HAJI TANPA MAHRAM, BOLEHKAH?

25 November 2010 at 10:10 am | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 8, hadis | Leave a comment

Oleh: Fadhilah Is*

Labbaikka Allahumma labbaik.

Marhaban ya Syahr al-Hajj, bulan haram yang penuh berkah dan maghfirah. Dengan  iman dan ketundukkan jutaan umat Islam berbondong-bondong menyambut seruan tuhan-Nya. Memang, ibadah haji adalah dambaan setiap muslim. Apalagi zaman sekarang dengan  fasilitas yang serba canggih membuat segalanya menjadi mudah. Lonjakan peminat hajipun tak dapat dielakkan. Laki-laki dan perempuan berlomba-lomba menggapai rahmat Allah di “rumah-Nya”. Namun timbul pertanyaan, bagaimana dengan muslimah yang tidak memiliki mahram, apakah dia diperbolehkan berhaji sendirian? Dalam hal ini ulama berbeda pendapat.

  1. Pendapat yang menyatakan haram (Hanafiah, Hambali dan Ibnu Jauzi)

Kewajiban yang harus dipenuhi laki-laki (Islam, baligh, berakal, merdeka dan kemampuan dalam bekal dan kendaraan) dalam menunaikan haji juga merupakan kewajiban bagi perempuan. Ditambah syarat khusus yaitu adanya suami atau mahram. Maka tidak adanya mahram yang menyertai seorang wanita dalam menunaikan ibadah haji menjadi sebab terhapusnya kewajiban haji baginya. Pendapat ini dikuatkan dengan dalil-dalil:

1. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari Ibnu Abbas, beliau mendengar Rasulullah berkhutbah: ”tidak boleh berkhalwat seorang perempuan dengan laki-laki kecuali bersama mahram”. Kemudian seorang laki-laki berdiri:” wahai Rasulullah sesungguhnya istriku hendak menunaikan ibadah haji sedangkan saya ingin mengikuti perang ini dan ini,”  Rasulullah berkata: ”pergi dan berhajilah bersama istrimu”.

Wajhu dilalah: Kewajiban adanya mahram dalam haji disebabkan perintah Rasulullah agar  menemani istrinya menunaikan haji dan meninggalkan perang padahal perang itu wajib baginya.

2. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari Abi Sa’id ”Rasulullah melarang seorang wanita bepergian selama 2 hari 2 malam kecuali bersama suami atau mahramnya”.

Wajhu dilalah: Jelas bahwa wanita tidak dihalalkan melakukan safar tanpa mahramnya. Banyak hadis yang senada dengan ini, ada yang meriwayatkan larangan safar selama 1 hari ada juga 3 hari. Semua riwayat tersebut tidak bertentangan karena inti masalah bukan pada jumlah harinya tapi pada kewajiban mahram bagi wanita jika bepergian.

Pandangan ini sekaligus menafikan keabsahan ibadah haji seorang muslimah sendirian tanpa mahram, meskipun ditemani seorang muslimah tsiqah ataupun jamaah muslimah lainnya, karena mereka semua bukan termasuk golongan mahram yang mampu menjaganya sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

  1. Pendapat yang menyatakan boleh (Syafi’i, Ibnu Qudamah, Malik dan Auza’i)

Tidak ada kemestian adanya mahram bagi wanita untuk melaksanakan haji wajib, dan cukup bersamanya jama’ah  wanita (yang terpercaya). Pendapat ini dikuatkan dengan dalil-dalil:

  1. Al-Quran surat Ali Imran: 97 Artinya: “(dan diantara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke baitullah yaitu bagi orang-orang yang mampu)”.

Wajhu dilalah: Wanita yang dalam keadaan aman dari mara bahaya diwajibkan menunaikan ibadah haji. Karena syarat utama beribadah haji adalah kemampuan untuk berangkat dan pulang kembali serta mampu menyempurnakan seluruh rangkaian manasik haji.

  1. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari Ibnu Umar, ketika Rasulullah ditanya; ”apakah yang mewajibkan haji?’,beliau berkata: “al-zat (bekal pulang-pergi) dan al-rihalah (kendaraan yang memberikan rasa aman)”.

Wajhu dilalah: Apabila wanita memiliki  kemampuan dan adanya rasa aman dalam perjalanan haji haji maka tidak adanya mahram bukanlah menjadi penghalang yang mutlak. Boleh baginya pergi dengan rombongan haji perempuan lainnya.

  1. Perbuatan sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, ketika Umar memberikan izin bagi istri-istri Rasulullah menunaikan ibadah haji ditemani Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.

Wajhu dilalah: Adanya kesepakatan antara Umar, Usman, Abdurrahman bin Auf dan istri-istri Rasulullah serta tidak ada  diantara sahabat yang mengikari keberangkatan haji tersebut merupakan Ijma’ yang membolehkan wanita menunaikan ibadah haji bersama rombongan wanita terpercaya.

  1. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari ‘Ady bin Khatim berkata: “ketika saya sedang bersama Rasulullah saw datang kepada beliau seorang laki-laki mengadu tentang kemiskinan, kemudian datang laki-laki lain mengadu tentang perampokkan. Kemudian Rasulullah berkata: ”wahai ‘Ady apakah kamu telah melihat alKhiyarah (desa dekat Kufah)?” ‘Ady menjawab: “saya belum melihatnya tapi saya sudah pernah mendengarnya”. Rasulullah berkata: ”apabila panjang usiamu maka kamu akan melihat al-dha’inah (tandu pada punggung onta di dalamnya ada perempuan atau tidak) berjalan dari al-Khiyarah hingga berthawaf mengelilingi Ka’bah tidak ada ketakutan sedikitpun kecuali terhadap Allah”.

Wajhu dilalah: Boleh bagi wanita menunaikan ibadah haji jika terjamin keamanannya meskipun tanpa adanya mahram karena qiyas dari hadis ini.

Dari dalil-dalil yang dipaparkan diatas jelaslah bahwa adanya perbedaan persfektif ulama dalam memandang kemestian adanya mahram bagi wanita dalam menunaikan ibadah haji.  Kalau kita lihat realita sekarang pemerintah Arab Saudi mewajibkan keikutsertaan mahram haji bagi perempuan melalui selembar surat pernyataan demi keamanan selama perjalanan dan prosesi haji. Di sisi lain mulai menjamurnya jasa-jasa travel haji dan KBIH membuat para muslimah berlomba-lomba untuk menjawab panggilan Allah tiap tahunnya.

Maka semuanya kembali kepada kita pribadi. Bagi yang mewajibkan mahram mereka berlandaskan kepada dalil-dalil yang kuat dan bagi yang meyakini cukup adanya sekolompok wanita yang dipercaya mereka pun berpegang kepada dalil-dalil yang kuat.

Dan yang mesti dingat bagi setiap muslimah yang akan berhaji dengan atau tanpa mahram, hendaknya mempersiapkan segala-galanya. Tidak cuma fisik dan materi, tetapi juga mental dan ilmu manasik haji, sehingga bisa maksimal menunaikan semua ibadah di tanah suci sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan meraih haji mabrur. Ya Allah jadikanlah kami diantara tamu-tamu yang engkau panggil bersujud di “rumah-Mu”. Amin!!!

*Mahasiswi tk 4 Jur Hadis Univ Al-Azhar Kairo

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: