KESALAHAN PENAFSIRAN 1/2

6 November 2009 at 1:11 pm | Posted in AL-QURAN, Gen 1 | 1 Comment
Tags: ,

oleh: Reflita*

Pendahuluan

al-quranIlmu tafsir merupakan ilmu yang menempati posisi yang mulia dan strategis. Al-Ashfahani dengan kalimat yang indah mengungkapkan ”sebaik-baik pekerjaan yang dilakoni manusia adalah menafsirkan Al-Qur`an. Kemulyaan ilmu tafsir dapat dilihat dari tiga segi. Pertama; dari segi objek bahasannya yaitu kalamullah yang melahirkan beribu hikmah dan sumber dari segala keutamaan. Kedua; dari segi tujuan yakni berpegang dengan tali yang kokoh untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki yang tidak akan pernah hilang. Ketiga; dari segi kebutuhan manusia terhadapnya. Dimana kesempurnaan agama atau kebahagiaan dunia dan akhirat sangat membutuhkan pengetahuan keagamaan dan ini berkaitan dengan pengetahuan tentang kitab Allah.[1]

Al-Qur`an secara teks memang tidak berubah, tetapi penafsiran atas teks, selalu berubah, sesuai dengan konteks ruang dan waktu. Karenanya, Al-Qur`an selalu membuka diri untuk dianalisis, dipersepsi, dan diinterpretasikan dengan berbagai alat, metode, dan pendekatan untuk menguak isi sejatinya. Aneka metode dan tafsir yang berkembang merupakan usaha untuk membedah makna terdalam dari Al-Qur`an itu.

Penafsiran Al-Qur`an telah berlangsung sejak zaman Rasul. Rasul sendiri adalah mufassir awal sesuai dengan kapasitasnya sebagai penyampai wahyu dan menjelaskannya kepada umat. Hal ini berlanjut pada zaman sahabat, tabi’in dan terus berlangung sampai dewasa ini. Hanya saja berbeda dengan Al-Quran yang isinya mutlak benar karena berasal dari zat yang maha mengetahui, tafsir tidak luput dari kekurangan bahkan kesalahan. Pengaruh perbedaan mazhab dan aliran turut mewarnai perbedaan penafsiran. Bahkan adanya fanatisme yang berlebihan dari seorang mufassir sering kali melahirkan kesalahan-kesalahan pada produk tafsir yang dia hasilkan.

Metode Tafsir yang Sahih

QURANTujuan ilmu tafsir adalah mengetahui makna ayat-ayat Al-Qur`an dan mengungkap hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Oleh Karena itu untuk bisa menafsirkan Al-Qur`an diperlukan metode yang benar dan cara yang teliti sehingga seorang mufassir tidak tergelincir kedalam kesalahan. Imam Masru` rahimahullah pernah mengingatkan umat Islam untuk berhati-hati dalam menafsirkan Al-Qur`an. Dia berkata:

اتقوا التفسير فإنه رواية من الله

“Berhati-hatilah dengan tafsir karena ia adalah riwayah yang berasal dari Allah”.[1]

Pemahaman paling benar akan makna Al-Qur`an sebagaimana yang disebutkan oleh Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb dalam disertasinya ini, akan didapat apabila metode yang digunakan adalah metode tafsir al-maksur atau tafsir dengan riwayat yang sahih. Dengan metode ini seorang mufassir akan terbebas dari dari penyimpangan dan kesalahan dalam memahami ktabullah.

Tafsir al-Maksur merupakan tafsir yang paling utama dan paling kuat. Karena tafsir ini berasal dari Allah Swt sebagai zat yang menurunkan Al-Qur`an, atau berasal dari Rasul sebagai penyampai dan penjelas wahyu, atau tafsir yang berasal dari sahabat yang hidup disaat wahyu diturunkan, dimana mereka mengetahui takwilan ayat dan belajar langsung kepada Rasul, atau berasal dari tabi’in sebagai penerus sahabat, yang belajar dan mengambil ilmu langsung dari mereka. Hanya saja ulama berbeda pendapat apakah tafsir tabi’in termasuk kedalam jenis tafsir al-maksur atau tafsir bil-rakyi. Hanya saja Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb tidak menjelaskan perbedaan ini. Dia hanya menyebutkan pendapat mayoritas ulama bahwa tafsir tabi’in termasuk tafsir bil-maksur dengan melihat kapasitas tabi’in sebagai generasi yang mendapatkan ilmu langsung dari sahabat dan mereka hidup sezaman dengan sahabat Rasul.[2]

Dalam referensi lain kita bisa menemukan perbedaan ini tidak hanya seputar tafsir tabi’in, namun juga tafsir sahabat. Perkataan sahabat yang secara ijma dianggap sebagai sumber tafsir al-maksur adalah perkataan yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak tidak menjadi lapangan ijtihad, seperti penjelasan tentang asbāb al nuzūl dan ijma’ sahabat. Sedangkan perkataan yang bersifat individual yang berkaitan dengan penafsiran, ulama berbeda mengenai hal itu. Begitu juga dengan penafsiran tabi’in. perbedaan ulama seputas itu sangat banyak. Imam Abu Hanifah termasuk orang yang menolak perkataan tabi’in sebagai sumber tafsir al-maksur dengan alasan mereka juga tidak terbebas dari kesalahan karena sama-sama manusia biasa. Penafsiran tabi’in juga berdasarkan pada ijtihad sebagaimana penafsiran yang dilakukan generasi sesudah mereka. Dengan kalimat lugas Abu berkata;

هم رجال و نحن رجال.[3]

Sekalipun tafsir al-maksur adalah tafsir berdasarkan nas dan riwayat baik dari rasul, sahabat atau tabi’in, namun tidak menafikan peran akal dalam penerapan metode ini. Seorang mufassir harus berijtihad untuk menemukan hubungan ayat yang satu dengan yang lainnya, berijtihad untuk menyeleksi hadis yang menafsirkan ayat Al-Qur`an. Makanya tafsir dengan corak ini juga tidak terbebas dari kesalahan. Sangat diperlukan ijtihad dan ketelitian pembaca untuk menyeleksi tafsir yang benar dan yang salah. Dalam tafsir al-maksur, syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah riwayat yang diambil harus sahih.

Metode lain dalam menafsirkan Al-Qur`an adalah menafsirkan Al-Qur`an dengan akal atau dikenal dengan istilah tafsir bil-rakyi. Dalam penerapannya terdapat tafsir bil-rakyi yang bisa diterima (tafsir bil-rakyi al mahmud) dan tafsir bil-rakyi yang tertolak (tafsir bil-rakyi al mazmum). Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menyebutkan dalam disertasinya empat macam tafsir bir-rakyi yang dibolehkan yaitu:

1. Pendapat atau ijtihad sahabat yang merupakan umat yang paling tahu dan paham dengan Al-Qur`an, menyaksikan proses turunnya wahyu dan mengetahui takwilan ayat .

2. Akal yang digunakan untuk menafsirkan teks Al-Qur`an, menjelaskan dilalahnya serta menerangkan cara mengambil hukum dari ayat Al-Qur`an.

3. Penafsiran bil-rakyi yang umat telah sepakat menerimanya, baik dari kalangan salaf ataupun khalaf. Karena kesepakatan ini menunjukkan kebenaran pendapat tersebut.

4. Penafsiran ini dilakukan setelah terlebih dahulu berusaha menafsirkan Al-Qur`an dengan Al-Qur`an, hadis nabi atau perkataan sahabat.

Untuk sampai pada metode penafsiran yang benar, seorang mufassir harus memperhatikan syarat-syarat dan kaedah yang harus dipenuhi. Syarat dan kaedah ini ada yang berkaitan dengan cara dan metode penafsiran dan ada yang berkaitan dengan keilmuawan mufassir.

Dalam kajian ini, Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menyebutkan 18 syarat yang harus dipenuhi oleh mufassir sebelum menafsirkan Al-Quran. Diantaranya;

1. Akidah dan pikiran yang benar.

2. Niat yang ikhlas dan maksud yang lurus.

3. Memiliki motifasi untuk mentadaburi ayat Al-Qur`an dan mengamalkannya.

4. Mengetahui ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur`an dan tafsirnya.

5. Berpegang dengan riwayat yang sahih.

6. Menguasai Bahasa Arab.

7. Tidak tergesa-gesa mengambil makna bahasa sebelum meneliti riwayat yang terkait.

8. Apabila terdapat perbedaan seputar I’rab, maka wajib memilih I’rab yang sesuai dengan riwayat yang sahih.

9. Mengetahui kaedah-kaedah yang diperlukan dalam menafsirkan Al-Qur`an yang telah dirumuskan oleh ulama salaf.

10. Mengetahui kaedah tarjih.

11. Membersihkan diri dari hawa nafsu dan fanatisme mazhab.

12. Tidak mengambil perkataan ahli bid’ah.

13. Menghindari riwayat israiliyat.

14. Menghindari masalah-masalah kalam dan filsafat.

15. Tidak memaksakan diri dalam tafsir ilmi.

16. Jujur, dan benar dalam mengutip hadis dan perkataan ulama.

17. Mendahulukan orang yang lebih utama ilmunya ketika mengutip.[4]

Sebab-sebab Kesalahan dalam Penafsiran Al-Qur`an

TAFSIRMenafsirkan Al-Qur`an bukanlah suatu perkara yang mudah, karenanya ia memerlukan persyaratan-persyaratan yang ketat melalui proses penguasaan berbagai ilmu alat sehingga seseorang layak disebut mufassir. Penguasaan ilmu alat saja tidak cukup, apabila mufassir tidak memahami metode penafsiran. Ketidak tahuan akan metode ini akan menyebabkan kesulitan mufassir dalam menafsirkan Al-Qur`an. Bahkan cendrung pada kesalahan.

Az-Zahabiy dalam bukunya “Tafsir wa Mufassirun” mengemukakan bentuk-bentuk penyimpangan penafsiran Al-Qur’an dapat dikembalikan pada 3 faktor. Pertama: Berkaitan dengan subyektivitas mufasir. Ini terlihar dari kecenderungan-kecenderungan para mufassir untuk menafsirkan Al-Qur`an menurut seleranya, mazhabnya, bidang kajian yang diminatinya atau bahkan kecenderungan lain yang berkaitan keinginan-keinginan pribadi atau kelompok. Kedua: Berkaitan dengan konteksnya, baik pembicaraan, ruang dan waktu atau dalam konteks sosial kemasyarakatan yang lebih luas. Ketiga: berkaitan dengan kekurangan penguasaan ilmu pokok dan bantu dalam menafsirkan Al-Qur’an. Ini kita bisa dilihat pada kasus penafsiran yang dilakukan oleh para ilmuwan yang tidak memiliki Ilmu pokok (dalam menafsirkan Al-Qur`an) secara memadai atau mufassir yang memiliki kemampuan penguasaan ilmu pokok, tetapi kurang menguasai ilmu bantu. Misalnya, jika seorang ilmuwan berupaya mengaitkan kebenaran penemuan ilmiahnya dengan statemen-statemen Al-Qur`an.

Apa yang dikemukakan Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb dalam disertasinya ini, tampaknya tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Az- Zahabiy di atas. Hanya saja dalam kajiannya, Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menjelaskan sebab-sebab kesalahan tersebut secara terperinci. Kelebihan laiinya, sebelum masuk kepada penyebab kesalahan yang ditemukan, dia menjelaskan terlebih dahulu metode yang seharusnya ditempuh oleh mufassir disertai dengan paparan tentang perkataan ulama mengenai hal itu.

Ada empat penyebab timbulnya kesalahan penafsiran yang sering ditemukan dalam kitab-kitab tafsir yang ada:

Pertama: Berpaling dari sumber dan dasar tafsir yang otentik dan sahih.

Ibarat sebuah rumah yang tidak dapat berdiri tanpa adanya pondasi yang kuat, disiplin ilmu apapun namanya membutuhkan dasar dan kaidah tersendiri yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang bergelut dengan ilmu tersebut. Dasar, yang dalam istilah arabnya disebut uşul merupakan unsur penting yang menjadi penguat suatu ilmu. Seseorang tidak akan sampai pada kesimpulan yang benar, apabila hanya berpedoman kepada kaedah-kaedah umum dan tidak memperhatikan uşul ini.

Sama halnya dengan dasar (us}ul) di atas, sumber yang otentik juga merupakan kunci kebenaran hasil sebuah penelitian. Salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam metode ilmiah, adalah sumber yang digunakan harus sumber primer dan otentik. Begitu juga dengan ilmu tafsir, seorang mufassir harus menggunakan sumber-sumber tafsir yang asli dan otentik demi menghasilkan penafsiran yang benar.

Terjadinya kesalahan dalam penafsiran sering kali disebabkan oleh tindakan mufassir yang mengabaikan sumber-sumber primer yang sahih dan beralih pada sumber-sumber yang lemah. Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menyebutkan ada sembilan unsur yang termasuk dalam kategori ini. Diantaranya;

1. Mengunakan ijtihad dalam menafsirkan ayat, padahal ada nas lain yang menjelaskan maksud ayat tersebut.

Nas dalam ilmu ushul fiqh yaitu suatu lafaz yang memiliki makna yang jelas dan tidak mengandung kemungkinan makna lain. Berbeda dengan defenisi ini, Nas al mufassir (nas yang menjelaskan maksud ayat) yang dimaksudkan Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb disini adalah ayat Al-Qur`an, baik ayat ini berada langsung setelah ayat yang ditafsirkan atau terdapat dalam surah yang berbeda, hadis sahih, perkataan sahabat yang diketahui tidak ada sahabat lain yang menyalahinya dan ijma’ ulama tafsir.

Nas yang termasuk dalam kategori ini adalah nas-nas yang terkait langsung dengan pemahaman ayat, baik jawaban dari pertanyaan, penjelasan tentang asbabun nuzul, penjelasan sahabat tentang makna kata-kata yang musykil, penafsiran Nabi akan makna ayat sebelum membacanya.

Meskipun menafsirkan Al-Quran dengan Al-Qur`an atau riwayat yang sahih merupakan metode tafsir yang paling benar dan utama. Hanya saja sebagian mufassir mengabaikan metode ini. Mereka menafsirkan Al-Qur`an mengunakan ra’yi atau ijtihad sendiri. Sebelum melihat ayat Al-Qur`an dan riwayat yang berhubungan dengan tafsiran ayat tersebut. Hal inilah yang menimbulkan kesalahan pada produk tafsir yang mereka hasilkan.

2. Berpegang pada hadis maudu’ dan da’if

Salah satu metode yang benar dalam menafsirkan Al-Qur`an adalah menafsirkan Al-Qur`an dengan hadis sahih. Imam Alusi sebagaimana dikutip oleh Ibn Hayyān dalam mukadimah tafsirnya mengkritik mufassir yang memasukkan kedalam tafsirnya riwayat-riwayat yang tidak sahih. Dia berkata “ … begitu juga mereka mencantumkan dalam kitab tafsir mereka riwayat-riwayat da’if tentang asbāb al nuzūl, hadis-hadis tentang keutamaan surah, hikayat-hikayat bohong, dan cerita israiliyat, padahal semua ini tidak pantas dimasukkan dalam kitab tafsir”.[5]

Dari hasil penelitiannya, Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menemukan beberapa kitab tafsir yang memuat hadis daif bahkan maudu’. Hadis-hadis ini kebanyakan berhubungan dengan penjelasan tentang keutamaan surah, nama surah, asbāb al nuzūl, dan masalah-masalah akidah, seta kisah-kisah nabi dan umat terdahulu. Contoh sebab nuzul ayat 14 surat Al-Baqarah.

Diriwayatkan dari Ibn Abbas, ayat ini turun berkenaan dengan kasus Abd Allah ibn Ubay dan sahabat-sahabatnya. Pada suatu hari mereka keluar dan berjumpa dengan sahabat-sahabat Rasul. Abd Allah bin Ubay berkata pada sahabat-sabatnya. Lihatlah apa yang diinginkan oleh orang-orang bodoh diantara kamu. Kemuddian dia pergi dan memegang tangan Abu Bakar dan memujinya, kemudian memegang tangan Umar dan Ali dan juga memujinya. Setelah itu dia menjauh dari para sahabat dan kembali menemui kaumnya dan berkata, lakukanlah sebagaimana yang kalian melihat aku melakukannya. Kaumnya pun melakukan seperti yang diperbuat Abd Allab ibn Ubay. Mereka menemui para sahabat dan memujinya. Umat Islam kemudian menyampaikan kejadian ini kepada Rasul. Lalu turunlah ayat ini.

Hadis ini diriwayatkan dari Muhammad ibn Marwan dari Muhammad ibn Sāi`b al Kalbiy dari Abi Shaleh. Silsilah ini merupakan silsilah kazb (rangkadian pewari yang terkenal sebagai pendusta).[6] Sayangnya, beberapa mufassir memuat riwayat ini dalam kitab tafsirnya. Seperti, As\-S|a’labiy, Az\-Z|amakhsyari, Al-Baid}awi, dan Al-Wa>hidi dan Al-H}azen. Hal inilah menurut Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb yang menyebabkan kesalahan tafsir yang dihasilkan.[7] Dari penelitiannya, dia menemukan kitab-kitab tafsir yang banyak memuat hadis-hadis da’if dan maudu’. Diantaranya, Syifa> as-S}ud}u>r karangan Abu Bakr an-Nuqasy, al-Kasya>f wa al-Baya>n ‘an Tafsi>r Al-Qur’a>n karangan Abu Ishaq as\-S|a’labiy, Tafsi>r Abi Hasan al- Wa>hidiy, Luba>b al Ta`wi>l fi Ma’ani> al-Tanzi>l karangan Abu hasan al H}a>zen, al-Kasya>f karangan Z|amakhsyariy, Anwa>r al Tanzi>l karangan al- Baid}awiy, dan Isya>d al-Aql al-Sali>m ila> Maza>ya> Al-Qur`a>n al Kari>m karangan Abu Su’ud.

3. Mengambil riwayat Israiliyat

Tidak dapat dipungkiri, kisah-kisah israiliyat[8] banyak terdapat dalam kitab tafsir, baik yang bercorak al-maksur maupun al-rakyi. Berbeda dengan zaman sahabat, dimana mereka sangat berhati-hati dalam mengambil riwayat israiliyat, pada masa tabi’in dan masa-masa sesudah itu kehatian-kehatian ini semakin berkurang. Imbasnya kisah-kisah israiliyat banyak mempengaruhi penafsiran mereka. Sikap ulama tafsir pun berbeda-beda dalam mengambil riwayat Israiliyat. Ada yang bersikap hati-hati dan hanya mengambil riwayat yang tidak bertentangan dengan Al-Qur`an dan sunnah, seperti Ibn Kasir. Ada yang bersikap sebaliknya, mereka tidak menyeleksi riwayat israiliyat yang dicantumkan dalam kitab tafsir mereka, seperti al-Tabariy. Dan Ada yang sama sangat mengantimasi masuknya kisah-kisah israiliyat dalam kitab tafsirnya , seperti imam Alusi. Hanya saja kalau kita perhatikan kitab tafsir mereka masih ditemukan kisah-kisah israiliyat, hanya saja setelah mengutip kisah ini mereka menjelaskan kualitas kisah yang dikutip. Tujuan dari penyebutannya tidak lain adalah untuk menjelaskan letak kesalahan dan kebohongan kisah tersebut.

4. Berpegang pada prasangka dan hikayah

Yang dimaksud dengan prasangka dan hikayat disini adalah berita-berita, cerita dan dongeng orang-orang terdahulu yang digunakan dalam penafsiran Al-Qur`an, padahal ia tidak memiliki dasar dari Al-Qur`an, sunnah dan ijma’ umat serta tidak memiliki sanad yang sahih.

Cerita-cerita ini sering kali digunakan untuk menjelaskan persoalan-persoalan akidah, hal-hal gaib dan masalah-masalah keagamaan lainnya. Pengunaan hikayat ini merupakan kesalahan yang fatal. Al-Qur`an sendiri mengingatkan umat Islam untuk berpegang dengan dalil yang kuat dan menghindari prasangka.

5. Hanya berpedoman pada makna bahasa semata dan mengutamakannya dibanding riwayat yang sahih.

6. Berpegang pada kewajiban yang bersifat majaziah dan tunduk pada tamsil dan imajinasi.

7. Terlalu mendalam dalam membicarakan filsafat dan ilmu kalam.

8. Hanya mengandalkan rakyi dan mengutamakannya dari pada riwayat yang sahih

Akal merupakan pemberian dan nikmat Allah yang sangat besar. Dengannya manusia dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah. Dalam disiplin ilmu tafsir, penggunaan akal dalam menafsirkan Al-quran termasuk kedalam salah satu metode penafsiran Al-Qur`an. Walaupun begitu, dalam menafsirkan Al-Qur`an, seorang mufassir tidak boleh hanya berlandaskan pada akal semata dan mengabaikan naql. Orang yang hanya mengunakan akal, akan melahirkan tafsir bil-rakyi al mazmum (tidak diterima.)

9. Mengambil perkataan dari ahli bid’ah dan mengikuti hawa nafsu.

*Lulusan S2 Tafsir Institut Ilmu Al-Quran Jakarta – Gen 1 MAKN Putri

sumber: reflitalatifah.blogspot

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. saya sebagai pelajar, yang sedang menekuni di bidang “ushul” sangat ber-terimakasih atas kajiannya ttg ulum at-tafsir, disertai dengan problematika yang muncul-mungkin- akibat pelbagai penafsiran yang dilakukan oleh para pewaris nabi berdasar pada kapasitas keilmuan yang dimilikinya..
    saran saya, agar wacana ini yang sedang membahas tentang kajian ushul attafsir seiring dengan berjalannya waktu, untuk selalu meng up to date, lebih lebih tentang tentang problematika yang saat ini terjadi.

    salam,,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: