MANAJEMEN WAKTU BULAN RAMADHAN

5 August 2010 at 5:50 pm | Posted in Gen 1, Uncategorized | Leave a comment

Oleh: Dwi Sukmanila Sayska MA

Sepertiga malam Sampai Subuh

Ø  Upayakan  bangun di sepertiga malam terakhir yang istimewa. Laksanakan Qiyamullail meski hanya dua rakaat! Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS. Al-Insan:26) “Sebaik-baik shalat setelah fardhu adalah shalat malam. ” (HR.Muslim). “Sedekah dan shalat seseorang di tengah malam dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api” (Hadist riwayat At-Tirmidzi) “Barangsiapa mendirikan shalat malam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah) niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Ø Rasulullah menekankan“Carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Barang siapa yang beribadah pada malam ini dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh-Nya (HR. Bukhari dan Muslim).

Ø   “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezki kepadamu”(QS.Thaha:132)

Ø  Barsahurlah, sebab sesungguhnya pada makan sahur itu ada berkahnya” (HR.Tirmidzi)

Ø Ikhlas puasa. “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ø  Banyak beristghfar Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka momohon ampun (kepada Allah)” (Adz-Dzaariyaat: 17-18). “Barangsiapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka. ” (HR. Abu Daud)


Ø Banyak berdo’a. “Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghaafir: 60) “Allah Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam sewaktu malam tinggal sepertiga bagian akhir, lantas berfirman, ‘Barangsiapa berdo’a akan Aku kabulkan. Barangsiapa yang memohon pasti Aku perkenankan. Barangsiapa minta ampun niscaya Aku mengampuninya, hingga terbit fajar. ” (HR. Muslim) “Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” (HR. Al Bazar)

Ø Membaca Al-Quran. Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membacakan Al-Qur’an baginya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: “Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari”, ِAl-Qur’ an juga berkata: “Aku mencegahnya dari tidur dimalam hari, maka kami mohon syafaat buat dia.”Beliau bersabda: “Maka keduanya dibolehkan memberi syafaat.” (HR Ahmad). “Orang yang membaca sebuah huruf dari Kitabullah (Al-Qur`an), maka ia memperoleh suatu kebaikan, sedang satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang seperti itu. Saya tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim juga satu huruf.” (HR Imam Tirmidzi)

Setelah Shalat Subuh

Ø  Berusahalah tidak tidur hingga terbit matahari. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,”Barang siapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian tetap duduk berdzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, maka ia seakan-akan memperoleh pahala haji dan umrah (HR.Tirmizi, dishahihkan Al-Albani). “Barangsiapa yang mengucapkan “Subhaanallaahi wabihamdihi” seratus kali setiap pagi dan sore, maka tidak akan datang pada hari kiamat orang yang bisa membawa (pahala) lebih baik daripada apa yang dia bawa, kecuali seseorang yang mengucapkan seperti apa yang dia ucapkan, atau lebih” (HR. Muslim)

Ø Bertaubat dan berdoa. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orangyang beriman supaya kamu beruntung. (An-Nuur: 31). “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At Tahrim: 8). “Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “(An-Nisa': 110). “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali “ (HR. Muslim).

Ø muraja’ah al-Quran.“Penghapal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah ia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku, ridhailah dia, maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah SWT menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan ni`mat dan kebaikan “. [HR. At Tirmizi]

Ø Shalatlah dua rakaat dhuha begitu matahari terbit. Abu Hurairah berkata:“Sahabatku (Rasulullah ) menasihatiku akan tiga hal (yang tidak akan pernah kutinggalkan hingga ku mati) : puasa tiga hari setiap bulan (puasa bhidh), dua raka’at shalat dhuha dan agar aku melaksanakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka Aku akan mencukupimu di sore harimu.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i)


Saat Beraktifitas

Ø Menjaga perbuatan dan lisan dari dosa. “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa kecilmu) dan Kami memasukkanmu ke tempat yang mulia (Surga). “(An-Nisaa': 31). “Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang berpuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata ‘Sesungguhnya aku sedang puasa” (HR. Al- Bukhari, Muslim). “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta kedunguan maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum .(HR. Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya). Betapa banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga. ” (HR. Ahmad)

Ø  Minta ampun bila tersalah. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Q.S. Ali Imran 133-134).

Ø Menuntut ilmu ikhlas karna Allah. “Barangsiapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah SWT memudahkan baginya jalan menuju Surga.” [HR. Muslim]. “Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya. ” (HR. Muslim).

Pertengahan Siang

Ø  Berusahalah istirahat menjelang atau sesudah Zuhur sebagai simpanan energi untuk qiyamullail. “Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan untuk shalat malam dengan tidur siang ” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Setelah Ashar

Ø Zikir sore.” Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang. (QS. Al-Insan:25)

Ø Perbanyak shalawat. “Barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku ketika pagi sepuluh kali dan ketika sore sepuluh kali maka dia akan mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.” (HR. Ath-Thabraniy)

Ø Memperbanyak sedekah. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan sekali di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Tidak boleh dengki kecuali dalam dua perkara, yaitu: orang yang dikaruniai Allah Al-Qur’an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Ø Melayani kebutuhan keluarga. “Sebaik-baik wanita penunggang unta wanita Quraisy yg baik adl yg sangat penyayang terhadap anak ketika kecil dan sangat menjaga suami dlm apa yg ada di tangannya.” “Engkau sama dekatnya dengan Surga dan sama jauhnya dari Neraka sebagaimana dekatnya engkau dalam melayani suamimu”, dan dalam riwayat lain “suamimu adalah Surgamu atau Nerakamu”.“Seorang perempuan yang menegakkan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, dan mematuhi suaminya akan memasuki Surga melalui pintu mana saja dia suka”. (HR. Bukhari dan Muslim). (HR. Bukhari dan Muslim).

Setelah Maghrib

Ø Menyegerakan berbuka dengan korma dan air putih. “Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur . ” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan At-Tirmidzi). “Makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa disertai dengan berlebih-lebihan dan kesombongan. ” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Ø Berdoa dan bersyukur ketika berbuka. “Sesungguhnya orang-orang yang ber-puasa pada saat berbuka mempunyai waktu dimana do’anya tidak tertolak” (HR. Ibnu Majah). “Bagi orang yang berpuasa dua kegembiraan, kegembiraan ketika ia berbuka serta kegembiraan ketika ia menemui Rabbnya” (HR. Bukhari dan Muslim). “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS Ibrahim:7).

Ø Lakukan shalat magrib dulu, baru lanjutkan dengan makanan berat. “tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada-Ku dgn suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Ku-wajibkan.” (HR. Bukhari)

Ø Menjamu orang lain berbuka. “Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berpuasa maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya. ” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Setelah Isya

Ø  “Barangsiapa mendirikan shalat Isya’ dengan berjamaah; maka ia bagaikan melaksanakan shalat separuh malam; dan barangsiapa shalat shubuh berjamaah maka ia bagaikan shalat semalam suntuk. ” (HR. Muslim). “Sesungguhnya shalat yang terberat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya’ dan Shubuh, jika mereka mengetahui pahalanya, niscaya mereka mendatanginya kendatipun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ø  ”Siapa saja yang shalat Tarawih bersama imam hingga selesai, akan ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah).

Ø Bersiap tidur dgn mengunci pintu dll. “Matikanlah lampu-lampu diwaktu malam jika kalian hendak tidur, dan tutuplah pintu-pintu, bejana serta makanan dan minuman kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ø Muhasabah diri dan memaafkan kesalahan orang lain. “…Maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.” (Q.S.Asy-Syura : 40). “Rasulullah SAW bersabda, “wahai Uqbah, bagaimana jika ku beritahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mahu memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu.”(HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).

Ø Berzikir, membaca surat Sajadah, Al-Mulk, ayat kursi dan DOA TIDUR. Disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam TIDAK TIDUR, sebelum membaca “Alif laam mim Tanzil..” (surat As-Sajadah) dan “Tabaarakalladzi biyadihil-mulk…” (surat Al-Mulk) “ (HR. At-Tirmidziy dan An-Nasa`i).

sumber: sukmanila.multiply.com

Penyebaran Sunnah Masa Rasulullah

11 January 2010 at 11:55 pm | Posted in Gen 1, hadis | 3 Comments
Tags: ,

oleh: Dwi Sukmanila Sayska

Al-sunnah tersebar seiring dengan tersebarnya al-Quran sejak ditegakkan syiar Islam. Pada semua tahapan dakwah Rasulullah sama ada di Mekkah maupun Medinah, Beliau menyampaikan risalah ilahiyah kepada ummat manusia, memberi fatwa, memutuskan perkara dan hukum-hukum, memimpin mereka pada saat damai maupun perang, berkhutbah, serta mendidik dan mengajari mereka mengenai agama baru yang mulia ini. Para sahabat generasi awal pun sangat bersemangat mempelajari dan menghafal ilmu-ilmu baru yang mereka terima dari Nabi saw. Sehingganya, banyak faktor yang memungkinkan dan menjamin al-Sunnah menyebar dengan cepat dan merata ke pelbagai kawasan dunia.

Manurut  Ajaj al-Khatib dalam kitabnya Sunnah Qobla Al-Tadwin (lihat hlmn 68-73), kita dapat menyimpulkan, diantara faktor-faktor pendukung tersebut ialah:

  1. Semangat dan kesungguhan Rasulullah saw dalam menyampaikan dakwah menyebarkan Islam. Beliau memanfaatkan setiap metode dalam setiap kesempatan dan periode dakwah. Tampa mengenal siksaan dan kepayahan, Beliau senantiasa berbuat maksimal dalam menyampaikan risalah sehingga kokohlah Islam dan kuatlah kedaulatannya. Mesjid merupakan tempat paling utama untuk menuntut ilmu, mendengar fatwa dan mendapat nasehat bagi para sahabat. Dari Menurut penelitian M.M. Azami tentang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di zaman Rasulullah saw, pada tahun 2 H madrasah-madrasah sudah mulai dibuka. Terbukti dengan penuturan Ibn Saad, ketika Ummi Maktum tiba di Medinah sesudah perang Badar, ia tinggal di “Dar al-Kubra” (rumah para pembaca al-Quran) iaitu rumah milik Makhrimah bin Naufal (Ibnu Sa’ad, jld 1 hlmn 150). Selain itu tidak mustahil adanya sekolah-sekolah lain, seperti dituturkan Ibnu Mas’ud, bahawa pada waktu ia belajar al-Quran dari Rasulullah saw, sebanyak tujuh puluh surah, Zaid bin Thabit telah mempunyai sejenis buku yang disimpan di “kuttab”/tempat-tempat belajar.(Musnad Imam Ahmad, jld 1 hlmn 273). Pemakaian kata “kuttab” pengganti kata ’suffah” menunjukkan bahawa saat itu ada tempat belajar untuk kanak-kanak. Di Medinah peta pada waktu itu telah menunjukkan ada sembilan mesjid (al-Badzuri, al-Ansab, jld 1 hlmn 273), yang kemungkinan juga dipakai sebagai madrasah.(MM A’zami, 1980, 85) Rasulullah saw juga menyelang-nyelingi pemberian nesahat antara suatu waktu dan waktu lainnya, kerana pengajaran dan penyuluhan yang monoton dan langsung-menerus akan menimbulkan rasa bosan dalam jiwa, sehingga tujuan yang ingin dicapai tidak maksimal. Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah saw mengganti-ganti waktu pengajaran kepada kami, kerana tidak ingin kami bosan. (Bukhari, jld 1 hlmn 172 dan 173, dan Ahmad jld 5 hlmn 202)
  2. Karaktristik Islam dan sistim kehidupan baru yang dibawanya. Ini membuat masyarakat bertanya-tanya apa sesungguhnya Islam itu, bagaimana hukumnya dan tujuan yang akan dicapai. Islam memberikan nuansa baru dalam kehidupan masyarakat jahiliyah yang serba keras dan biadab. Banyak yang mendatangi Rasulullah saw dari tempat yang jauh sekalipun, untuk mempertanyakan tentang Islam dan akhirnya memeluk agama rahmah ini dan kemudian menyampaikannya pula kepada orang lain.
  3. Semangat para sahabat Rasulullah saw dan motivasi mereka mencari ilmu, menghafalkan dan menyampaikan kepada orang lain. Kecintaan mereka kepada Rasulullah saw membuat mereka senantiasa memperhatikan tentang semua segi kehidupan Rasul untuk diteladani dan dipraktekkan dalam kehidupan harian.
  4. Ummahatul-mukminin yang menjadi tempat bertanya bagi kaum muslimin terutama para sahabiyah jika mereka malu langsung bertanya kepada Rasulullah saw tentang pelbagai hukum dan sunnah Rasulullah saw. Mereka akan mendapatkan jawaban dari istri-istri Rasulullah yang selalu berkomunikasi dan mempelajari pelbagai hal secara langsung dari Beliau, terutama masalah rumah tangga dan wanita.
  5. Para sahabiyah pula mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam penyebaran sunnah Rasulullah. Mereka senantiasa bertanya bila ada perkara-perkara yang tidak difahami dan diketahui hukumnya, dan mengajarkan kepada muslimah lainnya. Rasulullah juga menitikberatkan pendidikan muslimah dengan menyediakan waktu khusus untuk majelis mereka (lihat Musnad Ahmad hlmn 85 juz 13 hadis ke-7351 dan Fathul Bari jld 1 hlmn206). Sehingga mereka telah menjadi wanit-wanita terpelajar dan menebar teladan untuk ummat, di saat para wanita hanya menjadi budak dunia dan hamba sahaya di Eropa sana.
  6. Pengaruh para da’i dan utusan yang dikirim ke daerah-daerah. Sejak bai’at Aqabah pertama Rasulullah saw telah mulai mengirimkan utusan, iaitu Mus’ab bin Umair untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Medinah. Setelah hijrah terutama saat berlaku perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah saw mengirimkan da’i-da’i kepada kabilah-kabilah sekitar Medinah dan di pelosok-pelosok negeri untuk mengajarkan hukum dan sistim kehidupan Islam. Rasulullah saw senantiasa mengarahkan setiap utusan untuk berdakwah kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, serta tidak mempersulit apapun, hendaknya mempermudah dan memberi kabar gembira, sehingga dakwah akan mudah diterima oleh pelbagai kalangan. Di antara contohnya iaitu: wasiat Rasulullah saw kepada Muaz bin Jabal dan Abu Musa al-Anshari ketika keduanya diutus ke Yaman.(lihat sahih Bukhari, juz 3 hlmn 72. pengiriman untusan itu terjadi pada tahun 7 H). Begitu pula nasihat dan motivasi Beliau kepada Ali bin Abi Thalib ketika diutus ke Yaman sebagai qadhi.(Musnad Imam Ahmad, juz 2, hlmn 72, hadis ke-666, melalui isnad sahih.) disamping itu, Rasulullah saw juga mengirimkan utusan kepada raja-raja diantaranya kepada; kaisar Romawi (lihat sirah Ibnu Hisyam juz 4 hlmn 279 dan sahih Muslim juz 3 hlmn 1393 dan 1397, da lihat pula keterangan tentang para utusan kepada raja-raja dan para gubernur secara terperinci dalam kitab al-Mishah al-Mudli’, hlmn 60-114), kepada gubernur Bashrah, gubernur Damaskus (wilayah ekuasaan Helakrius), al-Najasyi (Raja Habsyhah), Kisra (raja Persia) dan al-Munzir bin Sawi (Raja Bahrain). Selain itu Beliau juga menulis surat ke Aman, Yamamah dan daerah-daerah lain. Bagi setiap kaum atau kabilah yang memeluk Islam, Rasulullah saw akan mengangkat seorang gabenor dari mereka dan mengirimkan sahabat untuk mengajarkan Islam kepada mereka.
  7. Fathu’l Makkah yang terjadi setelah Musyrik Qurays melanggar perjanjian Hudaibiyah pada tahuan 8 H, dimana Rasulullah saw menyeru semua kabilah yang telah memeluk Islam umtuk hadir di Medinah pada bulan Ramadhan. Bersama 10.000 mujahid, Beliau berangkat ke Makkah. (lihat sirah Ibnu Hisyam, juz 4 hlmn 17). Setelah berhasil menaklukkan Makkah tampa pertumpahan darah dan menghancurkan berhala-berhala, Rasulullah saw berpidato di depan semua muslimin dan musyrikin. Kemudian semua manusia secara serentak membai’at Rasululllah saw. Peristiwa bersejarah tersebut, disaksikan oleh banyak sahabat dalam jumlah yang tidak terhad, sehingga semua yang hadir saat itu, menyampaikan pidato Rasulullah ke pelbagai kawasan.
  8. Haji wada’ pada bulan Zulhijjah tahun 10 H, juga merupakan perstiwa penting dalam sejarah penyebaran sunnah Rasulullah saw. Beliau menunaikan ibadah haji bersama sekelompok besar sahabat yang berjumlah sekitar 90.000 orang (tedapat perbezaan riwayat tentang jumlah kaum muslimin yang ikut hadir pada haji wada,. Menurut satu riwayat dari Abu Zur’ah, jumlahnya 40.000 orang sahaja. Lihat Talqih Ahl al-Atsar hlmn 27). Ketika wuquf di Arafah, Beliau berpidato dengan tajuk yang lengkap dan mencakup pelbagai persoalan agama. Dan Beliau berwasiat agar sahabat yang hadir, menyampaikan kepada yang tidak hadir.
  9. Setelah penaklukkan Makkah dan haji Wada’, utusan-utusan dari pelbagai kawasan dan kabilah datang ke Medinah untuk membai’at Rasulullah dan bersatu di bawah panji agama Allah. Rasulullah menyambut baik setiap utusan yang datang dan mengajari mereka tentang Islam dan sistim kehidupannya. Sebahagian mereka bermukim di Medinah beberapa hari sebelum kembali ke kaumnya masing-masing untuk menyampaikan ajaran Islam. Sehingga mereka melihat dengan jelas perilaku dan ibadah yang dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah dan mendengar hadis-hadis dari Beliau. Diantara utusan-utusan tersebut adalah: Dhimam bin Tsa’labah, Abdul Qais, utusan Bani Hanifah, Thai, Kindahm Azdasynuah dan utusan raja-raja Himyar. Selain itu ada pula utusan dari kabila Hamdan dan Tujaib, Bani Sa’d, Huzaim dan masih banyak lagi.(lihat Sirah Ibnu Hisyam juz 2 hlmn 221).

Al-Zinah Dalam al-Qur’an

6 January 2010 at 11:47 am | Posted in AL-QURAN, Gen 1, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

Oleh : Maria Ulfa*

Al-Raghib al-Ashfahani membagi al-zinah secara umum kepada tiga macam, yaitu: (1). Zinah nafsyiah, berupa ilmu serta keyakinan-keyakinan atau kebiasaan – kebiasaan yang baik, (2). Zinah badaniyyah, berupa kekuatan dan perawakan tubuh yang seimbang, (3). Zinah Kharijiyyah, berupa harta dan kehormatan. ( Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an : 223). Nampak definisi yang dipaparkan al-Raghib jelas dan rinci meski secara sekilas mempunyai makna yang senada, al-Ragib juga menambahkan bahwa perhiasan itu berlaku di dunia dan di akhirat.


Selanjutnya menurut Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqiy dalam kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur’an, kata al-zinah dan derivasinya berulang sebanyak 47 kali, terdapat pada 27 surat dan 44 ayat.( al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur’an : 335).

Maka di antara makna-makna al-zinah dalam al-Qur’an adalah:

1. Perhiasan yang menyebabkan kedurhakaan, kelalaian dan kesombongan.

Ayat yang menjelaskan makna zinah di atas terdapat pada empat ayat diantaranya, Qs. Yunus : 88, al-Qashash : 79, 60, al-Hadid : 20. “ Musa berkata : Tuhan kami sesungguhnya engkau telah menganugrahkan kepada fir’aun dan para pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Tuhan kami, (itu mengakibatkan) mereka menyesatkan manusia dari jalan-Mu, Tuhan kami, binasakanlah harta dan benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” Qs. Yunus : 88. ayat diatas menjelaskan harta yang dimiliki oleh fir’aun telah membawanya kepada kesombongan, keduharkaan dan kelalaian seingga tidak mau mengakui akan keesaan Allah Swt.

2. Perhiasan yang menjadikan manusia lalai kepada kehidupan akhirat.

Di antara ayat yang membahas makna zinah dalam arti di atas Qs. Al-ahzab : 28, artinya “ Hai Nabi, katakanlah kepada pasangan-pasanganmu jika mereka mengiginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepada kamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan perceraian yang baik. Kemudian Qs. Hud : 15, artinya “ barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami sempurnakan bagi mereka pekerjaan-pekerjaan mereka disana dan mereka di sana tidak akan dirugikan.”

Sepintas lalu dilihat makna kata zinah tidak menunjukkan keterlenaan manusia terhadap perhiasan-perhiasan yang dijelaskan, namun jika diteliti lebih lanjut akan terlihat ada gelagat yang menunjukkan perhiasan tersebut mempunyai potensi untuk melalaikan manusia terhadap kehidupan akhirat.

Quraish Shihab menjelaskan Qs. Al-Ahzab : 28, ayat ini turun berkaitan dengan besarnya porolehan kaum muslimin dari kekayaan bani Quraizhah, yang dijatuhi hukuman oleh Nabi sebagaimana diterangkan oleh ayat sebelumnya, kemudian sebelum bani Quraizhah, kaum muslimin juga mendapatkan kekayaan orang yahudi yaitu bani Nadhir yang juga mengkianati Nabi Saw, setelah Allah menetapkan seperlima buat Rasul dari harta rampasan tersebut muncullah keinginan dihati istri-istri beliau, kekayaan yang melimpah menjadikan istri-istri Nabi merasa mereka akan mendapatkan tambahan nafkah. Maka Allah memerintahkan kepada Rasul untuk memberi pilihan kepada istri-istri beliau, apakah mengiginkan perhiasan dunia atau mereka akan diceraikan secara baik-baik. Nah ayat ini turun adalah untuk mendidik istri-istri Nabi Saw, agar hidup sederhana dan tidak menjadikan perhiasan dunia sebagai perhatian yang besar, yang dapat dapat melelaikan mereka kepada kehidupan akhirat. (Tafsir al-Mishbah : 225).

Selanjutnya QS. Hud : 15, menurut sebagian ulama diperuntukkan untuk orang-orang suka pamer (riya’). Sedangkan menurut riwayat Anas bin Malik diperuntukkan kepada kaum Yahudi dan Nashrani, mereka itu apabila memberikan harta kepada orang lain atau mengunjungi saudaranya dengan tujuan riya’. (al-Kasysyaf : 262.)

3. Perhiasan tertentu

Perhiasan dengan makna tertentu ialah ia mempunyai makna yang khusus bukan dalam makan yang luas. Kata zinah dalam bentuk ini sangat banyak terdapat dalam al-Qur’an, diantaranya: Qs. Al-Nur : 31 artinya, katakanlah kepada wanita-wanita mukminah hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan hiasan mereka kecuali yang biasa nampak. Dan hendaklah mereka menutup kerudung mereka hingga dada mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka…

Kata zinah yang terdapat pada ayat di atas dimaknai dengan anggota tubuh tempat perhiasan yang dipakai oleh parempuan. Zamakhsyari menjelaskan bahwa pentingnya anggota-anggota tempat perhiasan itu untuk ditutup.(al-Khasysyaf : 61). Ayat diatas menerangkan hal yang harus dijaga dan ditutup oleh kaum perempuan, yang pertama perempuan dilarang untuk memperlihatkan anggota tubuhnya kecuali yang biasa nampak. Selanjutnya al-zamakhsyari bahwa waniata harus menutup anggota tubuh tempat memasang gelang kaki, ( al-Kasysyaf : 63), Quraish mengartikan dengan lebih luas lagi yaitu anggota tubuh sebagai tempat gelang kaki dan hiasan lainnya yang tampak akibat suara yang lahir dari cara berjalan perempuan itu. (al-Mishbah : 327)

4. Perhiasan dalam arti majazi

Perhiasan dalam arti majazi, bahwa kata zinah tidak diartikan dengan perhiasan yang sebenartnya, tetapi diartikan dengan makna lain, namun pada dasarnya ada benang merah antara keduanya. Hal ini terlihat dalam QS. Thaha : 59, artinya : Dia berkata : waktu kamu adalah di Yaum al-zinah (hari raya), dan hendaklah manusi dikumpulkan pada waktu dhuha.

Mayoritas mufasir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan yaum al-Zinah pada ayat di atas adalah hari raya. Perpalingan dari makna hakiki kepada makna majazi mungkin dikarenakan makna dari asal perhiasan itu adalah sesuatu yang tidak membuat seseorang ternoda, cacat atau tampak kekurangan. Nah apabila dikaitkan dengan hari raya maka akan tampak sisi kesamaannya, dimana pada hari raya orang tidak mengunakan sesuatu yang membuat tercela, cacat, ataupun berkekurangan, selanjutnya Quraish menerangkan zinah adalah sesiuatu yang dipandang indah oleh manusia. Apabila perhiasan adalah sesuatu yang dipandnag indah oleh masnusia, maka hari raya merepukan suatu hari yang dipandang istimewa oleh masyarakat pada waktu itu.

Demikianlah uraian singkat tentang makna zinah yang terdapat dalam al-Qur’an, semoga penjelasan ini dapat mengingatkna kita bahwa perhiasan dunia dapat membawa kita kepada melupakan Allah sang pemilik perhiasan tersebut.

* Lulusan s2 Tafsir IAIN Imam Bonjol Padang – Gen 1 MAKN Putri

sumber: ummusalwaonline.blogspot

TAHUN BARU HIJRIYAH: MOMENTUM PENINGKATAN TAKWA

19 December 2009 at 2:41 pm | Posted in AKHLAK, Gen 1, MOTIVASI | Leave a comment
Tags: , , ,

oleh: Dwi Sukmanila Sayska*

Perputaran waktu terus bergulir seiring pergantian siang dan malam yang menjadi sunatullah di alam raya ini. Tanpa terasa kita telah sampai lagi ke bulan Muharam, bulan pertama dalam perhitungan kalender hijriyah.

Kedatangan bulan Muharram ini, dapat kita jadikan sebagai salah satu momentum, untuk kembali bertafakur dan bermuhasabah, mengevaluasi hari-hari yang telah berlalu dan merancang target-target baru untuk hari mendatang.

Karena, semakin lama kita menghabiskan umur kita di dunia, berarti semakin dekat dengan kehidupan yang sesungguhnya, yaitu akhirat nan abadi. Sebagaimana firman Allah swt:

Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah senda gurau dan permainan belaka; dan sesungguhnya negeri akhirat itu ialah kehidupan yang sebenar-benarnya; kalaulah mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabut: 64).

Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia dengan segala gemerlapan dan keindahannya, tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kekekalan kehidupan akhirat. Dunia hanyalah panggung sandiwara dimana setiap manusia memainkan peran masing-masing untuk melihat siapa yang terbaik di antara mereka. Dan hari pembalasan itu adalah di akhirat sana, ketika setiap diri akan menerima apa yang pernah mereka usahakan di dunia.

Mari kita renungkan ungkapan Rasulullah saw suri teladan kita, ketika suatu hari beliau bangun dari tempat pembaringannya, dan Abdullah bin Mas’ud melihat bekas jalur-jalur tikar di punggungnya. Ini kerana tikar alas tidur Rasulullah saw dibuat dari daun kurma kasar. Timbullah rasa kasihan di hati Abdullah bin Mas’ud, lalu ia berkata: “Ya Rasulullah seandainya engkau perintah aku untuk mencari tikar yang lembut untukmu, maka aku akan berusaha mendapatkannya”.

Tetapi Rasulullah saw bersabda: “Bagiku berada di dunia ini ibarat seorang yang berjalan di tengah panas, lalu singgah sebentar berteduh di bawah sepohon kayu yang rindang, setelah istirahat sejenak untuk menghilangkan lelah, maka dia beranjak meninggalkan pohon rindang itu dan meneruskan perjalanan”. (HR. Tirmizi)

Demikianlah Rasulullah mengumpamakan dunia ini, bahwa disini kita hanya sekedar singgah sebentar, untuk kemudian melanjutkan perjalanan yang teramat sangat panjang di akhirat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah juga menggambarkan, bahwa lamanya perjalanan hidup yang kita lalui ibarat es yang mencair. Sungguh sangat singkat bila dibandingkan dengan keabadian yang akan kita hadapi sesudahnya. Maka sangatlah merugi apabila perjalanan hidup yang singkat ini justru berlalu dengan kesia-siaan belaka. Tanpa harga, tanpa makna, tanpa cita-cita. Hingga tiada bekal memadai untuk mengarungi kehidupan hakiki di akhirat nanti.

Lalu bekal apa yang mesti kita persiapkan di dunia untuk menuju kehidupan abadi tersebut? Dengan hartakah? Pangkatkah? Gelarkah? Atau keturunankah? Tentu saja bukan, sebab Allah Maha Kaya, Maha Berkuasa, Maha Suci lagi Maha Tinggi.

Allah telah mengingatkan kita semua dalam firman-Nya:

Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah: 197)

Dan Allah Swt berfirman dalam surat Al-Hasyr:

Artinya: “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)

Bekal yang harus kita persiapkan tiada lain dan tiada bukan hanyalah takwa, karena takwa adalah sebaik-baik bekal dan persiapan. Sungguh naïf jika seorang tidak menyiapkan bekal apa-apa padahal dia sadar betapa panjang dan penuh rintangannya perjalanan yang akan dia hadapi di akhirat nanti. Hendaknya, dalam kehidupan yang sekejap ini, kita telah menyiapkan bekal ketakwaan yang cukup sehingga kehidupan akhirat menjadi lebih baik. Sebagaimana firman Allah swt:

”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’aam ayat 32)

Rasulullah Saw dalam sabdanya juga banyak mewasiatkan ketakwaan kepada para sahabat dan umatnya. Di antaranya adalah dalam khutbah haji wada’, Abu Umamah al-Bahili meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Bertakwalah kepada Allah Tuhanmu, shalatlah lima waktu, berpuasalah pada bulanmu, bayarlah zakat hartamu, taatilah pemimpinmu, maka kamu akan masuk surga Tuhanmu.” (HR. At-Tirmidzi 1/190)

Mu’az bin Jabal juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, timpalilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan dapat menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi No. 1987, HR. Ahmad 5/153 dan al-Hakim 1/54).

Demikian pentingnya nilai ketakwaan agar wujud dalam diri seorang mukmin, sehingga Allah dan Rasul-Nya sangat menekankan hal tersebut dan menjadikannya sebagai syarat utama keselamatan di akhirat nanti. Lantas, bagaimanakah hakikat takwa itu yang sesungguhnya?

Takwa secara bahasa artinya adalah al-shiyanah yaitu memelihara, al-hadzru yaitu hati-hati dan al-wiqayah waspada dan menjaga.

Sedangkan secara istilah takwa berarti menjaga diri dari murka dan azab Allah dengan tunduk kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Para sahabat dan ulama terdahulu, telah memberikan pengertian yang cukup jelas tentang hakikat takwa dalam jiwa seorang mukmin. Diantaranya, dalam kitab Fathul Qadir karya al-Syaukani dikisahkan, Khalifah Umar bin Khattab pernah ditanya tentang takwa, beliau menjawab, “Apakah engkau pernah melalui jalan yang banyak bertaburan duri?”. “Ya pernah” jawab si penanya. “Maka apa yang kamu lakukan?” Umar kembali bertanya. Penanya menjawab, “Saya akan berjalan dengan berhati-hati”. Lantas Umar berkata, “Seperti itulah takwa”.

Hasan al-Basri berkata: “takwa adalah berhati-hati terhadap yang diharamkan Allah dan melaksanakan kewajiban yang telah diperintahkan-Nya”. Dan Mujahid berkata: “Takwa kepada Allah artinya, Allah harus ditaati dan pantang dimaksiati, selalu diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud sebenar-benarnya takwa adalah selalu taat kepada Allah dan berusaha untuk tidak berbuat maksiat, selalu berdzikir kepada Allah dan segera bertaubat, serta selalu bersyukur atas segala anugrah Allah. Sayyid Sabiq dalam kitabnya “Islamuna” menerangkan bahwa takwa bermuatan keyakinan (akidah), pengabdian (ibadah), akhlak (adab) dan berbagai kebajikan (al-bir). Lebih lanjut dia mengatakan bahwa orang yang berhak menyandang sebutan “muttaqin” hanyalah orang yang mampu menahan dan mengendalikan hawa nafsu dan menjauhi semua hal-hal yang syubhat serta berani berjihad di jalan Allah. Sedangkan menurut Sayyid Qutub dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—takwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua halangan dalam kehidupan.

Jadi, esensi takwa adalah menghadirkan keagungan Allah swt di dalam hati dan merasakan kebesaran dan keMahaan-Nya, kemudian merasa takut terhadap murka-Nya sehingga berusaha sedaya upaya menjauhi segala larangan-Nya. Dengan demikian, takwa bukan sekedar menjauhi dosa-dosa besar saja, tapi mencakup semua penyelewengan dan penyimpangan meski itu hanya kecil. Layaknya pendaki gunung yang tinggi, mereka tidak terlalu takut dengan ancaman batu-batu besar, karena batu-batu besar mudah dihindari. Mereka jauh lebih takut kepada kerikil-kerikil kecil yang masuk tanpa disadari ke dalam sepatu, sehingga kaki akan menjadi luka dan menyebabkan cedera parah di ketinggian gunung yang bersuhu rendah. Begitu pula seorang yang berusaha untuk menggapai derjat takwa, ia bukan hanya takut dengan dosa-dosa besar, namun ia lebih takut dengan dosa-dosa kecil yang kemudian berpeluang menggelincirkannya pada kemudharatan.

Di dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan gambaran tentang indikasi ketakwaan dalam diri seorang mukmin, agar kita mengetahui ciri-cirinya sehingga kita dapat mengevaluasi dan mengukur diri sendiri, sudahkah kita berada dalam derjat muttaqin atau minimal berusaha menggapainya. Antaranya indikasinya adalah:

Beriman kepada perkara yang ghaib (QS Al-Baqarah: 3)

Iman kepada yang ghaib mencakup keimanan terhadap semua berita yang disampaikan Allah dalam al-Quran dan melalui lisan Rasul-Nya, tentang hari kiamat dan kehidupan akhirat dengan segala fase-fasenya. Keyakinan akan adanya kiamat dan hari akhirat inilah yang menjadikan orang yang bertakwa senantiasa menjaga dirinya di dunia, agar selamat di akhirat kelak.

Menegakkan shalat (QS Al-Baqarah : 3 dan 177)

Shalat adalah sarana untuk mengingat Allah secara kontinyu, yang menjadi pembeda antara orang mukmin dengan kafir. Allah telah menetapkan waktu-waktunya bagi kita, dan memerintahkan untuk tidak melalaikannya. Menegakkan shalat bagi orang yang bertakwa tidaklah semata-mata demi menggugurkan kewajiban, akan tetapi lebih dari itu, ia merupakan komunikasi dengan Allah yang bersumber dari kekhusyukan, yang berimplikasi tercegahnya diri dari perbuatan keji dan munkar.

Mengeluarkan zakat dan infaq (QS Al-Baqarah : 3, 177; Ali Imran : 134; Al-Zariyat : 19)

Bagi orang yang bertakwa, anugrah harta yang Allah berikan adalah salah satu sarana untuk semakin dekat dengan-Nya. Ia sadar betul bahwa dalam harta yang dititipkan kepadanya, terdapat hak-hak orang lain, sehingga ia tidak akan merasa berat untuk menginfakkan sebagian hartanya baik ketika rizkinya lapang maupun ketika sempit.

Banyak mengingat Allah dan gemar bertaubat (QS Ali Imran : 135; QS Al-Zariyat: 17, 18)

Orang yang bertakwa pasti banyak mengingat Allah di setiap waktu, dalam segala keadaan. Ia mengingat Allah dengan segenap anggota badannya: dengan hati, lisan dan gerak-gerik organ tubuhnya. Ia juga senantiasa memperbaharui taubatnya dan memperbanyak istighfar terutama di waktu sahur/sebelum subuh, sehingga ia tidak berlarut-larut dalam kesalahan.

Menunaikan janji dan amanah (QS Al-Baqarah : 177)

Orang yang bertakwa jauh dari sifat melanggar janji dan mengkhianati amanah, yang merupakan sifat orang munafik. Adapun janji dan amanah yang paling agung adalah kesediaan dan kerelaan untuk beribadah kepada Allah, Rabb semesta alam. Ia juga selalu berusaha untuk menepati janji terhadap sesama manusia serta menunaikan amanah yang diembankan kepadanya.

Bersikap adil dalam segala urusan (QS Al-Maidah : 8)

Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak mengurangi proporsi satu hak dengan melebihkan yang lainnya. Termasuk adil terhadap diri sendiri, dengan memberikan hak jasmani dan rohani sebagaimana mestinya. Keadilan juga harus diterapkan kepada semua manusia, sehingga kebencian pada seseorang atau suatu kaum tidak menghalangi berlaku adil kepadanya.

Bersabar terhadap berbagai musibah yang menimpa dirinya (QS Al-Baqarah : 177)

Orang yang bertakwa sadar bahwa semua yang ada di dunia adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya. Ia tidak akan hanyut dalam kesedihan jika diuji oleh Allah dengan suatu musibah, namun menerima dengan lapang dada sembari menguak hikmah-hikmah Allah dibalik semua peristiwa. Malah ia menjadikan ujian sebagai batu loncatan meningkatkan kecintaan kepada Allah, Penggenggam alam semesta ini.

Pandai menahan amarah dan suka memaafkan (QS Al-Baqarah : 237; Ali Imran : 134)

Pengendalian diri dan hawa nafsunya adalah ciri orang bertakwa. Ia tidak mudah terjerat hasutan setan yang selalu mengobarkan amarah dan kebencian dalam jiwa bani Adam. Disamping itu, orang yang bertakwa juga suka memberikan maaf kepada orang lain yang berbuat kesalahan kepadanya, bahkan sebelum orang tersebut meminta maaf kepadanya.

Berdasarkan beberapa ciri di atas, jelaslah bahwa orang yang bertakwa selalu berusaha sungguh-sungguh berada dalam ketaatan kepada Allah secara menyeluruh, baik dalam perkara wajib maupun sunnah, berupaya meninggalkan kemaksiatan serta menghindarkan diri dari perkara yang tidak bermanfaat karena khawatir terjerumus ke dalam dosa. Semua inilah yang harus kita tingkatkan di hari-hari mendatang, agar waktu yang masih tersisa dalam setiap hembusan nafas kita, menjadi bekal berharga untuk mengarungi kehidupan abadi di akhirat nanti.

Namun yang tidak kalah penting adalah, terdapat banyak sekali hadiah yang dijanjikan Allah dalam Al Qur’an bagi orang-orang yang bertakwa, bukan hanya keselamatan di akhirat namun juga kepalangan hidup di dunia. Diantaranya, adalah:

  1. Mendapatkan keselamatan dari bencana dan mendapatkan rezeki dari tepat yang tak terduga-duga. Inilah yang dijanjikan dalam firman Allah:

Artinya: Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan Siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS Al-Thalaq 2-3)

  1. Allah memberikan furqan yang dapat membedakan antara yang haq dan yang batil. Sebagaimana Allah janjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu, dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS Al-Anfal 29)

  1. Mendapat kecintaan Allah, seperti dijelaskan dalam firman-Nya:

Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Taubah 7)

  1. Menjadi yang termulia disisi Allah. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya:

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat 13)

  1. Takwa menjadi sebab kesuksesan dan keberuntungan.  Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

Artinya: Dan siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan. (QS Al-Nur 52)

  1. Menjadi wali Allah dengan dasar firman Allah:

Artinya: Sungguh wali-waliNya hanyalah orang-orang yang bertakwa; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Al-Anfal 34)

  1. Allah menjadi wali/pelindung orang yang bertakwa. Sebagaimana difirmankan Allah:

Artinya: Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Jatsiyah 19)

  1. Dijaga dari para musuhnya, sebagaimana difirmankan Allah:

Artinya: Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS Ali-Imran: 120)

  1. Mendapatkan bantuan dari Allah, seperti dijelaskan dalam firmanNya:

Artinya: Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS Al-Nahl 128)

  1. Takwa menjadi sebab mendapatkan berkah, seperti dalam janji Allah pada firmanNya:

Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raf 96)

  1. Amalannya diterima Allah, sebagaimana dalam firman Allah:

Artinya: Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS Al-Maidah 27)

  1. Selamat dari adzab Allah di neraka. Ini dijanjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu; hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan; kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (QS Maryam 71-72)

  1. Tidak merasa takut, berduka dan selalu bahagia didunia dan akherat serta mendapatkan kemenangan agung. Berdasarkan firman Allah:

Artinya: Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS Yunus 62-64)

  1. Dimudahkan urusannya didunia dan akherat, sebab Allah jelaskan hal ini dalam firmanNya:

Artinya: Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Al-Thalaq 4)

  1. Dihapuskan dosa dan kesalahannya sebagai anugerah Allah atas ketakwaannya. Allah berfirman:

Artinya: Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (QS Al-Thalaq 5)

Dan firmanNya: Artinya: Dan Sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan. (QS Al-Maidah 65)

  1. Mendapatkan syurga-syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Ini dijanjikan dalam firman-Nya:

Artinya: Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Allah. dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.(QS  Ali Imran 198)

Dan firmanNya: Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi, di sisi Tuhan yang berkuasa. (QS Al-Qamar 54-55)

Demikianlah keistimewaan yang dikhususkan bagi orang yang bertakwa kepada Allah. Semoga kita mampu menempa diri meskipun letih dan tertatih, untuk meningkatkan kembali ketakwaan dalam diri. Dan perhitungan tahun baru ini, dapat menjadi ajang untuk membuka lembaran baru dalam sejarah hidup kita yang singkat ini, dan membangkitkan kembali semangat perjuangan memperbaiki diri. Dengan memulai hari baru, juga bisa menjadi langkah awal ketaatan yang menyeluruh dalan setiap perjalanan hidup kita ke depan. Karna, andai takwa itu tidak bersemayam dalam jiwa sedikitpun, lalu bekal apa lagi yang bisa kita andalkan menghadap Allah di akhir nanti. Wa’lLahu a’lam bi al-shawab.

*Tulisan ini pernah dimuat di buletin “Yasmin” FOKMA (Forum Komunikasi Muslimah Indonesia di Malaysia)

UMMAHATUL MUKMININ DALAM PERIWAYATAN HADIS

7 November 2009 at 11:07 pm | Posted in Gen 1, hadis | Leave a comment
Tags: , , ,

oleh: Dwi Sukmanila Sayska*

muslimahDalam lintas sejarah Islam, Umahatul mukminin mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyebaran hadis dan pengajaran agama pada generasi sahabat dan tabi’in terutama kepada kalangan wanita muslimah. Tidak dapat dipungkiri, bahwa mereka adalah wanita-wanita mulia yang mendapat kesempatan merekam secara detail segala perikehidupan Rasulullah saw, yang kemudian disampaikan pada kaum muslimin. Mereka merupakan rujukan pertama bagi para sahabat – setelah wafatnya Rasulullah saw– dalam menanyakan masalah-masalah tertentu, terlebih masalah yang berkaitan dengan keluarga dan wanita. Rumah-rumah mereka dijadikan sebagai madrasah-madrasah ilmu, tempat kaum muslimin bertanya dan meminta fatwa. Sehingga keberadaan Ummahatul mukminin menempati posisi terpenting, baik sebagai sumber pembelajaran ataupun sebagai figur teladan — khususnya bagi kaum muslimah — dalam keimanan. Begitu juga dalam komitmen mereka mempertahankan norma-norma Islam, dimana mereka harus mengemban kewajiban-kewajiban khusus dan berat, sebagai konsekwensi logis atas tingkatan prestise yang mereka dapat melampaui wanita-wanita lain dalam masyarakat , sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-Ahzab ayat 32-33, yang artinya :

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita-wanita lain jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu “tunduk” dalam berbicara, sehingga berkeinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah terdahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya,. Sesungguhnya Allah ingi menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlu bait dan memberihkanmu sebersih-bersihnya.”

rumah ummahatul mukminin - kini nabawi

Bagaimanapun, Al-quran dan hadis juga menggambarkan mereka sebagai sejumlah gambaran pribadi yang diwarnai berbagai konflik. Bahkan, mereka merupakan pemicu turunnya mayoritas ayat-ayat dan hadis-hadis tentang keluarga dan wanita. Mereka digambarkan sebagai implementasi emosionalisme, irrsionalitas, keserakahan dan sikap pembangakangan perempuan, yang pada dasarnya, mewakili gambaran sikap dan tindak tanduk perempuan secara keseluruhan.

Rasulullah saw wafat dan meninggalkan sembilan Ummahatul mukminin, yang masing-masing mempunyai andil dalam periwayatan hadis. Perbedaan kuantitas hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah saw, dipengaruhi sedikitnya oleh 5 faktor, yaitu :

1.      perbedaan daya tangkap, daya hafal dan kapasitas intelektual.

2.      perbedaan durasi waktu mendampingi atau bersama dengan Rasulullah saw.

3.      perbedaa dalam menahan diri untuk meriwayatkan hadis

4.      perbedaan kesibukan

5.      perbedaan umur atau masa hidup setelah Rasulullah saw wafat.

flower-power

AISYAH BINTI ABU BAKAR

Aisyah merupakan anak perempuan Abu Bakar, sahabat senior yang termasuk orang pertama memeluk Islam. Ia dilahirkan dalam cahaya Islam. Di usia yang sangat muda dan masih suka bermain, ia pindah ke rumah Nabi saw, empat turunnya wahtu dan sumber ilmu. Rasulullah sangat mencintai Aisyah dan memiliki posisi yang istimewa disisi Rasulullah. Banyak hadis dan riwayat yang menunjukan hal tersebut.

Ia terkenal dengan kedalaman ilmu dan kuat hafalannya. Sejak kecil, ia sudah sering mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran, menghafalkan serta mencatat waktu turunnya, mengingat wahyu tidak pernah turun saat Nabi bersama istri-istri beliau kecuali ketika bersama Aisyah. Pemahamannya tentang al-Quran juga ditunjang oleh keilmuannya di bidang bahasa, syair dan sastra. Itulah yang menjadikannya sebagai salah satu tokoh tafsir di kalangan sahabat. Dia memiliki mushaf khusus yang menghimpun Al-Quran dan tafsirnya, dan jika dikumpulkan, besarnya mencapai tiga kali lipat mushaf Ustmani.

Keistimewaannya di bidang intelektual juga terbukti dengan posisinya sebagai seorang muhaddis dan penghafal Sunnah. Peranannya dalam transformasi Sunnah dan penyebarannya pada kaum muslimin sangat penting sekali, terutama menyangkut masalah keluarga dan prilaku Nabi saw dalam rumah tangganya. Hafalan dan pemahamannya yang brilian, menjadikannya sebagai referensi bagi para sahabat dalam memutuskan masalah-masalah yang diperselisihkan.

Kejeniusan Aisyah tidak sampai disitu saja. Dia juga ahli fikih dan menguasai hukum-hukum Islam. Hal ini diakui oleh tokoh-tokoh sahabat, bahkan para sahabat senior pun tak segan-segan menanyakan permasalahan yang tidak mereka fahami kepada Aisyah. Sejak Rasulullah saw wafat, Aisyah aktif memberikan fatwa dan pengajaran pada kaum muslimin, sampai akhir hayatnya.

Diantara semua Ummahatul Mukminin, Aisyah lah yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw. Tercatat 2210 hadis yang diriwayatkannya, sehingga menempatkannya di posisi kedua terbanyak setelah Abi hurairah.
Sementara itu tema-tema hadis yang diriwayatkan Aisyah diantaranya :

1.      keimanan, wahyu, ilmu, bacaan Al-Quran dan tafsir.

2.      masalah thaharah : wudlu, tayammum, mandi untuk shalat Jum’at, hadas besar, haid dan istihadlah

3.      masalah shalat : tata cara dan waktu shalat, shalat-shalat Sunnah dan shalat mayyit, hukum-hukum shalat, azan Rasulullah, zikir, doa, imam dan keutamaan berjamaah,  etika dan keutamaan mesjid.

4.      masalah puasa : penetapan hilal dan waktu sahur, hukum puasa bagi orang yang junub di pagi hari, mencium istri saat puasa, puasa Sunnah dan I;tikaf, larangan puasa wishal (tampa berbuka di waktu magrib), qadha puasa dan lailatul qadar.

5.      masalah haji : memakai wangi-wangian sebelum ihram dan tawaf ifadlah, pembayaran hadyu (denda haji), umrah Rasulullah saw, pembangunan Ka’bah dan keutamaannya, hewan semblihan dan kurban

6.      masalah jual beli dan sedekah

7.      masalah pembebasan budak

8.      penyembuhan orang sakit dengan obat dan doa (ruqyah)

9.      masalah Nazar, kesaksian dan hudud (hukuman)

10.  Jihad dan peperangan Rasul

11.  Pernikahan : hubungan suami istri dan thalak.

12.  kejadian-kejadian fitnah, tanda-tanda kiamat, Qadar dan penciptaan.

Mereka yang banyak meriwayatkan hadis dari Aisyah diantaranya :

  • kalangan shahabat : Abu Bakar, Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar, Abu Musa al Asy’ary, Abdullah bin Abbas, Amr bin Ash, Syafiyah binti Syaibah.
  • Kalangan keluarganya : Urwah bin Zubair, Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Ummu Kultsum, Hafsah dan Asma, Abdullah bin Zubair dan Aisyah binti Thalhah.
  • Kalangan tabi’in : Masruq bin Ajda, Al Aswad bin Yazid, Sa’id bin Musayyab, Mujahid, Ikrimah, Abu Salamah bin Abdurrahman bin auf, Amrah binti Abdurrahman, Shafiyah binti Abu Ubaid dan Alqamah binti Qais.

Sedangkan rantai periwayatan aisyah yang paling shahih adalah :

§  Hisyam -> Urwah -> Abu Bakar -> Aisyah

§  Yahya bin Sa’id -> Ubaidillah bin Amr bin Hafsh -> al Qasim -> Aisyah

§  Abdurrahman bi al Qasim -> Abu Bakar -> Aisyah

§  Aflah bin Hamid -> Al Qsim -> Aisyah

§  Az zuhri -> Urwah -> Aisyah

UMMU SALAMAH

Dia adalah Hindun binti Umayyah bin al Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makzum. Ayahnya merupakan putra Qurays yang masyhur dan disegani. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Ummu Salamah telah menikah dengan Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makzum, yang merupakan saudara sesusuan Rasulullah. Ia juga merupakan anak dari bibi Rasulullah saw; Barrah binti Abdul Muthalib dan pernah dua kali hijrah bersama Rasulullah saw.

Abu Salamah dan Ummu Salamah berasal dari keturunan bangsawan yang mempunyai andil besar di awal perjuangan Islam. Mereka ikut hijrah ke Habsyah dan juga ke Medinah. Di Medinah, Ummu Salamah mengurus anak-anak sementara Abu salamah ikut berjihad dengan kaum muslimin. Ia tidak ketinggalan dalam perang Badar dan Uhud yang menyebabkannya meninggal dunia tahun 4 H. Kemudian Rasulullah menggantikan posisi Abu Salamah.

Ummu Salamah adalah wanita yang pandai dan agamis, Rasulullah sangat menghargai pendapatnya. Ia juga dianggap ahli fikih yang termasuk kelompok sahabat mutawassith dalam memberikan fatwa. Ia merupakan ummulmukminin yang paling terakhir meninggal, yaitu pada tahun 62 H, tidak lama setelah pembunuhan Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Hadis yang diriwayatkan Ummu Salamah berjumlah 378. Tema riwayat hadis Ummu Salamah –sebagaimana halnya riwayat Aisyah– didominasi oleh hukum dan ibadah. Diantaranya :

1.      masalah thaharah tentang : mandi junub, wanita haid dan istihadhah.

2.      masalah shalat : bacaan Al-Quran Nabi dan cra shalatnya, shalat witir dan sunnah, doa setelah shalat, pakaian perempuan dalam shalat, membaca shalawat Nabi saat tahiyat dan qunut.

3.      masalah zakat : nafkah suami terhadap anak dan istri, keutamaan sedekah dan zakat perhiasan.

4.      masalah puasa : puasa orang yang berhadas ketika shubuh, mencium istri saat puasa dan keutamaan puasa tiga hari setiap bulan dan bulan Zulhijjah.

5.      masalah haji : haji bagi wanita, haji dan umrah di mesjidil aqsha dan Tawaf perpisahan.

6.      masalah jenazah : doa mayit, laragan bercelak bagi wanita yang sedang ihdad (ditinggal mati suaminya)

7.      masalah etika : menutup aurat, miuman dan mengangkat kepala ketika keluar Ka’bah.

8.      masalah pernikahan : ihdad dan menyusui.

9.      masalah peperangan : peperangan di masa Rasulullah saw dan tragedi pasca wafat Rasulullah saw dan Imam mahdi.

Diantara mereka yang meriwayatkan hadis dari Ummu Salamah adalah :

1.      kalangan sahabat : Aisyah, Abu Said al Khudry, Umar bin Abi Salamah, Anas bin Malik, Buraidah bin Hashin, Sulaiman bin Buraidah, Abu Rafi’ dan Ibn Abbas.

2.      kalangan tabi’in, yang paling masyhur adalah : Sa;id bin Musyyab, Sulaiman bin Yasar, Saqiq bin Salamah, Abdullah bin abi Malikah, Atha’ bin abi Ra’bah, Nafi’ bin Jubair dan lain-lain.

3.      kalangan wanita : anaknya Zainab, Hindun binti al Haris, Shafiyah binti syaibah, Shafiyah binti abi Ubaid, Ummu Walad Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, amrah binti Abdurrrahman dan Ummu Muhammad bin Ibnu Qais.

MAIMUNAH

Dia adalah Maimunah binti al Haris bin Hazn bin Bujair bin al Huzam bin Ruwaibah. Dia merupakan saudari Ummul Fadl, istri al Abbas, dan bibi dari Khalid bin al Walid dan ibn Abbas. Sebelum menikah dengan Nabi saw Mas’ud bin Umar al Tsaqafy kemudian dengan Abu Rahm bin Abdul Uzza. Dia meninggal tahun 51 H sebelum Aisyah.

Maimunah meriwayatkan 76 hadis dari Rasulullah saw, 31 diantaranya terdapat dalam Kutubussittah. Yang meriwayatkan hadis darinya adalah; keponakannya, Ibn abbas, Abdurrahman bin as-Saib dan Yazid bin al-Aslam. Juga Ubaid bin as-Sabaq, Kuraib, dan para hamba sahayanya.

Hadis-hadis yang diriwayatkan Maimunah pada umumya adalah hadis fi’ly atau berkaitan dengan perbuatan Nabi saw. Tentang masalah thaharah, ia meriwayatkan tentang cara mandi untuk menghilangkan hadas besar, wudlu Nabi dengan air sisa mandi beliau dan istrinya, membaca al-Quran di pangkuan wanita yang sedang haid, shalat setelah makan tampa wudlu kembali dan lain-lai yang berhubungan dengan prilaku Rasulullah saw.

Dalam bab shalat ia meriwayatkan hadis tentang keutamaan shalat di Mesjid Nabawi dan mayit yang dishalati sekelompok masyarakat. Tentang puasa ia meriwyatkan hadis yang berkaitan dengan puasa Nabi saw di Arafah. Tema lain adalah tentang rumah-rumah yang tidak dimasuki malaikat dan pengobatan Nabi saw dengan doa.

Walaupun hanya tiga tahun hidup bersama Nabi saw, tetapi Maimunah terbilang banyak meriwayatkan hadis yang menggambarkan secara terperinci kehidupan Rasulullah saw dalam rumah tangga. Apalagi kisah perkawinannya dengan Rasulullah saw termasuk pembahasan penting dalam Fikih Islam, dimana para ulama mengedepankan berbagai pendapat dalam masalah ini.

Diantara faktor yang mendukung banyaknya periwayatan Maimunah adalah, karena dia termasuk istri Nabi saw yang wafat lebih akhir dan yang banyak meriwayatkan darinya yaitu Ibn Abbas, mahramnya yang leluasa menemuninya menanyakan berbagai persoalan.

UMMU HABIBAH

Dia adalah anak perempuan Abu Sufyan bin Harb bin Umayah bin Abd Syams bin abd Manaf bin Qushay. Dialah satu-satunya istri Nabi saw yang mempunyai garis keturunan paling dekat. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Ummu Habibah pernah menikah dengan Ubaidillah bin Jahsydan ikut hijrah bersamanya ke Habsyah. Namun kemudian Ubaidillah memeluk agama Nasrani, sedangkan Ummu Habibah tetap mempertahankan kalimah tauhid.

Rasulullah meminangnya pada tahun 6 H, dengan mengutus seseorang ke Habsyah, dan memberikan mahar sebanyak 4000 yang dibawa oleh Syarahbil bin Hasanah. Inilah mahar tertinggi diantara semua istri-istri Nabi saw.

Ummu Habibah lahir 17 tahun sebelum kenabian dan meninggal dunia pada tahun 44 H. Sebelum meninggal beliau meminta maaf pada Aisyah dan Ummu Salamah atas apa yang terjadi selama mereka menjadi madu Rasulullah saw.

Orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Ummu Habibah diantaranya: saudaranya Mu’awiyyah, Urwah bin az-Zubair, Abu Sufyan bin Sa’id, Abdullah bin atabah, Abu Shalih bin Dzikwan, Shafiyah binti Syaibah dan Zainab binti abu Salamah. Ummu habibah meriwayatkan 65 hadis, 29 diantaranya terdapat dalam Kutubussittah.

Tema hadis riwayatnya yang terkenal berkaitan dengan pengharaman menikahi anak tiri perempuan dan saudara istri, dan tentang iddah dan permasalahannya. Juga tentang shalat sunah rawatib sesudah shalat fardu. Dalam masalah haji, hadisnya menceritakan tentang sunnah meningalkan Mina menuju Muzdalifah bagi mereka yang lemah atau karena kondisi di Mina yang penuh sesak.

Dalam masalah thaharah, dia meriwayatkan tentag wudlu, dan hal yang boleh dilakukan suami terhadap istrinya yang sedang haid. Sedangkan dalam maalah puasa, hadis yang diriwayatkannya berkaitan dengan bolehnya mencium istri saat puasa, doa setelah azan dan sebagainya.

HAFSAH BINTI UMAR

Dia adalah anak perempuan Umar bin Khattab bin Nufail bin ‘Abdul Uzzah bin Rab’ah. Sebelumnya ia pernah menikah dengan Khunnais bin Hadzafah as-Sami’. Ketika suaminya meninggal dalam perang Uhud, Umar menawarkan Hafsah kepada Abu Bakar dan Usman, namun mereka menolak karena Rasulullah pernah menyebut-nyebutnya. Ketika Umar mengadukannya kepada Rasulullah saw., maka Rasulullah saw. mengutarakan bahwa beliau akan menikahinya, sementara Utsman juga akan dinikahkan dengan Ummu Kultsum binti Rasulullah saw.

Hafsah lahir lima tahun sebelum kenabian, dan meninggal tahun 41 H. Rasulullah pernah menceraikannya dan kemudian merujuknya kembali.

Hfsah meriwayatkan enam puluh hadis, dan yang tercatat dalam Kutub as-Sittah hanya 28 Hadis, empat di antaranya disepakati oleh Bukhari dan Muslim., dan enam hadis diriwayatkan oleh Muslim.tema hadi syang diriwayatkannya adalah :

1.      dalam masalah thaharah tentang kewajiban mandi bagi orang yang bermimpi dan mengeluarkan sperma, dan menggunakan tangan kanan untuk makan dan minum.

2.      dalam masalah shalat tentang shalat Sunnah dua rakaat sebelum subuh.

3.      dalam masalah puasa tentang puasa Rasul tiga hari setiap bulan, mencium isteri saat puasa, puasa senin-kamis, puasa ‘Asyura dan lain-lain.

4.      dalam manasik haji, hadisnya membahas tentang pembunuhan hewan melata, sifat-sifat dalam kamar Nabi saw dan lain-lain.

5.      dalam masalah etika, yang membahas tentang hal yang layak dilakukan sebalem tidur.

6.      dalam masalah pengobatan dengan semut.

7.      dalam kisah-kisah fitnah, membahas tentang kemunculan Dajjal.

8.      dalam masalah tafsir mimpi.

Pada umumnya hadis-hadis yag diriwayatkan oleh Hafsah merupakan hadis-hadis fi’ly atau menggambarkan perbuatan Rasulullah saw. Hafsah termasuk istri Nabi saw yang banyak meriwayatkan hadis, yang diantara tidak diriwayatkan oleh istri-istri Nabi saw yang lain.

ZAINAB BINT JAHSY

Dia adalah Zaenab binti  Jahsy bin Riab bin Ya’mar bin Shabarah bin Marrah, anak dari bibi Rasulullah saw (Umaimah binti abdul Muthalib). Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, Zaenab menikah dengan Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah saw. Setelah Zaed menceraikannya, Allah menikahkannya dengan Rasulullah berdasarkan nash al-Quran. Pernikahan tersebut tanpa saksi dan wali, itulah yang menjadikan ia berbangga terhadap isteri-isteri Nabi saw yang lain, karena mendapat dispensasi khusus langsung dari Allah swt.

Nabi menikahinya pada bulan Dzulqa’dah tahun 5 H. Ia wanita shalihah yang rajin beribadah di malam hari, berpuasa di siang hari, dan dia sangat dermawan terhadap orang lain. Ia bekerja menyamak kulit, melubanginya dan hasilnya diberikan pada orang lain. Beliau lah isteri pertama yang wafat setelah Rasulullah saw pada tahun 20 H. Ia hidup bersama Rasulullah selama lima tahun, dan meriwayatkan sebelas hadis dari Rasulullah saw., lima di antaranya terdapat pada Kutub as-Sittah.

Muridnya yang paling masyhur adalah keponakannya, Muhammad bin Abdullah bin Jahsy, Ummu Habibah, dan Zanab binti Ummu Salamah. Meskipun hadis yang diriwayatkannya terbilang sedikit, namun dialah perawi hadis Ya’juj ma’juj yang shahih. Ia juga meriwayatkan hadis tentang istihadah, iddah dan thaharah. Walaupun dia wafat lebih awal dari isteri-isteri Rasulullah yang lain, namun banyak kalangan yang meriwayatkan kisah pernikahannya dengan Rasulullah saw.

SHAFIYAH RA

Dia adalah Shafiyah binti Huyay binti Sa’yah, yang termasuk bani Israil (keturunan Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim as). Sebelum menikah dengan Rasulullah saw. dia telah menikah dengan Salam bin Abu Haqiq dan kemudian dengan Kinanah bin Haqiq, yang terbunuh dalam perang Khaibar. Ini mengakibatkan Shafiyah ditawan dan menjadi budak Dahyah al-Kalabi.

Ia wanita mulia yang pandai, cerdas dan agamis. Rasulullah sangat menghormati dan bersimpati padanya. Terbukti dengan pembelaan terhadapnya tatkala isteri-isteri beliau yang lain menjelek-jelekkannya, karena ia seorang Yahudi. Dia juga wanita yang suka berderma, bahkan pernah memerdekakan budak perempuan yang pernh menghinanya di depan para sahabat. Dia wafat tahun 36 H.

Diantara yang meriwayatkan hadis darinya adalah : Ali bin al-Husein, Ishaq bin Abdullah bin al-Haris, Kinanah (hamba sahayanya). Ada sepuluh hdis yang diriwayatknnya, enam di antaranya terdapat dalam Kutub as-Sittah.Tema periwayatannya mengenai i’tikaf, takaran sha’ Nabi saw, pernikahan Nabi saw dengan Maimunah, kisah pasukan yang dibantai (yang juga diriwayatkan oleh Salamah dan Hafsah).

JUWAIRIYAH BINTI AL HARIS

Dia adalah Juwairiyah binti al Haris bin abu Dharar al Khazaiyyah al Musthalaqiyyah. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, ia menikah dengan Musafi’ bin shafwan yang terbunuh dalam perang Al Marisii’ pada tahun 5 H, sehingga Juwairiyyah menjadi tawanan perang. Lalu ia meminta Rasulullah saw untuk membnatu memerdekakannya. Rasulullah saw memenuhi permintaannya, bahkan menikahinya. Hal ini membuat semua tawanan bani Mushthaliq dimerdekakan.

Juwairiyyah meninggal tahun 50 H, dan menurut sebagian pakar sejarah yang lain tahun 56 H.

Di antara orang yang meriwayatkan hadis darinya: Ibnu Abbas, Ubaid bin As-Sabaq, Mujahid, Abu Ayyub. Ia meriwayatan tujuh hadis, empat diantaranya terdapat dalam Kutub as-sittah. Temanya mencakup masalah puasa, doa-doa, zakat, hewan sembelihan, dan kemerdekaan budak.

SAUDAH BINTI ZAM’AH

Dia adalah Saudah binti Zam’ah bin Qais al-Qursyiyyah al-Amriyyah wanita kedua yang dinikahi Rasulullah saw setelah wafatnya Khadijah ra. Rasulullh saw menikahinya pada bulan Ramadhan tahun 10 H dan satu-satunya istri selama tiga tahun, hingga kemudian Rasulullah saw menikahi Aisyah ra. Sebelum menikah dengan Rasulullah saw ia menikah dengan Sakran bin Amr.

Saudah merupakan wanita mulia yag disebut Rasulullah saw sebagai perempuan yang paling mencintai beliau. Namun saat ia tidak lagi mempunyai keinginan yang besar dalam kehidupan seksual, ia memberikan waktu gilirannya kepada Aisyah ra.

Ia hanya meriwayatkan 5 hadis dari Rasulullah, salah satunya mengenai hewan sembelihan yang dimuat dalam shahih Bukhary. Diantara musrid-muridnya adalah ; Ibnu Abbas, Yahya bin Abdullah Al anshari.

flower-rose-Dari pemaparan singkat tentang cuplikan biografi para Ummahatul mukminin, kita dapat memetik kesimpulan, bahwa mereka juga memegang peranan yang sangat penting dalam meriwayatkan hadis dan menyebarkan sunnah Rasulullah di kalangan kaum muslimin. Juga dalam menyampaikan ilmu dan fatwa-fatwa dalam meyelesaikan permasalahan yang muncul setelah Rasulullah saw berpulang ke hadirat Rabb-Nya.

SILSILAH

Walaupun periwayatan yang mereka punyai –kecuali Aisyah- terbilang sedikit, namun mengandung hal-hal yang tidak dapat terekam oleh orang lain, kecuali oleh mereka yang menyandang gelar ummahatul mukminin. Dan jika tidak ada periwayatan dari mereka, tentu para shahabat tidak akan mengetahui hal-hal tersebut, apalagi kita, generasi akhir zaman yang hidup berabad-abad setelah wafatnya Rasulullah saw. Wallahu A’lam bisshawab.

DAFTAR PUSTAKA

al Qardasi, Amal binti al-Husain, Daur Almar’ah fi Khidmah al hadist fi Al- qurun Ats-tsalatsah al ula, Darul Kutub al Qatariyah, 1999

as-Syayuti, Jalaluddin Abdurrahman bin abu Bakr, Tadribur rawi(darul kutub al-ilmiyah, Beirut.

_________, Itqon fi ulumil Qur’an, Al- maktabah Ats-qafiyah.tt

Thohan, Mohammad, Taisir Musthalahul Hadist. Darul fikr,tt

Az Zahaby, Sair A’laam an-Nubala. Darul fikr. tt

az Zarkasyi, Badruddin, Al Ijabah li irad ma istdrakathu aisyah ala ashahabah, al Maktab al Islamy.tt

*Lulusan s2 Univ Kebangsaan Malaysia, Gen 1 MAKN Putri

sumber: sukmanila.multiply

KESALAHAN PENAFSIRAN 2/2

6 November 2009 at 9:45 pm | Posted in AL-QURAN, Gen 1 | Leave a comment
Tags: ,

oleh: Reflita*

Kedua: tidak teliti dalam memahami teks ayat dan dilalahnya.

quranlargeFaktor lain yang dapat menyebabkan kesalahan dalam penafsiran Al-Qur`an adalah ketidaktelitian mufassir dalam memahami teks dan dilalahnya. Hal ini bisa terlihat ketika seseorang yang ingin menafsirkan Al-Qur`an berhadapan dengan ayat-ayat yang nasakh dan mansukh.

Persoalan nasakh wa mansūkh termasuk cabangan ilmu Al-Qur`an yang banyak menuai perbedaan dikalangan ulama. Perbedaan ulama tidak hanya seputar ada atau tidaknya nasakh dalam Al-Qur`an, namun juga ketika menetapkan ayat yang telah dinasakh.

Secara segi etimologi, nasakh bearti mengangkat atau menghilangkan, disamping itu ia juga memiliki pengertian menyalin (nasakhtu al Kitāb=saya menyalin kitab). Tapi secara umum, nasakh bearti mengubah, mengangkat, atau mengganti ketentuan yang ada. Dalam persepsi Ilmu fiqh, nasakh adalah mengganti hukum-hukum yang sudah ada dengan hukum baru yang datang sesudah itu. Karena itu untuk mengetahui nasakh dan mansukh ini, maka harus diketahui mana ayat-ayat yang dianulir dan mana ayat-ayat yang ditetapkan untuk menggantikan posisi ayat pertama. Seorang mufassir harus jeli dalam menetapkan ayat yang nasakh dan mansukh karena hal ini akan sangat berpengaruh terhadap tafsiran ayat.

Ketidaktelitian dalam memahami teks Al-Qur`an juga terjadi ketika mufassir mengutip pendapat dari kitab-kitab tafsir. Sebagian mereka tidak menyeleksi riwayat atau perkataan yang diambil, malah menyamaratakan antara riwayat yang da’if dan sahih. Sudah masyhur bahwa sebagian besar kitab tafsir masih dipenuhi oleh hadis-hadis da’if, kisah-kisah bohong, kejadian-kejadian yang tidak masuk akal, dan perkataan yang tidak berhubungan dengan tafsiran ayat. Mengomentari hal itu, Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan “ ada tiga buku yang tidak memiliki dasar referensi yaitu buku tentang perperangan, vabel, dan tafsir.”

Ketiga; menundukkan nas Al-Qur`an untuk kepentingan hawa nafsu, fanatisme mazhab, dan bid’ah

Kesalahan penafsiran terkadang disebabkan oleh tindakan sebagian mufassir dan orang yang menekuni ilmu Al-Qur`an yang menjadikan nas Al-Qur`an sebagai legimatimasi untuk menguatkan pendapat, mazhab dan aliran mereka. Pemahaman ayat diselaraskan dengan kepentingan mazhab.

Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb menegaskan kecendrungan seperti ini merupakan metode tafsir yang paling berbahaya dan paling buruk. Karena seorang mufassir berangkat dari keyakinan dan asumsi awal yang tidak memiliki landasan, kemudian mencari ayat-ayat yang sesuai dengan keyakinan dan asumsi mereka sebagai penguat. sehingga terkesan adanya pemaksakan pemahaman. Suatu ayat tidak lagi dipahami sebagaimana mestinya, tapi diarahkan untuk mendukung pemahaman mazhab yang dianut mufassirnya.

Tak pelak lagi, fanatisme yang berlebihan baik dalam mazhab fiqh, akidah, atau politik menyebabkan lahirkan taqlid buta, pengagungan dan penyucian terhadap satu individu dan pemikirannya. Orang cendrung mengabaikan ajakan Al-Qur`an untuk berpegang dengan Al-Qur`an dan sunnah dan berpaling dari dalil yang sahih.

Jiwa besar imam-imam terdahulu cukup menjadi pelajaran berharga bagi generasi sekarang ini. Mereka adalah orang-orang yang tawadu’ dan senantiasa memotifasi pengikutnya untuk selalu menganalisa setiap perkataan yang diterima. Kehatian-hatian mereka dapat tercermin dari salah satu perkataan Imam Abu Hanifah dibawah ini;

إن توجه لكم دليل فقولوا به.[9]

Apabila dihadapkan padamu satu dalil, maka komentarilah

Seseorang muslim yang baik, sejatinya harus menghormati ulama-ulama terdahulu yang telah berijtihad dengan penuh keihlasan untuk menemukan kebenaran, mengakui keutamaan dan ilmu mereka, tidak menganggap mereka terbebas dari kesalahan, dan menghilangkan fanatisme yang berlebihan dengan mazhab tertentu.

Keempat; mengabaikan sebagian syarat-syarat mufassir

BACATafsir sebagai sebuah ilmu pengetahuan tentu memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Penafsiran Al-Qur`an tidak akan sempurna tanpa adanya pemenuhan persyaratan tersebut .Imam Ibn Taimiyah dalam al majmu’ al fatāwa mengemukakan ” setiap manusia harus memiliki suatu dasar umum yang menjadi sandaran aspek-aspek yang terkait dengannya supaya dapat berbicara dengan dasar ilmu yang kuat dan penuh keadilan serta mengetahui segala rincian bagamana ia terjadi. Apabila hal ini diabaikan, maka yang akan tertinggal adalah kebohongan dan ketidaktahuan dengan hal-hal yang juz`i (khusus) dan ketidaktahuan serta kekaburan dengan masalah yang umum (kulli). Hal ini akan melahirkan kerusakan yang besar”.

Berangkat dari fatwa ibn Taimiyah tersebut, Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb menemukan empat hal yang termasuk kedalam masalah ini:

1. Menyepelekan penerapan kaidah tarjih yang dirumuskan ulama tafsir.

Yang dimaksud kaidah tarjih disini adalah kaidah umum atau dasar-dasar pokok yang digunakan untuk mengetahui pendapat yang paling kuat ketika terjadi perbedaan pemahaman ketika menafsirkan Al-Qur`an.

Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam menafsirkan Al-Qur`an. Keterbatasan kemampuan manusia, ditambah dengan perbedaan metode yang digunakan menjadi salah atu sebab perbedaan ini. Hal terpenting yang harus diperhatikan bagaimana seorang yang ingin memahami Al-Qur`an bisa objektif dalam menilai perbedaan ini dan berusaha mencari pendapat yang paling kuat.

Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb dalam penelitiannya ini menyebutkan kaidah-kaidah tarjih yang sering diabaikan oleh sebagian mufassir.

a. Qiraah mutawatir lebih didahulukan daripada makna qiraat syaz.

Apabila terdapat perbedaan penafsiran karena disebabkan oleh perbedaan qiraat, seorang mufassir harus mendahulukan makna yang dikandung qiraat mutawatir daripada makna yang dikandung qiraat syaz. sebab dari segi kualitas qiraat mutawatir lebih kuat. Hanya saja sebagian mufassir mengabaikan kaidah ini, mereka mengutamakan qiraat syaz dalam penafsiran.

Sebagai contoh, firman Allah

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا

وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syi’ar (agama) Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha mensyukuri, Maha mengetahui

Sebagian ulama berpendapat bahwa sa’i dari safa ke marwa hukumnya sunnah. Mereka berlandaskan pada qiraah syaz

…فلا جناج عليهما أن الا يطوف بهما…

Penafsiran seperti ini bertentangan dengan pendapat jumhur ulama bahwa sa’i merupakan rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan, berpedoman pada makna qiraat mutawatir.[10]

b. Penafsiran dan penjelasan i’rab yang sesuai dengan rasm usmani lebih utama Dibandingkan penafsiran yang berbeda dengan rasm utsmani.

apabila terjadi perbedaan antara mufassir mengenai tafsiran suatu ayat atau penjelasan makna kosakata, atau penjelasan i’rab, maka penafsiran dan i’rab yang sesuai dengan rasm utsmani yang diperpegangi.

Kesalahan penafsiran menurut penelitian Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb sering kali disebabkan oleh tidak diperhatikannya kaedah ini. Sebagai contoh perbedaan mufassir tentang makna ayat

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَى[11]

Kami kami membacakan Al-Qur`an untuk kamu, maka janganlah kamu lupa”

Ulama berbeda pendapat tentang i’rab Menurut jumhur dalam ayat ini adalah nāfiah (لا). Ini merupakan pendapat yang kuat karena sesuai dengan rasm usmani, dimana terdapat alif dalam kalimat (تَنْسَى). Tidak dibuangnya alif dalam kalimat ini menandakan bahwa dalam ayat ini bukan nāhiah.

Sebagian ulama berpendapat dalam ayat ini adalah lā nāhiah, sedangkan alif disini berfungsi sebagai pembatas.

Dalam kasus seperti ini, seyogyanya seorang mufassir harus mengmabil pendapat yang kuat, bukan sebaliknya.[12]

c. Mensinkronisasikan makna suatu kalimat dengan kalimat sebelum dan sesudahnya.

d. Apabila terjadi perbedaan penafsiran disebabkan oleh perbedaan asbab nuzul yang digunakan, penafsiran yang sesuai dengan sabab nuzul yang sahih lebih kuat.

e. Apabila penafsiran suatu ayat didukung oleh adanya ayat lain yang berhubungan dengan ayat tersebut lebih kuat daripada pendapat yang tidak memeliki landasan

f. Apabila terjadi perbedaan antara makna terminologi dengan makna etimologi dalam menafsirkan kalamullah didahulukan makna terminologi

2. Berpaling dari metode salafushalih

BOOKSUntuk mengantarkan pembaca pada pembahasan ini, terlebih dahulu Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb menjelaskan tentang makna salafushalih yang alasan kenapa kita diharuskan mendahulukan pendapat dan penafsiran mereka.

Menurut Tāhir Mahmūd Muhammad Ya’qūb yang termasuk salafushaleh adalah sahabat, pembesar tabi’in, imam-imam besar yang adil, diakui umat atas keilmuawan dan ketakwaan mereka, memiliki posisi yang tinggi, dan perkataan mereka diterima baik dari kalangan salaf, maupun khalaf. Diantaranya. Imam arba’ah, Sofyan bin sauriy, lais bin sa’ad, ’Abd Allah bin Mubara’, dan imam hadis.

Ayat al-Qur`an banyak memerintahkan umat Islam untuk senantiasa berpegang pada pendapat salafushaleh karena ketinggian derjat dan ketakwaan mereka. Diantaranya ayat 100 surah al-Taubah. Allah berfirman;

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Keredaan Tuhan dengan sahabat dan orang yang mengikuti pendapat mereka, menandakan pendapat mereka benar dan layak diikuti. Kalimat (وَرَضُوا عَنْهُ) dipahami Muhammad Ya’qūb sebagai perintah. Lebih lanjut dia menjelaskan, umat Islam wajib mengikuti segala hal yang diredai Allah, dan alah satu dari perbuatan yang diredai Allah adalah mengikuti metode dan ajaran sahabat.[13]

Disamping mengemukakan dalil naqli, T|a`hir Mahmūd Muhammad Ya’qūb juga menyebutkan kelebihan sahabat dan metode yang mereka gunakan. Dalam menafsirkan Al-Qur`an, sahabat senantiasa berpegang pada Al-Qur`an dan sunnah serta mendahulukan keduanya dibandingkan akal. Mereka juga tidak berusaha mentakwilkan nas. Makna ayat dikembalikan pada makna dasarnya yang sahih. Kelebihan lainnya, sahabat terbebas dari pengaruh fanatisme mazhab serta pengaruh filsafat, bid’ah dan persoalan ilmu kalam. Kapasitas sahabat sebagai orang yang menguasai bahasa Arab dan mengetahui asbabun nuzul menambah kuat penafsiran mereka.[14]

Berpegang dengan pendapat sahabat dan meniru metode mereka dapat membantu mufassir terhindar dari perpecahan dan perselihan seta pengaruh bid’ah dan segala kesesatan lainnya. Berpedoman dengan metode sahabat juga akan membawa mufassir pada cara mengambil dalil dan kesimpulan yang benar.

Oleh karena itu berpaling dari metode sahabat dan mengabaikan pendapat mereka merupakan suatu kesalahan besar. Setiap orang yang ingin menafsirkan Al-Qur`an disetiap zaman harus berpegang dengan penafsiran mereka.

Syaikh Khālid ’Ak dalam kalimat yang sangat indah mengatakan ” mengembalikan pemahaman Al-Qur`an dan sunnah kepada pemahaman salafushaleh adalah perkara yang sangat urgensial. Kebutuhan akan hal ini akan terus berlanjut. Inilah tajdid yang sebenarnya, yang tetap asli dan akan menjadi dasar yang akan mempersatukan umat.”

3. Tidak paham dengan kaedah bahasa Arab

Al-Qur`an diturunkan dengan bahasa Arab, suatu bahasa yang memiliki keistimewaan dari segi tata bahasa dan kandungan maknanya. Untuk sampai kepada pemahaman yang benar, seorang mufassir harus mengetahui dan memahami kaedah bahasa Arab. Ketidaktahuan dengan kaidah kebahasaan akan melahirkan kesalahan pemahaman.

4. Mengabaikan maksud turunnya Al-Qur`an dan tujuannya yang asli.

TafsirAl-Qur`an diturunkan untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia, memberikan cahaya kepada pikiran mereka, mendidik jiwa dan akal mereka. Di waktu yang sama Al-Qur`an memberikan solusi yang benar atas segala persoalan yang berhubungan dengan kehidupan manusia.

Untuk sampai pada pemahaman yang benar, maka mengetahui maksud dan tujuan diturunkannya Al-Qur`an adalah syarat terpenting yang harus dimiliki mufassir ketika ingin menafsirkan Al-Qur`an.[15]

PENUTUP

Dari keseluruhan pembahasan tersebut, kita dapat memperoleh pengertian bahwa penjelasan terhadap makna al-Quran merupakan suatu keharusan. Tetapi keharusan tersebut, di samping memerlukan kehati-hatian, juga memerlukan persyaratan yang tidak selayaknya dilanggar. Meskipun beberapa persyaratan yang dikemukakan oleh para ulama tersebut merupakan hasil ijtihad, tetapi minimal dapat dipahami sebagai patokan dasar yang selayaknya diperhatikan. Pelanggaran terhadap patokan-patokan dasar tersebut, memang, adakalanya tidak menimbulkan kesalahan interpretasi, tetapi kemungkinan terjadinya kesalahan akan menjadi lebih besar.
Di samping itu, sejauh yang telah diupayakan oleh para ulama untuk menaati rambu-rambu yang menjadi patokan dasar tersebut, tetapi dalam realitasnya kesalahan interpetasi terhadap al-Quran pun masih mungkin terjadi. Untuk itu, sangat diperlukan ketelitian dan kehatihatian mufassir dalam memahami Al-Qur`an sehingga menghasilkan penafsiran yang benar. Sekalipun kita tidak dapat menjastifikasi kesalahan yang ditemukan sebagai kesalahan mutlak. Terutama kesalahan yang muncul disebabkan oleh perbedaan metode yang digunakan. Karena tafsir sesuai denagn pengertiannya adalah upaya untuk menjelaskan kalamullah sebatas kemampuan manusia. Siapapun tidak dapat mengklaim bahwa penafsirannnya adalah penafsiran yang paling benar.

Daftar Pustaka:

Az-Zahabi. Tafsir wa Mufassirun. Beirut

Al-Sayuti, Jalal al-Din. Al-Itqa`n fi Ulu`m Al-Qur`a`n. Beiru`t: Da`r Ihya“ al-’Ulu`m. Jilid 2

Khalifah, Abd Rahma`n Muhamad. Dira`sat fi Man`hij al-Mufassiri`n. Beiru`t: da`r al Wafa`, Juz 2

Ibn Hayya`n. Bahr al Muhi`t. Bairu`t: da`r al Kutub al ’Ilmiah. Juz 1

Ya’qub, Ta`hir Mahmu`d Muhammad. Asba`b al Khat}a`fi Tafsi`r (Dira`sah Ta`s}iliah). Da`r Ibn Jauzi.


[1] Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb, Asbāb al-Khata’ fi Tafsīr, (Riyad: Dār al-Jauziy), h. 49. Dikutip dari Ibn Taimiyah, Muqadimah fī Uşūl al Tafsīr, h. 50

 

[2] Thahir Mahmud Muhammad Ya’kub, Asbāb al-Khata’ fi Tafsīr, h. 50

[3] Ibrahīm Abd al Rahmān Muhammad Khalīfah, Dirasāt fi Manāhij al Mufassirīn, Beirut: Dār al wafā`, t.th. juz 2, h. 40

[4] Thahir Mahmud Muhammad Ya’kub, h. 73-74

[5] Ibn Hayyān, Bahr al Muhīt, Beirut: Dār al Kutub al-‘Ilmiyah, juz 1, hal. 104

[6] T|a`hir Mahmūd Muhammad Ya’qūb, h.141-142

[7] T|a`hir Mahmūd Muhammad Ya’qūb, h, 142

[8] Kisah-kisah israiliyat yang terdapat dalam kitab tafsir terbagi tiga. Pertama, sesuai dengan ajaran agama Islam (sesuai dengan Al-Qur`an dan Sunnah), berbeda dan bertentangan dengan Al-qur`an dan Sunnah, ada yang tidak dapat dikategorikan bertentangan atau sesuai. Sekalipun masih ditemukan kisah israiliyah dalam kitab tafsir, dimana pengarangnya terkenal sebagai mutasyaddid (ulama yang menolak kisah israiliyat) Pada umumnya adalah kisah-kisah israilyat yang sesuai dengan ajaran Islam.

[9] T|a`hir Mahmūd Muhammad Ya’qūb, h. 626. Dikutip dari Rasm al Mufti` karangan Ibn ’An, juz 1, h. 23

[10]T|ahir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, hal. 924-926

[11] Surah Al-‘Ala`/87:3

[12] T|ahir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, hal. 929

[13] T{a`hir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, h 948

[14] [14] T|ahir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, h. 950

[15]T{a`hir Mahmu`d Muhammad Ya’qu`b, hal. 1010

*Lulusan S2 Tafsir Institut Ilmu Al-Quran Jakarta – Gen 1 MAKN Putri

sumber: reflitalatifah.blogspot

KESALAHAN PENAFSIRAN 1/2

6 November 2009 at 1:11 pm | Posted in AL-QURAN, Gen 1 | 1 Comment
Tags: ,

oleh: Reflita*

Pendahuluan

al-quranIlmu tafsir merupakan ilmu yang menempati posisi yang mulia dan strategis. Al-Ashfahani dengan kalimat yang indah mengungkapkan ”sebaik-baik pekerjaan yang dilakoni manusia adalah menafsirkan Al-Qur`an. Kemulyaan ilmu tafsir dapat dilihat dari tiga segi. Pertama; dari segi objek bahasannya yaitu kalamullah yang melahirkan beribu hikmah dan sumber dari segala keutamaan. Kedua; dari segi tujuan yakni berpegang dengan tali yang kokoh untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki yang tidak akan pernah hilang. Ketiga; dari segi kebutuhan manusia terhadapnya. Dimana kesempurnaan agama atau kebahagiaan dunia dan akhirat sangat membutuhkan pengetahuan keagamaan dan ini berkaitan dengan pengetahuan tentang kitab Allah.[1]

Al-Qur`an secara teks memang tidak berubah, tetapi penafsiran atas teks, selalu berubah, sesuai dengan konteks ruang dan waktu. Karenanya, Al-Qur`an selalu membuka diri untuk dianalisis, dipersepsi, dan diinterpretasikan dengan berbagai alat, metode, dan pendekatan untuk menguak isi sejatinya. Aneka metode dan tafsir yang berkembang merupakan usaha untuk membedah makna terdalam dari Al-Qur`an itu.

Penafsiran Al-Qur`an telah berlangsung sejak zaman Rasul. Rasul sendiri adalah mufassir awal sesuai dengan kapasitasnya sebagai penyampai wahyu dan menjelaskannya kepada umat. Hal ini berlanjut pada zaman sahabat, tabi’in dan terus berlangung sampai dewasa ini. Hanya saja berbeda dengan Al-Quran yang isinya mutlak benar karena berasal dari zat yang maha mengetahui, tafsir tidak luput dari kekurangan bahkan kesalahan. Pengaruh perbedaan mazhab dan aliran turut mewarnai perbedaan penafsiran. Bahkan adanya fanatisme yang berlebihan dari seorang mufassir sering kali melahirkan kesalahan-kesalahan pada produk tafsir yang dia hasilkan.

Metode Tafsir yang Sahih

QURANTujuan ilmu tafsir adalah mengetahui makna ayat-ayat Al-Qur`an dan mengungkap hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Oleh Karena itu untuk bisa menafsirkan Al-Qur`an diperlukan metode yang benar dan cara yang teliti sehingga seorang mufassir tidak tergelincir kedalam kesalahan. Imam Masru` rahimahullah pernah mengingatkan umat Islam untuk berhati-hati dalam menafsirkan Al-Qur`an. Dia berkata:

اتقوا التفسير فإنه رواية من الله

“Berhati-hatilah dengan tafsir karena ia adalah riwayah yang berasal dari Allah”.[1]

Pemahaman paling benar akan makna Al-Qur`an sebagaimana yang disebutkan oleh Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb dalam disertasinya ini, akan didapat apabila metode yang digunakan adalah metode tafsir al-maksur atau tafsir dengan riwayat yang sahih. Dengan metode ini seorang mufassir akan terbebas dari dari penyimpangan dan kesalahan dalam memahami ktabullah.

Tafsir al-Maksur merupakan tafsir yang paling utama dan paling kuat. Karena tafsir ini berasal dari Allah Swt sebagai zat yang menurunkan Al-Qur`an, atau berasal dari Rasul sebagai penyampai dan penjelas wahyu, atau tafsir yang berasal dari sahabat yang hidup disaat wahyu diturunkan, dimana mereka mengetahui takwilan ayat dan belajar langsung kepada Rasul, atau berasal dari tabi’in sebagai penerus sahabat, yang belajar dan mengambil ilmu langsung dari mereka. Hanya saja ulama berbeda pendapat apakah tafsir tabi’in termasuk kedalam jenis tafsir al-maksur atau tafsir bil-rakyi. Hanya saja Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb tidak menjelaskan perbedaan ini. Dia hanya menyebutkan pendapat mayoritas ulama bahwa tafsir tabi’in termasuk tafsir bil-maksur dengan melihat kapasitas tabi’in sebagai generasi yang mendapatkan ilmu langsung dari sahabat dan mereka hidup sezaman dengan sahabat Rasul.[2]

Dalam referensi lain kita bisa menemukan perbedaan ini tidak hanya seputar tafsir tabi’in, namun juga tafsir sahabat. Perkataan sahabat yang secara ijma dianggap sebagai sumber tafsir al-maksur adalah perkataan yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak tidak menjadi lapangan ijtihad, seperti penjelasan tentang asbāb al nuzūl dan ijma’ sahabat. Sedangkan perkataan yang bersifat individual yang berkaitan dengan penafsiran, ulama berbeda mengenai hal itu. Begitu juga dengan penafsiran tabi’in. perbedaan ulama seputas itu sangat banyak. Imam Abu Hanifah termasuk orang yang menolak perkataan tabi’in sebagai sumber tafsir al-maksur dengan alasan mereka juga tidak terbebas dari kesalahan karena sama-sama manusia biasa. Penafsiran tabi’in juga berdasarkan pada ijtihad sebagaimana penafsiran yang dilakukan generasi sesudah mereka. Dengan kalimat lugas Abu berkata;

هم رجال و نحن رجال.[3]

Sekalipun tafsir al-maksur adalah tafsir berdasarkan nas dan riwayat baik dari rasul, sahabat atau tabi’in, namun tidak menafikan peran akal dalam penerapan metode ini. Seorang mufassir harus berijtihad untuk menemukan hubungan ayat yang satu dengan yang lainnya, berijtihad untuk menyeleksi hadis yang menafsirkan ayat Al-Qur`an. Makanya tafsir dengan corak ini juga tidak terbebas dari kesalahan. Sangat diperlukan ijtihad dan ketelitian pembaca untuk menyeleksi tafsir yang benar dan yang salah. Dalam tafsir al-maksur, syarat mutlak yang harus dipenuhi adalah riwayat yang diambil harus sahih.

Metode lain dalam menafsirkan Al-Qur`an adalah menafsirkan Al-Qur`an dengan akal atau dikenal dengan istilah tafsir bil-rakyi. Dalam penerapannya terdapat tafsir bil-rakyi yang bisa diterima (tafsir bil-rakyi al mahmud) dan tafsir bil-rakyi yang tertolak (tafsir bil-rakyi al mazmum). Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menyebutkan dalam disertasinya empat macam tafsir bir-rakyi yang dibolehkan yaitu:

1. Pendapat atau ijtihad sahabat yang merupakan umat yang paling tahu dan paham dengan Al-Qur`an, menyaksikan proses turunnya wahyu dan mengetahui takwilan ayat .

2. Akal yang digunakan untuk menafsirkan teks Al-Qur`an, menjelaskan dilalahnya serta menerangkan cara mengambil hukum dari ayat Al-Qur`an.

3. Penafsiran bil-rakyi yang umat telah sepakat menerimanya, baik dari kalangan salaf ataupun khalaf. Karena kesepakatan ini menunjukkan kebenaran pendapat tersebut.

4. Penafsiran ini dilakukan setelah terlebih dahulu berusaha menafsirkan Al-Qur`an dengan Al-Qur`an, hadis nabi atau perkataan sahabat.

Untuk sampai pada metode penafsiran yang benar, seorang mufassir harus memperhatikan syarat-syarat dan kaedah yang harus dipenuhi. Syarat dan kaedah ini ada yang berkaitan dengan cara dan metode penafsiran dan ada yang berkaitan dengan keilmuawan mufassir.

Dalam kajian ini, Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menyebutkan 18 syarat yang harus dipenuhi oleh mufassir sebelum menafsirkan Al-Quran. Diantaranya;

1. Akidah dan pikiran yang benar.

2. Niat yang ikhlas dan maksud yang lurus.

3. Memiliki motifasi untuk mentadaburi ayat Al-Qur`an dan mengamalkannya.

4. Mengetahui ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur`an dan tafsirnya.

5. Berpegang dengan riwayat yang sahih.

6. Menguasai Bahasa Arab.

7. Tidak tergesa-gesa mengambil makna bahasa sebelum meneliti riwayat yang terkait.

8. Apabila terdapat perbedaan seputar I’rab, maka wajib memilih I’rab yang sesuai dengan riwayat yang sahih.

9. Mengetahui kaedah-kaedah yang diperlukan dalam menafsirkan Al-Qur`an yang telah dirumuskan oleh ulama salaf.

10. Mengetahui kaedah tarjih.

11. Membersihkan diri dari hawa nafsu dan fanatisme mazhab.

12. Tidak mengambil perkataan ahli bid’ah.

13. Menghindari riwayat israiliyat.

14. Menghindari masalah-masalah kalam dan filsafat.

15. Tidak memaksakan diri dalam tafsir ilmi.

16. Jujur, dan benar dalam mengutip hadis dan perkataan ulama.

17. Mendahulukan orang yang lebih utama ilmunya ketika mengutip.[4]

Sebab-sebab Kesalahan dalam Penafsiran Al-Qur`an

TAFSIRMenafsirkan Al-Qur`an bukanlah suatu perkara yang mudah, karenanya ia memerlukan persyaratan-persyaratan yang ketat melalui proses penguasaan berbagai ilmu alat sehingga seseorang layak disebut mufassir. Penguasaan ilmu alat saja tidak cukup, apabila mufassir tidak memahami metode penafsiran. Ketidak tahuan akan metode ini akan menyebabkan kesulitan mufassir dalam menafsirkan Al-Qur`an. Bahkan cendrung pada kesalahan.

Az-Zahabiy dalam bukunya “Tafsir wa Mufassirun” mengemukakan bentuk-bentuk penyimpangan penafsiran Al-Qur’an dapat dikembalikan pada 3 faktor. Pertama: Berkaitan dengan subyektivitas mufasir. Ini terlihar dari kecenderungan-kecenderungan para mufassir untuk menafsirkan Al-Qur`an menurut seleranya, mazhabnya, bidang kajian yang diminatinya atau bahkan kecenderungan lain yang berkaitan keinginan-keinginan pribadi atau kelompok. Kedua: Berkaitan dengan konteksnya, baik pembicaraan, ruang dan waktu atau dalam konteks sosial kemasyarakatan yang lebih luas. Ketiga: berkaitan dengan kekurangan penguasaan ilmu pokok dan bantu dalam menafsirkan Al-Qur’an. Ini kita bisa dilihat pada kasus penafsiran yang dilakukan oleh para ilmuwan yang tidak memiliki Ilmu pokok (dalam menafsirkan Al-Qur`an) secara memadai atau mufassir yang memiliki kemampuan penguasaan ilmu pokok, tetapi kurang menguasai ilmu bantu. Misalnya, jika seorang ilmuwan berupaya mengaitkan kebenaran penemuan ilmiahnya dengan statemen-statemen Al-Qur`an.

Apa yang dikemukakan Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb dalam disertasinya ini, tampaknya tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian Az- Zahabiy di atas. Hanya saja dalam kajiannya, Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menjelaskan sebab-sebab kesalahan tersebut secara terperinci. Kelebihan laiinya, sebelum masuk kepada penyebab kesalahan yang ditemukan, dia menjelaskan terlebih dahulu metode yang seharusnya ditempuh oleh mufassir disertai dengan paparan tentang perkataan ulama mengenai hal itu.

Ada empat penyebab timbulnya kesalahan penafsiran yang sering ditemukan dalam kitab-kitab tafsir yang ada:

Pertama: Berpaling dari sumber dan dasar tafsir yang otentik dan sahih.

Ibarat sebuah rumah yang tidak dapat berdiri tanpa adanya pondasi yang kuat, disiplin ilmu apapun namanya membutuhkan dasar dan kaidah tersendiri yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang bergelut dengan ilmu tersebut. Dasar, yang dalam istilah arabnya disebut uşul merupakan unsur penting yang menjadi penguat suatu ilmu. Seseorang tidak akan sampai pada kesimpulan yang benar, apabila hanya berpedoman kepada kaedah-kaedah umum dan tidak memperhatikan uşul ini.

Sama halnya dengan dasar (us}ul) di atas, sumber yang otentik juga merupakan kunci kebenaran hasil sebuah penelitian. Salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam metode ilmiah, adalah sumber yang digunakan harus sumber primer dan otentik. Begitu juga dengan ilmu tafsir, seorang mufassir harus menggunakan sumber-sumber tafsir yang asli dan otentik demi menghasilkan penafsiran yang benar.

Terjadinya kesalahan dalam penafsiran sering kali disebabkan oleh tindakan mufassir yang mengabaikan sumber-sumber primer yang sahih dan beralih pada sumber-sumber yang lemah. Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menyebutkan ada sembilan unsur yang termasuk dalam kategori ini. Diantaranya;

1. Mengunakan ijtihad dalam menafsirkan ayat, padahal ada nas lain yang menjelaskan maksud ayat tersebut.

Nas dalam ilmu ushul fiqh yaitu suatu lafaz yang memiliki makna yang jelas dan tidak mengandung kemungkinan makna lain. Berbeda dengan defenisi ini, Nas al mufassir (nas yang menjelaskan maksud ayat) yang dimaksudkan Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb disini adalah ayat Al-Qur`an, baik ayat ini berada langsung setelah ayat yang ditafsirkan atau terdapat dalam surah yang berbeda, hadis sahih, perkataan sahabat yang diketahui tidak ada sahabat lain yang menyalahinya dan ijma’ ulama tafsir.

Nas yang termasuk dalam kategori ini adalah nas-nas yang terkait langsung dengan pemahaman ayat, baik jawaban dari pertanyaan, penjelasan tentang asbabun nuzul, penjelasan sahabat tentang makna kata-kata yang musykil, penafsiran Nabi akan makna ayat sebelum membacanya.

Meskipun menafsirkan Al-Quran dengan Al-Qur`an atau riwayat yang sahih merupakan metode tafsir yang paling benar dan utama. Hanya saja sebagian mufassir mengabaikan metode ini. Mereka menafsirkan Al-Qur`an mengunakan ra’yi atau ijtihad sendiri. Sebelum melihat ayat Al-Qur`an dan riwayat yang berhubungan dengan tafsiran ayat tersebut. Hal inilah yang menimbulkan kesalahan pada produk tafsir yang mereka hasilkan.

2. Berpegang pada hadis maudu’ dan da’if

Salah satu metode yang benar dalam menafsirkan Al-Qur`an adalah menafsirkan Al-Qur`an dengan hadis sahih. Imam Alusi sebagaimana dikutip oleh Ibn Hayyān dalam mukadimah tafsirnya mengkritik mufassir yang memasukkan kedalam tafsirnya riwayat-riwayat yang tidak sahih. Dia berkata “ … begitu juga mereka mencantumkan dalam kitab tafsir mereka riwayat-riwayat da’if tentang asbāb al nuzūl, hadis-hadis tentang keutamaan surah, hikayat-hikayat bohong, dan cerita israiliyat, padahal semua ini tidak pantas dimasukkan dalam kitab tafsir”.[5]

Dari hasil penelitiannya, Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb menemukan beberapa kitab tafsir yang memuat hadis daif bahkan maudu’. Hadis-hadis ini kebanyakan berhubungan dengan penjelasan tentang keutamaan surah, nama surah, asbāb al nuzūl, dan masalah-masalah akidah, seta kisah-kisah nabi dan umat terdahulu. Contoh sebab nuzul ayat 14 surat Al-Baqarah.

Diriwayatkan dari Ibn Abbas, ayat ini turun berkenaan dengan kasus Abd Allah ibn Ubay dan sahabat-sahabatnya. Pada suatu hari mereka keluar dan berjumpa dengan sahabat-sahabat Rasul. Abd Allah bin Ubay berkata pada sahabat-sabatnya. Lihatlah apa yang diinginkan oleh orang-orang bodoh diantara kamu. Kemuddian dia pergi dan memegang tangan Abu Bakar dan memujinya, kemudian memegang tangan Umar dan Ali dan juga memujinya. Setelah itu dia menjauh dari para sahabat dan kembali menemui kaumnya dan berkata, lakukanlah sebagaimana yang kalian melihat aku melakukannya. Kaumnya pun melakukan seperti yang diperbuat Abd Allab ibn Ubay. Mereka menemui para sahabat dan memujinya. Umat Islam kemudian menyampaikan kejadian ini kepada Rasul. Lalu turunlah ayat ini.

Hadis ini diriwayatkan dari Muhammad ibn Marwan dari Muhammad ibn Sāi`b al Kalbiy dari Abi Shaleh. Silsilah ini merupakan silsilah kazb (rangkadian pewari yang terkenal sebagai pendusta).[6] Sayangnya, beberapa mufassir memuat riwayat ini dalam kitab tafsirnya. Seperti, As\-S|a’labiy, Az\-Z|amakhsyari, Al-Baid}awi, dan Al-Wa>hidi dan Al-H}azen. Hal inilah menurut Ţāhir Mahmud Muhammad Ya’kūb yang menyebabkan kesalahan tafsir yang dihasilkan.[7] Dari penelitiannya, dia menemukan kitab-kitab tafsir yang banyak memuat hadis-hadis da’if dan maudu’. Diantaranya, Syifa> as-S}ud}u>r karangan Abu Bakr an-Nuqasy, al-Kasya>f wa al-Baya>n ‘an Tafsi>r Al-Qur’a>n karangan Abu Ishaq as\-S|a’labiy, Tafsi>r Abi Hasan al- Wa>hidiy, Luba>b al Ta`wi>l fi Ma’ani> al-Tanzi>l karangan Abu hasan al H}a>zen, al-Kasya>f karangan Z|amakhsyariy, Anwa>r al Tanzi>l karangan al- Baid}awiy, dan Isya>d al-Aql al-Sali>m ila> Maza>ya> Al-Qur`a>n al Kari>m karangan Abu Su’ud.

3. Mengambil riwayat Israiliyat

Tidak dapat dipungkiri, kisah-kisah israiliyat[8] banyak terdapat dalam kitab tafsir, baik yang bercorak al-maksur maupun al-rakyi. Berbeda dengan zaman sahabat, dimana mereka sangat berhati-hati dalam mengambil riwayat israiliyat, pada masa tabi’in dan masa-masa sesudah itu kehatian-kehatian ini semakin berkurang. Imbasnya kisah-kisah israiliyat banyak mempengaruhi penafsiran mereka. Sikap ulama tafsir pun berbeda-beda dalam mengambil riwayat Israiliyat. Ada yang bersikap hati-hati dan hanya mengambil riwayat yang tidak bertentangan dengan Al-Qur`an dan sunnah, seperti Ibn Kasir. Ada yang bersikap sebaliknya, mereka tidak menyeleksi riwayat israiliyat yang dicantumkan dalam kitab tafsir mereka, seperti al-Tabariy. Dan Ada yang sama sangat mengantimasi masuknya kisah-kisah israiliyat dalam kitab tafsirnya , seperti imam Alusi. Hanya saja kalau kita perhatikan kitab tafsir mereka masih ditemukan kisah-kisah israiliyat, hanya saja setelah mengutip kisah ini mereka menjelaskan kualitas kisah yang dikutip. Tujuan dari penyebutannya tidak lain adalah untuk menjelaskan letak kesalahan dan kebohongan kisah tersebut.

4. Berpegang pada prasangka dan hikayah

Yang dimaksud dengan prasangka dan hikayat disini adalah berita-berita, cerita dan dongeng orang-orang terdahulu yang digunakan dalam penafsiran Al-Qur`an, padahal ia tidak memiliki dasar dari Al-Qur`an, sunnah dan ijma’ umat serta tidak memiliki sanad yang sahih.

Cerita-cerita ini sering kali digunakan untuk menjelaskan persoalan-persoalan akidah, hal-hal gaib dan masalah-masalah keagamaan lainnya. Pengunaan hikayat ini merupakan kesalahan yang fatal. Al-Qur`an sendiri mengingatkan umat Islam untuk berpegang dengan dalil yang kuat dan menghindari prasangka.

5. Hanya berpedoman pada makna bahasa semata dan mengutamakannya dibanding riwayat yang sahih.

6. Berpegang pada kewajiban yang bersifat majaziah dan tunduk pada tamsil dan imajinasi.

7. Terlalu mendalam dalam membicarakan filsafat dan ilmu kalam.

8. Hanya mengandalkan rakyi dan mengutamakannya dari pada riwayat yang sahih

Akal merupakan pemberian dan nikmat Allah yang sangat besar. Dengannya manusia dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah. Dalam disiplin ilmu tafsir, penggunaan akal dalam menafsirkan Al-quran termasuk kedalam salah satu metode penafsiran Al-Qur`an. Walaupun begitu, dalam menafsirkan Al-Qur`an, seorang mufassir tidak boleh hanya berlandaskan pada akal semata dan mengabaikan naql. Orang yang hanya mengunakan akal, akan melahirkan tafsir bil-rakyi al mazmum (tidak diterima.)

9. Mengambil perkataan dari ahli bid’ah dan mengikuti hawa nafsu.

*Lulusan S2 Tafsir Institut Ilmu Al-Quran Jakarta – Gen 1 MAKN Putri

sumber: reflitalatifah.blogspot

AL-QUR’AN DAN KEINDAHAN (2/2)

3 November 2009 at 3:42 pm | Posted in AL-QURAN, Gen 1 | 2 Comments
Tags: ,

oleh: Rika Yuni

2. Keindahan Bahasanya.

Al-Qur’an juga dikatakan mempunyai mukjizat dari segi bahasanya. Makanya walaupun al-Qur’an berbahasa Arab, tapi orang Arab sendiri tidak sanggup menandingi untuk membuat kata-kata seindah al-Qur’an walau cuma satu ayat.muslim

Salah satu bentuk keindahan bahasa al-Qur’an adalah apa yang disebut para pengkaji al-Qur’an dengan istilah iltifat. Karena gaya bahasa al-Qur’an itu dinamis, yang membuat setiap orang tidak akan pernah merasa bosan membacanya. Dalam pandangan Zamakhsyari ayat-ayat iltifat dalam penuturannya mempunyai dua manfaat: pertama, memuaskan pembaca, juga menarik perhatian pembaca utamanya pada peralihan-peralihan struktur bahasa yang tak terduga sebelumnya dalam ayat-ayat pembicaraan biasa. Kedua, ia adalah peka konteks, strukturnya selalu berubah, sesuai dengan perubahan kondisi yang menjadi latar lahirnya pembicaraan atau penuturan. Menurut Zamakhsyari lagi, “Dalam pembicaraan, beralihnya satu bentuk ke bentuk lain akan lebih menyegarkan bagi pendengar, serta lebih menyadarkan lawan tutur untuk mendengarkannya, ketimbang jika struktur pembicaraan yang digunakan bersifat monoton.[1]

a. Defenisi Iltifat

Dari segi bahasa, iltifat berarti berpaling atau memalingkan wajah kepadanya. Secara istilah, ada beberapa defenisi

1)      al-Zarkasyi mendefinisikan iltifat adalah “Peralihan pembicaraan dari satu bentuk ke bentuk lainnya, demi menyajikan kesegaran dan variasi bagi pendengar untuk memperbaharui perhatiannya, dan untuk menjaga pikirannya dari rasa jenuh dan frustasi karena diharuskan mendengarkan satu model pembicaraan secara terus menerus”.[2]

2)      Menurut Abdul al-Mu’thy ‘Azafah iltifat adalah: “Beralihnya pembicara dari menggunakan bentuk mukhatabah (dialogis) kepada tutur ikhbar (informatif) dan dari ikhbar kepada mukhatabah dan sebagainya.”[3]

b. Bentuk-bentuk iltifat

Mardjoko Idris menulis dalam bukunya, bahwa iltifat dalam al-Qur’an mengambil bentuk-bentuk sebagai berikut:

    1. Iltifat dalam bentuk (ash-shiyagh)al-quran2
    2. Bilangan (al-‘Adad)
    3. Kata ganti (adh-dhamir)
    4. Kosa kata (al-Mu’jam)
    5. Dalam bentuk al-Adawat
    6. Struktur nahwu (al-Bina an-Nahwy)

Iltifat termasuk salah satu keindahan bahasa al-Qur’an. Iltifat ini memperlihatkan keistimewaan al-Qur’an yang menjadikannya berbeda dengan bacaan-bacaan lain. Hal ini bisa tampak dari beberapa contoh iltifat berikut ini.

1. Iltifat dalam bentuk, seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 49-50

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَ‌ٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ ﴿٤٩﴾ وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ ﴿٥٠﴾

Kedua ayat di atas terdapat 2 kata yang mempunyai kemiripan makna. Tapi berbeda bentuknya. Pada ayat pertama terdapat dalam kata: “نَجَّيْنَاكُم yang kedua فَأَنجَيْنَاكُمْ

Kedua kata tersebut terambil dari kata an-najâh yang berarti tempat yang tinggi. Jadi secara harfiah, arti kedua kata tersebut adalah: “Siapa yang berada di tempat yang tinggi, niscaya tidak mudah dijangkau oleh musuh, atau terhindar dari bahaya.” Makanya inilah rahasia kenapa Allah memakai kata “najjâyna” atau “anjayna” untuk menerangkan adanya keselamatan.

Pemakaian kata نَجَّيْنَاكُم pada ayat 49 digunakan untuk menjelaskan bahwa siksaan Fir’aun yang berupaya menyembelih anak laki-laki dan membiarkan hidup anak perempuan tidak terjadi kepada seluruh Bani Israil, ada sebagian diantara mereka yang diselamatkan oleh Allah. Dalam sejarah, disebutkan bahwa siksaan Fir’aun tidak terjadi sepanjang tahun. Tapi silih berganti. Misalkan tahun ini adanya perintah membunuh anak laki-laki, kemudian tahun berikutnya tidak dilaksanakan, begitu seterusnya. Dan Nabi Harun, lahir di tahun penyelamatan, sedang Nabi Musa as lahir di tahun pembunuhan.

Sedangkan kata فَأَنجَيْنَاكُمْ pada ayat 50, dimaksudkan menjauhkan siksaan tersebut secara keseluruhan. Dalam konteks ayat di atas, keselamatan tersebut diberikan oleh Allah kepada Bani Israil ditandai dengan keruntuhan rezim Fir’aun dan kematiannya, sehingga terhenti penindasan terhadap Bani Israil.[4]

2. Iltifat pada Bilangan (al-‘Adad). Contoh dari iltifat ini terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 7

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿٧﴾

Iltifat yang terjadipada ayat tersebut adalah pemakaian mufrad dan jama’. Dalam kata ٰ قُلُوبِهِمْ, bentuknya adalah jamak, kemudia beriltifat ke سَمْعِهِمْ yang bentuknya mufrad, kemudian kembali ke أَبْصَارِهِمْ yang berbentuk jamak.

Iltifat ini  terjadi dari segi gramatikal bahasa Arab yaitu dari segi bilangan, yaitu perpindahan dari bentuk jamak (banyak) ke mufrad (tunggal), kemudian kembali lagi ke bentuk jamak (banyak). Jadi dalam konteks ayat tersebut ingin diberitahukan, bahwa –dari segi fungsi- pendengaran itu berbeda dengan hati dan penglihatan. Hati dan penglihatan dapat membedakan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan dengan baik dan benar, dan tidak demikian halnya dengan pendengaran. Seperti orang menangis, hati dan penglihatan bisa membedakan dengan baik, mana orang yang menangis karena sedih dan menangis karena bahagia. Tapi bagi pendengaran yang dia tahu cuma menangis, dan menangis adalah karena sedih. Makanya banyak ayat al-Qur’an yang menyebutkan kata سَمْعِهِمْ dalam bentuk mufrad.

3.Iltifat pada kata ganti (adh-dhamir) contoh dalam surat ‘Abasa ayat 1-5

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ﴿١﴾ أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ ﴿٢﴾ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ ﴿٣﴾ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ ﴿٤﴾ أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ ﴿٥﴾

Pada ayat ini Allah menggunakan kata ganti orang ketiga pada awal permulaan ayat. Allah telah menunjukkan sikap tidak senang terhadap apa yang telah dilakukan oleh Nabi dan menegurnya di depan seluruh pendengarnya. Karena pemakaian kata orang kedua atau lawan bicara, menunjukkan adanya kedekatan antara pembicara dengan kedua. Peralihan kepada kata ganti orang kedua yang terjadi setelah itu, dengan sendirinya merupakan sebuah teguran. Peralihan ini berlangsung dengan tiba-tiba dan penuh dengan kekuatan.

4. Iltifat dalam Kosa kata (al-Mu’jam). Diantara contohnya terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 17:

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَّا يُبْصِرُونَ ﴿١٧﴾

Iltifat terjadi pada kata أَضَاءَتْ dan kata بِنُورِهِمْ . Dalam pemahaman sehari-hari kedua kata tersebut mempunyai makna yang sama, yaitu menyinari atau memberi cahaya. Quraisy Shihab dalam tafsirnya mengemukakan, bahwa adha’at digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang bersinar dan sinarnya itu bersumber dari dirinya sendiri. Sementara sesuatu yang bercahaya tetapi cahaya itu merupakan pantulan dari sesuatu yang lain dinamakan ”nur” yang berarti cahaya.

Dalam konteks ayat di atas, yang berhubungan dengan sifat orang munafik, dapat difahami bahwa sebenarnya ada yang menerangi jalan mereka, dan itulah petunjuk-petunjuk al-Qur’an maka dipakaikan kata أَضَاءَتْ. Tetapi karena mereka tidak mau mengambil manfaat dari sinar itu, Allah kemudian menutupi cahaya yang menerangi mereka, hingga mereka tetap berada dalam kegelapan.

quran-in-the-candlelight

Iltifat juga terjadi pada kata نَارًا dan بِنُورِهِمْ. Dari segi kandungan makna, kata nar” mempunyai dua unsur daya, yaitu daya membakar dan daya menyinari. Sedangkan “nur” cuma punya satu daya, yaitu daya menyinari. Daya membakar bisa memberi manfaat, namun bisa juga memberi petaka bagi kehidupan manusia. Sementara daya menyinari selalu memberi manfaat bagi manusia. Orang munafik digambarkan oleh Allah dengan menggunakan redaksi metafora, yaitu seperti api yang mempunyai dua unsur. Karena sifat jelek yang selalu melekat pada diri mereka, Allah kemudian mengambil daya sinarnya dan membiarkan mereka dalam kejelekan dan kegelapan.

5. Iltifat dari segi Adawat: contohnya adalah dalam surat al-Baqarah ayat 131:

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَـٰذِهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُ ۗ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللَّهِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ﴿١٣١﴾

Iltifat pada ayat di atas adalah penggunaan adat إِذَا dan إِن. untuk kata idza digunakan untuk menunjukkan adanya kepastian terjadinya sesuatu yang dibicarakan, yaitu datangnya kebaikan. Sementara in” digunakan untuk menunjuk kepada keraguan atau jarang terjadi sesuatu yang dibicarakan, yaitu kejelekan atau kesusahan. Kaidah tersebut mempunyai makna bahwa kebaikan itu sifatnya pasti dan jumlahnya banyak, ada setiap waktu, sementara musibah itu sesuatu yang negatif, dan sifatnya tidak pasti, serta jumlahnya sedikit. Inilah mungkin rahasianya, dalam konteks kebaikan al-Qur’an menggunakan kata “idza”, dan dalam musibah digunakan kata “in”.

6. Iltifat dalam Bina al-Nahwy. Diantara contoh iltifat dalam bentuk ini adalah dalam surat al-Fatihah ayat 7:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧﴾

Iltifat yang terjadi pada ayat di atas adalah pada penggunaan jumlah fi’liyah أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ, beriltifat pada ismiyah غَيْرِ الْمَغْضُوبِ . ltifat ini dari segi gramatika, dari penggunaan jumlah fi’liyah ke jumlah ismiyah. Jika tidak terjadi iltifat maka redaksinya akan berbunyi  الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الَّذِينَ. Penggunaan kata an’amta berhubungan dengan nikmat yang diberikan oleh Allah. Sedangkan lafadz ghair al-Maghdhubi ‘alaihim mengisyaratkan kemarahan, maka semestinya tidak disandarkan kepada Allah. Jadi tidak diisyaratkan dengankata غير الذين غضبت عليهم.

my inspiration

Inilah diantara keindahan al-Qur’an, baik dari sisi inspirasinya terhadap manusia maupun, dari sisi kebahasaan dan pilihan kata-katanya. Namun terkadang kita kurang memperhatikannya, sehingga al-Qur’an hanya seperti bacaan biasa dan diagung-agungkan, tanpa pernah menggali apa isi dan makna yang terkandung di dalamnya.

Wallahu a’lam bi as-shawab

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran al-Karim

Attaki, Hanan, Meditasi al-Qur’an, Bandung: Penerbit Attaqie, 2008

Abdul Halim, Muhammad, Menafsirkan al-Qur’an dengan Al-Qur’an, terjemah. Abdul Halim, Penerbit Nuansa, 2008

Idris, Mardjoko, Al-Balaghah: Kajian Ayat-ayat Iltifat dalam Al-Qur’an, Yogyakarta: Penerbit Belukar, 2009

Shihab, M. Quraisy, Tafsir al-Misbah : Pesan Keserasian Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2002


[1]  Mardjoko Idris, Al-Balaghah: Kajian Ayat-ayat Iltifat dalam Al-Qur’an, (Yogyakarta: Penerbit Belukar, 2009), Hal.22

 

[2] Muhammad Abdul Halim, Menafsirkan al-Qur’an dengan Al-Qur’an, terjemah. Abdul Halim, (penerbit Nuansa, 2008) hal.247-248

[3] Mardjoko Idris ,Op.cit, hal.15

[4] Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002) volume 5. hal 344

*Lulusan S2 Jur Tafsir IAIN Imam Bonjol Padang – Gen 1 MAKN Putri

AL-QUR’AN DAN KEINDAHAN (1/2)

3 November 2009 at 1:01 pm | Posted in AL-QURAN, Gen 1 | 2 Comments
Tags: ,

 oleh: Rika Yuni*

allah-quranAl-Qur’an itu indah. Indah dari segi bahasa, indah dari segi makna, indah dari segala sisi yang akan mewarnai kehidupan manusia. Keindahan al-Qur’an itu akan dirasakan oleh jiwa yang bersih, dan al-Qur’an juga bisa menjadi sumber kebahagian dan nutrisi bagi jiwa manusia. Manusia terlahir dengan fitrahnya yang selalu menunjukkan kepada kebaikan dan keindahan. Maka fitrah manusia juga mudah untuk mengenali keindahan al-Qur’an, jika fitrah itu tidak terkontaminasi dengan hal-hal yang buruk.

Al-Qur’an adalah sumber kebahagian sejati, yang menunjukkan manusia kepada kebenaran, menyembuhkan luka di dalam jiwa dan memberi kedamaian bagi semesta. Dengan energi al-Qur’an, jiwa manusia akan digerakkan secara sadar untuk mewujudkan ide-ide Tuhan ke dalam kehidupannya. Di sinilah manusia merasakan fitrahnya.

al-Quran in my heartUntuk menjadikan al-Qur’an sebagai sumber kebahagian kita yang akan menerangi jalan kita untuk kebahagian dunia dan akhirat, kita harus menempatkannya pada tempat tertinggi dalam kehidupan kita. Sehingga kemanapun kita pergi, al-Qur’an senantiasa terlihat jelas dan selalu menerangi jalan kita. Al-Qur’an perlu dijadikan tema sentral setiap pembicaraan sehari-hari, ilmu yang diajarkan kepada anak-anak, arus logika yang dipikirkan dalam keadaan duduk dan bepergian, serta moral yang senantiasa diwujudkan. Al-Qur’an mesti menjadi landasan kehidupan keluarga, masyarakat dan Negara.


Kaum muslimin mengakui bahwa al-Qur’an adalah mukjizat terbesar bagi umat Islam. Namun ketika ditanya, dimana letak kemukjizatannya, sebagian besar tidak mengetahui dimana letak kemukjizatannya. Kalaupun mereka pernah membaca buku, mereka akan mengatakan sesuai apa yang tertulis dalam buku, tanpa pernah benar-benar merasakan kemukjizatan al-Qur’an tersebut, baik dari segi bahasa, keindahan balaghah dan lain sebagainya.

Keindahan Al-Qur’an

1. Al-Qur’an sebagai Inspirasi Jiwa

Al-Qur’an adalah inspirasi jiwa manusia. Energinya dapat memberikan kekuatan bagi manusia, baik itu mereka sadari ataupun tidak. Sebagai makhluk yang tercipta dari dua elemen penting, raga dan jiwa, manusia membutuhkan nutrisi yang cukup untuk hidup dan berkembang. Raga tercipta dari tanah, maka dia butuh nutrisi yang berasal dari unsur-unsur tanah. Sedangan jiwa berasal dari wahyu-Nya, maka al-Qur’anlah vitamin dan nutrisi bagi jiwa yang mencari kesegaran dan kebugaran.[1]

Jiwa adalah perpaduan antara pikiran dan hati. Jika pikiran dan hati menemukan kondisi terbaiknya, maka raga pun akan memperoleh kondisi yang sama. Kondisi terbaik bagi pikiran dan hati adalah ketika ia berada dalam naungan al-Qur’an. Pikiran, ketakutan, dan emosi, sering kali merangsang kondisi fisik yang dapat dideteksi, namun kadang kita tidak menyadari hubungan ini dan mengendalikannya secara sadar.

Pikiran adalah cahaya penuntun tubuh yang dapat memberi pengaruh secara fisik dan emosional. Pikiran seperti benih-benih yang kita tanam di dalam benak dan hati kita. Mereka dapat menghasilkan kesehatan atau penyakit.

al-quranDengan hanya mendengar bacaan al-Qur’an, hati bisa tersentuh, apalagi jika kita memahami makna yang terkandung di dalamnya. Banyak hal yang memberikan rasa takjub jika berkaitan dengan al-Qur’an, walau hanya dengan mendengar orang membacanya. Pada masa Nabi Saw, kita tahu betapa kerasnya Umar bin Khatab menentang Nabi Saw, namun ketika mendengar bacaan al-Qur’an hatinya sangat tersentuh. Begitu juga seorang kafir Quraisy yang sangat menentang Nabi, yaitu Walid bin Mughirah, seorang pemuda yang terkenal ahli sastra dan intelektual di masanya karena mempunyai banyak keahlian, namun dia seakan merasa tersihir mendengar bacaan al-Qur’an karena keindahan bahasa yang dia dengar dan maknanya yang begitu dalam.

Tapi karena keegoaannyalah, dia tidak mau mengakuinya, tapi malah mengatakan Nabi sebagai tukang sihir.Qu.ran Seperti yang dikatakan Michael Sell penulis buku Approaching the Qur’an, ketika dia menulis peristiwa di Kairo pada suatu sore, dia melihat hal yang tidak biasa, yaitu jalan-jalan di kota yang sibuk menjadi lengang, tapi kafe-kafe dipenuhi dengan orang-orang yang mengerumuni televisi. Jika ada peristiwa khusus yang ditayangkan seperti kematian orang besar, atau pertandingan sepak bola penting, mungkin hal seperti itu dapat terjadi. Tapi ternyata mereka berkumpul karena mendengarkan salah satu qari ternama sedang membaca al-Qur’an. Dan ketika dia kembali ke hotel, lobi dipenuhi oleh orang, dan sebagian orang Mesir Nasrani, menonton dan mendengarkan pembacaan al-Qur’an dengan khusyu’.

Al-Qur’an adalah suatu nama dengan seribu makna. Bagi pengelana, al-Qur’an laksan oase yang menyegarkan dan memupus dahaga. Bagi remaja, al-Qur’an adalah madrasah yang mampu memupuk mentalitas mereka menjadi generasi Rabbani. Bagi para pencari ketenangan, al-Qur’an adalah rumah klinik yang mampu menerapi jiwa dan menyembuhkannya dari penyakit-penyakit cemas, sedih, dan gelisah.

Al-Qur’an itu adalah cahaya yang maha indah. Keindahannya melebihi keindahan semesta. Perumpamaan cahaya al-Qur’an dengan cahaya lainnya, ibarat cahaya matahari dengan cahaya lilin. Al-Qur’an adalah matahari jiwa, dan kebenaran yang lahir dari logika. Manusia merupakan lilin yang meleleh dan lenyap bersama lenyapnya waktu. Padahl lilin itu belum memberi banyak cahaya bagi jiwa yang tersesat.

Al-Qur’an merupakan energi bagi jiwa manusia. Salah satu kerja al-Qur’an dalam menumbuhkan energi kesehatan jiwa adalah dengan menyuguhkan berbagai kisah menarik seputar manusia-manusia terpilih. novelSeperti novel War and Peace karya Leo Tolstoy yang dapat membangkitkan semangat bangsa Prancis untuk menjadi bangsa yang unggul di dunia, al-Qur’an juga sumber semangat sekaligus inspirasi dan nutrisi jiwa. Kisah dapat membantu membangun dunia baru di dalam otak yang selanjutnya dipancarkan melalui frekuensi pikiran secara terus menerus menjadi gambaran-gambaran yang hidup dan nyata.[2]

Cerita selalu menimbulkan spirit, walaupun fiktif sekalipun. Apalagi al-Qur’an yang menyuguhkan kisah nyata dengan ketinggian sastra untuk membangun karakter dan jiwa manusia. Al-Qur’an mengisahkan berbagai cerita indah tentang kehidupan orang-orang shaleh dan yang taat kepada Allah, epik kepahlawanan para Nabi, kehancuran bangsa-bangsa yang ingkar, dan bahkan kisah binatang-binatang terpilih. Jadi semakin banyak kita membaca kisah al-Qur’an, semakin dekat kita kepada sosok yang diinginkannya.

Al-QuranJika engkau menyukai bunga-bunga yang ranum dan harum di taman, maka sesungguhnya ayat-ayat al-Qur’an adalah bunga kasturi yang mekar di taman surga.

Jika seseorang ingin mendapatkan sahabat yang setia, yang bersedia membelanya di dalam setiap kesusahan, maka ketahuilah bahwa al-Qur’an adalah sahabat sejati yang akan membelanya di mahkamah Raja Diraja (Allah Swt)

Jika seorang pesulap dapat memegang bara api dengan tangannya atau dapat memasukkan kayu yang menyala ke dalam mulutnya, maka al-Qur’an memberikan keselamatan bahkan dari api neraka jahanam. Inilah diantara keindahan al-Qur’an, yang sekaligus bisa menjadi inspirasi dan ketenangan dalam jiwa manusia.


[1] Hanan Attaki, Meditasi al-Qur’an, (Bandung: Penerbit Attaqie, 2008), hal.34

[2] Ibid,hal.37

*Lulusan S2 IAIN Imam Bonjol Padang – Gen 1 MAKN Putri

EMAK INGIN NAIK HAJI…

3 November 2009 at 12:55 pm | Posted in Gen 1, MOTIVASI | 3 Comments
Tags: , , ,

kaver-emak-final

oleh: Dwi Sukmanila Sayska*

Ini bukannya judul film religi yang akan dirilis 12 November mendatang, yang diadaptasi dari cerpen Asma Nadia? Kok tiba-tiba ngomongin film? Apa shootingnya di Kairo lagi? Hehehe jelas bukan sodara-sodara…

Sebenarnya disini bukan membahas filmnya, tapi pesan moral dari film tersebut, terutama tentang  HAJI-nya itu… hajiapalagi sekarang-sekarang ini kan masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir) lagi sibuk-sibuknya ngurus keberangkatan haji, ada yang jadi petugas temus (tenaga musiman) dan ada yang haji pribadi.

Bahkan dari Almakkiyat juga ada lho yg haji…selamat jalan ya ukhty…semoga meraih haji mabrur…jangan lupa doakan kami semuwa…agar diampuni dosa, diberi bahagia di dunia dan di surga, dan dipanggil Allah pula kesana ^_^ Oh ya…oleh-olehnya jangan lupa…

Kembali ke film, berdasarkan info dari berbagai sumber dan kesimpulan sepihak stelah liat trailernya, film Emak Ingin Naik Haji menyentil fenomena sosial ketimpangan umat Islam Indonesia dalam melaksanakan rukun Islam kelima. Emak adalah representasi dari kelompok masyarakat yang sangat merindukan Mekkah tapi karena faktor finansial, pergi haji hanyalah impian yang sangat jauh di awang-awang (kayak Asrul dan Udin di PPT 3 juga). Sementara itu, Juragan Haji bersama keluarganya yang kaya raya, dengan sgala kemudahan bisa pergi haji dan umroh kapan saja mereka suka. Adapula Pak Joko, politisi yang memaksakan diri pergi haji karena ingin memamerkan titel hajinya saat pemilu demi meraup banyak suara. Sedangkan putri juragan yang masih belia pergi umroh hanya karna bareng artis idola.

Hal yang paling menyentuh adalah kegigihan Emak mewujudkan impiannya, menyisihkan rupiah demi rupiah dari hasil jualan kue dan sebagian hasil jual lukisan anaknya, Zein untuk ditabung jadi ONH. Bagaimana dengan kita? Sementara jarak ke Mekkah jauh lebih dekat dibanding dari Indonesia. Memang sih, haji dari Mesir tidaklah mudah, walau ONH cuma ½ dari ONH Indonesia, tapi tetap saja MAHHALL karna belum termasuk akomodasi dan komsumsi di tanah suci. Belum lagi wanita harus punya mahram, jadwal haji yang bentrok sama waktu kuliah atau ujian, si kecil yang tak mungkin ditinggal dll.

panggil kami ya Rabb

Tapi setidaknya, apakah kerinduan itu sudah bersemayam di hati kita, untuk segera menjadi tamu di rumah-NYA? Atau malah kekurangan dana sudah bikin kita putus asa tanpa terus berjuang agar bisa haji tahun depan, depannya lagi atau depan-depannya lagi? Atau karena merasa masih muda, belum terfikir untuk menyambut panggilan suci-Nya? Memang benar, haji hanya wajib bagi merka yang mampu menunaikannya, dan itu bukan sekedar masalah dana…tapi apakah kita sudah berusaha untuk mampu? Akhwati fillah… Sudahkah niat terpancang di jiwa kita agar pergi haji bukan tinggal khayalan semata? Seperti ungkapan Emak: “raga Emak mungkin tidak mampu kesana, tapi Allah tahu, hati Mak udah lama ada disitu…”

masjiid-alharamnabawi

bundaDi sisi lain, film ini (baca: trailernya) juga menyentak kalbu menyaksikan perjuangan Zein untuk menghajikan ibunya.  Mengingatkan kita tentang bakti pada ibunda, atas kasihnya yang tak akan terbalas dengan dunia dan seisinya. Sudahkah kita mampu walaupun sekedar mengukirkan seulas senyum di wajah tulus ibu terkasih? Telahkah kita percikkan sedikit bahagia di bening hati bunda tersayang? hujan

Untuk menambah tabungan haji Emak, Zein bahkan sempat berniat mencuri, hingga akhirnya ikutan undian di koran dan menang. Namun saat akan memberitahu kabar gembira itu pada Emak, dia kecelakaan, koran di tangannya berhamburan dibasahi hujan.

doakuPerjuangan itu menyusupkan rindu, melayang jauh ke sebrang benua sana, mengenang ayah bunda tercinta… betapa ingin membawa mereka ke Mekkah…Ya Allah kabulkanlah…

Mak
ingin kubawa kau pada rumah mimpimu
yang dari dalamnya terpancar keindahan Ilahi
dan berjuta tanda kebesaran-Nya

Tapi Mak
tanganku terlalu lemah dan daya yang kupunya
seperti hembusan angin melintas celah batu karang

Mak
rumah mimpimu
entah kapan kupersembahkan
tapi ia selalu ada dalam doaku

(puisi dikutip dari anadia.multiply)

*Lulusan S2 al-Quran Sunnah Univ Kebangsaan Malaysia – Gen 1 MAKN Putri

KEPEDULIAN TERHADAP FAKIR MISKIN dalam PERSFEKTIF AL-QURAN

3 November 2009 at 12:10 am | Posted in AL-QURAN, Gen 1 | 1 Comment
Tags: ,

oleh: Jani Arni*

Fenomena kemiskinan adalah fenomena yang sangat dengan akrab dengan masyarakat, apalagi di negara kita “Indonesia”, sehingga mendapat julukan dengan “Negara Berkembang”. Lembaga-lembaga survei telah banyak menyebutkan tentang angka kemiskinan di Indonesia. Di antaranya menyebutkan bahwa penduduk miskin per bulan Maret 2008 tercatat berjumlah 34,96 juta jiwa (15,42%).

miskinBanyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya kemiskinan tersebut, di antaranya adalah rendahnya etos kerja, dan tidak punya skill untuk bersaing di era sekarang. Masih banyak faktor lainnya, yang tidak akan pernah habis jika dibahas.

Upaya pengentasan dan pengurangan jumlah angka kemiskinan tersebut telah banyak dilakukan baik oleh individu, masyarakat, lembaga-lembaga, ataupun pemerintah, namun angka kemiskinan tersebut masih tetap memprihatinkan.

Al-Quran sebagai pedoman hidup umat Islampun tidak pernah tinggal diam dalam upaya pengentasan kemiskinan ini. Banyak ayat-ayat al-Quran yang menyatakan kepeduliannya terhadap kemiskinan dalam bentuk menggugah dan memerintahkan umat Islam memberikan dan mendistribusikan sebagian hartanya untuk fakir miskin, karena di dalam harta mereka terdapat hak orang lain. Firman Allah: (QS. Al-Ma’arij: 24-25)

al_quran

Setidaknya ada 7 macam bentuk pendistribusian harta kepada fakir miskin menurut al- Quran:distribusi harta

1. Zakat, infaq, dan sedekah. (QS.al-Baqarah:83, 177, 215, al-Nisa’:29, al-Taubah: 60)

2. Qismah atau wasiat (QS. Al-Nisa: 8,

3. Harta Rampasan Perang (Ghanimah/ Fayy) (QS.al-Anfal: 41, al-Hasyr: 7)

4. Fidyah (QS. Al-Baqarah: 184)

5. Kafarat Sumpah (QS. Al-Maidah: 89)

6. Kafarat (Denda dalam ibadah haji) (QS. Al-Maidah: 95)

7. Kafarat menzihar isteri (QS. Al-Majadilah: 4)

uang-niche-adsenseDari penjelasan di atas dapat dilihat ada 7 bentuk pendistribusian harta untuk fakir miskin. Pertanyaan selanjutnya, tapi kenapa masih tinggi angka kemiskinan? Barangkali alternatif jawabannya adalah, masih banyak umat Islam yang belum melaksanakan perintah ini. Manusia cenderung menumpuk hartanya, bahkan lebih suka melengkapi kehidupan dengan perhiasan dan kemewahan dunia.

Di sisi lain, juga telah banyak orang-orang yang sangat tergugah dengan himbauan al-Quran ini, karena dapat dilihat semakin marak berdirinya lembaga-lembaga amil zakat, seperti adanya BAZDA, BAZIS, Rumah Zakat, dan lain-lain.

Selanjutnya, barangkali juga perlu didiskusikan kembali efektifitas penyaluran zakat kepada orang-orang yang membutuhkan tersebut?. Jika merujuk kepada ayat al-Quran, di antara upaya pengentasan kemiskinan disebutkan dengan memberi makan “إطعام “ kepada orang miskin. Ungkapan ini jangan hanya dipahami secara lahiriyah saja, karena jika dipahami demikian sifatnya masih konsumtif, tidak membangun ke depan, dan ini cocok pada kondisi tertentu saja. bltAgar upaya pengentasan kemiskinan ini lebih efektif, agaknya istilah “ إطعام “ harus dipahami dengan lebih luas yaitu memberi makan dalam jangka waktu yang panjang. Artinya, zakat-zakat yang sudah dikumpulkan oleh lembaga-lembaga tersebut tidak memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) kepada fakir miskin, close-up-boy-graduation_~gwil11321namun memberikan berupa beasiswa pendidikan, pembekalan skill dengan mengadakan pelatihan-pelatihan sehingga dengan skill tersebut mereka mampu memperbaiki kehidupan mereka sendiri di masa mendatang.

Wallahu A’lam

*Lulusan S2 Jur Tafsir IAIN Imam Bonjol Padang – Gen 1 MAKN Putri

sumber tulisan: janiarni.blogspot.com

Create a free website or blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.