KELUARGA BERENCANA DALAM ANALISA SYARI’AT (2/2)

31 December 2009 at 11:33 pm | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 3 | 1 Comment
Tags: , , ,

IV. Dampak Negatif Tahdid Al-Nasl


Diantara dampak negatif yang ditimbulkan terhadap program KB yang berujung  pada pembatasan keturunan adalah:

  1. Pelanggaran terhadap syari’at Islam. Karena program pembatasan kelahiran telah dijadikan program global dunia, maka terdapat penyebaran alat-alat kontrasepsi yang membludak dan kemudahan untuk mendapatkannya memancing masyarakat untuk tidak mau dibebani tanggung jawab keturunan.
  2. Timbulnya keinginan untuk menggunakan alat-alat kontrasepsi untuk merealisasikan keinginan yang salah (perzinaan) dengan aman.
  3. Timbulnya penyakit menular seperti penyakit kelamin dan AIDS karena perzinaan merajalela.
  4. Karena pengunaan alat kontrasepsi yang tersembunyi dan aman dari akibat kehamilan, maka mengakibatkan hilangnya rasa malu, krisis moral, rusaknya nasab dan keretakan hubungan keluarga.
  5. Terputusnya regenerasi yang mengakibatkan minimnya tenaga kerja produktif dan melemahnya dakwah akibat kurangnya pejuang pembela agama dan umat.
  6. Pengaruh negatif alat-alat kontrasepsi tehadap tubuh. Penelitian medis membuktikan bahwa alat kontrasespsi yang tidak cocok dapat merusak keseimbangan hormon-hormon dalam tubuh, kanker rahim, melemahkan daya ingat dan lumpuh kedua kaki dan tangan.[1]
  7. Untuk mencapai target yang diinginkan dalam program global pembatasan kelahiran, membutuhkan biaya yang diambil dari kas suatu bangsa secara besar-besaran. Akhirnya terdapat penggunaan dana pada jalan yang salah. Akan lebih baik jika dana itu digunakan untuk pertumbuhan ekonomi demi kemakmuran bangsa (Majma’ Fiqh Islami di Makkah Mukarramah).[2]

V. Hukum Man’u’l Haml (pemandulan selamanya) /Vasektomi dan Tubektomi

Sterilisasi (Man’u’l Haml/pemandulan selamanya) adalah salah satu program KB yang dikampanyekan pemerintah Indonesia saat ini. Dalam istilah medis, sterilisasi dikenal dengan nama Tubektomi dan Vasektomi.

Prof.Dr.H. Masjfuk Zuhdi dalam bukunya: Masa’il Fiqhiyyah menerangkan tentang sterilisasi sebagai berikut:

1.Tubektomi

– Tubektomi adalah: Operasi ringan dan cepat yang dilakukan pada perempuan (tubal ligation) agar steril dan tidak mampu lagi memproduksi anak dengan arti bahwa kemungkinan kehamilan sudah hampir nol.

– Caranya adalah: dibuat dua irisan kecil di bawah bagian perut perempuan kemudian memotong saluran sel telur (tuba paluppi) dan menutup kedua-duanya sehingga sel telur tidak dapat  keluar dan sel sperma tidak dapat pula masuk bertemu dengan sel telur, sehingga tidak terjadi kehamilan.

– Durasi waktu yang dibutuhkan untuk tubektomi adalah: kira-kira 30 menit.

2. Vasektomi

– Adalah operasi sederhana pada laki-laki untuk mensterilkan sehingga tidak bisa lagi membuahi untuk menghasilkan anak.

– Caranya: memotong saluran mani (vas deverens) kemudian kedua ujungnya diikat, sehingga sperma tidak dapat mengalir keluar penis (urethra)

– Durasi waktu yang dibutuhkan: Hanya beberapa menit saja. Cendrung lebih cepat dibanding tubektomi.[3] (situs BKKBN online.com, edisi Selasa, 3 oktober 2006))

Sterilisasi baik vasektomi maupun tubektomi sama dengan abortus, yang mana hal ini berakibat kemandulan. Karena itu ,International Planned Parenthood Federation (IPPF) tidak menganjurkan kepada negara-negara anggotanya termasuk Indonesia untuk melaksanakan sterilisasi sebagai alat kontrasepsi.

Hasil Ijtihad para ulama Islam tentang hukum vasektomi dan tubektomi:

  1. Keputusan Majma’ Fiqh Islami di Kuwait tanggal 5/9/1988 menyebutkan: diharamkan untuk memutuskan kemampuan mempunyai anak bagi laki-laki dan perempuan  yang dikenal dengan pemandulan (vasektomi dan tubektomi) tanpa adanya alasan yang dibenarkan syari’at.
  2. Keputusan Majma’ Fiqh Islami di Makkah Mukarramah menyebutkan: Tidak dibolehkan pemutusan kehamilan selamanya (pemandulan) tanpa adanya alasan yang darurat secara syar’i. Yaitu apabila membahayakan hidupnya karena suatu penyakit, maka jika pemandulan adalah cara untuk menyelamatkan hidup si perempuan dari kematian maka itu dibolehkan.

Pada dasarnya, hukum sterilisasi vasektomi dan tubektomi dalam Islam adalah haram dengan beberapa sebab:

1.Sterilisasi  (vasektomi/tubektomi) berakibat pemandulan. Hal ini bertentangan dengan tujuan pokok perkawinan dalam Islam yaitu perkawinan selain bertujuan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat juga untuk mendapatkan keturunan yang sah.

2. Mengubah ciptaan Tuhan dengan jalan memotong dan menghilangkan sebagaian anggota tubuh yang sehat dan berfungsi).

3. Melihar aurat besar orang lain.

Namun apabila suami istri dalam keadaan terpaksa ( darurat/emergency) seperti terancamnya jiwa si ibu apabila ia mengandung maka hal itu dibolehkan. Hal ini berdasarkan kaidah hukum Islam: Keadaan darurat itu membolehkan hal hal yang dilarang.[4]

V1. Tanzhim Al-Nasl (Pengaturan Kelahiran)/ KB yang Dibolehkan Islam

Dalil-dalil syariat yang menunjukkan kebolehan pengaturan kelahiran antara lain:

1.QS: Al Baqarah: 233

Para ibu hendaklah menyusui anaknya selama dua tahun  yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya.”

Rahasia ayat: menunjukkan adanya hak seorang anak untuk menerima pasokan gizi yang cukup (ASI) sehingga si anak terhindar dari keterlantaran jasmani)

2. QS: Luqman: 14

Dan kami amanatkan kepada maunsia untuk berbuat baik terhadap kedua orang tuanya. Ibunya yang telah mengandungnya dan menyapihnya selama dua tahun.”

3.QS: Al Ahqaf:15

Mengandung sampai menyapihnya adalah 30 bulan.”

Imam Qurthubi di dalam tafsirnya mengatakan bahwa: jika hamilnya 6 bulan maka masa menyusuinya adalah 24 bulan, jika hamilnya 7 bulan maka masa menyusuinya  adalah 23 bulan, jika hamilnya 8 bulan maka masa menyusuinya adalah 22 bulan dan seterusnya…

Ayat-ayat diatas mengandung beberapa hikmah:

  • Terpeliharanya kesehatan ibu dan anak
  • Terjaminnya keselamatan jiwa ibu karena beban jasmani dan rohani selama hamil
  • Terjaminnya kesehatan jiwa si anak dan tersedianya pendidikan yang cukup baginya
  • Terjaminnya keselamatan agama orang tua yang dibebani kewajiban mencukupkan kebutuhan keluarga.[5]

Hasil ijtihad ulama tentang Tanzhim Al-Nasl:

1. Dr. Yusuf Qaradhawi dalam bukunya menjelaskan: pengaturan kelahiran adalah dibolehkan jika terdapat sebab-sebab yang membolehkannya yaitu:

a. Khawatir terhadap kehidupan dan kesehatan ibu apabila hamil atau melahirkan,setelah dilakukan suatu pemeriksaan medis oleh dokter yang terpercaya.

Dengan dalil:

–                “Janganlah engkau menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan” (QS:Al Baqarah: 195)

–                “Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri.Sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadap kamu sekalian.” (Qs:An Nisa’:29)

b. Khawatir terjadinya bahaya pada urusan dunia yang kadang-kadang bisa mempersukar urusan agama (ibadah) sehingga menyebabkan orang mau menerima barang yang haram dan mengerjakan yang terlarang justru untuk kepentingan anak-anaknya.

Dengan dalil:

–  “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran untukmu.” (QS: Al Baqarah:185)

– “Allah tidak menginginkan untuk menjadikan kamu teraniaya (menderita)” (Qs: Al Maidah:6)

c.Khawatir akan nasib anak, membahayakan kesehatan dan pendidikannya.

Dengan dalil: “Sungguh saya bermaksud melarang ghilah (bersetubuh dengan perempuan yang menyusui karena itu dapat merusak air susu dan melemahkan anak),kemudian saya melihat orang-orang Persi dan Rum melakukannya, ternyata tidak membayakan kepada anak-anak mereka.”

  1. Khawatir terhadap kondisi kesehatan wanita yang masih menyusui jika dia hamil kembali dalam masa menyusui tersebut.[6]

2. Syeih ‘Athiyyah Shaqr menjelaskan dalam bukunya, bahwa kebolehan Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran)sama dengan kebolehan ‘Azl (senggama terputus) dengan alasan:

– Jika dimaksudkan untuk menjaga kondisi kecantikan seorang wanita untuk menyenangkan suaminya maka tidak ada larangan padanya.

– Khawatir akan memperbanyak penderitaan dengan banyaknya anak dan mempersempit usaha untuk mememuhi kebutuhan hidup maka ‘Azl dibolehkan.

Syeikh ‘Athiyyah Shaqr menambahkan: Adapun hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa beliau SAW akan bangga dengan banyaknya umat Islam pada hari kiamat bukan dimaksudkan dengan generasi yang lemah. Namun yang dimaksudkan disana adalah generasi  yang kuat dan berkualitas dalam artian bahwa Islam menyukai generasi yang sholeh akal dan akhlaknya serta kuat badannya sehingga mempunyai kesanggupan memikul amanah.[7]

3. Syeikh Utsaimin dalam fatwanya menjelaskan: Dibolehkan bagi seorang wanita untuk tidak hamil dalam waktu yang temporal sesuai dengan kebutuhan si wanita untuk memulihkan kembali jasmaninya yang melemah dalam masa satu atau dua tahun.

4. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengatakan: Apabila seorang wanita mempunyai suatu penyakit di rahimnya atau ia sudah mempunyai begitu banyak anak dan memberatkan untuknya hamil kembali, maka dibolehkan baginya menangguhkan kehamilan kembali dalam masa satu atau dua tahun dengan menggunakan obat-obatan. Ataupun dibolehkan baginya menangguhkan kehamilan apabila ada rekomendasi dari dokter yang berwewenang.

5. Dikutip dari pendapat buya Hamka di dalam tafsir Al Azharnya mengatakan: “Bahkan banyak ibu subur yang melahirkan anak tahun ini, melahirkan pula tahun depan, kemudian melahirkan yang satu lagi dan menyusui pula sesudah itu, sehingga tahun ini beranak, tahun depan menyusui. Lama-lama anak kian banyak dan badan kian lama kian lemah…”

V1. Penutup

Dari uraian diatas akhirnya penulis menyimpulkan:

  1. Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran) adalah tidak dibenarkan dalam Islam secara mutlak. Namun Islam memberikan rukhsah (keringanan) kepada umatnya untuk mengatur jarak kelahiran (Tanzhim Al-Nasl)
  2. Pemutusan kehamilan secara mutlak (man’u Al-Haml)/ pemandulan selamanya (vasektomi atau tubektomi) tidak dibolehkan dalam Islam kecuali dalam kondisi yang darurat atau alasan yang dibenarkan syar’i seperti seorang wanita yang mempunyai penyakit di rahimnya dan pemandulan adalah satu-satunya cara. Namun apabila masih ada alternatif pengobatan lain maka vasektomi dan tubektomi diharamkan.
  3. Penggunaan metode vasektomi dan tubektomi dalam program KB pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) adalah diharamkan.
  4. Batas waktu dibolehkannya Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) tergantung pada kesepakatan pasangan suami istri  menilik pada kemaslahan bersama.
  5. Pemakaian berbagai jenis alat kontrasepsi seperti  kondom, pil, suntik dan spiral  dalam Tanzhim Al-Nasl adalah dibolehkan selama alat-alat tersebut tidak mengandung zat-zat yang diharamkan secara syariat.
  6. Menempuh metode alami seperti senggama terputus (‘Azl/ mengeluarkan sperma di luar rahim) dalam Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) adalah dibolehkan karena itu termasuk cara yang ditempuh pada masa  Rasulullah.

Dengan dalil: “Dari Jabir RA: kami melakukan ‘Azl/senggama terputus pada masa Rasulullah sedang Al-Qur’an masih turun.” (HR. Muslim)[8]

  1. Jika vasektomi dan tubektomi tidak dibolehkan dalam program KB pembatasan kelahiran maka lebih tidak dibolehkan lagi penggunaan metode vasektomi dan tubektomi dalam Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran).
  2. Sengaja penulis tidak membahas tentang alat kontrasespi yang beragam karena kecocokan atau tidaknya suatu alat kontrasespi dalam Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing individu. Karena siklus kesehatan individu sangat relatif. Maka untuk memilih alat kontrasepsi yang aman dan cocok untuk kondisi kesehatan si pemakai,  tergantung pada konsultasi dokter yang berwewenang.

Wa’lLahu A’lam Bi al-Shawab.

V11. Daftar Pustaka

–                Athiyyah Shaqr, Tarbiyyatul Aulad fil Islam, Cairo: Maktabah Wahbah, 2003 M/1424 H, cet.1.

–                Fatawa Mar’ah at-Tibbiyah.

–                Masjfuk Zuhdi, Masa’il Fiqhiyyah, Jakarta: Gunung Agung, 1996, cet. Ke 9.

–                Muhammad Shafwat Nuruddin, Fathu’l Karim bi Ahkâmi’l Hâmil wa al-Janîn, Kairo: Dâr al-Jauziy, 2006, cet. I.

–                Yususf Qaradhawi, Al-Halal wal Haram Fil Islam, Cairo: Maktabah Wahbah, 2002 M/1423 H, cetakan ke 27.

–                BKKBN online

–                Hidayatullah.com

–                Wikipedia


[1] Tahdid Al-Nasl dalam Wekepedia, Mausu’ah Hurrah

[2] Muhammad Shafwat Nuruddin, Op.cit,  hal 142

[3] Prof. Dr.H. Masjfuk Zuhdi, Op.cit,  hal 67-68.

[4] Ibid, hal 68-69.

[5] Ibid, hal58-60.

[6] Yusuf Qaradhawi, Al Halal wal Haram Fil Islam, Cairo: maktabah Wahbah., 2002 M/1423 H) cet.27 hal.176-177.

[7] ‘Athiyyah Shaqr , Op.cit, hal 69-72.

[8] ‘Athiyyah Shaqr, Op.cit, hal.57, Yusuf Qaradhawi, Op.cit, hal 175.

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wah info yang bermaanfaat nih.. terimakasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: