KESALAHAN PENAFSIRAN 2/2

6 November 2009 at 9:45 pm | Posted in AL-QURAN, Gen 1 | Leave a comment
Tags: ,

oleh: Reflita*

Kedua: tidak teliti dalam memahami teks ayat dan dilalahnya.

quranlargeFaktor lain yang dapat menyebabkan kesalahan dalam penafsiran Al-Qur`an adalah ketidaktelitian mufassir dalam memahami teks dan dilalahnya. Hal ini bisa terlihat ketika seseorang yang ingin menafsirkan Al-Qur`an berhadapan dengan ayat-ayat yang nasakh dan mansukh.

Persoalan nasakh wa mansūkh termasuk cabangan ilmu Al-Qur`an yang banyak menuai perbedaan dikalangan ulama. Perbedaan ulama tidak hanya seputar ada atau tidaknya nasakh dalam Al-Qur`an, namun juga ketika menetapkan ayat yang telah dinasakh.

Secara segi etimologi, nasakh bearti mengangkat atau menghilangkan, disamping itu ia juga memiliki pengertian menyalin (nasakhtu al Kitāb=saya menyalin kitab). Tapi secara umum, nasakh bearti mengubah, mengangkat, atau mengganti ketentuan yang ada. Dalam persepsi Ilmu fiqh, nasakh adalah mengganti hukum-hukum yang sudah ada dengan hukum baru yang datang sesudah itu. Karena itu untuk mengetahui nasakh dan mansukh ini, maka harus diketahui mana ayat-ayat yang dianulir dan mana ayat-ayat yang ditetapkan untuk menggantikan posisi ayat pertama. Seorang mufassir harus jeli dalam menetapkan ayat yang nasakh dan mansukh karena hal ini akan sangat berpengaruh terhadap tafsiran ayat.

Ketidaktelitian dalam memahami teks Al-Qur`an juga terjadi ketika mufassir mengutip pendapat dari kitab-kitab tafsir. Sebagian mereka tidak menyeleksi riwayat atau perkataan yang diambil, malah menyamaratakan antara riwayat yang da’if dan sahih. Sudah masyhur bahwa sebagian besar kitab tafsir masih dipenuhi oleh hadis-hadis da’if, kisah-kisah bohong, kejadian-kejadian yang tidak masuk akal, dan perkataan yang tidak berhubungan dengan tafsiran ayat. Mengomentari hal itu, Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan “ ada tiga buku yang tidak memiliki dasar referensi yaitu buku tentang perperangan, vabel, dan tafsir.”

Ketiga; menundukkan nas Al-Qur`an untuk kepentingan hawa nafsu, fanatisme mazhab, dan bid’ah

Kesalahan penafsiran terkadang disebabkan oleh tindakan sebagian mufassir dan orang yang menekuni ilmu Al-Qur`an yang menjadikan nas Al-Qur`an sebagai legimatimasi untuk menguatkan pendapat, mazhab dan aliran mereka. Pemahaman ayat diselaraskan dengan kepentingan mazhab.

Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb menegaskan kecendrungan seperti ini merupakan metode tafsir yang paling berbahaya dan paling buruk. Karena seorang mufassir berangkat dari keyakinan dan asumsi awal yang tidak memiliki landasan, kemudian mencari ayat-ayat yang sesuai dengan keyakinan dan asumsi mereka sebagai penguat. sehingga terkesan adanya pemaksakan pemahaman. Suatu ayat tidak lagi dipahami sebagaimana mestinya, tapi diarahkan untuk mendukung pemahaman mazhab yang dianut mufassirnya.

Tak pelak lagi, fanatisme yang berlebihan baik dalam mazhab fiqh, akidah, atau politik menyebabkan lahirkan taqlid buta, pengagungan dan penyucian terhadap satu individu dan pemikirannya. Orang cendrung mengabaikan ajakan Al-Qur`an untuk berpegang dengan Al-Qur`an dan sunnah dan berpaling dari dalil yang sahih.

Jiwa besar imam-imam terdahulu cukup menjadi pelajaran berharga bagi generasi sekarang ini. Mereka adalah orang-orang yang tawadu’ dan senantiasa memotifasi pengikutnya untuk selalu menganalisa setiap perkataan yang diterima. Kehatian-hatian mereka dapat tercermin dari salah satu perkataan Imam Abu Hanifah dibawah ini;

إن توجه لكم دليل فقولوا به.[9]

Apabila dihadapkan padamu satu dalil, maka komentarilah

Seseorang muslim yang baik, sejatinya harus menghormati ulama-ulama terdahulu yang telah berijtihad dengan penuh keihlasan untuk menemukan kebenaran, mengakui keutamaan dan ilmu mereka, tidak menganggap mereka terbebas dari kesalahan, dan menghilangkan fanatisme yang berlebihan dengan mazhab tertentu.

Keempat; mengabaikan sebagian syarat-syarat mufassir

BACATafsir sebagai sebuah ilmu pengetahuan tentu memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Penafsiran Al-Qur`an tidak akan sempurna tanpa adanya pemenuhan persyaratan tersebut .Imam Ibn Taimiyah dalam al majmu’ al fatāwa mengemukakan ” setiap manusia harus memiliki suatu dasar umum yang menjadi sandaran aspek-aspek yang terkait dengannya supaya dapat berbicara dengan dasar ilmu yang kuat dan penuh keadilan serta mengetahui segala rincian bagamana ia terjadi. Apabila hal ini diabaikan, maka yang akan tertinggal adalah kebohongan dan ketidaktahuan dengan hal-hal yang juz`i (khusus) dan ketidaktahuan serta kekaburan dengan masalah yang umum (kulli). Hal ini akan melahirkan kerusakan yang besar”.

Berangkat dari fatwa ibn Taimiyah tersebut, Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb menemukan empat hal yang termasuk kedalam masalah ini:

1. Menyepelekan penerapan kaidah tarjih yang dirumuskan ulama tafsir.

Yang dimaksud kaidah tarjih disini adalah kaidah umum atau dasar-dasar pokok yang digunakan untuk mengetahui pendapat yang paling kuat ketika terjadi perbedaan pemahaman ketika menafsirkan Al-Qur`an.

Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam menafsirkan Al-Qur`an. Keterbatasan kemampuan manusia, ditambah dengan perbedaan metode yang digunakan menjadi salah atu sebab perbedaan ini. Hal terpenting yang harus diperhatikan bagaimana seorang yang ingin memahami Al-Qur`an bisa objektif dalam menilai perbedaan ini dan berusaha mencari pendapat yang paling kuat.

Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb dalam penelitiannya ini menyebutkan kaidah-kaidah tarjih yang sering diabaikan oleh sebagian mufassir.

a. Qiraah mutawatir lebih didahulukan daripada makna qiraat syaz.

Apabila terdapat perbedaan penafsiran karena disebabkan oleh perbedaan qiraat, seorang mufassir harus mendahulukan makna yang dikandung qiraat mutawatir daripada makna yang dikandung qiraat syaz. sebab dari segi kualitas qiraat mutawatir lebih kuat. Hanya saja sebagian mufassir mengabaikan kaidah ini, mereka mengutamakan qiraat syaz dalam penafsiran.

Sebagai contoh, firman Allah

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا

وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syi’ar (agama) Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha mensyukuri, Maha mengetahui

Sebagian ulama berpendapat bahwa sa’i dari safa ke marwa hukumnya sunnah. Mereka berlandaskan pada qiraah syaz

…فلا جناج عليهما أن الا يطوف بهما…

Penafsiran seperti ini bertentangan dengan pendapat jumhur ulama bahwa sa’i merupakan rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan, berpedoman pada makna qiraat mutawatir.[10]

b. Penafsiran dan penjelasan i’rab yang sesuai dengan rasm usmani lebih utama Dibandingkan penafsiran yang berbeda dengan rasm utsmani.

apabila terjadi perbedaan antara mufassir mengenai tafsiran suatu ayat atau penjelasan makna kosakata, atau penjelasan i’rab, maka penafsiran dan i’rab yang sesuai dengan rasm utsmani yang diperpegangi.

Kesalahan penafsiran menurut penelitian Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb sering kali disebabkan oleh tidak diperhatikannya kaedah ini. Sebagai contoh perbedaan mufassir tentang makna ayat

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى[11]

Kami kami membacakan Al-Qur`an untuk kamu, maka janganlah kamu lupa”

Ulama berbeda pendapat tentang i’rab Menurut jumhur dalam ayat ini adalah nāfiah (لا). Ini merupakan pendapat yang kuat karena sesuai dengan rasm usmani, dimana terdapat alif dalam kalimat (تَنْسَى). Tidak dibuangnya alif dalam kalimat ini menandakan bahwa dalam ayat ini bukan nāhiah.

Sebagian ulama berpendapat dalam ayat ini adalah lā nāhiah, sedangkan alif disini berfungsi sebagai pembatas.

Dalam kasus seperti ini, seyogyanya seorang mufassir harus mengmabil pendapat yang kuat, bukan sebaliknya.[12]

c. Mensinkronisasikan makna suatu kalimat dengan kalimat sebelum dan sesudahnya.

d. Apabila terjadi perbedaan penafsiran disebabkan oleh perbedaan asbab nuzul yang digunakan, penafsiran yang sesuai dengan sabab nuzul yang sahih lebih kuat.

e. Apabila penafsiran suatu ayat didukung oleh adanya ayat lain yang berhubungan dengan ayat tersebut lebih kuat daripada pendapat yang tidak memeliki landasan

f. Apabila terjadi perbedaan antara makna terminologi dengan makna etimologi dalam menafsirkan kalamullah didahulukan makna terminologi

2. Berpaling dari metode salafushalih

BOOKSUntuk mengantarkan pembaca pada pembahasan ini, terlebih dahulu Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb menjelaskan tentang makna salafushalih yang alasan kenapa kita diharuskan mendahulukan pendapat dan penafsiran mereka.

Menurut Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb yang termasuk salafushaleh adalah sahabat, pembesar tabi’in, imam-imam besar yang adil, diakui umat atas keilmuawan dan ketakwaan mereka, memiliki posisi yang tinggi, dan perkataan mereka diterima baik dari kalangan salaf, maupun khalaf. Diantaranya. Imam arba’ah, Sofyan bin sauriy, lais bin sa’ad, ’Abd Allah bin Mubara’, dan imam hadis.

Ayat al-Qur`an banyak memerintahkan umat Islam untuk senantiasa berpegang pada pendapat salafushaleh karena ketinggian derjat dan ketakwaan mereka. Diantaranya ayat 100 surah al-Taubah. Allah berfirman;

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Keredaan Tuhan dengan sahabat dan orang yang mengikuti pendapat mereka, menandakan pendapat mereka benar dan layak diikuti. Kalimat (وَرَضُوا عَنْهُ) dipahami Muhammad Ya’qūb sebagai perintah. Lebih lanjut dia menjelaskan, umat Islam wajib mengikuti segala hal yang diredai Allah, dan alah satu dari perbuatan yang diredai Allah adalah mengikuti metode dan ajaran sahabat.[13]

Disamping mengemukakan dalil naqli, T|a`hir Mahmūd Muhammad Ya’qūb juga menyebutkan kelebihan sahabat dan metode yang mereka gunakan. Dalam menafsirkan Al-Qur`an, sahabat senantiasa berpegang pada Al-Qur`an dan sunnah serta mendahulukan keduanya dibandingkan akal. Mereka juga tidak berusaha mentakwilkan nas. Makna ayat dikembalikan pada makna dasarnya yang sahih. Kelebihan lainnya, sahabat terbebas dari pengaruh fanatisme mazhab serta pengaruh filsafat, bid’ah dan persoalan ilmu kalam. Kapasitas sahabat sebagai orang yang menguasai bahasa Arab dan mengetahui asbabun nuzul menambah kuat penafsiran mereka.[14]

Berpegang dengan pendapat sahabat dan meniru metode mereka dapat membantu mufassir terhindar dari perpecahan dan perselihan seta pengaruh bid’ah dan segala kesesatan lainnya. Berpedoman dengan metode sahabat juga akan membawa mufassir pada cara mengambil dalil dan kesimpulan yang benar.

Oleh karena itu berpaling dari metode sahabat dan mengabaikan pendapat mereka merupakan suatu kesalahan besar. Setiap orang yang ingin menafsirkan Al-Qur`an disetiap zaman harus berpegang dengan penafsiran mereka.

Syaikh Khālid ’Ak dalam kalimat yang sangat indah mengatakan ” mengembalikan pemahaman Al-Qur`an dan sunnah kepada pemahaman salafushaleh adalah perkara yang sangat urgensial. Kebutuhan akan hal ini akan terus berlanjut. Inilah tajdid yang sebenarnya, yang tetap asli dan akan menjadi dasar yang akan mempersatukan umat.”

3. Tidak paham dengan kaedah bahasa Arab

Al-Qur`an diturunkan dengan bahasa Arab, suatu bahasa yang memiliki keistimewaan dari segi tata bahasa dan kandungan maknanya. Untuk sampai kepada pemahaman yang benar, seorang mufassir harus mengetahui dan memahami kaedah bahasa Arab. Ketidaktahuan dengan kaidah kebahasaan akan melahirkan kesalahan pemahaman.

4. Mengabaikan maksud turunnya Al-Qur`an dan tujuannya yang asli.

TafsirAl-Qur`an diturunkan untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia, memberikan cahaya kepada pikiran mereka, mendidik jiwa dan akal mereka. Di waktu yang sama Al-Qur`an memberikan solusi yang benar atas segala persoalan yang berhubungan dengan kehidupan manusia.

Untuk sampai pada pemahaman yang benar, maka mengetahui maksud dan tujuan diturunkannya Al-Qur`an adalah syarat terpenting yang harus dimiliki mufassir ketika ingin menafsirkan Al-Qur`an.[15]

PENUTUP

Dari keseluruhan pembahasan tersebut, kita dapat memperoleh pengertian bahwa penjelasan terhadap makna al-Quran merupakan suatu keharusan. Tetapi keharusan tersebut, di samping memerlukan kehati-hatian, juga memerlukan persyaratan yang tidak selayaknya dilanggar. Meskipun beberapa persyaratan yang dikemukakan oleh para ulama tersebut merupakan hasil ijtihad, tetapi minimal dapat dipahami sebagai patokan dasar yang selayaknya diperhatikan. Pelanggaran terhadap patokan-patokan dasar tersebut, memang, adakalanya tidak menimbulkan kesalahan interpretasi, tetapi kemungkinan terjadinya kesalahan akan menjadi lebih besar.
Di samping itu, sejauh yang telah diupayakan oleh para ulama untuk menaati rambu-rambu yang menjadi patokan dasar tersebut, tetapi dalam realitasnya kesalahan interpetasi terhadap al-Quran pun masih mungkin terjadi. Untuk itu, sangat diperlukan ketelitian dan kehatihatian mufassir dalam memahami Al-Qur`an sehingga menghasilkan penafsiran yang benar. Sekalipun kita tidak dapat menjastifikasi kesalahan yang ditemukan sebagai kesalahan mutlak. Terutama kesalahan yang muncul disebabkan oleh perbedaan metode yang digunakan. Karena tafsir sesuai denagn pengertiannya adalah upaya untuk menjelaskan kalamullah sebatas kemampuan manusia. Siapapun tidak dapat mengklaim bahwa penafsirannnya adalah penafsiran yang paling benar.

Daftar Pustaka:

Az-Zahabi. Tafsir wa Mufassirun. Beirut

Al-Sayuti, Jalal al-Din. Al-Itqa`n fi Ulu`m Al-Qur`a`n. Beiru`t: Da`r Ihya“ al-’Ulu`m. Jilid 2

Khalifah, Abd Rahma`n Muhamad. Dira`sat fi Man`hij al-Mufassiri`n. Beiru`t: da`r al Wafa`, Juz 2

Ibn Hayya`n. Bahr al Muhi`t. Bairu`t: da`r al Kutub al ’Ilmiah. Juz 1

Ya’qub, Ta`hir Mahmu`d Muhammad. Asba`b al Khat}a`fi Tafsi`r (Dira`sah Ta`s}iliah). Da`r Ibn Jauzi.


[1] Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb, Asbāb al-Khata’ fi Tafsīr, (Riyad: Dār al-Jauziy), h. 49. Dikutip dari Ibn Taimiyah, Muqadimah fī Uşūl al Tafsīr, h. 50

 

[2] Thahir Mahmud Muhammad Ya’kub, Asbāb al-Khata’ fi Tafsīr, h. 50

[3] Ibrahīm Abd al Rahmān Muhammad Khalīfah, Dirasāt fi Manāhij al Mufassirīn, Beirut: Dār al wafā`, t.th. juz 2, h. 40

[4] Thahir Mahmud Muhammad Ya’kub, h. 73-74

[5] Ibn Hayyān, Bahr al Muhīt, Beirut: Dār al Kutub al-‘Ilmiyah, juz 1, hal. 104

[6] T|a`hir Mahmūd Muhammad Ya’qūb, h.141-142

[7] T|a`hir Mahmūd Muhammad Ya’qūb, h, 142

[8] Kisah-kisah israiliyat yang terdapat dalam kitab tafsir terbagi tiga. Pertama, sesuai dengan ajaran agama Islam (sesuai dengan Al-Qur`an dan Sunnah), berbeda dan bertentangan dengan Al-qur`an dan Sunnah, ada yang tidak dapat dikategorikan bertentangan atau sesuai. Sekalipun masih ditemukan kisah israiliyah dalam kitab tafsir, dimana pengarangnya terkenal sebagai mutasyaddid (ulama yang menolak kisah israiliyat) Pada umumnya adalah kisah-kisah israilyat yang sesuai dengan ajaran Islam.

[9] T|a`hir Mahmūd Muhammad Ya’qūb, h. 626. Dikutip dari Rasm al Mufti` karangan Ibn ’An, juz 1, h. 23

[10]T|ahir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, hal. 924-926

[11] Surah Al-‘Ala`/87:3

[12] T|ahir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, hal. 929

[13] T{a`hir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, h 948

[14] [14] T|ahir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, h. 950

[15]T{a`hir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, hal. 1010

*Lulusan S2 Tafsir Institut Ilmu Al-Quran Jakarta – Gen 1 MAKN Putri

sumber: reflitalatifah.blogspot

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: