Karma

25 November 2010 at 9:35 am | Posted in AKHLAK, Gen 6, SASTRA, UKHUWAH | Leave a comment

By: Fitri Shabrina Lc.

“Tingtong…tingtong..tingtong…” Suara-suara itu kembali memenuhi gandang telingaku. Baru saja aku mau menggamit al-Quran kesayanganku, belpun berbunyi lagi. Huuh.. bayangkan! Aku sebelumnya sudah membuka pintu dua kali berturut-turut. Masa harus aku lagi yang buka? “Nyebelin banget” gerutuku dalam hati. “Pokoknya aku gak mau buakain pintu lagii…!”  teriakku dari kamar. Ku gapai Quran biru yang dari tadi kucuekin, dan terus ku baca. “Tingtong…tingtong..tingtong…” belpun berbunyi lagi. Lalu, hening…hatiku mulai gelisah. Kenapa sih penghuni kamar-kamar sebelah gak ada yang mau bukain? Yang mau masuk juga, kenapa gak bawa kunci sih!

“Tingtong…tingtong..tingtong..” Akupun melangkah setengah hati menuju pintu. Segera kubuka, dan kulihat wajah letih menyembul di balik sana. Seburat tampang manyun plus kesal menghiasi wajah Itoh. “Pulang kuliah ya?’ Tanyaku basa basi. Kupun kembali kekamar melanjutkan kegiatanku yang hampir saja tak jadi terlaksana.

***

“Kriing..kriing..” Sekarang giliran telfon yang beraksi. Rasanya hidupku ini selalu dipenuhi suara-suara  aneh itu. Sebenarnya, kalo ada yang ngangkat sih gak masalah. Yang nyebelin itu gak ada satupun yang mau ngangkat karna semua pada sibuk di kamar masing-masing, seolah gak denger bunyi apa-apa. Tapi anehnya, pas lagi ngebet-ngebetnya ngangkap telpon, semuanya pada nyerbu bak pengungsi ngejar bantuan mie instant.

“Aku gak mau terus-terusan ngalah jadi relawan gagang telpon ama gagang pintu” kataku dalam hati sembari terus mengaduk oseng-oseng. “Kriing..kriing..kring..” Si telpon bunyi lagi setelah diam sesaat.  Sejenak ku lirik telpon yang nampaknya sudah letih menjerit melaksanakan tugasnya. Gak mau… Masa mesti aku lagi yang ngangkat? Aku jadi ingat kejadian kemarin.

Pas telpon gak ada yang ngangkat, aku buru-buru keluar kamar mandi menimbang perasaan si penelpon. Yang bikin aku sebel, si Sasa yang asyik makan disamping meja telpon. Seolah punya pertemuan penting sama sepiring nasi dan gak bisa diganggu.. “Eh.. bunyi ya..” selorohnya garing. Yang bikin aku mumet lagi, telponnya buat dia lagi. “Aduhh…Sa,tau begini mah aku gak mesti bela-belain keluar hammam” celotehku. “Maallisy deh Fi..” jawabnya singkat.

Please dong yang merasa punya kepentingan supaya peka ama tuh telpon. Kuteruskan motong-motong sabaneh. Bayangkan sodara-sodara. Padahal jarak dapur ama telpon Cuma dua langkah. Namun…”Kriing..kriing….” Akhirnya egoku mulai luluh. Siapa tau orang itu punya urusan penting” pikirku. Kupun melangkah menuju sumber suara.

Ketika jarak antara tanganku dan telpon tinggal 3 senti…”Tunggu Fi, biar aku aja yang ngangkat. Kayaknya dari Ramen deh.” Ujar Mia di pintu kamar. “Aduuh.. kok gak dari tadi neng” gerutuku. “Aku kan gak perlu perang batin gini ” sambungku dalam hati””

Beginilah nasib telpon sama bel di rumahku. Kalo salah satunya udah mulai unjuk gigi, rumah ini seolah gak ada penghuninya lagi. Semua hening…Semua pada cuek, apalagi aku. Sejak kejadian-kejadian itu aku jadi orang paling anti ngangkat telpon ama bukain pintu.  Jadi, kalo mau masuk rumah, mesti bawa kunci. Atau sebelum keluar pesen gini dulu,” Nanti bukain pintu ya…”

***

Panasnya hari ini gak seperti biasanya. Sinar raja siang yang menggarang ditambah badai pasir membuat ku sesak nafas “Buurrr…” angin  plus semburan debu menerpa tubuhku. Segera ku tempelkan sapu tangan ke mukaku untuk menyaring udara yang akan masuk keparu-paruku. Lima menitr.. sepuluh menit…tiga puluh menit.. Ahh… Sudah setengah jam lewat aku menunggu di sini. Namun bus-bus itu belum juga datang. Allah… Aku bener-benar lemas. Tenggorokan ini terasa kering, sekering kuliku yang yang terbakar matahari. Aku ingin cepat-cepat pulang, meminum sebotol air yang sudah dari tadi pagi aku dinginkan di kulkas. Kemudian merebahkan diri di kasur yang empuk sembari menikmati lembutnya hembusan kipas angin.

Akhirnya bus 939 melongok dari simpang Nurul Khitab.  ” Alhamdulillah.. busku sayangku…cintaku…akhirnya kamu datang juga” bisikku setengah meringis.  Kulambaikan tanganku , dan segera ku naik. Subhanallah… Sangat penuh dan sesak. Bak sarden teri yang ditabur bubuk merica, tubuhku pun meringkik di sela-sela himpitan ikan Salmon. Sabar… Aku harus bertahan

“Mutsallas ma”ek!” Teriakku khas dengan logat mesirku yang gak mirip-mirip amat. Aku menyerobot menyibak dempetan manusia untuk bergerak keluar.  Alhamdulillah… Aku sedikit plong. Ku paksakan langkah gontai ini menuju rumah. Perutku mulai menghentak-hentak kelaparan. Dahaga inipun begitu juga.  Sang panas dan debupun terus berlomba-lomba menerpa tubuhku. Namun tak aku hiraukan. Yang penting sampai rumah terlebih dahulu. Ku paculangkah seribu

“Satu..Dua.. Tiga sembilan…empat puluh..” Akupun telah berada di lantai dua, di depan pintu yang sudah tak sabar lagi kusibak. Kurogoh tasku mencari-cari kunci. Hah.. tak ada! Kembali kubongkar semua isi tasku. Benar-benar tak ada.. Terpaksa ku pencet bel yang selama ini tak kuhiraukan. Berkali-kali kupencet, tak kunjung ada yang menggerakkn gagang pintu di balik sana. Lima menit..sebelas menit…setengah jam. Aku tertuduk lemas. Bukankan Yuni dan Itoh udah dari jam sebelas tadi pulang? Tanyaku dalam hati. Kupun merai Hp mungilku, dan mendial “Baiti jannati”. Hasinya tetap nihil. Allah… Sepertinya ini karma” bisikku. Akupun lunglai di depan pintu

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: