AL-QUR’AN DAN KEINDAHAN (2/2)

3 November 2009 at 3:42 pm | Posted in AL-QURAN, Gen 1 | 2 Comments
Tags: ,

oleh: Rika Yuni

2. Keindahan Bahasanya.

Al-Qur’an juga dikatakan mempunyai mukjizat dari segi bahasanya. Makanya walaupun al-Qur’an berbahasa Arab, tapi orang Arab sendiri tidak sanggup menandingi untuk membuat kata-kata seindah al-Qur’an walau cuma satu ayat.muslim

Salah satu bentuk keindahan bahasa al-Qur’an adalah apa yang disebut para pengkaji al-Qur’an dengan istilah iltifat. Karena gaya bahasa al-Qur’an itu dinamis, yang membuat setiap orang tidak akan pernah merasa bosan membacanya. Dalam pandangan Zamakhsyari ayat-ayat iltifat dalam penuturannya mempunyai dua manfaat: pertama, memuaskan pembaca, juga menarik perhatian pembaca utamanya pada peralihan-peralihan struktur bahasa yang tak terduga sebelumnya dalam ayat-ayat pembicaraan biasa. Kedua, ia adalah peka konteks, strukturnya selalu berubah, sesuai dengan perubahan kondisi yang menjadi latar lahirnya pembicaraan atau penuturan. Menurut Zamakhsyari lagi, “Dalam pembicaraan, beralihnya satu bentuk ke bentuk lain akan lebih menyegarkan bagi pendengar, serta lebih menyadarkan lawan tutur untuk mendengarkannya, ketimbang jika struktur pembicaraan yang digunakan bersifat monoton.[1]

a. Defenisi Iltifat

Dari segi bahasa, iltifat berarti berpaling atau memalingkan wajah kepadanya. Secara istilah, ada beberapa defenisi

1)      al-Zarkasyi mendefinisikan iltifat adalah “Peralihan pembicaraan dari satu bentuk ke bentuk lainnya, demi menyajikan kesegaran dan variasi bagi pendengar untuk memperbaharui perhatiannya, dan untuk menjaga pikirannya dari rasa jenuh dan frustasi karena diharuskan mendengarkan satu model pembicaraan secara terus menerus”.[2]

2)      Menurut Abdul al-Mu’thy ‘Azafah iltifat adalah: “Beralihnya pembicara dari menggunakan bentuk mukhatabah (dialogis) kepada tutur ikhbar (informatif) dan dari ikhbar kepada mukhatabah dan sebagainya.”[3]

b. Bentuk-bentuk iltifat

Mardjoko Idris menulis dalam bukunya, bahwa iltifat dalam al-Qur’an mengambil bentuk-bentuk sebagai berikut:

    1. Iltifat dalam bentuk (ash-shiyagh)al-quran2
    2. Bilangan (al-‘Adad)
    3. Kata ganti (adh-dhamir)
    4. Kosa kata (al-Mu’jam)
    5. Dalam bentuk al-Adawat
    6. Struktur nahwu (al-Bina an-Nahwy)

Iltifat termasuk salah satu keindahan bahasa al-Qur’an. Iltifat ini memperlihatkan keistimewaan al-Qur’an yang menjadikannya berbeda dengan bacaan-bacaan lain. Hal ini bisa tampak dari beberapa contoh iltifat berikut ini.

1. Iltifat dalam bentuk, seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 49-50

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَ‌ٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ ﴿٤٩﴾ وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ ﴿٥٠﴾

Kedua ayat di atas terdapat 2 kata yang mempunyai kemiripan makna. Tapi berbeda bentuknya. Pada ayat pertama terdapat dalam kata: “نَجَّيْنَاكُم yang kedua فَأَنجَيْنَاكُمْ

Kedua kata tersebut terambil dari kata an-najâh yang berarti tempat yang tinggi. Jadi secara harfiah, arti kedua kata tersebut adalah: “Siapa yang berada di tempat yang tinggi, niscaya tidak mudah dijangkau oleh musuh, atau terhindar dari bahaya.” Makanya inilah rahasia kenapa Allah memakai kata “najjâyna” atau “anjayna” untuk menerangkan adanya keselamatan.

Pemakaian kata نَجَّيْنَاكُم pada ayat 49 digunakan untuk menjelaskan bahwa siksaan Fir’aun yang berupaya menyembelih anak laki-laki dan membiarkan hidup anak perempuan tidak terjadi kepada seluruh Bani Israil, ada sebagian diantara mereka yang diselamatkan oleh Allah. Dalam sejarah, disebutkan bahwa siksaan Fir’aun tidak terjadi sepanjang tahun. Tapi silih berganti. Misalkan tahun ini adanya perintah membunuh anak laki-laki, kemudian tahun berikutnya tidak dilaksanakan, begitu seterusnya. Dan Nabi Harun, lahir di tahun penyelamatan, sedang Nabi Musa as lahir di tahun pembunuhan.

Sedangkan kata فَأَنجَيْنَاكُمْ pada ayat 50, dimaksudkan menjauhkan siksaan tersebut secara keseluruhan. Dalam konteks ayat di atas, keselamatan tersebut diberikan oleh Allah kepada Bani Israil ditandai dengan keruntuhan rezim Fir’aun dan kematiannya, sehingga terhenti penindasan terhadap Bani Israil.[4]

2. Iltifat pada Bilangan (al-‘Adad). Contoh dari iltifat ini terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 7

خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿٧﴾

Iltifat yang terjadipada ayat tersebut adalah pemakaian mufrad dan jama’. Dalam kata ٰ قُلُوبِهِمْ, bentuknya adalah jamak, kemudia beriltifat ke سَمْعِهِمْ yang bentuknya mufrad, kemudian kembali ke أَبْصَارِهِمْ yang berbentuk jamak.

Iltifat ini  terjadi dari segi gramatikal bahasa Arab yaitu dari segi bilangan, yaitu perpindahan dari bentuk jamak (banyak) ke mufrad (tunggal), kemudian kembali lagi ke bentuk jamak (banyak). Jadi dalam konteks ayat tersebut ingin diberitahukan, bahwa –dari segi fungsi- pendengaran itu berbeda dengan hati dan penglihatan. Hati dan penglihatan dapat membedakan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan dengan baik dan benar, dan tidak demikian halnya dengan pendengaran. Seperti orang menangis, hati dan penglihatan bisa membedakan dengan baik, mana orang yang menangis karena sedih dan menangis karena bahagia. Tapi bagi pendengaran yang dia tahu cuma menangis, dan menangis adalah karena sedih. Makanya banyak ayat al-Qur’an yang menyebutkan kata سَمْعِهِمْ dalam bentuk mufrad.

3.Iltifat pada kata ganti (adh-dhamir) contoh dalam surat ‘Abasa ayat 1-5

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ﴿١﴾ أَن جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ ﴿٢﴾ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ ﴿٣﴾ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ ﴿٤﴾ أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ ﴿٥﴾

Pada ayat ini Allah menggunakan kata ganti orang ketiga pada awal permulaan ayat. Allah telah menunjukkan sikap tidak senang terhadap apa yang telah dilakukan oleh Nabi dan menegurnya di depan seluruh pendengarnya. Karena pemakaian kata orang kedua atau lawan bicara, menunjukkan adanya kedekatan antara pembicara dengan kedua. Peralihan kepada kata ganti orang kedua yang terjadi setelah itu, dengan sendirinya merupakan sebuah teguran. Peralihan ini berlangsung dengan tiba-tiba dan penuh dengan kekuatan.

4. Iltifat dalam Kosa kata (al-Mu’jam). Diantara contohnya terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 17:

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَّا يُبْصِرُونَ ﴿١٧﴾

Iltifat terjadi pada kata أَضَاءَتْ dan kata بِنُورِهِمْ . Dalam pemahaman sehari-hari kedua kata tersebut mempunyai makna yang sama, yaitu menyinari atau memberi cahaya. Quraisy Shihab dalam tafsirnya mengemukakan, bahwa adha’at digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang bersinar dan sinarnya itu bersumber dari dirinya sendiri. Sementara sesuatu yang bercahaya tetapi cahaya itu merupakan pantulan dari sesuatu yang lain dinamakan ”nur” yang berarti cahaya.

Dalam konteks ayat di atas, yang berhubungan dengan sifat orang munafik, dapat difahami bahwa sebenarnya ada yang menerangi jalan mereka, dan itulah petunjuk-petunjuk al-Qur’an maka dipakaikan kata أَضَاءَتْ. Tetapi karena mereka tidak mau mengambil manfaat dari sinar itu, Allah kemudian menutupi cahaya yang menerangi mereka, hingga mereka tetap berada dalam kegelapan.

quran-in-the-candlelight

Iltifat juga terjadi pada kata نَارًا dan بِنُورِهِمْ. Dari segi kandungan makna, kata nar” mempunyai dua unsur daya, yaitu daya membakar dan daya menyinari. Sedangkan “nur” cuma punya satu daya, yaitu daya menyinari. Daya membakar bisa memberi manfaat, namun bisa juga memberi petaka bagi kehidupan manusia. Sementara daya menyinari selalu memberi manfaat bagi manusia. Orang munafik digambarkan oleh Allah dengan menggunakan redaksi metafora, yaitu seperti api yang mempunyai dua unsur. Karena sifat jelek yang selalu melekat pada diri mereka, Allah kemudian mengambil daya sinarnya dan membiarkan mereka dalam kejelekan dan kegelapan.

5. Iltifat dari segi Adawat: contohnya adalah dalam surat al-Baqarah ayat 131:

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَـٰذِهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُ ۗ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللَّهِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ﴿١٣١﴾

Iltifat pada ayat di atas adalah penggunaan adat إِذَا dan إِن. untuk kata idza digunakan untuk menunjukkan adanya kepastian terjadinya sesuatu yang dibicarakan, yaitu datangnya kebaikan. Sementara in” digunakan untuk menunjuk kepada keraguan atau jarang terjadi sesuatu yang dibicarakan, yaitu kejelekan atau kesusahan. Kaidah tersebut mempunyai makna bahwa kebaikan itu sifatnya pasti dan jumlahnya banyak, ada setiap waktu, sementara musibah itu sesuatu yang negatif, dan sifatnya tidak pasti, serta jumlahnya sedikit. Inilah mungkin rahasianya, dalam konteks kebaikan al-Qur’an menggunakan kata “idza”, dan dalam musibah digunakan kata “in”.

6. Iltifat dalam Bina al-Nahwy. Diantara contoh iltifat dalam bentuk ini adalah dalam surat al-Fatihah ayat 7:

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧﴾

Iltifat yang terjadi pada ayat di atas adalah pada penggunaan jumlah fi’liyah أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ, beriltifat pada ismiyah غَيْرِ الْمَغْضُوبِ . ltifat ini dari segi gramatika, dari penggunaan jumlah fi’liyah ke jumlah ismiyah. Jika tidak terjadi iltifat maka redaksinya akan berbunyi  الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الَّذِينَ. Penggunaan kata an’amta berhubungan dengan nikmat yang diberikan oleh Allah. Sedangkan lafadz ghair al-Maghdhubi ‘alaihim mengisyaratkan kemarahan, maka semestinya tidak disandarkan kepada Allah. Jadi tidak diisyaratkan dengankata غير الذين غضبت عليهم.

my inspiration

Inilah diantara keindahan al-Qur’an, baik dari sisi inspirasinya terhadap manusia maupun, dari sisi kebahasaan dan pilihan kata-katanya. Namun terkadang kita kurang memperhatikannya, sehingga al-Qur’an hanya seperti bacaan biasa dan diagung-agungkan, tanpa pernah menggali apa isi dan makna yang terkandung di dalamnya.

Wallahu a’lam bi as-shawab

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran al-Karim

Attaki, Hanan, Meditasi al-Qur’an, Bandung: Penerbit Attaqie, 2008

Abdul Halim, Muhammad, Menafsirkan al-Qur’an dengan Al-Qur’an, terjemah. Abdul Halim, Penerbit Nuansa, 2008

Idris, Mardjoko, Al-Balaghah: Kajian Ayat-ayat Iltifat dalam Al-Qur’an, Yogyakarta: Penerbit Belukar, 2009

Shihab, M. Quraisy, Tafsir al-Misbah : Pesan Keserasian Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2002


[1]  Mardjoko Idris, Al-Balaghah: Kajian Ayat-ayat Iltifat dalam Al-Qur’an, (Yogyakarta: Penerbit Belukar, 2009), Hal.22

 

[2] Muhammad Abdul Halim, Menafsirkan al-Qur’an dengan Al-Qur’an, terjemah. Abdul Halim, (penerbit Nuansa, 2008) hal.247-248

[3] Mardjoko Idris ,Op.cit, hal.15

[4] Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002) volume 5. hal 344

*Lulusan S2 Jur Tafsir IAIN Imam Bonjol Padang – Gen 1 MAKN Putri

About these ads

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. SubhanaLLAH bagus sekali…tulisannya,benar2 bikin melek lagi sama Al-Quran, btw mba rika,bisa kasih saya info maroji’kitab yg mmbahas tntang perbedaan makna ayat alquran yg menggunakan jumlah ismiyah dan fi’liyah,trimakasih ;)

  2. [...] Iltifat yang terjadi pada ayat di atas adalah pada penggunaan jumlah fi’liyah أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ, beriltifat pada ismiyah غَيْرِ الْمَغْضُوبِ . ltifat ini dari segi gramatika, dari penggunaan jumlah fi’liyah ke jumlah ismiyah. Jika tidak terjadi iltifat maka redaksinya akan berbunyi  الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الَّذِينَ. Penggunaan kata an’amta berhubungan dengan nikmat yang diberikan oleh Allah. Sedangkan lafadz ghair al-Maghdhubi ‘alaihim mengisyaratkan kemarahan, maka semestinya tidak disandarkan kepada Allah. Jadi tidak diisyaratkan dengankata غير الذين غضبت عليهم. http://almakkiyat.wordpress.com/2009/11/03/al-qur%E2%80%99an-dan-keindahan-22/ [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: