DERAI AIR MATA MEMBASAHI RANAH MINANG

23 February 2010 at 12:30 pm | Posted in Gen 5, MASISIR NEWS, Uncategorized | Leave a comment
Tags:

Negeri indah beriklim tropis dengan udara sejuk dan pemandangan alam yang asri serta kaya akan sumber daya alam, itulah tempat kelahiran kita. Begitu besar nikmat yang dianugerahkan Allah kepada kita. Namun, dibalik itu semua, juga banyak musibah yang Allah timpakan sebagai bukti kekuasaan-Nya. Bisa jadi ini adalah peringatan atas kelalaian atau bahkan pertanda kasih sayang Allah untuk meningkatkan kualitas keimanan.

Apapun bisa terjadi sebagaimana Allah menciptakan manusia hanya dengan berfirman “kun”, maka dengan seketika jadilah seorang manusia dengan izin-Nya. Begitu pula dengan berbagai fenomena alam yang datang secara tiba-tiba tanpa mengenal waktu dan suasana malahan hampir tidak dapat diprediksi kapan datangnya, seperti: tsunami, gempa bumi, gunung meletus, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, dan masih banyak lagi. Disadari atau tidak, selalu terjadi berbagai bencana alam silih berganti dalam rentang waktu berdekatan di negeri kita ini, yang merenggut korban jiwa dan harta yang tidak sedikit jumlahnya.

Rabu, 30 september 2009, pukul 17:16, deraian air mata kembali membanjiri ranah Minang. Apa yang tengah terjadi? Kiamatkah?  Goncangan gempa dahsyat dengan kekuatan 7,6 skala richter mengagetkan saudara-saudara kita, meluluhlantakkan gedung-gedung dan perumahan di kota Padang dan sekitarnya. Masyarakat berlarian mencari perlindungan, tua muda panik bahkan menangis sembari tak henti mengagungkan asma-Nya, anak-anak menjerit, semua dicekam ketakutan, jangan-jangan terjadi tsunami. Bahkan, masih ada 247 gempa susulan hingga Kamis sore dengan kekuatan yang mulai melemah, rata-rata hanya 3-4 skala richter.

Cobaan yang didatangkan Allah ini, bukan hanya mengakibatkan kerugian materi, tapi juga sangat mempengaruhi faktor kejiwaan dan psikoligis korban. Gempa telah membuat sebagian besar mereka trauma, hingga memilih untuk tetap berada di luar rumah. Kekalutan perasaan mereka tentu tak terlukiskan dengan kata-kata, melihat semua perubahan yang terjadi tiba-tiba. Kehilangan orang-orang tercinta, musnahnya harta benda, hingga kekurangan makanan dan obat-obatan. Namun mereka hanya bisa pasrah dan bersabar. Apalagi anak-anak yang belum begitu mengerti apa arti semua ini. Mereka hanya bisa menangis dan menangis. Mereka tak lagi bisa sekolah, tak bisa bermain seperti biasa, bahkan ada yang kehilangan teman-temannya. Mereka tidur beratap langit, kedinginan dan kelaparan, sambil memperhatikan reruntuhan rumah yang megah, kini telah menjadi puing-puing yang rata dengan tanah.

Kita tentu turut merasa sedih, gundah dan pilu walaupun tidak merasakan langsung kengerian gempa yang diturunkan Allah. Sungguh Allah Maha Kuasa terhadap apapun. Inilah bukti kita manusia tidak berdaya, makhluk yang lemah.

Semua bencana ini bukanlah tanpa makna dan arti apa-apa karena tidak mungkin Allah menciptakan sesuatu yang sia-sia. Musibah-musibah ini mangajak kita untuk kembali mengintrospeksi diri bahwa kita hanyalah makhluk lemah dalam genggaman kekuasaan Allah. Sebagaimana firman-Nya: “Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisaa’: 28)

Allah juga telah memperingatkan bahwa setiap makhluk hidup pasti akan mendapatkan ujian dan cobaan berupa kesenangan dan kesusahan, kebaikan dan keburukan. “Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS.  Al-A’raaf: 168)

Ujian yang baik-baik yang Allah turunkan kepada kita berupa ketaatan, hidayah, kesehatan, kedamaian, kekayaan, rumah tangga yang harmonis, keamanan dan segala yang menyenangkan kita. Sedangkan ujian yang buruk-buruk berupa kemaksiatan, kesesatan, sakit, menderita, kesusahan, kemelaratan, rumah tangga yang tidak harmonis, ketakutan dan segala yang tidak menyenangkan kita.

Satu hal yang tak boleh terlupa, bahwa di setiap musibah, Allah pasti selalu memberikan pertolongan. Kita saksikan betapa cepat dan banyaknya bantuan yang mengalir dari berbagai kota, propinsi, bahkan dari luar negri terhadap para korban gempa di Sumbar. Tim penanggulangan bencara pemerintah, tim penyelamat PBB, tim medis dan para relawan dari berbagai yayasan dan organisasi dengan sigap membantu proses evakuasi dan recovery. Berbagai bantuan berupa makanan, selimut, tenda dan obat-obatan dan sebagainya berdatangan lewat jalur darat, laut dan udara. Sampai-sampai terjadi antiran pesawat untuk mendarat di Minangkabau Internasional Airport  Sumbar.

Namun akibat longsor yang mengisolir beberapa desa di Pariaman hingga tak terjangkau oleh publik, bantuan tidak dapat didistribusikan dengan merata. Diberitakan ada empat orang ibu-ibu rela berjalan sejauh enam kilometer untuk mendatangi posko makanan lantaran kehabisan stok makanan. Katanya di lingkungan sekitar ada toko yang biasa menjual mi instant, namun mereka enggan menjualnya dengan alasan untuk persedianan makanan pribadi mereka.

Kali ini ketakutan dan kelaparan dirasakan oleh semua orang dari berbagai kalangan kehidupan. Biasanya orang miskin yang selalu memikirkan apa yang bisa dimakan besok. Dan orang kaya yang terbiasa hidup mewah, makan enak, lezat, yang selalu memikirkan “besok enaknya makan apa ya?”. Ternyata kini semua sama rata, tidak ada perbedaan. Itu semua adalah pinjaman dan Allah menariknya kembali.

Allah menyamaratakan mereka semua, inilah bukti di dunia tidak ada apa-apa nya kecuali keimanan seseorang. Hanya dengan keimanan yang menguatkan jiwa raga, yang membahagiakan dan keyakinan dengan pertolongan Allah.

Perlu kita sadari bahwa apapun nikmat yang diberikan Allah pasti ada hikmahnya. Dan seyogyalah masing-masing kita mengintropeksi diri, ada apa di balik semua ini?

Ingat dengan hadis Rasulullah: Rasulullah saw bersabda: Tidaklah suatu kaum yang orang-orang taatnya lebih banyak daripada pelaku maksiatnya, tetapi mereka membiarkannya, melainkan Allah akan mengadzabnya secara merata. (HR Ahmad dan Baihaqi)

Apa sebenarnya yang terjadi dengan kota Padang, Pariaman dan daerah sekitarnya? Apakah kemaksiatan sudah sedemikian merajalela? Inilah tugas kita sebagai da’i ataupun ulama yang akan pulang ke kampung halaman tercinta. Kita dibebani tanggungjawab terhadap apapun yang kita lakukan dan juga terhadap lingkungan sekitar. Semestinya dimana pun berada kita mampu mewarnai dengan nilai-nilah agama, mematuhi aturan Allah dan menegakkan sunnah Rasul-Nya sebagai bukti cinta pada Allah dan Rasul. Kita tidak sepatutnya tinggal diam berpangku tangan, karna kita punya misi yang konkrit demi memperjuangkan nilai-nilai Islam.

Rasulullah saw juga bersabda: Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya niscaya Allah akan menyegerakan hukuman baginya di dunia dan jika Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya niscaya Allah akan mengakhirkan hukuman atas dosa-dosanya sehingga Allah akan menyempurnakan hukuman baginya di akhirat kelak. {HR. Al-Imam At-Tirmidzi dari shahabat Anas ibn Malik ra}.

Hadits tersebut menjelaskan bahwa apabila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya niscaya Allah akan menyegerakan hukuman baginya di dunia. Maka bergembiralah wahai semua! Alangkah tenangnya hati-hati kita ketika dilanda musibah mengucapkan: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahumma’jurni fi musibati wakhlufli khoiran minha”

Semoga kota Padang, Pariaman dan kota-kota lain yang hancur akibat gempa, bisa segera dipulihkan dan direhablitasi. Semoga bencana ini juga semakin membuka mata hati korban gempa khususnya dan semua kaum muslimin umumnya akan ke-Maha Kuasa-an Allah dan semakin memotivasi peningkatan nilai-nilai spiritual dan moral di dalam kehidupan. Aamiin

Meskipun tidak langsung terkena bencana, tapi marilah kita tetap intropeksi perjalanan usia yang kita lalui selama ini. Apakah kita telah maksimal berusaha meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan ataukah masih terus larut melakukannya? Apakah kita baru mampu berkata dan masih belum mengamalkannya?

Sebagai penutup, mari renungkan firman Allah Swt berikut sebagai motivasi kebaikan bagi kita semua: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf: 96)

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: