KELUARGA BERENCANA DALAM ANALISA SYARI’AT (2/2)

31 December 2009 at 11:33 pm | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 3 | 1 Comment
Tags: , , ,

IV. Dampak Negatif Tahdid Al-Nasl


Diantara dampak negatif yang ditimbulkan terhadap program KB yang berujung  pada pembatasan keturunan adalah:

  1. Pelanggaran terhadap syari’at Islam. Karena program pembatasan kelahiran telah dijadikan program global dunia, maka terdapat penyebaran alat-alat kontrasepsi yang membludak dan kemudahan untuk mendapatkannya memancing masyarakat untuk tidak mau dibebani tanggung jawab keturunan.
  2. Timbulnya keinginan untuk menggunakan alat-alat kontrasepsi untuk merealisasikan keinginan yang salah (perzinaan) dengan aman.
  3. Timbulnya penyakit menular seperti penyakit kelamin dan AIDS karena perzinaan merajalela.
  4. Karena pengunaan alat kontrasepsi yang tersembunyi dan aman dari akibat kehamilan, maka mengakibatkan hilangnya rasa malu, krisis moral, rusaknya nasab dan keretakan hubungan keluarga.
  5. Terputusnya regenerasi yang mengakibatkan minimnya tenaga kerja produktif dan melemahnya dakwah akibat kurangnya pejuang pembela agama dan umat.
  6. Pengaruh negatif alat-alat kontrasepsi tehadap tubuh. Penelitian medis membuktikan bahwa alat kontrasespsi yang tidak cocok dapat merusak keseimbangan hormon-hormon dalam tubuh, kanker rahim, melemahkan daya ingat dan lumpuh kedua kaki dan tangan.[1]
  7. Untuk mencapai target yang diinginkan dalam program global pembatasan kelahiran, membutuhkan biaya yang diambil dari kas suatu bangsa secara besar-besaran. Akhirnya terdapat penggunaan dana pada jalan yang salah. Akan lebih baik jika dana itu digunakan untuk pertumbuhan ekonomi demi kemakmuran bangsa (Majma’ Fiqh Islami di Makkah Mukarramah).[2]

V. Hukum Man’u’l Haml (pemandulan selamanya) /Vasektomi dan Tubektomi

Sterilisasi (Man’u’l Haml/pemandulan selamanya) adalah salah satu program KB yang dikampanyekan pemerintah Indonesia saat ini. Dalam istilah medis, sterilisasi dikenal dengan nama Tubektomi dan Vasektomi.

Prof.Dr.H. Masjfuk Zuhdi dalam bukunya: Masa’il Fiqhiyyah menerangkan tentang sterilisasi sebagai berikut:

1.Tubektomi

– Tubektomi adalah: Operasi ringan dan cepat yang dilakukan pada perempuan (tubal ligation) agar steril dan tidak mampu lagi memproduksi anak dengan arti bahwa kemungkinan kehamilan sudah hampir nol.

– Caranya adalah: dibuat dua irisan kecil di bawah bagian perut perempuan kemudian memotong saluran sel telur (tuba paluppi) dan menutup kedua-duanya sehingga sel telur tidak dapat  keluar dan sel sperma tidak dapat pula masuk bertemu dengan sel telur, sehingga tidak terjadi kehamilan.

– Durasi waktu yang dibutuhkan untuk tubektomi adalah: kira-kira 30 menit.

2. Vasektomi

– Adalah operasi sederhana pada laki-laki untuk mensterilkan sehingga tidak bisa lagi membuahi untuk menghasilkan anak.

– Caranya: memotong saluran mani (vas deverens) kemudian kedua ujungnya diikat, sehingga sperma tidak dapat mengalir keluar penis (urethra)

– Durasi waktu yang dibutuhkan: Hanya beberapa menit saja. Cendrung lebih cepat dibanding tubektomi.[3] (situs BKKBN online.com, edisi Selasa, 3 oktober 2006))

Sterilisasi baik vasektomi maupun tubektomi sama dengan abortus, yang mana hal ini berakibat kemandulan. Karena itu ,International Planned Parenthood Federation (IPPF) tidak menganjurkan kepada negara-negara anggotanya termasuk Indonesia untuk melaksanakan sterilisasi sebagai alat kontrasepsi.

Hasil Ijtihad para ulama Islam tentang hukum vasektomi dan tubektomi:

  1. Keputusan Majma’ Fiqh Islami di Kuwait tanggal 5/9/1988 menyebutkan: diharamkan untuk memutuskan kemampuan mempunyai anak bagi laki-laki dan perempuan  yang dikenal dengan pemandulan (vasektomi dan tubektomi) tanpa adanya alasan yang dibenarkan syari’at.
  2. Keputusan Majma’ Fiqh Islami di Makkah Mukarramah menyebutkan: Tidak dibolehkan pemutusan kehamilan selamanya (pemandulan) tanpa adanya alasan yang darurat secara syar’i. Yaitu apabila membahayakan hidupnya karena suatu penyakit, maka jika pemandulan adalah cara untuk menyelamatkan hidup si perempuan dari kematian maka itu dibolehkan.

Pada dasarnya, hukum sterilisasi vasektomi dan tubektomi dalam Islam adalah haram dengan beberapa sebab:

1.Sterilisasi  (vasektomi/tubektomi) berakibat pemandulan. Hal ini bertentangan dengan tujuan pokok perkawinan dalam Islam yaitu perkawinan selain bertujuan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat juga untuk mendapatkan keturunan yang sah.

2. Mengubah ciptaan Tuhan dengan jalan memotong dan menghilangkan sebagaian anggota tubuh yang sehat dan berfungsi).

3. Melihar aurat besar orang lain.

Namun apabila suami istri dalam keadaan terpaksa ( darurat/emergency) seperti terancamnya jiwa si ibu apabila ia mengandung maka hal itu dibolehkan. Hal ini berdasarkan kaidah hukum Islam: Keadaan darurat itu membolehkan hal hal yang dilarang.[4]

V1. Tanzhim Al-Nasl (Pengaturan Kelahiran)/ KB yang Dibolehkan Islam

Dalil-dalil syariat yang menunjukkan kebolehan pengaturan kelahiran antara lain:

1.QS: Al Baqarah: 233

Para ibu hendaklah menyusui anaknya selama dua tahun  yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya.”

Rahasia ayat: menunjukkan adanya hak seorang anak untuk menerima pasokan gizi yang cukup (ASI) sehingga si anak terhindar dari keterlantaran jasmani)

2. QS: Luqman: 14

Dan kami amanatkan kepada maunsia untuk berbuat baik terhadap kedua orang tuanya. Ibunya yang telah mengandungnya dan menyapihnya selama dua tahun.”

3.QS: Al Ahqaf:15

Mengandung sampai menyapihnya adalah 30 bulan.”

Imam Qurthubi di dalam tafsirnya mengatakan bahwa: jika hamilnya 6 bulan maka masa menyusuinya adalah 24 bulan, jika hamilnya 7 bulan maka masa menyusuinya  adalah 23 bulan, jika hamilnya 8 bulan maka masa menyusuinya adalah 22 bulan dan seterusnya…

Ayat-ayat diatas mengandung beberapa hikmah:

  • Terpeliharanya kesehatan ibu dan anak
  • Terjaminnya keselamatan jiwa ibu karena beban jasmani dan rohani selama hamil
  • Terjaminnya kesehatan jiwa si anak dan tersedianya pendidikan yang cukup baginya
  • Terjaminnya keselamatan agama orang tua yang dibebani kewajiban mencukupkan kebutuhan keluarga.[5]

Hasil ijtihad ulama tentang Tanzhim Al-Nasl:

1. Dr. Yusuf Qaradhawi dalam bukunya menjelaskan: pengaturan kelahiran adalah dibolehkan jika terdapat sebab-sebab yang membolehkannya yaitu:

a. Khawatir terhadap kehidupan dan kesehatan ibu apabila hamil atau melahirkan,setelah dilakukan suatu pemeriksaan medis oleh dokter yang terpercaya.

Dengan dalil:

–                “Janganlah engkau menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan” (QS:Al Baqarah: 195)

–                “Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri.Sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadap kamu sekalian.” (Qs:An Nisa’:29)

b. Khawatir terjadinya bahaya pada urusan dunia yang kadang-kadang bisa mempersukar urusan agama (ibadah) sehingga menyebabkan orang mau menerima barang yang haram dan mengerjakan yang terlarang justru untuk kepentingan anak-anaknya.

Dengan dalil:

–  “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran untukmu.” (QS: Al Baqarah:185)

– “Allah tidak menginginkan untuk menjadikan kamu teraniaya (menderita)” (Qs: Al Maidah:6)

c.Khawatir akan nasib anak, membahayakan kesehatan dan pendidikannya.

Dengan dalil: “Sungguh saya bermaksud melarang ghilah (bersetubuh dengan perempuan yang menyusui karena itu dapat merusak air susu dan melemahkan anak),kemudian saya melihat orang-orang Persi dan Rum melakukannya, ternyata tidak membayakan kepada anak-anak mereka.”

  1. Khawatir terhadap kondisi kesehatan wanita yang masih menyusui jika dia hamil kembali dalam masa menyusui tersebut.[6]

2. Syeih ‘Athiyyah Shaqr menjelaskan dalam bukunya, bahwa kebolehan Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran)sama dengan kebolehan ‘Azl (senggama terputus) dengan alasan:

– Jika dimaksudkan untuk menjaga kondisi kecantikan seorang wanita untuk menyenangkan suaminya maka tidak ada larangan padanya.

– Khawatir akan memperbanyak penderitaan dengan banyaknya anak dan mempersempit usaha untuk mememuhi kebutuhan hidup maka ‘Azl dibolehkan.

Syeikh ‘Athiyyah Shaqr menambahkan: Adapun hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa beliau SAW akan bangga dengan banyaknya umat Islam pada hari kiamat bukan dimaksudkan dengan generasi yang lemah. Namun yang dimaksudkan disana adalah generasi  yang kuat dan berkualitas dalam artian bahwa Islam menyukai generasi yang sholeh akal dan akhlaknya serta kuat badannya sehingga mempunyai kesanggupan memikul amanah.[7]

3. Syeikh Utsaimin dalam fatwanya menjelaskan: Dibolehkan bagi seorang wanita untuk tidak hamil dalam waktu yang temporal sesuai dengan kebutuhan si wanita untuk memulihkan kembali jasmaninya yang melemah dalam masa satu atau dua tahun.

4. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengatakan: Apabila seorang wanita mempunyai suatu penyakit di rahimnya atau ia sudah mempunyai begitu banyak anak dan memberatkan untuknya hamil kembali, maka dibolehkan baginya menangguhkan kehamilan kembali dalam masa satu atau dua tahun dengan menggunakan obat-obatan. Ataupun dibolehkan baginya menangguhkan kehamilan apabila ada rekomendasi dari dokter yang berwewenang.

5. Dikutip dari pendapat buya Hamka di dalam tafsir Al Azharnya mengatakan: “Bahkan banyak ibu subur yang melahirkan anak tahun ini, melahirkan pula tahun depan, kemudian melahirkan yang satu lagi dan menyusui pula sesudah itu, sehingga tahun ini beranak, tahun depan menyusui. Lama-lama anak kian banyak dan badan kian lama kian lemah…”

V1. Penutup

Dari uraian diatas akhirnya penulis menyimpulkan:

  1. Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran) adalah tidak dibenarkan dalam Islam secara mutlak. Namun Islam memberikan rukhsah (keringanan) kepada umatnya untuk mengatur jarak kelahiran (Tanzhim Al-Nasl)
  2. Pemutusan kehamilan secara mutlak (man’u Al-Haml)/ pemandulan selamanya (vasektomi atau tubektomi) tidak dibolehkan dalam Islam kecuali dalam kondisi yang darurat atau alasan yang dibenarkan syar’i seperti seorang wanita yang mempunyai penyakit di rahimnya dan pemandulan adalah satu-satunya cara. Namun apabila masih ada alternatif pengobatan lain maka vasektomi dan tubektomi diharamkan.
  3. Penggunaan metode vasektomi dan tubektomi dalam program KB pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) adalah diharamkan.
  4. Batas waktu dibolehkannya Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) tergantung pada kesepakatan pasangan suami istri  menilik pada kemaslahan bersama.
  5. Pemakaian berbagai jenis alat kontrasepsi seperti  kondom, pil, suntik dan spiral  dalam Tanzhim Al-Nasl adalah dibolehkan selama alat-alat tersebut tidak mengandung zat-zat yang diharamkan secara syariat.
  6. Menempuh metode alami seperti senggama terputus (‘Azl/ mengeluarkan sperma di luar rahim) dalam Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) adalah dibolehkan karena itu termasuk cara yang ditempuh pada masa  Rasulullah.

Dengan dalil: “Dari Jabir RA: kami melakukan ‘Azl/senggama terputus pada masa Rasulullah sedang Al-Qur’an masih turun.” (HR. Muslim)[8]

  1. Jika vasektomi dan tubektomi tidak dibolehkan dalam program KB pembatasan kelahiran maka lebih tidak dibolehkan lagi penggunaan metode vasektomi dan tubektomi dalam Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran).
  2. Sengaja penulis tidak membahas tentang alat kontrasespi yang beragam karena kecocokan atau tidaknya suatu alat kontrasespi dalam Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing individu. Karena siklus kesehatan individu sangat relatif. Maka untuk memilih alat kontrasepsi yang aman dan cocok untuk kondisi kesehatan si pemakai,  tergantung pada konsultasi dokter yang berwewenang.

Wa’lLahu A’lam Bi al-Shawab.

V11. Daftar Pustaka

–                Athiyyah Shaqr, Tarbiyyatul Aulad fil Islam, Cairo: Maktabah Wahbah, 2003 M/1424 H, cet.1.

–                Fatawa Mar’ah at-Tibbiyah.

–                Masjfuk Zuhdi, Masa’il Fiqhiyyah, Jakarta: Gunung Agung, 1996, cet. Ke 9.

–                Muhammad Shafwat Nuruddin, Fathu’l Karim bi Ahkâmi’l Hâmil wa al-Janîn, Kairo: Dâr al-Jauziy, 2006, cet. I.

–                Yususf Qaradhawi, Al-Halal wal Haram Fil Islam, Cairo: Maktabah Wahbah, 2002 M/1423 H, cetakan ke 27.

–                BKKBN online

–                Hidayatullah.com

–                Wikipedia


[1] Tahdid Al-Nasl dalam Wekepedia, Mausu’ah Hurrah

[2] Muhammad Shafwat Nuruddin, Op.cit,  hal 142

[3] Prof. Dr.H. Masjfuk Zuhdi, Op.cit,  hal 67-68.

[4] Ibid, hal 68-69.

[5] Ibid, hal58-60.

[6] Yusuf Qaradhawi, Al Halal wal Haram Fil Islam, Cairo: maktabah Wahbah., 2002 M/1423 H) cet.27 hal.176-177.

[7] ‘Athiyyah Shaqr , Op.cit, hal 69-72.

[8] ‘Athiyyah Shaqr, Op.cit, hal.57, Yusuf Qaradhawi, Op.cit, hal 175.

Advertisements

KELUARGA BERENCANA DALAM ANALISA SYARI’AT (1/2)

31 December 2009 at 11:05 pm | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 3, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , ,

Oleh: Mike Putri Rahayu[1]

  1. I. Pendahuluan

Kilas Balik Program  KB (Keluarga Berencana).

Ada banyak wacana yang beredar hingga kini sejak program KB digulirkan tanggal 29 juni 1970.  Gagasan yang diusung pemerintah Indonesia sejak beberapa tahun lalu ini ternyata tidak selalu menuju ke satu titik persamaan. BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) yang berada di bawah Kementrian Kesehatan gencar mempromosikan pendidikan KB secara maksimal dengan maksud dapat menjangkau semua lapisan masyarakat baik yang tinggal di pojok perkotaan atau pun di pelosok pedalaman. Namun seiring berjalannya waktu, kian melebarlah pandangan berbagai pihak tentang program KB. Lahirlah versi-versi tersendiri dalam mengartikan program ini. Sehingga setiap hal yang berhubungan dengan KB tidak lagi  hanya disandarkan kepada opini  BKKBN semata.

Di awal masa kemunculannya, masyarakat Indonesia mengenal KB sebagai sesuatu yang benar-benar masih baru. Sehingga ketika bermunculan iklan-iklan dengan slogan Keluarga Berencana Keluarga Bahagia, semua dianggap wajar. Namun ketika penawaran itu mulai terkesan sporadis, diperkuat dengan keluarnya Undang-undang no.10 tahun 1992 tentang Perkembangan kependudukan dan Pembentukan Keluarga Sejahtera – keluarga bahagia cukup dengan dua anak saja – maka reaksi pun bermunculan dimana-mana. Sebagian pihak akhirnya menolak mati-matian bahkan mengharamkan KB bagaimanapun bentuknya. Sebagian yang lain mencari jalan tengah dengan memilah dan memilih manfaat dan mudharatnya untuk kemanusiaan.

Di tahun 2007, ketika program KB makin meredup tergilas situasi politik dalam negeri, pemerintah beniat kembali menggalakkan program KB yang sempat mati suri beberapa saat itu. Kecaman pun lagi-lagi berdatangan karena jika pemerintah merealisasikan KB menjadi peraturan resmi maka akan menjebak pemerintah ke dalam pelanggaran HAM!

Apa yang sesungguhnya terjadi? Untuk mengetahui akar permasalahan ini lebih lanjut, kita perlu mencermati hal-hal yang berkaitan dengan KB itu sendiri seperti: pengertian KB dan hukum KB dalam tinjauan syari’at  Islam, agar kita sebagai umat terdidik tidak terjebak ke dalam pragmatisasi dan justifikasi yang salah kaprah.

II. KB dalam berbagai persepsi

  1. KB Berdasarkan Teori Populasi Thomas Robert Malthus.

Thomas Robert Malthus merupakan orang yang pertama kali di Eropa yang menyerukan  program pembatasan kelahiran untuk mengurangi jumlah pertumbuhan manusia.[2]

Dapat dipahami sebagai sebuah program nasional yang dicanangkan untuk mengurangi pertumbuhan populasi penduduk karena diasumsikan pertumbuhan populasi penduduk tidak seimbang dengan ketersediaaan barang dan jasa.[3]

Dari teori populasi ini, lahirlah istilah birth control (pembatasan kelahiran). Sedangkan istilah Birth Control itu sendiri mempunyai konotasi yang negatif karena bisa mencakup sterilisasi, aborsi dan penundaan kawin sampai usai lanjut sebagaimana yang disarankan oleh Malthus (1766-1834) untuk mengatasi fertility of men (kesuburan manusia) dan fertility of soil (kesuburan tanah) yang tidak seimbang sebagai deret ukur berbanding dengan deret hitung.[4]

  1. KB Menurut Pandangan Gereja Katholik.

Di dalam buku berjudul: Membangun keluarga Sejahtera dan Bertanggung Jawab Berdasarkan perspektif Agama Katholik, karangan Romo Jeremias Balapito Duan MSF disebutkan :

–                Gereja Katholik memandang bahwa pelaksanaan pengaturan kelahiran harus memperhatikan harkat dan martabat manusia serta mengindahkan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang berlaku

–                Di dalam sabda Ensilik 10 dan Konsili, umat Katholik mempunyai tugas mengatur kelahiran untuk membangun kesejahteraan keluarga. Namun bukan orang lain atau negara yang boleh menentukan jumlah anak. Cara-cara mengatur kelahiran harus diputuskan oleh suami istri secara bersama.[5]

  1. KB dalam pandangan Islam

Di dalam Islam, terdapat tiga hal yang berkaitan dengan KB:

1. Man’u’l Haml (Pemutusan kehamilan)

Yaitu Menggunakan sarana atau cara-cara yang dapat mencegah seorang wanita dari kehamilan selamanya baik itu dengan cara alamiah (‘azl/senggama terputus), atau dengan bantuan alat tertentu yang dipasang di faraj/kemaluan.dll.

2. Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran)

Yaitu menghentikan proses kelahiran secara mutlak dengan membatasi jumlah anak. Dapat dilakukan dengan alamiah atau menggunakan alat-alat kontrasepsi yang beragam.

3. Tanzhim Al-Nasl (pengaturan atau penjarangan kelahiran)

Yaitu Menggunakan sarana-sarana atau metode-metode yang dapat mencegah kehamilan dalam masa yang temporal/berkala/sementara dan tidak dimaksudkan untuk pemutusan keturunan selamanya. Tetapi dilakukan untuk tujuan kemaslahatan yang disepakati oleh suami istri.

Adapun perbedaan dari masing-masing hal di atas adalah:

–                Man’ul Haml (pemutusan kehamilan) bertujuan untuk tidak mempunyai keturunan selamanya. Baik itu dengan menggunakan perantaraan obat-obatan untuk pemandulan ataupun tidak.

–                Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran) bertujuan untuk membatasi jumlah keturunan sampai beberapa orang anak saja. Diikuti dengan pemutusan kehamilan secara mutlak baik itu dengan perantaraan obat-obatan ataupun tidak.

–                Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan seorang wanita dengan melakukan penghentian kehamilan untuk waktu berkala saja. Baik itu dengan perantaraaan obat-obatan ataupun tidak. Sehingga si wanita mempunyai kesiapan yang cukup untuk melakukan reproduksi selanjutnya. Yang membedakan hal ini dengan hal diatas adalah tidak adanya pemutusan kehamilan secara mutlak.[6]

III. Hukum Pembatasan Kelahiran (Tahdid Al-Nasl)

Islam adalah agama penuh rahmat. Islam sangat peduli dengan kondisi sosial manusia. Begitu pun dalam masalah yang berkaitan dengan keturunan. Islam memberikan hak-hak mutlak untuk setiap manusia dalam memiliki keturunan. Namun Islam juga tidak ingin manusia tersiksa dan terbebani karena keturunannya. Walaupun begitu, Islam tak menghendaki sebuah pemusnahan. Pemusnahan keturunan adalah tindakan tercela yang nyata-nyata dikutuk oleh agama apapun di atas muka bumi ini. Karena itu berarti pembunuhan hak-hak hidup terhadap makhluk yang utuh dan berakal.

Maka, apabila istilah KB diidentikkan sebagai program pengurangan, pembatasan apalagi menghambat            pertumbuhan populasi penduduk, hal ini sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip aqidah Islam yang syumul (sempurna). Karena pada dasarnya, Islam sangat sempurna dalam mengurus hidup pemeluk-pemeluknya. Itu berarti Yang Maha Pencipta sangat teliti dalam mengurus seluruh keperluan makhluk yang diciptakanNya. Manusia telah diberikan jaminan hidup oleh Allah bahkan jauh sebelum seorang manusia dilahirkan. Mustahil jika Allah menciptakan seorang hamba tanpa memberikan bekal penghidupan untuk hamba tersebut.

Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allah lah yang memberikan rizkinya.” (Qs:Hud:11)

Terdapat sebab-sebab keliru yang dilangsir sebagai alasan konkrit dilakukannya Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran):

  1. Populasi penduduk yang semakin meningkat

Adanya anggapan bahwa populasi penduduk yang tidak terkendali akan menyebabkan kurangnya daya suatu negara dalam penyediaan barang dan jasa.

  1. Kesulitan merawat anak dan mendidiknya

Adanya opini yang dikembangkan oleh pihak-pihak yang mendukung pembatasan kelahiran bahwa kesulitan merawat anak dan mendidiknya tidak akan terjadi jika dilakukan pembatasan kelahiran secara kontinyu dan teratur oleh semua lapisan penduduk.

  1. Mengangkat kesejahteraan keluarga

Adanya hitung-hitungan materi dengan semakin banyaknya jumlah kepala dalam satu keluarga menuntut penyediaan materi yang lebih banyak pula untuk memenuhi kebutuhan. Disini terdapat pembatasan materi dalam pemahaman yang lux. Materi tidak lagi dipahami dalam kerangka primer.

  1. Kelalaian perempuan akan fitrahnya

Dengan alasan untuk aktualisasi dan pengembangan diri, banyak wanita yang terjebak pada stigma kerepotan mengurus anak, bahkan enggan untuk menyusui sehingga mereka lebih memilih langkah pembatasan kelahiran untuk penyeimbangan karir.[7]

Jika kita telisik kembali teori populasi yang digagas Robert Malthus, maka kita akan temukan beberapa kekeliruan yang mendasar diantaranya:

  1. Tidak adanya kesesuaian antara teori dan fakta dunia

Dari segi tinjauan fakta, teori Robert Malthus tidak sesuai dengan realitas yang ada. Menurut penelitian FAO (Food And Agriculture Organization) di tahun 1990, produksi pangan dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk dunia karena mengalami surplus 10 % pangan.

Jika kita analogikan secara akal, mustahil manusia sebagai makhluk yang berakal tidak menemukan cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan segala sarana dan prasarana bertebaran dimana-mana. Jika manusia bisa maju dengan laju teknologi, mustahil manusia tidak bisa maju untuk sekedar memenuhi kebutuhan primer dalam hidupnya.

  1. Teori populasi adalah produk ekonomi kapitalis.

Menurut Rudolf H. Strahm bahwa terjadinya kemiskinan di dunia ketiga adalah akal-akalan negara kapitalis. Ketidakcukupan barang dan jasa sesungguhnya bukan disebabkan padatnya populasi penduduk dunia, tetapi karena ada pendiskriminasian (ketidakseimbangan) dalam distribusi barang dan jasa. Sebanyak 80 % barang dan jasa dunia hanya berporos pada kepentingan kapitalis dalam artian dinikmati hanya oleh negara kapitalis yang hanya berpenduduk 25 % dari penduduk dunia.[8]

Secara syari’at, pengharaman pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) didasarkan pada beberapa pondasi hukum:

  1. Al-Quran

–                Qs: Al Isra’: 31

Janganlah Engkau membunuh anak-anakmu karena takut jatuh miskin. Kamilah yang memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah kesalahan yang besar.”

– Qs. Al An’am: 151

Janganlah engkau membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rizki untukmu dan untuk mereka.”

Dari dua ayat diatas dapat ditarik beberapa pemahaman Qiyas:

1. Sesungguhnya pemberian rezki oleh Allah swt berbanding lurus dengan adanya keturunan. Karena Allah tidak menciptakan seorang makhluk tanpa menciptakan rezki untuknya.

2. Rezki yang diberikan Allah adalah rezki inti untuk menopang kehidupan sesorang di muka bumi. Bukan rezki dalam artian rumah yang mewah dan harta benda berlimpah karena semua itu adalah kebatilan yang dihembuskan syetan ke dalam dada manusia.

3. Dengan bertambahnya anak yang lahir ke dunia, maka secara tidak langsung bertambah pula aset dunia untuk memperoleh kemajuan. Karena peradaban dan kemajuan merupakan bagian dari andil tangan-tangan trampil manusia.[9]

  1. Hadis Rasulullah.

–                HR. Abu daud:

Nikahilah perempuan-perempuan yang penyayang dan peranak (sanggup melahirkan anak yang banyak.”

–                HR. Imam Ahmad:

Sesungguhnya aku akan bangga karena umatku yang terbanyak pada hari kiamat.

Rahasia hadis:

1. Dua hadis diatas secara tidak langsung melarang kita untuk membatasi kelahiran atau jumlah keturunan. Malah Rasul saw menganjurkan umatnya untuk menikahi perempuan yang peranak untuk menambah jumlah umat dan memperkuat barisan kaum muslimin di jagad ini.

2. Dengan banyaknya keturunan berarti mendatangkan manfaat untuk alam semesta. Sebab keberadaan manusia berarti menambah jumlah tenaga kerja& kekuatan dalam masyarakat untuk memakmurkan alam.

3. Pemikiran pembatasan kelahiran adalah pemikiran yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam untuk mengurangi jumlah generasi penerus Islam sehingga akhirnya Islam melemah dengan sedikitnya individu.[10]

  1. Fatwa-fatwa Pendukung/ Ijma’ Ulama.

Di sebuah konferensi pertemuan Ulama kerajaaan Saudi Arabia yang berlangsung pada pertengahan rabi’ul Akhir tahun 1397 H  diputuskan beberapa hal berikut:

Memandang : bahwa syari’at Islam menganjurkan untuk memperbanyak keturunan, karena keturunan adalah nikmat dan pertolongan terbesar dari Allah untuk hambaNya dengan dilandasi nash syari’at yang sah yaitu Alqur an dan sunnah Rasulullah,

Memandang: pemikiran pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) adalah pemikiran yang bertentangan dengan fitrah manusia sebagai makhluk Allah yang suci,

Memandang: bahwa seruan pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) dan pemutusan kehamilan secara mutlak (Man’ul Haml)adalah untuk menghancurkan pondasi Islam secara umum dan bangsa arab secara khusus sehingga tidak ada kemampuan untuk mereka memabangun bangsa dan negaranya,

Maka masjlis memutuskan bahwa:

*Pembatasan keturunan adalah mutlak tidak dibolehkan.

*Tidak dibolehkan pencegahan kehamilan (Man’ul Haml) atas motivasi karena takut jatuh miskin.

*Apabila pencegahan kehamilan dilakukan karena alasan darurat seperti: kondisi seorang perempuan yang tidak bisa melahirkan secara normal ataupun mengundurkan proses kehamilan untuk sementara demi kemaslahatan keluarga maka tindakan pencegahan kehamilan tersebut dibolehkan.

*Dibolehkan pencegahan kehamilan sementara dengan meminum obat-obatan untuk menghambat produksi indung telur sebelum seseorang itu berumur 40 tahun.[11]

  • Keputusan Majma’ (tim) Fiqh Islam di Makkah Mukarramah memutuskan bahwa: Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran) tidak dibolehkan secara mutlak.
  • Keputusan Majma’ Fiqh Islami di Kuwait no. 1 tertanggal 5/9/1988 memutuskan:

–                Tidak dibolehkan adanya suatu undang-undang hukum untuk mengatur pembatasan kelahiran suatu janin karena itu adalah hak mutlak pasangan suami istri.

  • Keputusan Majma’ Buhust Islamiyah di Cairo pada Muharram 1385 H/ Mei 1965:

Tidak sah secara syariat membuat undang-undang yang memaksa manusia untuk membatasi kelahirannya.[12]


[1] Diterbitkan dalam kumpulan tulisan Bundo Kanduang KMM Mesir sebagai oleh-oleh atas kedatangan duta Gubernur dan DPRD Sumbar untuk Peresmian Rumah Gadang KMM.

[2] ‘Athiyyah Shaqr, Tarbiyyatul Aulad Fil Islam, (Cairo: maktabah Wahbah, 2003 M) juz 4 cet. 1 hal 52

[3] hidayatullah.com

[4] Prof.Dr.H. Masjfuk Zuhdi, Masa’il Fiqhiyah, PT. Toko Gunung Agung, Jakarta, cet.9, 1996 M, hal 55

[5] Situs BKKBN online.com, edisi Minggu, 24 Februari 2008

[6] Muhammad Shafwat Nuruddin, Fathu’l Karim bi Ahkamil Haml Wal Janin, Cairo, Dar Al Jauziy, 2006, cet.1 hal 137

[7] Tahdid Al-Nasl dalam wekepedia, mausu’ah Hurrah

[8] Hidayatullah.com

[9] Berdasarkan fatwa mufti Shalih bin Fauzan Al Fauzan dalam kitab fatawa mar’ah attibbiyyah hal 88.

[10] Ibid, hal 86-87

[11] Muhammad Shafwat Nuruddin, Op.cit, hal 138

[12] ‘Athiyyah Shaqr, Op.cit, hal 72.

Mahasiswa Mesir Tolak Kritikan Dr. Muhibbin Terhadap Shahih Bukhari

20 December 2009 at 10:54 pm | Posted in hadis, MASISIR NEWS, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

Geliat aktifitas Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) ternyata masih segar. Di tengah kesibukan mempersiapkan ujian, mereka masih antusias untuk menghadiri acara “ Dialog Umum ” yang diadakan oleh El-Montada, KPMJB dan FATIHA, Jum’at 11/12/09 di auditorium pesanggrahan KPMBJ.

Dialog ini ini diisi oleh dua nara sumber dari Indonesia yaitu Prof. Dr. Endang Soetari M. Si (Guru Besar UIN Sunan Gunung Jati Bandung) yang menyampaikan materi seputar Problematika Studi Hadits di Indonesia dan Prof. Dr Muhibbin M. Ag (Guru Besar IAIN Walisongo Semarang) yang menyampaikan materi tentang Urgensi Kritik Matan dalam Pembuktian Validitas Hadits. Hadir sebagai Pembanding Ust. Ahmad Ikhwani, Lc. Dipl (Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Al-Azhar jurusan Hadits) dengan moderator Ust. Roni Fajar, Lc. (Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jurusan Hadits)

Di awal acara, Ust. Saifuddin M.A. selaku ketua El-Montada (organisasi mahasiswa program pasca sarjana dan doktoral) menyampaikan sambutan yang antara lain menyatakan bahwa antusias para masisir untuk mengkaji kegiatan yang bersifat keilmuan ternyata lebih tinggi daripada mengkaji tentang politik, terbukti dengan jumlah peserta yang hadir melebihi kapasitas auditorium yang disediakan.

Dr. Endang Soetari. M.Si yang mendapat giliran pertama dalam diskusi ini menyebutkan tentang Problematika Ilmu hadits di Indonesia. Hingga saat ini metode digunakan oleh beliau ialah penetapan keshahihan hadits dengan cara Takhrij.

Pemaparan kedua dilanjutkan oleh Dr. Muhibbin. M. Ag. yang pernah menulis buku tentang kritik kitab “Shahih Bukhari”. Beliau menyatakan tidak semua hadits dalam Shahih Bukhari itu shahih, bahkan terdapat beberapa hadits termasuk kategori lemah dan palsu.

Dinginnya kairo yang sempat terkena percikan gerimis sebelumnya berubah menjadi hangat setelah pemaparannya yang mengkritik matan hadits. Menurutnya ini untuk membela Nabi Muhammad sabda beliau yang telah melalui beberapa kurun waktu itu tidak ada yang bertentangan dengan akal.

Contohnya hadits tentang lalat dan tentang mayit yang disiksa karena tangisan keluarganya yang menurutnya tidak rasional. Semua kritikan itu bisa ditanggapi dengan baik oleh pemateri pembanding, Ust. Ahmad Ikhwani, Lc. Dipl.

Acara pun berlanjut ke sesi tanya jawab. Setelah moderator mempersilahkan para hadirin untuk bertanya bak gayung bersambut begitu banyak tangan-tangan yang mengacung ingin bertanya. Tanggapan pertama disampaikan Ust Zulfi Akmal, Lc. Dipl. (Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Tafsir Univ. Al-Azhar) menyampaikan bahwa seorang mahasiswa Al-Azhar tingkat dua pun sanggup mengkonter hadits tersebut dari syubuhat yang disampaikan oleh Dr. Muhibbin tadi. Ust. Zulfi juga menolak adanya proses belajar hadits tanpa guru, seperti yang dilakukan oleh Dr. Muhibbin.

Kemudian Ust Bukhari, Lc. Dipl. (Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Hadits Univ. Al-Azhar) angkat bicara membantah pernyataan keraguan Dr. Muhibbin terhadap hadits pada Shahih Bukhari. Ia menjelaskan secara gamblang status beberapa hadits yang dikritik berikut dalil tentang kedudukan hadits tersebut. Ust. Bukhari menganggap hasil penelitian Dr. Muhibbin ini kurang referensi dan juga kurang pemahaman bahasa Arab.

Pertanyaan-pertanyaan beserta tanggapan-tanggapan yang ditanyakan akhirnya dijawab oleh Dr. Muhibbin dengan berusaha membela argumen beliau. Beliau menganggap hadits-hadits itu diragukan karena irrasional. Sebab mengkaji hadits tidak hanya dari matan dan sanad saja, tapi perlu memperhatikan aspek rasionan, sejarah dan sirah. “Apabila naql bertentangan dengan akal, maka yang didahulukan adalah akal.” tegasnya. Sontak mahasiswa yang hadir pada saat itu seakan tertawa meringis akan tanggapan yang diuraikan oleh beliau.

Acara yang mulai beranjak malam tersebut tidak mengendurkan semangata para hadirin, terbukti dengan antusias para penanya pada sesi ke dua yang semakin membuat hangat suasana. Diantara pernyataan yang paling menyentak disampaikan oleh Riyadh, Mahasiswa Al-Azhar Fakultas Dirasat slamiyah konsentrasi Ushuluddin yang menanyakan standarisasi tesis kandidat doktor di Indonesia, karena begitu mudahnya hanya tinggal mengangkat sesuatu yang berbenturan antara nash Al-Quran dengan nash Hadits bisa lulus membondong gelar doktor. “kalau gitu saya ingin cepat-cepat pulanglah ke Indonesia melihat segampang itu bapak menjadi Doktor” ungkap Riyadh. Sontak seluruh hadirin riuh seketika.

Kemudian disusul dengan pernyataan Umarulfaruq Abubakar, Mahasiswa Fakultas Darul Ulum Universitas Kairo, yang menyebutkan bahwa yang sedang di permasalahkan saat ini tidak murni kritik matan. Yang terjadi adalah mengkritik matan hadits karena belum bisa dipahami oleh si pengkritik. Hal ini tentu sama tidak menurunkan derajat sebuah hadits shahih, pemahamannyalah yang perlu dikaji kembali.

Antusias masisir dalam menanggapi dialog ini masih berlanjut. “Bahkan sampai pagi pun masih siap” ungkap salah seorang hadirin. Namun karena waktu pula, sesi tanya jawab berakhir setelah adanya kata penutup dari kedua nara sumber. Kedua nara sumber ini adalah anggota adalah bagian dari rombongan para Doktor yang sedang menjalankan studi singkat di Mesir dalam rangka meningkatkan kompetensi selaku dosen di universitas masing-masing. (sn/fjr – eramuslim.com)

TAHUN BARU HIJRIYAH: MOMENTUM PENINGKATAN TAKWA

19 December 2009 at 2:41 pm | Posted in AKHLAK, Gen 1, MOTIVASI | Leave a comment
Tags: , , ,

oleh: Dwi Sukmanila Sayska*

Perputaran waktu terus bergulir seiring pergantian siang dan malam yang menjadi sunatullah di alam raya ini. Tanpa terasa kita telah sampai lagi ke bulan Muharam, bulan pertama dalam perhitungan kalender hijriyah.

Kedatangan bulan Muharram ini, dapat kita jadikan sebagai salah satu momentum, untuk kembali bertafakur dan bermuhasabah, mengevaluasi hari-hari yang telah berlalu dan merancang target-target baru untuk hari mendatang.

Karena, semakin lama kita menghabiskan umur kita di dunia, berarti semakin dekat dengan kehidupan yang sesungguhnya, yaitu akhirat nan abadi. Sebagaimana firman Allah swt:

Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah senda gurau dan permainan belaka; dan sesungguhnya negeri akhirat itu ialah kehidupan yang sebenar-benarnya; kalaulah mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabut: 64).

Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia dengan segala gemerlapan dan keindahannya, tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kekekalan kehidupan akhirat. Dunia hanyalah panggung sandiwara dimana setiap manusia memainkan peran masing-masing untuk melihat siapa yang terbaik di antara mereka. Dan hari pembalasan itu adalah di akhirat sana, ketika setiap diri akan menerima apa yang pernah mereka usahakan di dunia.

Mari kita renungkan ungkapan Rasulullah saw suri teladan kita, ketika suatu hari beliau bangun dari tempat pembaringannya, dan Abdullah bin Mas’ud melihat bekas jalur-jalur tikar di punggungnya. Ini kerana tikar alas tidur Rasulullah saw dibuat dari daun kurma kasar. Timbullah rasa kasihan di hati Abdullah bin Mas’ud, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah seandainya engkau perintah aku untuk mencari tikar yang lembut untukmu, maka aku akan berusaha mendapatkannya”.

Tetapi Rasulullah saw bersabda: “Bagiku berada di dunia ini ibarat seorang yang berjalan di tengah panas, lalu singgah sebentar berteduh di bawah sepohon kayu yang rindang, setelah istirahat sejenak untuk menghilangkan lelah, maka dia beranjak meninggalkan pohon rindang itu dan meneruskan perjalanan”. (HR. Tirmizi)

Demikianlah Rasulullah mengumpamakan dunia ini, bahwa disini kita hanya sekedar singgah sebentar, untuk kemudian melanjutkan perjalanan yang teramat sangat panjang di akhirat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah juga menggambarkan, bahwa lamanya perjalanan hidup yang kita lalui ibarat es yang mencair. Sungguh sangat singkat bila dibandingkan dengan keabadian yang akan kita hadapi sesudahnya. Maka sangatlah merugi apabila perjalanan hidup yang singkat ini justru berlalu dengan kesia-siaan belaka. Tanpa harga, tanpa makna, tanpa cita-cita. Hingga tiada bekal memadai untuk mengarungi kehidupan hakiki di akhirat nanti.

Lalu bekal apa yang mesti kita persiapkan di dunia untuk menuju kehidupan abadi tersebut? Dengan hartakah? Pangkatkah? Gelarkah? Atau keturunankah? Tentu saja bukan, sebab Allah Maha Kaya, Maha Berkuasa, Maha Suci lagi Maha Tinggi.

Allah telah mengingatkan kita semua dalam firman-Nya:

Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah: 197)

Dan Allah Swt berfirman dalam surat Al-Hasyr:

Artinya: “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)

Bekal yang harus kita persiapkan tiada lain dan tiada bukan hanyalah takwa, karena takwa adalah sebaik-baik bekal dan persiapan. Sungguh naïf jika seorang tidak menyiapkan bekal apa-apa padahal dia sadar betapa panjang dan penuh rintangannya perjalanan yang akan dia hadapi di akhirat nanti. Hendaknya, dalam kehidupan yang sekejap ini, kita telah menyiapkan bekal ketakwaan yang cukup sehingga kehidupan akhirat menjadi lebih baik. Sebagaimana firman Allah swt:

”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’aam ayat 32)

Rasulullah Saw dalam sabdanya juga banyak mewasiatkan ketakwaan kepada para sahabat dan umatnya. Di antaranya adalah dalam khutbah haji wada’, Abu Umamah al-Bahili meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Bertakwalah kepada Allah Tuhanmu, shalatlah lima waktu, berpuasalah pada bulanmu, bayarlah zakat hartamu, taatilah pemimpinmu, maka kamu akan masuk surga Tuhanmu.” (HR. At-Tirmidzi 1/190)

Mu’az bin Jabal juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, timpalilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan dapat menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi No. 1987, HR. Ahmad 5/153 dan al-Hakim 1/54).

Demikian pentingnya nilai ketakwaan agar wujud dalam diri seorang mukmin, sehingga Allah dan Rasul-Nya sangat menekankan hal tersebut dan menjadikannya sebagai syarat utama keselamatan di akhirat nanti. Lantas, bagaimanakah hakikat takwa itu yang sesungguhnya?

Takwa secara bahasa artinya adalah al-shiyanah yaitu memelihara, al-hadzru yaitu hati-hati dan al-wiqayah waspada dan menjaga.

Sedangkan secara istilah takwa berarti menjaga diri dari murka dan azab Allah dengan tunduk kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Para sahabat dan ulama terdahulu, telah memberikan pengertian yang cukup jelas tentang hakikat takwa dalam jiwa seorang mukmin. Diantaranya, dalam kitab Fathul Qadir karya al-Syaukani dikisahkan, Khalifah Umar bin Khattab pernah ditanya tentang takwa, beliau menjawab, “Apakah engkau pernah melalui jalan yang banyak bertaburan duri?”. “Ya pernah” jawab si penanya. “Maka apa yang kamu lakukan?” Umar kembali bertanya. Penanya menjawab, “Saya akan berjalan dengan berhati-hati”. Lantas Umar berkata, “Seperti itulah takwa”.

Hasan al-Basri berkata: “takwa adalah berhati-hati terhadap yang diharamkan Allah dan melaksanakan kewajiban yang telah diperintahkan-Nya”. Dan Mujahid berkata: “Takwa kepada Allah artinya, Allah harus ditaati dan pantang dimaksiati, selalu diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud sebenar-benarnya takwa adalah selalu taat kepada Allah dan berusaha untuk tidak berbuat maksiat, selalu berdzikir kepada Allah dan segera bertaubat, serta selalu bersyukur atas segala anugrah Allah. Sayyid Sabiq dalam kitabnya “Islamuna” menerangkan bahwa takwa bermuatan keyakinan (akidah), pengabdian (ibadah), akhlak (adab) dan berbagai kebajikan (al-bir). Lebih lanjut dia mengatakan bahwa orang yang berhak menyandang sebutan “muttaqin” hanyalah orang yang mampu menahan dan mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi semua hal-hal yang syubhat serta berani berjihad di jalan Allah. Sedangkan menurut Sayyid Qutub dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—takwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua halangan dalam kehidupan.

Jadi, esensi takwa adalah menghadirkan keagungan Allah swt di dalam hati dan merasakan kebesaran dan keMahaan-Nya, kemudian merasa takut terhadap murka-Nya sehingga berusaha sedaya upaya menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian, takwa bukan sekedar menjauhi dosa-dosa besar saja, tapi mencakup semua penyelewengan dan penyimpangan meski itu hanya kecil. Layaknya pendaki gunung yang tinggi, mereka tidak terlalu takut dengan ancaman batu-batu besar, karena batu-batu besar mudah dihindari. Mereka jauh lebih takut kepada kerikil-kerikil kecil yang masuk tanpa disadari ke dalam sepatu, sehingga kaki akan menjadi luka dan menyebabkan cedera parah di ketinggian gunung yang bersuhu rendah. Begitu pula seorang yang berusaha untuk menggapai derjat takwa, ia bukan hanya takut dengan dosa-dosa besar, namun ia lebih takut dengan dosa-dosa kecil yang kemudian berpeluang menggelincirkannya pada kemudharatan.

Di dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan gambaran tentang indikasi ketakwaan dalam diri seorang mukmin, agar kita mengetahui ciri-cirinya sehingga kita dapat mengevaluasi dan mengukur diri sendiri, sudahkah kita berada dalam derjat muttaqin atau minimal berusaha menggapainya. Antaranya indikasinya adalah:

Beriman kepada perkara yang ghaib (QS Al-Baqarah: 3)

Iman kepada yang ghaib mencakup keimanan terhadap semua berita yang disampaikan Allah dalam al-Quran dan melalui lisan Rasul-Nya, tentang hari kiamat dan kehidupan akhirat dengan segala fase-fasenya. Keyakinan akan adanya kiamat dan hari akhirat inilah yang menjadikan orang yang bertakwa senantiasa menjaga dirinya di dunia, agar selamat di akhirat kelak.

Menegakkan shalat (QS Al-Baqarah : 3 dan 177)

Shalat adalah sarana untuk mengingat Allah secara kontinyu, yang menjadi pembeda antara orang mukmin dengan kafir. Allah telah menetapkan waktu-waktunya bagi kita, dan memerintahkan untuk tidak melalaikannya. Menegakkan shalat bagi orang yang bertakwa tidaklah semata-mata demi menggugurkan kewajiban, akan tetapi lebih dari itu, ia merupakan komunikasi dengan Allah yang bersumber dari kekhusyukan, yang berimplikasi tercegahnya diri dari perbuatan keji dan munkar.

Mengeluarkan zakat dan infaq (QS Al-Baqarah : 3, 177; Ali Imran : 134; Al-Zariyat : 19)

Bagi orang yang bertakwa, anugrah harta yang Allah berikan adalah salah satu sarana untuk semakin dekat dengan-Nya. Ia sadar betul bahwa dalam harta yang dititipkan kepadanya, terdapat hak-hak orang lain, sehingga ia tidak akan merasa berat untuk menginfakkan sebagian hartanya baik ketika rizkinya lapang maupun ketika sempit.

Banyak mengingat Allah dan gemar bertaubat (QS Ali Imran : 135; QS Al-Zariyat: 17, 18)

Orang yang bertakwa pasti banyak mengingat Allah di setiap waktu, dalam segala keadaan. Ia mengingat Allah dengan segenap anggota badannya: dengan hati, lisan dan gerak-gerik organ tubuhnya. Ia juga senantiasa memperbaharui taubatnya dan memperbanyak istighfar terutama di waktu sahur/sebelum subuh, sehingga ia tidak berlarut-larut dalam kesalahan.

Menunaikan janji dan amanah (QS Al-Baqarah : 177)

Orang yang bertakwa jauh dari sifat melanggar janji dan mengkhianati amanah, yang merupakan sifat orang munafik. Adapun janji dan amanah yang paling agung adalah kesediaan dan kerelaan untuk beribadah kepada Allah, Rabb semesta alam. Ia juga selalu berusaha untuk menepati janji terhadap sesama manusia serta menunaikan amanah yang diembankan kepadanya.

Bersikap adil dalam segala urusan (QS Al-Maidah : 8)

Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak mengurangi proporsi satu hak dengan melebihkan yang lainnya. Termasuk adil terhadap diri sendiri, dengan memberikan hak jasmani dan rohani sebagaimana mestinya. Keadilan juga harus diterapkan kepada semua manusia, sehingga kebencian pada seseorang atau suatu kaum tidak menghalangi berlaku adil kepadanya.

Bersabar terhadap berbagai musibah yang menimpa dirinya (QS Al-Baqarah : 177)

Orang yang bertakwa sadar bahwa semua yang ada di dunia adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya. Ia tidak akan hanyut dalam kesedihan jika diuji oleh Allah dengan suatu musibah, namun menerima dengan lapang dada sembari menguak hikmah-hikmah Allah dibalik semua peristiwa. Malah ia menjadikan ujian sebagai batu loncatan meningkatkan kecintaan kepada Allah, Penggenggam alam semesta ini.

Pandai menahan amarah dan suka memaafkan (QS Al-Baqarah : 237; Ali Imran : 134)

Pengendalian diri dan hawa nafsunya adalah ciri orang bertakwa. Ia tidak mudah terjerat hasutan setan yang selalu mengobarkan amarah dan kebencian dalam jiwa bani Adam. Disamping itu, orang yang bertakwa juga suka memberikan maaf kepada orang lain yang berbuat kesalahan kepadanya, bahkan sebelum orang tersebut meminta maaf kepadanya.

Berdasarkan beberapa ciri di atas, jelaslah bahwa orang yang bertakwa selalu berusaha sungguh-sungguh berada dalam ketaatan kepada Allah secara menyeluruh, baik dalam perkara wajib maupun sunnah, berupaya meninggalkan kemaksiatan serta menghindarkan diri dari perkara yang tidak bermanfaat karena khawatir terjerumus ke dalam dosa. Semua inilah yang harus kita tingkatkan di hari-hari mendatang, agar waktu yang masih tersisa dalam setiap hembusan nafas kita, menjadi bekal berharga untuk mengarungi kehidupan abadi di akhirat nanti.

Namun yang tidak kalah penting adalah, terdapat banyak sekali hadiah yang dijanjikan Allah dalam Al Qur’an bagi orang-orang yang bertakwa, bukan hanya keselamatan di akhirat namun juga kepalangan hidup di dunia. Diantaranya, adalah:

  1. Mendapatkan keselamatan dari bencana dan mendapatkan rezeki dari tepat yang tak terduga-duga. Inilah yang dijanjikan dalam firman Allah:

Artinya: Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan Siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS Al-Thalaq 2-3)

  1. Allah memberikan furqan yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil. Sebagaimana Allah janjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS Al-Anfal 29)

  1. Mendapat kecintaan Allah, seperti dijelaskan dalam firman-Nya:

Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Taubah 7)

  1. Menjadi yang termulia disisi Allah. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya:

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat 13)

  1. Takwa menjadi sebab kesuksesan dan keberuntungan.  Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

Artinya: Dan siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan. (QS Al-Nur 52)

  1. Menjadi wali Allah dengan dasar firman Allah:

Artinya: Sungguh wali-waliNya hanyalah orang-orang yang bertakwa; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Al-Anfal 34)

  1. Allah menjadi wali/pelindung orang yang bertakwa. Sebagaimana difirmankan Allah:

Artinya: Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Jatsiyah 19)

  1. Dijaga dari para musuhnya, sebagaimana difirmankan Allah:

Artinya: Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS Ali-Imran: 120)

  1. Mendapatkan bantuan dari Allah, seperti dijelaskan dalam firmanNya:

Artinya: Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS Al-Nahl 128)

  1. Takwa menjadi sebab mendapatkan berkah, seperti dalam janji Allah pada firmanNya:

Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raf 96)

  1. Amalannya diterima Allah, sebagaimana dalam firman Allah:

Artinya: Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS Al-Maidah 27)

  1. Selamat dari adzab Allah di neraka. Ini dijanjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu; hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan; kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS Maryam 71-72)

  1. Tidak merasa takut, berduka dan selalu bahagia didunia dan akherat serta mendapatkan kemenangan agung. Berdasarkan firman Allah:

Artinya: Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS Yunus 62-64)

  1. Dimudahkan urusannya didunia dan akherat, sebab Allah jelaskan hal ini dalam firmanNya:

Artinya: Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Al-Thalaq 4)

  1. Dihapuskan dosa dan kesalahannya sebagai anugerah Allah atas ketakwaannya. Allah berfirman:

Artinya: Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (QS Al-Thalaq 5)

Dan firmanNya: Artinya: Dan Sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. (QS Al-Maidah 65)

  1. Mendapatkan syurga-syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Ini dijanjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.(QS  Ali Imran 198)

Dan firmanNya: Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi, di sisi Tuhan yang berkuasa. (QS Al-Qamar 54-55)

Demikianlah keistimewaan yang dikhususkan bagi orang yang bertakwa kepada Allah. Semoga kita mampu menempa diri meskipun letih dan tertatih, untuk meningkatkan kembali ketakwaan dalam diri. Dan perhitungan tahun baru ini, dapat menjadi ajang untuk membuka lembaran baru dalam sejarah hidup kita yang singkat ini, dan membangkitkan kembali semangat perjuangan memperbaiki diri. Dengan memulai hari baru, juga bisa menjadi langkah awal ketaatan yang menyeluruh dalan setiap perjalanan hidup kita ke depan. Karna, andai takwa itu tidak bersemayam dalam jiwa sedikitpun, lalu bekal apa lagi yang bisa kita andalkan menghadap Allah di akhir nanti. Wa’lLahu a’lam bi al-shawab.

*Tulisan ini pernah dimuat di buletin “Yasmin” FOKMA (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia)

Sekilas Renungan tentang “Pahlawan Devisa”

17 December 2009 at 11:56 am | Posted in Gen 8, KELUARGA | 1 Comment
Tags: , , ,

Oleh: Ismarni Ismail*

Bandara Internasional Dubai, 04 Desember 2007

Pagi itu rombongan calon mahasiswa Al-Azhar sampai dengan selamat di bandara Internasional Dubai. Menunggu waktu transit menjelang penerbangan ke Kairo, Mesir. Beragam aktifitas mereka kerjakan untuk mengisi waktu, ada yang memanfaatkannya untuk istirahat, membaca, dan berjalan-jalan keliling bandara nan mewah mencengangkan dengan orang-orang yang juga tak kalah mencengangkan. Ragam rupa, gaya, dan bahasa menjadi tontonan yang tak biasa bagi kami yang mungkin jarang bertemu orang asing kecuali pada beberapa kesempatan saja, terasa sekali qudrah dan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam penciptaan manusia yang berbeda-beda.

`Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang Mengetahui. (Q.S Ar-Rum:22)

Tak jauh dari samping kiri kami, terlihat serombongan perempuan Indonesia, sedang santai beristirahat. Sekilas tak diragukan lagi mereka adalah muslimah, dengan pakaian seragam hitam putih dan jilbab hitam nan rapi. Berniat hendak berta’aruf dengan saudara-saudara sebangsa, kami mendekati mereka, mengucapkan salam dan duduk diantara mereka untuk berta’aruf dan berbagi cerita. Singkat cerita terjadi dialog di antara kami dengan seorang saudari sebut saja namanya Lilis, dari Jawa (25 tahun), yang akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kuwait untuk kontrak kerja selama 2 tahun.

“Mbak kenapa kok mau kerja ke luar negeri, kan jauh dari kampung sendiri?”

“Kerja di luar negeri enak Dek…gajinya besar, bisa untuk biaya bikin rumah di kampung, ya…walaupun nyicil, gaji kerja di Indo gak cukup buat menghidupi keluarga”

“Maaf… memangnya Mbak sudah berkeluarga?”

“Udah…baru 2 bulan kemarin melahirkan”

“Melahirkan..?!?jadi bayi Mbak sama siapa?”

“Ditinggal sama suami dan keluarga di kampung, ntar dikirimin duit dari tempat kerja, kalo cuma mengandalkan gaji suami, mungkin kami sekeluarga gak akan bisa makan 3 kali sehari”

“Maaf nih Mbak…klo Mbak kerja, apa masih pake jilbab?”

“Tergantung majikannya sih…klo majikannya pake jilbab, ya…saya ikut pake, tapi klo majikannya gak pake jilbab, saya juga gak pake. 6 bulan lalu saya baru selesai kontrak sama majikan di Dubai ini, dia gak pake jilbab tapi Islam, dia bilang ke saya…klo kamu mau pake jilbab, silakan…, tapi klo mau lepas juga boleh…, ya udah saya lepas aja, lagian juga repot pake jilbab sambil kerja…majikan saya itu baiiik sekali, dia sering membelikan saya baju mode terbaru dan bagus-bagus, kayak baju-baju artis itu lho…”

Dari dialog singkat ini, menyisakan banyak renungan bagi kita sebagai saudara sebangsa umumnya, dan sebagai saudara sesama muslim khususnya:

  • Seorang muslimah meninggalkan anak dan suaminya untuk mencari nafkah keluarga, padahal suaminya masih hidup dan mampu bekerja. Dimanakah letak izzah seorang laki-laki sebagai suami yang seharusnya bisa menjadi qawwam bagi istri dan keluarganya?
  • Doktrin materialis dan hedonis yang telah mendarah daging, bahwa harta telah menjadi tujuan hidup bukan lagi sebagai wasilah dalam ketaatan kepada Allah.
  • Seorang muslimah tidak melaksanakan kewajibannya lagi, untuk mengasuh dan mentarbiyah anak kandungnya dan rela meninggalkan tugas utamanya untuk mengejar kontrak kerja yang menjanjikan kekayaan.
  • Tidak memahami agama Islam dengan kaffah, menganggap syariat sebagai benda yang mudah dipakai dan mudah juga ditinggalkan.

Mungkin ini hanyalah sedikit bahan renungan dari dialog singkat tadi. Miris sekali hati ini, seorang perempuan dengan identitas muslimah, bangga meninggalkan keluarga untuk jangka waktu yang lama, hanya untuk mencari materi duniawi. Ia pun diagung-agungkan sebagai pahlawan devisa negeri ini. Padahal sejatinya, ia menelantarkan anak, suami dan keluarga, serta mengabaikan tanggung jawab utamanya dalam rumah tangga.

Ia tak pikirkan apa yang akan terjadi dengan dirinya sebagai pekerja perempuan di negeri orang yang banyak kita temukan fakta, bahwa mereka banyak mendapatkan perlakuan kasar dan pelecehan. Ia juga tak fikirkan bagaimana anak dan suami yang ia tinggalkan, Ia tak fikirkan kalau seandainya ia bekerja pada majikan yang beragama Yahudi atau Nashrani. Ia tak peduli akan semua kemungkinan yang akan terjadi ini, yang ada di fikirannya sederhana saja, bagaimana bisa memperoleh gaji besar, lalu pulang kampung membangun rumah baru…, membeli alat rumah tangga nan mewah dan memiliki sepeda motor, dan membuat tetangga terkagum-kagum karena ia bisa menafkahi keluarganya.

Mungkin saudari kita ini tak sempat sampai kesitu, atau malah mungkin ia belum pernah tahu bahwa Allah telah menetapkan Syariat Islam yang mengatur sistem interaksi kehidupan di masyarakat. Bahkan ia juga telah menikah dengan seorang laki-laki yang semestinya punya izzah sebagai seorang qawwam yang bisa menafkahi, menjaga, melindungi, dan mendidik istri dan keluarga dengan baik.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[1] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[2]. (Q.S. An-nisa : 34)

[1]  Maksudnya: tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya. [2]  Maksudnya: Allah Telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.

Saudari kita ini adalah cermin perwakilan dari kondisi masyarakat kita yang tak memahami Islam dengan kaffah…Maka disinilah dituntut peran kita sebagai seorang penuntut ilmu dan pendakwah. Inilah ladang dakwah, yang telah menunggu kepulangan kita ke tanah air tercinta, dan untuk pembekalan dakwah inilah kita datang ke negeri Para Nabi ini.

Paling penting untuk diingat adalah bahwa amanah ini pasti akan dihisab oleh Allah Rabbul ‘Alamin. Terserah bagaimana cara/metode tepat, yang kita pilih dalam menjalankan tugas utama ini, selama kita bisa bermanfaat di tengah masyarakat dengan dakwah Islam.

Bahkan kita juga berkewajiban menjadi seorang fasilitator agar masyarakat Islam bisa mengenal dan memahami Syariat agamanya sendiri dengan ilmu dan akal mereka sendiri, dengan cara memotivasi mereka untuk berproses dalam kegiatan ta’allum, untuk kemudian beramal shalih berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah yang shahih. Ini agar masyarakat Islam terjaga dari taqlid buta terhadap ulama atau mazhab tertentu yang membawa kepada pengkultusan individu yang dianggap baik dan sempurna tanpa mempunyai neraca pemahaman yang kuat. Tak bisa dipungkiri bahwa taqlid mazhab telah membingungkan masyarakat kita, bahkan sampai menyalahkan satu sama lain karena berbeda mazhab.

Sekarang saatnya memahami Islam dengan menggunakan ilmu dalam mengkaji dan mentela’ah Al-Quran dan Sunnah Rasulullah, dengan menjadikan mazhab sebagai wasilah menuju pemahaman Syar’i, sampai kita menemukan titik kebenaran yang haq dalam mengamalkan Syariat Islam. Allah telah menciptakan akal bagi manusia tidak lain untuk mengenal Allah dan syariat-Nya dengan fasilitas akal yang telah Allah amanahkan kepada kita.

*Mahasiswi tk 3 Jur. Hadis, Univ. al-Azhar Mesir – Gen 7 MAKN Putri

Mahasiswa Muslim Ideal

17 December 2009 at 10:00 am | Posted in AKHLAK, Gen 9, MOTIVASI | Leave a comment
Tags: ,

Oleh : Lina Rizqi Utami

Pendahuluan

Dalam sebuah tahapan hidup telah ada ketentuan dasar terhadap pendidikan. Dimulai dari playgroup, TK, SD, SMP, SMU dan kemudian status paling produktif yaitu mahasiswa. Ketika jenjang ini telah kita lalui tahap demi tahap, maka kesempurnaan akan terasa tatkala ilmu yang didapat segera diamalkan. Oleh karena itu, banyak perguruan tinggi yang menawarkan jurusan-jurusan terbaik sebagai modal hidup untuk mendapatkan skill. Pilihan terbaik ada di tangan kita sebagai generasi muda, karena jika salah pilihan maka kita akan kehilangan orientasi untuk menentukan target hidup. Sebagai mahasiswa dituntut untuk menggali ilmu lebih dalam dunia maupun akhirat. Karena orang berilmu adalah pewaris para ulama dan orang yang paling takut kepada Allah. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Fatir:28

انما يخشى الله من عباده العلماء

Realita Mahasiswa Zaman Modern

Waktu telah unjuk gigi, dimana manusia bisa mengikuti arus globalnya yang terbentang luas. Mahasiswa jadi santapan lahap oleh sang zaman, ketika mahasiswa tidak mampu membendung arus yang semakin kencang. Contoh dari arus itu adalah pemikiran-pemikiran liberal yang ditawarkan oleh orang orientalis untuk mencuci otak mahasiswa muslim. Kewajiban yang seharusnya di kerjakan oleh seorang mahasiswa jadi terabaikan. Pemikiran yang rasional kini tidak lagi bertumpu pada akal sehat. Kenapa ini bisa terjadi? Jawabannya ada pada diri sendiri. Mungkin sebagian mereka tidak lagi menyadari hakikat seorang penuntut ilmu. Keganasan zaman menjadikan generasi muda kita rusak seiring berkurangnya uswah hasanah dalam menuntut ilmu. Norma dalam tatanan masyarakat telah diabaikan karena pengaruh ghazwul fikri yang menimpa kaum muslimin, mulai dari anak-anak, orang tua dan para remaja. Inilah yang menjadi problematika kegagalan seorang mahasiswa dalam urusan diin, bisa jadi sebagian diantara mereka dimudahkan Allah SWT jalan untuk menuju sukses dunia, tapi tidak untuk ummat, hakikatnya mereka yang sukses tanpa agama, hanya tipuan belaka, seperti sabda Rasulullah SAW

الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الا ذكر الله تعالى وما والاه و عالما او متعلما (رواه اترمذى و قال (حديث حسن)

Hakikat Sang Mahasiswa Ideal

Mahasiswa yang terampil ilmu dan agama dan dunia tentu mempunyai strategi jitu, bagaimana kesuksesan mereka sebagai mahasiswa dambaan ummat dan negara, yaitu dengan teknik beradab yang ditanamkan dalam diri, terutama bagi kita yang sedang menyandang status mahasiswa :

  1. Menyadari bahwa menuntut ilmu itu adalah ibadah.
  2. Semakin tinggi ilmu yang kita miliki maka, semakin takut kita kepada Allah.
  3. Meneladani kisah para salafus shaleh dalam mencari ilmu, serta keikhlasan mereka dalam menuntut ilmu.
  4. Zuhud dan tawadhu terhadap fatamorgana dunia.
  5. Mengamalkan dan mengajarkan  ilmu yang telah didapat. Karena itu merupakan sebuah amalan yang tidak putus-putus pahalanya, seperti sabda Rasulullah SAW :

اذا ما ت ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له (رواه مسلم)

  1. Tidak sombong dengan ilmu yang telah dimiliki.

Oleh karena itu, kesadaran yang mulai ditumbuhkan akan mewujudkan hakikat seorang mahasiswa ideal dengan adab dan pengamalan dalam kesehariannya serta melaksanakan kewajiban sebagai mahasiswa.

Mahasiswa adalah dambaan ummat dan negara, karena ditangan mereka akan berlanjut estafet kemajuan Negara. Tapi tidak semua mahasiswa dapat dikatakan penerus bangsa. Yang dikatakan penerus bangsa itu adalah mahasiswa yang ideal, seimbang agama dan dunia. Mereka yang faqih dalam urusan agama, dan eksis dalam urusan dunia, Allah SWT berfirman dalam surat  At-taubah:122

و ما كا ن المؤمنون لينفروا كافة فلولانفرمن كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا فى الدين ولينذروا قومهم اذا رجعوا اليهم لعلهم يحذرون

Mahasiswa yang ideal peduli terhadap kemajuan agama dan ummat. Mereka sangat prihatin terhadap perkembangan zaman yang banyak merusak moral kaum muslimin terutama mahasiswa sebagai calon penerus. Mereka berkhidmat untuk organisasi sebagai latihan menjaga amanah, bertanggung jawab, sosialisasi dengan berbagai karakter, disiplin, bertoleransi, dan tentunya belajar sabar. Karena organisasi adalah salah satu wadah untuk mencerdaskan emosional mahasiswa, sedangkan spiritual harus sudah tertanam dari kecil, dan disempurnakan pada masa-masa produktif ini sebagai mahasiswa yaitu dengan ikut kajian islam, talaqqi bagi mahasiswa yang menuntut ilmu di Mesir, tahfizul qur’an, dan intinya pembinaan diri sendiri untuk dekat dengan Sang Khaliq.

Intelektual akan sempurna ketika pembinaan emosional dan spiritual telah terjalani. Karena sebagai mahasiswa tidak dituntut untuk mengejar gelar dan naik tingkat, tetapi  kedalaman ilmu lah yang mesti diraih. Allah SWT berfirman dalam surat Taha:114

و قل رب زدنى علما

Dengan adanya ilmu maka akhirat dapat kita kejar dan dunia dapat kita raih. Keistimewaan orang berilmu sangat banyak, karena ilmu bagai permata di dasar lautan, tak lekang oleh waktu dan tak hapus di makan zaman. Rasulullah SAW bersabda:

عن ابى الدرداء رضى الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول من سلك طريقا يبتغى فيه علما سهل الله طريقا الى الجنة و ان     الملائكة لتضع اجنحتها لطلب العلم رضا بما يصنع و ان العلم ليستغفر له من فى السماوات ومن فى الا رض حتى الحيتان فى الماء و فضل العلم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب و ان العلماء ورثة الانبياء و ان الانبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما و انما ورثوا العلم فمن اخذه يحظ وافر( رواه ابو درداء و الترمذى )

Dari hadits diatas jelaslah bahwa orang yang memiliki ilmu mendapat keutamaan, semua yang berada dilangit dan dibumi memintakan ampun kepada Allah SWT untuk sohibul ‘ilmi. Karena ilmu itu bagai mutiara dan alam pun bertasbih memuji hamba Allah yang berilmu. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa tanamkanlah azzam untuk cinta kepada ilmu, karena betapa gembiranya ummat dan negara memiliki penerus yang berilmu dan berwawasan luas.

Kesimpulan

Apa yang ditanam itulah yang dituai, seperti itulah hakikat kita sebagai seorang mahasiswa. Apa yang kita usahakan sekarang maka, akan muncul hasilnya dikemudian hari. Sadarilah, apa yang akan kita wariskan oleh anak cucu kalau bukan ilmu yang bermanfaat. Ilmu agama dan dunia. Karena tanpa agama manusia binasa, tanpa ilmu manusia buta, dan tanpa iman manusia sengsara. Tak ada yang patut disombongkan dengan apa yang telah diusahakan. Mumtaz, jayyid jiddan, jayyid bukanlah sebuah kata “final” bagi penuntut ilmu sejati, tetapi mardhotillah lah sebagai tujuan dari penghambaan kita kepada Rabbul Jalal. Asalallahu ta’ala ayyaj’alani wa iyyakum man haa ulaai allazina faqqahu fidinillahi wa ‘amiluu wa ‘allamu wa nafa’u wa intafa’u bih.

*MAhasiswi tk 1 Al-Azhar Mesir – Gen 7 MAKN Putri

Ranah Minang Mananti Kito

10 December 2009 at 5:15 pm | Posted in MOTIVASI | Leave a comment
Tags: , , ,

By: ‘Ala Gambe Property

Bismillahirrohmanirrohim,,,

Jo bismillah ambo mulai supayo barakaik langkah salanjuiknyo, bak kato junjuangan kito Muhammad SAW kullu amrin dzu balin la yubda-u bibasmalah fahuwa abtar“. Puji syukur untuak Tuhan kito nan satu dan ndak ado duonyo, panagak alam rayoko sahinggo kito bisa banauang di dalamnyo. Shalawaik sarato salam  untuak junjuangan kito anak ameh dari Abdullah bin Muthalib pamato hati Siti Aminah panyajuak qolbu dek Khadijah, palipua lara Sayyidah Aisyah (Radhiallahu ‘anhum), banyak basalawaik untuak baliau kambalinyo kapado kito juo, Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

Sabalun malangkah jauah, nan ambo minta maaf lah dulu kapado dunsanak sadonyo, disusun jari nan sapuluah, batakuakkan kapalo nan ciek, kok ado nan ndak pado tampeknyo beko maaf tuluih dari ambo, ambo nan bukan cadiak pandai, alim bukan ulama tidak, pangalaman bintang-bintangan sakadar tau dek manyimak, sakalaik ambiak kasalendang pambaok anak turun mandi kain baturap batarawang, jo adaik ambo mangapalang, jo syara’ jauah sakali, ilimu bakurang-kurang, mako dek sabab karano itu, kok singkek arok kadiuleh, panjang bakarek lamah bataua salah basapo, innama ana basyarun mislukum.

Alah ampia sabulan kito salasai ujian term 1, lah lapeh pulo panek dek bagadang, tunggang tunggik dek maapa malawan kantuak dek udaro nan dingin sangaik(bara “dek” sa ons;-). Mudah-mudahan rancak hasilnyo, bisa jadikaba baiak ntuak rang gaek, batu loncatan wak kamuko, jo do’a wak saratokan.

Dunsanak, o…dunsanak dima wak kini ko?  Manga wak disiko? Apo nan bacari? Tolong tanyo diri awak baliak, katuak hati ketek tu baliak! Sakileh wak mancaliak kalakang, tapi ingek bukan untuak manangisi nasib malang nan manimpo namun untuak maambiak sapatiak ibrahnyo nak taratik langkah wak kamuko. Katiko wak barancana kamari sado jalan wak tampuah, kian kamari mancari biaya, masuakan proposal ka sado paluang nan nampak, ado juo kamungkinan masuak lai baphoto copy juo naskah tu, tahajuik tiok malam basaratoan jo do’a nan ndak hanti-hantinyo, lai takana? (a, alah se tu lu, beko tabik lo tangih dek e). Nah, kini wak baliak kamari liak, ciek lai tanyo ambo, lai babuek target tahun bara wak pulang? Iko pantiang ko, jan cek maniru falsafah aie se, falsafah urang falsafah wak nan difalsafahan urang awak, tadanga urang mangecek, “coba perhatikan air”, nan dimakasuik urang tu ndak cek mangaliaenyo se do, tapi lain pulo dunsanak, panjang lo kajie tu, wak tinggan se lah lu dih, nah baliak wak ka kaji tadi. Ingek ndak slogan di Rumah Gadang waktu manyaambuik MABA patangko, disinan tatulih “ANDA DATANG UNTUK KEMBALI”, a… ikonyo dunsanak. Wak ndak slamonyo disiko do, banyak nan mananti, manunggu panuah harok, disinan Ayah nan indak kamanuntuik balasan payah manggadangkan, yang ndak tau siang jo malam, hujan badai untuak mahiduik-i awak, Mandeh nan indak kamanagiah hutang mangasuah awak sajak ketek sajak dirahim, sampai satitiak aia susu, batanggang mato malalokkan. Anak nan kadipangku isuak, kaponakan nan kadibimbiang nantik.

Ndak itu sajo do, masyarakaik nan mananti awak, maharok awak nan kamambimbiang mereka mamanuahi sarugo firdaus-Nyo.

Banyak nan ka wak benahi di kampuang du, dunsanak  nan di Pasaman lai rela  hati tu manarimo fakta kalo gereja nan paliang banyak di Sumbar tu adolah di Pasaman. Nan di Padangpanjang barasihan baliak namo serambi mekah yang dulu identik dengan anak gadihnyo kama pai mamakai baju kuruang, dan kini dinodai dek urang-urang nan basirancak mamakai baju nan serba ketat. Baitu juo nan di Padang, Payokumbuah, Agam dan sekitarnyo, ranah minang menanti kita…

Nah dunsanak, ndak pai manyilau fir’aun wak kamari do, ndak pai mancari namo wak kamari do, barek baban nan kadipikua sajak langkah bamulo ka Bandara Tabiang/BIM  kapatangko. Rang mudo yang isuak kajadi biduak tampek panompangan, atau rantiang katampek inggok gagak, (tampuak tangkai pucuak pimpinan pamacik taraju rumah tanggo, payuang panji kabakeh balinduang) dan bundo kanduang nan kajadi caminan anak cucu, palito di rumah tanggo. Nah itu sadonyo paralu baka. Dan juo niaik mandidik kamanakan atau mauruih anak mambantu sanak famili bukan dek ingin baleh budi do, sarato arok baleh jaso, bukan, bukan itu tujuan wak, bakarajo karano suruah baranti karano tagah amanah dipaliharo, itulah amalan banamokan, mako naknyo dapek nilai ibadah batua-batua niaik dipangka hanyo karano Allah sajo, bukan karano sabab lain. Dek sabab karano itu, ikhlas-ikhlas kalo manolong, suko-suko kalo mambari, usah kuniang karano kunik, lamaknyo karano santan, maharok buliah mako bajariah.

Akhir carito, mangiriang do’a jo tawakal nan ujuangnyo di tangan Tuhan, bak pituah cadiak pandai “usah dipandang laweh sawah, tapi madok sajo manakua tanah nan dipangkua baransuik juo dari satapak kasatapak indak taraso disadari lah tibo ditapi pamatang, salasai satupak bunta baraliah kapiriang panjang, sawah lah luluak tingga manuga mananami hari patang awak baranti. Tidak pernah keterpaksaan menghasilkan  yang terbaik, tapi lakukan dengan ikhlas karano Tuhan dan tangguang jawab sajo”.

Wallahu’alam bisshowab.,.

Diskusi Ilmiah II: KOMPILASI AL-QURAN

10 December 2009 at 2:36 pm | Posted in AL-QURAN, Gen 8, KAJIAN | 4 Comments
Tags: , , , ,

*oleh Fadilah Is

Orientalis selalu gencar menyelinap dan mencari celah menyudutkan Islam, tak mengenal waktu dan medan. Walaupun badai menghadang tidak menghambat teriakkan kosong mereka. Segala upaya pun dikerahkan, sebutlah nama Gerd R. Joseph Puin, Bothmer, Rippin, R. Stephen Humphreys, Gunter Lulling, Yehuda D. Nevo, Patricia Crone, Michael Cook, James Bellamy, William Muir, Lambton, Tolstove, Morozov dan Wansbroughla dan ribuan yang berjejer dibelakang mereka. Tak ketinggalan mereka pun telah berhasil meniup angin kelabu dan menanamkan akar  tunggang di hati umat islam yang tak memiliki rantai kuat keimanan, Nasr Hamid Abu Zaid, Taha Husain, ‘All Dushti, Ahmad Amin, Fazlur Rahman, dan akhirnya Muhammad Arkoun menjadi pengekor mereka yang sangat aktikf dan kreaktif,

Salah satu serangan yang sangat mereka gentolkan adalah kontroversi dalam kompilasi Al-Quran. Mereka tak ingin kitab suci ini tetap menjadi pegangan hidup kaum muslimin. Mereka mensejajarkan Al-Quran dengan kitab Injil dan Taurat –yang memang telah banyak mengalami perubahan- untuk dikritisi dan dihujat. Mereka menganggap umat Islam adalah bodoh, tertipu oleh distorsi sejarah dimana teks-teks Al-Quran telah tercemar kemurniannya dan sumbernya tidak jelas. Bagi mereka kompilasi Al-Quran hanya berpegang pada khayalan dan rekaan para sahabat belaka, sehingga ilmu hermeunetika wajib diaplikasikan dalam penafsirannya.

Sebagaimana pernyataan Tobi Lester dalam majalah The Athlantic Montly, “kendati umat Islam percaya Al-Qur’an sebagai kitab suci yang tak pernah ternodai oleh pemalsuan tapi mereka {umat Islam} tak mampu memgemukakannya secara ilmiah”.

Inilah yang melatarbelakangi para ahli hadis dan tafsir Almakkiyat tuk mengkaji dan mengeksplorasi segala permasalahan yang mencuat dalam proses kompilasi Al-Quran. Pemakalah yang tampil sudah tak asing lagi di kalangan masisir, andalan Almakkiyat, yang lagi s2 di Universitas Al-Azhar jurusan Tafsir, siapa lagi kalau bukan uni Arina Amir Lc.

Kajian yang dilaksanakan di rumah uni Wirza ini benar-benar seru dan menegangkan serta menampilkan banyak pengetahuan baru dalam arena diskusi. Pembahasan dimulai dari pengertian kompilasi kemudian dikelompokkan atas 3 periode: masa Rasulullah saw, masa Abu Bakar dan Usman bin Affan.

Mulai bagaimana wahyu diturunkan dan dibacakan didiktekan oleh Rasullullah kepada para sahabat untuk kemudian dihafal dan dituliskan di pelapah korma dan kulit onta, sehingga Al-Quran pun tetap terjaga dalam dada (dalam hafalan) dan naskah (dalam tulisan).

Cukup banyak riwayat bahwa lebih kurang enam puluh lima sahabat penulis wahyu yang telah ditugaskan oleh Nabi Muhammad. Mereka diantaranya: Abban bin Sa’id, Abu Umama, Abu Ayyub Ansari, Abu Bakr Siddiq, Ubay bin Ka’b, Ja` far bin Abi Talib, Huzaifa, Khalid bin Walid, Zubair bin `Awwam, Zaid bin Tsabit `Abdullah bin Arqam, `Abdullah bin Rawaha, ` ‘Usman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Talib, ‘Umar bin Khattab, ‘Amr bin al-‘As, Mu’az bin Jabal, dan lain-lain.

Waktu terus berputar, manusia terbaik sepanjang masa, Rasulullah saw berpulang ke rahmatullah. Puncuk pimpinan Islam selanjutnya dipegang oleh sahabat Abu Bakar Shiddiq sebagai khalifah pertama. Setelah terjadinya perang Yamamah yang menyebabkan banyaknya syuhada dari para huffaz, Umar bin Khatab mengusulkan agar sang khalifah melakukan kompilasi Al-Quran. Abu Bakar pun menunjuk Zaid bin Tsabit dan timnya untuk mengemban tugas berat ini. Penulisan kembali naskah Al-Quran pada masa itu, didasarkan kepada hafalan dan catatan para sahabat. Panitia menetapkan syarat 2 orang saksi, bahwa hafalan dan tulisan dilakukan di depan Rasulullah saw. Maka terkumpullah Al-Quran dengan ahruf sab’ah dalam bentuk suhuf (naskah-naskah kertas) meskipun belum tersusun dalam kitab seperti sekarang. Tapi dengan proses seleksi dan metode yang super ketat, Al-Quran teruji keotentikannya, tidak seperti yang digembor-digemborkan oleh orientalis

Tahun berganti, kekhalifahan pun sampai pada khalifah ketiga, Usman bin Affan. Dengan adanya berbagai ekspansi, wilayah kekuasaan Islam semakin luas. Para mujahid berangkat dari suku, kabilah dan provinsi yang beragam, sehingga mereka membaca Al-Quran dengan dialek yang berlainan. Ini karena Rasulullah memang telah mengajar mereka membaca Al-Qur’an dalam dialek masing-masing, karena dirasa sulit untuk meninggalkan dialeknya secara spontan. Hal ini memicu terjadinya kerancuan dan perselisihan dalam masyarakat pada masa itu. Maka khalifah Usman pada tahun 25 H, memerintahkan kembali Zaid bin Tsabit untuk mengkompilasikan Al-Qur’an berdasarkan mushaf yang telah ada, dengan satu luhgah saja yakni lughah Qurasy. Zaid sekali lagi menggunakan seleksi yang sangat ketat sekali dalam melakukan tugas ini dan tetap memperhatikan kemutawatirannya. Mushaf inilah yang disebarkan ke berbagai penjuru Islam dan disepakati ulama hingga saat ini.

Pada masa-masa selanjutnya terjadi penyempurnaan mushaf Usmani mulai dari titik, baris, rubu, juz, pemisah antara ayat dan surah sehingga kitapun dapat membacanya dengan mudah.

Sebenarnya, pembahasan ini telah sering kita kaji dan telaah namun kita  tidak sadar ternyata musuh-musuh Islam berpadu tangan tuk mengacaukan dan mengotak-atik keotentikkan Al-Qur’an. Mereka membuat pertanyaan-pertanyaan yang apabila kita tidak kuat, kita akan mudah terhipnotis, dan tergelincir meragukan Al-Quran yang ada di tangan kita hari ini. Seperti; kenapa Umar bin Khatab khawatir dengan meninggalnya para huffaz, jika memang Al-Qur’an sudah ditulis masa Rasulullah? Mengapa lembaran-lembaran yang ditulis itu tersebar di kalangan sahabat dan tidak disimpan langsung oleh Rasulullah? Kenapa Al-Qur’an tidak langsung dibukukan pada masa Rasulullah tampa harus menunggu periode Usman 15 tahun kemudian? Kenapa terjadi perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an padahal Al-Qur’an adalah mutawatir? Mengapa ketua tim harus Zaid yang notabene masih sangat muda, sedangkan masih banyak sahabat senior lainnya? Mengapa dalam proses kompilasinya tidak mengajak Abdullah bin Mas’ud dan menggunakan shuhuf pribadinya yang disinyalir punya perbedaan? Kenapa 2 ayat terakhir surat at-Taubah tetap dimasukkan padahal hanya Abu Khuzaima al-Ansari saja yang mencatatnya? Dan berbagai pertanyaan lain yang seolah-olah ilmiah dan kritis, tapi ternyata dapat dipatahkan dengan bukti sejarah dan dengan adanya manuskrip-manuskrip Al-Quran sejak abad pertama Hijrah yang masih eksis hingga kini di berbagai museum.

Inilah tantangan kita sebagai mahasiswa al-Azhar khususnya dan penuntut ilmu agama umumnya, untuk menyebarluaskan hujjah-hujjah yang kuat bahwa Al-Quran memang terhindar dari pemalsuan dan perubahan, dan itu dapat dibuktikan secara ilmiah. Salah satu buku yang juga dikupas dalam kajian Almakkiyat kali ini adalah The History of The Qur’anic Text from Revelation to Compilation (Sejarah Teks Al-Quran Dari Wahyu Sampai Kompilasinya) karya Prof. Dr. M.M al A’zami -guru besar Universitas King Saud- yang membeberkan fakta-fakta ilmiah keotentikan Al-Quran dalam proses kompilasi.

Dalam semua tataran, Al-Qur’an akan selalu mendapat hujatan dari kalangan yang memusuhi tegaknya agama Allah di muka bumi. Jika belum mampu berbuat banyak menangkis semua serangan, sekurang-kurangnya kita harus terus berusaha mendalami dan memahami prinsip-prinsip agama kita yang tidak mungkin dapat diubah oleh peredaran zaman. Di atas segalanya, kita harus menjadikan Al-Qur’an sebagai referensi kita. Bagian teks mana pun yang mungkin berlainan dengan mushaf yang ada -terserah apa yang hendak mereka sebutkan- adalah bukan dan tidak akan menjadi bagian dari Al-Qur’an. Demikian halnya, segala upaya dari pihak non­ muslim yang ingin mencekoki pikiran tentang dasar-dasar ajaran agama kita, mesti kita tolak tanpa harus berpikir panjang. Bagaimana pun keadaan suhu politik, pandangan kaum muslimin terhadap kitab suci ini mesti tetap tak akan tergoyahkan: ia adalah kalam Allah, yang konstan, ter­pelihara dari kesalahan, tak mungkin dapat diubah, dan mukjizat yang tak mungkin direkayasa.

Tamim ad-Dari meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

agama ini akan sampai pada apa yang dapat dicapai oleh siang dan malam, dan Allah tidak akan meninggalkan sebuah rumah apa pun, baik itu terbuat dari tanah atau bulu hewan [yaitu di kota atau di desa) sehingga Allah memasukkan agama ini ke dalamnya, baik melalui kebesaran orang-orang yang mulia ataupun melalui kerendahan orang yang di­pandang rendah. Begitulah, Allah akan memberi karunia terhadap Islam, dan Allah akan merendahkannya disebabkan kekufuran.”

Firman Allah telah terang-terang mengatakan :

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyem­purnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk Al-Qur’an dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.

Ini baru secercah pembahasan tentang kitab suci kita. Masih banyak pe-er yang telah menunggu di hadapan kita, ayo Almakkiyat tunjukkan jati dirimu, chayo-cahyo…

Diskusi ditutup shalat magrib dan hidangan mie goreng panas yang semakin menghangatkan sore ceria di awal musin dingin ini. Hmm… perut lapar nih…, otak dah berisi perutpun bernyanyi….saatnya makan…..syukran ya Ummu Usman dan Etek Ira…

Yuk kita ikuti terus episode kajian Almakkiyat selanjutnya, dijamin akan tambah seru dan hangat……..

Tapi sabar yah, ba’da imtihan kita sambung………dengan pemakalah pertama uni Kemala Dewi Lc dengan kajian hadis kontemporer di rumah Ummu Fatimah. Jangan sampai ketinggalan ya……………. Salam ^_^

*Mahasiswi tk 3 Hadis Univ Al-Azhar – gen 7 MAKN Putri

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.