KELUARGA BERENCANA DALAM ANALISA SYARI’AT (1/2)

31 December 2009 at 11:05 pm | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 3, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , ,

Oleh: Mike Putri Rahayu[1]

  1. I. Pendahuluan

Kilas Balik Program  KB (Keluarga Berencana).

Ada banyak wacana yang beredar hingga kini sejak program KB digulirkan tanggal 29 juni 1970.  Gagasan yang diusung pemerintah Indonesia sejak beberapa tahun lalu ini ternyata tidak selalu menuju ke satu titik persamaan. BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) yang berada di bawah Kementrian Kesehatan gencar mempromosikan pendidikan KB secara maksimal dengan maksud dapat menjangkau semua lapisan masyarakat baik yang tinggal di pojok perkotaan atau pun di pelosok pedalaman. Namun seiring berjalannya waktu, kian melebarlah pandangan berbagai pihak tentang program KB. Lahirlah versi-versi tersendiri dalam mengartikan program ini. Sehingga setiap hal yang berhubungan dengan KB tidak lagi  hanya disandarkan kepada opini  BKKBN semata.

Di awal masa kemunculannya, masyarakat Indonesia mengenal KB sebagai sesuatu yang benar-benar masih baru. Sehingga ketika bermunculan iklan-iklan dengan slogan Keluarga Berencana Keluarga Bahagia, semua dianggap wajar. Namun ketika penawaran itu mulai terkesan sporadis, diperkuat dengan keluarnya Undang-undang no.10 tahun 1992 tentang Perkembangan kependudukan dan Pembentukan Keluarga Sejahtera – keluarga bahagia cukup dengan dua anak saja – maka reaksi pun bermunculan dimana-mana. Sebagian pihak akhirnya menolak mati-matian bahkan mengharamkan KB bagaimanapun bentuknya. Sebagian yang lain mencari jalan tengah dengan memilah dan memilih manfaat dan mudharatnya untuk kemanusiaan.

Di tahun 2007, ketika program KB makin meredup tergilas situasi politik dalam negeri, pemerintah beniat kembali menggalakkan program KB yang sempat mati suri beberapa saat itu. Kecaman pun lagi-lagi berdatangan karena jika pemerintah merealisasikan KB menjadi peraturan resmi maka akan menjebak pemerintah ke dalam pelanggaran HAM!

Apa yang sesungguhnya terjadi? Untuk mengetahui akar permasalahan ini lebih lanjut, kita perlu mencermati hal-hal yang berkaitan dengan KB itu sendiri seperti: pengertian KB dan hukum KB dalam tinjauan syari’at  Islam, agar kita sebagai umat terdidik tidak terjebak ke dalam pragmatisasi dan justifikasi yang salah kaprah.

II. KB dalam berbagai persepsi

  1. KB Berdasarkan Teori Populasi Thomas Robert Malthus.

Thomas Robert Malthus merupakan orang yang pertama kali di Eropa yang menyerukan  program pembatasan kelahiran untuk mengurangi jumlah pertumbuhan manusia.[2]

Dapat dipahami sebagai sebuah program nasional yang dicanangkan untuk mengurangi pertumbuhan populasi penduduk karena diasumsikan pertumbuhan populasi penduduk tidak seimbang dengan ketersediaaan barang dan jasa.[3]

Dari teori populasi ini, lahirlah istilah birth control (pembatasan kelahiran). Sedangkan istilah Birth Control itu sendiri mempunyai konotasi yang negatif karena bisa mencakup sterilisasi, aborsi dan penundaan kawin sampai usai lanjut sebagaimana yang disarankan oleh Malthus (1766-1834) untuk mengatasi fertility of men (kesuburan manusia) dan fertility of soil (kesuburan tanah) yang tidak seimbang sebagai deret ukur berbanding dengan deret hitung.[4]

  1. KB Menurut Pandangan Gereja Katholik.

Di dalam buku berjudul: Membangun keluarga Sejahtera dan Bertanggung Jawab Berdasarkan perspektif Agama Katholik, karangan Romo Jeremias Balapito Duan MSF disebutkan :

–                Gereja Katholik memandang bahwa pelaksanaan pengaturan kelahiran harus memperhatikan harkat dan martabat manusia serta mengindahkan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang berlaku

–                Di dalam sabda Ensilik 10 dan Konsili, umat Katholik mempunyai tugas mengatur kelahiran untuk membangun kesejahteraan keluarga. Namun bukan orang lain atau negara yang boleh menentukan jumlah anak. Cara-cara mengatur kelahiran harus diputuskan oleh suami istri secara bersama.[5]

  1. KB dalam pandangan Islam

Di dalam Islam, terdapat tiga hal yang berkaitan dengan KB:

1. Man’u’l Haml (Pemutusan kehamilan)

Yaitu Menggunakan sarana atau cara-cara yang dapat mencegah seorang wanita dari kehamilan selamanya baik itu dengan cara alamiah (‘azl/senggama terputus), atau dengan bantuan alat tertentu yang dipasang di faraj/kemaluan.dll.

2. Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran)

Yaitu menghentikan proses kelahiran secara mutlak dengan membatasi jumlah anak. Dapat dilakukan dengan alamiah atau menggunakan alat-alat kontrasepsi yang beragam.

3. Tanzhim Al-Nasl (pengaturan atau penjarangan kelahiran)

Yaitu Menggunakan sarana-sarana atau metode-metode yang dapat mencegah kehamilan dalam masa yang temporal/berkala/sementara dan tidak dimaksudkan untuk pemutusan keturunan selamanya. Tetapi dilakukan untuk tujuan kemaslahatan yang disepakati oleh suami istri.

Adapun perbedaan dari masing-masing hal di atas adalah:

–                Man’ul Haml (pemutusan kehamilan) bertujuan untuk tidak mempunyai keturunan selamanya. Baik itu dengan menggunakan perantaraan obat-obatan untuk pemandulan ataupun tidak.

–                Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran) bertujuan untuk membatasi jumlah keturunan sampai beberapa orang anak saja. Diikuti dengan pemutusan kehamilan secara mutlak baik itu dengan perantaraan obat-obatan ataupun tidak.

–                Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan seorang wanita dengan melakukan penghentian kehamilan untuk waktu berkala saja. Baik itu dengan perantaraaan obat-obatan ataupun tidak. Sehingga si wanita mempunyai kesiapan yang cukup untuk melakukan reproduksi selanjutnya. Yang membedakan hal ini dengan hal diatas adalah tidak adanya pemutusan kehamilan secara mutlak.[6]

III. Hukum Pembatasan Kelahiran (Tahdid Al-Nasl)

Islam adalah agama penuh rahmat. Islam sangat peduli dengan kondisi sosial manusia. Begitu pun dalam masalah yang berkaitan dengan keturunan. Islam memberikan hak-hak mutlak untuk setiap manusia dalam memiliki keturunan. Namun Islam juga tidak ingin manusia tersiksa dan terbebani karena keturunannya. Walaupun begitu, Islam tak menghendaki sebuah pemusnahan. Pemusnahan keturunan adalah tindakan tercela yang nyata-nyata dikutuk oleh agama apapun di atas muka bumi ini. Karena itu berarti pembunuhan hak-hak hidup terhadap makhluk yang utuh dan berakal.

Maka, apabila istilah KB diidentikkan sebagai program pengurangan, pembatasan apalagi menghambat            pertumbuhan populasi penduduk, hal ini sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip aqidah Islam yang syumul (sempurna). Karena pada dasarnya, Islam sangat sempurna dalam mengurus hidup pemeluk-pemeluknya. Itu berarti Yang Maha Pencipta sangat teliti dalam mengurus seluruh keperluan makhluk yang diciptakanNya. Manusia telah diberikan jaminan hidup oleh Allah bahkan jauh sebelum seorang manusia dilahirkan. Mustahil jika Allah menciptakan seorang hamba tanpa memberikan bekal penghidupan untuk hamba tersebut.

Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allah lah yang memberikan rizkinya.” (Qs:Hud:11)

Terdapat sebab-sebab keliru yang dilangsir sebagai alasan konkrit dilakukannya Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran):

  1. Populasi penduduk yang semakin meningkat

Adanya anggapan bahwa populasi penduduk yang tidak terkendali akan menyebabkan kurangnya daya suatu negara dalam penyediaan barang dan jasa.

  1. Kesulitan merawat anak dan mendidiknya

Adanya opini yang dikembangkan oleh pihak-pihak yang mendukung pembatasan kelahiran bahwa kesulitan merawat anak dan mendidiknya tidak akan terjadi jika dilakukan pembatasan kelahiran secara kontinyu dan teratur oleh semua lapisan penduduk.

  1. Mengangkat kesejahteraan keluarga

Adanya hitung-hitungan materi dengan semakin banyaknya jumlah kepala dalam satu keluarga menuntut penyediaan materi yang lebih banyak pula untuk memenuhi kebutuhan. Disini terdapat pembatasan materi dalam pemahaman yang lux. Materi tidak lagi dipahami dalam kerangka primer.

  1. Kelalaian perempuan akan fitrahnya

Dengan alasan untuk aktualisasi dan pengembangan diri, banyak wanita yang terjebak pada stigma kerepotan mengurus anak, bahkan enggan untuk menyusui sehingga mereka lebih memilih langkah pembatasan kelahiran untuk penyeimbangan karir.[7]

Jika kita telisik kembali teori populasi yang digagas Robert Malthus, maka kita akan temukan beberapa kekeliruan yang mendasar diantaranya:

  1. Tidak adanya kesesuaian antara teori dan fakta dunia

Dari segi tinjauan fakta, teori Robert Malthus tidak sesuai dengan realitas yang ada. Menurut penelitian FAO (Food And Agriculture Organization) di tahun 1990, produksi pangan dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk dunia karena mengalami surplus 10 % pangan.

Jika kita analogikan secara akal, mustahil manusia sebagai makhluk yang berakal tidak menemukan cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan segala sarana dan prasarana bertebaran dimana-mana. Jika manusia bisa maju dengan laju teknologi, mustahil manusia tidak bisa maju untuk sekedar memenuhi kebutuhan primer dalam hidupnya.

  1. Teori populasi adalah produk ekonomi kapitalis.

Menurut Rudolf H. Strahm bahwa terjadinya kemiskinan di dunia ketiga adalah akal-akalan negara kapitalis. Ketidakcukupan barang dan jasa sesungguhnya bukan disebabkan padatnya populasi penduduk dunia, tetapi karena ada pendiskriminasian (ketidakseimbangan) dalam distribusi barang dan jasa. Sebanyak 80 % barang dan jasa dunia hanya berporos pada kepentingan kapitalis dalam artian dinikmati hanya oleh negara kapitalis yang hanya berpenduduk 25 % dari penduduk dunia.[8]

Secara syari’at, pengharaman pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) didasarkan pada beberapa pondasi hukum:

  1. Al-Quran

–                Qs: Al Isra’: 31

Janganlah Engkau membunuh anak-anakmu karena takut jatuh miskin. Kamilah yang memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah kesalahan yang besar.”

– Qs. Al An’am: 151

Janganlah engkau membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rizki untukmu dan untuk mereka.”

Dari dua ayat diatas dapat ditarik beberapa pemahaman Qiyas:

1. Sesungguhnya pemberian rezki oleh Allah swt berbanding lurus dengan adanya keturunan. Karena Allah tidak menciptakan seorang makhluk tanpa menciptakan rezki untuknya.

2. Rezki yang diberikan Allah adalah rezki inti untuk menopang kehidupan sesorang di muka bumi. Bukan rezki dalam artian rumah yang mewah dan harta benda berlimpah karena semua itu adalah kebatilan yang dihembuskan syetan ke dalam dada manusia.

3. Dengan bertambahnya anak yang lahir ke dunia, maka secara tidak langsung bertambah pula aset dunia untuk memperoleh kemajuan. Karena peradaban dan kemajuan merupakan bagian dari andil tangan-tangan trampil manusia.[9]

  1. Hadis Rasulullah.

–                HR. Abu daud:

Nikahilah perempuan-perempuan yang penyayang dan peranak (sanggup melahirkan anak yang banyak.”

–                HR. Imam Ahmad:

Sesungguhnya aku akan bangga karena umatku yang terbanyak pada hari kiamat.

Rahasia hadis:

1. Dua hadis diatas secara tidak langsung melarang kita untuk membatasi kelahiran atau jumlah keturunan. Malah Rasul saw menganjurkan umatnya untuk menikahi perempuan yang peranak untuk menambah jumlah umat dan memperkuat barisan kaum muslimin di jagad ini.

2. Dengan banyaknya keturunan berarti mendatangkan manfaat untuk alam semesta. Sebab keberadaan manusia berarti menambah jumlah tenaga kerja& kekuatan dalam masyarakat untuk memakmurkan alam.

3. Pemikiran pembatasan kelahiran adalah pemikiran yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam untuk mengurangi jumlah generasi penerus Islam sehingga akhirnya Islam melemah dengan sedikitnya individu.[10]

  1. Fatwa-fatwa Pendukung/ Ijma’ Ulama.

Di sebuah konferensi pertemuan Ulama kerajaaan Saudi Arabia yang berlangsung pada pertengahan rabi’ul Akhir tahun 1397 H  diputuskan beberapa hal berikut:

Memandang : bahwa syari’at Islam menganjurkan untuk memperbanyak keturunan, karena keturunan adalah nikmat dan pertolongan terbesar dari Allah untuk hambaNya dengan dilandasi nash syari’at yang sah yaitu Alqur an dan sunnah Rasulullah,

Memandang: pemikiran pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) adalah pemikiran yang bertentangan dengan fitrah manusia sebagai makhluk Allah yang suci,

Memandang: bahwa seruan pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) dan pemutusan kehamilan secara mutlak (Man’ul Haml)adalah untuk menghancurkan pondasi Islam secara umum dan bangsa arab secara khusus sehingga tidak ada kemampuan untuk mereka memabangun bangsa dan negaranya,

Maka masjlis memutuskan bahwa:

*Pembatasan keturunan adalah mutlak tidak dibolehkan.

*Tidak dibolehkan pencegahan kehamilan (Man’ul Haml) atas motivasi karena takut jatuh miskin.

*Apabila pencegahan kehamilan dilakukan karena alasan darurat seperti: kondisi seorang perempuan yang tidak bisa melahirkan secara normal ataupun mengundurkan proses kehamilan untuk sementara demi kemaslahatan keluarga maka tindakan pencegahan kehamilan tersebut dibolehkan.

*Dibolehkan pencegahan kehamilan sementara dengan meminum obat-obatan untuk menghambat produksi indung telur sebelum seseorang itu berumur 40 tahun.[11]

  • Keputusan Majma’ (tim) Fiqh Islam di Makkah Mukarramah memutuskan bahwa: Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran) tidak dibolehkan secara mutlak.
  • Keputusan Majma’ Fiqh Islami di Kuwait no. 1 tertanggal 5/9/1988 memutuskan:

–                Tidak dibolehkan adanya suatu undang-undang hukum untuk mengatur pembatasan kelahiran suatu janin karena itu adalah hak mutlak pasangan suami istri.

  • Keputusan Majma’ Buhust Islamiyah di Cairo pada Muharram 1385 H/ Mei 1965:

Tidak sah secara syariat membuat undang-undang yang memaksa manusia untuk membatasi kelahirannya.[12]


[1] Diterbitkan dalam kumpulan tulisan Bundo Kanduang KMM Mesir sebagai oleh-oleh atas kedatangan duta Gubernur dan DPRD Sumbar untuk Peresmian Rumah Gadang KMM.

[2] ‘Athiyyah Shaqr, Tarbiyyatul Aulad Fil Islam, (Cairo: maktabah Wahbah, 2003 M) juz 4 cet. 1 hal 52

[3] hidayatullah.com

[4] Prof.Dr.H. Masjfuk Zuhdi, Masa’il Fiqhiyah, PT. Toko Gunung Agung, Jakarta, cet.9, 1996 M, hal 55

[5] Situs BKKBN online.com, edisi Minggu, 24 Februari 2008

[6] Muhammad Shafwat Nuruddin, Fathu’l Karim bi Ahkamil Haml Wal Janin, Cairo, Dar Al Jauziy, 2006, cet.1 hal 137

[7] Tahdid Al-Nasl dalam wekepedia, mausu’ah Hurrah

[8] Hidayatullah.com

[9] Berdasarkan fatwa mufti Shalih bin Fauzan Al Fauzan dalam kitab fatawa mar’ah attibbiyyah hal 88.

[10] Ibid, hal 86-87

[11] Muhammad Shafwat Nuruddin, Op.cit, hal 138

[12] ‘Athiyyah Shaqr, Op.cit, hal 72.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: