SEPUCUK SURAT KALENG

24 November 2009 at 7:32 pm | Posted in Gen 3, Uncategorized | Leave a comment

Oleh: Mike Putri Rahayu Syamsuir

Lurah Parman  termenung di teras rumahnya. Tak seperti hari-hari biasa yang selalu dilaluinya dengan semangat milennium, ide-ide brilian dan terobosan-terobosan baru selama masa profesi kelurahannya, kali ini khususnya hari ini tampak berbeda. Pancaran wajahnya yang penuh siasat-siasat cerdas kini tampak berubah-ubah ekspresi. Awalnya termangu-mangu. Kemudian manggut-manggut. Setelah itu menerawang ke atas persada raya. Sesaat lagi geleng-geleng kepala. Dan tiba-tiba seperti terbelalak tak percaya. Dilihat dari gayanya sih seperti orang yang menebak-nebak sesuatu. Untungnya Parman lagi sendirian. Kalau sampai Parmin, tetangga sebelahnya yang super usil itu melihat tingkahnya barusan, pasti punya seribu satu kata untuk menertawakannya. Si kurus yang energik itu bahkan dengan pedenya menobatkan diri sebagai kembarannya hanya lantaran nama mereka rada-rada mirip. Hanya beda tipis vocal a dan i saja. Padahal sungguh mati bagaimana dan darimana  asal muasalnya tuh anak dia sendiri nggak berminat untuk tau.  Mengingat itu Parman melengos. Jengah sendiri…

Ada apa gerangan?

Uff…Lurah Parman menghela napas berat. Teringat kembali insiden tengah malam yang menimpanya semalam. Mula-mula suara jangkrik yang berisik mengganggu kepulasan tidurnya, kemudian suara kodok sahut menyahut. Tiba-tiba pintu rumahnya digedor-gedor lembut entah oleh siapa…

Tok tok tok!  Sepi beberapa saat.

Tok tok tok! Masih hening. Parman menunggu kalau-kalau ada suara manusia yang memanggilnya atau mengucapkan salam. Tapi…

Tok tok tok!

“Tamu tengah malam, siapa dan ada urusan apa?” Tanya Parman dalam hati.

Tok tok tok! Ketokan dil uar makin terdengar tak sabaran.

Parman melirik jam di tangan. Jam dua malam!

“Iseng amat sih bangunin orang di malam buta begini.” Parman menggerutu sembari berjalan terhuyung menuju pintu.

Tok tok tok!

“Ah siapa tau pak camat ngasih bonus dadakan lagi seperti kemaren.” Memikirkan hal itu mata Parman langsung bersinar-sinar.

Kreek! Parman membuka pintu. Ia melongokkan kepala.

“Siapa ya?”  ternyata tak ada siapa-siapa.

Parman menunggu. Memastikan kalau-kalau si pengetok tengah malam itu menonjolkan batang hidungnya. Tapi sekali lagi, memang tak ada siapa-siapa di luar sana.

“Oahmm…” kantuk kembali menjalar sampai ke ubun-ubun kepala Parman. Ia pun menutup pintu.

Belum sempat Parman merebahkan badan di pembaringannya, kembali suara ketokan terdengar. Sementara istrinya terlihat masih pulas dengan mimpi-mimpi malamnya.

Tok tok tok!

Bersicepat kaki Parman melangkah ke arah pintu. Takut si pengetok kabur karena ia terlalu lama membuka pintu rumahnya .Namun, ketika pintu dibukanya, hanya hembusan dingin angin malam yang menyapa.

“Aaah…” Parman mulai gusar.Tak habis pikir. Pelan-pelan rasa ngeri menyusup dan menyelinap masuk ke hatinya. Ia bergidik. Ada apa ini?

Tok tok tok! Sekali lagi!

Kali ini langkah Parman tak secepat tadi. Tak lupa ia raih gagang sapu di belakang pintu untuk jaga-jaga. Siapa tau ada maling yang sengaja beraksi menebar teror untuk melumpuhkannya.

“Siapa?!” katanya dengan suara keras untuk melawan rasa wa-was yang makin menjalar. Tak ada sahutan.

“Woi..siapa di luar sana?” tanyanya sekali lagi. Tetap tak ada siapa-siapa selain lolongan anjing yang terdengar sayup sayup sampai dari kejauhan.. Bulu tengkuk Parman  berdiri ketakutan.

Parman hendak berbalik ke kamar, ketika tiba-tiba matanya menangkap sesuatu di bawah pintu…sesuatu berwarna putih…

Tangannya terjulur meraih si amplop putih. Dengan perasaan campur aduk antara takut, kesal, marah dan lain-lain, penasaran lurah Parman membuka surat itu. Selembar kertas kecil menyembul dari amplop putih. Parman pun hendak mengeja huruf-huruf yang tertera…

“Pak, ada apa?!!!” ya ampun, Parman terlonjak kaget…sapaan lembut istrinya yang datang tiba-tiba itu terdengar seperti bom di telinganya…

“ngg…nggak…nggak ada apa-apa kok, Bu.” Tukasnya terbata-bata.Dirasakan jantungnya turun naik kelelahan. Meski melihat gelagat aneh suaminya, namun bu lurah memilih tak bertanya-tanya lagi.

Surat itu…lurah Parman pun membukanya,

Pak lurah yang terhormat,

Sesungguhnya bangsa ini sudah teramat miskin, maka tolong jangan lagi ditambah miskin! Sesungguhnya  negeri ini sudah teramat susah, jangan lagi ditambah susah! Dan sesungguhnya rakyat negeri ini sudah lama kelaparan. Jangan tega lagi menambah lapar. Ingatlah, Pak…di tengah rasa lapar, ada amarah, ada jurang kekufuran menanti di depan mata-mata  mereka.

Bapak tentu bertanya-tanya siapa saya? Namun itu bukanlah hal urgen. Hal paling penting  adalah, tolong hentikan semua kebohongan-kebohongan bapak, hentikan semua manuver-manuver politik yang menyengsarakan. Jangan lagi menebar teror terselubung terhadap warga sekitar.

Kalau bapak tetap ingin tau siapa saya, silahkan temui  saya jam 12  di malam bulan purnama minggu depan di bawah pohon beringin di depan kantor kelurahan nanti.

Wassalam…


Seram! Itulah kesan Parman setelah selesai membaca.

Parman tertegun. Langkahnya terseret menuju kamar. Setiba di kamar, Parman tertegun lagi. Dilihatnya sang istri tengah khusyu’ bertahajud di selembar sajadah panjang.

Sekarang Parman betul-betul tak sanggup menjabarkan perasaannya…

——————-

Pasca  surat misterius itu, kehidupan Parman menjadi lain. Rupa-rupanya peristiwa itu betul-betul mengusik sensitifitas kelurahannya. Ya, sudah sepuluh tahun ia menjadi lurah, selama itu pula ia merasa enjoy dengan semua yang diperbuatnya. Tak peduli halal dan haram, asal ada uang semua menjadi gampang dan menyenangkan. Dan Parman tau betul bagaimana menyalurkan uang-uang itu ke kantongnya. Tanpa harus takut dituduh korupsi dan kolusi karena Parman punya seribu macam cara berkelit untuk itu. Dan istrinya yang semakin alim selama tahun-tahun belakangan itu pun tak perlu tau…

Parman pun termenung-menung mengingat kilas balik hidupnya sebagai seorang lurah. Maklum, dalam catatan sejarah wilayahnya, Parman merupakan lurah terlama.

Di kali pertama dilantik menjadi lurah, Parman melakukan manuver perdana. Ia menggelar hajatan dan syukuran dengan mengundang seluruh warga desa bawahannya. Semua diizinkan makan dan minum sepuasnya.

Celetukan simpati pun bertebaran kemudian. Dari yang malu-malu sampai terang-terangan. Komplit semua ada.

“Wah, pak lurah kita yang baru baik hati sekali ya.”

“Kalau tau begini sudah dari dulu saya dukung beliau jadi pemimpin kita.”

“Pak Lurah, tengkyu berat nih…semoga jabatannya berkah dan langgeng.”

“ Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu. Terima kasih sodara sodara.” Ujar Parman sembari tersenyum lebar.

Secara diam-diam pula, Parman menghubungi reporter radio setempat. Supaya tak terlalu kentara, sang reporter datang di tengah meriahnya acara.

Berlagak seolah-olah baru mendapat informasi, si reporter pun mewawancarai lurah Parman di atas pentas, disaksikan seluruh hadirin.

“Pak Parman, saya barusan memperoleh info dari informan kami bahwa bapak menggelar silaturahmi dengan semua warga. Makanya saya segera meluncur kesini. Pertanyaan saya singkat saja, Pak. Bagaimana perasaan bapak setelah menyandang jabatan baru ini?”

“Ah, saya tak tau harus bilang apa. Yang jelas saya ingin berbuat yang terbaik untuk wilayah ini.”

Dan tepukan pun riuh disana sini menyambut ucapan itu.

Dada lurah Parman membuncah bahagia. Tak lupa sang reporter disumbangnya dengan selembar amplop berharga, secara diam-diam tentunya.

—————-

Parman bersiap dengan manuver selanjutnya. Parman menurunkan perintah untuk sekretarisnya.

“Tolong kamu data ulang semua warga di kelurahan kita. Hasil sensusnya kamu laporkan sore ini untuk saya. Oke?!”

Setelah mendata satu demi satu warga kelurahannya, Parman memulai proyek barunya. Memungut pajak!…

Supaya tak timbul reaksi mencurigakan, Parman melakukan aksinya tidak secara beruntun. Namun secara pelan-pelan. Mula-mula ia memungut iuran warga dengan alasan pembangunan. Tentu saja warga lingkungannya yang mayoritas dari kelas bawah itu keberatan. Namun karena perintah atasan, mereka sebagai wong cilik tak berani bersuara. Apalagi para suruhannya telah terlatih untuk melobi rakyat kecil,

“Rakyat bijak taat pajak. Ini slogan dari atas lho, Pak, Bu…”

Rentang waktu selanjutnya, Parman memberlakukan pajak rumah. Selang beberapa bulan kemudian diikuti dengan pajak sawah. Semuanya selalu berujung pada satu kata: Uang!

Akhirnya warga pun membentuk konsolidasi untuk menyuarakan aspirasi. Mereka pun mendatangi bu Lurah yang terkenal baik hati.

“Tolong, Bu Lurah. Keputusan pak lurah dicabut saja. Kami sudah tidak punya apa-apa untuk dibayarkan.”

Bu Lurah pun menyalurkan simpati dan berjanji akan membantu. Tak lupa wanita paroh baya itu menyedekahkan sedikit uang untuk keperluan mereka.

“Pak, apa iuran-iuran itu tidak memberatkan warga? Kasihan mereka,Pak. Untuk makan sehari-hari saja susah.” Kata Bu Lurah sembari menyuguhkan secangkir kopi hangat.

“Bapak bisa apa sih, Bu? Ini perintah dari pak camat. Pak camat dapat perintah dari bupati. Pak Bupati dapat perintah dari Gubernur. Pak gubernur dapat perintah dar…”

“Iya. Iya. Ibu ngerti. Tapi apa tak bisa dibicarakan dengan pak camat? Yang susah itu warga kita juga, Pak.”

“Ah, Ibu ini kayak nggak ngerti aja. Bapak Cuma bawahan, Bu. Ba…wa…han!”

“Apa bapak nggak takut didemo rakyat?” pancing bu lurah.

“Ah, demo di negeri ini bukan barang baru, Bu. Setiap pejabat harus terbiasa dengan demo. Kecil itu, Bu. Kecciil…!” Lurah Parman memang seorang pemain sandiwara jempolan. Terbukti Bu Lurah pun diam seribu bahasa.

—————–

Lurah Parman semakin terlatih memainkan  peran. Sudah tak terhitung bonus-bonus fiktif yang diterimanya dari berbagai kalangan yang meminta perlindungan. Bahkan proyek perbaikan dan pelebaran jalan pun bisa jadi bisnis menguntungkan untuk lurah Parman. Karena jalan wilayahnya merupakan  salah satu jalan lintas pulau yang dilalui berbagai jenis kendaraan luar dan dalam propinsi. Maka hanya dengan bantuan membuat beberapa lembar proposal untuk proyek jalan tersebut, lurah Parman bisa mendapat belasan juta rupiah dari yang empunya proyek. Hingga sepucuk surat kaleng itu datang menyambanginya di gelap malam…

———————

Lurah Parman teringat lagi akan surat itu. Hari ini tepat seminggu setelah surat tanpa alamat tersebut datang. Berarti jam 12 nanti malam ia akan bertemu dengan si pengirim surat.

Parman menebak-nebak lagi. Siapa dia? aktivis LSM kah? mahasiswa sosialis kah? atau jangan-jangan  ini kerjaan bawahannya di kantor kelurahan yang sengaja menakut-nakutinya? Atau ini ulah si Parmin tetangganya yang norak dan kepedean itu? Atau pak camat, konco politiknya selama bertahun-tahun? Pastinya, si pengirim aneh itu adalah orang pintar yang tau sepak terjangnya sebagai lurah. Atau lebih gila lagi, si dia adalah istrinya sendiri? Ah, tak mungkin. Tepisnya segera. Selama ini Parman selalu berusaha menampilkan dirinya sebagai suami teladan. Yang jelas, semua orang bisa jadi tersangka di mata lurah Parman.

Jam 12 malam, lurah Parman memenuhi undangan si misterius. Ia berjalan sendirian menuju pohon beringin yang sepi. Suara lengkingan burung hantu sesekali terdengar di atas pohon-pohon tinggi. Tapi lurah Parman sudah membuang rasa takut jauh-jauh sebelum dia berangkat dari rumah tanpa sepengetahuan istrinya.

Sepi, tak ada siapa-siapa. Tak ada tanda-tanda ada orang yang tengah menunggu. Lurah Parman tetap sebatang kara di sana. Sampai-sampai ia dapat mendengar bunyi nafasnya sendiri. Tiba-tiba Parman melihat selembar amplop putih lagi menclok di tubuh beringin. Seperti sengaja ditempelkan disana.

Assalamu’alaikum…

Pak lurah yang terhormat,

sebaiknya bapak memang tidak perlu tau siapa saya. Cukuplah dengan surat ini saja saya menjumpai bapak. Anggaplah saya adalah seseorang yang dikirim Allah untuk mengingatkan bapak.

Yang pasti, meski bapak tidak tau siapa saya, tapi tolong diingat, bahwa saya sangat tau siapa bapak. Jadi tolong bapak penuhi permintaan saya di surat tempo hari. Sudahilah semua dosa-dosa bapak. Dan mohon ampunlah kepadaNya.

Jika bapak tidak memenuhi harapan saya tersebut, mungkin surat-surat lainnya akan menyusul dari saya dengan skenario yang lebih asyik lagi.

Wassalam…

NB: Don’t worry, saya tidak akan menyusahkan bapak. Selamat berubah…

Lurah Parman menengadah ke langit kelam. Bintang kecil melihat malu-malu dari balik awan…

—– TAMAT —–

Tafahna El Asyraf, 27 september 2009

Cerpen ini dibuat sebagai apresiasi sederhana atas bebasnya  wartawan Irak dari hotel prodeo, Muntahar El Zeidy atas aksi pelemparan sepatunya kepada seseorang…tau dong siapa?!🙂 ….

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: