MUSLIMAH DAN FASHION

10 July 2010 at 4:24 pm | Posted in AKHLAK, AL-QURAN, Gen 5, MOTIVASI | 2 Comments
Tags: , , , ,

Oleh: Reni Rahmawati

lslam  tidak  melarang  wanita menghias  diri,  berdandan  rapi  dan berpenampilan  anggun,  tetapi  semuanya itu juga  harus  disertai  dengan  niat  untuk beribadah  dan  jangan  sampai menimbulkan  fitnah. Wanita muslimah mestinya  merasa  sedang  melakukan ibadah manakala  ia mengenakan  busana muslimah.

Dalam  beribadah,  kita sebenarnya  berhadapan  dengan  Tuhan, bukan  dengan  yang  lainnya,  maka keikhlasan,  ketabahan  dan  kesabaran dengan  niat  yang  teguh  untuk melaksanakan  perintah Tuhan  itulah yang menjadi pokok utama. Bisa  saja  di  suatu  ketika, pemakai  busana  muslimah  mendapat tantangan,  fitnah  atau  bahkan  sindiran dari  lingkungan sendiri, tapi haruskah  kita lemah  dengan meninggalkan busana khas kita?

Kita  harus  bisa  menghibur  diri bahwa  tantangan  itu  ada  di  mana-mana. Setiap manusia yang  hidup harus  berani menghadapi  tantangan. Untuk  sukses seseorang  harus  akrab  dengan  tantangan, karena  memang  tantangan  itu  lahir  tidak untuk hanya  ditakuti atau dihindari, tetapi juga  untuk diatasi. Kebiasaan orang  yang lari  dari  tantangan  adalah  perbuatan keliru,  karena  kita  bisa  menghindar  dari suatu  tantangan  namun  itu  hanya  untuk menemui  tantangan  baru  yang  belum tentu  lebih  ringan  Jadi  yang  penting adalah,  bagaimana mengatasi tantangan dan  memperkecil  resiko,  bukan menghindarinya.

Prinsip  berbusana negara  kita  menganggap pakaian  wanita  lslam  dengan  sebutan “Busana  Muslimah’ . Mode  pakaian  yang muncul  dewasa  ini  berbeda-beda tergantung  selera  masing-masing  Mode pakaian  pakaian  bisa berubah  dari waktu ke  waktu,  kemudian  menjadi  trend  yang terus  berkembang. Beragam mode,  corak dan warna  busana muslimah begitu  indah dipandang  mata.  Berbagai  pasar  dan pusat perbelanjaan yang merupakan mata rantai  dari  busana  ini  juga jenis menyediakan  keleluasaan  memilih  bagi para  muslimah,  dengan  begitu  banyak mode yang mereka lawarkan.

Dari  sekian  mode  itu,  tidak semua yang masuk ‘kriteria’.  Karena ada sebagian  busana  muslimah  lebih memfokuskan pada mode dan gaya tanpa memperhatikan  cara  berbusana sebagaimana  yang  telah  diajarkan  dalam lslam. Permasalahan yang timbul, apakah kita  mau  ditakluKkan  dengan  mode  yang berkembang  saat  ini  tanpa  memikirkan apa  esensi  pakaian  yang  bernafaskan takwa bagi muslimah? Aneka  pilihan  busana  muslimah saat  ini  membuka  para ialan  bagi muslimah  untuk  tampil  lebih  gaya  dan modis. Tentunya kita memilih bukan gaya yang berlebihan dan  berkonolasi negatif . Namun, langkah  seorang  muslim  dan muslimah  harus seiring dan  sejalan dengan  tuntunan al-Qur’an Hadis yang mulia. Jadi  tidak sekedar  tampil  gaya, kitapun  harus memperhatikan  busana dan  cara  berbusana seperti  yang diajarkan dalam  lslam-  Allah berfirman dalam surat al-A’raf  ayat26:

Wahai anak  cucu Adam!, sesungguhnya  Kami telah  menyediakan pakaian untuk menutupi  auratmu  dan untuk  perhiasan bagimu. Tetapi  pakaian takwa,  itulah  yang  lebih baik. Demikianlah sebagian  tanda-tanda kekuasaan  Allah,  mudah-mudahan  mereka  ingat“.

lbnu  Katsir  dalam  tafsirnya memaparkan  bahwa  dari  ayat  tersebut ada  kata  اللباس  dan  الريش,  dua  kata  ini mempunyai arti yang sama yaitu pakaian. Namun  keduanya  berbeda  dari  segi fungsi. Berdasarkan  ayat  di  atas  اللباس  berfungsi  untuk menutup  aurat. Ini adalah fungsi  utama  pakaian,  sedangkan  الريش berfungsi  sebagai  perhiasan,  pelengkap atau tambahan. Jadi pakaian memiliki  dua fungsi: pertama,  untuk  menutupi  aurat,  dan fungsi  kedua  sebagai  penghias  atau pelengkap dan tambahan. Dalam  hal  ini  fungsi  pertama dalam  pakaian  merupakan  sesuatu  yang bersifat  esensial,  sedangkan  fungsi kedua,  bisa  dikatakan  sah,  telah jika memenuhi kriteria  fungsi utama. Untuk  itu,  yang  perlu diperhatikan dalam  berbusana muslimah adalah:

1. Menutupi  seluruh  tubuh selain  yang  dikecualikan. Pendapat  ulama yang paling kuat  tentang bagian  tubuh  yang dikecualikan  dan boleh terlihat  adalah  muka dan telapak tangan.

2. Memakai  kerudung sampai dada.

Ketentuan ini merujuk pada  al-Qur’an surat  an-Nur  ayat  31  :

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya,mdan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,

Juga pada surat al-Ahzab ayat 59:

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Dengan  demikian  kriteria  kerudung yang sesuai  dengan  ayat-ayat  di atas adalah  menutup  rambut,  leher  sampai ke dada.  Bukan  hanya  menutup  rambut sampai leher saja!

3. Tidak  tipis  sehingga  terlihat  kulit  dan lekukan  tubuhnya. Dalam  sebuah hadis yang  diriwayatkan imam  Ahmad,  Rasulullah  pernah memberi  Usamah  bin  Zaid  qubthiya (pakaian  dari  katun  tipis)  yang  kasar, tetapi Usamah  tidak  memakai  dan  ia memberikan  pada  istrinya,  Nabi  Saw bersabda:  “Suruhlah  ia  memakai rangkapan  (puring)  di  dalamnya,  agar tidak lerlihat lekuk-lekuk  tulangnya“.

4. Tidak  ketat sehingga tidak  tergambar jelas bentuk  tubuhnya. Busana  ketat  walau  lidak  tipis  akan memperlihatkan tubuh wanila meskipun berpakaian  dan  menutup  rambut. Busana  model  ini  akan  lebih membangkitkan  syahwat  sehingga menimbulkan  semangat  erotis  bagi yang  memandangnya  dan juga mengundang fitnah. Dalam  hadis  yang  diriwayatkan  imam Muslim  disebutkan  bahwa wanita  yang mengenakan  busana  seperti  ini  kelak tidak  akan  masuk  surga  bahkan mencium bau surga pun tak bisa.

5. Tidak dimaksudkan untuk pamer atas menarik perhatian  laki-laki. Wangi  parfum  yang  berlebihan  dan gaya  berjalan  yang  dibuat-buat  dapat menarik  perhatian  laki-laki  dan  bisa menimbulkan  fantasi  yang  seronok. Karenanya  harus  dihindari agar  tujuan memakai busana muslimah yaitu untuk melindungi  muslimah  itu  sendiri tercapai. Prinsip  kesederhanaan tercakup  di  sini,  maksudnya  harus dihindari  gaya busana dan hiasan yang berlebihan  supaya  tidak  menarik perhatian yang tidak semestinya.

6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki dan pakaian wanita-wanita kafir.


Dan  perlu  diketahui  lagi  bahwa pakaian  takwa  bagi  muslimah mengandung unsur sebagai berikut:

  1. Menjauhkan wanita dari gangguan  laki-laki  jahil atau nakal
  2. Membedakan antara wanita yang berakhlak  terpuji  dengan  wanita  yang berkepribadian  tercela
  3. Menghindari  timbulnya  fitnah  seksual bagi kaum pria
  4. Memelihara  kesucian  agama  wanita yang mengenakanannya

Dan  juga  wanita  berbusana muslimah  yang  sepantasnya  secara psikologis  mampu  menanamkan  pada dirinya sikap taat  adil, jujur,  terus  terang dan  kokoh  memegang  prinsip  sehingga akan menimbulkan rasa segan bagi siapa saja  yang  berinteraksi  dan  bergaul dengannya. Sehingga  dengan pakaian mengenakan  muslimah  bisa membangun  citra  dirinya  sebagai wanita muslimah.

Wahai  saudariku!,  tahukah  kita bahwa  pada  waktu  Rasulullah  Saw melaksanakan  lsra Mi’raj, sewaktu Beliau melewati  neraka,  kebanyakan  di dalamnya adalah wanita yang berpakaian api telanjang, na’uzubillah min dzalik. Marilah  kita  memperbaiki enampilan  diri  kita  dan  menjadi  wanita muslimah  yang  selalu  diridhai  Allah karena ‘pakaian takwa’  adalah  pakaian sempurna. Semoga  Allah  selalu melindungi kita dan wanita yang memakai pakaian takwa  tidak akan  dijilat tubuhnya oleh  api  neraka  yang  sangat  panasnya. Amin  Ya Rabb

*Pernah diterbitkan Buletin Almakki edisi VII

Peran Istri, Berat Tapi Menjanjikan

20 June 2010 at 8:26 pm | Posted in AKHLAK, AL-QURAN, Gen 7, hadis, KELUARGA, MOTIVASI | 2 Comments
Tags: , , , ,

oleh: Rahmayanti

Hari itu, seorang wanita menemui Rasulullah, Tiba di hadapan beliau ia berkata: “Ya Rasulullah, saya ini utusan kaum wanita, saya bermaksud menanyakan perihal jihad fi sabilillah. Allah mewajibkannya kepada kaum pria, kaum pra memperoleh pahala yang besar karenanya, bila syahid, ia tetap hidup di sisi Allah. kami kaum wanita juga ingin mendapatkan keutamaan seperti itu, maksud saya apa bagian wanita dalam jihad?” Rasulullah pun menjawab: “Sampaikanlah pesanku ini kepada semua wanita yang engkau temui, sesungguhnya mentaati dan mengakui hak-hak suami pahalanya sepadan dengan jihad, namun hanya sedikit wanita yang mengamalkan itu“.

Siapa yang tidak kenal sosok wanita luar biasa seperti Khadijah? Siapa tak kagum dengan wanita semulia Aisyah, seagung Fatimah dan sederet sosok teladan yang dikenang sepanjang sejarah. Mereka sukses memainkan peran baik sebagai hamba Allah, anak, istri, ibu dan da’iyah. Begitu mulia, begitu tulus, sedemikian ikhlas. Semua aktifitas dicover dengan sempurna dengan tujuan meraih ridha-Nya. Mereka yang kehadirannya merubah panas menjadi sejuk, dingin menjadi hangat, sumpek menjadi lapang dan sedih menjadi gembira. Keteladanan mereka mencakup ketaatan kepada Allah, kuatya shalat malam, khusyuknya berzikir, kesetiaan yang luar biasa kepada sami, kecintaan dan perhatian kepada anak-anak serta semangat menuntut ilmu dan menyebarluaskannya.

Istri memainkan peranan yang sangat penting dalam mewujudkan kebahagiaan rumah tangga. Kemampuan seorang istri menciptakan atmosfer keluarga yang tentram, damai, aman dan penuh kasih sayang merupakan tugas yang sangat berat sekaligus paling mulia. Sehingga tidak salah jika Rasulullah menyebutnya sepadan dengan jihad di jalan Allah. Sungguh, ini merupakan penghargaan yang sangat besar bagi wanita.


Keluarga merupakan komponen terkecil sebuah negara, dan peran wanita di dalamnya sungguh tak tergantikan. Bahkan mungkin tak berlebihan jika kita mengatakan bahwa masa depan generasi suatu bangsa berada dalam genggaman lembut tangan wanita. Tanggung jawab dalam keluarga tak boleh terabaikan dengan alasan apapun. Sungguh sangat menarik sekali apa yang disampaikan seorang anak yang telah hafal al-Quran kala usianya baru menginjak 7 tahun, ditanya siapa yang membantu, mendorong dan menyemangatinya dengan gigih hingga ia bisa jadi hafiz. Ia menjawab: “Ummi, ibuku yang melakukannya”.

Peran besar seorang wanita tentu bukan hanya itu saja. Sebab, setiap peran besar, memerlukan modal besar pula, berupa ilmu dan kesungguhan. Itulah wasilah yang utama, karena keidahnya: Ma La Yatimmu al-Wajib Illa Bihi Fahuwa Wajib (sesuatu yang tidak sempurna sebuah perkara wajib kecuali dengan menyempurkakannya, maka ia pun wajib). Sehingga, jadilah menuntut ilmu bagi seorang wanita merupakan kewajiban mendasar agar dapat memikul peran mulianya dengan sempurna. Tidak mungkin seseorang mampu memberi jika ia tidak memiliki. Bagaimana mungkin seorang wanita mampu berkhidmah kepada keluarga, masyarakat bahkan bangsanya jika ia tidak mempunyai ilmu apa-apa.

Mari kita lihat lebih dekat pada kehidupan kita sebagai mahasiswi.  Bagi yang sudah berkeluarga, kedua peran ini dijalankan sekaligus, menuntut ilmu dan menjadi istri dan ibu dalam rumah tangga. Sebenarnya keduanya dapat seiring sejalan, karena dengan menyempurnakan “separuh agama” tentu hati menjadi lebih tenang dan lebih konsentrasi menyerap ilmu pengetahuan. Meskipun tugas rumah tangga tetap membutuhkan keikhlasan dan kesungguhan menjalani peran ganda. Namun semua itu semakin membuka lebar jalan menuju syurga.

Betapa tidak, Rasulullah menyatakan bahwa seorang yang menempuh jalan menuntut ilmu akan Allah mudahkan baginya jalan menuju syurga. Dalam kesempatan lain Rasulullah juga bersabda bahwa jika seorang wanita melaksanakan shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, menjaga kehormatan dan suaminya redha terhadapnya, maka dia boleh masuk syurga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. Subhanallah…!

Mari kita telusuri sejenak, berawal dari niat karena Allah menilai amalan hamba-Nya dari niat mereka melakukannya. Rasulullah bersabda: “sesungguhnya setiap amal tergantung niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkannya.” Jika kita menikah dengan tujuan meggapai ridha Allah dan menjaga diri –meskipun kita belum begitu yakin mampukah menyempurnakan semua kewajiban yang menanti , bisakah bijak membagi waktu dan berbagai kekhawatiran lain– tetapi Allah jualah yang akan melapangkan jalan dan memberi kekuatan dan kebijaksanaan dengan kekuasaan-Nya. Banyak cara bagi Allah untuk membaguskan hamba-Nya dan meninggikan derjatnya karena niatnya. Selanjutnya tergantung semangat dan keistiqamahan kita menjalani itu semua.

Niat dalam istilah Psikologi dikenal dengan motivasi. Inilah sesungguhnya kekuatan dahsyat yang mampu menjadikan seseorang tegar dalam menghadapi setiap episode kehidupannya. Umpama seorang pendaki yang berniat menaklukkan puncak gunung yang terjal. Segala tanjakan dan jalan setapak yang dikelilingi tebih curam dan jurang menganga dijadikannya sebagai tantangan, karena niat sudah terpancang. Ia pantang mundur, kesulitan sebesar apapun akan tetap dihadapi. Semakin berat mdan yang akan dilalui semakin semangat untuk menaklukkannya. Dan jika ia berhasil, kepuasan tiada tara akan diraihnya. Kita juga seperti itu dalam mengarungi kehidupan ini. Dan balasan yang dijanjikan di puncak sana jauh lebih indah yaitu syurga-Nya. Maka, menuntut ilmu dan berkhidmah untuk keluarga denga ikhlas adalah tantangan yang bernilai ibadah di sisi-Nya.

Jadi, sudah saatnyalah kita mengevalusi kembali diri sendiri dan memperkokoh biduk yang ditumpangi untuk mengarungi samudra luas yang penuh rintangan. Waktunya memperbanyak kembali bekal karena perjalanan masih teramat panjang. Disamping terus mengikhlaskan diri melakukan yang terbaik, karena para malaikat tak pernah luput mencatat setiap gerak yang kita lakukan. Wallahu A’lam

*Mahasiswi Jur. Syariah Univ Al-Azhar Kairo

Kajian Fiqh: METODOLOGI PEMAHAMAN FIQIH KONTEMPORER

10 April 2010 at 4:38 pm | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 8, KEGIATAN, Uncategorized | 3 Comments
Tags: , , ,

Oleh: Mukrima*

Setelah beberapa kali Almakkiyat menghadirkan kajian yang berhubungan dengan Ushuluddin, sekarang Almakkiyat hadir dalam kajian khusus tentang masalah Fiqh dengan tema Metodologi Pemahaman Fiqih Kontemporer. Kajian yang diselenggarakan Maret 2010 silam ini disampaikan Ust. Al Fakhri, Lc. Dipl dan dimoderatori oleh Fadhilah Is. Bertempat di sekretariat FS Almakki, Madrasah-Distrik 10, Nasr City, Kairo. Selain menyertakan makalah, pemateri juga menampilkan slide power point untuk mendukung pemaparan.

Tema Fiqh Kontemporer ini sengaja diangkat Almakkiyat mengingat semakin hari kemajuan teknologi dunia berkembang semakin pesat. Apakah itu di dunia informasi, tranportasi, medis, dan lain-lain.

Yang pasti akan banyak tanda tanya besar bagi masing-masing kita, saat dihadapkan dengan berbagai kemajuan di era modernisasi ini dan tinjauannya dalam kaca mata syari`at. Meskipun teknologi memudahkan manusia dalam beraktivitas dan memberikan solusi dalam menghadapi perkembangan zaman, tetapi di sisi lain banyak hal-hal baru yang bahkan sama sekali tidak pernah ditemukan pada masa Rasulullah saw. So, seiring berkembangnya teknologi di era modern ini, kita sebagai penuntut ilmu tidak akan pernah terlepas dari berbagai tanda tanya bagaimanakah persepsi syari`at Islam tentang masalah-masalah kontemporer. Karena sampai kapanpun syari`at selalu mencakup seluruh sisi kehidupan manusia dan satupun perbuatan manusia tidak bisa terlepas dari syari`at.

Makalah yang disampaikan mengupas bagaimana metodologi dalam memahami masalah fiqih kontemporer dan menentukan hukum dari satu permasalahan. Untuk mendatangkan hukum dalam suatu permasalahan kontemporer, kita tidak bisa langsung memtuskan dengan mudah bahwa ini halal dan itu haram. Terutama di era modernisasi ini. Tentunya ada beberapa metodologi  yang harus kita ketahui.

Disini disebutkan bahwa kemajuan dan perkembangan zaman terbagi menjadi dua hal yaitu kemajuan yang berhubungan langsung dengan hukum Islam dan yang tidak berhubungan langsung. Dan fiqih itu sendiri ada yang dikenal dengan al-fiqh an-nazilah yang mana permasalahan fiqih disini mempunyai domain yang lebih luas dari yang ada pada masa Rasulullah saw. Adapun al-fiqh al-mu`ashirah yang kita kenal memilki cakupan yang lebih sempit dimana permasalahan yang dikaji sama sekali tidak pernah ditemukan pada masa Rasulullah saw.

Untuk mengetahui hukum dari sebuah permasalahan ada beberapa langkah yang harus dilakukan.

Pertama, diagnosis masalah (tahrir mahal an-niza’) dan visualisasi masalah (tashawwur).

Sebuah kaedah yang sangat akrab sering kita dengar “alhukmu ala syain far’un an tashawwurihi“. Jika kita ingin mengetahui hukum sebuah masalah maka kita harus mem-visual-kan masalah itu secara utuh. Agar hasil yang diharapkan juga tepat.

Adapun yang perlu divisualkan (tashawwur) adalah masalahnya dan kondisi yang berada di sekitar masalah. Seperti jika seseorang ingin mengetahui hukum aborsi. Pertama ia harus mengetahui proses aborsi itu dan kondisi yang menyebabkan seseorang melakukan aborsi. Jika ada yang kurang pada visualisasinya maka akan menimbulkan kesimpulan yang tidak tepat.

Hal-hal yang bisa membantu dalam proses visualisasi biasanya dengan bertanya kepada ahli, survey lapangan, menggunakan form tertulis dan lainnya.

Kedua, membingkai masalah dengan fiqih (takyif al-fiqh)

Tahapan-tahapannya adalah:

  1. meruju’ nash dan ijma’ yang ada tentang masalah tersebut, Ini dapat dilakukan dengan melihat nash baik itu umum, khusus, manthuq, mafhum dan yang lainnya. Seperti larangan memakan hewan yang mati terkena sentrum, karena bangkai tidak boleh dimakan terdapat dalam Al Quran QS Almaidah 4.
  2. jika tidak ditemukan maka lanjut pada tahapan berikutnya yaitu takhrij dimana permasalahan yang ada diqiyaskan kepada masalah yang serupa yang pernah ada atau penqiyasan pada pendapat ulama terdahulu. Seperti mengqiyaskan penyalinan mushaf dalam CD/DVD, program komputer dan HP dengan upaya para sahabat mengumpulkan atau mangkompilasikan al Quran.
  3. Dan jika ditemukan masalah yang serupa untuk diqiyaskan, maka hukum permasalah harus dikaji dan disimpulkan dengan kaedah ushul fiqih ataupun kaedah fiqhiyah yang lebih dikenal dengan istinbath al-ahkam. Seperti masalah mencangkok anggota tubuh dan lain-lain.

Ketiga: Memberikan Hukum Masalah

Setelah kedua langkah di atas dipenuhi maka barulah kita masuk kepada tahap menghukumi masalah. Diantara pertimbangan paling fundamen yang perlu diperhatikan adalah hukum masalah tidak menyebabkan raibnya mashlahat tertinggi. Yang lebih dikenal dengan maqashid syari’ah al’ulya.

Setidaknya ada beberapa poin yang harus menjadi pertimbangan ketika hendak menghukumi masalah.

  1. Menimbang antara maslahat dan madharat yang ada pada masalah.
  2. Menimbang kondisi darurat dan kondisi masyarakat luas (‘umum al balwa)
  3. Melihat realita adat, kebiasaan, tempat dan waktu.

Selanjutnya pemateri mencontohkan pemberian hukum yang diterapkan dalam beberapa permasalahan terkini seputar wanita seperti bagaimana hukum wanita haid membaca al-Quran dari HP atau laptop, hukum twitter dan facebook bagi muslimah dan lain-lain.

Sesi tanya jawab berlangsung cukup hangat dengan pertanyaan-pertanyaan yang begitu wah. Diskusi pastinya belum memuaskan karena masih banyak tanda tanya dalam permasalahan fiqh kontemporer ini. Berhubung waktu yang membatasi, Insyaallah kajian fiqih ini akan hadir kembali pada kesempatan berikutnya.

Semoga diskusi perdana fiqih kontemporer ini bisa membukakan inpirasi kita untuk lebih semangat dalam menggali hukum dari berbagai permasalahan kontemporer kah atau yang sudah diketahui semenjak masa Rasulullah saw. Karena sebagai thalibul ‘ilm kita dituntut untuk mengetahui bahkan menguasai hal tersebut untuk disampaikan pada masyarakat nantinya.

Keep fighting!!!!!!!!!!

* Mahasiswi tk.3 Univ.Al-Azhar Kairo, Jur.Syariah Islamiyah

GODAAN WANITA ALIANSI SETAN

28 March 2010 at 11:16 am | Posted in AKHLAK, Gen 6, MOTIVASI | 2 Comments
Tags: , , ,

Oleh: Ainul Zikra Lc.

Kalau kita mendengar orang mengatakan bahwa wanita adalah makhluk penggoda, apa reaksi kita? Mungkin sebagian kita akan merasa jengkel mendengarnya dan mungkin juga kita menerimanya.

Memang fitnah yang terbesar setiap zaman adalah wanita, karena itulah Rasulullah berpesan benar-benar melindungi wanita. Tak hanya fitnah yang ditimbulkannya tetapi juga syahwat yang menjerumuskan manusia ke dalam kebinasaan. Rasulullah bersabda: “Berhati-hatilah dengan godaan dunia dan waspadailah rayuan wanita, sebab fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah fitnah wanita.” (HR Muslim). Mujahid juga mengatakan: “ketika wanita menghadap ke depan (datang) maka setan duduk di atas kepalanya lalu menghiasinya agi orang yang melihatya. Dan ketika wanita itu menghadap ke belakang (pergi) setan duduk di belakangnya lalu ia memperindahya bagi orang yang melihatnya. (Al-Qurtubi, al-Jami’ Li Ahkami al-Qur’an 12/227).

Jadi perntanyaan kita sekarang adalah, mengapa harus wanita yang menjadi sasaran sebagai penggoda kaum lelaki? Allah berfirman:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (Al-Quran surat Ali Imran: 14)

Dalam ayat diatas Allah menyatakan dengan jelas bahwa manusia mempunyai kecendrungan terhadap syahwat keduniawian terutama wanita. Kita lihat realitanya, serang lelaki bisa bersemangat mencari nafkah dan melakukan amal-amal baik karena wanita. Bahkan tidak sedikit yang rela melakukan pekerjaan tercela hanya demi wanita. Sungguh wanita adalah makhluk luar biasa, dari rahimnya bisa lahir manusia semulia Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan juga sehina Fir’aun la’natullah. Sebagai contoh kisah Nabi Yusuf sdan istri Aziz yang telah membuka mata kita bagaimana wanita dengan mudah mengeluarkan rayuannya, tapi dengan izin Allah, Nabi Yusuf terbebas dari godaannya karena Allah menjaga hamba-Nya yang bertaqwa.

Pada zaman sekarang ini, eksploitasi wanita dimana-mana. Mayoritas kaum wanita itu berani bersolek dan menampakkan lekuk tubuh mereka di pasar-pasar dan di jalan-jalan serta menampakkan perhiasan dan aksesorisnya.

Siapa yang Allah kehendaki terkena godaannya maka ia akan melirik wanita-wanita tersebut lantas bisa jadi timbul syahwat terlarang yang mendorongnya melakukan hal yang diharamkan. Nauzubillah Min Zalik!

Bentuk eksploitasi kaum wanita yang lain melalui film-film, foto-foto mereka di majalah, koran-koran dan sampul barang-barang tertentu. Mereka sengaja memilih wanita-wanita cantik agar menarik minat para pemuda, karena musuh-mush Islam dengan gencarnya menjadikan waita sebagai komoditas perusak moral. Seorang tokoh aliran mansoni (free mansory) berkata: “secangkir minuman keras dan seorang biduanita dapat menghancurkan ummat Muhammad dibanding kekuatan seribu tank baja, peluru kendali dan senjata kimia yang canggih. Oleh karena itu, buatlah mereka tenggelam dalam cinta materi dan syahwat.” Yang lain juga berkata: “kita harus mempergunakan wanita. Sebab setiap kali ia mengulurkan tangannya kepada kita, kita telah mendapatkan apa yang kita inginkan dan dan berhasil memporak-porandakan serdadu penolong agama Islam.”

Tidak diragukan lagi, hal itu termasuk bencana besar pada zaman sekarang ini. Allah meneguhkan hati orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh. Siapa yang mensucikan dirinya, pandangannya tidak akan tertuju pada perkara haram itu. Beruntunglah para wanita yang takut akan azab Allah dan berusaha menjaga kesucian dirinya. Begitu juga dengan para lelaki yang mampu menjaga pandangan dan syahwatnya dari hal-hal yang dilarang Allah.

Allah telah memberikan aturan jelas dalam al-Quran, yang harus dipatuhi orang-orang beriman, laki-laki maupun perempuan dalam surat An-Nisa 30-31:

30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.

31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Jadi, sebagai wanita apa yang harus kita lakukan?


Wahai Ukhti!  Allah  telah menurunkan ayat-ayat-Nya  dengan  jelas,  supaya dengan melaksanakan  tuntutan-tuntutan  syariat  engkau terpelihara  dan terucikan dari kotoran-kotoran jahiliyah. Para penyeru kebebasan berusaha keras  untuk mengembalikan  kaum wanita  ke abad  jahiliyah  dengan  bersembunyi  dibalik  cover  peradaban modernisasi dan kebebasan.  Berhati-hatilah! Wahai  Ukhti  muslimah,  janganlah engkau tertipu dengan semboyan kebebasan yang  sebenarnya  hanya  menjajakan wanita sebagai barang dagangan yang ditawarkan  kepada  siapa  yang menghendakinya.  Jagalah dirimu, perlihara harga dirimu. Jadilah umpama mutiara yang mampu menjaga kemurnian diri ketika para perempuan lain berlomba mengejar pamor demi kesenangan sesaat. Allah SWT telah mengingatkan, Dan jika  kamu menuruti  kebanyakan  orang-orang di muka bumi ini, niscaya  mereka  akan menyesatkanmu  dari  jalan Allah.  Mereka  tidak lain hanyalah mengikuti  persangkaan  belaka, dan mereka  tidak  lain hanyalah berdusta” (al-Qur’an Surat  al-An’am: 116)

Wahai  Ukhti! Engkau Janganlah mengikuti faham feminisme yang berusaha mengotak-atik  akal  manusia  dengan  mengatakan  bahwa  wanita  wanita muslimah tidak  mempunyai kebebasan karena:

1        Aurat  wanita  lebih  susah  di jaga dibanding laki-laki

2        Wanita perlu meminta  izin suaminya jika  keluar  rumah  tapi  tidak  sebaliknya

3        Wanita  persaksiannya  hanya setengah laki-laki

4        Wanita  menerima warisan  yang  kurang  dari laki-laki

5        Wanita  harus  menghadapi  kesusahan mengandung  dan mblahirkan  anak

6        Talak  terletak  di  tangan  suami  dan bukan  di tangan  istri

7        Wanita  kurang  beribadah karena haid  dan  nifas  yang  tidak dialami laki-laki

Makanya mereka  selalu  berpromosi untuk kemerdekaan wanita. Padahal sebenarnya  mereka sendirilah yang  tidak memahami bahwa  syariat  lslam  dipenuhi  dengan  hikmah dan  pengajaran. Wanita  muslimah menerima warisan  kurang  dari  laki-laki  tapi  harta  itu menjadi  milik  pribadinya  karena dia tidak berkewajiban memberi nafkah pada  suaminya,  sedangkan  laki-laki  menerima  warisan lebih banyak tapi harus menafkahi istri  dan  anak-anaknya. Wanita harus bersusah-payah mengandung dan melahirkan anak  tapi  setiap  saat  dia  didoakan oleh seluruh makhluk Allah SWT  di muka  bumi jika  melahirkan, dan posisinya sebagai ibu tiga kali lebih tinggi dari seorang ayah, bahkan surga terletak di bawah telapak kakinya.

Wahai  kaum  hawa!  Ingatlah Allah SWI  berfirman dalam Al-Quran surat Yusuf  ayat 28, bahwa  tipu daya wanita  itu adalah besar,  sedangkan  dalam  surat an-Nisa’ ayat 76 Allah  SWT menerangkan  bahwa  tipu daya  setan  adalah  lemah. Apakah engkau rela menjadi makhluk yang lebih berbahaya dibanding  setan? Na’uzubillah minzalik!

Marilah  kita introspeksi diri dalam menghadapi  kehidupan  semu yang  hanya sebentar  ini. Luruskan  lagi  niat  dan  tujuan  kita agar bisa menjadi wanita shalehah, perhiasan dunia. Wallahu  a’lam.

*Mahasiswi S2 Tafsir Univ. Al-Azhar Cairo

KELUARGA BERENCANA DALAM ANALISA SYARI’AT (2/2)

31 December 2009 at 11:33 pm | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 3 | 1 Comment
Tags: , , ,

IV. Dampak Negatif Tahdid Al-Nasl


Diantara dampak negatif yang ditimbulkan terhadap program KB yang berujung  pada pembatasan keturunan adalah:

  1. Pelanggaran terhadap syari’at Islam. Karena program pembatasan kelahiran telah dijadikan program global dunia, maka terdapat penyebaran alat-alat kontrasepsi yang membludak dan kemudahan untuk mendapatkannya memancing masyarakat untuk tidak mau dibebani tanggung jawab keturunan.
  2. Timbulnya keinginan untuk menggunakan alat-alat kontrasepsi untuk merealisasikan keinginan yang salah (perzinaan) dengan aman.
  3. Timbulnya penyakit menular seperti penyakit kelamin dan AIDS karena perzinaan merajalela.
  4. Karena pengunaan alat kontrasepsi yang tersembunyi dan aman dari akibat kehamilan, maka mengakibatkan hilangnya rasa malu, krisis moral, rusaknya nasab dan keretakan hubungan keluarga.
  5. Terputusnya regenerasi yang mengakibatkan minimnya tenaga kerja produktif dan melemahnya dakwah akibat kurangnya pejuang pembela agama dan umat.
  6. Pengaruh negatif alat-alat kontrasepsi tehadap tubuh. Penelitian medis membuktikan bahwa alat kontrasespsi yang tidak cocok dapat merusak keseimbangan hormon-hormon dalam tubuh, kanker rahim, melemahkan daya ingat dan lumpuh kedua kaki dan tangan.[1]
  7. Untuk mencapai target yang diinginkan dalam program global pembatasan kelahiran, membutuhkan biaya yang diambil dari kas suatu bangsa secara besar-besaran. Akhirnya terdapat penggunaan dana pada jalan yang salah. Akan lebih baik jika dana itu digunakan untuk pertumbuhan ekonomi demi kemakmuran bangsa (Majma’ Fiqh Islami di Makkah Mukarramah).[2]

V. Hukum Man’u’l Haml (pemandulan selamanya) /Vasektomi dan Tubektomi

Sterilisasi (Man’u’l Haml/pemandulan selamanya) adalah salah satu program KB yang dikampanyekan pemerintah Indonesia saat ini. Dalam istilah medis, sterilisasi dikenal dengan nama Tubektomi dan Vasektomi.

Prof.Dr.H. Masjfuk Zuhdi dalam bukunya: Masa’il Fiqhiyyah menerangkan tentang sterilisasi sebagai berikut:

1.Tubektomi

- Tubektomi adalah: Operasi ringan dan cepat yang dilakukan pada perempuan (tubal ligation) agar steril dan tidak mampu lagi memproduksi anak dengan arti bahwa kemungkinan kehamilan sudah hampir nol.

- Caranya adalah: dibuat dua irisan kecil di bawah bagian perut perempuan kemudian memotong saluran sel telur (tuba paluppi) dan menutup kedua-duanya sehingga sel telur tidak dapat  keluar dan sel sperma tidak dapat pula masuk bertemu dengan sel telur, sehingga tidak terjadi kehamilan.

- Durasi waktu yang dibutuhkan untuk tubektomi adalah: kira-kira 30 menit.

2. Vasektomi

- Adalah operasi sederhana pada laki-laki untuk mensterilkan sehingga tidak bisa lagi membuahi untuk menghasilkan anak.

- Caranya: memotong saluran mani (vas deverens) kemudian kedua ujungnya diikat, sehingga sperma tidak dapat mengalir keluar penis (urethra)

- Durasi waktu yang dibutuhkan: Hanya beberapa menit saja. Cendrung lebih cepat dibanding tubektomi.[3] (situs BKKBN online.com, edisi Selasa, 3 oktober 2006))

Sterilisasi baik vasektomi maupun tubektomi sama dengan abortus, yang mana hal ini berakibat kemandulan. Karena itu ,International Planned Parenthood Federation (IPPF) tidak menganjurkan kepada negara-negara anggotanya termasuk Indonesia untuk melaksanakan sterilisasi sebagai alat kontrasepsi.

Hasil Ijtihad para ulama Islam tentang hukum vasektomi dan tubektomi:

  1. Keputusan Majma’ Fiqh Islami di Kuwait tanggal 5/9/1988 menyebutkan: diharamkan untuk memutuskan kemampuan mempunyai anak bagi laki-laki dan perempuan  yang dikenal dengan pemandulan (vasektomi dan tubektomi) tanpa adanya alasan yang dibenarkan syari’at.
  2. Keputusan Majma’ Fiqh Islami di Makkah Mukarramah menyebutkan: Tidak dibolehkan pemutusan kehamilan selamanya (pemandulan) tanpa adanya alasan yang darurat secara syar’i. Yaitu apabila membahayakan hidupnya karena suatu penyakit, maka jika pemandulan adalah cara untuk menyelamatkan hidup si perempuan dari kematian maka itu dibolehkan.

Pada dasarnya, hukum sterilisasi vasektomi dan tubektomi dalam Islam adalah haram dengan beberapa sebab:

1.Sterilisasi  (vasektomi/tubektomi) berakibat pemandulan. Hal ini bertentangan dengan tujuan pokok perkawinan dalam Islam yaitu perkawinan selain bertujuan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat juga untuk mendapatkan keturunan yang sah.

2. Mengubah ciptaan Tuhan dengan jalan memotong dan menghilangkan sebagaian anggota tubuh yang sehat dan berfungsi).

3. Melihar aurat besar orang lain.

Namun apabila suami istri dalam keadaan terpaksa ( darurat/emergency) seperti terancamnya jiwa si ibu apabila ia mengandung maka hal itu dibolehkan. Hal ini berdasarkan kaidah hukum Islam: Keadaan darurat itu membolehkan hal hal yang dilarang.[4]

V1. Tanzhim Al-Nasl (Pengaturan Kelahiran)/ KB yang Dibolehkan Islam

Dalil-dalil syariat yang menunjukkan kebolehan pengaturan kelahiran antara lain:

1.QS: Al Baqarah: 233

Para ibu hendaklah menyusui anaknya selama dua tahun  yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya.”

Rahasia ayat: menunjukkan adanya hak seorang anak untuk menerima pasokan gizi yang cukup (ASI) sehingga si anak terhindar dari keterlantaran jasmani)

2. QS: Luqman: 14

Dan kami amanatkan kepada maunsia untuk berbuat baik terhadap kedua orang tuanya. Ibunya yang telah mengandungnya dan menyapihnya selama dua tahun.”

3.QS: Al Ahqaf:15

Mengandung sampai menyapihnya adalah 30 bulan.”

Imam Qurthubi di dalam tafsirnya mengatakan bahwa: jika hamilnya 6 bulan maka masa menyusuinya adalah 24 bulan, jika hamilnya 7 bulan maka masa menyusuinya  adalah 23 bulan, jika hamilnya 8 bulan maka masa menyusuinya adalah 22 bulan dan seterusnya…

Ayat-ayat diatas mengandung beberapa hikmah:

  • Terpeliharanya kesehatan ibu dan anak
  • Terjaminnya keselamatan jiwa ibu karena beban jasmani dan rohani selama hamil
  • Terjaminnya kesehatan jiwa si anak dan tersedianya pendidikan yang cukup baginya
  • Terjaminnya keselamatan agama orang tua yang dibebani kewajiban mencukupkan kebutuhan keluarga.[5]

Hasil ijtihad ulama tentang Tanzhim Al-Nasl:

1. Dr. Yusuf Qaradhawi dalam bukunya menjelaskan: pengaturan kelahiran adalah dibolehkan jika terdapat sebab-sebab yang membolehkannya yaitu:

a. Khawatir terhadap kehidupan dan kesehatan ibu apabila hamil atau melahirkan,setelah dilakukan suatu pemeriksaan medis oleh dokter yang terpercaya.

Dengan dalil:

-                “Janganlah engkau menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan” (QS:Al Baqarah: 195)

-                “Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri.Sesungguhnya Allah Maha Penyayang terhadap kamu sekalian.” (Qs:An Nisa':29)

b. Khawatir terjadinya bahaya pada urusan dunia yang kadang-kadang bisa mempersukar urusan agama (ibadah) sehingga menyebabkan orang mau menerima barang yang haram dan mengerjakan yang terlarang justru untuk kepentingan anak-anaknya.

Dengan dalil:

-  “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran untukmu.” (QS: Al Baqarah:185)

- “Allah tidak menginginkan untuk menjadikan kamu teraniaya (menderita)” (Qs: Al Maidah:6)

c.Khawatir akan nasib anak, membahayakan kesehatan dan pendidikannya.

Dengan dalil: “Sungguh saya bermaksud melarang ghilah (bersetubuh dengan perempuan yang menyusui karena itu dapat merusak air susu dan melemahkan anak),kemudian saya melihat orang-orang Persi dan Rum melakukannya, ternyata tidak membayakan kepada anak-anak mereka.”

  1. Khawatir terhadap kondisi kesehatan wanita yang masih menyusui jika dia hamil kembali dalam masa menyusui tersebut.[6]

2. Syeih ‘Athiyyah Shaqr menjelaskan dalam bukunya, bahwa kebolehan Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran)sama dengan kebolehan ‘Azl (senggama terputus) dengan alasan:

- Jika dimaksudkan untuk menjaga kondisi kecantikan seorang wanita untuk menyenangkan suaminya maka tidak ada larangan padanya.

- Khawatir akan memperbanyak penderitaan dengan banyaknya anak dan mempersempit usaha untuk mememuhi kebutuhan hidup maka ‘Azl dibolehkan.

Syeikh ‘Athiyyah Shaqr menambahkan: Adapun hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa beliau SAW akan bangga dengan banyaknya umat Islam pada hari kiamat bukan dimaksudkan dengan generasi yang lemah. Namun yang dimaksudkan disana adalah generasi  yang kuat dan berkualitas dalam artian bahwa Islam menyukai generasi yang sholeh akal dan akhlaknya serta kuat badannya sehingga mempunyai kesanggupan memikul amanah.[7]

3. Syeikh Utsaimin dalam fatwanya menjelaskan: Dibolehkan bagi seorang wanita untuk tidak hamil dalam waktu yang temporal sesuai dengan kebutuhan si wanita untuk memulihkan kembali jasmaninya yang melemah dalam masa satu atau dua tahun.

4. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengatakan: Apabila seorang wanita mempunyai suatu penyakit di rahimnya atau ia sudah mempunyai begitu banyak anak dan memberatkan untuknya hamil kembali, maka dibolehkan baginya menangguhkan kehamilan kembali dalam masa satu atau dua tahun dengan menggunakan obat-obatan. Ataupun dibolehkan baginya menangguhkan kehamilan apabila ada rekomendasi dari dokter yang berwewenang.

5. Dikutip dari pendapat buya Hamka di dalam tafsir Al Azharnya mengatakan: “Bahkan banyak ibu subur yang melahirkan anak tahun ini, melahirkan pula tahun depan, kemudian melahirkan yang satu lagi dan menyusui pula sesudah itu, sehingga tahun ini beranak, tahun depan menyusui. Lama-lama anak kian banyak dan badan kian lama kian lemah…”

V1. Penutup

Dari uraian diatas akhirnya penulis menyimpulkan:

  1. Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran) adalah tidak dibenarkan dalam Islam secara mutlak. Namun Islam memberikan rukhsah (keringanan) kepada umatnya untuk mengatur jarak kelahiran (Tanzhim Al-Nasl)
  2. Pemutusan kehamilan secara mutlak (man’u Al-Haml)/ pemandulan selamanya (vasektomi atau tubektomi) tidak dibolehkan dalam Islam kecuali dalam kondisi yang darurat atau alasan yang dibenarkan syar’i seperti seorang wanita yang mempunyai penyakit di rahimnya dan pemandulan adalah satu-satunya cara. Namun apabila masih ada alternatif pengobatan lain maka vasektomi dan tubektomi diharamkan.
  3. Penggunaan metode vasektomi dan tubektomi dalam program KB pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) adalah diharamkan.
  4. Batas waktu dibolehkannya Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) tergantung pada kesepakatan pasangan suami istri  menilik pada kemaslahan bersama.
  5. Pemakaian berbagai jenis alat kontrasepsi seperti  kondom, pil, suntik dan spiral  dalam Tanzhim Al-Nasl adalah dibolehkan selama alat-alat tersebut tidak mengandung zat-zat yang diharamkan secara syariat.
  6. Menempuh metode alami seperti senggama terputus (‘Azl/ mengeluarkan sperma di luar rahim) dalam Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) adalah dibolehkan karena itu termasuk cara yang ditempuh pada masa  Rasulullah.

Dengan dalil: “Dari Jabir RA: kami melakukan ‘Azl/senggama terputus pada masa Rasulullah sedang Al-Qur’an masih turun.” (HR. Muslim)[8]

  1. Jika vasektomi dan tubektomi tidak dibolehkan dalam program KB pembatasan kelahiran maka lebih tidak dibolehkan lagi penggunaan metode vasektomi dan tubektomi dalam Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran).
  2. Sengaja penulis tidak membahas tentang alat kontrasespi yang beragam karena kecocokan atau tidaknya suatu alat kontrasespi dalam Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing individu. Karena siklus kesehatan individu sangat relatif. Maka untuk memilih alat kontrasepsi yang aman dan cocok untuk kondisi kesehatan si pemakai,  tergantung pada konsultasi dokter yang berwewenang.

Wa’lLahu A’lam Bi al-Shawab.

V11. Daftar Pustaka

-                Athiyyah Shaqr, Tarbiyyatul Aulad fil Islam, Cairo: Maktabah Wahbah, 2003 M/1424 H, cet.1.

-                Fatawa Mar’ah at-Tibbiyah.

-                Masjfuk Zuhdi, Masa’il Fiqhiyyah, Jakarta: Gunung Agung, 1996, cet. Ke 9.

-                Muhammad Shafwat Nuruddin, Fathu’l Karim bi Ahkâmi’l Hâmil wa al-Janîn, Kairo: Dâr al-Jauziy, 2006, cet. I.

-                Yususf Qaradhawi, Al-Halal wal Haram Fil Islam, Cairo: Maktabah Wahbah, 2002 M/1423 H, cetakan ke 27.

-                BKKBN online

-                Hidayatullah.com

-                Wikipedia


[1] Tahdid Al-Nasl dalam Wekepedia, Mausu’ah Hurrah

[2] Muhammad Shafwat Nuruddin, Op.cit,  hal 142

[3] Prof. Dr.H. Masjfuk Zuhdi, Op.cit,  hal 67-68.

[4] Ibid, hal 68-69.

[5] Ibid, hal58-60.

[6] Yusuf Qaradhawi, Al Halal wal Haram Fil Islam, Cairo: maktabah Wahbah., 2002 M/1423 H) cet.27 hal.176-177.

[7] ‘Athiyyah Shaqr , Op.cit, hal 69-72.

[8] ‘Athiyyah Shaqr, Op.cit, hal.57, Yusuf Qaradhawi, Op.cit, hal 175.

KELUARGA BERENCANA DALAM ANALISA SYARI’AT (1/2)

31 December 2009 at 11:05 pm | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 3, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , ,

Oleh: Mike Putri Rahayu[1]

  1. I. Pendahuluan

Kilas Balik Program  KB (Keluarga Berencana).

Ada banyak wacana yang beredar hingga kini sejak program KB digulirkan tanggal 29 juni 1970.  Gagasan yang diusung pemerintah Indonesia sejak beberapa tahun lalu ini ternyata tidak selalu menuju ke satu titik persamaan. BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) yang berada di bawah Kementrian Kesehatan gencar mempromosikan pendidikan KB secara maksimal dengan maksud dapat menjangkau semua lapisan masyarakat baik yang tinggal di pojok perkotaan atau pun di pelosok pedalaman. Namun seiring berjalannya waktu, kian melebarlah pandangan berbagai pihak tentang program KB. Lahirlah versi-versi tersendiri dalam mengartikan program ini. Sehingga setiap hal yang berhubungan dengan KB tidak lagi  hanya disandarkan kepada opini  BKKBN semata.

Di awal masa kemunculannya, masyarakat Indonesia mengenal KB sebagai sesuatu yang benar-benar masih baru. Sehingga ketika bermunculan iklan-iklan dengan slogan Keluarga Berencana Keluarga Bahagia, semua dianggap wajar. Namun ketika penawaran itu mulai terkesan sporadis, diperkuat dengan keluarnya Undang-undang no.10 tahun 1992 tentang Perkembangan kependudukan dan Pembentukan Keluarga Sejahtera – keluarga bahagia cukup dengan dua anak saja – maka reaksi pun bermunculan dimana-mana. Sebagian pihak akhirnya menolak mati-matian bahkan mengharamkan KB bagaimanapun bentuknya. Sebagian yang lain mencari jalan tengah dengan memilah dan memilih manfaat dan mudharatnya untuk kemanusiaan.

Di tahun 2007, ketika program KB makin meredup tergilas situasi politik dalam negeri, pemerintah beniat kembali menggalakkan program KB yang sempat mati suri beberapa saat itu. Kecaman pun lagi-lagi berdatangan karena jika pemerintah merealisasikan KB menjadi peraturan resmi maka akan menjebak pemerintah ke dalam pelanggaran HAM!

Apa yang sesungguhnya terjadi? Untuk mengetahui akar permasalahan ini lebih lanjut, kita perlu mencermati hal-hal yang berkaitan dengan KB itu sendiri seperti: pengertian KB dan hukum KB dalam tinjauan syari’at  Islam, agar kita sebagai umat terdidik tidak terjebak ke dalam pragmatisasi dan justifikasi yang salah kaprah.

II. KB dalam berbagai persepsi

  1. KB Berdasarkan Teori Populasi Thomas Robert Malthus.

Thomas Robert Malthus merupakan orang yang pertama kali di Eropa yang menyerukan  program pembatasan kelahiran untuk mengurangi jumlah pertumbuhan manusia.[2]

Dapat dipahami sebagai sebuah program nasional yang dicanangkan untuk mengurangi pertumbuhan populasi penduduk karena diasumsikan pertumbuhan populasi penduduk tidak seimbang dengan ketersediaaan barang dan jasa.[3]

Dari teori populasi ini, lahirlah istilah birth control (pembatasan kelahiran). Sedangkan istilah Birth Control itu sendiri mempunyai konotasi yang negatif karena bisa mencakup sterilisasi, aborsi dan penundaan kawin sampai usai lanjut sebagaimana yang disarankan oleh Malthus (1766-1834) untuk mengatasi fertility of men (kesuburan manusia) dan fertility of soil (kesuburan tanah) yang tidak seimbang sebagai deret ukur berbanding dengan deret hitung.[4]

  1. KB Menurut Pandangan Gereja Katholik.

Di dalam buku berjudul: Membangun keluarga Sejahtera dan Bertanggung Jawab Berdasarkan perspektif Agama Katholik, karangan Romo Jeremias Balapito Duan MSF disebutkan :

-                Gereja Katholik memandang bahwa pelaksanaan pengaturan kelahiran harus memperhatikan harkat dan martabat manusia serta mengindahkan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang berlaku

-                Di dalam sabda Ensilik 10 dan Konsili, umat Katholik mempunyai tugas mengatur kelahiran untuk membangun kesejahteraan keluarga. Namun bukan orang lain atau negara yang boleh menentukan jumlah anak. Cara-cara mengatur kelahiran harus diputuskan oleh suami istri secara bersama.[5]

  1. KB dalam pandangan Islam

Di dalam Islam, terdapat tiga hal yang berkaitan dengan KB:

1. Man’u’l Haml (Pemutusan kehamilan)

Yaitu Menggunakan sarana atau cara-cara yang dapat mencegah seorang wanita dari kehamilan selamanya baik itu dengan cara alamiah (‘azl/senggama terputus), atau dengan bantuan alat tertentu yang dipasang di faraj/kemaluan.dll.

2. Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran)

Yaitu menghentikan proses kelahiran secara mutlak dengan membatasi jumlah anak. Dapat dilakukan dengan alamiah atau menggunakan alat-alat kontrasepsi yang beragam.

3. Tanzhim Al-Nasl (pengaturan atau penjarangan kelahiran)

Yaitu Menggunakan sarana-sarana atau metode-metode yang dapat mencegah kehamilan dalam masa yang temporal/berkala/sementara dan tidak dimaksudkan untuk pemutusan keturunan selamanya. Tetapi dilakukan untuk tujuan kemaslahatan yang disepakati oleh suami istri.

Adapun perbedaan dari masing-masing hal di atas adalah:

-                Man’ul Haml (pemutusan kehamilan) bertujuan untuk tidak mempunyai keturunan selamanya. Baik itu dengan menggunakan perantaraan obat-obatan untuk pemandulan ataupun tidak.

-                Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran) bertujuan untuk membatasi jumlah keturunan sampai beberapa orang anak saja. Diikuti dengan pemutusan kehamilan secara mutlak baik itu dengan perantaraan obat-obatan ataupun tidak.

-                Tanzhim Al-Nasl (pengaturan kelahiran) bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan seorang wanita dengan melakukan penghentian kehamilan untuk waktu berkala saja. Baik itu dengan perantaraaan obat-obatan ataupun tidak. Sehingga si wanita mempunyai kesiapan yang cukup untuk melakukan reproduksi selanjutnya. Yang membedakan hal ini dengan hal diatas adalah tidak adanya pemutusan kehamilan secara mutlak.[6]

III. Hukum Pembatasan Kelahiran (Tahdid Al-Nasl)

Islam adalah agama penuh rahmat. Islam sangat peduli dengan kondisi sosial manusia. Begitu pun dalam masalah yang berkaitan dengan keturunan. Islam memberikan hak-hak mutlak untuk setiap manusia dalam memiliki keturunan. Namun Islam juga tidak ingin manusia tersiksa dan terbebani karena keturunannya. Walaupun begitu, Islam tak menghendaki sebuah pemusnahan. Pemusnahan keturunan adalah tindakan tercela yang nyata-nyata dikutuk oleh agama apapun di atas muka bumi ini. Karena itu berarti pembunuhan hak-hak hidup terhadap makhluk yang utuh dan berakal.

Maka, apabila istilah KB diidentikkan sebagai program pengurangan, pembatasan apalagi menghambat            pertumbuhan populasi penduduk, hal ini sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip aqidah Islam yang syumul (sempurna). Karena pada dasarnya, Islam sangat sempurna dalam mengurus hidup pemeluk-pemeluknya. Itu berarti Yang Maha Pencipta sangat teliti dalam mengurus seluruh keperluan makhluk yang diciptakanNya. Manusia telah diberikan jaminan hidup oleh Allah bahkan jauh sebelum seorang manusia dilahirkan. Mustahil jika Allah menciptakan seorang hamba tanpa memberikan bekal penghidupan untuk hamba tersebut.

Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allah lah yang memberikan rizkinya.” (Qs:Hud:11)

Terdapat sebab-sebab keliru yang dilangsir sebagai alasan konkrit dilakukannya Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran):

  1. Populasi penduduk yang semakin meningkat

Adanya anggapan bahwa populasi penduduk yang tidak terkendali akan menyebabkan kurangnya daya suatu negara dalam penyediaan barang dan jasa.

  1. Kesulitan merawat anak dan mendidiknya

Adanya opini yang dikembangkan oleh pihak-pihak yang mendukung pembatasan kelahiran bahwa kesulitan merawat anak dan mendidiknya tidak akan terjadi jika dilakukan pembatasan kelahiran secara kontinyu dan teratur oleh semua lapisan penduduk.

  1. Mengangkat kesejahteraan keluarga

Adanya hitung-hitungan materi dengan semakin banyaknya jumlah kepala dalam satu keluarga menuntut penyediaan materi yang lebih banyak pula untuk memenuhi kebutuhan. Disini terdapat pembatasan materi dalam pemahaman yang lux. Materi tidak lagi dipahami dalam kerangka primer.

  1. Kelalaian perempuan akan fitrahnya

Dengan alasan untuk aktualisasi dan pengembangan diri, banyak wanita yang terjebak pada stigma kerepotan mengurus anak, bahkan enggan untuk menyusui sehingga mereka lebih memilih langkah pembatasan kelahiran untuk penyeimbangan karir.[7]

Jika kita telisik kembali teori populasi yang digagas Robert Malthus, maka kita akan temukan beberapa kekeliruan yang mendasar diantaranya:

  1. Tidak adanya kesesuaian antara teori dan fakta dunia

Dari segi tinjauan fakta, teori Robert Malthus tidak sesuai dengan realitas yang ada. Menurut penelitian FAO (Food And Agriculture Organization) di tahun 1990, produksi pangan dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk dunia karena mengalami surplus 10 % pangan.

Jika kita analogikan secara akal, mustahil manusia sebagai makhluk yang berakal tidak menemukan cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan segala sarana dan prasarana bertebaran dimana-mana. Jika manusia bisa maju dengan laju teknologi, mustahil manusia tidak bisa maju untuk sekedar memenuhi kebutuhan primer dalam hidupnya.

  1. Teori populasi adalah produk ekonomi kapitalis.

Menurut Rudolf H. Strahm bahwa terjadinya kemiskinan di dunia ketiga adalah akal-akalan negara kapitalis. Ketidakcukupan barang dan jasa sesungguhnya bukan disebabkan padatnya populasi penduduk dunia, tetapi karena ada pendiskriminasian (ketidakseimbangan) dalam distribusi barang dan jasa. Sebanyak 80 % barang dan jasa dunia hanya berporos pada kepentingan kapitalis dalam artian dinikmati hanya oleh negara kapitalis yang hanya berpenduduk 25 % dari penduduk dunia.[8]

Secara syari’at, pengharaman pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) didasarkan pada beberapa pondasi hukum:

  1. Al-Quran

-                Qs: Al Isra': 31

Janganlah Engkau membunuh anak-anakmu karena takut jatuh miskin. Kamilah yang memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah kesalahan yang besar.”

- Qs. Al An’am: 151

Janganlah engkau membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rizki untukmu dan untuk mereka.”

Dari dua ayat diatas dapat ditarik beberapa pemahaman Qiyas:

1. Sesungguhnya pemberian rezki oleh Allah swt berbanding lurus dengan adanya keturunan. Karena Allah tidak menciptakan seorang makhluk tanpa menciptakan rezki untuknya.

2. Rezki yang diberikan Allah adalah rezki inti untuk menopang kehidupan sesorang di muka bumi. Bukan rezki dalam artian rumah yang mewah dan harta benda berlimpah karena semua itu adalah kebatilan yang dihembuskan syetan ke dalam dada manusia.

3. Dengan bertambahnya anak yang lahir ke dunia, maka secara tidak langsung bertambah pula aset dunia untuk memperoleh kemajuan. Karena peradaban dan kemajuan merupakan bagian dari andil tangan-tangan trampil manusia.[9]

  1. Hadis Rasulullah.

-                HR. Abu daud:

Nikahilah perempuan-perempuan yang penyayang dan peranak (sanggup melahirkan anak yang banyak.”

-                HR. Imam Ahmad:

Sesungguhnya aku akan bangga karena umatku yang terbanyak pada hari kiamat.

Rahasia hadis:

1. Dua hadis diatas secara tidak langsung melarang kita untuk membatasi kelahiran atau jumlah keturunan. Malah Rasul saw menganjurkan umatnya untuk menikahi perempuan yang peranak untuk menambah jumlah umat dan memperkuat barisan kaum muslimin di jagad ini.

2. Dengan banyaknya keturunan berarti mendatangkan manfaat untuk alam semesta. Sebab keberadaan manusia berarti menambah jumlah tenaga kerja& kekuatan dalam masyarakat untuk memakmurkan alam.

3. Pemikiran pembatasan kelahiran adalah pemikiran yang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam untuk mengurangi jumlah generasi penerus Islam sehingga akhirnya Islam melemah dengan sedikitnya individu.[10]

  1. Fatwa-fatwa Pendukung/ Ijma’ Ulama.

Di sebuah konferensi pertemuan Ulama kerajaaan Saudi Arabia yang berlangsung pada pertengahan rabi’ul Akhir tahun 1397 H  diputuskan beberapa hal berikut:

Memandang : bahwa syari’at Islam menganjurkan untuk memperbanyak keturunan, karena keturunan adalah nikmat dan pertolongan terbesar dari Allah untuk hambaNya dengan dilandasi nash syari’at yang sah yaitu Alqur an dan sunnah Rasulullah,

Memandang: pemikiran pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) adalah pemikiran yang bertentangan dengan fitrah manusia sebagai makhluk Allah yang suci,

Memandang: bahwa seruan pembatasan kelahiran (Tahdid Al-Nasl) dan pemutusan kehamilan secara mutlak (Man’ul Haml)adalah untuk menghancurkan pondasi Islam secara umum dan bangsa arab secara khusus sehingga tidak ada kemampuan untuk mereka memabangun bangsa dan negaranya,

Maka masjlis memutuskan bahwa:

*Pembatasan keturunan adalah mutlak tidak dibolehkan.

*Tidak dibolehkan pencegahan kehamilan (Man’ul Haml) atas motivasi karena takut jatuh miskin.

*Apabila pencegahan kehamilan dilakukan karena alasan darurat seperti: kondisi seorang perempuan yang tidak bisa melahirkan secara normal ataupun mengundurkan proses kehamilan untuk sementara demi kemaslahatan keluarga maka tindakan pencegahan kehamilan tersebut dibolehkan.

*Dibolehkan pencegahan kehamilan sementara dengan meminum obat-obatan untuk menghambat produksi indung telur sebelum seseorang itu berumur 40 tahun.[11]

  • Keputusan Majma’ (tim) Fiqh Islam di Makkah Mukarramah memutuskan bahwa: Tahdid Al-Nasl (pembatasan kelahiran) tidak dibolehkan secara mutlak.
  • Keputusan Majma’ Fiqh Islami di Kuwait no. 1 tertanggal 5/9/1988 memutuskan:

-                Tidak dibolehkan adanya suatu undang-undang hukum untuk mengatur pembatasan kelahiran suatu janin karena itu adalah hak mutlak pasangan suami istri.

  • Keputusan Majma’ Buhust Islamiyah di Cairo pada Muharram 1385 H/ Mei 1965:

- Tidak sah secara syariat membuat undang-undang yang memaksa manusia untuk membatasi kelahirannya.[12]


[1] Diterbitkan dalam kumpulan tulisan Bundo Kanduang KMM Mesir sebagai oleh-oleh atas kedatangan duta Gubernur dan DPRD Sumbar untuk Peresmian Rumah Gadang KMM.

[2] ‘Athiyyah Shaqr, Tarbiyyatul Aulad Fil Islam, (Cairo: maktabah Wahbah, 2003 M) juz 4 cet. 1 hal 52

[3] hidayatullah.com

[4] Prof.Dr.H. Masjfuk Zuhdi, Masa’il Fiqhiyah, PT. Toko Gunung Agung, Jakarta, cet.9, 1996 M, hal 55

[5] Situs BKKBN online.com, edisi Minggu, 24 Februari 2008

[6] Muhammad Shafwat Nuruddin, Fathu’l Karim bi Ahkamil Haml Wal Janin, Cairo, Dar Al Jauziy, 2006, cet.1 hal 137

[7] Tahdid Al-Nasl dalam wekepedia, mausu’ah Hurrah

[8] Hidayatullah.com

[9] Berdasarkan fatwa mufti Shalih bin Fauzan Al Fauzan dalam kitab fatawa mar’ah attibbiyyah hal 88.

[10] Ibid, hal 86-87

[11] Muhammad Shafwat Nuruddin, Op.cit, hal 138

[12] ‘Athiyyah Shaqr, Op.cit, hal 72.

Sekilas Renungan tentang “Pahlawan Devisa”

17 December 2009 at 11:56 am | Posted in Gen 8, KELUARGA | 1 Comment
Tags: , , ,

Oleh: Ismarni Ismail*

Bandara Internasional Dubai, 04 Desember 2007

Pagi itu rombongan calon mahasiswa Al-Azhar sampai dengan selamat di bandara Internasional Dubai. Menunggu waktu transit menjelang penerbangan ke Kairo, Mesir. Beragam aktifitas mereka kerjakan untuk mengisi waktu, ada yang memanfaatkannya untuk istirahat, membaca, dan berjalan-jalan keliling bandara nan mewah mencengangkan dengan orang-orang yang juga tak kalah mencengangkan. Ragam rupa, gaya, dan bahasa menjadi tontonan yang tak biasa bagi kami yang mungkin jarang bertemu orang asing kecuali pada beberapa kesempatan saja, terasa sekali qudrah dan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam penciptaan manusia yang berbeda-beda.

`Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang Mengetahui. (Q.S Ar-Rum:22)

Tak jauh dari samping kiri kami, terlihat serombongan perempuan Indonesia, sedang santai beristirahat. Sekilas tak diragukan lagi mereka adalah muslimah, dengan pakaian seragam hitam putih dan jilbab hitam nan rapi. Berniat hendak berta’aruf dengan saudara-saudara sebangsa, kami mendekati mereka, mengucapkan salam dan duduk diantara mereka untuk berta’aruf dan berbagi cerita. Singkat cerita terjadi dialog di antara kami dengan seorang saudari sebut saja namanya Lilis, dari Jawa (25 tahun), yang akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kuwait untuk kontrak kerja selama 2 tahun.

“Mbak kenapa kok mau kerja ke luar negeri, kan jauh dari kampung sendiri?”

“Kerja di luar negeri enak Dek…gajinya besar, bisa untuk biaya bikin rumah di kampung, ya…walaupun nyicil, gaji kerja di Indo gak cukup buat menghidupi keluarga”

“Maaf… memangnya Mbak sudah berkeluarga?”

“Udah…baru 2 bulan kemarin melahirkan”

“Melahirkan..?!?jadi bayi Mbak sama siapa?”

“Ditinggal sama suami dan keluarga di kampung, ntar dikirimin duit dari tempat kerja, kalo cuma mengandalkan gaji suami, mungkin kami sekeluarga gak akan bisa makan 3 kali sehari”

“Maaf nih Mbak…klo Mbak kerja, apa masih pake jilbab?”

“Tergantung majikannya sih…klo majikannya pake jilbab, ya…saya ikut pake, tapi klo majikannya gak pake jilbab, saya juga gak pake. 6 bulan lalu saya baru selesai kontrak sama majikan di Dubai ini, dia gak pake jilbab tapi Islam, dia bilang ke saya…klo kamu mau pake jilbab, silakan…, tapi klo mau lepas juga boleh…, ya udah saya lepas aja, lagian juga repot pake jilbab sambil kerja…majikan saya itu baiiik sekali, dia sering membelikan saya baju mode terbaru dan bagus-bagus, kayak baju-baju artis itu lho…”

Dari dialog singkat ini, menyisakan banyak renungan bagi kita sebagai saudara sebangsa umumnya, dan sebagai saudara sesama muslim khususnya:

  • Seorang muslimah meninggalkan anak dan suaminya untuk mencari nafkah keluarga, padahal suaminya masih hidup dan mampu bekerja. Dimanakah letak izzah seorang laki-laki sebagai suami yang seharusnya bisa menjadi qawwam bagi istri dan keluarganya?
  • Doktrin materialis dan hedonis yang telah mendarah daging, bahwa harta telah menjadi tujuan hidup bukan lagi sebagai wasilah dalam ketaatan kepada Allah.
  • Seorang muslimah tidak melaksanakan kewajibannya lagi, untuk mengasuh dan mentarbiyah anak kandungnya dan rela meninggalkan tugas utamanya untuk mengejar kontrak kerja yang menjanjikan kekayaan.
  • Tidak memahami agama Islam dengan kaffah, menganggap syariat sebagai benda yang mudah dipakai dan mudah juga ditinggalkan.

Mungkin ini hanyalah sedikit bahan renungan dari dialog singkat tadi. Miris sekali hati ini, seorang perempuan dengan identitas muslimah, bangga meninggalkan keluarga untuk jangka waktu yang lama, hanya untuk mencari materi duniawi. Ia pun diagung-agungkan sebagai pahlawan devisa negeri ini. Padahal sejatinya, ia menelantarkan anak, suami dan keluarga, serta mengabaikan tanggung jawab utamanya dalam rumah tangga.

Ia tak pikirkan apa yang akan terjadi dengan dirinya sebagai pekerja perempuan di negeri orang yang banyak kita temukan fakta, bahwa mereka banyak mendapatkan perlakuan kasar dan pelecehan. Ia juga tak fikirkan bagaimana anak dan suami yang ia tinggalkan, Ia tak fikirkan kalau seandainya ia bekerja pada majikan yang beragama Yahudi atau Nashrani. Ia tak peduli akan semua kemungkinan yang akan terjadi ini, yang ada di fikirannya sederhana saja, bagaimana bisa memperoleh gaji besar, lalu pulang kampung membangun rumah baru…, membeli alat rumah tangga nan mewah dan memiliki sepeda motor, dan membuat tetangga terkagum-kagum karena ia bisa menafkahi keluarganya.

Mungkin saudari kita ini tak sempat sampai kesitu, atau malah mungkin ia belum pernah tahu bahwa Allah telah menetapkan Syariat Islam yang mengatur sistem interaksi kehidupan di masyarakat. Bahkan ia juga telah menikah dengan seorang laki-laki yang semestinya punya izzah sebagai seorang qawwam yang bisa menafkahi, menjaga, melindungi, dan mendidik istri dan keluarga dengan baik.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[1] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[2]. (Q.S. An-nisa : 34)

[1]  Maksudnya: tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya. [2]  Maksudnya: Allah Telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.

Saudari kita ini adalah cermin perwakilan dari kondisi masyarakat kita yang tak memahami Islam dengan kaffah…Maka disinilah dituntut peran kita sebagai seorang penuntut ilmu dan pendakwah. Inilah ladang dakwah, yang telah menunggu kepulangan kita ke tanah air tercinta, dan untuk pembekalan dakwah inilah kita datang ke negeri Para Nabi ini.

Paling penting untuk diingat adalah bahwa amanah ini pasti akan dihisab oleh Allah Rabbul ‘Alamin. Terserah bagaimana cara/metode tepat, yang kita pilih dalam menjalankan tugas utama ini, selama kita bisa bermanfaat di tengah masyarakat dengan dakwah Islam.

Bahkan kita juga berkewajiban menjadi seorang fasilitator agar masyarakat Islam bisa mengenal dan memahami Syariat agamanya sendiri dengan ilmu dan akal mereka sendiri, dengan cara memotivasi mereka untuk berproses dalam kegiatan ta’allum, untuk kemudian beramal shalih berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah yang shahih. Ini agar masyarakat Islam terjaga dari taqlid buta terhadap ulama atau mazhab tertentu yang membawa kepada pengkultusan individu yang dianggap baik dan sempurna tanpa mempunyai neraca pemahaman yang kuat. Tak bisa dipungkiri bahwa taqlid mazhab telah membingungkan masyarakat kita, bahkan sampai menyalahkan satu sama lain karena berbeda mazhab.

Sekarang saatnya memahami Islam dengan menggunakan ilmu dalam mengkaji dan mentela’ah Al-Quran dan Sunnah Rasulullah, dengan menjadikan mazhab sebagai wasilah menuju pemahaman Syar’i, sampai kita menemukan titik kebenaran yang haq dalam mengamalkan Syariat Islam. Allah telah menciptakan akal bagi manusia tidak lain untuk mengenal Allah dan syariat-Nya dengan fasilitas akal yang telah Allah amanahkan kepada kita.

*Mahasiswi tk 3 Jur. Hadis, Univ. al-Azhar Mesir – Gen 7 MAKN Putri

MUSLIMAH DAN GHIBAH

7 November 2009 at 11:11 pm | Posted in AKHLAK, Gen 2 | Leave a comment
Tags: , , ,

Oleh: Wirza Rahmah*

ghibahIslam sebagai agama yang berpegang kepada Al-Qur’an dan sunnah mengajarkan umatnya untuk saling mengasihi dan menyayangi sesama. Menutupi aib dan kekurangan saudaranya merupakan salah satu bukti kasih dan sayang yang diajarkan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Maka ketika seseorang membeberkan aib orang lain, walaupun itu benar adanya, ketika itulah ia menyalahi ajaran Islam yang mengharamkan ghibah (bergunjing).

Secara bahasa ghibah berarti membicarakan orang lain. Dan secara istilah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw., makna ghibah adalah menceritakan kekurangan saudara kita di belakangnya kepada orang lain. Seorang sahabat bertanya: walaupun perkara itu benar wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: ya, itulah ghibah, jika perkara itu tidak benar, maka ia telah memfitnah saudaranya.

ghibahIronisnya, ghibah yang merupakan salah satu dosa besar ini, sering kali dilakukan oleh kaum hawa antar sesamanya. Bahkan para muslimah yang notabene orang-orang yang mengerti agama pun sering tergelincir ke dalam hal ini. Tidak jarang pembicaraan mereka dibumbui dengan gosip, ngerumpi, dan menggunjing. Hal ini, disadari atau tidak, memiliki dampak negatif yang cukup besar. Ia dapat merusak hubungan ukhuwah serta mencerai-beraikan ikatan kasih sayang sesama manusia.

Al-Qur’an menggambarkan bahwa perumpamaan orang yang menggunjing ibarat memakan bangkai saudaranya. Allah SWT. berfirman: “Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing (ghibah) sebagian yang lainnya. Apakah kalian suka salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya  yang sudah mati? Maka tentulah kalian membencinya. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih.” (QS. Al Hujurat: 12).

Sungguh hina perbuatan ghibah ini jika kita merenungkan sabda Nabi Saw:  ”Ketika aku mi’raj (naik ke langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya terbuat dari tembaga sedang mencakar wajah-wajah dan dada-dada mereka. Lalu aku bertanya: “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Malaikat Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan merusak kehormatannya.” (H.R. Abu Dawud). Yang dimaksud dengan ‘memakan daging-daging manusia’ dalam hadis ini adalah berbuat ghibah (menggunjing), sebagaimana permisalan pada surat Al Hujurat ayat: 12.

Dalam hadis lain, dari shahabat Jabir bin Abdillah ra., beliau berkata: “Suatu ketika kami pernah bersama Rasulullah mencium bau bangkai yang busuk. Lalu Rasulullah bersabda: ‘Apakah kalian tahu bau apa ini? (Ketahuilah) bau busuk ini berasal dari orang-orang yang berbuat ghibah.” (H.R. Ahmad).

gosipAda beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya ghibah, sehingga ia seakan demikian populer di tengah-tengah masyarakat. Diantara faktor-faktor tersebut adalah:

1        Tidak tabayun sebelumnya, artinya ketika mendengarkan sesuatu yang jelek tentang seseorang tidak dicari tau kebenaran berita tersebut.

2        Kemarahan seseorang terhadap saudaranya bisa menyebabkan terjadinya ghibah, karena dengan kemarahan itu, tanpa berfikir panjang ia gampang menyebutkan aib dan kekurangan saudaranya.

3 Hasad dan dengki jika orang lain dipuji menyebabkan seseorang tidak bisa mengontrol lisannya. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. bersabda: “Berhati-hatilah dengan kedengkian, karena dengki bisa memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

4        Tidak teliti dalam mengungkapkan sesuatu atau menggambarkan tujuan yang dimaksud. Artinya, ketika seseorang salah dalam menyampaikan suatu berita, maka tidak tertutup kemungkinan si pendengar salah dalam gosipmemahami berita tersebut dan mengakibatkan salah persepsi.

5        Berlepas diri dari suatu tuduhan dan kesalahan juga menjadi penyebab terjadinya ghibah, karena ingin membela diri.

6        Bercanda juga menjadi salah satu penyebab terjadinya gosip dan gunjingan, kerena membuka aib orang lain dan mencemarkan nama baik seseorang, walaupun tujuannya ingin membuat orang lain tertawa dan senang.

Walaupun tidak dapat divonis secara umum, tapi juga tidak dapat dipungkiri bahwa ghibah banyak dilakukan oleh kaum wanita. Perasaan marah, dengki, malu lalu menutup kesalahannya, atau bahkan hanya untuk sekedar bercanda dan omong kosong saja, merupakan beberapa motivasi terjadinya ghibah ini. Acara kumpul ibu-ibu tidak jarang berubah menjadi ajang membicarakan orang lain. Contoh konkrit yang sering kita lihat di tanah air adalah ketika ibu-ibu arisan, bertemu di pasar, atau bahkan sedang menyuapkan anaknya di teras rumah dan berkumpul dengan teman sebaya. Ada saja hal-hal yang dianggap menarik untuk dibicarakan: gosip artis di televisi, tetangga yang bertengkar, urusan suami orang, dan lain sebagainya. Tentu saja, ini bukan berarti bahwa kaum adam tidak terjangkit ‘kegiatan ini’.

Gossip

Padahal, ghibah ini jika sering dilakukan akan berdampak negatif bagi si pelakunya, diantaranya: mengeraskan hati, mendapatkan murka dan kemarahan Allah, sehingga azab pedih dari Allah yang akan diterimanya di kubur dan di akhirat nanti. Adapun dampak negatif dalam masyarakat, ghibah bisa menimbulkan perselisihan dan perpecahan, sehingga akan sulit tercipta ketenangan dan hubungan yang harmonis ditengah-tengah masyarakat.

Berikut ini adalah beberapa kiat yang bisa menangkal bahaya ghibah:

quran1        Meningkatkan ketaqwaan dengan mendekatkan diri kapada Allah, misalnya sering bertilawah dan berzikir agar hati menjadi lunak dan jiwa menjadi tenang.

2        Berfikir sebelum memulai pembicaraan, agar yang keluar dari mulut adalah perkataan yang baik-baik saja, dan mengingat bahwa semua yang kita bicarakan dan kerjakan akan dicatat oleh malaikat Raqib dan Atid.

3        Tabayun sebelum menyampaikan berita, supaya ukhuwah tetap terjaga dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

4        Mengingatkan orang lain ketika ia menceritakan saudaranya, agar ia tidak terjatuh kedalam lembah yang bernama ghibah.

Ada beberapa pengecualian yang disebutkan Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim dan Riyadhus Shalihin. Beliau menyebutkan bahwa menyebut keburukan orang lain diperbolehkan untuk tujuan syara’, yaitu yang disebabkan oleh enam hal:

1        Orang yang teraniaya (mazhlum) boleh menceritakan dan mengadukan kezaliman orang yang menzhaliminya kepada seorang penguasa atau hakim atau kepada orang yang berwenang untuk menegakkan amar makruf nahi munkar dan memutuskan suatu perkara dalam rangka menuntut hak orang yang teraniaya ini. Asalkan ia bertujuan untuk meminta bantuan dan keadilan, karena Al-Qur’an dalam surat An-Nisa ayat 148 sudah menerangkan hal ini: “Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

2        Meminta tolong untuk mencegah kemungkaran dan mengembalikan orang yang berbuat maksiat kembali ke jalan yang benar. Hal ini termasuk amar ma’ruf nahi munkar.

3        Meminta fatwa (istifta’) atau minta keterangan terhadap suatu penjelasan, hal ini hanya boleh dilakukan dengan tidak menyebutkan keburukan seseorang secara berlebihan. Sebagai contoh kita mengambil ibrah dari kisah istri Abu sofyan yang diam-diam mengambil uang suaminya lalu ia mengadukan kepada Rasulullah saw kalau suaminya pelit, lalu Rasulullah saw membolehkannya asalkan tidak berlebihan.

4        Memperingatkan kaum muslimin dari beberapa kejahatan seperti:

a. Apabila ada perawi hadis, saksi, atau pengarang buku yang bersifat jelek atau berkelakuan tidak baik, menurut ijma’ fatwaulama kita boleh bahkan wajib memberitahukannya kepada kaum muslimin. Hal ini dilakukan untuk memelihara kebersihan syariat. Ghibah dengan tujuan seperti ini jelas diperbolehkan, bahkan diwajibkan untuk menjaga kesucian hadis dan syariat. Apalagi hadis merupakan sumber hukum kedua bagi kaum muslimin setelah Al-Qur’an.

b. Apabila kita melihat seseorang membeli barang yang cacat atau membeli budak (untuk masa sekarang bisa dianalogikan dengan mencari seorang pembantu rumah tangga) yang pencuri, peminum khamar, dan sejenisnya, sedangkan si pembelinya tidak mengetahui, maka kita boleh memberitahunya untuk memberi nasihat atau mencegah kejahatan terhadap saudara kita, bukan untuk menyakiti salah satu pihak.

c.   Apabila kita melihat seorang penuntut ilmu agama belajar kepada seseorang yang fasik atau ahli bid’ah dan kita khawatir terhadap bahaya yang akan menimpanya. Maka kita wajib menasehati dengan cara menjelaskan sifat dan keadaan guru tersebut dengan tujuan hanya untuk kebaikan semata.

5        Menceritakan kepada khalayak ramai tentang seseorang yang berbuat fasik atau ahli bid’ah seperti, peminum minuman keras, penyita harta orang lain secara paksa, pemungut pajak liar atau perkara-perkara bathil lainnya.
Ketika menceritakan keburukan itu kita tidak boleh menambah-nambahinya dan hanya diniatkan untuk kebaikan.

6        Jika seseorang sudah dikenal dengan julukan si pincang, si pendek, si bisu, si buta, atau sebagainya, maka kita boleh memanggilnya dengan julukan-julukan itu agar orang lain langsung mengerti,namun jika tujuannya untuk menghina, maka haram hukumnya. Jika ia mempunyai nama lain yang lebih baik, maka lebih baik memanggilnya dengan nama lain itu.

tulisWahai para muslimah! Ku persembahkan tulisan ini agar kita bisa saling mengingatkan ketika lupa, dan sama-sama kita berdoa kepada Allah agar lidah-lidah kita selalu terjaga dari hal-hal yang dilarang. Untuk kaum Adam semoga juga bisa mengambil ibrah dari tulisan ini. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

*Mahasiswi S2 Liga Arab & tk 4 Tafsir al-Azhar – Gen 2 MAKN Putri

Tulisan ini pernah dimuat dalam buletin SINAI

UMMAHATUL MUKMININ DALAM PERIWAYATAN HADIS

7 November 2009 at 11:07 pm | Posted in Gen 1, hadis | Leave a comment
Tags: , , ,

oleh: Dwi Sukmanila Sayska*

muslimahDalam lintas sejarah Islam, Umahatul mukminin mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyebaran hadis dan pengajaran agama pada generasi sahabat dan tabi’in terutama kepada kalangan wanita muslimah. Tidak dapat dipungkiri, bahwa mereka adalah wanita-wanita mulia yang mendapat kesempatan merekam secara detail segala perikehidupan Rasulullah saw, yang kemudian disampaikan pada kaum muslimin. Mereka merupakan rujukan pertama bagi para sahabat – setelah wafatnya Rasulullah saw– dalam menanyakan masalah-masalah tertentu, terlebih masalah yang berkaitan dengan keluarga dan wanita. Rumah-rumah mereka dijadikan sebagai madrasah-madrasah ilmu, tempat kaum muslimin bertanya dan meminta fatwa. Sehingga keberadaan Ummahatul mukminin menempati posisi terpenting, baik sebagai sumber pembelajaran ataupun sebagai figur teladan — khususnya bagi kaum muslimah — dalam keimanan. Begitu juga dalam komitmen mereka mempertahankan norma-norma Islam, dimana mereka harus mengemban kewajiban-kewajiban khusus dan berat, sebagai konsekwensi logis atas tingkatan prestise yang mereka dapat melampaui wanita-wanita lain dalam masyarakat , sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-Ahzab ayat 32-33, yang artinya :

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita-wanita lain jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu “tunduk” dalam berbicara, sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah terdahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya,. Sesungguhnya Allah ingi menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlu bait dan memberihkanmu sebersih-bersihnya.”

rumah ummahatul mukminin - kini nabawi

Bagaimanapun, Al-quran dan hadis juga menggambarkan mereka sebagai sejumlah gambaran pribadi yang diwarnai berbagai konflik. Bahkan, mereka merupakan pemicu turunnya mayoritas ayat-ayat dan hadis-hadis tentang keluarga dan wanita. Mereka digambarkan sebagai implementasi emosionalisme, irrsionalitas, keserakahan dan sikap pembangakangan perempuan, yang pada dasarnya, mewakili gambaran sikap dan tindak tanduk perempuan secara keseluruhan.

Rasulullah saw wafat dan meninggalkan sembilan Ummahatul mukminin, yang masing-masing mempunyai andil dalam periwayatan hadis. Perbedaan kuantitas hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah saw, dipengaruhi sedikitnya oleh 5 faktor, yaitu :

1.      perbedaan daya tangkap, daya hafal dan kapasitas intelektual.

2.      perbedaan durasi waktu mendampingi atau bersama dengan Rasulullah saw.

3.      perbedaa dalam menahan diri untuk meriwayatkan hadis

4.      perbedaan kesibukan

5.      perbedaan umur atau masa hidup setelah Rasulullah saw wafat.

flower-power

AISYAH BINTI ABU BAKAR

Aisyah merupakan anak perempuan Abu Bakar, sahabat senior yang termasuk orang pertama memeluk Islam. Ia dilahirkan dalam cahaya Islam. Di usia yang sangat muda dan masih suka bermain, ia pindah ke rumah Nabi saw, empat turunnya wahtu dan sumber ilmu. Rasulullah sangat mencintai Aisyah dan memiliki posisi yang istimewa disisi Rasulullah. Banyak hadis dan riwayat yang menunjukan hal tersebut.

Ia terkenal dengan kedalaman ilmu dan kuat hafalannya. Sejak kecil, ia sudah sering mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran, menghafalkan serta mencatat waktu turunnya, mengingat wahyu tidak pernah turun saat Nabi bersama istri-istri beliau kecuali ketika bersama Aisyah. Pemahamannya tentang al-Quran juga ditunjang oleh keilmuannya di bidang bahasa, syair dan sastra. Itulah yang menjadikannya sebagai salah satu tokoh tafsir di kalangan sahabat. Dia memiliki mushaf khusus yang menghimpun Al-Quran dan tafsirnya, dan jika dikumpulkan, besarnya mencapai tiga kali lipat mushaf Ustmani.

Keistimewaannya di bidang intelektual juga terbukti dengan posisinya sebagai seorang muhaddis dan penghafal Sunnah. Peranannya dalam transformasi Sunnah dan penyebarannya pada kaum muslimin sangat penting sekali, terutama menyangkut masalah keluarga dan prilaku Nabi saw dalam rumah tangganya. Hafalan dan pemahamannya yang brilian, menjadikannya sebagai referensi bagi para sahabat dalam memutuskan masalah-masalah yang diperselisihkan.

Kejeniusan Aisyah tidak sampai disitu saja. Dia juga ahli fikih dan menguasai hukum-hukum Islam. Hal ini diakui oleh tokoh-tokoh sahabat, bahkan para sahabat senior pun tak segan-segan menanyakan permasalahan yang tidak mereka fahami kepada Aisyah. Sejak Rasulullah saw wafat, Aisyah aktif memberikan fatwa dan pengajaran pada kaum muslimin, sampai akhir hayatnya.

Diantara semua Ummahatul Mukminin, Aisyah lah yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw. Tercatat 2210 hadis yang diriwayatkannya, sehingga menempatkannya di posisi kedua terbanyak setelah Abi hurairah.
Sementara itu tema-tema hadis yang diriwayatkan Aisyah diantaranya :

1.      keimanan, wahyu, ilmu, bacaan Al-Quran dan tafsir.

2.      masalah thaharah : wudlu, tayammum, mandi untuk shalat Jum’at, hadas besar, haid dan istihadlah

3.      masalah shalat : tata cara dan waktu shalat, shalat-shalat Sunnah dan shalat mayyit, hukum-hukum shalat, azan Rasulullah, zikir, doa, imam dan keutamaan berjamaah,  etika dan keutamaan mesjid.

4.      masalah puasa : penetapan hilal dan waktu sahur, hukum puasa bagi orang yang junub di pagi hari, mencium istri saat puasa, puasa Sunnah dan I;tikaf, larangan puasa wishal (tampa berbuka di waktu magrib), qadha puasa dan lailatul qadar.

5.      masalah haji : memakai wangi-wangian sebelum ihram dan tawaf ifadlah, pembayaran hadyu (denda haji), umrah Rasulullah saw, pembangunan Ka’bah dan keutamaannya, hewan semblihan dan kurban

6.      masalah jual beli dan sedekah

7.      masalah pembebasan budak

8.      penyembuhan orang sakit dengan obat dan doa (ruqyah)

9.      masalah Nazar, kesaksian dan hudud (hukuman)

10.  Jihad dan peperangan Rasul

11.  Pernikahan : hubungan suami istri dan thalak.

12.  kejadian-kejadian fitnah, tanda-tanda kiamat, Qadar dan penciptaan.

Mereka yang banyak meriwayatkan hadis dari Aisyah diantaranya :

  • kalangan shahabat : Abu Bakar, Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar, Abu Musa al Asy’ary, Abdullah bin Abbas, Amr bin Ash, Syafiyah binti Syaibah.
  • Kalangan keluarganya : Urwah bin Zubair, Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Ummu Kultsum, Hafsah dan Asma, Abdullah bin Zubair dan Aisyah binti Thalhah.
  • Kalangan tabi’in : Masruq bin Ajda, Al Aswad bin Yazid, Sa’id bin Musayyab, Mujahid, Ikrimah, Abu Salamah bin Abdurrahman bin auf, Amrah binti Abdurrahman, Shafiyah binti Abu Ubaid dan Alqamah binti Qais.

Sedangkan rantai periwayatan aisyah yang paling shahih adalah :

§  Hisyam -> Urwah -> Abu Bakar -> Aisyah

§  Yahya bin Sa’id -> Ubaidillah bin Amr bin Hafsh -> al Qasim -> Aisyah

§  Abdurrahman bi al Qasim -> Abu Bakar -> Aisyah

§  Aflah bin Hamid -> Al Qsim -> Aisyah

§  Az zuhri -> Urwah -> Aisyah

UMMU SALAMAH

Dia adalah Hindun binti Umayyah bin al Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makzum. Ayahnya merupakan putra Qurays yang masyhur dan disegani. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Ummu Salamah telah menikah dengan Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makzum, yang merupakan saudara sesusuan Rasulullah. Ia juga merupakan anak dari bibi Rasulullah saw; Barrah binti Abdul Muthalib dan pernah dua kali hijrah bersama Rasulullah saw.

Abu Salamah dan Ummu Salamah berasal dari keturunan bangsawan yang mempunyai andil besar di awal perjuangan Islam. Mereka ikut hijrah ke Habsyah dan juga ke Medinah. Di Medinah, Ummu Salamah mengurus anak-anak sementara Abu salamah ikut berjihad dengan kaum muslimin. Ia tidak ketinggalan dalam perang Badar dan Uhud yang menyebabkannya meninggal dunia tahun 4 H. Kemudian Rasulullah menggantikan posisi Abu Salamah.

Ummu Salamah adalah wanita yang pandai dan agamis, Rasulullah sangat menghargai pendapatnya. Ia juga dianggap ahli fikih yang termasuk kelompok sahabat mutawassith dalam memberikan fatwa. Ia merupakan ummulmukminin yang paling terakhir meninggal, yaitu pada tahun 62 H, tidak lama setelah pembunuhan Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Hadis yang diriwayatkan Ummu Salamah berjumlah 378. Tema riwayat hadis Ummu Salamah –sebagaimana halnya riwayat Aisyah– didominasi oleh hukum dan ibadah. Diantaranya :

1.      masalah thaharah tentang : mandi junub, wanita haid dan istihadhah.

2.      masalah shalat : bacaan Al-Quran Nabi dan cra shalatnya, shalat witir dan sunnah, doa setelah shalat, pakaian perempuan dalam shalat, membaca shalawat Nabi saat tahiyat dan qunut.

3.      masalah zakat : nafkah suami terhadap anak dan istri, keutamaan sedekah dan zakat perhiasan.

4.      masalah puasa : puasa orang yang berhadas ketika shubuh, mencium istri saat puasa dan keutamaan puasa tiga hari setiap bulan dan bulan Zulhijjah.

5.      masalah haji : haji bagi wanita, haji dan umrah di mesjidil aqsha dan Tawaf perpisahan.

6.      masalah jenazah : doa mayit, laragan bercelak bagi wanita yang sedang ihdad (ditinggal mati suaminya)

7.      masalah etika : menutup aurat, miuman dan mengangkat kepala ketika keluar Ka’bah.

8.      masalah pernikahan : ihdad dan menyusui.

9.      masalah peperangan : peperangan di masa Rasulullah saw dan tragedi pasca wafat Rasulullah saw dan Imam mahdi.

Diantara mereka yang meriwayatkan hadis dari Ummu Salamah adalah :

1.      kalangan sahabat : Aisyah, Abu Said al Khudry, Umar bin Abi Salamah, Anas bin Malik, Buraidah bin Hashin, Sulaiman bin Buraidah, Abu Rafi’ dan Ibn Abbas.

2.      kalangan tabi’in, yang paling masyhur adalah : Sa;id bin Musyyab, Sulaiman bin Yasar, Saqiq bin Salamah, Abdullah bin abi Malikah, Atha’ bin abi Ra’bah, Nafi’ bin Jubair dan lain-lain.

3.      kalangan wanita : anaknya Zainab, Hindun binti al Haris, Shafiyah binti syaibah, Shafiyah binti abi Ubaid, Ummu Walad Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, amrah binti Abdurrrahman dan Ummu Muhammad bin Ibnu Qais.

MAIMUNAH

Dia adalah Maimunah binti al Haris bin Hazn bin Bujair bin al Huzam bin Ruwaibah. Dia merupakan saudari Ummul Fadl, istri al Abbas, dan bibi dari Khalid bin al Walid dan ibn Abbas. Sebelum menikah dengan Nabi saw Mas’ud bin Umar al Tsaqafy kemudian dengan Abu Rahm bin Abdul Uzza. Dia meninggal tahun 51 H sebelum Aisyah.

Maimunah meriwayatkan 76 hadis dari Rasulullah saw, 31 diantaranya terdapat dalam Kutubussittah. Yang meriwayatkan hadis darinya adalah; keponakannya, Ibn abbas, Abdurrahman bin as-Saib dan Yazid bin al-Aslam. Juga Ubaid bin as-Sabaq, Kuraib, dan para hamba sahayanya.

Hadis-hadis yang diriwayatkan Maimunah pada umumya adalah hadis fi’ly atau berkaitan dengan perbuatan Nabi saw. Tentang masalah thaharah, ia meriwayatkan tentang cara mandi untuk menghilangkan hadas besar, wudlu Nabi dengan air sisa mandi beliau dan istrinya, membaca al-Quran di pangkuan wanita yang sedang haid, shalat setelah makan tampa wudlu kembali dan lain-lai yang berhubungan dengan prilaku Rasulullah saw.

Dalam bab shalat ia meriwayatkan hadis tentang keutamaan shalat di Mesjid Nabawi dan mayit yang dishalati sekelompok masyarakat. Tentang puasa ia meriwyatkan hadis yang berkaitan dengan puasa Nabi saw di Arafah. Tema lain adalah tentang rumah-rumah yang tidak dimasuki malaikat dan pengobatan Nabi saw dengan doa.

Walaupun hanya tiga tahun hidup bersama Nabi saw, tetapi Maimunah terbilang banyak meriwayatkan hadis yang menggambarkan secara terperinci kehidupan Rasulullah saw dalam rumah tangga. Apalagi kisah perkawinannya dengan Rasulullah saw termasuk pembahasan penting dalam Fikih Islam, dimana para ulama mengedepankan berbagai pendapat dalam masalah ini.

Diantara faktor yang mendukung banyaknya periwayatan Maimunah adalah, karena dia termasuk istri Nabi saw yang wafat lebih akhir dan yang banyak meriwayatkan darinya yaitu Ibn Abbas, mahramnya yang leluasa menemuninya menanyakan berbagai persoalan.

UMMU HABIBAH

Dia adalah anak perempuan Abu Sufyan bin Harb bin Umayah bin Abd Syams bin abd Manaf bin Qushay. Dialah satu-satunya istri Nabi saw yang mempunyai garis keturunan paling dekat. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Ummu Habibah pernah menikah dengan Ubaidillah bin Jahsydan ikut hijrah bersamanya ke Habsyah. Namun kemudian Ubaidillah memeluk agama Nasrani, sedangkan Ummu Habibah tetap mempertahankan kalimah tauhid.

Rasulullah meminangnya pada tahun 6 H, dengan mengutus seseorang ke Habsyah, dan memberikan mahar sebanyak 4000 yang dibawa oleh Syarahbil bin Hasanah. Inilah mahar tertinggi diantara semua istri-istri Nabi saw.

Ummu Habibah lahir 17 tahun sebelum kenabian dan meninggal dunia pada tahun 44 H. Sebelum meninggal beliau meminta maaf pada Aisyah dan Ummu Salamah atas apa yang terjadi selama mereka menjadi madu Rasulullah saw.

Orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Ummu Habibah diantaranya: saudaranya Mu’awiyyah, Urwah bin az-Zubair, Abu Sufyan bin Sa’id, Abdullah bin atabah, Abu Shalih bin Dzikwan, Shafiyah binti Syaibah dan Zainab binti abu Salamah. Ummu habibah meriwayatkan 65 hadis, 29 diantaranya terdapat dalam Kutubussittah.

Tema hadis riwayatnya yang terkenal berkaitan dengan pengharaman menikahi anak tiri perempuan dan saudara istri, dan tentang iddah dan permasalahannya. Juga tentang shalat sunah rawatib sesudah shalat fardu. Dalam masalah haji, hadisnya menceritakan tentang sunnah meningalkan Mina menuju Muzdalifah bagi mereka yang lemah atau karena kondisi di Mina yang penuh sesak.

Dalam masalah thaharah, dia meriwayatkan tentag wudlu, dan hal yang boleh dilakukan suami terhadap istrinya yang sedang haid. Sedangkan dalam maalah puasa, hadis yang diriwayatkannya berkaitan dengan bolehnya mencium istri saat puasa, doa setelah azan dan sebagainya.

HAFSAH BINTI UMAR

Dia adalah anak perempuan Umar bin Khattab bin Nufail bin ‘Abdul Uzzah bin Rab’ah. Sebelumnya ia pernah menikah dengan Khunnais bin Hadzafah as-Sami’. Ketika suaminya meninggal dalam perang Uhud, Umar menawarkan Hafsah kepada Abu Bakar dan Usman, namun mereka menolak karena Rasulullah pernah menyebut-nyebutnya. Ketika Umar mengadukannya kepada Rasulullah saw., maka Rasulullah saw. mengutarakan bahwa beliau akan menikahinya, sementara Utsman juga akan dinikahkan dengan Ummu Kultsum binti Rasulullah saw.

Hafsah lahir lima tahun sebelum kenabian, dan meninggal tahun 41 H. Rasulullah pernah menceraikannya dan kemudian merujuknya kembali.

Hfsah meriwayatkan enam puluh hadis, dan yang tercatat dalam Kutub as-Sittah hanya 28 Hadis, empat di antaranya disepakati oleh Bukhari dan Muslim., dan enam hadis diriwayatkan oleh Muslim.tema hadi syang diriwayatkannya adalah :

1.      dalam masalah thaharah tentang kewajiban mandi bagi orang yang bermimpi dan mengeluarkan sperma, dan menggunakan tangan kanan untuk makan dan minum.

2.      dalam masalah shalat tentang shalat Sunnah dua rakaat sebelum subuh.

3.      dalam masalah puasa tentang puasa Rasul tiga hari setiap bulan, mencium isteri saat puasa, puasa senin-kamis, puasa ‘Asyura dan lain-lain.

4.      dalam manasik haji, hadisnya membahas tentang pembunuhan hewan melata, sifat-sifat dalam kamar Nabi saw dan lain-lain.

5.      dalam masalah etika, yang membahas tentang hal yang layak dilakukan sebalem tidur.

6.      dalam masalah pengobatan dengan semut.

7.      dalam kisah-kisah fitnah, membahas tentang kemunculan Dajjal.

8.      dalam masalah tafsir mimpi.

Pada umumnya hadis-hadis yag diriwayatkan oleh Hafsah merupakan hadis-hadis fi’ly atau menggambarkan perbuatan Rasulullah saw. Hafsah termasuk istri Nabi saw yang banyak meriwayatkan hadis, yang diantara tidak diriwayatkan oleh istri-istri Nabi saw yang lain.

ZAINAB BINT JAHSY

Dia adalah Zaenab binti  Jahsy bin Riab bin Ya’mar bin Shabarah bin Marrah, anak dari bibi Rasulullah saw (Umaimah binti abdul Muthalib). Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Zaenab menikah dengan Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah saw. Setelah Zaed menceraikannya, Allah menikahkannya dengan Rasulullah berdasarkan nash al-Quran. Pernikahan tersebut tanpa saksi dan wali, itulah yang menjadikan ia berbangga terhadap isteri-isteri Nabi saw yang lain, karena mendapat dispensasi khusus langsung dari Allah swt.

Nabi menikahinya pada bulan Dzulqa’dah tahun 5 H. Ia wanita shalihah yang rajin beribadah di malam hari, berpuasa di siang hari, dan dia sangat dermawan terhadap orang lain. Ia bekerja menyamak kulit, melubanginya dan hasilnya diberikan pada orang lain. Beliau lah isteri pertama yang wafat setelah Rasulullah saw pada tahun 20 H. Ia hidup bersama Rasulullah selama lima tahun, dan meriwayatkan sebelas hadis dari Rasulullah saw., lima di antaranya terdapat pada Kutub as-Sittah.

Muridnya yang paling masyhur adalah keponakannya, Muhammad bin Abdullah bin Jahsy, Ummu Habibah, dan Zanab binti Ummu Salamah. Meskipun hadis yang diriwayatkannya terbilang sedikit, namun dialah perawi hadis Ya’juj ma’juj yang shahih. Ia juga meriwayatkan hadis tentang istihadah, iddah dan thaharah. Walaupun dia wafat lebih awal dari isteri-isteri Rasulullah yang lain, namun banyak kalangan yang meriwayatkan kisah pernikahannya dengan Rasulullah saw.

SHAFIYAH RA

Dia adalah Shafiyah binti Huyay binti Sa’yah, yang termasuk bani Israil (keturunan Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim as). Sebelum menikah dengan Rasulullah saw. dia telah menikah dengan Salam bin Abu Haqiq dan kemudian dengan Kinanah bin Haqiq, yang terbunuh dalam perang Khaibar. Ini mengakibatkan Shafiyah ditawan dan menjadi budak Dahyah al-Kalabi.

Ia wanita mulia yang pandai, cerdas dan agamis. Rasulullah sangat menghormati dan bersimpati padanya. Terbukti dengan pembelaan terhadapnya tatkala isteri-isteri beliau yang lain menjelek-jelekkannya, karena ia seorang Yahudi. Dia juga wanita yang suka berderma, bahkan pernah memerdekakan budak perempuan yang pernh menghinanya di depan para sahabat. Dia wafat tahun 36 H.

Diantara yang meriwayatkan hadis darinya adalah : Ali bin al-Husein, Ishaq bin Abdullah bin al-Haris, Kinanah (hamba sahayanya). Ada sepuluh hdis yang diriwayatknnya, enam di antaranya terdapat dalam Kutub as-Sittah.Tema periwayatannya mengenai i’tikaf, takaran sha’ Nabi saw, pernikahan Nabi saw dengan Maimunah, kisah pasukan yang dibantai (yang juga diriwayatkan oleh Salamah dan Hafsah).

JUWAIRIYAH BINTI AL HARIS

Dia adalah Juwairiyah binti al Haris bin abu Dharar al Khazaiyyah al Musthalaqiyyah. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, ia menikah dengan Musafi’ bin shafwan yang terbunuh dalam perang Al Marisii’ pada tahun 5 H, sehingga Juwairiyyah menjadi tawanan perang. Lalu ia meminta Rasulullah saw untuk membnatu memerdekakannya. Rasulullah saw memenuhi permintaannya, bahkan menikahinya. Hal ini membuat semua tawanan bani Mushthaliq dimerdekakan.

Juwairiyyah meninggal tahun 50 H, dan menurut sebagian pakar sejarah yang lain tahun 56 H.

Di antara orang yang meriwayatkan hadis darinya: Ibnu Abbas, Ubaid bin As-Sabaq, Mujahid, Abu Ayyub. Ia meriwayatan tujuh hadis, empat diantaranya terdapat dalam Kutub as-sittah. Temanya mencakup masalah puasa, doa-doa, zakat, hewan sembelihan, dan kemerdekaan budak.

SAUDAH BINTI ZAM’AH

Dia adalah Saudah binti Zam’ah bin Qais al-Qursyiyyah al-Amriyyah wanita kedua yang dinikahi Rasulullah saw setelah wafatnya Khadijah ra. Rasulullh saw menikahinya pada bulan Ramadhan tahun 10 H dan satu-satunya istri selama tiga tahun, hingga kemudian Rasulullah saw menikahi Aisyah ra. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw ia menikah dengan Sakran bin Amr.

Saudah merupakan wanita mulia yag disebut Rasulullah saw sebagai perempuan yang paling mencintai beliau. Namun saat ia tidak lagi mempunyai keinginan yang besar dalam kehidupan seksual, ia memberikan waktu gilirannya kepada Aisyah ra.

Ia hanya meriwayatkan 5 hadis dari Rasulullah, salah satunya mengenai hewan sembelihan yang dimuat dalam shahih Bukhary. Diantara musrid-muridnya adalah ; Ibnu Abbas, Yahya bin Abdullah Al anshari.

flower-rose-Dari pemaparan singkat tentang cuplikan biografi para Ummahatul mukminin, kita dapat memetik kesimpulan, bahwa mereka juga memegang peranan yang sangat penting dalam meriwayatkan hadis dan menyebarkan sunnah Rasulullah di kalangan kaum muslimin. Juga dalam menyampaikan ilmu dan fatwa-fatwa dalam meyelesaikan permasalahan yang muncul setelah Rasulullah saw berpulang ke hadirat Rabb-Nya.

SILSILAH

Walaupun periwayatan yang mereka punyai –kecuali Aisyah- terbilang sedikit, namun mengandung hal-hal yang tidak dapat terekam oleh orang lain, kecuali oleh mereka yang menyandang gelar ummahatul mukminin. Dan jika tidak ada periwayatan dari mereka, tentu para shahabat tidak akan mengetahui hal-hal tersebut, apalagi kita, generasi akhir zaman yang hidup berabad-abad setelah wafatnya Rasulullah saw. Wallahu A’lam bisshawab.

DAFTAR PUSTAKA

al Qardasi, Amal binti al-Husain, Daur Almar’ah fi Khidmah al hadist fi Al- qurun Ats-tsalatsah al ula, Darul Kutub al Qatariyah, 1999

as-Syayuti, Jalaluddin Abdurrahman bin abu Bakr, Tadribur rawi(darul kutub al-ilmiyah, Beirut.

_________, Itqon fi ulumil Qur’an, Al- maktabah Ats-qafiyah.tt

Thohan, Mohammad, Taisir Musthalahul Hadist. Darul fikr,tt

Az Zahaby, Sair A’laam an-Nubala. Darul fikr. tt

az Zarkasyi, Badruddin, Al Ijabah li irad ma istdrakathu aisyah ala ashahabah, al Maktab al Islamy.tt

*Lulusan s2 Univ Kebangsaan Malaysia, Gen 1 MAKN Putri

sumber: sukmanila.multiply

KASIH SAYANG SEORANG IBU…

6 November 2009 at 11:15 pm | Posted in AKHLAK | 1 Comment
Tags: , ,

oleh: Bunda ‘Ain Syams*

ibuDulu ketika kita kecil sering bertanya dalam hati “andaikan saya sudah besar saya akan berbuat ini atau akan berbuat itu suapaya saya bisa menyenangkan orang tua” itu dan itu yang selalu dipikirkan, kita ketika melihat orang tua bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berangkat pagi pulang sore, wajah ketika berangkat terlihat segar dan penuh harapan untuk mendapat sesuatau yang bisa di berikan kepada anak dan keluarganya dan ketika pulang dengan wajah yang lusuh dengan hiasan keringat tipis dimuka. Itu yang tiap hari orang tua kita lakukan untuk menyenangkan kita dan memenuhi kehidupan kita….

Apakah kita pernah memikirkan kembali bagaimana orang tua kita dengan rasa cemas dan bingung ketika kita sakit …tenaga…pikiran..uang….apakah dia hitung dan kembali dia tanyakan ketika kita sudah sembuh…?lagutkibu

Coba kalian pikirkan balasan yang pantas kalian berikan ketika orang tua kita memasuki waktu tuanya dan banyak membutuhkan kita ?

Tidak jarang ketika anak yang di besarkan orang tuanya dengan susah payah dia membesarkannya, tapi balasan yang orang tua tersebut dapat adalah dia di masukan panti jompo karena dengan alasan SAYA SIBUK DAN TIDAK ADA WAKTU UNTUK MENGURUS MAMAH…..

Apakah pernah anda bayangkan betapa sakit hatinya ketika ucapan itu terlontar dari seorang anak yang telah di besarkan dengan susah payah dan apakah pernah orang tua kita meminta balasan kepada kita ?

Apakah pernah ketika orang tua kita meminta kepada kita ingin disenangkan..mamah ingin di beri uang atau ingin di berikan rumah dengan dalih karena mamah telah melahirkan kamu dan mendidik dari kecil sampai kamu sukses, apakah pernah meminta itu ?

kasih ibuKetika orang tua melihat anaknya senang maka dia akan ikut merasa senang itulah kasih sayang yang tulus yang di berikan seorang ibu terhadap anaknya..ibu tidak akan pernah meminta balasan ketika dia dalam kerepotan sewaktu mengandung anaknya, ibu tidak akan meminta balasan ketika dia kesakitan ketika dia sedang melahirkan dan ibu tidak akan meminta balasan ketika dia dalam kesusahan mendidik dan membesarkan anaknya ….!!!!

Mudah-mudahan kita bisa memberi sesuatu kepada orang tua kita yang bisa membuat dirinya senang dan bahagia,…!!!!

Wallahualam..

*kamanakan gen 15 (‘Ain Syams Alqohiroh El-Irfany)

ANTARA DUA PILIHAN…

31 October 2009 at 11:25 pm | Posted in Gen 2, KELUARGA | 1 Comment
Tags: , , , , ,

oleh: Retno Suzanne Handayani*

1123129614620_Al_Azhar_University_Cairo_PicturePerjalanan hidup kadang susah ditebak, kita berencana lain yang terjadi pun berbeda. Inilah yang kerap terjadi dalam kehidupan kita. Walaupun sudah kita rencanakan matang-matang namun akhirnya bertolak belakang dengan apa yang kita inginkan.

Berangkat ke Kairo berniat untuk menguasai ilmu-ilmu agama namun ditengah jalan dicegat pemuda sholeh untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Tawaranpun diterima. get marriedAkad dilafadhkan. Status berubah menjadi nyonya…beberapa bulan menikah si mungil hadir. Kondisi naik turun. Masalahpun timbul…

onion-dp38

Antara studi dan rumah tangga, mana yang harus diprioritaskan?..pusiiiiiiing…

Diambil dua-duanya kerepotan, capek dan mumet..harus ada yang dikorbankan. Tapi aku gak mau… kondisi jadi labil…hu..hu..cinta suami,anak, tapi studi juga…waa..gedubrak.. pusing..

Akhirnya, suatu pertemuan dengan kakak senior di masjid Al-azhar mengubah kehidupan saya yang lesu menjadi lebih bersemangat. Pribadi yang sangat kuat dan lincah serta gesit ini memberi inspirasi buat saya untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. She is the inspirator for me..

Menjalani kehidupan dengan tiga status tidak lah mudah. Itu membutuhkan manajemen dan kekuatan ekstra. Ketika harus berhadapan dengan masalah-masalah yang bakal membuat kita lesu dan stress. Ketika itu kita membutuhkan energi tambahan yang bernama tausiah dan ruhiyah.

2801407387_e0602caa70_o

Status sebagai seorang istri dan ibu adalah sangat urgen dan hal yang muhim tidak bisa ditinggalkan tapi di sisi lain status sebagai pelajar mendesak untuk dikerjakan. Dalam masalah ini dituntut kejelian untuk memilah hal-hal yang lebih utama dikerjakan antara hal–hal utama. Tidak semua orang memiliki kejelian dan kepandaian dalam masalah ini.

2935422518_2e26e22b5b_o

Bagi ibu yang memiliki peranan ganda seperti ini, kadang emosinya mudah tersulut, cepat membludak. doaku harapankuJadi kekuatan ruhiyah, serta manajemen diri sangatlah penting. Pertolongan Allah swt adalah solusi dalam masalah ini, banyak berdoa semoga diberi kemudahan dalam segala kegiatan dan diberi kesabaran dalam menjalaninya. Inilah bait-bait nasehat yang dapat saya petik. Nasehat yang sangat berharga pembangun jiwa..

*Mahasiswi tk 3 Jur Hadis Univ Al-Azhar, Gen 2 MAKN Putri

Sumber tulisan: tufahah.multiply.com/

MUTIARA YANG HILANG

31 October 2009 at 10:42 pm | Posted in Gen 7, MOTIVASI, Uncategorized | 2 Comments
Tags: ,

oleh: Desri Nengsih*

Tidak ada makhluk yang paling sempurna selain wanita. Sosok penuh misteri yang tak ada tandingannya. Saban hari jutaan lelaki memuja dan bersimpuh memohon cintanya. Para penulis novel klasik hingga modern mengakuinya sebagai ratu dunia akhirat. Mereka dipuji lewat untaian kata yang begitu indah dan syair lagu-lagu yang merdu. Wanita menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering, di mana ada wanita di sana kehangatan hidup dapat dirasakan. Begitulah filosof barat memandang wanita.Itulah yang terjadi pada saat sekarang ini.

3155928814_a492f9954bNamun Islam memandang wanita bukanlah seperti itu. Dalam Islam wanita merupakan sosok yang sangat indah, ibarat batu permata yang penuh dengan harga diri. Kita akan temukan banyak ayat dan hadits bercerita tentang wanita hingga kita akan merasakan betapa agungnya wanita dalam kaca mata Islam, yang terkenal dengan kelembutan dan keanggunannya. Namun dengan keanggunannya itu bukanlah berarti ia lemah.

Di balik tabir kelembutan dan keanggunanya itulah tersimpan kilauan mutiara yang akan menggemilangkan Islam di mata dunia. Muslimah yang beridentitas gemilang inilah yang pernah menjadi sayap kiri dalam perjuangan li I’lâ kalimatillâh.

Tetapi pada zaman sekarang ini masih adakah muslimah yang berjiwa kental seperti Sayyidatina Aisyah atau Ummu Habibah, mutiara Islam yang lahir dari tapak berlumpur darah yang tercatat dalam sejarah agung Islam? Apakah mutiara itu hanya bersinar pada zaman tersebut, bukan pada zaman sekarang?

Fenomena Muslimah Hari Ini

Pada zaman sekarang, kita telah kehilangan mutiara Islam terbesar, bahkan lebih besar dari pada kepergian seorang ulama, karena tangan wanita mampu menggoncang dunia, hingga hilanglah mutiara Islam dan lahirlah kaca yang telah pudar kilauannya. Adakalanya keterlaluan dalam satu perkara tetapi mengabaikan perkara yang lain. Melaksanakan ketaatan kepada suami tetapi gagal dalam hubungan kekeluargaan. Melaksanakan ketaatan kepada keluarga tetapi gagal dalam membina rumah tangga. Menjaga hubungan dengan orang lain tetapi melalaikan tuntutan istiqomah dalam menambah ilmu pengetahuan. Berikrar ingin menegakkan daulah tapi gagal menyelesaikan masalah sendiri, lantas hidup dalam dunia angan-angan, menjadikan afdhalunnisa’ sebagai impiannya tetapi hanya eksternal saja.

Padahal Islam tidak pernah sedikitpun memerintahkan umatnya seperti itu, bahkan Islam tidak pernah bersikap diskriminasi dalam menghukum dan menjelaskan suatu hukum, tapi kitalah yang mendiskriminasikannya.

Firman Allah Swt. dalam Al-Baqarah ayat 85 Apakah kamu beriman dengan sebagian kitab dan ingkar dengan sebagian yang lain?”. Itulah yang terjadi pada saat ini, kita sebagai seorang muslimah begitu jauh dari hakikat sebenarnya, telah kehilangan identitas dan kekuatan jiwa, namun tidak menyadarinya.

Kemudian ironisnya lagi, banyak wanita Islam yang tergiur dengan kebebasan model barat mulai dari pakaian bahkan sampai ke harga diri mereka. Banyak kita lihat wanita-wanita antri dalam membeli tiket kebebAsan, dan saban hari kita saksikan wanita yang masih mengaku Islam tetapi sikap mereka tak ubahnya seperti wanita barat dan kafirîn. Mereka tanggalkan kehormatan yang diberikan Islam dan memilih tempat di emperan.

2917562366_9f2722e9ed_oDi sisi lain, kita juga menemukan muslimah yang kembali ke masa kejayaan jahiliyah dengan menyukai mistik keuntungan fatamorgana lewat arisan dan berbagai hal lain yang menggadaikan harga diri dan iffah mereka. Itu semua adalah misi-misi orang barat, yang notabenenya Yahudi dan Nasrani untuk menghancurkan Islam dengan “7F” yaitu food, film, fashion of life style, free thingkers, financial, faith, and friction. Bahkan mereka juga menambahkan freedom of religion dan frustration, semuanya ini mempunyai dampak yang begitu luas bagi kaum muslimin khususnya di kalangan muslimah terutama di Indonesia.

Sejarah telah membuktikan, betapa karir gemilang ukiran tokoh-tokoh legendaris dunia tidak dapat dipisahkan dari sentuhan lembut cinta seorang wanita. Betapa banyaknya pula persaudaraan mukmin terputus hanya karena fitnah wanita. Seorang anak tega meninggalkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita. Islam datang memberikan solusi terhadap permasalahan umatnya dari yang sekecil-kecilnya sampai ke yang sebesar-besarnya. Bahkan Al-Quran dan sunnah pun telah memaparkan tips-tips yang penting dilaksanakan dan dijaga dalam membentuk muslimah yang berkredibiliti unggul. Mulai dari syakhsiah muslimah terhadap Robbnya, diri, kedua orang tua, suami, anak-anak, kereabat, jiran, saudara, sahabat dan masyarakat.

Islampun talah merangka sebuah kehidupan yang sangat perfect dalam membina kepribadian muslimah. Tapi muslimah itu lalai dalam mencari dan menerimanya. Misalnya dalam menjalani fatroh pertunangan, muslimah tidak mudah terpedaya dengan desakan tunangan untuk melakukan hal-hal yang menjatuhkan dan menodai muruah diri dan keluarga, serta dalam pemilihan seorang suami muslimah perlu mempunyai pegangan agar tidak mudah goyah apabila terpaksa menerima pilihan keluarga yang terpikat dengan rupa, harta, atau kedudukan yang tidak memiliki dîn.

Menjelmakan roh idola srikandi Islam

Siapa sih yang nggak kenal dengan Ummu Sulaim? Rugi banget kalau nggak tahu… Dialah  seorang idola pilihan Islam, ketika ia dan anak-anaknya memaparkan kecekalan dan kekuatan imannya, dalam keadaan suaminya Malik Bin Dinar berada dalam kekufuran dan menentang Islam. Begitu juga dengan sohabiyat lainnya seperti Ummu Habibah Binti Abi Sofyan dalam memperthankan akidah dan agamanya pada hari suami kesayanganya murtad.

2828242048_db0c14b344Suatu asas yang perlu dijaga dan diperhatikan oleh seorang muslimah ialah menjaga agamanya, kesucian akidahnya, dan menjadi muslimah yang diridhoi Allah. Seorang muslimah yang tidak mempunyai kekuatan iman niscaya tidak akan merasakan kemulian dirinya sebagai seorang muslimah. Tapi jika ia mempunyai iman yang kuat, akidah yang mantap niscaya ia tidak akan mudah terbawa arus yang menjatuhkannya ke jurang kehinaan, apalagi dalam menjalani kehidupan yang glamour. Dengan pakaian iman dan takwa inilah ia mampu membentuk dirinya, mempertimbangkan suatu perkara dengan bijaksana, menghiasi kesehariannya dengan pebuatan  dan perkataannya yang tidak melukai perasaan orang lain. Berpikir sebelum bertindak dan berbuat serta tidak gegabah dalam menghadapi masalah. Walupun dalam keadaan marah ia masih bertindak dengan bijaksana dan terkendali dengan kekuatan imannya.

Sayyidatuna Aisyah, Ummul Mukminîn yang terkenal dalam arena srikandi Islam mempunyai kepribadian yang tinggi, sifat ridho yang mendalam terhadap Allah dan rasulnya, segala prilakunya disulami dengan adab dan penuh kehormatan. Seperti peristiwa yang dihadapinya ketika dirinya difitnah sewaktu pulang dari peperangan Musthaliq. Perang Musthaliq merupakan suatu peristiwa yang dijadikan Allah untuk menguji Rasulullah dan seluruh umat Islam pada zaman itu. Dalam peristiwa itu terlihatlah ketegaran Aisyah sebagai muslimah sejati yang sabar dan mempunyai keimanan dan kepercayaan kepada Allah dalam membela diri.

Ibnu Qoyyim berkata Semasa ujian itu didatangkan, Allah telah menahan wahyu kepada Rasulullah selama sebulan karena Aisyah, dan untuk mendatangkan hikmah yang telah diqodho dan diqadarkan sebelumnya.” Kemudian kehebatan Aisyah dari segi ma’rifat, kekuatan iman, ketauhidan, dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan menzalimi hambanya yang beriman, serta keyakinan terhadap suaminya Rasulullah.

deuy-kt-cypSaudariku… Walaupun mereka telah lama tiada, tetapi ruh jihad dan ketakwaan mereka masih tetap hidup, maka tugas kitalah untuk menjelmakan ruh dan ketakwaan wanita-wanita agung itu dalam kehidupan kita. Meniupkannya ke jiwa insan yang lain demi menyelamatkan dunia hari ini dari keruntuhan. So… mulailah dari diri sendiri, mulailah detik ini juga. Bersiaplah menjadi wanita hebat karena kitalah Aisyah-Aisyah abad ini.

Wallahul musta’an. Wallâhu ‘a’lam bish-showâb.

*Mahasiswi tk3 jurusan Hadis Univ Al-Azhar, Gen 7 MAKN Putri

Tulisan ini pernah diterbitkan Buletin Mitra edisi 5o

Program Almakkiyat tahun ini

9 October 2009 at 6:43 pm | Posted in ORGANISASI | 5 Comments
Tags: , , ,

PROGRAM KERJA ALMAKKIYAT

PERIODE 2009-2010

Program kerja almakkiyat terdiri dari:

  1. Program Pilihan.
  2. Program Khusus.

1. PROGRAM PILIHAN :

Program Almakkiyat tahun ini berupaya mengutamakan kualitas bukan sekedar kuantitas, sehingga ditampilkan sedikit agak berbeda.  Setiap anggota Almakkiyat memiliki kebebasan memilih program-program yang ditawarkan sesuai dengan kecendrungan masing-masing dengan mempertimbangkan kesibukan dan aktifitas anggota di luar kegiatan Almakki. Tentunya pengurus terlebih dahulu melakukan pendataan terhadap anggota Almakkiyat, program-program apa saja yang akan diikuti atau tidak diikuti sama sekali. Diharapkan kontribusi dan kedisiplinan anggota dalam mengikuti program yang telah dipilih sesuai dengan aturan yang ada.

1. Menghafal Matan Tuhfatul Athfal

Tujuan :

Rata-rata anggota Almakkiyat telah belajar tahsin dengan masyayikh yang berbeda-beda bahkan ada yang telah diamanahkan ijazah yang bersanad sampai ke Rasulullah SAW. Oleh karena itu, demi peningkatan kualitas alangkah bagusnya menyempatkan waktu menghafal matan tuhfatul athafal. Dengan catatan, kegiatan dikontrol oleh koordinator Almakiyyat langsung. Dimanapun berada dan bertemu akan ditanya perkembangan hafalan anggota yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Kegiatan :

Almakkiyat yang memilih program ini, masing-masing memiliki teman setoran dan catatan setoran. Waktu dan tempat setoran tergantung kesepakatan masing-masing. Pada term II nantinya, akan diadakan lomba hafalan sekaligus syarah. Sistem penilaian bukanlah juara 1, 2, 3 tetapi disesuaikan dengan predikat yang mereka raih seperti mumtaz, jayyid jiddan ataupun jayyid. Sehingga tidak menutup kemungkinan semua peserta meraih mumtaz. Insya Allah peserta akan mendapat piagam dari Almakki sebagai penghargaan dari kesungguhan dan kesetiaan mereka mengemban amanah sebagai penuntut ilmu.

2. Pelatihan Penulisan Khat Riq’ah Bi Qalam Al ‘Adi

Tujuan :

Khat riq’ah merupakan khat yang paling mudah dan membantu meningkatkan kemampuan menulis lebih cepat dibanding khat yang lain. Sengaja disini diadakan pelatihan khat riq’ah bi qalam al ‘adi karena dirasa lebih efisien karena peserta hanya perlu menyediakan buku tulis dan pensil. Sedangkan jika diadakan pelatihan khat bi qalam alkhat ditakutkan akan memakan waktu yang cukup lama. Dengan pelatihan ini diharapkan para peserta akan:

  1. memiliki tulisan sesuai dengan kaidah khat riq’ah. Banyak terjadi kasus, ketika menulis arab bercampur-baur antara khat riq’ah dan naskhi,
  2. tulisan bisa dibaca jelas ketika menulis catatan,  ujian ataupun mengajar nantinya,
  3. mampu mencatat  dengan lebih cepat ketika mendengar ceramah bahasa arab ataupun muhadharah di kuliah.

Kegiatan :

Program ini diamanahkan langsung kepada koordinator Almakkiyat. Bagi anggota Almakkiyat yang memilih program ini, masing-masing menyediakan buku tulis dan pensil. Nanti akan diadakan pertemuan perdana khusus dengan anggota khat sebagai muqaddimah sekaligus penugasan PR yang dikerjakan di rumah. Untuk pelajaran selanjutnya akan dilaksanakan kapan saja dan dimana saja ketika bertemu dengan penanggung jawab khat, tentunya disesuaikan dengan kondisi dan keadaan. Pelajaran selanjutnya hanya boleh dilanjutkan setelah pengoreksian PR yang telah dikerjakan sebelumnya, dengan catatan satu kali pertemuan untuk satu pelajaran. Akan dipilih 5 orang peserta terbaik yang lebih cepat menamatkan pelajarannya sampai huruf terakhir. Peserta terbaik juga akan mendapatkan piagam penghargaan dari Almakki atas apresiasinya berlomba-lomba dalam kebaikan.

3. Kajian Ilmiah

Tujuan :

Kajian ini berguna untuk melatih peserta membuat makalah ilmiah dan mempresentasikannya di depan forum, serta memotivasi untuk aktif berdiskusi dan kritis terhadap kajian Islam kontemporer.

Kegiatan :

Kajian ilmiah terdiri dari 2 kelompok kajian: kajian kontemporer dan kajian tafsir hadis. Anggota Almakkiyat yang memilih kajian ini dapat memilih salah satu dari 2 kajian yang disodorkan atau dapat juga mengikuti keduanya sekaligus. Diasumsikan satu kelompok kajian berjumlah 5 sampai 8 orang. Setiap kelompok kajian dapat menunjuk seorang  penanggung jawab untuk menghandel anggotanya. Anggota kajian akan mendapatkan tugas sebagai pemakalah sesuai dengan silabus yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam setiap pertemuan, pemakalah diharapkan membagi makalahnya kepada setiap anggota kelompok. Masalah waktu dan tempat disesuikan dengan kesepakatan masing-masing kelompok kajian. Jika diantara anggota kajian tidak bisa hadir, diharapkan menginformasikan kepada penanggung jawabnya dengan alasan yang konkrit. Anggota Almakkiyat lain yang bukan anggota kelompok kajian tetap diperbolehkan menghadiri dan berdiskusi dalam kajian ini. Menjelang kepengurusan Almakkiyat berakhir, makalah-makalah terbaik akan dibundel menjadi sebuah buku.

4. Pelatihan komputer (Microsoft Word, Excel dan Power point)

Tujuan :

Anggota mampu menulis dengan menggunakan Microsoft word, excel dan power point.

Kegiatan:

Pelatihan komputer akan dilaksanakan beberapa kali pertemuan, dengan materi teori dan praktek. Kegiatan ini disesuaikan menurut kesepakatan anggota Almakkiyat yang memilih program ini. Jika keadaan memungkinkan akan diadakan pelatihan editor sebagai kegiatan tambahan.

2. PROGRAM KHUSUS

1. Mengaktifkan Blog Almakkiyat

Aktifasi blog bertujuan untuk melatih dan mengembangkan potensi menulis Almakkiyat serta menjadi ajang diskusi di dunia maya. Pengurus akan membagikan undangan menulis kepada para anggota sesuai dengan kapabilitas dan bidang masing-masing. Pengurus menargetkan mampu meng-update tulisan minimal sekali seminggu serta memuat tulisan-tulisan Almakki putri di luar Mesir. Semua kegiatan Almakkiyat juga akan diposting di blog, agar dapat diakses oleh seluruh anggota.

2. Mengadakan Silaturrahmi Akbar Di Akhir Pengurusan

Rencananya, silaturrahmi ini akan digelar di lokasi yang indah dan nyaman untuk semakin mempererat persaudaraan dan kekompakan Almakkiyat sekaligus untuk tadabbur alam dan refreshing.

Acara yang akan dilaksanakan diantaranya:

- pengumuman pemenang lomba Tuhfatul Athafal,

- pengumuman peserta terbaik khat riq’ah bi qalam al ‘adi,

- presentasi pemakalah terbaik,

- foto bareng dan penganugrahan sertifikat.

Catatan:

Dengan program-program ini, ditargetkan akan semakin mendongkrak prestasi Almakkiyat serta meningkatkan keahlian di bidang masing-masing.

Pengurus:

1. Reni Rahmawati (koord.)

2. Mukrima

3. Lina Rizqi Utami

Blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.