SERPIHAN LUKA YANG BERSERAK

31 October 2009 at 10:53 pm | Posted in Gen 3, SASTRA | 2 Comments
Tags: , , ,

Oleh: Mike Putri Rahayu*

Tatkala badai yang mendewasa mengungkung asa, diriku terhempas di terjalnya jurang sukma. Terpuruk ragaku mengenyam empedu. Dalam kebimbangan ini kurasa dunia bukan lagi tempatku bersinggah membangun harap. Bening hatiku pupus dimakan waktu.

uin jakartaAku masih terpaku di antara hiruk pikuk keramaian kampus. Cekikikan beberapa mahasiswi tak membuat kepalaku bergeming untuk menoleh pada mereka. Sapaan ringan teman-teman seangkatan kubalas dengan anggukan sopan. Tentu saja, pikiran dan perasaanku masih hanyut pada bait-bait kalimat di selembar kertas buram yang kini berada dalam genggamanku. Ketika tanpa sengaja aku menemukan sebuah buku tergeletak begitu saja di halaman parkir. Nuraniku menyuruhku untuk memungutnya. Hingga tanpa kusadari, selembar kertas terselip jatuh dari dalamnya.

Hm… siapa gerangan pemilik buku ini? Tanganku sibuk membolak balik sementara mataku awas menelusuri tulisan-tulisan didalamnya sampai akhirnya kubaca sebuah nama di sudut atas sampul bagian dalam buku tersebut:

HARI BUDIMAN, FAKULTAS PSIKOLOGI, TINGKAT TIGA

“Allaaahu akbar… Allaahu akbar!”

Senandung azan magrib menyadarkanku untuk segera mengayun langkah menuju kost-an di seberang jalan. Buru-buru kumasukkan buku tersebut ke ransel miniku. Senja makin merah. Semburat rona pelangi mewarna indah memayungi alam Jakarta.

Nun, jauh di sudut hatiku, masih tersisa sejumput kagum terhadap bait-bait yang tadi kubaca. Ada tanya yang menggantung : apa yang tengah dirasakannya ketika menulis untaian kata itu?

***

Sengatan terik mentari meraja di waktu zuhur usai menjelang. Salat zuhur yang kutunaikan di mesjid kampus, membuka ruang nyaman di bilik hatiku. Segarnya es kelapa cukup menghilangkan senut-senut di kepalaku habis mengikuti kuliah pak Sidarta, si dosen killer itu.

Uff… kuhembuskan nafas lega. Karena siang ini tak ada mata kuliah yang harus kuikuti. Tiba-tiba ingatanku melayang mengenang sesuatu. Buku itu. Ya, semenjak tadi malam telah kupupuk niat untuk mengembalikan buku tersebut kepada si empunya.

fakultas psikologi UIN JakartaKubayar minuman dengan sedikit tergesa. Kakiku pun terayun menuju Fakultas Psikologi. Gesekan langkahku terasa lebih berirama ketika ubin-ubin Fakultas Psikologi ini kutapaki.

“Assalamu’alaikum, Ton…”aku mencegat Toni, calon psikolog sekaligus teman seorganisasiku di LDK (Lembaga Da’wah Kampus).

“Wa’alaikum salam… Arif? Ada angin apa nih?” senyum hangat Toni menyambut sapaku.

“Afwan mengganggu sebentar. Ente kenal yang namanya Hari Budiman nggak? Aku ada perlu sama dia.”

“Tingkat berapa?” Toni balik bertanya.

“Tingkat tiga.” Jawabku cepat.

“Mmm…Hari Budiman?” Toni tampak berpikir keras. “…kayaknya aku nggak kenal deh,Rif. Sebaiknya Ente tanya aja ke teman seangkatannya di lantai empat.”

“Oke deh, kalau begitu. Syukran ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.” Aku dan Toni pun berpisah.

3229278733_39411b3e89_oTernyata mencari seorang Hari Budiman tak semudah yang kubayangkan. Hampir satu jam berlalu ketika kutemukan sosoknya menyendiri di pojok taman kampus. Sepoi-sepoi angin melambaikan rambut gondrongnya. Wajahnya yang tertunduk seolah tenggelam di balik bahu lebarnya. Aku mendekat.

“Hm…maaf, saudara yang bernama Hari Budiman?” Kepala yang semula tertunduk itu mendongak.

“Ya…saya Hari Budiman. Ada apa ya?!” tanyanya kemudian. Aku sempat tertegun sesaat menyaksikan tatapan sendu yang memancar dari kedua mata elangnya.

“Oh, saya hanya ingin mengembalikan ini.” Tanganku cekatan mengulurkan buku miliknya.

“Terima kasih…” ucapnya dengan senyum tipis.

Siapa sangka, ternyata perkenalan itu membawa kami ke gerbang pertemanan. Tak mudah memang bagiku untuk dekat dengan pribadinya yang pendiam. Tapi kurasa itulah sisi unik yang kusuka dari Hari. Maka sejak saat itu, entah mengapa naluri ingin tahuku menyentak-nyentak beraksi mendorongku untuk lebih banyak tahu tentang kehidupannya.

“Dia seorang yang tertutup, suka menyendiri…” ucap seorang temannya ketika kutanya.

Nyamankah ia menikmati kesendiriannya? Akankah bening hatinya terkikis tatkala kesunyian menjemput? Adakah ia merasa sepi? Tanya dihatiku merebak.

***

Bukanlah angin yang mengirimku untuk menjadi sahabat bagi seorang Hari. Mungkin akulah satu-satunya orang yang dibiarkan masuk ke dalam hidupnya. Satu-satunya orang yang diterimanya sebagai teman. Teringat kembali bait-bait yang pernah ditulisnya di selembar kertas waktu itu, membuatku makin berkeinginan untuk menyibak tabir duka yang disimpannya. Tatapan sendu berkabut, Senyum yang hampir tak pernah hadir, permenungan yang kadang dihiasi titik-titik bening, cukuplah sebagai tanda suatu sisi buram bersemayam utuh di ruang hatinya. Meski ia tak pernah berucap.

badai lukaSeperti di suatu pagi yang basah, kutemukan dirinya diam dalam tangis yang menjalar.

“Assalamu’alaikum Har? Ada apa?”

“Wa… wa’alaikum salam ” gelagapan Hari menjawab salamku. Kami sama-sama terdiam.

“Ada apa ? mungkin aku bisa membantu. Berceritalah!…” tanganku menjangkau punggungnya bersimpati.

Sunyi. Rumput-rumput dan dedaunan bergoyang meningkahi tiupan angin. Seliweran mahasiswa mulai kelihatan di gerbang kampus. Namun Hari masih membisu.

“Rif, menurutmu Tuhan itu Maha Adil apa tidak ?”

Katanya pelan.

“Tentu saja !”ujarku cepat.

Setelah itu benar-benar sunyi. Hari membiarku menunggu. Dari mulutnya tak lagi keluar sepatah katapun.

***

“Rif ada titipan…’ sapaan pertama Ahmad, teman sejurusanku menghentikan langkahku menuruni tangga gedung fakultas. Kuliah hari ini begitu melelahkan. Aku ingin secepatnya sampai di rumah. Istirahat.

“Dari siapa ?” tanyaku pada Ahmad. Yang ditanya angkat bahu.

“Terima kasih ya…” kutampilkan segaris senyum pada Ahmad sebelum berlalu.

Setiba di kost-an, hati-hati kubuka bungkusan yang tadi diberikan Ahmad bersampulkan kertas koran. Hei… ternyata sebuah diary. Milik Hari!

8 november 03

Badai tak berkesudahan menghampir. Aku bukanlah malaikat yang senantiasa mampu memikul beban prahara. Bukan pula nabi yang punya segudang kekuatan dengan sejuta kesabaran. Aku hanya seorang nista yang punya lara di atas serpihan duka. Aku juga punya luka tatkala mendengar sebuah berita : bahwa aku bukanlah anak kandung dari orang yang selama ini kupanggil ayah. Ia bukan ayah kandungku. Ia pamanku! lalu ke mana ayahku? Di mana ibuku? Ke mana harus kukejar kasih itu? Dimana harus kutagih cinta itu?.

Kubiarkan senja berlalu yang tak mampu menjawab tanya.

Desember 03

Perjalanan waktu dari hari ke hari semakin tua. Kukuatkan raga untuk menuliskan kilas gelap rantai hidupku yang kejam. Siapa yang bisa menyangka, kalau aku pun berhak tahu atas semua. Telah kurambahi hitamnya gulita. Kukorek-korek hingga muncul sebuah kepastian.

Ayah dan ibuku meninggal di sebuah kecelakaan. Di usiaku 3 tahun kala itu, aku belumlah mampu melukis sosok ayah dalam memoar ingatanku.

Februari 04

Terjawab sudah rangkaian semu yang melilit perjalanan panjangku. Ayahku seorang saudagar kaya. Dan dia! Pamanku, ia menyeretku paksa ke kehidupannya. Melarikanku ke sebuah lembah yang tak kukenal dan memaksaku memanggilnya “Ayah…”. Sementara ia berpesta pora dengan harta peninggalan ayah tanpa sedikit pun memberitahuku. Serakah!!

Takkan menganga lukaku, jika ia tak menganggapku sampah di rumahnya sendiri. Membedakanku dari anak-anaknya yang lain. Menganaktirikanku. Ternyata memang aku bukanlah darah dagingnya.3436404081_b8a3e4072b_o

Kini, 23 tahun sudah aku bagai burung tanpa sarang. Tak punya tempat kembali. Kepada siapa harus kulabuhkan diri ini sementara pelayaran belum lagi mencapai tepi. Apakah dunia ini masih berhak kusinggahi? Masihkah ada harap uintuk merenda keping hatiku yang berserak?

Kuhembuskan nafas berat setelah membaca diary milik Hari. Ah, sebegitu dalam deritamu, Kawan. Kenapa tak berbagi?! Masih ada Dia, Zat Yang Maha Adil dan Penyayang. Ia takkan meninggalkanmu…

Kairo, 10 oktober 2004.

*Lulusan S1 Jur. Tafsir Univ Al-Azhar, Gen 3 MAKN Putri

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin MITRA edisi 51

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. terkadang memang ada kawan yg susah untuk berbagi…kita yg dituntut lebih peka dan berempati…batua ndak ke🙂 baa kaba di tahfana al-asyraf ?

  2. yup! betul uniku:)…Tafahna dingin bana kini ni…
    ahlan ziarah kamari ni…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: