PROSES DI ATAS SEGALANYA

25 November 2010 at 10:36 am | Posted in AKHLAK, Gen 7, MOTIVASI, ORGANISASI | Leave a comment

Oleh: Musrida Arneili Lc.

Kejayaan Islam yang sedang kita nikmati sekarang bukanlah sebuah hadiah cuma-cuma dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada kekasih-Nya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejarah menyatakan bahwa sang kekasih yang memiliki kedudukan mulia disisi-Nya baru Ia angkat menjadi seorang nabi ketika berumur 40 tahun, setelah terlebih dahulu melalui cobaan yang datang silih berganti demi untuk memantapkan keteguhan iman nabi-Nya. Mulai dari ujian ditinggal mati ayahandanya sejak masih dalam kandungan, kematian ibu ketika kecil dan hingga remaja pun masih sering berpindah tangan dalam pengasuhan, dihina, dicaci dan disakiti. Semua itu proses…
Al-Qur’an diturunkan sedikit demi sedikit, ditalqinkan, dibacakan kepada nabi-Nya selama lebih kurang 23 tahun. Andai Allah mau, pasti Dia bisa saja menjadikan kekasih-Nya itu bisa langsung hapal Al-Qur’an dan menjelaskannya kepada umatnya. Namun kenyataannya tidak! Beliau menerimanya selama bertahun-tahun dan penuh perjuangan. Lagi-lagi itu adalah proses…
Bumi dan langit serta isinya mengalami proses penciptaan dan penyempurnaan dalam kurun waktu 6 masa, sebagaimana dijelaskan dalam surat Fusshilat ayat 9-12 dan dalam surat Qaf ayat 38. Tak diragukan lagi bahwa sang Pemiliknya mampu menciptakannya -dari tiada menjadi ada- hanya dalam waktu sekejap saja,”kun fa yakun”. Namun Dia tak menginginkan hal itu, karena Dia yang Maha bijaksana lewat ayat ini ingin mengajarkan pada hamba-Nya tentang pentingnya arti sebuah proses.
Kesuksesan adalah hasil dari sebuah proses. Mau tak mau seseorang harus berteman dengan proses, sadar atau tidak mengabaikan sebuah proses adalah pintu menuju kekecewaan. Tak ada seorangpun mampu menunjukkan keberhasilannya tanpa melalui sebuah proses. Dan tentunya orang yang melalui proses yang berat dan panjang tentunya akan mendapatkan hasil yang jauh berbeda dibanding orang yang melakukan segala sesuatunya dengan serba instant.

Belakangan kita lihat banyak yang mengabaikan proses, mereka lebih berorientasi pada hasil. Inginnya instant, proses pendek tapi mengharap hasil maksimal. Jika setiap orang lebih mementingkan hasil daripada proses yang ada hanyalah kecendrungan untuk mencari jalan pintas, apalagi di zaman yang serba canggih seperti sekarang. Kriminalitas adalah salah satu akibat dari diabaikannya proses. Mereka ingin punya banyak harta tanpa mau menjalani proses usaha.
Sesuatu yang dihasilkan melalui proses tentu lebih bermutu dibandingkan hasil tanpa proses. Contohnya saja pisang. Pisang yang baru dipetik dan langsung dijual tentu harganya berbeda dengan yang telah diolah dengan tepung dan melalui beberapa proses hingga menjadi lemper. Dan tentunya lagi, pisang yang cuma diolesi tepung dan menjadi goreng pisang tak semahal pisang bakar coklat atau keju yang proses pembuatannya lebih rumit dengan tambahan bahan yang lebih mahal. Proses menentukan kualitas dari sebuah hasil. Semakin sulit, rumit, bahkan berat prosesnya tentu akan menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai.
Dalam keseharian sering kita dengar “Enaknya,,, yang dah wisuda en bentar lagi mo pulang dengan bawa Lc…”. Demikian komentar sang junior melihat keberhasilan seniornya. Dan ketika melihat teman yang sudah banyak hapalannya selalu ada yang bilang “asyik ya, bentar lagi dia khatam”. Begitulah yang sering kita hadapi dan lalui, cuma melihat hasil tanpa mau sedikit merenungi kilas balik perjuangannya. Terkadang banyak yang cuma sekedar berkomentar tanpa mau tahu proses panjang yang mereka lalui untuk menggapai kesuksesan itu. Jika kita hanya melihat hasil dari kesuksesan seseorang, berarti kita tidak sedang mulai mencontoh jejak langkah orang tersebut, melainkan sekedar memuji tanpa aksi nyata untuk ikut sukses di kemudian hari.

Proses panjang akan terasa sangat berat jika kita hanya berorientasi pada hasil akhir. Coba kita perhatikan ibu hamil 9 bulan yang kemana-mana harus bawa “genderang besar”, tentunya berbeda dengan kita yang tiba-tiba mau merasakan keadaan mereka dengan langsung mengikatkan sekantung beras dipinggang, karena mereka telah melewati proses panjang hingga menjadi sebuah kebiasaan yang dijalani dengan ikhlas. Satu poin penting lagi, proses apapun itu harus dijalani dengan sabar, ikhlas dan istimrar.
Nah kebetulan tema kali ini tentang Indo-Kairo-kuliah dan ujian, tentunya ini adalah sebuah rangkaian proses. Proses untuk menjadi seorang muslimah da’iyah yang dinanti kehadirannya oleh umat Islam di Indonesia -tanah air kita- terkhusus keluarga dan kerabat tercinta.
Jauh sebelum hari ini -hari penantian bagi yang mau pulang dan awal perjuangan bagi yang baru datang- kita semua telah mengawali proses itu. Tak ada kata terlambat untuk mampu menjadi yang terbaik demi mereka yang selalu menanti kedatangan kita.

So, hendaknya kita semua selalu tajdid niat untuk menikmati sebuah proses dan bukan sekedar hasil. Kembali hadirkan di depan kita target-target yang telah kita rancang kemaren dan berikan haknya berupa pelaksanaan. Kalo yang mau instant, bersiap-siaplah untuk kecewa suatu saat nanti. Dan bagi yang iltizam, tetaplah istiqamah dan penuh semangat! Wallahu musta’an…

Sosok Ibu sebagai Madrasah Perdana

25 November 2010 at 10:35 am | Posted in Gen 6, KELUARGA | Leave a comment


Oleh: Fitri Shabrina Lc.

Islam  memberikan perhatian yang besar terhadap tarbiyah anak sejak dini. Karena anak adalah pemimpin masa depan. Sudah menjadi kewajiban orangtua untuk membentuk figur yang tangguh dalam memikul tanggung jawab, menjadi panutan karena kebersihan jiwanya, ketinggian akhlaknya dan kecerdasan dirinya. Sosok sosok seperti inilah yang diharapkan untuk memimpin ummat dimasa yang akan datang.

Lalu, siapakah pemeran utama pada madrasatul ula ini? Dialah sosok ibu yang mengandung generasi generasi harapan itu, kemudian menyapih mereka dengan air susunya, mendidik mereka dan ibu menjadi pemimpin di dalam rumah suaminya. Maka, tak dikeragui lagi bahwa ibu adalah orang yang paling berpengaruh pada pribadi sang anak. Oleh karena itu, untuk mewujudkan generasi harapan ini sangat tergantung dengan sosok yang akan memberikan suguhan tarbiyah tersebut. Apabila setiap ibu telah menjalankan amanahnya dan mampu menjadi teladan yang baik, Insya Allah, ummat rabbani bukan hanya menjadi sekedar mimipi.

Tanggung jawab besar ini menghasilkan limpahan pahala yang besar pula.  Selain itu, hanya anak yang solehlah yang dapat mendoakan orang tuanya kelak ketika telah tiada. Sebagaimana yang disabdakan oleh rasulullah saw dalam hadisnya

اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث, صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له

(An-Nawawi, Shohih Muslim bi Syarhi Imam Nawawi, vol. 1, hal. 25)

Jika telah meninggal anak Adam, maka terputuslah pahalanya kecuali salah satu dari tiga perkara; shodaqah jariyah, ilmuyang bermanfaat baginya, atau seorang anak soleh yang mendo’akannya

Dalam mendidik anak, tidak hanya usaha saja yang dibutuhkan. Namun, untaian do’a juga akan menentukan. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt. dalam ayatnya:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (74)

 

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan : 74 ) 

 

Fase Fase dalam Mentarbiyah Anak

1  Masa Kehamilan

 

Tarbiyah terhadap anak hendaknya telah dimulai sejak sang buah hati masih dalam kandungan. Walaupun jenis tarbiyah ini masih bersifat permulaan, namun hal ini juga membantu untuk membantu dalam pembentukan kepribadian anak kelak. Jika kita lihat dari ilmu kedokteran, ketika janin telah berusia 14 minggu, panca indranya telah mulai berkembang hingga mencapai fungsi yang sempurna sampai waktu bayi siap untuk dilahirkan. (lih. Perkembangan janin dari minggu keminggu, nakita, hal. 44). Ketika ilmuwan moderen telah menemukan penelitian terbaru untuk menganjurkan ibu memperdengarkan musik musik klasik untuk merangsang  perkembangan indra dan otak bayi, maka mengapa kita tidak memperdengarkan kalimah toyyibah dan lantunanayat suci alqur’an untuk memperkenalkan calon bayi dengan tuhannya. Hal ini akan lebih memperkokoh  ikatan janji Allah dengan sang bayi ketika di zaman azali sebelum ia lahir kedunia untuk mengemban tugas sebagai khalifah di atas

bumi ini. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)” (QS. al-A’raf: 172)

Selain itu, sentuhan lembut sang ibu juga dapat memberikan ketenangan bagi janin. Dan anak akan merasa terlindungi dengan adanya kontak fisik ini.

2  fase ketika anak dilahirkan

 

Ketika sang anak telah terlahir kedunia, maka, dianjuran bagi sang ayah untuk memperdengarkan azan di telinga kanan dan iqamat di telinga kirinya. Ini merupakan tarbiyah bagi anak agar kaimat pertama yang ia dengar ketika terlahir kedunia adalah I’lanu bittauhid.( lih. Tarbiyatul aulad, ‘Athiyah Saqar, hal. 149 )

Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw.  dalam hadisnya yang terdapat pada sunan Abi Daud dan Tirmidzi yang berbunyi:

عن ابي رافع عن ابيه قال رأيت رسولله صلى الله عليه و سلم أذن فى أذن الحسن بن على حين ولدته فاطمة بالصلاة

” Dari Rafi’ maula Rasulullah saw berkata: Aku melihat Rasulullah Saw. Mengazankan Hasan bin Ali pada telinganya ketika Fatimh melahirkannya dengan azan shalat” (Sunan Abu Daud, vol 13, hal. 305)

3  fase menyusui

Fase menyusui adalah fase dimana seorang anak mulai meniru prilaku sang ibu. Jadi, tarbiyah yang berlangsung pada fase ini bersifat spontanitas. Karna seiring dengan berjalannya waktu, kedekatan ibu dan anak akan mempengaruhi jiwa anak. Oleh karena itu, seorang ibu harus memiliki kepribadian yang baik, kondisi kejiwaan yangbagus dan kesehatan yang prima. ( lih. Tarbiyatul Aulad, ‘Athiyah Saqar, hal 125 )

Menyusui merupakan kewajiban setiap ibu. Namun, jika seorang ibu  tidak sanggup menunaikan kewajiban ini, maka Allah memerintahkan orangtua bayi untuk menyusukannya pada wanita lain agar hak bayi dapat terpenuhi. Dalam hal ini, orangtua bayi harus memilih wanita yang baik dari segi kesehatan, akhlaknya dan pribadinya, karena hal itu sangat berpengaruh terahadap pertumbuhan dan pribadi sang anak. Sebagaimana yang dilakukan oleh ibunda Rasulullah Saw. Beliau memilih wanita  badui yang baik dari bani Sa’ad untuk menyusui putranya tercinta.

Islam menganjurkan ibu untuk  menyusui selama 2 tahun.  Hal ini telah termaktub di dalam al-Qur’an:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…”.

Jika kita lihat lebih jauh, ternyata menyusui masa 2 tahun ini memberikan manfaat  yang besar. Diantaranya adalah:

1.  Terjadinya kontak fisik antara ibu dan anak ketika kebersamaan dan kedekatan ibu dengan anak berlangsung.

2  Menumbuhkan  kontak batin antara ibu dan anak. Oleh karena itu, ketika anak sedang tidak berada dekat ibunya, ia akan merasa kehilangan.

3  Anak akan mampu untuk mengekspresikan keinginannya seperti dengan menangis, atau menggerak gerakan anggota tubuhnya. Sehingga ibu dapat memahami bahasa bayi dan segera memenuhi keinginan sang anak.

4  kedekatan ibu dengan bayi selama 2 tahun ini akan mendatangkan perasaan aman dan damai pada jiwanya. Karena  ia akan merasakan adanya seseorang yang siap melindungi di dalam dekapan yang hangat. ( lih. ‘Uzhomaa’ul Athfal, Jamal ‘Abdurrahman, hal. 196)

Dari sisi akhlak, seoang ibu hendaknya menjaga sikapnya dan mulai mengajarkan adab adab yang baik terhadap anak. Seperti membiasakan mengucapkan Basmalah ketika memberikanASI, membaca Hamdalah ketika telah selesai. Memulai dengan Bismillah ketika memakaikan anak pakaian, mengucap Hamdalah ketika selesai dan adab adab lainnya.

Sedangkan dari sisi psikologi, keikhlasan ibu ketika memberi ASI kepada bayi, akan mempermudah keluarnya ASI. Dan kesehatan jasmani ibupun akan mmpengaruhi kualitas Asi yang akan diberiakan. Selain itu, perasaan tenang dan ikhlas ketika menyusui juga mempengaruhi psikologi  sang bayi.

 

4  Fase Kanak Kanak

Masa kanak kanak adalah fase dimana anak meniru prilaku yang ada disekitarnya. Hal ini juga diisyaratkan oleh imam Al Ghazali. Beliau mengatakan “Anak kecil siap menerima segala ukiran dan cenderung pada setiap yang diucapkan “. Oleh karena itu, jika kita mengajari dan membiasakan anak anak kita dengan kebaikan, maka mereka akan tumbuh di dalam kebaikan itu. Namun sebaliknya jika kita membiasakan mereka tumbuh di dalan kejelekan. ( 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak,  Muhammad Rasyid Dimas, hal. 5). Ini disebabkan oleh potensi besar yang dimilikinya untuk menerima pengaruh negatif maupun positif. Maka, oangtualah yang harus memaksimalkan pengaruh positif tersebut.

Adapun macam macam tarbiyah yang harus kita perkenalkan pada anak sejak dini adalah:

 

Tarbiyah Islamiyah

1.  Aqidah Sohihah

Hal yang paling pertama dan utama sekali adalah mengajarkan anak  mengenal Tuhannya, dan mengajari mereka mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian selanjutnya mengajari mereka tentang rukun iman dan rukun islam. ( lih. Tuhfatul ‘Arus, Muhammad Sholah Hilmi, hal. 257 )

Pada tahap awal, ibu bisa kreatif dengan mengajarkan rukun iman dan rukun islam dalm bentuk lagu agar  lebih mudah diingat. Dongeng sebelum tidurpun bias difariasikan dengan kisah kisah para nabi, sahabat dan para salafussalih sebagai keteladan akidah mereka.

 

2. Memperkenalkan Ibadah Sejak Dini

Rasulullah saw bersabda dalam hadisnya:

مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سني

Suruhlah anak anakmu shalat ketika telah mencapai umur 7 tahun” (Sunan Abi Daud, vol. 24, hal. 88)

Pengenalan ibadah sejak dini akan membuat mereka terbiasa melakukannya hingga telah dewasa nanti. Walaupun pada awalnya terasa berat dan enggan, namun, sang ibu hendaknya terus memotivasi anak untuk membiasakannya dengan tanpa memaksa. Misalnya, dengan memberikan hadiah apabila sang anak dapat menunaikan puasa sehari penuh, membelikan mushaf yang baru ketika anak semangat belajar alqur’an.

 

3. Tarbiyah  Adab dan Akhlak Karimah

#  Belajar Meniru Kepribadian Rasulullah Saw.

Sebaik baik teladan adalah Rasulullah saw..  Keindahan pribadi dan akhlaknya tiada tertandingi. Kita sebagai muslim disuruh untuk meneladani akhlak Rasulullah saw.. Aisyah Ra. Pernah mengisahkan tentang keluhuran akhlak beliau. Sesungguhnya akhlak Rasulullah adalah al  Qur’an. Dan beliau diumpamakan dengan al Qu’an yang berjalan di atas bumi.

# Mengajarkan Adab Islam

Ketika sang ibu mengajarkan adab adab islami ketika anaak masih dalam masa menyusui, maka, ketika masa kanak kanak, anak akan mulai terbiasa melakukannya. Seperti berdoa ketika melakukan sesuatu. Ibu juga harus mengajarkan adab ketika anak anak berhadapan dengan orang yang lebih besar darinya, adab ketika makan, ketika, bertamu dan adab adab lainnya.

Namun, sebagai orang tua yang mendidik, ibu hendaklah melakukan terlebih dahulu apa yang ia ajarkan terhadap anak. Karena, betapaun sang anak berpotensi besar untuk menerima kebaikan dan betapa suci dan lurusnya fitrah anak, namun dia akan tidak dapt merespon prinsip prinsip kebaikan dan dasar dasar pendidikan yang baik tersebut selama ia tidak melihat pendidiknya berakhlak mulia dan menjadi sosok ideal. ( lih. 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak, Muhammad Rasyid Dimas, hal. 20). Mari kita kembali mengingat seruan Allah pada orag orang yang beriman   untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang kita ucapkan. :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)

” Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?  Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash-shaf : 2-3)

 

# Ketika Anak Melakukan Kesalahan

Kesalahan adalah hal yang wajar dilakukan oleh anak anak. Sebab, anak tengah melewati fase fase perkembangan secara bertahap. ( lih. 20 Kesalahan Dalam Mendidik Anak, Muhammad Rasyid Dimas, hal. 13). Namun, tugas seorang ibu, tentu tidak akan membiarkan kesalahan itu terus berlanjut dan menjadi sifat yang melekat pada diri sang anak.  Menyikapinya dengan sabar adalah solusi terbaik. Hal yang harus dihindari oleh ibu ketika menyikapi kesalah anak adalah memarahinya habis habisan dan memberikan hukuman fisik. Karena, menghujani anak anak dengan kata kata dan memukulnya akan berpengaruh terhadap kejiwaan anak. Sehingga anak akan lari dari ibunya, dan cenderung mengulangi kesalahan tersebut.

Adapun  dampak negatif yang diakibatkan oleh hukuman fisik ini akan merusak fisik anak, kondisi kejiwaan , dan akal mereka. Dan tanpa kita sadari, hal ini juga berimbas negatif pada kondisi masyarakat dan negara. Karna, masyarakat dan negara merupakan kumpulan dari komponen terkecil yang bernama keluarga. ( lih. Kaifa Tu’addibu Abna’ana Bighairi Dhorob, Muhammad Nabil Kazhim, hal. 112 )

Namun, dalam menyikapi kesalahan yang dilakukan oleh anak  juga dibutuhkan cara  yang bersifat mendidik. Contonhya, dengan mengatakan terus terang bahwa apa yang ia lakukan adalah salah, dengan ungkapan “anak yang baik atau soleh, tidak melakukan hal ini”. Bila perlu, tunjukan sikap bahwa sang ibu tidak menyukai apa yang dilakukan oleh sang anak, namun tetap diiringi  dengn menunjukan rasa kasih sayang terhadap mereka (lih. Kaifa Tu’addibu Abna’ana Bighairi Dhorob, Muhammad Nabil Kazhim, hal. 96)

 

4  Tarbiyah jiwa dan akal anak anak

Didikan jiwa dan akal anak yang dijalani oleh ibu pada saat sekarang ini merupakan langkah dalam menyiapkan anak yang  berjiwa tangguh dan cerdas baik secara emosi maupun kecerdasan berpikir. Bukankah mereka adalah calon calon pemimpin masa depan? Maka, hal yang mesti diperhatikan oleh sang pemilik madrasatul ula adalah:

# Berbicara Terbuka dan Turut Mengajaknya Bermusyawarah

Jalinan komunikasi antara ibu dan anak akan menumbuhkan kedekatan emosi antara keduanya. Sehingga ketika anak menghadapi masalah , ia akan terbuka pada ibu. Hal ini akan mengurangi beban sang anak. Disamping itu ibupun dapat memantau kondisi anak ketika ketika ia tidak berada di sisi sang ibu.

Mengajaknya bermusyawarah dan meminta pendapatnya dengan membuka perbincangan sekitar hal hal yang masih dalam porsi intelektualitas mereka juga turut membantu kedewasaan mereka dalam berpikir. Selain itu, perbincangan ini juga akan menjadikan mereka merasa bahwa mereka adalah orang yang dibutuhkan. Misalnya, bermusyawarah dengan mereka tentang hal hal yang berhubungan dengan keluarga seperti  meminta pendapat mereka tentang pembagian tugas rumah.

Cara berkomunikasi dengan anak  pada tidak hanya melalui kata kata. Kontak fisik juga dapat mewakili ucapan, seperti dengan mencium untuk mengungkapkan rasa sayang, menepuk pundak mereka dengan lembut dan tatapan mata yang meyakinkan sebagai ganti dari kata kata; ” Ayolah anakku. Kamu bisa!”

Sahl Bin Sa’idi meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulkullah saw diberi minuman, lalu beliau meminumnya. Sedangkan di sebelah kanan beliau ada seorang anak laki laki dan di   sebelah kiri ada seorang sahabat yang lebih tua. Rasulullah Saw. pun bertanya pada anak itu; “Apakah kamu mengizinkn aku untuk memberi mereka ( yang tua) minuman ini terlebih dahulu? “. Sianakpun menjawab; “Tidak, demi Allah aku tidak akan memberikan hakku darimu kepada siapapun”

 

# Melatihnya Untuk Bertanggung Jawab

Memberikan suatu tugas merupakan latihan bagi anak untuk bertanggung jawab. Namun, ada hal hal yang mesti diperhatikan dalampemberian tugas tersebut. Diantaranya, memberikan tugas sesuai dengan jenis kelmin anak, memberi tugas sesuai dengan usianya, tidak memarahinya jika ia salah dalam menunaikan tugas yang diberikan. Misalnya, anak laki laki ditugaskan  bembantu ayah untuk membersihkan kebun. Sedangkan anak perempuan diberi tugas untuk membantu ibu di dapur.  Dan ibu juga harus menghindari pendelegasian tugas yang di luar kemampuan anak. Jika ia melakukan kesalahan dalam melaksanakannya, maka  hindari    diri dari mencerca dan memarahinya. Pahamkan ia dengan baik akan tugas tersebut, apalagi tugas yang baru pertama kali ia lakukan. Sebaliknya, jika sang anak  berhasil menunaikan dengan baik, maka berikanlah sebuah apresiasi dan pujian dengan tidak berlebihan yang akan menambah kepercayaan dirinya.

 

5  Memotivasi Mereka Untuk Belajar dan Mengembangkan Bakat

 

Jika kita ingin kecerdasan dan kemampuan anak berkembang, maka arahkanlah ia pada kegiatan kegiatan yang dapat melatih kemampuan mereka dalam berpikir dan berinovasi.  ( lih. 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak, hal. 141 ). Diantara kegiatan yang mendukung hal itu adalah:

 

Memfariasikan Cara Belajar

Agar belajar tidak membosankan, maka ibu mesti mampu memfariasikan cara belajar pada anak. Misalnya, belajar huruf dengan menggambar benda yang dimualai dengan huruf tersebut. Atau mengajak mereka belajar sambil bermain.

Mendukung Bakat Positif Mereka#

Jika sang anak memilki bakat yang positif, maka, dukunglah ia untuk menyalurkan bakat tersebut dan motivasi untuk mengembangkannya. oleh karna itu, ibu mestilah peka terhadap perkembangan dan bakat yang dimiliki oleh anak. Misalnya, jika anak memiliki kecenderungan untuk menulis, maka belikanlah ia alat tulis yang bagus. Dan rahkan mereka untuk menulis hal hal yang positif.

# Berikan Pujian dan Jangan Membandingkan Bandingkan Kemampuan Anak

Jangan sungkan untuk memberikan pujian dan hargailah jika anak berhasil dalam belajar walaupun sekecil apapun keberhasilan itu. Hindari kata kata yang meremehkan. Contohnya, jika anak memberi tahu bahwa ia berasil mendapatkan nilai delapan dalam pelajaran matematika, maka janganlah sorang ibu berkata : “hanya dengan mendapat nilai segitu kamu sangat bergembira?!  Sedangkan ibu waktu seusiamu selalu mendapatkan nilai 10 dalam mata pelajaran ini.”

 

4 fase remaja

Masa remaja adalah masa dimana anak akan menuju ke fase selanjutnya yaitu dewasa. Seorang pakar psikologi, Lily H. Setiono mengatakan dalam  sebuah artikel yang ditulisnya bahwa masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia  yang mana batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja. Karena usia pibertas yang dahulunya terjadi pada usia 15-18 tahun, kini bisa terjadi pada usia 11 tahun. Anak yang berusia 10 tahunpun mungkin saja mengalami masa pubertas pada masa ini. Namun, bukan berarti ia telah memasuki usia remaja dan telah siap untuk siap menghadapi dunia dewasa.

Dalam usia remaja ini, anak mulai mengalami perubahan baik dari segi biologis maupun psikologis. Adapun perubahan pada dimensi biologis yang sekaligus menjadi tanda memasuki usia baligh ini seperti  datangnya menstruasi bagi anak perempuan, berkembangnya hormon reproduksi yang mana mulai mempersiapkan tubuh remaja untuk mengalami masa reproduksi tersebut. Adapun bagi anak laki laki, masa remaja dimulai dengan perubahan suara, fisik yang berkembang drastis.

Sedangkan perubahan pada dimensi psikologis,  masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak dan mulai memiliki rasa ketertarikan pada lawan jenis. Pada masa ini suasana hati bisa berubah dengan cepat. Disaat ini pula remaja mulai mencari sebuah jawaban dari pertanyaan  ” Siapakah diri saya sebenarnya?”. Pada masa labil inilah peran seorang ibu sangat diperlukan untuk terus megarahkan mereka dan mengingatkan jati diri mereka sebenarnya. Adapun tarbiyah yang dapat dilakukan oleh sang ibu adalah:

 

1. Memberikan Pengertian Terhadap Perubahan Yang Terjadi Pada Diri Mereka

Ketika memasuki masa baligh ini, hendaknya seorang ibu berbicara empat mata dengan anak bahwa pada masa ini mereka telah memasuki fase yang mana taklif mereka sebagai muslim/mah telah diperhitungkan. Karna, kadangkala anak merasa malu untuk bertanya tentang perubahan yang terjadi pada diri mereka. Maka, ibu harus menjelaskan kewajiban kewajiban agama kepada mereka seperti berhijab bagi perempuan, menjelaskan batas batas aurat bagi mereka, menjaga adab adab islami apalagi terhadap lawan jenis dan kewajiban lainnya. Tidak ada salahnya pula jika seorang ibu membagi pengalamannya ketika mengalami usia remaja ini.

 

2. Tetap Terbuka dengan Anak

Komunikasi terbuka dengan remaja ini tetaplah dijalin dengan baik. Biasanya anak usia remaja adalah anak yang plin plan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi pada dirinya. Sudah menjadi kewajiban orang tua membantu mereka untuk mengarahkan mereka sehingga mereka tidak jatuh pada hal hal yang tidak diinginkan. brbeda dengan usia kanak kanak, seorang ibu hendaknya menjauhkan sikap cenderung mendikte dan memperlakukan mereka seperti anak anak. Biarkan mereka berpikir untuk mengasah jiwa mereka untuk memasuki kedewasaan tanpa meninggalkan pengarahan tersebut.

Demikianlah fase fase yang dilalui seorang ibu dalam mendidik sang buah hati. Namun, tarbiyah ini tak dapat berlangsung dengan maksimal tanpa dukungan dari sosok yang bernama ayah. Oleh karena itu, diperlukan kekompakan dan komunikasi yang lancar antara ibu dan ayah dalam melewati tahap pendidikan ini.  Sehingga, terwujudlah tujuan dari tarbiyah itu sendiri. Wallahu a’lam bishawab.

 

Menyongsong ‘Back To Campus’

25 November 2010 at 10:22 am | Posted in AKHLAK, Gen 7, MASISIR NEWS, MOTIVASI | Leave a comment

 

Oleh: Elvi Rahmi

 

Tidak terasa sudah tiga bulan lamanya kita menikmati libur musim panas. Berarti sudah tiga bulan kita tidak disibukkan oleh aktifitas perkuliahan seperti menghafal muqarrar, muhadharah, membuat bahats dan sebagainya, walaupun mungkin di waktu libur kita masih disibukkan oleh ijraat/administrasi kuliah seperti mengurus tashdiq atau yang lainnya.

Pertanyaannya apakah waktu liburan yang berbulan-bulan ini telah kita menggunakan dengan baik dan mengisinya dengan hal yang bermanfaat? Hanya pribadi kita masing-masing yang bisa menjawab karena kita sendirilah yang bisa merasa dan menilai apakah kita telah menghasilkan hal-hal bermanfaat selama liburan ini atau malah sebaliknya.

Waktu libur yang sangat panjang ini memang merupakan ladang empuk yang bisa diisi dengan seabrek aktifitas bermanfaat. Namun -kita sadari atau tidak- liburan panjang ini juga bisa menjadi ancaman besar yang bisa menghabiskan waktu kita dengan kesia-siaan dan kelalaian lalu berakhir tanpa makna dan hasil apapun.

Jika kita perhatikan di kalangan Bundo Kanduang secara umum, Alhamdulillah waktu libur ini lebih digunakan untuk menambah kegiatan-kegiatan ekskul yang bermanfaat seperti program tahfiz al-Quran dan hadis, les bahasa Arab, les kaligrafi, talaqqi di mesjid Al-Azhar dan sibuk dengan berbagai kegiatan keorganisasian. Tentunya juga dengan berwisata di negeri para Nabi yang eksotik ini dan banyak hal positif lainya. Semoga di liburan kali ini masing-masing kita telah menghasilkan hal-hal yang terbaik dan bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Amiin…

Nah akhir liburan berarti awal kembali lagi ke bangku perkuliahan atau yang lebih populer dengan istilah “back to campus”.

Apa sih back to campus itu? Back campus adalah kembali lagi ke aktivitas perkuliahan setelah meninggalkannya sekian lama untuk liburan.

Kalau di tanah air, awal tahun ajaran baru selalu diwarnai dengan kemeriahan dan gegap gempita. Betapa para mahasiswa dan anak-anak sekolahan menikmatinya dengan suasana baru. Datang ke kampus atau sekolah dengan segala yang serba baru, semangat baru, teman baru bahkan kelengkapan belajar baru. Terlebih anak-anak Sekolah Dasar, ketika mulai sekolah kembali selalu saja identik dengan baju baru, tas baru, sepatu baru serta buku dan alat tulis baru. Mungkin jika tanpa pakaian baru itu serasa tidak naik kelas, sehingga para orang tua pun harus mengeluarkan banyak uang jika telah mulai awal tahun ajaran, malah kadang lebih banyak dibanding pengeluaran lebaran. Para pedagang pun meraup keuntungan berlipat-ganda.

Bagaimana keadaan disini, di Kairo ini? Suasana tahun ajaran baru di Kairo ini tak semeriah di Indonesia. Yang paling kita rasakan disini adalah jika aktivitas sekolah dan perkantoran dimulai, jalan-jalan akan mengalami kemacetan.

Lantas bagaimana kita sebagai seorang mahasiswi al-Azhar menyongsong “back to campus” ini? Apakah sama dengan pemahaman anak-anak sekolah Dasar yang memaknai lebih kepada hal-hal kebendaan yang serba baru, ataukah bahkan tidak merasakan sama sekali “back to campus” itu karena liburan dan kuliah sama saja, tidak harus datang ke kampus dan mengikuti muhadharah?

Sebenarnya ada tantangan tersendiri bagi kita seorang mahasiswa Al-Azhar dalam menyikapi “kembali ke kampus” ini, karena di Al-Azhar para mahasiswa tidak dipaksa untuk hadir kuliah, dengan kata lain hadir atau tidak hadir kuliah tidak jadi masalah. Ini mungkin menjadi salah satu sebab kenapa sebagian kita malah tidak merasakan momentum baru ketika tahun ajaran telah dimulai kembali

Yang ingin ditekankan disini, apakah dengan keadaan seperti ini kita tetap bisa untuk membiasakan diri selalu hadir kuliah meski sebenarnya kehadiran kita tidak pernah dipertanyakan oleh sang dosen, malah datang sekali setahun hanya untuk ujian pun oke-oke saja. Disinilah tolak ukur bukti kesungguhan kita sebagai seorang duta keluarga, masyarakat dan bangsa.

Apakah kita dikirim kesini hanya untuk berdiam di rumah atau hanya sibuk dengan organisasi dan hanya hadir ke kuliah jika ujian? Sementara keluarga kita dan bahkan masyarakat di kampung kita sudah barang tentu berprasangka baik bahwa kita di Kairo ini sedang kerja keras kuliah, menimba ilmu di kampus Al-Azhar dan bertatap muka dengan para dosen Al-Azhar.

Apakah harapan dan prasangka mereka hanya kita bayar dengan duduk-duduk dirumah dan hanya hadir ketika ujian akan digelar? Lalu apa yang akan kita jawab nanti jika mungkin suatu saat timbul pertanyaan dari mereka tantang siapa nama dosen  yang mengajar ini atau itu? Inilah yang harus kita sadari dan selalu menjadi ingatan kita bahwa kegiatan seorang mahasiswa adalah menghadiri kuliah. Lain halnya jika seorang pengangguran kerjanya ya cukup duduk-duduk dirumah saja.

Namun kadangkala banyak diantara kita yang masih menyia-nyiakan keberadaan kita di Kairo ini dengan merasa bisa tetap mendapatkan ilmu walau tanpa hadir kuliah. Padahal tujuan awal kita semua kesini adalah untuk kuliah. Memang tidak ada salahnya berkecimpung dalam aktifitas lain di luar aktifitas kuliah, tapi dengan berbagai kesibukan ekskul tersebut bukan berarti kita meninggalkan bangku kuliah sama sekali.

Betapa banyak manfaat yang bisa kita dapatkan jika hadir kuliah. Yang pasti kita bisa menimba ilmu dari para duktur Al-Azhar yang jelas lebih dalam mempelajari agama di bandingkan kita. Kita bisa belajar bagaimana cara seorang duktur menjelaskan tentang agama ini yang mungkin bisa kita gunakan untuk menyebar dakwah di negara kita nanti. Hendaknya kita jangan pernah merasa puas hanya memahami muqarrar dengan membaca sendiri di rumah. Masih banyak pelajaran-pelajaran di luar muqarrar yang bisa kita dapatkan jika bertemu langsung dengan para duktur. Banyak hal-hal baru yang disampaikan ketika muhadharah yang pasti kita butuhkan nanti jika kembali ke tanah air.

Mudah-mudahan ke depan kita bisa benar-benar mengisi hari-hari kuliah dengan mengikuti muhadharah dan bisa menimba ilmu langsung dari ahlinya.

Tulisan singkat ini hanya sebuah alarm bagi penulis pribadi dan kita semua yang mungkin kadang terlupa atau membiarkan diri untuk lupa dengan tujuan awal kita kesini. Lalu berpuas hati hanya dengan membaca muqarrar di rumah dan hanya hadir kuliah jika ujian saja. Wallahu A’lam bi as-Shawab ^_^

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

BACK TO KAMPUS (cerpen)

25 November 2010 at 10:12 am | Posted in Gen 8, MOTIVASI, SASTRA | Leave a comment


Oleh: Ervyta Sari

Yup… Start!!! Aku harus mulai dari sekarang, kalau tidak kapan lagi. Kata-kata ini sering menjadi pemacu diri ini kala hati lesu lunglai menjalani hidup dengan banyak bersantai, jalan dengan gontai, dan tangan pun ikut menari lemah gemulai. Kalo udah seperti itu, hidupku seakan hampa, seolah tak ada bingkai cita-cita yang harus ku kejar dan ku jadikan hadiah pada orang tua. Padahal niat mulia yang selalu kusemat dalam dada adalah menjadi thalibatul ilmi yang mulia. Dan ketika kaki sudah menginjak bumi kinanah ini semua seakan menjadi berbeda. Niat yang kutanam kuat mulai goyah dihantam kabut pasir padang sahara. Niat yang lurus mulai bengkok dan lemah dimakan usia. Seakan cita-citaku hanyut dibawa terjangan ombak pantai Alexandria. Namun, ku yakin aku kesini bukan terpesona oleh gemilang kota Alexandria atau cantiknya pesona Cleopatra.

Aku bukanlah gadis yang tak punya mimpi. Menjadi sang pemimpi untuk menjadi sang pemimpin itu sangatlah berarti. Dimulai dengan mimpi berharap menjadi cahaya yang abadi. Paling awal mejadi pemimpin hati diri sendiri agar bisa senantiasa mengaturnya, agar bisa membawa pada jalan yang lurus dan hakiki. Kalau bukan diri ini  yang memulai siapa lagi. Karena ku yakin motivasi terbesar terdapat dalam diri ini sendiri. Yah, aku harus bisa dan aku harus yakin bahwa potensi itu masih ada, masih tertanam kuat dalam jiwa, masih bersih dan belum ternoda. Ku yakin masih ada kesepatan kedua, ku tanamkan dalam relung jiwa taubat nasuha, agar hidupku kembali teratur dan berjaya diakhirnya.

Kata bunda, ku anak manja, kata ayah ku sangatlah gigih hingga mainan yang ku pinta pada ayah belum juga dikasih aku akan terus menangis. Sebelum dapat apa yang dicari tak mau berhenti, untuk sebuah mainan aku mampu seperti itu, karena itu ku sangat yakin untuk cita-citaku ku bisa lebih gigih dari itu. Kata kakak ku orangnya telaten dan rapi, hingga ku jarang lupa jadwal harianku, selalu ku kerjakan tepat waktu. Karena ku tau waktu tak kan setia menemaniku. Dia akan terus berjalan hingga hujung waktu. Karena waktu adalah kehidupanku. Tanpa waktu ku hilang ditelan bumi dan berakhirlah sejarah hidupku. Kata adik, aku sangat penyayang. Bermain bersama disaat ibu sibuk membereskan pekerjaan rumah tangga. Itu kata mereka, namun kataku gimana….?

Yah… inilah aku, yang terkadang sering sedih tak menentu. Kadang aku malu, tak mampu seperti teman-temanku yang semangat dan gigih mencari ilmu. Ku akui, selama ku di Kairo bisa dihitung hari kuliahku. Bisa dihitung kapan ku datang memenuhi jadwal bimbel. Organisasi…? Untuk yang satu ini, aku sudah mulai tidak mau ikutan lagi. Jadwal tidurku melebihi jadwal belajarku. Oh diriku… sedarlah…? Kau bukan berada di tanah airmu. Kau jauh-jauh datang dari negeri hanya untuk tidur dan berdiam diri di kamarmu. Berpisah dengan orang tua, kakak, adik, dan keluarga semua demi ilmu yang sangat kau damba. Oh diriku…? Lihatlah alam luar, kau akan menghirup udara segar. Belajarlah dari dunia sekitar agar kau semakin besar dan bertambah tegar.

Kini jadwal kuliah sudah tertera di dinding kelas. Ku masih asyik bermain dan bermalas-malas. Ya Allah hatiku beku untuk kembali berjuang dalam menuntut ilmu, otak ku beku setelah liburan panjang menemani hari-hariku. Anugrahi salju rindu dalam jiwaku agarku fresh menjalani padang pasir yang berdebu. Pancarkanlah cahaya iman dalam qalbuku agar ku mudah memahami setiap ilmu dari-Mu. Jadikanlah aku diantara para penuntut ilmu yang ilmunya selalu bermanfaat sepanjang waktu. Jadikanlah hari ini lembaran baru bagiku sebagai tebusan lembaran usang yang dulu penuh kesia-siaan dan keputus asaan. Temanilah aku dengan ridho-Mu di setiap jejak langkah yang ku lakukan. Moga ini langkah awalku menuju jalan yang kau cintai, jadikan aku termasuk hamba yang kau cintai, dan bawa aku kesurga yang kau ridhoi, surge yang haqiqi.

“Upsss… gi ngapain mbak…? Cie… cie… yang gi buat surcin…?” Tiba-tiba Khairiyah mengejutkan Annisa yang dari tadi sibuk memainkan jari di notebook mungilya.

Annisa gadis yang hoby baca tulis, jadi wajar dia suka menuliskan isi hatinya di lembaran MS Word. Yang namanya diary ya nggak mau dong dipublikasi, akhirnya teman-temannya sewot sendiri dan godain Annisa dengan gurauan yang kadang bikin geli. Buat surcin la alias surat cinta, buat proposal la, atau gurauan lainnya. Maksud proposal disini bukan proposal bantuan dana, atau program kerja, tapi surat lamaran ke ikhwan…

“Biasa mbak, lagi ngadu ma ke kasih hati. Dah lama ni nggak ngadu via surcin. Kalo dari hati ke hati, dah biasa kali, kalo pake surcin sungguh luar biasa. Bisa merasuk dalam ruang dada”, Nisa menimpali.

“Bisa ja kamu. Oh ya anis, kamu dah dapat jadwal kul belum? Aku dah dapat nich. Kamu mau gak?”

“Hmmm.. gimana ya…? Pikir-pikir dulu deh”

“Kamu masih seperti dulu ya, tak berubah. Ke kul jarang. Kalo gak mau kul, ngapain kesini coba”.

“Hmm… hehehe.. senang banget aku kalo mbak Khairiyah marah. Serasa dapat durian runtuh. Hmmm enaknya buah durian”. Anis masih saja bercanda.

“Mbak Khairiyah sayang, aku dah dapat jadwal kok. Bahkan ada rencana mau jadi yang pertama datang, barisan pertama duduk di bangku kelas”

“Lebay kamu”, Khairiyah menertawakan.

“ Berangkat bareng yuk…”, semangat sedang menggebu di hati Anis.

“Ayuk, siapa takut. Tapi ingat ye… tak boleh tidur pagi”

“Iya.. bu gulu.. back to kampus, keep spirit chayoo…”

 

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

HAJI TANPA MAHRAM, BOLEHKAH?

25 November 2010 at 10:10 am | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 8, hadis | Leave a comment

Oleh: Fadhilah Is*

Labbaikka Allahumma labbaik.

Marhaban ya Syahr al-Hajj, bulan haram yang penuh berkah dan maghfirah. Dengan  iman dan ketundukkan jutaan umat Islam berbondong-bondong menyambut seruan tuhan-Nya. Memang, ibadah haji adalah dambaan setiap muslim. Apalagi zaman sekarang dengan  fasilitas yang serba canggih membuat segalanya menjadi mudah. Lonjakan peminat hajipun tak dapat dielakkan. Laki-laki dan perempuan berlomba-lomba menggapai rahmat Allah di “rumah-Nya”. Namun timbul pertanyaan, bagaimana dengan muslimah yang tidak memiliki mahram, apakah dia diperbolehkan berhaji sendirian? Dalam hal ini ulama berbeda pendapat.

  1. Pendapat yang menyatakan haram (Hanafiah, Hambali dan Ibnu Jauzi)

Kewajiban yang harus dipenuhi laki-laki (Islam, baligh, berakal, merdeka dan kemampuan dalam bekal dan kendaraan) dalam menunaikan haji juga merupakan kewajiban bagi perempuan. Ditambah syarat khusus yaitu adanya suami atau mahram. Maka tidak adanya mahram yang menyertai seorang wanita dalam menunaikan ibadah haji menjadi sebab terhapusnya kewajiban haji baginya. Pendapat ini dikuatkan dengan dalil-dalil:

1. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari Ibnu Abbas, beliau mendengar Rasulullah berkhutbah: ”tidak boleh berkhalwat seorang perempuan dengan laki-laki kecuali bersama mahram”. Kemudian seorang laki-laki berdiri:” wahai Rasulullah sesungguhnya istriku hendak menunaikan ibadah haji sedangkan saya ingin mengikuti perang ini dan ini,”  Rasulullah berkata: ”pergi dan berhajilah bersama istrimu”.

Wajhu dilalah: Kewajiban adanya mahram dalam haji disebabkan perintah Rasulullah agar  menemani istrinya menunaikan haji dan meninggalkan perang padahal perang itu wajib baginya.

2. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari Abi Sa’id ”Rasulullah melarang seorang wanita bepergian selama 2 hari 2 malam kecuali bersama suami atau mahramnya”.

Wajhu dilalah: Jelas bahwa wanita tidak dihalalkan melakukan safar tanpa mahramnya. Banyak hadis yang senada dengan ini, ada yang meriwayatkan larangan safar selama 1 hari ada juga 3 hari. Semua riwayat tersebut tidak bertentangan karena inti masalah bukan pada jumlah harinya tapi pada kewajiban mahram bagi wanita jika bepergian.

Pandangan ini sekaligus menafikan keabsahan ibadah haji seorang muslimah sendirian tanpa mahram, meskipun ditemani seorang muslimah tsiqah ataupun jamaah muslimah lainnya, karena mereka semua bukan termasuk golongan mahram yang mampu menjaganya sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

  1. Pendapat yang menyatakan boleh (Syafi’i, Ibnu Qudamah, Malik dan Auza’i)

Tidak ada kemestian adanya mahram bagi wanita untuk melaksanakan haji wajib, dan cukup bersamanya jama’ah  wanita (yang terpercaya). Pendapat ini dikuatkan dengan dalil-dalil:

  1. Al-Quran surat Ali Imran: 97 Artinya: “(dan diantara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke baitullah yaitu bagi orang-orang yang mampu)”.

Wajhu dilalah: Wanita yang dalam keadaan aman dari mara bahaya diwajibkan menunaikan ibadah haji. Karena syarat utama beribadah haji adalah kemampuan untuk berangkat dan pulang kembali serta mampu menyempurnakan seluruh rangkaian manasik haji.

  1. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari Ibnu Umar, ketika Rasulullah ditanya; ”apakah yang mewajibkan haji?’,beliau berkata: “al-zat (bekal pulang-pergi) dan al-rihalah (kendaraan yang memberikan rasa aman)”.

Wajhu dilalah: Apabila wanita memiliki  kemampuan dan adanya rasa aman dalam perjalanan haji haji maka tidak adanya mahram bukanlah menjadi penghalang yang mutlak. Boleh baginya pergi dengan rombongan haji perempuan lainnya.

  1. Perbuatan sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, ketika Umar memberikan izin bagi istri-istri Rasulullah menunaikan ibadah haji ditemani Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.

Wajhu dilalah: Adanya kesepakatan antara Umar, Usman, Abdurrahman bin Auf dan istri-istri Rasulullah serta tidak ada  diantara sahabat yang mengikari keberangkatan haji tersebut merupakan Ijma’ yang membolehkan wanita menunaikan ibadah haji bersama rombongan wanita terpercaya.

  1. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari ‘Ady bin Khatim berkata: “ketika saya sedang bersama Rasulullah saw datang kepada beliau seorang laki-laki mengadu tentang kemiskinan, kemudian datang laki-laki lain mengadu tentang perampokkan. Kemudian Rasulullah berkata: ”wahai ‘Ady apakah kamu telah melihat al-Khiyarah (desa dekat Kufah)?” ‘Ady menjawab: “saya belum melihatnya tapi saya sudah pernah mendengarnya”. Rasulullah berkata: ”apabila panjang usiamu maka kamu akan melihat al-dha’inah (tandu pada punggung onta di dalamnya ada perempuan atau tidak) berjalan dari al-Khiyarah hingga berthawaf mengelilingi Ka’bah tidak ada ketakutan sedikitpun kecuali terhadap Allah”.

Wajhu dilalah: Boleh bagi wanita menunaikan ibadah haji jika terjamin keamanannya meskipun tanpa adanya mahram karena qiyas dari hadis ini.

Dari dalil-dalil yang dipaparkan diatas jelaslah bahwa adanya perbedaan persfektif ulama dalam memandang kemestian adanya mahram bagi wanita dalam menunaikan ibadah haji.  Kalau kita lihat realita sekarang pemerintah Arab Saudi mewajibkan keikutsertaan mahram haji bagi perempuan melalui selembar surat pernyataan demi keamanan selama perjalanan dan prosesi haji. Di sisi lain mulai menjamurnya jasa-jasa travel haji dan KBIH membuat para muslimah berlomba-lomba untuk menjawab panggilan Allah tiap tahunnya.

Maka semuanya kembali kepada kita pribadi. Bagi yang mewajibkan mahram mereka berlandaskan kepada dalil-dalil yang kuat dan bagi yang meyakini cukup adanya sekolompok wanita yang dipercaya mereka pun berpegang kepada dalil-dalil yang kuat.

Dan yang mesti dingat bagi setiap muslimah yang akan berhaji dengan atau tanpa mahram, hendaknya mempersiapkan segala-galanya. Tidak cuma fisik dan materi, tetapi juga mental dan ilmu manasik haji, sehingga bisa maksimal menunaikan semua ibadah di tanah suci sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan meraih haji mabrur. Ya Allah jadikanlah kami diantara tamu-tamu yang engkau panggil bersujud di “rumah-Mu”. Amin!!!

*Mahasiswi tk 4 Jur Hadis Univ Al-Azhar Kairo

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

KONTINIUTAS ILMU

25 November 2010 at 10:10 am | Posted in AL-QURAN, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment

Oleh: Rike Veronisa*

Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim karena landasannya termaktub dalam Al-Quran dan hadits. Namun, menuntut ilmu tidak hanya sekedar dilaksanakan lalu lepaslah tanggung jawab. Akan tetapi, jika ingin mendapatkan ilmu, khususnya ilmu agama seharusnya setiap muslim melengkapi syarat-syarat sebagai seorang penuntut ilmu. Karena dalam Islam, standar hidup seorang muslim yang ideal adalah batas kecukupan, bukan batas pas-pasan.

Azzarnuji dalam kitabnya Ta’lim Al-Muta’llim menyebutkan perkataan Imam Syafi’i tentang syarat-syarat seorang penuntut ilmu, yaitu :

1. Cerdas.

Kecerdasan merupakan anugrah Allah yang ada pada diri seseorang sejak lahir. Bukan berarti orang yang kurang cerdas tidak bisa belajar karena maksudnya di sini adalah setidaknya seorang yang cerdas mempunyai kemampuan dasar untuk menyerap ilmu dan mengolahnya dengan otaknya. Kecerdasan berbeda dengan kepintaran karena kepintaran diperoleh dari kerajinan.

2. Rakus mencari ilmu.

Menurut Imam Syafi’i penuntut ilmu tidak boleh cepat merasa puas terhadap apa yang telah diketahuinya dan jangan hanya menuntut ilmu di satu daerah saja. Jangan takut menderita, kenikmatan hidup dapat dirasakan sesudah menderita.

3. Penuh perjuangan dan sabar.

Surat Ali Imran yang terdiri dari 200 ayat menjelaskan tentang perjuangan berat Rasulullah sepanjang hidupnya di pertempuran Badar dan Uhud. Sabar yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu adalah sabar yang aktif yaitu mentalitas ketahanan belajar, memiliki mental yang kuat untuk tekun belajar dan berusaha keras. Dan salah satu bagian sabar adalah konsentrasi dalam belajar.

4. Bekal (biaya).

Penuntut ilmu harus yakin bahwa rizki itu telah dijamin Allah swt dan pintu rizki itu banyak. Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang berusaha dan selalu bersyukur terhadap segala nikmat yang dianugrahkan-Nya.

5. Bersahabat dengan guru, tidak hanya mengandalkan membaca buku.

6. Thuluz zaman atau memiliki waktu yang cukup untuk menuntut ilmu bahkan kalau bisa sepanjang hidup.

Enam syarat di atas menunjukkan bahwa untuk mendapatkan ilmu itu tidaklah mudah, butuh perjuangan dan kerja ekstra keras. Dan yang paling menentukan itu adalah proses menuntut ilmu, bukan sekedar hasilnya.

Kondisi mahasiswa dan sistem perkuliahan di universitas Al-Azhar Kairo tentu berbeda dengan tanah air. Yang paling menonjol adalah fatroh liburan di musim panas yang sangat lama. Ada yang mengisi waktu dengan talaqqi di mesjid Azhar, menyetor hafalan di berbagai tempat (dar huffaz), mempelajari buku-buku turas dan berbagai hal bermanfaat lain bahkan ada yang rela mengeluarkan uang untuk menjelajahi objek wisata dan situs bersejarah di negeri seribu menara ini. Namun ada pula yang hanya bermalas-malasan di rumah sambil tidur-tiduran sampai perkuliahan diaktifkan lagi.

Dan kini sudah memasuki bulan Oktober, Idul fitri telah lama usai dan bulan haji segera menjelang. Waktu liburan telah habis, tahun ajaran baru digelar kembali. Perkuliahan sudah menunggu, muqarrar baru sudah menanti, dan muhadarah di kelas pun juga sudah dimulai. Saatnya mahasiswa kembali menyibukkan diri dengan aktivitas kampus dan agenda keilmuan ekskul.

Biasanya kebanyakan mahasiswa cenderung malas ke kampus di awal tahun ajaran dengan alasan dosen-dosen belum ada yang datang, muqarrar belum turun, dan jumlah mahasiswa yang hadir pun masih sedikit. Alasan-alasan klasik yang dilontarkan ini bisa jadi karena terlena dengan masa liburan yang cukup panjang sehingga sulit untuk memulai belajar kembali. Itulah karakter manusia.

Salah seorang guru matematika MAN Koto Baru –yang kini menjabat kepala sekolah MAN Gunung- ustaz Amrizon S.Pd. menyatakan bahwa ketika otak kita telah banyak mendapatkan rehat panjang alias vakum, saat itulah kita harus langsung memaksanya (memulai kembali) dengan pelajaran matematika. Dengan artian otak harus diberi beban dengan permasalahan agar bisa segera berfungsi dan tidak dimanjakan. Jangan sampai terlalu lama menumbuhkan semangat belajar, karena masa ujian pun akan menjelang sehingga mau tidak mau setiap siswa terpaksa untuk belajar keras dan memfungsikan otaknya dengan lebih cepat lagi. Coba kita lihat sistem menghafal Al-Quran yang istimror dan bit takrir yaitu secara terus menerus dan diulang-ulang agar hafalan awet dan tetap di hati. Nah ini juga bisa kita praktikkan juga dalam sistem pembelajaran baik kuliah ataupun otodidak, hendaknya terus menerus menuntut ilmu dan mengasah otak agar proses belajar tidak terhenti.

Memang tidak dapat dipungkiri, ada beberapa kekurangan dalam sistim perkuliahan Al-Azhar yang kurang mendukung proses pembelajaran mahasiswa, antaranya:

1.      Menempuh kuliah di Azhar menuntut kita untuk sabar, mandiri, disiplin, tanggung jawab, ikhlas dan ulet karena kita menghadapi hal-hal seperti perubahan cuaca di Mesir, adat istiadat, bahasa, tempat, serta karakter masyarakat setempat yang membuat kita harus beradaptasi dengan semua hal tersebut.

2.      Di Azhar tidak memiliki sistem absensi yang tetap dan jumlah mahasiswa yang belajar dalam satu kelas sangat banyak jumlahnya sehingga orang acuh tak acuh untuk menghadiri kuliah.

3.      Bahasa pengantar yang digunakan oleh dosen terkadang bahasa Amiyah, sehingga di saat pelajar kurang paham terhadap apa yang dijelaskan dosen, mereka lebih memilih untuk membaca buku di rumah.

4.      Selama proses belajar dan mengikuti muhadarah mahasiswa kurang dituntut aktif, kalapun ada itu sangat jarang. Kekurangan sistem ini dapat kita lengkapi dengan memperbanyak bimbingan dan diskusi dengan kakak kelas dan kajian-kajian bersama teman.

5.      Mahasiswa tidak diwajibkan membuat makalah, tapi ada sebagian dosen yang memberikan tambahan nilai dengan membuat paper (bahts).

Akan tetapi, semua kekurangan ini hendaknya jangan dijadikan kambing hitam atas sebuah kegagalan. Malah seharusnya bisa menjadi motivasi dan lecutan untuk mengembangkan diri menutupi semua kekurangan itu selama belajar di Mesir.  Karena di balik kekurangan tersebut juga terdapat banyak kelebihan seperti kurikulum Al-Azhar yang lebih mendalam dan mengajarkan kita menggali khazanah klasik keilmuan Islam (turats) sehingga ilmu itu benar-benar didapatkan dari sumber asli.

Sedangkan untuk bergaul dengan guru atau dosen, di Azhar sangat mustahil rasanya dosen bisa mengenali mahasiswa satu persatu akibat jumlah yang begitu banyak di setiap muhadharah. Jadi, mahasiswa harus bisa mengenal aktif mengenal karakter para dosen dengan rajin kuliah. Kalau bisa usahakan bertanya saat muhadarah berlangsung, atau menyapa beliau ketika berpapasan di jalan dan menanyakan pelajaran yang kurang dipahami. Bisa juga dengan bertanya pada kakak-kakak senior yang juga belajar dengan beliau.

Hal yang tak kalah penting juga untuk dikuasai adalah cara belajar dan memahami muqarrar. Diantara kiat-kiat yang bisa dijadikan acuan dalam belajar dan memahami muqarrar adalah:

1.      Mengenali bentuk materi kuliah dan jangan sekali-kali menghafal sebelum memahami apa yang hendak dihafal.

2.      Meringkas apa yang dipahami dari penjelasan dosen sewaktu muhadarah dan apa yang dipahami dari buku.

3.      Kalau seandainya ujian sudah dekat dan muqarrar belum turun, ini bisa diatasi dengan rajin mengikuti kuliah dan berusaha meminjam catatan dari orang mesir yang kita yakini kerajinan dan kemampuannya.

4.       Rajin mengikuti kuliah dan bimbingan-bimbingan serta belajar kelompok.

5.      Jangan tergiur dengan tahdidan atau batasan-batasan muqarrar, usahakan membaca dan memahami buku sebaik-baiknya.

6.      Setelah membaca dan memahami muqarrar, kumpulkan soal-soal dari tahun-tahun sebelumnya dan coba untuk menjawabnya.

7.      Jaga kesehatan dan penuhi gizi makanan yang masuk ke dalam tubuh sehingga tubuh tetap fit.

8.      Berdoa dan tawakkal kepada Allah swt karena apapun yang kita usahakan hasilnya ada di tangan Allah SWT.

Dengan kedisiplinan dan usaha maksimal menuntut ilmu, insya Allah setiap langkah kaki kita akan diberkahi dan dimudahkan oleh Allah. Mari segera menyandang tas di pundak, membawa muqarrar ke kuliah, bersiap-siap di pagi hari menuju kuliatul banat Universitas Al-Azhar Asy-Syarif. Sudah saatnya kita mentajdid niat dan menumbuhkan semangat kembali dalam rangka menutut ilmu di negeri para Nabi ini, untuk menggapai ridha Allah dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

* Mahasiswi tk 1 Ushuluddin Univ Al-Azhar Kairo

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

Karma

25 November 2010 at 9:35 am | Posted in AKHLAK, Gen 6, SASTRA, UKHUWAH | Leave a comment

By: Fitri Shabrina Lc.

“Tingtong…tingtong..tingtong…” Suara-suara itu kembali memenuhi gandang telingaku. Baru saja aku mau menggamit al-Quran kesayanganku, belpun berbunyi lagi. Huuh.. bayangkan! Aku sebelumnya sudah membuka pintu dua kali berturut-turut. Masa harus aku lagi yang buka? “Nyebelin banget” gerutuku dalam hati. “Pokoknya aku gak mau buakain pintu lagii…!”  teriakku dari kamar. Ku gapai Quran biru yang dari tadi kucuekin, dan terus ku baca. “Tingtong…tingtong..tingtong…” belpun berbunyi lagi. Lalu, hening…hatiku mulai gelisah. Kenapa sih penghuni kamar-kamar sebelah gak ada yang mau bukain? Yang mau masuk juga, kenapa gak bawa kunci sih!

“Tingtong…tingtong..tingtong..” Akupun melangkah setengah hati menuju pintu. Segera kubuka, dan kulihat wajah letih menyembul di balik sana. Seburat tampang manyun plus kesal menghiasi wajah Itoh. “Pulang kuliah ya?’ Tanyaku basa basi. Kupun kembali kekamar melanjutkan kegiatanku yang hampir saja tak jadi terlaksana.

***

“Kriing..kriing..” Sekarang giliran telfon yang beraksi. Rasanya hidupku ini selalu dipenuhi suara-suara  aneh itu. Sebenarnya, kalo ada yang ngangkat sih gak masalah. Yang nyebelin itu gak ada satupun yang mau ngangkat karna semua pada sibuk di kamar masing-masing, seolah gak denger bunyi apa-apa. Tapi anehnya, pas lagi ngebet-ngebetnya ngangkap telpon, semuanya pada nyerbu bak pengungsi ngejar bantuan mie instant.

“Aku gak mau terus-terusan ngalah jadi relawan gagang telpon ama gagang pintu” kataku dalam hati sembari terus mengaduk oseng-oseng. “Kriing..kriing..kring..” Si telpon bunyi lagi setelah diam sesaat.  Sejenak ku lirik telpon yang nampaknya sudah letih menjerit melaksanakan tugasnya. Gak mau… Masa mesti aku lagi yang ngangkat? Aku jadi ingat kejadian kemarin.

Pas telpon gak ada yang ngangkat, aku buru-buru keluar kamar mandi menimbang perasaan si penelpon. Yang bikin aku sebel, si Sasa yang asyik makan disamping meja telpon. Seolah punya pertemuan penting sama sepiring nasi dan gak bisa diganggu.. “Eh.. bunyi ya..” selorohnya garing. Yang bikin aku mumet lagi, telponnya buat dia lagi. “Aduhh…Sa,tau begini mah aku gak mesti bela-belain keluar hammam” celotehku. “Maallisy deh Fi..” jawabnya singkat.

Please dong yang merasa punya kepentingan supaya peka ama tuh telpon. Kuteruskan motong-motong sabaneh. Bayangkan sodara-sodara. Padahal jarak dapur ama telpon Cuma dua langkah. Namun…”Kriing..kriing….” Akhirnya egoku mulai luluh. Siapa tau orang itu punya urusan penting” pikirku. Kupun melangkah menuju sumber suara.

Ketika jarak antara tanganku dan telpon tinggal 3 senti…”Tunggu Fi, biar aku aja yang ngangkat. Kayaknya dari Ramen deh.” Ujar Mia di pintu kamar. “Aduuh.. kok gak dari tadi neng” gerutuku. “Aku kan gak perlu perang batin gini ” sambungku dalam hati””

Beginilah nasib telpon sama bel di rumahku. Kalo salah satunya udah mulai unjuk gigi, rumah ini seolah gak ada penghuninya lagi. Semua hening…Semua pada cuek, apalagi aku. Sejak kejadian-kejadian itu aku jadi orang paling anti ngangkat telpon ama bukain pintu.  Jadi, kalo mau masuk rumah, mesti bawa kunci. Atau sebelum keluar pesen gini dulu,” Nanti bukain pintu ya…”

***

Panasnya hari ini gak seperti biasanya. Sinar raja siang yang menggarang ditambah badai pasir membuat ku sesak nafas “Buurrr…” angin  plus semburan debu menerpa tubuhku. Segera ku tempelkan sapu tangan ke mukaku untuk menyaring udara yang akan masuk keparu-paruku. Lima menitr.. sepuluh menit…tiga puluh menit.. Ahh… Sudah setengah jam lewat aku menunggu di sini. Namun bus-bus itu belum juga datang. Allah… Aku bener-benar lemas. Tenggorokan ini terasa kering, sekering kuliku yang yang terbakar matahari. Aku ingin cepat-cepat pulang, meminum sebotol air yang sudah dari tadi pagi aku dinginkan di kulkas. Kemudian merebahkan diri di kasur yang empuk sembari menikmati lembutnya hembusan kipas angin.

Akhirnya bus 939 melongok dari simpang Nurul Khitab.  ” Alhamdulillah.. busku sayangku…cintaku…akhirnya kamu datang juga” bisikku setengah meringis.  Kulambaikan tanganku , dan segera ku naik. Subhanallah… Sangat penuh dan sesak. Bak sarden teri yang ditabur bubuk merica, tubuhku pun meringkik di sela-sela himpitan ikan Salmon. Sabar… Aku harus bertahan

“Mutsallas ma”ek!” Teriakku khas dengan logat mesirku yang gak mirip-mirip amat. Aku menyerobot menyibak dempetan manusia untuk bergerak keluar.  Alhamdulillah… Aku sedikit plong. Ku paksakan langkah gontai ini menuju rumah. Perutku mulai menghentak-hentak kelaparan. Dahaga inipun begitu juga.  Sang panas dan debupun terus berlomba-lomba menerpa tubuhku. Namun tak aku hiraukan. Yang penting sampai rumah terlebih dahulu. Ku paculangkah seribu

“Satu..Dua.. Tiga sembilan…empat puluh..” Akupun telah berada di lantai dua, di depan pintu yang sudah tak sabar lagi kusibak. Kurogoh tasku mencari-cari kunci. Hah.. tak ada! Kembali kubongkar semua isi tasku. Benar-benar tak ada.. Terpaksa ku pencet bel yang selama ini tak kuhiraukan. Berkali-kali kupencet, tak kunjung ada yang menggerakkn gagang pintu di balik sana. Lima menit..sebelas menit…setengah jam. Aku tertuduk lemas. Bukankan Yuni dan Itoh udah dari jam sebelas tadi pulang? Tanyaku dalam hati. Kupun merai Hp mungilku, dan mendial “Baiti jannati”. Hasinya tetap nihil. Allah… Sepertinya ini karma” bisikku. Akupun lunglai di depan pintu

Ta’aruf MABA dan Grand Opening Kegiatan Al Makki Term 1

25 November 2010 at 7:50 am | Posted in ORGANISASI, UKHUWAH | Leave a comment

by: admin

Senin 24 Oktober 2010 pukul 16.00 clt Fs Al-Makki mengadakan Grand Opening kegiatan term 1 serta Ta’aruf Maba (mahasiswa baru) Universitas Al-Azhar Kairo tahun 2010/2011. Selain memperkenalkan 18 orang mahasiswa baru alumni MAN Kotobaru Padang Panjang (16 putra dan 2 putri), Al-Makki juga mengundang generasi pertama alumni pesantren Ar-Risalah Padang yang juga baru menginjakkan kaki di bumi Kinanah, Mesir.

Acara yang diadakan di sekretariat Al-Makki ini mengangkat tema “Sambut Laskar Pemimpi Dengan Meretas Silatulaturahmi”. Tausiyah disampaikan dengan bahasa Arab Fushah oleh Ust. Hafiz Muhammad Al-Afgani, sarjana hadits Universtitas Al-Azhar berkebangsaan Afganistan. Beliau memotivasi seluruh peserta agar semangat menuntut ilmu dan berjuang menaklukkan segala rintangan internal maupun eksternal di bumi para Nabi ini. Tak hanya pemaparan Al-Quran dan Hadis yang beliau ulas, tapi dibarengi dengan berbagai contoh ketekukan dan kesabaran para ulama terdahulu dalam perjuangan menuntut ilmu. Antusiasme 70 lebih anggota yang hadir terlihat jelas, apalagi ketika berkali-kali ditanyakan: “aina nahnu minhum?” (dinama posisi kita dibanding mereka –para ulama tersebut).

Sosialisasi kegiatan Al-Makki 2010-2011 disampaikan ketua Al-Makki baru, Taufiq Hidayat Nazar dan dilanjutkan dengan perkenalan seluruh peserta yang hadir dengan para mahasiswa baru. Sementara itu, Almakkiyat juga mengadakan ta’aruf dengan maba putri di ruangan terpisah, serta mensosialisasikan program Almakkiyat term 1 yaitu (1) Workshop Tafsir-Hadis, (2) Pelatihan Penyelenggaraan Jenazah dan (3) Kajian Fakultatif (memakai format yang sama dengan diskusi ilmiah periode lalu, namun tahun ini bekerjasama dengan Bundo Kanduang KMM Mesir dan Ikathiyah Mesir). Pengurus Almakkiyat periode ini adalah Sari Husna, Ervyta Sari dan Rike Veronisa.

Sebelum acara ditutup panitia menghidangkan mie ayam spesial, menambah kehangatan suasana ukhuwah di awal musim dingin kota Kairo yang selalu cerah.

Blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.