi wajah Itoh. “Pulang kuliah ya?’ Tanyaku basa basi. Kupun kembali kekamar melanjutkan kegiatanku yang hampir saja tak jadi terlaksana.

***

“Kriing..kriing..” Sekarang giliran telfon yang beraksi. Rasanya hidupku ini selalu dipenuhi suara-suara  aneh itu. Sebenarnya, kalo ada yang ngangkat sih gak masalah. Yang nyebelin itu gak ada satupun yang mau ngangkat karna semua pada sibuk di kamar masing-masing, seolah gak denger bunyi apa-apa. Tapi anehnya, pas lagi ngebet-ngebetnya ngangkap telpon, semuanya pada nyerbu bak pengungsi ngejar bantuan mie instant.

“Aku gak mau terus-terusan ngalah jadi relawan gagang telpon ama gagang pintu” kataku dalam hati sembari terus mengaduk oseng-oseng. “Kriing..kriing..kring..” Si telpon bunyi lagi setelah diam sesaat.  Sejenak ku lirik telpon yang nampaknya sudah letih menjerit melaksanakan tugasnya. Gak mau… Masa mesti aku lagi yang ngangkat? Aku jadi ingat kejadian kemarin.

Pas telpon gak ada yang ngangkat, aku buru-buru keluar kamar mandi menimbang perasaan si penelpon. Yang bikin aku sebel, si Sasa yang asyik makan disamping meja telpon. Seolah punya pertemuan penting sama sepiring nasi dan gak bisa diganggu.. “Eh.. bunyi ya..” selorohnya garing. Yang bikin aku mumet lagi, telponnya buat dia lagi. “Aduhh…Sa,tau begini mah aku gak mesti bela-belain keluar hammam” celotehku. “Maallisy deh Fi..” jawabnya singkat.

Please dong yang merasa punya kepentingan supaya peka ama tuh telpon. Kuteruskan motong-motong sabaneh. Bayangkan sodara-sodara. Padahal jarak dapur ama telpon Cuma dua langkah. Namun…”Kriing..kriing….” Akhirnya egoku mulai luluh. Siapa tau orang itu punya urusan penting” pikirku. Kupun melangkah menuju sumber suara.

Ketika jarak antara tanganku dan telpon tinggal 3 senti…”Tunggu Fi, biar aku aja yang ngangkat. Kayaknya dari Ramen deh.” Ujar Mia di pintu kamar. “Aduuh.. kok gak dari tadi neng” gerutuku. “Aku kan gak perlu perang batin gini ” sambungku dalam hati””

Beginilah nasib telpon sama bel di rumahku. Kalo salah satunya udah mulai unjuk gigi, rumah ini seolah gak ada penghuninya lagi. Semua hening…Semua pada cuek, apalagi aku. Sejak kejadian-kejadian itu aku jadi orang paling anti ngangkat telpon ama bukain pintu.  Jadi, kalo mau masuk rumah, mesti bawa kunci. Atau sebelum keluar pesen gini dulu,” Nanti bukain pintu ya…”

***

Panasnya hari ini gak seperti biasanya. Sinar raja siang yang menggarang ditambah badai pasir membuat ku sesak nafas “Buurrr…” angin  plus semburan debu menerpa tubuhku. Segera ku tempelkan sapu tangan ke mukaku untuk menyaring udara yang akan masuk keparu-paruku. Lima menitr.. sepuluh menit…tiga puluh menit.. Ahh… Sudah setengah jam lewat aku menunggu di sini. Namun bus-bus itu belum juga datang. Allah… Aku bener-benar lemas. Tenggorokan ini terasa kering, sekering kuliku yang yang terbakar matahari. Aku ingin cepat-cepat pulang, meminum sebotol air yang sudah dari tadi pagi aku dinginkan di kulkas. Kemudian merebahkan diri di kasur yang empuk sembari menikmati lembutnya hembusan kipas angin.

Akhirnya bus 939 melongok dari simpang Nurul Khitab.  ” Alhamdulillah.. busku sayangku…cintaku…akhirnya kamu datang juga” bisikku setengah meringis.  Kulambaikan tanganku , dan segera ku naik. Subhanallah… Sangat penuh dan sesak. Bak sarden teri yang ditabur bubuk merica, tubuhku pun meringkik di sela-sela himpitan ikan Salmon. Sabar… Aku harus bertahan

“Mutsallas ma”ek!” Teriakku khas dengan logat mesirku yang gak mirip-mirip amat. Aku menyerobot menyibak dempetan manusia untuk bergerak keluar.  Alhamdulillah… Aku sedikit plong. Ku paksakan langkah gontai ini menuju rumah. Perutku mulai menghentak-hentak kelaparan. Dahaga inipun begitu juga.  Sang panas dan debupun terus berlomba-lomba menerpa tubuhku. Namun tak aku hiraukan. Yang penting sampai rumah terlebih dahulu. Ku paculangkah seribu

“Satu..Dua.. Tiga sembilan…empat puluh..” Akupun telah berada di lantai dua, di depan pintu yang sudah tak sabar lagi kusibak. Kurogoh tasku mencari-cari kunci. Hah.. tak ada! Kembali kubongkar semua isi tasku. Benar-benar tak ada.. Terpaksa ku pencet bel yang selama ini tak kuhiraukan. Berkali-kali kupencet, tak kunjung ada yang menggerakkn gagang pintu di balik sana. Lima menit..sebelas menit…setengah jam. Aku tertuduk lemas. Bukankan Yuni dan Itoh udah dari jam sebelas tadi pulang? Tanyaku dalam hati. Kupun merai Hp mungilku, dan mendial “Baiti jannati”. Hasinya tetap nihil. Allah… Sepertinya ini karma” bisikku. Akupun lunglai di depan pintu

Mendayagunakan liburan musim panas agar ia tak terbuang percuma

2 August 2010 at 5:34 pm | Posted in AKHLAK, MOTIVASI | Leave a comment
Tags: , ,

oleh: Feni Elfienti

Sangatlah tepat membiacakan musim panas yang kita laluii saat ini. Panasnya terasa begitu menyengat ke tulang belulang kita. Sebagai mahasiswa yang mempunyai segudang acara dan seabrek kegiatan pasti kita jadi serba salah karna panas. Bahkan tak jarang udara yang begitu menyengat menjadi alasan dan justifikasi untuk membatalkan agenda yang telah direncanakan.


Sebenarnya, kita patut bersyukur dengan adanya  musim panas sebagai anugrah dari Alalh. Toh di akhirat nanti, di Padang Mahsyar kita akan merasakan panas yang lebih dahsyat hingga ke ubun-ubun. Sedikitpun tak ada bandingannya dengan musim panas di dunia ini.

Musim panas tahun ini dan pasca imtihan yang baru saja berlalu,hendaknya tidak dihabiskan dengan hal-hal tak bermanfaat. Selayaknya kita membuat planning yang efisien agar liburan ini tidak sia-sia, namun menjadi ajang pesta menuntut ilmu bagi kita di bumi para Nabi ini. Saking pentingnya pemanfaatan waktu, Allah telah bersumpah tentang waktu, salah satunya: “Demi Masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-oragng yang beriman dan meralam shaleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati dalam kesabaran. (Surah Al-Ashr: 1-3).

Natijah yang baru saja turun, bagaimanapun harus disyukuri, jika hasilnya bagus, jangan dulu terlena dan merasa puas. Tetapi harus berusaha meningkatkanya di masa datang, begitu juga kalau hasilnya masih mengecewakan, don’t be sad…banyak-banyaklah introspeksi diri dan berbaik sangkalah kepada Allah. Mungkin usaha kita masih kurangd an butuh kerja keras yang lebih giat lagi. Yang pasti janga berputus asa. Allah berfirman: “boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. (Surah Al-Baqarah: 216).

Jadi, walaubagaimanapun natijah yang didapat, liburan musim panas tetap harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Banyak hal positif yang bisa kita lalukan untuk peningkatan kualitas diri kita. Seperti:

1. Menghafal Al-Quran

Sebagai penuntut ilmu syar’I di Universitas Al-Azhar, tentunya kita senantiasa bergelut dengan dalil-dalil Al-Quran. Apalagi tiap tahun kuliah membebankan hafalan 2 juz Al-Quran. Ini tentu saja harus memacu semangat kita untuk lebih meningkatkan hafalan Al-Quran. Bukan hanya sesuai beban mata kuliah saja tapi hendaknya bisa sampai hafal 30 Juz Al-Quran lengkap dengan sanad resmi dari Syekh Hafiz.

2. Membaca Muqarrar (diktat kuliah)

Selesai imtihan bukan berarti muqarrar dicampakkan atau ditumpuk dalam lemari saja. Sebaiknya dibaca kembali dan dimuthala’ah lagi bagian-bagian yang belum dipahami. Atau bisa jadi membaca muqarrar kakak kelas, setidaknya untuk mendapat gambaran umum tetang pelajaran yang dibahas tahun depan, meskipun nanti buku muqarrarnya akan berbeda.

3. Membaca buku-buku bermanfaat.

Mesir sebagai gudang ilmu Islam memproduksi banyak sekali buku-buku berwawasan kesilaman. Sangat rugi jika kita tidak memanfaatkannya. Rata-rata masisir punya perpustakaan pribadi, dan kita bisa mulai membaca buku-buku kita yang belum disentuh lagi sejak pertama kali beli, atau bisa meminjam buku dari perpustakaan pribadi kawan. Perpustakaan kampus dan perpustakaan PMIK di Wisma Nusantara juga pilihan terbaik untuk menambah pengetahuan.

4. Mengikuti halaqah-halaqah ilmiah.

Sudah jadi kebiasan mesjid-mesjid di Mesir mengadakan halaqah ilmiah, Jika kita ke mesjid Al-Azhar, tertampang jadwal talaqqi dengan para Syekh yang bisa diikuti. Baik materi umum atau khusus yang berkaiatan dengan bidang ilmu tertentu seperti tafsir, hadis, fiqh, nahwu dan lain-lain.

5. Mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Masisir

Liburan musim panas bagaikan pesta kegiatan bagi organisasi-organisasi mahasiswa yang ada di Mesir. Mulai dari PPMI dan Wihdah, organisasi kekeluargaan, almamater dan bahkan acara-acara yang diadakan KBRI Mesir. Tentunya kita harus bijak memilih acara yang sesuai.

Sedangkan hal-hal negatif yang seharusnya dihindari adalah:

1. Kebiasaan begadang dan tidur pagi

Gara-gara udara panas, jadi banyak orang –juga sebagian masyarakat mesir – begadang hingga subuh, lalu tidur setelah shalat subuh sampai zuhur. Hal ini seharusnya tidak dijadikan kebiasaan.

2. Terlalu banyak rihlah

Mesir merupakan negeri eksotis yang menyimpan sejarah peradaban, mulai dari zaman kuno hingga zaman Islam. Sangat banyak tempat wisata pelepas lelah pasca imtihan. Namun, tidak baik jika terlalu bayak jalan-jalan dalam jangka waktu yang berdekatan.

3. Sibuk Tak Menentu (STM)

Ini terjadi jika kita tak punya agenda jelas untuk mengisi liburan, sehingga bingung akan melakukan apa. Lalu larut dalam kegiatan-kegiatan tidak penting dan tidak bermanfaat dalam peningkatan kualitas diri.

Terakhir, penulis berharap kita mampu bijaksana memberdayakan liburan musim panas ini. Alangkah menyedihkan rasanya, ketika malam menjelang tak sedikitpun ilmu dan manfaat yang bisa kita petik pada hari itu. Wallahu A’lam.

MUSLIMAH DAN FASHION

10 July 2010 at 4:24 pm | Posted in AKHLAK, AL-QURAN, Gen 5, MOTIVASI | 2 Comments
Tags: , , , ,

Oleh: Reni Rahmawati

lslam  tidak  melarang  wanita menghias  diri,  berdandan  rapi  dan berpenampilan  anggun,  tetapi  semuanya itu juga  harus  disertai  dengan  niat  untuk beribadah  dan  jangan  sampai menimbulkan  fitnah. Wanita muslimah mestinya  merasa  sedang  melakukan ibadah manakala  ia mengenakan  busana muslimah.

Dalam  beribadah,  kita sebenarnya  berhadapan  dengan  Tuhan, bukan  dengan  yang  lainnya,  maka keikhlasan,  ketabahan  dan  kesabaran dengan  niat  yang  teguh  untuk melaksanakan  perintah Tuhan  itulah yang menjadi pokok utama. Bisa  saja  di  suatu  ketika, pemakai  busana  muslimah  mendapat tantangan,  fitnah  atau  bahkan  sindiran dari  lingkungan sendiri, tapi haruskah  kita lemah  dengan meninggalkan busana khas kita?

Kita  harus  bisa  menghibur  diri bahwa  tantangan  itu  ada  di  mana-mana. Setiap manusia yang  hidup harus  berani menghadapi  tantangan. Untuk  sukses seseorang  harus  akrab  dengan  tantangan, karena  memang  tantangan  itu  lahir  tidak untuk hanya  ditakuti atau dihindari, tetapi juga  untuk diatasi. Kebiasaan orang  yang lari  dari  tantangan  adalah  perbuatan keliru,  karena  kita  bisa  menghindar  dari suatu  tantangan  namun  itu  hanya  untuk menemui  tantangan  baru  yang  belum tentu  lebih  ringan  Jadi  yang  penting adalah,  bagaimana mengatasi tantangan dan  memperkecil  resiko,  bukan menghindarinya.

Prinsip  berbusana negara  kita  menganggap pakaian  wanita  lslam  dengan  sebutan “Busana  Muslimah’ . Mode  pakaian  yang muncul  dewasa  ini  berbeda-beda tergantung  selera  masing-masing  Mode pakaian  pakaian  bisa berubah  dari waktu ke  waktu,  kemudian  menjadi  trend  yang terus  berkembang. Beragam mode,  corak dan warna  busana muslimah begitu  indah dipandang  mata.  Berbagai  pasar  dan pusat perbelanjaan yang merupakan mata rantai  dari  busana  ini  juga jenis menyediakan  keleluasaan  memilih  bagi para  muslimah,  dengan  begitu  banyak mode yang mereka lawarkan.

Dari  sekian  mode  itu,  tidak semua yang masuk ‘kriteria’.  Karena ada sebagian  busana  muslimah  lebih memfokuskan pada mode dan gaya tanpa memperhatikan  cara  berbusana sebagaimana  yang  telah  diajarkan  dalam lslam. Permasalahan yang timbul, apakah kita  mau  ditakluKkan  dengan  mode  yang berkembang  saat  ini  tanpa  memikirkan apa  esensi  pakaian  yang  bernafaskan takwa bagi muslimah? Aneka  pilihan  busana  muslimah saat  ini  membuka  para ialan  bagi muslimah  untuk  tampil  lebih  gaya  dan modis. Tentunya kita memilih bukan gaya yang berlebihan dan  berkonolasi negatif . Namun, langkah  seorang  muslim  dan muslimah  harus seiring dan  sejalan dengan  tuntunan al-Qur’an Hadis yang mulia. Jadi  tidak sekedar  tampil  gaya, kitapun  harus memperhatikan  busana dan  cara  berbusana seperti  yang diajarkan dalam  lslam-  Allah berfirman dalam surat al-A’raf  ayat26:

Wahai anak  cucu Adam!, sesungguhnya  Kami telah  menyediakan pakaian untuk menutupi  auratmu  dan untuk  perhiasan bagimu. Tetapi  pakaian takwa,  itulah  yang  lebih baik. Demikianlah sebagian  tanda-tanda kekuasaan  Allah,  mudah-mudahan  mereka  ingat“.

lbnu  Katsir  dalam  tafsirnya memaparkan  bahwa  dari  ayat  tersebut ada  kata  اللباس  dan  الريش,  dua  kata  ini mempunyai arti yang sama yaitu pakaian. Namun  keduanya  berbeda  dari  segi fungsi. Berdasarkan  ayat  di  atas  اللباس  berfungsi  untuk menutup  aurat. Ini adalah fungsi  utama  pakaian,  sedangkan  الريش berfungsi  sebagai  perhiasan,  pelengkap atau tambahan. Jadi pakaian memiliki  dua fungsi: pertama,  untuk  menutupi  aurat,  dan fungsi  kedua  sebagai  penghias  atau pelengkap dan tambahan. Dalam  hal  ini  fungsi  pertama dalam  pakaian  merupakan  sesuatu  yang bersifat  esensial,  sedangkan  fungsi kedua,  bisa  dikatakan  sah,  telah jika memenuhi kriteria  fungsi utama. Untuk  itu,  yang  perlu diperhatikan dalam  berbusana muslimah adalah:

1. Menutupi  seluruh  tubuh selain  yang  dikecualikan. Pendapat  ulama yang paling kuat  tentang bagian  tubuh  yang dikecualikan  dan boleh terlihat  adalah  muka dan telapak tangan.

2. Memakai  kerudung sampai dada.

Ketentuan ini merujuk pada  al-Qur’an surat  an-Nur  ayat  31  :

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,mdan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,

Juga pada surat al-Ahzab ayat 59:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Dengan  demikian  kriteria  kerudung yang sesuai  dengan  ayat-ayat  di atas adalah  menutup  rambut,  leher  sampai ke dada.  Bukan  hanya  menutup  rambut sampai leher saja!

3. Tidak  tipis  sehingga  terlihat  kulit  dan lekukan  tubuhnya. Dalam  sebuah hadis yang  diriwayatkan imam  Ahmad,  Rasulullah  pernah memberi  Usamah  bin  Zaid  qubthiya (pakaian  dari  katun  tipis)  yang  kasar, tetapi Usamah  tidak  memakai  dan  ia memberikan  pada  istrinya,  Nabi  Saw bersabda:  “Suruhlah  ia  memakai rangkapan  (puring)  di  dalamnya,  agar tidak lerlihat lekuk-lekuk  tulangnya“.

4. Tidak  ketat sehingga tidak  tergambar jelas bentuk  tubuhnya. Busana  ketat  walau  lidak  tipis  akan memperlihatkan tubuh wanila meskipun berpakaian  dan  menutup  rambut. Busana  model  ini  akan  lebih membangkitkan  syahwat  sehingga menimbulkan  semangat  erotis  bagi yang  memandangnya  dan juga mengundang fitnah. Dalam  hadis  yang  diriwayatkan  imam Muslim  disebutkan  bahwa wanita  yang mengenakan  busana  seperti  ini  kelak tidak  akan  masuk  surga  bahkan mencium bau surga pun tak bisa.

5. Tidak dimaksudkan untuk pamer atas menarik perhatian  laki-laki. Wangi  parfum  yang  berlebihan  dan gaya  berjalan  yang  dibuat-buat  dapat menarik  perhatian  laki-laki  dan  bisa menimbulkan  fantasi  yang  seronok. Karenanya  harus  dihindari agar  tujuan memakai busana muslimah yaitu untuk melindungi  muslimah  itu  sendiri tercapai. Prinsip  kesederhanaan tercakup  di  sini,  maksudnya  harus dihindari  gaya busana dan hiasan yang berlebihan  supaya  tidak  menarik perhatian yang tidak semestinya.

6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki dan pakaian wanita-wanita kafir.


Dan  perlu  diketahui  lagi  bahwa pakaian  takwa  bagi  muslimah mengandung unsur sebagai berikut:

  1. Menjauhkan wanita dari gangguan  laki-laki  jahil atau nakal
  2. Membedakan antara wanita yang berakhlak  terpuji  dengan  wanita  yang berkepribadian  tercela
  3. Menghindari  timbulnya  fitnah  seksual bagi kaum pria
  4. Memelihara  kesucian  agama  wanita yang mengenakanannya

Dan  juga  wanita  berbusana muslimah  yang  sepantasnya  secara psikologis  mampu  menanamkan  pada dirinya sikap taat  adil, jujur,  terus  terang dan  kokoh  memegang  prinsip  sehingga akan menimbulkan rasa segan bagi siapa saja  yang  berinteraksi  dan  bergaul dengannya. Sehingga  dengan pakaian mengenakan  muslimah  bisa membangun  citra  dirinya  sebagai wanita muslimah.

Wahai  saudariku!,  tahukah  kita bahwa  pada  waktu  Rasulullah  Saw melaksanakan  lsra Mi’raj, sewaktu Beliau melewati  neraka,  kebanyakan  di dalamnya adalah wanita yang berpakaian api telanjang, na’uzubillah min dzalik. Marilah  kita  memperbaiki enampilan  diri  kita  dan  menjadi  wanita muslimah  yang  selalu  diridhai  Allah karena ‘pakaian takwa’  adalah  pakaian sempurna. Semoga  Allah  selalu melindungi kita dan wanita yang memakai pakaian takwa  tidak akan  dijilat tubuhnya oleh  api  neraka  yang  sangat  panasnya. Amin  Ya Rabb

*Pernah diterbitkan Buletin Almakki edisi VII

Peran Istri, Berat Tapi Menjanjikan

20 June 2010 at 8:26 pm | Posted in AKHLAK, AL-QURAN, Gen 7, hadis, KELUARGA, MOTIVASI | 2 Comments
Tags: , , , ,

oleh: Rahmayanti

Hari itu, seorang wanita menemui Rasulullah, Tiba di hadapan beliau ia berkata: “Ya Rasulullah, saya ini utusan kaum wanita, saya bermaksud menanyakan perihal jihad fi sabilillah. Allah mewajibkannya kepada kaum pria, kaum pra memperoleh pahala yang besar karenanya, bila syahid, ia tetap hidup di sisi Allah. kami kaum wanita juga ingin mendapatkan keutamaan seperti itu, maksud saya apa bagian wanita dalam jihad?” Rasulullah pun menjawab: “Sampaikanlah pesanku ini kepada semua wanita yang engkau temui, sesungguhnya mentaati dan mengakui hak-hak suami pahalanya sepadan dengan jihad, namun hanya sedikit wanita yang mengamalkan itu“.

Siapa yang tidak kenal sosok wanita luar biasa seperti Khadijah? Siapa tak kagum dengan wanita semulia Aisyah, seagung Fatimah dan sederet sosok teladan yang dikenang sepanjang sejarah. Mereka sukses memainkan peran baik sebagai hamba Allah, anak, istri, ibu dan da’iyah. Begitu mulia, begitu tulus, sedemikian ikhlas. Semua aktifitas dicover dengan sempurna dengan tujuan meraih ridha-Nya. Mereka yang kehadirannya merubah panas menjadi sejuk, dingin menjadi hangat, sumpek menjadi lapang dan sedih menjadi gembira. Keteladanan mereka mencakup ketaatan kepada Allah, kuatya shalat malam, khusyuknya berzikir, kesetiaan yang luar biasa kepada sami, kecintaan dan perhatian kepada anak-anak serta semangat menuntut ilmu dan menyebarluaskannya.

Istri memainkan peranan yang sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan rumah tangga. Kemampuan seorang istri menciptakan atmosfer keluarga yang tentram, damai, aman dan penuh kasih sayang merupakan tugas yang sangat berat sekaligus paling mulia. Sehingga tidak salah jika Rasulullah menyebutnya sepadan dengan jihad di jalan Allah. Sungguh, ini merupakan penghargaan yang sangat besar bagi wanita.


Keluarga merupakan komponen terkecil sebuah negara, dan peran wanita di dalamnya sungguh tak tergantikan. Bahkan mungkin tak berlebihan jika kita mengatakan bahwa masa depan generasi suatu bangsa berada dalam genggaman lembut tangan wanita. Tanggung jawab dalam keluarga tak boleh terabaikan dengan alasan apapun. Sungguh sangat menarik sekali apa yang disampaikan seorang anak yang telah hafal al-Quran kala usianya baru menginjak 7 tahun, ditanya siapa yang membantu, mendorong dan menyemangatinya dengan gigih hingga ia bisa jadi hafiz. Ia menjawab: “Ummi, ibuku yang melakukannya”.

Peran besar seorang wanita tentu bukan hanya itu saja. Sebab, setiap peran besar, memerlukan modal besar pula, berupa ilmu dan kesungguhan. Itulah wasilah yang utama, karena keidahnya: Ma La Yatimmu al-Wajib Illa Bihi Fahuwa Wajib (sesuatu yang tidak sempurna sebuah perkara wajib kecuali dengan menyempurkakannya, maka ia pun wajib). Sehingga, jadilah menuntut ilmu bagi seorang wanita merupakan kewajiban mendasar agar dapat memikul peran mulianya dengan sempurna. Tidak mungkin seseorang mampu memberi jika ia tidak memiliki. Bagaimana mungkin seorang wanita mampu berkhidmah kepada keluarga, masyarakat bahkan bangsanya jika ia tidak mempunyai ilmu apa-apa.

Mari kita lihat lebih dekat pada kehidupan kita sebagai mahasiswi.  Bagi yang sudah berkeluarga, kedua peran ini dijalankan sekaligus, menuntut ilmu dan menjadi istri dan ibu dalam rumah tangga. Sebenarnya keduanya dapat seiring sejalan, karena dengan menyempurnakan “separuh agama” tentu hati menjadi lebih tenang dan lebih konsentrasi menyerap ilmu pengetahuan. Meskipun tugas rumah tangga tetap membutuhkan keikhlasan dan kesungguhan menjalani peran ganda. Namun semua itu semakin membuka lebar jalan menuju syurga.

Betapa tidak, Rasulullah menyatakan bahwa seorang yang menempuh jalan menuntut ilmu akan Allah mudahkan baginya jalan menuju syurga. Dalam kesempatan lain Rasulullah juga bersabda bahwa jika seorang wanita melaksanakan shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, menjaga kehormatan dan suaminya redha terhadapnya, maka dia boleh masuk syurga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. Subhanallah…!

Mari kita telusuri sejenak, berawal dari niat karena Allah menilai amalan hamba-Nya dari niat mereka melakukannya. Rasulullah bersabda: “sesungguhnya setiap amal tergantung niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkannya.” Jika kita menikah dengan tujuan meggapai ridha Allah dan menjaga diri –meskipun kita belum begitu yakin mampukah menyempurnakan semua kewajiban yang menanti , bisakah bijak membagi waktu dan berbagai kekhawatiran lain– tetapi Allah jualah yang akan melapangkan jalan dan memberi kekuatan dan kebijaksanaan dengan kekuasaan-Nya. Banyak cara bagi Allah untuk membaguskan hamba-Nya dan meninggikan derjatnya karena niatnya. Selanjutnya tergantung semangat dan keistiqamahan kita menjalani itu semua.

Niat dalam istilah Psikologi dikenal dengan motivasi. Inilah sesungguhnya kekuatan dahsyat yang mampu menjadikan seseorang tegar dalam menghadapi setiap episode kehidupannya. Umpama seorang pendaki yang berniat menaklukkan puncak gunung yang terjal. Segala tanjakan dan jalan setapak yang dikelilingi tebih curam dan jurang menganga dijadikannya sebagai tantangan, karena niat sudah terpancang. Ia pantang mundur, kesulitan sebesar apapun akan tetap dihadapi. Semakin berat mdan yang akan dilalui semakin semangat untuk menaklukkannya. Dan jika ia berhasil, kepuasan tiada tara akan diraihnya. Kita juga seperti itu dalam mengarungi kehidupan ini. Dan balasan yang dijanjikan di puncak sana jauh lebih indah yaitu syurga-Nya. Maka, menuntut ilmu dan berkhidmah untuk keluarga denga ikhlas adalah tantangan yang bernilai ibadah di sisi-Nya.

Jadi, sudah saatnyalah kita mengevalusi kembali diri sendiri dan memperkokoh biduk yang ditumpangi untuk mengarungi samudra luas yang penuh rintangan. Waktunya memperbanyak kembali bekal karena perjalanan masih teramat panjang. Disamping terus mengikhlaskan diri melakukan yang terbaik, karena para malaikat tak pernah luput mencatat setiap gerak yang kita lakukan. Wallahu A’lam

*Mahasiswi Jur. Syariah Univ Al-Azhar Kairo

FALSAFAH KELAPA

10 June 2010 at 3:57 pm | Posted in AKHLAK, Gen 4, hadis, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

Oleh: Lira Erlina Lc.

Allah menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al-Quran surat An-Nahl: 11).


Fenomena kehidupan manusia penuh dengan hikmah dan pelajaran. Semua yang diciptakan Allah – di langit dan di bumi – bisa diambil hikmah yang bermanfaat. Allah tidak menciptakan sesuatu hanya untuk menghiasi langit dan bumi saja, melainkan selalu ada hikmah di baliknya, berupa manfaat yang kembali pada manusia dan makhluk itu sendiri.

Pohon kelapa termasuk jenis tumbuhan yang hidup di pantai dan di ketinggian 900 m dari permukaan laut. Tinginya 10 -14 m, tidak bercabang. Daunnya bersirip genap dengan panjang 2-3 m. buahnya berbungkus serabut tebal berdiameter 25 cm, berisi air dan daging. Pohon ini ternyata memilihi begitu banyak manfaat.


Pohon kelapa adalah pohon kehidupan bagi sebagian besar masyarakat. Semua bagian dari pohon tersebut dapat dianfaatkan sehingga bisa menjadi sumber kehidupan dan mata pencaharian. Mulai dari buah, daun, pelepah, tempurung, batang bahkan akarnya bisa berguna. Maha suci Allah yang menciptakannya.

Air kelapa tidak saja pelepas haus dan dahaga, tapi juga punya nilai gizi yang tinggi. Ia kaya akan potasium (kalium), mineral, gula dan protein. Dengan komposisi gizi yang demikian, air kelapa dapat digunakan sebagai bahan baku produk pangan dan obat-obatan.

Dagingnya mengandung karbohidrat sederhana seperti glukosa, sukrosa, dan frukosa. Selain itu juga mengandung lemak protein, lemak, vitamin dan minyak yang banyak digunakan sebagai bahan makanan. Tempurung dan serabutnya dijadikan bahan kerajinan tangan atau cendera mata yang kini banyak diekspor ke manca negara. Daunnya pun serba guna. Bisa dijadikan ketupat, jahur penghias di akla pesta atau sekedar bahan bakar bagi ibu rumah tangga yang ingin masakan nasinya enak. Sedangkan lidinya bisa dijadikan sapu. Batangnya digunakan untuk keperluan rumah dan jembatan. Terkadang digunakan untuk membuat rumah tradisional modern. Dan banyak lagi manfaat pohon kelapa ini sebagai salah satu ciptaan Allah agar kita memikirkan tanda-tanda kekuasan-Nya.

Maha Suci Allah, segala ciptaan-Nya pasti mempunyai manfaat yang besar bagi kita. Lalu, apa yang telah kita berikan dengan manfaat itu? Kalau kita bermuhasabah dan membandingkan diri kita dengan ciptaan Allah yang ada, dimanakah posisi kita? Sudah mampukah kita mencontoh pohon kelapa yang kesemua bagiannya dapat dimanfaatkan? Apakah kita telah menjadi manusia yag tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri tapi juga orang lain?

Falsafah kelapa adalah ilmu bagi orang yang beriman. Sedangkan iman dan ilmu itu bersaudara dekat. Iman akan terus langgeng jika selalu dipupuk dengan ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah shalalalhu alaihi wasalam: “Jika Allah menghendaki kebaikan para seseorang maka Ia menjadikan hamba tersebut mendalam pemahamannya dalam agama” (HR Bukhari-Muslim).

Jadi marilah kita menjadikan hari-hari kita menjadi hari-hari yang penuh manfaat akan kita juga semakin bermanfaat bagi ummat. Wallahu A’lam.

Insan Super: Baik dan Bermanfaat

9 May 2010 at 11:58 am | Posted in AKHLAK, Gen 9, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

Oleh: Lina Rizqi Utami

Pendahuluan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خير الناس أنفعهم لناس

Beranjak dari hadits tersebut dapat kita ceritakan kandungan yang terkait dengan sesuatu yang super, baik dan bermanfaat. Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Keanekaragaman yang membuat manusia saling bergantung. Melengkapi kekurangan dengan kelebihan, menghapus kejelekan dengan kebaikan. Keterkaitan yang dimiliki manusia menjadikan kita tak dapat hidup sendiri. Garis horizontal yang menghubungkan satu dengan yang lainnya diikat oleh rumpun dialek masing masing ras serta budaya dan latar belakang akhlak yang berwarna warni. Ikatan ini difilter oleh Islam dalam aturan-aturannya yang tersusun raai baik itu terkait individu maupun sosial. Dengan adanya aturan tersebut tidak membuat perbedaan menjadi penghalang. Manusia dapat saling tolong menolong  dan pastinya setiap dorongan untuk berbuat kebaikan akan dibalasi pahala oleh Allah swt.

Manusia Baik, Manusia Manfaat

Cerminan dari realita yang terjadi pada saat sekarang menggambarkan bayangan hidup yang serba individulis, saling tidak peduli, krisis kebaikan, minim tata karma, terutama para remaja yang saat ini huru hara mereka sangat meresahkan ummat, begitu juga masyarkat yang terkadang kita dapati mereka saling benci dan mencaci, bahkan terhadap tetangga tak ada lagi rasa peka sosial, padahal baginda Rasulullah saw telah bersabda :

عن ابى هريرة رضى الله عنه قا ل , أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : من كان يؤمن با لله واليوم الأخر فليقل خيرا أو ليصمت , ومن كان يؤمن با لله واليوم الأخر فليكرم جاره , و ومن كان يؤمن با لله واليوم الأخر فليكرم ضيفه

(رواه البخارى و مسلم)

Dari hadits diatas menjelaskan bagaimana bergaul antara sesama, adab terhadap diri sendiri yang tidak boleh berbicara sembarangan, maka kita dituntut lebih baik diam, adab terhadap tetangga untuk saling menghormati dan menghargai, dan adab terhadap tamu untuk memuliakannya. Hal ini telah diatur semua oleh islam dalam seluruh tatanan kehidupan supaya hidup lebih teratur terutama dalam segi hubungan sosial. Setiap personal dituntut untuk melakukan kebaikan dan pastinya Allah pun akan memberi doorprize terhadap kebaikan yang telah kita lakukan. Allah swt berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 110 :

….وما تقدموا لأنفسكم من خير تجدوه عند الله, إن الله بما تعملون بصير

“…dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan  mendapatkan pahala disisi Allah. Sungguh Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Setiap kesalahan manusia akan dihapus dengan tobat, dan tobat itu merupakan pertanda baik yang datangnya dari Allah, karena Allah telah membungkus satu paket kebaikan beserta imbalannya yang dituntut dari hal yang paling kecil sampai hal hal yang menyangkut masalah ummat. Allah swt berfirman dalam surah Ali Imran

ayat 104:

ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير و يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر, وأولئك هم المفلحون.

Motivasi yang diberi oleh Allah sangat banyak untuk melakukan kebaikan, dan semua perintah untuk berbuat baik itu telah lengkap di dalam Al Qur’an baik terhadap individu maupun social. Diantaranya Allah menyeru untuk bersegera dalam melakukan kebaikan, mendamaikan kepada yang saling berseteru, jujur, berkata baik, istiqomah, memenej hati, saling memaafkan, berkasih sayang antar sesama, bertoleransi, menjaga harga diri, menundukkan pandangan, seimbang dalam setiap urusan, syukur nikmat, sabar, tawadhu, menepati janji, dan menjaga kebersihan. Semua kebaikan inilah yang akan menghapus kelakuan jelek dan kejahatan yang banyak terjadi. Baginda Rasulullah saw bersabda dalam hal ini :

إتق الله حيثما كنت و أتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن

(رواه أحمد و الترمذى)

Jika ada kesalahan yang terjadi, janganlah ditutupi, apalagi kesalahan itu merugikan masyarakat, bahkan jika kita sendiri pelakunya atau keluarga, maka haruslah diberi sanksi, Allah swt berfirman

يأيها الذين امنو كونوا قوامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين , إن يكن غنيا أو فقيرا فالله أولى بها, فلا تتبعوا الهوى إن تعدلوا و ان تلووا او تعرضوا فإن الله كان بما تعملون خبيرا

Kebaikan itu datangnya dari diri sendiri, maka pastinya setiap kebaikan itu akan mendatangkan manfaat bagi orang lain, Allah swt berfirman dalam surah Taha ayat 72 :

…فاقضما انت قاض, إنما تقض هذه الحيوة الدنيا

… maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan, sesungguhnya engkau yang dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini.

Mengutamakan kepentingan orang lain  adalah suatu kebaikan yang dilakukan seseorang, hal ini telah tergambar pada masa nabi yang terdapat dalam surah Al Hasyr ayat 9 :

والذين تبوءوالدار والإيمان من قبلهم يحبون من هاجر إليهم ولايجدون فى صدورهم حاجة مما اوتوا ويؤثرون على أنفسهم ولوكان بهم خصاصة, ومن يوق شح نفسه فألئك هم المفلحون

Bermanfaat dimanapun dan kepada siapa saja, baik jasa maupun tenaga, seperti mengamalkan ilmu  yang telah di dapat, membantu orang yang sedang kesusahan, mengajak pada kebaikan dan memperbaiki kesalahan, seperti sabda baginda rasulullah saw :

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده, فإن لم يستطع فبلسانه, فإن لم يستطع فبقلبه, وذلك أضعف الإيمان

Kesimpulan

Keutamaan akhlak yang baik  sangat banyak, yaitu diantaranya orang menjadi senang, merasakan kenikmatan berakhlak baik yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, kebaikan juga menjadi ciri kemuliaan tabi’at seseorang, terkadang secara tidak sengaja kebaikan bisa merubah musuh pada alur kebenaran, kebaikan juga pertan da kesempurnaan iman serta memberatkan amal timbangan kebaikan di hari kiamat, kemuadian kebaikan juga menjauhkan kita dari siksa api neraka, sebagaimana sabda Rasulullah saw :

عن عبد الله ابن مسعود رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ألا أخبركم بمن يحرم على النار أو بمن تحرم عليه النار : على كل قريب هين سهل

(رواه الترمذى والطبرانى)

Bermanfaat dalam segi apapun, dimana pun, dan kepada siapa pun, Insya Allah berkah Allah akan datang, kasih manusia akan mengenang kebaikan. Seperti kata pepatah kebaikan itu akan dikenang walau kita sudah tiada. Maka jadilah manusia yang baik, bermanfaat dan KEEP YOUR SELFJ WAllahu’alam

GODAAN WANITA ALIANSI SETAN

28 March 2010 at 11:16 am | Posted in AKHLAK, Gen 6, MOTIVASI | 2 Comments
Tags: , , ,

Oleh: Ainul Zikra Lc.

Kalau kita mendengar orang mengatakan bahwa wanita adalah makhluk penggoda, apa reaksi kita? Mungkin sebagian kita akan merasa jengkel mendengarnya dan mungkin juga kita menerimanya.

Memang fitnah yang terbesar setiap zaman adalah wanita, karena itulah Rasulullah berpesan benar-benar melindungi wanita. Tak hanya fitnah yang ditimbulkannya tetapi juga syahwat yang menjerumuskan manusia ke dalam kebinasaan. Rasulullah bersabda: “Berhati-hatilah dengan godaan dunia dan waspadailah rayuan wanita, sebab fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah fitnah wanita.” (HR Muslim). Mujahid juga mengatakan: “ketika wanita menghadap ke depan (datang) maka setan duduk di atas kepalanya lalu menghiasinya agi orang yang melihatya. Dan ketika wanita itu menghadap ke belakang (pergi) setan duduk di belakangnya lalu ia memperindahya bagi orang yang melihatnya. (Al-Qurtubi, al-Jami’ Li Ahkami al-Qur’an 12/227).

Jadi perntanyaan kita sekarang adalah, mengapa harus wanita yang menjadi sasaran sebagai penggoda kaum lelaki? Allah berfirman:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (Al-Quran surat Ali Imran: 14)

Dalam ayat diatas Allah menyatakan dengan jelas bahwa manusia mempunyai kecendrungan terhadap syahwat keduniawian terutama wanita. Kita lihat realitanya, serang lelaki bisa bersemangat mencari nafkah dan melakukan amal-amal baik karena wanita. Bahkan tidak sedikit yang rela melakukan pekerjaan tercela hanya demi wanita. Sungguh wanita adalah makhluk luar biasa, dari rahimnya bisa lahir manusia semulia Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan juga sehina Fir’aun la’natullah. Sebagai contoh kisah Nabi Yusuf sdan istri Aziz yang telah membuka mata kita bagaimana wanita dengan mudah mengeluarkan rayuannya, tapi dengan izin Allah, Nabi Yusuf terbebas dari godaannya karena Allah menjaga hamba-Nya yang bertaqwa.

Pada zaman sekarang ini, eksploitasi wanita dimana-mana. Mayoritas kaum wanita itu berani bersolek dan menampakkan lekuk tubuh mereka di pasar-pasar dan di jalan-jalan serta menampakkan perhiasan dan aksesorisnya.

Siapa yang Allah kehendaki terkena godaannya maka ia akan melirik wanita-wanita tersebut lantas bisa jadi timbul syahwat terlarang yang mendorongnya melakukan hal yang diharamkan. Nauzubillah Min Zalik!

Bentuk eksploitasi kaum wanita yang lain melalui film-film, foto-foto mereka di majalah, koran-koran dan sampul barang-barang tertentu. Mereka sengaja memilih wanita-wanita cantik agar menarik minat para pemuda, karena musuh-mush Islam dengan gencarnya menjadikan waita sebagai komoditas perusak moral. Seorang tokoh aliran mansoni (free mansory) berkata: “secangkir minuman keras dan seorang biduanita dapat menghancurkan ummat Muhammad dibanding kekuatan seribu tank baja, peluru kendali dan senjata kimia yang canggih. Oleh karena itu, buatlah mereka tenggelam dalam cinta materi dan syahwat.” Yang lain juga berkata: “kita harus mempergunakan wanita. Sebab setiap kali ia mengulurkan tangannya kepada kita, kita telah mendapatkan apa yang kita inginkan dan dan berhasil memporak-porandakan serdadu penolong agama Islam.”

Tidak diragukan lagi, hal itu termasuk bencana besar pada zaman sekarang ini. Allah meneguhkan hati orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh. Siapa yang mensucikan dirinya, pandangannya tidak akan tertuju pada perkara haram itu. Beruntunglah para wanita yang takut akan azab Allah dan berusaha menjaga kesucian dirinya. Begitu juga dengan para lelaki yang mampu menjaga pandangan dan syahwatnya dari hal-hal yang dilarang Allah.

Allah telah memberikan aturan jelas dalam al-Quran, yang harus dipatuhi orang-orang beriman, laki-laki maupun perempuan dalam surat An-Nisa 30-31:

30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.

31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Jadi, sebagai wanita apa yang harus kita lakukan?


Wahai Ukhti!  Allah  telah menurunkan ayat-ayat-Nya  dengan  jelas,  supaya dengan melaksanakan  tuntutan-tuntutan  syariat  engkau terpelihara  dan terucikan dari kotoran-kotoran jahiliyah. Para penyeru kebebasan berusaha keras  untuk mengembalikan  kaum wanita  ke abad  jahiliyah  dengan  bersembunyi  dibalik  cover  peradaban modernisasi dan kebebasan.  Berhati-hatilah! Wahai  Ukhti  muslimah,  janganlah engkau tertipu dengan semboyan kebebasan yang  sebenarnya  hanya  menjajakan wanita sebagai barang dagangan yang ditawarkan  kepada  siapa  yang menghendakinya.  Jagalah dirimu, perlihara harga dirimu. Jadilah umpama mutiara yang mampu menjaga kemurnian diri ketika para perempuan lain berlomba mengejar pamor demi kesenangan sesaat. Allah SWT telah mengingatkan, Dan jika  kamu menuruti  kebanyakan  orang-orang di muka bumi ini, niscaya  mereka  akan menyesatkanmu  dari  jalan Allah.  Mereka  tidak lain hanyalah mengikuti  persangkaan  belaka, dan mereka  tidak  lain hanyalah berdusta” (al-Qur’an Surat  al-An’am: 116)

Wahai  Ukhti! Engkau Janganlah mengikuti faham feminisme yang berusaha mengotak-atik  akal  manusia  dengan  mengatakan  bahwa  wanita  wanita muslimah tidak  mempunyai kebebasan karena:

1        Aurat  wanita  lebih  susah  di jaga dibanding laki-laki

2        Wanita perlu meminta  izin suaminya jika  keluar  rumah  tapi  tidak  sebaliknya

3        Wanita  persaksiannya  hanya setengah laki-laki

4        Wanita  menerima warisan  yang  kurang  dari laki-laki

5        Wanita  harus  menghadapi  kesusahan mengandung  dan mblahirkan  anak

6        Talak  terletak  di  tangan  suami  dan bukan  di tangan  istri

7        Wanita  kurang  beribadah karena haid  dan  nifas  yang  tidak dialami laki-laki

Makanya mereka  selalu  berpromosi untuk kemerdekaan wanita. Padahal sebenarnya  mereka sendirilah yang  tidak memahami bahwa  syariat  lslam  dipenuhi  dengan  hikmah dan  pengajaran. Wanita  muslimah menerima warisan  kurang  dari  laki-laki  tapi  harta  itu menjadi  milik  pribadinya  karena dia tidak berkewajiban memberi nafkah pada  suaminya,  sedangkan  laki-laki  menerima  warisan lebih banyak tapi harus menafkahi istri  dan  anak-anaknya. Wanita harus bersusah-payah mengandung dan melahirkan anak  tapi  setiap  saat  dia  didoakan oleh seluruh makhluk Allah SWT  di muka  bumi jika  melahirkan, dan posisinya sebagai ibu tiga kali lebih tinggi dari seorang ayah, bahkan surga terletak di bawah telapak kakinya.

Wahai  kaum  hawa!  Ingatlah Allah SWI  berfirman dalam Al-Quran surat Yusuf  ayat 28, bahwa  tipu daya wanita  itu adalah besar,  sedangkan  dalam  surat an-Nisa’ ayat 76 Allah  SWT menerangkan  bahwa  tipu daya  setan  adalah  lemah. Apakah engkau rela menjadi makhluk yang lebih berbahaya dibanding  setan? Na’uzubillah minzalik!

Marilah  kita introspeksi diri dalam menghadapi  kehidupan  semu yang  hanya sebentar  ini. Luruskan  lagi  niat  dan  tujuan  kita agar bisa menjadi wanita shalehah, perhiasan dunia. Wallahu  a’lam.

*Mahasiswi S2 Tafsir Univ. Al-Azhar Cairo

يا أحب الحبيب اليّّ

12 January 2010 at 11:55 am | Posted in AKHLAK, Gen 8, Uncategorized | 2 Comments
Tags:

يا أحب الحبيب اليّّ…

ايسمارنى اسماعيل

واستغفروا الله انّّ الله غفور رحيم…(البقرة:199)

يا  ربى  حمد  ليس  غيرك  يحمد … يا  من  له  كل  الخلائق  تصمد

يا أحب الجبيب اليّّ…

قد  نسيني الناس الا أنت يا قلبي…قد عقني الكل الا أنت…قد تغير علىّّ العالم الا أنت يا رحيم.

يا  الهي…

أنت من يعلم دائى و دوائى…لا أريد الطب من أى طبيب…أنت لى أقرب من كل قريب.

يا حبيب…أنت الشافى لا شفاء الا شفاءك شفاء لا يغادر سقما…اللهم اشف قلبى و ضميري…

آه…يا مولاى ما أعظم حوبى…

أنا لا أعرف ما تعلم عنى…أنت أدرى…غير عنى…بؤت واعترفت يا ربى بما قد  كان منى…فاعف عنى…لا تهنّّّى…و لنفسى لا تكلنى الى نفسى طرفة عين.

يا الهى…

أنت لا تطرد من جاءك يبكى…

جاء بى حر ذنوبى…جاء بى خوف مصيرى…ساقنى يا ربى تأنيب ضميرى…ألهبت قلبى سياط الخوف من يوم  رهيب…كادتا عيناى أن تبيضّّ من  أشد  بكائى.

كان  للشيطان من حولى جند خدعوانى…غرروا بى…واذا  فكّرت فى التوبة…قالوا لا تتوبى…الدنيا خيرالمتاع… ربنا رب قلوب.

آه يا مولاى ما أعظم حوبى…

أنا ما فكّّرت فى يوم الحساب…حين قدمنى ابليس شاة للذئاب…يا لجهلى…كيف أقدمت على قتل قلبى و حبي. يا غفار…قد مشيت على أرضك من غير رقيب فى دروب مظلمة…مشيتى…مشية حمقاء لعوب…أسلب الألباب من كل لبيب…


يا أحب الحبيب الىّّ…

يا حبيب الذى خلق السعادة…أنت الرحمن الرحيم فكيف أطلب السعادة من غيرك؟؟؟ يا حبيب الذي خلق الحب…أنت السميع العليم فكيف أبحث الحب من غيرك؟؟؟

يا حبيب أنت نور السموات و الأرض..نور على نور…فكيف أبتغى النور من غيرك؟؟؟

آه يا مولاى ما أعظم حوبى…

قد غرّنى عمرى و فراغى و صحتى و مالى و شبابى و جمالى. أنا ما فكّّرت عن مجيئ و ذهابى…و عن  نوع صحابى. أنا ما فكّّرت فى أخذ كتابى بيمينى…أو شمالى…

آه يا مولاى ما أعظم حوبي…

يا الهى… يا هادى… يا مجيب الدعوات…يا مقيل العثرات…اعف عنّّى…أنت من أيقظ قلبى من سباتى ونومى.

يا الهى…

جئت باالثوب الذى أذنبته فيه…و أنا آمل فى ثوب قشيب نظيف  جديد من الجنّّة…من سميع قادر مجيب…يا حبيبي…

يا ربى ان عظمت ذنوبى كثرة                    فلقد علمت بأن عفوك أعظم

ان كان لا يرجوك الا محسن                      فمن الذى يرجو و يدعو المجرم

ما لى اليك وسيلة الا الرجا                       و جميل عفوك و أنا مسلم

اللهم أنت ربى لا اله الا أنت خلقتنى و أنا عبدك وأنا على عهدك ووعدك ماستطعت أعوذبك من شر ما صنعت أبؤلك بنعمتك علىّّ و أبؤ بذنبى فاغفرلى فانه لا يغفر الذنوب الا أنت

.

TAHUN BARU HIJRIYAH: MOMENTUM PENINGKATAN TAKWA

19 December 2009 at 2:41 pm | Posted in AKHLAK, Gen 1, MOTIVASI | Leave a comment
Tags: , , ,

oleh: Dwi Sukmanila Sayska*

Perputaran waktu terus bergulir seiring pergantian siang dan malam yang menjadi sunatullah di alam raya ini. Tanpa terasa kita telah sampai lagi ke bulan Muharam, bulan pertama dalam perhitungan kalender hijriyah.

Kedatangan bulan Muharram ini, dapat kita jadikan sebagai salah satu momentum, untuk kembali bertafakur dan bermuhasabah, mengevaluasi hari-hari yang telah berlalu dan merancang target-target baru untuk hari mendatang.

Karena, semakin lama kita menghabiskan umur kita di dunia, berarti semakin dekat dengan kehidupan yang sesungguhnya, yaitu akhirat nan abadi. Sebagaimana firman Allah swt:

Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah senda gurau dan permainan belaka; dan sesungguhnya negeri akhirat itu ialah kehidupan yang sebenar-benarnya; kalaulah mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabut: 64).

Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia dengan segala gemerlapan dan keindahannya, tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kekekalan kehidupan akhirat. Dunia hanyalah panggung sandiwara dimana setiap manusia memainkan peran masing-masing untuk melihat siapa yang terbaik di antara mereka. Dan hari pembalasan itu adalah di akhirat sana, ketika setiap diri akan menerima apa yang pernah mereka usahakan di dunia.

Mari kita renungkan ungkapan Rasulullah saw suri teladan kita, ketika suatu hari beliau bangun dari tempat pembaringannya, dan Abdullah bin Mas’ud melihat bekas jalur-jalur tikar di punggungnya. Ini kerana tikar alas tidur Rasulullah saw dibuat dari daun kurma kasar. Timbullah rasa kasihan di hati Abdullah bin Mas’ud, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah seandainya engkau perintah aku untuk mencari tikar yang lembut untukmu, maka aku akan berusaha mendapatkannya”.

Tetapi Rasulullah saw bersabda: “Bagiku berada di dunia ini ibarat seorang yang berjalan di tengah panas, lalu singgah sebentar berteduh di bawah sepohon kayu yang rindang, setelah istirahat sejenak untuk menghilangkan lelah, maka dia beranjak meninggalkan pohon rindang itu dan meneruskan perjalanan”. (HR. Tirmizi)

Demikianlah Rasulullah mengumpamakan dunia ini, bahwa disini kita hanya sekedar singgah sebentar, untuk kemudian melanjutkan perjalanan yang teramat sangat panjang di akhirat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah juga menggambarkan, bahwa lamanya perjalanan hidup yang kita lalui ibarat es yang mencair. Sungguh sangat singkat bila dibandingkan dengan keabadian yang akan kita hadapi sesudahnya. Maka sangatlah merugi apabila perjalanan hidup yang singkat ini justru berlalu dengan kesia-siaan belaka. Tanpa harga, tanpa makna, tanpa cita-cita. Hingga tiada bekal memadai untuk mengarungi kehidupan hakiki di akhirat nanti.

Lalu bekal apa yang mesti kita persiapkan di dunia untuk menuju kehidupan abadi tersebut? Dengan hartakah? Pangkatkah? Gelarkah? Atau keturunankah? Tentu saja bukan, sebab Allah Maha Kaya, Maha Berkuasa, Maha Suci lagi Maha Tinggi.

Allah telah mengingatkan kita semua dalam firman-Nya:

Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah: 197)

Dan Allah Swt berfirman dalam surat Al-Hasyr:

Artinya: “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)

Bekal yang harus kita persiapkan tiada lain dan tiada bukan hanyalah takwa, karena takwa adalah sebaik-baik bekal dan persiapan. Sungguh naïf jika seorang tidak menyiapkan bekal apa-apa padahal dia sadar betapa panjang dan penuh rintangannya perjalanan yang akan dia hadapi di akhirat nanti. Hendaknya, dalam kehidupan yang sekejap ini, kita telah menyiapkan bekal ketakwaan yang cukup sehingga kehidupan akhirat menjadi lebih baik. Sebagaimana firman Allah swt:

”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’aam ayat 32)

Rasulullah Saw dalam sabdanya juga banyak mewasiatkan ketakwaan kepada para sahabat dan umatnya. Di antaranya adalah dalam khutbah haji wada’, Abu Umamah al-Bahili meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Bertakwalah kepada Allah Tuhanmu, shalatlah lima waktu, berpuasalah pada bulanmu, bayarlah zakat hartamu, taatilah pemimpinmu, maka kamu akan masuk surga Tuhanmu.” (HR. At-Tirmidzi 1/190)

Mu’az bin Jabal juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, timpalilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan dapat menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi No. 1987, HR. Ahmad 5/153 dan al-Hakim 1/54).

Demikian pentingnya nilai ketakwaan agar wujud dalam diri seorang mukmin, sehingga Allah dan Rasul-Nya sangat menekankan hal tersebut dan menjadikannya sebagai syarat utama keselamatan di akhirat nanti. Lantas, bagaimanakah hakikat takwa itu yang sesungguhnya?

Takwa secara bahasa artinya adalah al-shiyanah yaitu memelihara, al-hadzru yaitu hati-hati dan al-wiqayah waspada dan menjaga.

Sedangkan secara istilah takwa berarti menjaga diri dari murka dan azab Allah dengan tunduk kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Para sahabat dan ulama terdahulu, telah memberikan pengertian yang cukup jelas tentang hakikat takwa dalam jiwa seorang mukmin. Diantaranya, dalam kitab Fathul Qadir karya al-Syaukani dikisahkan, Khalifah Umar bin Khattab pernah ditanya tentang takwa, beliau menjawab, “Apakah engkau pernah melalui jalan yang banyak bertaburan duri?”. “Ya pernah” jawab si penanya. “Maka apa yang kamu lakukan?” Umar kembali bertanya. Penanya menjawab, “Saya akan berjalan dengan berhati-hati”. Lantas Umar berkata, “Seperti itulah takwa”.

Hasan al-Basri berkata: “takwa adalah berhati-hati terhadap yang diharamkan Allah dan melaksanakan kewajiban yang telah diperintahkan-Nya”. Dan Mujahid berkata: “Takwa kepada Allah artinya, Allah harus ditaati dan pantang dimaksiati, selalu diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud sebenar-benarnya takwa adalah selalu taat kepada Allah dan berusaha untuk tidak berbuat maksiat, selalu berdzikir kepada Allah dan segera bertaubat, serta selalu bersyukur atas segala anugrah Allah. Sayyid Sabiq dalam kitabnya “Islamuna” menerangkan bahwa takwa bermuatan keyakinan (akidah), pengabdian (ibadah), akhlak (adab) dan berbagai kebajikan (al-bir). Lebih lanjut dia mengatakan bahwa orang yang berhak menyandang sebutan “muttaqin” hanyalah orang yang mampu menahan dan mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi semua hal-hal yang syubhat serta berani berjihad di jalan Allah. Sedangkan menurut Sayyid Qutub dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—takwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua halangan dalam kehidupan.

Jadi, esensi takwa adalah menghadirkan keagungan Allah swt di dalam hati dan merasakan kebesaran dan keMahaan-Nya, kemudian merasa takut terhadap murka-Nya sehingga berusaha sedaya upaya menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian, takwa bukan sekedar menjauhi dosa-dosa besar saja, tapi mencakup semua penyelewengan dan penyimpangan meski itu hanya kecil. Layaknya pendaki gunung yang tinggi, mereka tidak terlalu takut dengan ancaman batu-batu besar, karena batu-batu besar mudah dihindari. Mereka jauh lebih takut kepada kerikil-kerikil kecil yang masuk tanpa disadari ke dalam sepatu, sehingga kaki akan menjadi luka dan menyebabkan cedera parah di ketinggian gunung yang bersuhu rendah. Begitu pula seorang yang berusaha untuk menggapai derjat takwa, ia bukan hanya takut dengan dosa-dosa besar, namun ia lebih takut dengan dosa-dosa kecil yang kemudian berpeluang menggelincirkannya pada kemudharatan.

Di dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan gambaran tentang indikasi ketakwaan dalam diri seorang mukmin, agar kita mengetahui ciri-cirinya sehingga kita dapat mengevaluasi dan mengukur diri sendiri, sudahkah kita berada dalam derjat muttaqin atau minimal berusaha menggapainya. Antaranya indikasinya adalah:

Beriman kepada perkara yang ghaib (QS Al-Baqarah: 3)

Iman kepada yang ghaib mencakup keimanan terhadap semua berita yang disampaikan Allah dalam al-Quran dan melalui lisan Rasul-Nya, tentang hari kiamat dan kehidupan akhirat dengan segala fase-fasenya. Keyakinan akan adanya kiamat dan hari akhirat inilah yang menjadikan orang yang bertakwa senantiasa menjaga dirinya di dunia, agar selamat di akhirat kelak.

Menegakkan shalat (QS Al-Baqarah : 3 dan 177)

Shalat adalah sarana untuk mengingat Allah secara kontinyu, yang menjadi pembeda antara orang mukmin dengan kafir. Allah telah menetapkan waktu-waktunya bagi kita, dan memerintahkan untuk tidak melalaikannya. Menegakkan shalat bagi orang yang bertakwa tidaklah semata-mata demi menggugurkan kewajiban, akan tetapi lebih dari itu, ia merupakan komunikasi dengan Allah yang bersumber dari kekhusyukan, yang berimplikasi tercegahnya diri dari perbuatan keji dan munkar.

Mengeluarkan zakat dan infaq (QS Al-Baqarah : 3, 177; Ali Imran : 134; Al-Zariyat : 19)

Bagi orang yang bertakwa, anugrah harta yang Allah berikan adalah salah satu sarana untuk semakin dekat dengan-Nya. Ia sadar betul bahwa dalam harta yang dititipkan kepadanya, terdapat hak-hak orang lain, sehingga ia tidak akan merasa berat untuk menginfakkan sebagian hartanya baik ketika rizkinya lapang maupun ketika sempit.

Banyak mengingat Allah dan gemar bertaubat (QS Ali Imran : 135; QS Al-Zariyat: 17, 18)

Orang yang bertakwa pasti banyak mengingat Allah di setiap waktu, dalam segala keadaan. Ia mengingat Allah dengan segenap anggota badannya: dengan hati, lisan dan gerak-gerik organ tubuhnya. Ia juga senantiasa memperbaharui taubatnya dan memperbanyak istighfar terutama di waktu sahur/sebelum subuh, sehingga ia tidak berlarut-larut dalam kesalahan.

Menunaikan janji dan amanah (QS Al-Baqarah : 177)

Orang yang bertakwa jauh dari sifat melanggar janji dan mengkhianati amanah, yang merupakan sifat orang munafik. Adapun janji dan amanah yang paling agung adalah kesediaan dan kerelaan untuk beribadah kepada Allah, Rabb semesta alam. Ia juga selalu berusaha untuk menepati janji terhadap sesama manusia serta menunaikan amanah yang diembankan kepadanya.

Bersikap adil dalam segala urusan (QS Al-Maidah : 8)

Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak mengurangi proporsi satu hak dengan melebihkan yang lainnya. Termasuk adil terhadap diri sendiri, dengan memberikan hak jasmani dan rohani sebagaimana mestinya. Keadilan juga harus diterapkan kepada semua manusia, sehingga kebencian pada seseorang atau suatu kaum tidak menghalangi berlaku adil kepadanya.

Bersabar terhadap berbagai musibah yang menimpa dirinya (QS Al-Baqarah : 177)

Orang yang bertakwa sadar bahwa semua yang ada di dunia adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya. Ia tidak akan hanyut dalam kesedihan jika diuji oleh Allah dengan suatu musibah, namun menerima dengan lapang dada sembari menguak hikmah-hikmah Allah dibalik semua peristiwa. Malah ia menjadikan ujian sebagai batu loncatan meningkatkan kecintaan kepada Allah, Penggenggam alam semesta ini.

Pandai menahan amarah dan suka memaafkan (QS Al-Baqarah : 237; Ali Imran : 134)

Pengendalian diri dan hawa nafsunya adalah ciri orang bertakwa. Ia tidak mudah terjerat hasutan setan yang selalu mengobarkan amarah dan kebencian dalam jiwa bani Adam. Disamping itu, orang yang bertakwa juga suka memberikan maaf kepada orang lain yang berbuat kesalahan kepadanya, bahkan sebelum orang tersebut meminta maaf kepadanya.

Berdasarkan beberapa ciri di atas, jelaslah bahwa orang yang bertakwa selalu berusaha sungguh-sungguh berada dalam ketaatan kepada Allah secara menyeluruh, baik dalam perkara wajib maupun sunnah, berupaya meninggalkan kemaksiatan serta menghindarkan diri dari perkara yang tidak bermanfaat karena khawatir terjerumus ke dalam dosa. Semua inilah yang harus kita tingkatkan di hari-hari mendatang, agar waktu yang masih tersisa dalam setiap hembusan nafas kita, menjadi bekal berharga untuk mengarungi kehidupan abadi di akhirat nanti.

Namun yang tidak kalah penting adalah, terdapat banyak sekali hadiah yang dijanjikan Allah dalam Al Qur’an bagi orang-orang yang bertakwa, bukan hanya keselamatan di akhirat namun juga kepalangan hidup di dunia. Diantaranya, adalah:

  1. Mendapatkan keselamatan dari bencana dan mendapatkan rezeki dari tepat yang tak terduga-duga. Inilah yang dijanjikan dalam firman Allah:

Artinya: Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan Siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS Al-Thalaq 2-3)

  1. Allah memberikan furqan yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil. Sebagaimana Allah janjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS Al-Anfal 29)

  1. Mendapat kecintaan Allah, seperti dijelaskan dalam firman-Nya:

Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Taubah 7)

  1. Menjadi yang termulia disisi Allah. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya:

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat 13)

  1. Takwa menjadi sebab kesuksesan dan keberuntungan.  Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

Artinya: Dan siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan. (QS Al-Nur 52)

  1. Menjadi wali Allah dengan dasar firman Allah:

Artinya: Sungguh wali-waliNya hanyalah orang-orang yang bertakwa; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Al-Anfal 34)

  1. Allah menjadi wali/pelindung orang yang bertakwa. Sebagaimana difirmankan Allah:

Artinya: Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Jatsiyah 19)

  1. Dijaga dari para musuhnya, sebagaimana difirmankan Allah:

Artinya: Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS Ali-Imran: 120)

  1. Mendapatkan bantuan dari Allah, seperti dijelaskan dalam firmanNya:

Artinya: Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS Al-Nahl 128)

  1. Takwa menjadi sebab mendapatkan berkah, seperti dalam janji Allah pada firmanNya:

Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raf 96)

  1. Amalannya diterima Allah, sebagaimana dalam firman Allah:

Artinya: Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS Al-Maidah 27)

  1. Selamat dari adzab Allah di neraka. Ini dijanjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu; hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan; kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS Maryam 71-72)

  1. Tidak merasa takut, berduka dan selalu bahagia didunia dan akherat serta mendapatkan kemenangan agung. Berdasarkan firman Allah:

Artinya: Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS Yunus 62-64)

  1. Dimudahkan urusannya didunia dan akherat, sebab Allah jelaskan hal ini dalam firmanNya:

Artinya: Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Al-Thalaq 4)

  1. Dihapuskan dosa dan kesalahannya sebagai anugerah Allah atas ketakwaannya. Allah berfirman:

Artinya: Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (QS Al-Thalaq 5)

Dan firmanNya: Artinya: Dan Sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. (QS Al-Maidah 65)

  1. Mendapatkan syurga-syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Ini dijanjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.(QS  Ali Imran 198)

Dan firmanNya: Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi, di sisi Tuhan yang berkuasa. (QS Al-Qamar 54-55)

Demikianlah keistimewaan yang dikhususkan bagi orang yang bertakwa kepada Allah. Semoga kita mampu menempa diri meskipun letih dan tertatih, untuk meningkatkan kembali ketakwaan dalam diri. Dan perhitungan tahun baru ini, dapat menjadi ajang untuk membuka lembaran baru dalam sejarah hidup kita yang singkat ini, dan membangkitkan kembali semangat perjuangan memperbaiki diri. Dengan memulai hari baru, juga bisa menjadi langkah awal ketaatan yang menyeluruh dalan setiap perjalanan hidup kita ke depan. Karna, andai takwa itu tidak bersemayam dalam jiwa sedikitpun, lalu bekal apa lagi yang bisa kita andalkan menghadap Allah di akhir nanti. Wa’lLahu a’lam bi al-shawab.

*Tulisan ini pernah dimuat di buletin “Yasmin” FOKMA (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia)

Mahasiswa Muslim Ideal

17 December 2009 at 10:00 am | Posted in AKHLAK, Gen 9, MOTIVASI | Leave a comment
Tags: ,

Oleh : Lina Rizqi Utami

Pendahuluan

Dalam sebuah tahapan hidup telah ada ketentuan dasar terhadap pendidikan. Dimulai dari playgroup, TK, SD, SMP, SMU dan kemudian status paling produktif yaitu mahasiswa. Ketika jenjang ini telah kita lalui tahap demi tahap, maka kesempurnaan akan terasa tatkala ilmu yang didapat segera diamalkan. Oleh karena itu, banyak perguruan tinggi yang menawarkan jurusan-jurusan terbaik sebagai modal hidup untuk mendapatkan skill. Pilihan terbaik ada di tangan kita sebagai generasi muda, karena jika salah pilihan maka kita akan kehilangan orientasi untuk menentukan target hidup. Sebagai mahasiswa dituntut untuk menggali ilmu lebih dalam dunia maupun akhirat. Karena orang berilmu adalah pewaris para ulama dan orang yang paling takut kepada Allah. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Fatir:28

انما يخشى الله من عباده العلماء

Realita Mahasiswa Zaman Modern

Waktu telah unjuk gigi, dimana manusia bisa mengikuti arus globalnya yang terbentang luas. Mahasiswa jadi santapan lahap oleh sang zaman, ketika mahasiswa tidak mampu membendung arus yang semakin kencang. Contoh dari arus itu adalah pemikiran-pemikiran liberal yang ditawarkan oleh orang orientalis untuk mencuci otak mahasiswa muslim. Kewajiban yang seharusnya di kerjakan oleh seorang mahasiswa jadi terabaikan. Pemikiran yang rasional kini tidak lagi bertumpu pada akal sehat. Kenapa ini bisa terjadi? Jawabannya ada pada diri sendiri. Mungkin sebagian mereka tidak lagi menyadari hakikat seorang penuntut ilmu. Keganasan zaman menjadikan generasi muda kita rusak seiring berkurangnya uswah hasanah dalam menuntut ilmu. Norma dalam tatanan masyarakat telah diabaikan karena pengaruh ghazwul fikri yang menimpa kaum muslimin, mulai dari anak-anak, orang tua dan para remaja. Inilah yang menjadi problematika kegagalan seorang mahasiswa dalam urusan diin, bisa jadi sebagian diantara mereka dimudahkan Allah SWT jalan untuk menuju sukses dunia, tapi tidak untuk ummat, hakikatnya mereka yang sukses tanpa agama, hanya tipuan belaka, seperti sabda Rasulullah SAW

الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الا ذكر الله تعالى وما والاه و عالما او متعلما (رواه اترمذى و قال (حديث حسن)

Hakikat Sang Mahasiswa Ideal

Mahasiswa yang terampil ilmu dan agama dan dunia tentu mempunyai strategi jitu, bagaimana kesuksesan mereka sebagai mahasiswa dambaan ummat dan negara, yaitu dengan teknik beradab yang ditanamkan dalam diri, terutama bagi kita yang sedang menyandang status mahasiswa :

  1. Menyadari bahwa menuntut ilmu itu adalah ibadah.
  2. Semakin tinggi ilmu yang kita miliki maka, semakin takut kita kepada Allah.
  3. Meneladani kisah para salafus shaleh dalam mencari ilmu, serta keikhlasan mereka dalam menuntut ilmu.
  4. Zuhud dan tawadhu terhadap fatamorgana dunia.
  5. Mengamalkan dan mengajarkan  ilmu yang telah didapat. Karena itu merupakan sebuah amalan yang tidak putus-putus pahalanya, seperti sabda Rasulullah SAW :

اذا ما ت ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له (رواه مسلم)

  1. Tidak sombong dengan ilmu yang telah dimiliki.

Oleh karena itu, kesadaran yang mulai ditumbuhkan akan mewujudkan hakikat seorang mahasiswa ideal dengan adab dan pengamalan dalam kesehariannya serta melaksanakan kewajiban sebagai mahasiswa.

Mahasiswa adalah dambaan ummat dan negara, karena ditangan mereka akan berlanjut estafet kemajuan Negara. Tapi tidak semua mahasiswa dapat dikatakan penerus bangsa. Yang dikatakan penerus bangsa itu adalah mahasiswa yang ideal, seimbang agama dan dunia. Mereka yang faqih dalam urusan agama, dan eksis dalam urusan dunia, Allah SWT berfirman dalam surat  At-taubah:122

و ما كا ن المؤمنون لينفروا كافة فلولانفرمن كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا فى الدين ولينذروا قومهم اذا رجعوا اليهم لعلهم يحذرون

Mahasiswa yang ideal peduli terhadap kemajuan agama dan ummat. Mereka sangat prihatin terhadap perkembangan zaman yang banyak merusak moral kaum muslimin terutama mahasiswa sebagai calon penerus. Mereka berkhidmat untuk organisasi sebagai latihan menjaga amanah, bertanggung jawab, sosialisasi dengan berbagai karakter, disiplin, bertoleransi, dan tentunya belajar sabar. Karena organisasi adalah salah satu wadah untuk mencerdaskan emosional mahasiswa, sedangkan spiritual harus sudah tertanam dari kecil, dan disempurnakan pada masa-masa produktif ini sebagai mahasiswa yaitu dengan ikut kajian islam, talaqqi bagi mahasiswa yang menuntut ilmu di Mesir, tahfizul qur’an, dan intinya pembinaan diri sendiri untuk dekat dengan Sang Khaliq.

Intelektual akan sempurna ketika pembinaan emosional dan spiritual telah terjalani. Karena sebagai mahasiswa tidak dituntut untuk mengejar gelar dan naik tingkat, tetapi  kedalaman ilmu lah yang mesti diraih. Allah SWT berfirman dalam surat Taha:114

و قل رب زدنى علما

Dengan adanya ilmu maka akhirat dapat kita kejar dan dunia dapat kita raih. Keistimewaan orang berilmu sangat banyak, karena ilmu bagai permata di dasar lautan, tak lekang oleh waktu dan tak hapus di makan zaman. Rasulullah SAW bersabda:

عن ابى الدرداء رضى الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول من سلك طريقا يبتغى فيه علما سهل الله طريقا الى الجنة و ان     الملائكة لتضع اجنحتها لطلب العلم رضا بما يصنع و ان العلم ليستغفر له من فى السماوات ومن فى الا رض حتى الحيتان فى الماء و فضل العلم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب و ان العلماء ورثة الانبياء و ان الانبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما و انما ورثوا العلم فمن اخذه يحظ وافر( رواه ابو درداء و الترمذى )

Dari hadits diatas jelaslah bahwa orang yang memiliki ilmu mendapat keutamaan, semua yang berada dilangit dan dibumi memintakan ampun kepada Allah SWT untuk sohibul ‘ilmi. Karena ilmu itu bagai mutiara dan alam pun bertasbih memuji hamba Allah yang berilmu. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa tanamkanlah azzam untuk cinta kepada ilmu, karena betapa gembiranya ummat dan negara memiliki penerus yang berilmu dan berwawasan luas.

Kesimpulan

Apa yang ditanam itulah yang dituai, seperti itulah hakikat kita sebagai seorang mahasiswa. Apa yang kita usahakan sekarang maka, akan muncul hasilnya dikemudian hari. Sadarilah, apa yang akan kita wariskan oleh anak cucu kalau bukan ilmu yang bermanfaat. Ilmu agama dan dunia. Karena tanpa agama manusia binasa, tanpa ilmu manusia buta, dan tanpa iman manusia sengsara. Tak ada yang patut disombongkan dengan apa yang telah diusahakan. Mumtaz, jayyid jiddan, jayyid bukanlah sebuah kata “final” bagi penuntut ilmu sejati, tetapi mardhotillah lah sebagai tujuan dari penghambaan kita kepada Rabbul Jalal. Asalallahu ta’ala ayyaj’alani wa iyyakum man haa ulaai allazina faqqahu fidinillahi wa ‘amiluu wa ‘allamu wa nafa’u wa intafa’u bih.

*MAhasiswi tk 1 Al-Azhar Mesir – Gen 7 MAKN Putri

MUSLIMAH DAN GHIBAH

7 November 2009 at 11:11 pm | Posted in AKHLAK, Gen 2 | Leave a comment
Tags: , , ,

Oleh: Wirza Rahmah*

ghibahIslam sebagai agama yang berpegang kepada Al-Qur’an dan sunnah mengajarkan umatnya untuk saling mengasihi dan menyayangi sesama. Menutupi aib dan kekurangan saudaranya merupakan salah satu bukti kasih dan sayang yang diajarkan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Maka ketika seseorang membeberkan aib orang lain, walaupun itu benar adanya, ketika itulah ia menyalahi ajaran Islam yang mengharamkan ghibah (bergunjing).

Secara bahasa ghibah berarti membicarakan orang lain. Dan secara istilah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw., makna ghibah adalah menceritakan kekurangan saudara kita di belakangnya kepada orang lain. Seorang sahabat bertanya: walaupun perkara itu benar wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: ya, itulah ghibah, jika perkara itu tidak benar, maka ia telah memfitnah saudaranya.

ghibahIronisnya, ghibah yang merupakan salah satu dosa besar ini, sering kali dilakukan oleh kaum hawa antar sesamanya. Bahkan para muslimah yang notabene orang-orang yang mengerti agama pun sering tergelincir ke dalam hal ini. Tidak jarang pembicaraan mereka dibumbui dengan gosip, ngerumpi, dan menggunjing. Hal ini, disadari atau tidak, memiliki dampak negatif yang cukup besar. Ia dapat merusak hubungan ukhuwah serta mencerai-beraikan ikatan kasih sayang sesama manusia.

Al-Qur’an menggambarkan bahwa perumpamaan orang yang menggunjing ibarat memakan bangkai saudaranya. Allah SWT. berfirman: “Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing (ghibah) sebagian yang lainnya. Apakah kalian suka salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya  yang sudah mati? Maka tentulah kalian membencinya. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih.” (QS. Al Hujurat: 12).

Sungguh hina perbuatan ghibah ini jika kita merenungkan sabda Nabi Saw:  ”Ketika aku mi’raj (naik ke langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya terbuat dari tembaga sedang mencakar wajah-wajah dan dada-dada mereka. Lalu aku bertanya: “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Malaikat Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan merusak kehormatannya.” (H.R. Abu Dawud). Yang dimaksud dengan ‘memakan daging-daging manusia’ dalam hadis ini adalah berbuat ghibah (menggunjing), sebagaimana permisalan pada surat Al Hujurat ayat: 12.

Dalam hadis lain, dari shahabat Jabir bin Abdillah ra., beliau berkata: “Suatu ketika kami pernah bersama Rasulullah mencium bau bangkai yang busuk. Lalu Rasulullah bersabda: ‘Apakah kalian tahu bau apa ini? (Ketahuilah) bau busuk ini berasal dari orang-orang yang berbuat ghibah.” (H.R. Ahmad).

gosipAda beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya ghibah, sehingga ia seakan demikian populer di tengah-tengah masyarakat. Diantara faktor-faktor tersebut adalah:

1        Tidak tabayun sebelumnya, artinya ketika mendengarkan sesuatu yang jelek tentang seseorang tidak dicari tau kebenaran berita tersebut.

2        Kemarahan seseorang terhadap saudaranya bisa menyebabkan terjadinya ghibah, karena dengan kemarahan itu, tanpa berfikir panjang ia gampang menyebutkan aib dan kekurangan saudaranya.

3 Hasad dan dengki jika orang lain dipuji menyebabkan seseorang tidak bisa mengontrol lisannya. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. bersabda: “Berhati-hatilah dengan kedengkian, karena dengki bisa memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

4        Tidak teliti dalam mengungkapkan sesuatu atau menggambarkan tujuan yang dimaksud. Artinya, ketika seseorang salah dalam menyampaikan suatu berita, maka tidak tertutup kemungkinan si pendengar salah dalam gosipmemahami berita tersebut dan mengakibatkan salah persepsi.

5        Berlepas diri dari suatu tuduhan dan kesalahan juga menjadi penyebab terjadinya ghibah, karena ingin membela diri.

6        Bercanda juga menjadi salah satu penyebab terjadinya gosip dan gunjingan, kerena membuka aib orang lain dan mencemarkan nama baik seseorang, walaupun tujuannya ingin membuat orang lain tertawa dan senang.

Walaupun tidak dapat divonis secara umum, tapi juga tidak dapat dipungkiri bahwa ghibah banyak dilakukan oleh kaum wanita. Perasaan marah, dengki, malu lalu menutup kesalahannya, atau bahkan hanya untuk sekedar bercanda dan omong kosong saja, merupakan beberapa motivasi terjadinya ghibah ini. Acara kumpul ibu-ibu tidak jarang berubah menjadi ajang membicarakan orang lain. Contoh konkrit yang sering kita lihat di tanah air adalah ketika ibu-ibu arisan, bertemu di pasar, atau bahkan sedang menyuapkan anaknya di teras rumah dan berkumpul dengan teman sebaya. Ada saja hal-hal yang dianggap menarik untuk dibicarakan: gosip artis di televisi, tetangga yang bertengkar, urusan suami orang, dan lain sebagainya. Tentu saja, ini bukan berarti bahwa kaum adam tidak terjangkit ‘kegiatan ini’.

Gossip

Padahal, ghibah ini jika sering dilakukan akan berdampak negatif bagi si pelakunya, diantaranya: mengeraskan hati, mendapatkan murka dan kemarahan Allah, sehingga azab pedih dari Allah yang akan diterimanya di kubur dan di akhirat nanti. Adapun dampak negatif dalam masyarakat, ghibah bisa menimbulkan perselisihan dan perpecahan, sehingga akan sulit tercipta ketenangan dan hubungan yang harmonis ditengah-tengah masyarakat.

Berikut ini adalah beberapa kiat yang bisa menangkal bahaya ghibah:

quran1        Meningkatkan ketaqwaan dengan mendekatkan diri kapada Allah, misalnya sering bertilawah dan berzikir agar hati menjadi lunak dan jiwa menjadi tenang.

2        Berfikir sebelum memulai pembicaraan, agar yang keluar dari mulut adalah perkataan yang baik-baik saja, dan mengingat bahwa semua yang kita bicarakan dan kerjakan akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid.

3        Tabayun sebelum menyampaikan berita, supaya ukhuwah tetap terjaga dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

4        Mengingatkan orang lain ketika ia menceritakan saudaranya, agar ia tidak terjatuh kedalam lembah yang bernama ghibah.

Ada beberapa pengecualian yang disebutkan Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim dan Riyadhus Shalihin. Beliau menyebutkan bahwa menyebut keburukan orang lain diperbolehkan untuk tujuan syara’, yaitu yang disebabkan oleh enam hal:

1        Orang yang teraniaya (mazhlum) boleh menceritakan dan mengadukan kezaliman orang yang menzhaliminya kepada seorang penguasa atau hakim atau kepada orang yang berwenang untuk menegakkan amar makruf nahi munkar dan memutuskan suatu perkara dalam rangka menuntut hak orang yang teraniaya ini. Asalkan ia bertujuan untuk meminta bantuan dan keadilan, karena Al-Qur’an dalam surat An-Nisa ayat 148 sudah menerangkan hal ini: “Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

2        Meminta tolong untuk mencegah kemungkaran dan mengembalikan orang yang berbuat maksiat kembali ke jalan yang benar. Hal ini termasuk amar ma’ruf nahi munkar.

3        Meminta fatwa (istifta’) atau minta keterangan terhadap suatu penjelasan, hal ini hanya boleh dilakukan dengan tidak menyebutkan keburukan seseorang secara berlebihan. Sebagai contoh kita mengambil ibrah dari kisah istri Abu sofyan yang diam-diam mengambil uang suaminya lalu ia mengadukan kepada Rasulullah saw kalau suaminya pelit, lalu Rasulullah saw membolehkannya asalkan tidak berlebihan.

4        Memperingatkan kaum muslimin dari beberapa kejahatan seperti:

a. Apabila ada perawi hadis, saksi, atau pengarang buku yang bersifat jelek atau berkelakuan tidak baik, menurut ijma’ fatwaulama kita boleh bahkan wajib memberitahukannya kepada kaum muslimin. Hal ini dilakukan untuk memelihara kebersihan syariat. Ghibah dengan tujuan seperti ini jelas diperbolehkan, bahkan diwajibkan untuk menjaga kesucian hadis dan syariat. Apalagi hadis merupakan sumber hukum kedua bagi kaum muslimin setelah Al-Qur’an.

b. Apabila kita melihat seseorang membeli barang yang cacat atau membeli budak (untuk masa sekarang bisa dianalogikan dengan mencari seorang pembantu rumah tangga) yang pencuri, peminum khamar, dan sejenisnya, sedangkan si pembelinya tidak mengetahui, maka kita boleh memberitahunya untuk memberi nasihat atau mencegah kejahatan terhadap saudara kita, bukan untuk menyakiti salah satu pihak.

c.   Apabila kita melihat seorang penuntut ilmu agama belajar kepada seseorang yang fasik atau ahli bid’ah dan kita khawatir terhadap bahaya yang akan menimpanya. Maka kita wajib menasehati dengan cara menjelaskan sifat dan keadaan guru tersebut dengan tujuan hanya untuk kebaikan semata.

5        Menceritakan kepada khalayak ramai tentang seseorang yang berbuat fasik atau ahli bid’ah seperti, peminum minuman keras, penyita harta orang lain secara paksa, pemungut pajak liar atau perkara-perkara bathil lainnya.
Ketika menceritakan keburukan itu kita tidak boleh menambah-nambahinya dan hanya diniatkan untuk kebaikan.

6        Jika seseorang sudah dikenal dengan julukan si pincang, si pendek, si bisu, si buta, atau sebagainya, maka kita boleh memanggilnya dengan julukan-julukan itu agar orang lain langsung mengerti,namun jika tujuannya untuk menghina, maka haram hukumnya. Jika ia mempunyai nama lain yang lebih baik, maka lebih baik memanggilnya dengan nama lain itu.

tulisWahai para muslimah! Ku persembahkan tulisan ini agar kita bisa saling mengingatkan ketika lupa, dan sama-sama kita berdoa kepada Allah agar lidah-lidah kita selalu terjaga dari hal-hal yang dilarang. Untuk kaum Adam semoga juga bisa mengambil ibrah dari tulisan ini. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

*Mahasiswi S2 Liga Arab & tk 4 Tafsir al-Azhar – Gen 2 MAKN Putri

Tulisan ini pernah dimuat dalam buletin SINAI

KASIH SAYANG SEORANG IBU…

6 November 2009 at 11:15 pm | Posted in AKHLAK | 1 Comment
Tags: , ,

oleh: Bunda ‘Ain Syams*

ibuDulu ketika kita kecil sering bertanya dalam hati “andaikan saya sudah besar saya akan berbuat ini atau akan berbuat itu suapaya saya bisa menyenangkan orang tua” itu dan itu yang selalu dipikirkan, kita ketika melihat orang tua bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berangkat pagi pulang sore, wajah ketika berangkat terlihat segar dan penuh harapan untuk mendapat sesuatau yang bisa di berikan kepada anak dan keluarganya dan ketika pulang dengan wajah yang lusuh dengan hiasan keringat tipis dimuka. Itu yang tiap hari orang tua kita lakukan untuk menyenangkan kita dan memenuhi kehidupan kita….

Apakah kita pernah memikirkan kembali bagaimana orang tua kita dengan rasa cemas dan bingung ketika kita sakit …tenaga…pikiran..uang….apakah dia hitung dan kembali dia tanyakan ketika kita sudah sembuh…?lagutkibu

Coba kalian pikirkan balasan yang pantas kalian berikan ketika orang tua kita memasuki waktu tuanya dan banyak membutuhkan kita ?

Tidak jarang ketika anak yang di besarkan orang tuanya dengan susah payah dia membesarkannya, tapi balasan yang orang tua tersebut dapat adalah dia di masukan panti jompo karena dengan alasan SAYA SIBUK DAN TIDAK ADA WAKTU UNTUK MENGURUS MAMAH…..

Apakah pernah anda bayangkan betapa sakit hatinya ketika ucapan itu terlontar dari seorang anak yang telah di besarkan dengan susah payah dan apakah pernah orang tua kita meminta balasan kepada kita ?

Apakah pernah ketika orang tua kita meminta kepada kita ingin disenangkan..mamah ingin di beri uang atau ingin di berikan rumah dengan dalih karena mamah telah melahirkan kamu dan mendidik dari kecil sampai kamu sukses, apakah pernah meminta itu ?

kasih ibuKetika orang tua melihat anaknya senang maka dia akan ikut merasa senang itulah kasih sayang yang tulus yang di berikan seorang ibu terhadap anaknya..ibu tidak akan pernah meminta balasan ketika dia dalam kerepotan sewaktu mengandung anaknya, ibu tidak akan meminta balasan ketika dia kesakitan ketika dia sedang melahirkan dan ibu tidak akan meminta balasan ketika dia dalam kesusahan mendidik dan membesarkan anaknya ….!!!!

Mudah-mudahan kita bisa memberi sesuatu kepada orang tua kita yang bisa membuat dirinya senang dan bahagia,…!!!!

Wallahualam..

*kamanakan gen 15 (‘Ain Syams Alqohiroh El-Irfany)

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.