ROMANTIKA PEREMPUAN DI RANAH MINANG

27 July 2011 at 9:31 pm | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 8, KELUARGA | Leave a comment

Oleh: Ismarni Ismail

Masyarakat Minangkabau tumbuh dalam kondisi sosial yang selalu ingin berubah menuju arah perbaikan. Ketika Islam masuk ke Ranah Minang,  diadaptasikanlah syariatnya  ke dalam adat hingga lahirlah falsafah yang sangat kuat yaitu: Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah, syara’ mangato adat mamakai artinya adat berdasarkan syariat, syariat berdasarkan Kitabullah (Al-Quran), syariat memerintahkan dan adat melaksanakan. Ini berarti Islam dan adat Minangkabau bak dua sisi mata uang, tak dapat dipisahkan. Namun, masih ada sistem sosial kemasyarakatan yang tetap belum terkikis habis hingga kini -yang disinyalemen bertentangan dengan syariat Islam- yaitu sistem matrilinealnya dan masalah harta pusaka.

Kedudukan Perempuan Minangkabau dan Sistim Matrilineal

Masyarakat Minangkabau, terikat oleh satu keturunan yang ditarik menurut garis ibu (matrilineal). Kesatuan dasar keturunan itu disebut Suku. Sistem hukum Matrilineal ini yang menjadi ujung tombak perbedaan perempuan Minang dengan perempuan dari suku lain di Indonesia.

Sehingga banyak pertanyaan yang muncul, mengapa sistem Matrilineal dan syariat Islam dapat hidup berdampingan di Ranah Minang? Padahal keduanya mengatur tata aturan yang saling bertolak belakang. Islam menetapkan nasab dari garis keturunan ayah, sementara pada sistem matrilineal, adat menetapkan ibu sebagai penarikan garis keturunan. Ayah tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam sukunya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal. Oleh karena itu, harta pusaka diturunkan menurut garis ibu pula.

Sistem matrilineal mempunyai ciri-ciri antara lain;

1. Keturunan dihitung menurut garis ibu.

2. Suku terbentuk menurut garis ibu

3. Tiap orang diharuskan menikah dengan orang luar sukunya (exogami)

4. Pembalasan dendam merupakan satu kewajiban bagi seluruh suku

5. Kekuasaan di dalam suku, menurut teori, terletak di tangan “ibu”, tetapi jarang sekali dipergunakan,

6. Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-laki ibu

7. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami tinggal di rumah istrinya

8. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak (paman dari pihak ibu) kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita perlu mencermati terlebih dahulu, kedudukan perempuan di Minangkabau.

Perempuan/ibu –yang disebut bundokanduang– digambarkan sebagai limpapeh (tiang) rumah nan gadang (rumah tangga). Peran utamanya ada dua; pertama, melanjutkan keberadaan suku dalam garis Matrilineal dan kedua, menjadi ibu rumah tangga dari keluarga, suami dan anak-anaknya. Dalam sistim keluarga matrilineal, selain memiliki keluarga inti (ayah, ibu dan anak) juga punya keluarga kaum (extended family). Dalam keluarga kaum terhimpun keluarga Samandeh (se-ibu). Anggota keluarga Samandeh berasal dari satu Rumah Gadang dan dari saudara seibu. Pimpinan dari keluarga Samandeh adalah Mamak Rumah (yaitu seorang saudara laki-laki dari ibu). Sistem ini menempatkan laki-laki pada peran pelindung, dan pemelihara harta dari perempuan dan anak turunan saudara perempuannya.

Keterkaitan dan keterlibatan seorang individu dalam sistim matrilineal terhadap keluarga inti dan keluarga kaum adalah sama. Dimana seorang perempuan, walau sudah menikah tidak lepas dari ikatan kaumnya. Perempuan Minang dikatakan memegang “kekuasaan” seluruh kekayaan, rumah, anak, suku dan kaum, ia memiliki kebesaran yang bertuah (kata-katanya didengar oleh anak cucu). Hal ini makin memperjelas kokohnya kedudukan perempuan Minang pada posisi sentral.

Sedangkan ayah dalam masyarakat hukum adat Minangkabau, adalah bapak dari anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang diikat dengan satu hubungan pernikahan. Suku anak-anak yang lahir dari pernikahan tersebut ditentukan mengikuti garis keturunan ibu mereka. Seorang suami tidak punya kewenangan mengatur keluarga pihak istrinya namun kedudukannya sebagai sumando (menantu) begitu dihormati oleh kaum istrinya. Dan di sisi lain, dia tetap mempunyai keterikatan dan tanggung jawab terhadap kaumnya sebagai penghulu dan niniak mamak. Sehingga, seorang ayah tidak hanya berperan sebagai bapak dari anak-anaknya, tapi juga sebagai mamak dari kemenakannya dan berkewajiban memperhatikan dan menjaga para kemenakan tersebut. Dia wajib melindungi keduanya, sesuai pepatah adat Minang “anak dipangku kamanakan dibimbiang” (anak dipangku keponakan dibimbing).

Oleh karena itu lahirlah sebuah kompromi dari sistim matrilineal dan syariat Islam, bahwa generasi Minangkabau yang dilahirkan senantiasa bernasab ayahnya dan bersuku ibunya. Suatu persenyawaan agama dan budaya yang sangat indah.

Perempuan Minang Dan Harta Pusaka Tinggi

Dalam adat Minangkabau, harta dibagi empat :

1. Harta Pusaka Tinggi

Harta ini adalah harta yang diwarisi secara turun temurun dari beberapa generasi menurut garis keturunan ibu. Harta ini ada yang berupa material seperti sawah, ladang, kebun dan lain-lain yang disebut dengan harta pusako. Disamping itu ada pula harta pusaka tinggi yang berupa moril yaitu gelar pusaka kaum yang diwarisi secara turun- temurun yang disebut harta sako.

2. Harta Pusaka Rendah

Harta ini merupakan harta tambahan bagi sebuah kaum dan ini diperoleh dengan membuka sawah, ladang atau perladangan baru tetapi masih di tanah milik kaum. Jadi tanah yang dibuka itu sudah merupakan pusaka tinggi, hanya pembukaan sawah ladangnya yang baru.

3. Harta Pencaharian

Harta ini merupakan hasil kerja suami istri selama pernikahan, bila terjadi perceraian maka harta ini dibagi secara hukum waris Islam (faraidh).

4. Harta Suarang

Suarang asal katanya adalah surang artinya pribadi. Jadi harta Suarang adalah harta yang dimiliki sesorang, baik oleh suami maupun istri sebelum terjadi pernikahan. Setelah terjadi pernikahan, status harta ini tetap milik masing- masing.

Sebagian pakar adat, hanya membagi harta di Minangkabau kepada 2 klasifikasi:

1. Harta Pusaka Tinggi

Harta ini ialah harta yang diwarisi secara turun temurun dari beberapa generasi menurut garis keturunan ibu. Anggota kaum baik laki-laki maupun perempuan berhak memanfaatkannya tanpa memilikinya.Harta ini tidak boleh dibagi atau dijual, hanya boleh dimanfaatkan secara bersama.

2. Harta Pusaka Rendah

Harta yang didapat selama dalam masa ikatan pernikahan, harta ini merupakan harta pencaharian bersama antara suami dan istri yang diwariskan secara hukum waris Islam (faraidh).

Dalam lingkup harta pusaka tinggilah peran kaum perempuan terlihat sangat dominan, karena harta pusaka tinggi diwariskan menurut garis keturunan ibu. Pemilik asli dari harta pusaka tinggi ini adalah pihak perempuan yang dikepalai oleh seorang perempuan yang dituakan atau disebut Anduang. Walaupun pihak laki-laki (niniak mamak) yang merupakan pemimpin kaum dan mempunyai kewenangan mengelola harta pusaka tinggi, namun Anduanglah yang mempunyai kewenangan komersialisasi, menyimpan dan mendistribusikan hasil pengolahan harta pusaka tinggi ini kepada anggota kaum lainnya. Jadi, adat Minangkabau telah memberikan secara khusus jaminan keselamatan hidup perempuan dalam kondisi bagaimanapun juga. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan kelak, berupa perceraian atau lain sebagainya, anggota kaum yang perempuan akan terus survive bersama anak-anaknya dengan mengandalkan harta pusaka tinggi.

Sistem Matrilineal yang telah disepakati dan dipatuhi secara turun temurun ini, setidaknya telah banyak memberikan keuntungan pada kaum perempuan di Minangkabau. Ketika perempuan di luar suku Minang baru menyuarakan emansipasi dan hak perlindungan bagi kaum perempuan, maka perempuan Minangkabau telah mengecap emansipasi dan hak-hak perlindungan tersebut. Para ninik-mamak telah membuatkan suatu “aturan main” antara laki-laki dan perempuan dengan hak dan kewajiban yang berimbang antar sesamanya.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: