Tes Al-Azhar Mesir 2011-2012

11 August 2011 at 10:30 pm | Posted in MASISIR NEWS, Uncategorized | Leave a comment

Berdasarkan informasi yang diumumkan dan tertempel di Konsuler KBRI Kairo Nasr City (tapi belum ditemukan di website dimaksud) tentang informasi melanjutkan pendidikan s1 di Universitas Al Azhar Mesir 2011-2012. Pendaftaran bisa dilakukan dengan sistem online melalui: http://www.pendis.kemenag.go.id sejak 9 s/d 23 Agustus 2011. Seleksi dilaksanakan 12-14 September 2011 di Jakarta. Penguji langsung dari Mesir. (sumber: KMM Mesir)

ROMANTIKA PEREMPUAN DI RANAH MINANG

27 July 2011 at 9:31 pm | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 8, KELUARGA | Leave a comment

Oleh: Ismarni Ismail

Masyarakat Minangkabau tumbuh dalam kondisi sosial yang selalu ingin berubah menuju arah perbaikan. Ketika Islam masuk ke Ranah Minang,  diadaptasikanlah syariatnya  ke dalam adat hingga lahirlah falsafah yang sangat kuat yaitu: Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah, syara’ mangato adat mamakai artinya adat berdasarkan syariat, syariat berdasarkan Kitabullah (Al-Quran), syariat memerintahkan dan adat melaksanakan. Ini berarti Islam dan adat Minangkabau bak dua sisi mata uang, tak dapat dipisahkan. Namun, masih ada sistem sosial kemasyarakatan yang tetap belum terkikis habis hingga kini -yang disinyalemen bertentangan dengan syariat Islam- yaitu sistem matrilinealnya dan masalah harta pusaka.

Kedudukan Perempuan Minangkabau dan Sistim Matrilineal

Masyarakat Minangkabau, terikat oleh satu keturunan yang ditarik menurut garis ibu (matrilineal). Kesatuan dasar keturunan itu disebut Suku. Sistem hukum Matrilineal ini yang menjadi ujung tombak perbedaan perempuan Minang dengan perempuan dari suku lain di Indonesia.

Sehingga banyak pertanyaan yang muncul, mengapa sistem Matrilineal dan syariat Islam dapat hidup berdampingan di Ranah Minang? Padahal keduanya mengatur tata aturan yang saling bertolak belakang. Islam menetapkan nasab dari garis keturunan ayah, sementara pada sistem matrilineal, adat menetapkan ibu sebagai penarikan garis keturunan. Ayah tidak dapat memasukkan anaknya ke dalam sukunya sebagaimana yang berlaku dalam sistem patrilineal. Oleh karena itu, harta pusaka diturunkan menurut garis ibu pula.

Sistem matrilineal mempunyai ciri-ciri antara lain;

1. Keturunan dihitung menurut garis ibu.

2. Suku terbentuk menurut garis ibu

3. Tiap orang diharuskan menikah dengan orang luar sukunya (exogami)

4. Pembalasan dendam merupakan satu kewajiban bagi seluruh suku

5. Kekuasaan di dalam suku, menurut teori, terletak di tangan “ibu”, tetapi jarang sekali dipergunakan,

6. Yang sebenarnya berkuasa adalah saudara laki-laki ibu

7. Perkawinan bersifat matrilokal, yaitu suami tinggal di rumah istrinya

8. Hak-hak dan pusaka diwariskan oleh mamak (paman dari pihak ibu) kepada kemenakannya dan dari saudara laki-laki ibu kepada anak dari saudara perempuan.

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita perlu mencermati terlebih dahulu, kedudukan perempuan di Minangkabau.

Perempuan/ibu –yang disebut bundokanduang– digambarkan sebagai limpapeh (tiang) rumah nan gadang (rumah tangga). Peran utamanya ada dua; pertama, melanjutkan keberadaan suku dalam garis Matrilineal dan kedua, menjadi ibu rumah tangga dari keluarga, suami dan anak-anaknya. Dalam sistim keluarga matrilineal, selain memiliki keluarga inti (ayah, ibu dan anak) juga punya keluarga kaum (extended family). Dalam keluarga kaum terhimpun keluarga Samandeh (se-ibu). Anggota keluarga Samandeh berasal dari satu Rumah Gadang dan dari saudara seibu. Pimpinan dari keluarga Samandeh adalah Mamak Rumah (yaitu seorang saudara laki-laki dari ibu). Sistem ini menempatkan laki-laki pada peran pelindung, dan pemelihara harta dari perempuan dan anak turunan saudara perempuannya.

Keterkaitan dan keterlibatan seorang individu dalam sistim matrilineal terhadap keluarga inti dan keluarga kaum adalah sama. Dimana seorang perempuan, walau sudah menikah tidak lepas dari ikatan kaumnya. Perempuan Minang dikatakan memegang “kekuasaan” seluruh kekayaan, rumah, anak, suku dan kaum, ia memiliki kebesaran yang bertuah (kata-katanya didengar oleh anak cucu). Hal ini makin memperjelas kokohnya kedudukan perempuan Minang pada posisi sentral.

Sedangkan ayah dalam masyarakat hukum adat Minangkabau, adalah bapak dari anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang diikat dengan satu hubungan pernikahan. Suku anak-anak yang lahir dari pernikahan tersebut ditentukan mengikuti garis keturunan ibu mereka. Seorang suami tidak punya kewenangan mengatur keluarga pihak istrinya namun kedudukannya sebagai sumando (menantu) begitu dihormati oleh kaum istrinya. Dan di sisi lain, dia tetap mempunyai keterikatan dan tanggung jawab terhadap kaumnya sebagai penghulu dan niniak mamak. Sehingga, seorang ayah tidak hanya berperan sebagai bapak dari anak-anaknya, tapi juga sebagai mamak dari kemenakannya dan berkewajiban memperhatikan dan menjaga para kemenakan tersebut. Dia wajib melindungi keduanya, sesuai pepatah adat Minang “anak dipangku kamanakan dibimbiang” (anak dipangku keponakan dibimbing).

Oleh karena itu lahirlah sebuah kompromi dari sistim matrilineal dan syariat Islam, bahwa generasi Minangkabau yang dilahirkan senantiasa bernasab ayahnya dan bersuku ibunya. Suatu persenyawaan agama dan budaya yang sangat indah.

Perempuan Minang Dan Harta Pusaka Tinggi

Dalam adat Minangkabau, harta dibagi empat :

1. Harta Pusaka Tinggi

Harta ini adalah harta yang diwarisi secara turun temurun dari beberapa generasi menurut garis keturunan ibu. Harta ini ada yang berupa material seperti sawah, ladang, kebun dan lain-lain yang disebut dengan harta pusako. Disamping itu ada pula harta pusaka tinggi yang berupa moril yaitu gelar pusaka kaum yang diwarisi secara turun- temurun yang disebut harta sako.

2. Harta Pusaka Rendah

Harta ini merupakan harta tambahan bagi sebuah kaum dan ini diperoleh dengan membuka sawah, ladang atau perladangan baru tetapi masih di tanah milik kaum. Jadi tanah yang dibuka itu sudah merupakan pusaka tinggi, hanya pembukaan sawah ladangnya yang baru.

3. Harta Pencaharian

Harta ini merupakan hasil kerja suami istri selama pernikahan, bila terjadi perceraian maka harta ini dibagi secara hukum waris Islam (faraidh).

4. Harta Suarang

Suarang asal katanya adalah surang artinya pribadi. Jadi harta Suarang adalah harta yang dimiliki sesorang, baik oleh suami maupun istri sebelum terjadi pernikahan. Setelah terjadi pernikahan, status harta ini tetap milik masing- masing.

Sebagian pakar adat, hanya membagi harta di Minangkabau kepada 2 klasifikasi:

1. Harta Pusaka Tinggi

Harta ini ialah harta yang diwarisi secara turun temurun dari beberapa generasi menurut garis keturunan ibu. Anggota kaum baik laki-laki maupun perempuan berhak memanfaatkannya tanpa memilikinya.Harta ini tidak boleh dibagi atau dijual, hanya boleh dimanfaatkan secara bersama.

2. Harta Pusaka Rendah

Harta yang didapat selama dalam masa ikatan pernikahan, harta ini merupakan harta pencaharian bersama antara suami dan istri yang diwariskan secara hukum waris Islam (faraidh).

Dalam lingkup harta pusaka tinggilah peran kaum perempuan terlihat sangat dominan, karena harta pusaka tinggi diwariskan menurut garis keturunan ibu. Pemilik asli dari harta pusaka tinggi ini adalah pihak perempuan yang dikepalai oleh seorang perempuan yang dituakan atau disebut Anduang. Walaupun pihak laki-laki (niniak mamak) yang merupakan pemimpin kaum dan mempunyai kewenangan mengelola harta pusaka tinggi, namun Anduanglah yang mempunyai kewenangan komersialisasi, menyimpan dan mendistribusikan hasil pengolahan harta pusaka tinggi ini kepada anggota kaum lainnya. Jadi, adat Minangkabau telah memberikan secara khusus jaminan keselamatan hidup perempuan dalam kondisi bagaimanapun juga. Jika terjadi hal yang tidak diinginkan kelak, berupa perceraian atau lain sebagainya, anggota kaum yang perempuan akan terus survive bersama anak-anaknya dengan mengandalkan harta pusaka tinggi.

Sistem Matrilineal yang telah disepakati dan dipatuhi secara turun temurun ini, setidaknya telah banyak memberikan keuntungan pada kaum perempuan di Minangkabau. Ketika perempuan di luar suku Minang baru menyuarakan emansipasi dan hak perlindungan bagi kaum perempuan, maka perempuan Minangkabau telah mengecap emansipasi dan hak-hak perlindungan tersebut. Para ninik-mamak telah membuatkan suatu “aturan main” antara laki-laki dan perempuan dengan hak dan kewajiban yang berimbang antar sesamanya.

PROSES DI ATAS SEGALANYA

25 November 2010 at 10:36 am | Posted in AKHLAK, Gen 7, MOTIVASI, ORGANISASI | Leave a comment

Oleh: Musrida Arneili Lc.

Kejayaan Islam yang sedang kita nikmati sekarang bukanlah sebuah hadiah cuma-cuma dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada kekasih-Nya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejarah menyatakan bahwa sang kekasih yang memiliki kedudukan mulia disisi-Nya baru Ia angkat menjadi seorang nabi ketika berumur 40 tahun, setelah terlebih dahulu melalui cobaan yang datang silih berganti demi untuk memantapkan keteguhan iman nabi-Nya. Mulai dari ujian ditinggal mati ayahandanya sejak masih dalam kandungan, kematian ibu ketika kecil dan hingga remaja pun masih sering berpindah tangan dalam pengasuhan, dihina, dicaci dan disakiti. Semua itu proses…
Al-Qur’an diturunkan sedikit demi sedikit, ditalqinkan, dibacakan kepada nabi-Nya selama lebih kurang 23 tahun. Andai Allah mau, pasti Dia bisa saja menjadikan kekasih-Nya itu bisa langsung hapal Al-Qur’an dan menjelaskannya kepada umatnya. Namun kenyataannya tidak! Beliau menerimanya selama bertahun-tahun dan penuh perjuangan. Lagi-lagi itu adalah proses…
Bumi dan langit serta isinya mengalami proses penciptaan dan penyempurnaan dalam kurun waktu 6 masa, sebagaimana dijelaskan dalam surat Fusshilat ayat 9-12 dan dalam surat Qaf ayat 38. Tak diragukan lagi bahwa sang Pemiliknya mampu menciptakannya -dari tiada menjadi ada- hanya dalam waktu sekejap saja,”kun fa yakun”. Namun Dia tak menginginkan hal itu, karena Dia yang Maha bijaksana lewat ayat ini ingin mengajarkan pada hamba-Nya tentang pentingnya arti sebuah proses.
Kesuksesan adalah hasil dari sebuah proses. Mau tak mau seseorang harus berteman dengan proses, sadar atau tidak mengabaikan sebuah proses adalah pintu menuju kekecewaan. Tak ada seorangpun mampu menunjukkan keberhasilannya tanpa melalui sebuah proses. Dan tentunya orang yang melalui proses yang berat dan panjang tentunya akan mendapatkan hasil yang jauh berbeda dibanding orang yang melakukan segala sesuatunya dengan serba instant.

Belakangan kita lihat banyak yang mengabaikan proses, mereka lebih berorientasi pada hasil. Inginnya instant, proses pendek tapi mengharap hasil maksimal. Jika setiap orang lebih mementingkan hasil daripada proses yang ada hanyalah kecendrungan untuk mencari jalan pintas, apalagi di zaman yang serba canggih seperti sekarang. Kriminalitas adalah salah satu akibat dari diabaikannya proses. Mereka ingin punya banyak harta tanpa mau menjalani proses usaha.
Sesuatu yang dihasilkan melalui proses tentu lebih bermutu dibandingkan hasil tanpa proses. Contohnya saja pisang. Pisang yang baru dipetik dan langsung dijual tentu harganya berbeda dengan yang telah diolah dengan tepung dan melalui beberapa proses hingga menjadi lemper. Dan tentunya lagi, pisang yang cuma diolesi tepung dan menjadi goreng pisang tak semahal pisang bakar coklat atau keju yang proses pembuatannya lebih rumit dengan tambahan bahan yang lebih mahal. Proses menentukan kualitas dari sebuah hasil. Semakin sulit, rumit, bahkan berat prosesnya tentu akan menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai.
Dalam keseharian sering kita dengar “Enaknya,,, yang dah wisuda en bentar lagi mo pulang dengan bawa Lc…”. Demikian komentar sang junior melihat keberhasilan seniornya. Dan ketika melihat teman yang sudah banyak hapalannya selalu ada yang bilang “asyik ya, bentar lagi dia khatam”. Begitulah yang sering kita hadapi dan lalui, cuma melihat hasil tanpa mau sedikit merenungi kilas balik perjuangannya. Terkadang banyak yang cuma sekedar berkomentar tanpa mau tahu proses panjang yang mereka lalui untuk menggapai kesuksesan itu. Jika kita hanya melihat hasil dari kesuksesan seseorang, berarti kita tidak sedang mulai mencontoh jejak langkah orang tersebut, melainkan sekedar memuji tanpa aksi nyata untuk ikut sukses di kemudian hari.

Proses panjang akan terasa sangat berat jika kita hanya berorientasi pada hasil akhir. Coba kita perhatikan ibu hamil 9 bulan yang kemana-mana harus bawa “genderang besar”, tentunya berbeda dengan kita yang tiba-tiba mau merasakan keadaan mereka dengan langsung mengikatkan sekantung beras dipinggang, karena mereka telah melewati proses panjang hingga menjadi sebuah kebiasaan yang dijalani dengan ikhlas. Satu poin penting lagi, proses apapun itu harus dijalani dengan sabar, ikhlas dan istimrar.
Nah kebetulan tema kali ini tentang Indo-Kairo-kuliah dan ujian, tentunya ini adalah sebuah rangkaian proses. Proses untuk menjadi seorang muslimah da’iyah yang dinanti kehadirannya oleh umat Islam di Indonesia -tanah air kita- terkhusus keluarga dan kerabat tercinta.
Jauh sebelum hari ini -hari penantian bagi yang mau pulang dan awal perjuangan bagi yang baru datang- kita semua telah mengawali proses itu. Tak ada kata terlambat untuk mampu menjadi yang terbaik demi mereka yang selalu menanti kedatangan kita.

So, hendaknya kita semua selalu tajdid niat untuk menikmati sebuah proses dan bukan sekedar hasil. Kembali hadirkan di depan kita target-target yang telah kita rancang kemaren dan berikan haknya berupa pelaksanaan. Kalo yang mau instant, bersiap-siaplah untuk kecewa suatu saat nanti. Dan bagi yang iltizam, tetaplah istiqamah dan penuh semangat! Wallahu musta’an…

Sosok Ibu sebagai Madrasah Perdana

25 November 2010 at 10:35 am | Posted in Gen 6, KELUARGA | Leave a comment


Oleh: Fitri Shabrina Lc.

Islam  memberikan perhatian yang besar terhadap tarbiyah anak sejak dini. Karena anak adalah pemimpin masa depan. Sudah menjadi kewajiban orangtua untuk membentuk figur yang tangguh dalam memikul tanggung jawab, menjadi panutan karena kebersihan jiwanya, ketinggian akhlaknya dan kecerdasan dirinya. Sosok sosok seperti inilah yang diharapkan untuk memimpin ummat dimasa yang akan datang.

Lalu, siapakah pemeran utama pada madrasatul ula ini? Dialah sosok ibu yang mengandung generasi generasi harapan itu, kemudian menyapih mereka dengan air susunya, mendidik mereka dan ibu menjadi pemimpin di dalam rumah suaminya. Maka, tak dikeragui lagi bahwa ibu adalah orang yang paling berpengaruh pada pribadi sang anak. Oleh karena itu, untuk mewujudkan generasi harapan ini sangat tergantung dengan sosok yang akan memberikan suguhan tarbiyah tersebut. Apabila setiap ibu telah menjalankan amanahnya dan mampu menjadi teladan yang baik, Insya Allah, ummat rabbani bukan hanya menjadi sekedar mimipi.

Tanggung jawab besar ini menghasilkan limpahan pahala yang besar pula.  Selain itu, hanya anak yang solehlah yang dapat mendoakan orang tuanya kelak ketika telah tiada. Sebagaimana yang disabdakan oleh rasulullah saw dalam hadisnya

اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث, صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له

(An-Nawawi, Shohih Muslim bi Syarhi Imam Nawawi, vol. 1, hal. 25)

Jika telah meninggal anak Adam, maka terputuslah pahalanya kecuali salah satu dari tiga perkara; shodaqah jariyah, ilmuyang bermanfaat baginya, atau seorang anak soleh yang mendo’akannya

Dalam mendidik anak, tidak hanya usaha saja yang dibutuhkan. Namun, untaian do’a juga akan menentukan. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt. dalam ayatnya:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (74)

 

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan : 74 ) 

 

Fase Fase dalam Mentarbiyah Anak

1  Masa Kehamilan

 

Tarbiyah terhadap anak hendaknya telah dimulai sejak sang buah hati masih dalam kandungan. Walaupun jenis tarbiyah ini masih bersifat permulaan, namun hal ini juga membantu untuk membantu dalam pembentukan kepribadian anak kelak. Jika kita lihat dari ilmu kedokteran, ketika janin telah berusia 14 minggu, panca indranya telah mulai berkembang hingga mencapai fungsi yang sempurna sampai waktu bayi siap untuk dilahirkan. (lih. Perkembangan janin dari minggu keminggu, nakita, hal. 44). Ketika ilmuwan moderen telah menemukan penelitian terbaru untuk menganjurkan ibu memperdengarkan musik musik klasik untuk merangsang  perkembangan indra dan otak bayi, maka mengapa kita tidak memperdengarkan kalimah toyyibah dan lantunanayat suci alqur’an untuk memperkenalkan calon bayi dengan tuhannya. Hal ini akan lebih memperkokoh  ikatan janji Allah dengan sang bayi ketika di zaman azali sebelum ia lahir kedunia untuk mengemban tugas sebagai khalifah di atas

bumi ini. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)” (QS. al-A’raf: 172)

Selain itu, sentuhan lembut sang ibu juga dapat memberikan ketenangan bagi janin. Dan anak akan merasa terlindungi dengan adanya kontak fisik ini.

2  fase ketika anak dilahirkan

 

Ketika sang anak telah terlahir kedunia, maka, dianjuran bagi sang ayah untuk memperdengarkan azan di telinga kanan dan iqamat di telinga kirinya. Ini merupakan tarbiyah bagi anak agar kaimat pertama yang ia dengar ketika terlahir kedunia adalah I’lanu bittauhid.( lih. Tarbiyatul aulad, ‘Athiyah Saqar, hal. 149 )

Sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw.  dalam hadisnya yang terdapat pada sunan Abi Daud dan Tirmidzi yang berbunyi:

عن ابي رافع عن ابيه قال رأيت رسولله صلى الله عليه و سلم أذن فى أذن الحسن بن على حين ولدته فاطمة بالصلاة

” Dari Rafi’ maula Rasulullah saw berkata: Aku melihat Rasulullah Saw. Mengazankan Hasan bin Ali pada telinganya ketika Fatimh melahirkannya dengan azan shalat” (Sunan Abu Daud, vol 13, hal. 305)

3  fase menyusui

Fase menyusui adalah fase dimana seorang anak mulai meniru prilaku sang ibu. Jadi, tarbiyah yang berlangsung pada fase ini bersifat spontanitas. Karna seiring dengan berjalannya waktu, kedekatan ibu dan anak akan mempengaruhi jiwa anak. Oleh karena itu, seorang ibu harus memiliki kepribadian yang baik, kondisi kejiwaan yangbagus dan kesehatan yang prima. ( lih. Tarbiyatul Aulad, ‘Athiyah Saqar, hal 125 )

Menyusui merupakan kewajiban setiap ibu. Namun, jika seorang ibu  tidak sanggup menunaikan kewajiban ini, maka Allah memerintahkan orangtua bayi untuk menyusukannya pada wanita lain agar hak bayi dapat terpenuhi. Dalam hal ini, orangtua bayi harus memilih wanita yang baik dari segi kesehatan, akhlaknya dan pribadinya, karena hal itu sangat berpengaruh terahadap pertumbuhan dan pribadi sang anak. Sebagaimana yang dilakukan oleh ibunda Rasulullah Saw. Beliau memilih wanita  badui yang baik dari bani Sa’ad untuk menyusui putranya tercinta.

Islam menganjurkan ibu untuk  menyusui selama 2 tahun.  Hal ini telah termaktub di dalam al-Qur’an:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan…”.

Jika kita lihat lebih jauh, ternyata menyusui masa 2 tahun ini memberikan manfaat  yang besar. Diantaranya adalah:

1.  Terjadinya kontak fisik antara ibu dan anak ketika kebersamaan dan kedekatan ibu dengan anak berlangsung.

2  Menumbuhkan  kontak batin antara ibu dan anak. Oleh karena itu, ketika anak sedang tidak berada dekat ibunya, ia akan merasa kehilangan.

3  Anak akan mampu untuk mengekspresikan keinginannya seperti dengan menangis, atau menggerak gerakan anggota tubuhnya. Sehingga ibu dapat memahami bahasa bayi dan segera memenuhi keinginan sang anak.

4  kedekatan ibu dengan bayi selama 2 tahun ini akan mendatangkan perasaan aman dan damai pada jiwanya. Karena  ia akan merasakan adanya seseorang yang siap melindungi di dalam dekapan yang hangat. ( lih. ‘Uzhomaa’ul Athfal, Jamal ‘Abdurrahman, hal. 196)

Dari sisi akhlak, seoang ibu hendaknya menjaga sikapnya dan mulai mengajarkan adab adab yang baik terhadap anak. Seperti membiasakan mengucapkan Basmalah ketika memberikanASI, membaca Hamdalah ketika telah selesai. Memulai dengan Bismillah ketika memakaikan anak pakaian, mengucap Hamdalah ketika selesai dan adab adab lainnya.

Sedangkan dari sisi psikologi, keikhlasan ibu ketika memberi ASI kepada bayi, akan mempermudah keluarnya ASI. Dan kesehatan jasmani ibupun akan mmpengaruhi kualitas Asi yang akan diberiakan. Selain itu, perasaan tenang dan ikhlas ketika menyusui juga mempengaruhi psikologi  sang bayi.

 

4  Fase Kanak Kanak

Masa kanak kanak adalah fase dimana anak meniru prilaku yang ada disekitarnya. Hal ini juga diisyaratkan oleh imam Al Ghazali. Beliau mengatakan “Anak kecil siap menerima segala ukiran dan cenderung pada setiap yang diucapkan “. Oleh karena itu, jika kita mengajari dan membiasakan anak anak kita dengan kebaikan, maka mereka akan tumbuh di dalam kebaikan itu. Namun sebaliknya jika kita membiasakan mereka tumbuh di dalan kejelekan. ( 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak,  Muhammad Rasyid Dimas, hal. 5). Ini disebabkan oleh potensi besar yang dimilikinya untuk menerima pengaruh negatif maupun positif. Maka, oangtualah yang harus memaksimalkan pengaruh positif tersebut.

Adapun macam macam tarbiyah yang harus kita perkenalkan pada anak sejak dini adalah:

 

Tarbiyah Islamiyah

1.  Aqidah Sohihah

Hal yang paling pertama dan utama sekali adalah mengajarkan anak  mengenal Tuhannya, dan mengajari mereka mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian selanjutnya mengajari mereka tentang rukun iman dan rukun islam. ( lih. Tuhfatul ‘Arus, Muhammad Sholah Hilmi, hal. 257 )

Pada tahap awal, ibu bisa kreatif dengan mengajarkan rukun iman dan rukun islam dalm bentuk lagu agar  lebih mudah diingat. Dongeng sebelum tidurpun bias difariasikan dengan kisah kisah para nabi, sahabat dan para salafussalih sebagai keteladan akidah mereka.

 

2. Memperkenalkan Ibadah Sejak Dini

Rasulullah saw bersabda dalam hadisnya:

مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سني

Suruhlah anak anakmu shalat ketika telah mencapai umur 7 tahun” (Sunan Abi Daud, vol. 24, hal. 88)

Pengenalan ibadah sejak dini akan membuat mereka terbiasa melakukannya hingga telah dewasa nanti. Walaupun pada awalnya terasa berat dan enggan, namun, sang ibu hendaknya terus memotivasi anak untuk membiasakannya dengan tanpa memaksa. Misalnya, dengan memberikan hadiah apabila sang anak dapat menunaikan puasa sehari penuh, membelikan mushaf yang baru ketika anak semangat belajar alqur’an.

 

3. Tarbiyah  Adab dan Akhlak Karimah

#  Belajar Meniru Kepribadian Rasulullah Saw.

Sebaik baik teladan adalah Rasulullah saw..  Keindahan pribadi dan akhlaknya tiada tertandingi. Kita sebagai muslim disuruh untuk meneladani akhlak Rasulullah saw.. Aisyah Ra. Pernah mengisahkan tentang keluhuran akhlak beliau. Sesungguhnya akhlak Rasulullah adalah al  Qur’an. Dan beliau diumpamakan dengan al Qu’an yang berjalan di atas bumi.

# Mengajarkan Adab Islam

Ketika sang ibu mengajarkan adab adab islami ketika anaak masih dalam masa menyusui, maka, ketika masa kanak kanak, anak akan mulai terbiasa melakukannya. Seperti berdoa ketika melakukan sesuatu. Ibu juga harus mengajarkan adab ketika anak anak berhadapan dengan orang yang lebih besar darinya, adab ketika makan, ketika, bertamu dan adab adab lainnya.

Namun, sebagai orang tua yang mendidik, ibu hendaklah melakukan terlebih dahulu apa yang ia ajarkan terhadap anak. Karena, betapaun sang anak berpotensi besar untuk menerima kebaikan dan betapa suci dan lurusnya fitrah anak, namun dia akan tidak dapt merespon prinsip prinsip kebaikan dan dasar dasar pendidikan yang baik tersebut selama ia tidak melihat pendidiknya berakhlak mulia dan menjadi sosok ideal. ( lih. 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak, Muhammad Rasyid Dimas, hal. 20). Mari kita kembali mengingat seruan Allah pada orag orang yang beriman   untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang kita ucapkan. :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)

” Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?  Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash-shaf : 2-3)

 

# Ketika Anak Melakukan Kesalahan

Kesalahan adalah hal yang wajar dilakukan oleh anak anak. Sebab, anak tengah melewati fase fase perkembangan secara bertahap. ( lih. 20 Kesalahan Dalam Mendidik Anak, Muhammad Rasyid Dimas, hal. 13). Namun, tugas seorang ibu, tentu tidak akan membiarkan kesalahan itu terus berlanjut dan menjadi sifat yang melekat pada diri sang anak.  Menyikapinya dengan sabar adalah solusi terbaik. Hal yang harus dihindari oleh ibu ketika menyikapi kesalah anak adalah memarahinya habis habisan dan memberikan hukuman fisik. Karena, menghujani anak anak dengan kata kata dan memukulnya akan berpengaruh terhadap kejiwaan anak. Sehingga anak akan lari dari ibunya, dan cenderung mengulangi kesalahan tersebut.

Adapun  dampak negatif yang diakibatkan oleh hukuman fisik ini akan merusak fisik anak, kondisi kejiwaan , dan akal mereka. Dan tanpa kita sadari, hal ini juga berimbas negatif pada kondisi masyarakat dan negara. Karna, masyarakat dan negara merupakan kumpulan dari komponen terkecil yang bernama keluarga. ( lih. Kaifa Tu’addibu Abna’ana Bighairi Dhorob, Muhammad Nabil Kazhim, hal. 112 )

Namun, dalam menyikapi kesalahan yang dilakukan oleh anak  juga dibutuhkan cara  yang bersifat mendidik. Contonhya, dengan mengatakan terus terang bahwa apa yang ia lakukan adalah salah, dengan ungkapan “anak yang baik atau soleh, tidak melakukan hal ini”. Bila perlu, tunjukan sikap bahwa sang ibu tidak menyukai apa yang dilakukan oleh sang anak, namun tetap diiringi  dengn menunjukan rasa kasih sayang terhadap mereka (lih. Kaifa Tu’addibu Abna’ana Bighairi Dhorob, Muhammad Nabil Kazhim, hal. 96)

 

4  Tarbiyah jiwa dan akal anak anak

Didikan jiwa dan akal anak yang dijalani oleh ibu pada saat sekarang ini merupakan langkah dalam menyiapkan anak yang  berjiwa tangguh dan cerdas baik secara emosi maupun kecerdasan berpikir. Bukankah mereka adalah calon calon pemimpin masa depan? Maka, hal yang mesti diperhatikan oleh sang pemilik madrasatul ula adalah:

# Berbicara Terbuka dan Turut Mengajaknya Bermusyawarah

Jalinan komunikasi antara ibu dan anak akan menumbuhkan kedekatan emosi antara keduanya. Sehingga ketika anak menghadapi masalah , ia akan terbuka pada ibu. Hal ini akan mengurangi beban sang anak. Disamping itu ibupun dapat memantau kondisi anak ketika ketika ia tidak berada di sisi sang ibu.

Mengajaknya bermusyawarah dan meminta pendapatnya dengan membuka perbincangan sekitar hal hal yang masih dalam porsi intelektualitas mereka juga turut membantu kedewasaan mereka dalam berpikir. Selain itu, perbincangan ini juga akan menjadikan mereka merasa bahwa mereka adalah orang yang dibutuhkan. Misalnya, bermusyawarah dengan mereka tentang hal hal yang berhubungan dengan keluarga seperti  meminta pendapat mereka tentang pembagian tugas rumah.

Cara berkomunikasi dengan anak  pada tidak hanya melalui kata kata. Kontak fisik juga dapat mewakili ucapan, seperti dengan mencium untuk mengungkapkan rasa sayang, menepuk pundak mereka dengan lembut dan tatapan mata yang meyakinkan sebagai ganti dari kata kata; ” Ayolah anakku. Kamu bisa!”

Sahl Bin Sa’idi meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulkullah saw diberi minuman, lalu beliau meminumnya. Sedangkan di sebelah kanan beliau ada seorang anak laki laki dan di   sebelah kiri ada seorang sahabat yang lebih tua. Rasulullah Saw. pun bertanya pada anak itu; “Apakah kamu mengizinkn aku untuk memberi mereka ( yang tua) minuman ini terlebih dahulu? “. Sianakpun menjawab; “Tidak, demi Allah aku tidak akan memberikan hakku darimu kepada siapapun”

 

# Melatihnya Untuk Bertanggung Jawab

Memberikan suatu tugas merupakan latihan bagi anak untuk bertanggung jawab. Namun, ada hal hal yang mesti diperhatikan dalampemberian tugas tersebut. Diantaranya, memberikan tugas sesuai dengan jenis kelmin anak, memberi tugas sesuai dengan usianya, tidak memarahinya jika ia salah dalam menunaikan tugas yang diberikan. Misalnya, anak laki laki ditugaskan  bembantu ayah untuk membersihkan kebun. Sedangkan anak perempuan diberi tugas untuk membantu ibu di dapur.  Dan ibu juga harus menghindari pendelegasian tugas yang di luar kemampuan anak. Jika ia melakukan kesalahan dalam melaksanakannya, maka  hindari    diri dari mencerca dan memarahinya. Pahamkan ia dengan baik akan tugas tersebut, apalagi tugas yang baru pertama kali ia lakukan. Sebaliknya, jika sang anak  berhasil menunaikan dengan baik, maka berikanlah sebuah apresiasi dan pujian dengan tidak berlebihan yang akan menambah kepercayaan dirinya.

 

5  Memotivasi Mereka Untuk Belajar dan Mengembangkan Bakat

 

Jika kita ingin kecerdasan dan kemampuan anak berkembang, maka arahkanlah ia pada kegiatan kegiatan yang dapat melatih kemampuan mereka dalam berpikir dan berinovasi.  ( lih. 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak, hal. 141 ). Diantara kegiatan yang mendukung hal itu adalah:

 

Memfariasikan Cara Belajar

Agar belajar tidak membosankan, maka ibu mesti mampu memfariasikan cara belajar pada anak. Misalnya, belajar huruf dengan menggambar benda yang dimualai dengan huruf tersebut. Atau mengajak mereka belajar sambil bermain.

Mendukung Bakat Positif Mereka#

Jika sang anak memilki bakat yang positif, maka, dukunglah ia untuk menyalurkan bakat tersebut dan motivasi untuk mengembangkannya. oleh karna itu, ibu mestilah peka terhadap perkembangan dan bakat yang dimiliki oleh anak. Misalnya, jika anak memiliki kecenderungan untuk menulis, maka belikanlah ia alat tulis yang bagus. Dan rahkan mereka untuk menulis hal hal yang positif.

# Berikan Pujian dan Jangan Membandingkan Bandingkan Kemampuan Anak

Jangan sungkan untuk memberikan pujian dan hargailah jika anak berhasil dalam belajar walaupun sekecil apapun keberhasilan itu. Hindari kata kata yang meremehkan. Contohnya, jika anak memberi tahu bahwa ia berasil mendapatkan nilai delapan dalam pelajaran matematika, maka janganlah sorang ibu berkata : “hanya dengan mendapat nilai segitu kamu sangat bergembira?!  Sedangkan ibu waktu seusiamu selalu mendapatkan nilai 10 dalam mata pelajaran ini.”

 

4 fase remaja

Masa remaja adalah masa dimana anak akan menuju ke fase selanjutnya yaitu dewasa. Seorang pakar psikologi, Lily H. Setiono mengatakan dalam  sebuah artikel yang ditulisnya bahwa masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia  yang mana batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja. Karena usia pibertas yang dahulunya terjadi pada usia 15-18 tahun, kini bisa terjadi pada usia 11 tahun. Anak yang berusia 10 tahunpun mungkin saja mengalami masa pubertas pada masa ini. Namun, bukan berarti ia telah memasuki usia remaja dan telah siap untuk siap menghadapi dunia dewasa.

Dalam usia remaja ini, anak mulai mengalami perubahan baik dari segi biologis maupun psikologis. Adapun perubahan pada dimensi biologis yang sekaligus menjadi tanda memasuki usia baligh ini seperti  datangnya menstruasi bagi anak perempuan, berkembangnya hormon reproduksi yang mana mulai mempersiapkan tubuh remaja untuk mengalami masa reproduksi tersebut. Adapun bagi anak laki laki, masa remaja dimulai dengan perubahan suara, fisik yang berkembang drastis.

Sedangkan perubahan pada dimensi psikologis,  masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak dan mulai memiliki rasa ketertarikan pada lawan jenis. Pada masa ini suasana hati bisa berubah dengan cepat. Disaat ini pula remaja mulai mencari sebuah jawaban dari pertanyaan  ” Siapakah diri saya sebenarnya?”. Pada masa labil inilah peran seorang ibu sangat diperlukan untuk terus megarahkan mereka dan mengingatkan jati diri mereka sebenarnya. Adapun tarbiyah yang dapat dilakukan oleh sang ibu adalah:

 

1. Memberikan Pengertian Terhadap Perubahan Yang Terjadi Pada Diri Mereka

Ketika memasuki masa baligh ini, hendaknya seorang ibu berbicara empat mata dengan anak bahwa pada masa ini mereka telah memasuki fase yang mana taklif mereka sebagai muslim/mah telah diperhitungkan. Karna, kadangkala anak merasa malu untuk bertanya tentang perubahan yang terjadi pada diri mereka. Maka, ibu harus menjelaskan kewajiban kewajiban agama kepada mereka seperti berhijab bagi perempuan, menjelaskan batas batas aurat bagi mereka, menjaga adab adab islami apalagi terhadap lawan jenis dan kewajiban lainnya. Tidak ada salahnya pula jika seorang ibu membagi pengalamannya ketika mengalami usia remaja ini.

 

2. Tetap Terbuka dengan Anak

Komunikasi terbuka dengan remaja ini tetaplah dijalin dengan baik. Biasanya anak usia remaja adalah anak yang plin plan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi pada dirinya. Sudah menjadi kewajiban orang tua membantu mereka untuk mengarahkan mereka sehingga mereka tidak jatuh pada hal hal yang tidak diinginkan. brbeda dengan usia kanak kanak, seorang ibu hendaknya menjauhkan sikap cenderung mendikte dan memperlakukan mereka seperti anak anak. Biarkan mereka berpikir untuk mengasah jiwa mereka untuk memasuki kedewasaan tanpa meninggalkan pengarahan tersebut.

Demikianlah fase fase yang dilalui seorang ibu dalam mendidik sang buah hati. Namun, tarbiyah ini tak dapat berlangsung dengan maksimal tanpa dukungan dari sosok yang bernama ayah. Oleh karena itu, diperlukan kekompakan dan komunikasi yang lancar antara ibu dan ayah dalam melewati tahap pendidikan ini.  Sehingga, terwujudlah tujuan dari tarbiyah itu sendiri. Wallahu a’lam bishawab.

 

Menyongsong ‘Back To Campus’

25 November 2010 at 10:22 am | Posted in AKHLAK, Gen 7, MASISIR NEWS, MOTIVASI | Leave a comment

 

Oleh: Elvi Rahmi

 

Tidak terasa sudah tiga bulan lamanya kita menikmati libur musim panas. Berarti sudah tiga bulan kita tidak disibukkan oleh aktifitas perkuliahan seperti menghafal muqarrar, muhadharah, membuat bahats dan sebagainya, walaupun mungkin di waktu libur kita masih disibukkan oleh ijraat/administrasi kuliah seperti mengurus tashdiq atau yang lainnya.

Pertanyaannya apakah waktu liburan yang berbulan-bulan ini telah kita menggunakan dengan baik dan mengisinya dengan hal yang bermanfaat? Hanya pribadi kita masing-masing yang bisa menjawab karena kita sendirilah yang bisa merasa dan menilai apakah kita telah menghasilkan hal-hal bermanfaat selama liburan ini atau malah sebaliknya.

Waktu libur yang sangat panjang ini memang merupakan ladang empuk yang bisa diisi dengan seabrek aktifitas bermanfaat. Namun -kita sadari atau tidak- liburan panjang ini juga bisa menjadi ancaman besar yang bisa menghabiskan waktu kita dengan kesia-siaan dan kelalaian lalu berakhir tanpa makna dan hasil apapun.

Jika kita perhatikan di kalangan Bundo Kanduang secara umum, Alhamdulillah waktu libur ini lebih digunakan untuk menambah kegiatan-kegiatan ekskul yang bermanfaat seperti program tahfiz al-Quran dan hadis, les bahasa Arab, les kaligrafi, talaqqi di mesjid Al-Azhar dan sibuk dengan berbagai kegiatan keorganisasian. Tentunya juga dengan berwisata di negeri para Nabi yang eksotik ini dan banyak hal positif lainya. Semoga di liburan kali ini masing-masing kita telah menghasilkan hal-hal yang terbaik dan bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Amiin…

Nah akhir liburan berarti awal kembali lagi ke bangku perkuliahan atau yang lebih populer dengan istilah “back to campus”.

Apa sih back to campus itu? Back campus adalah kembali lagi ke aktivitas perkuliahan setelah meninggalkannya sekian lama untuk liburan.

Kalau di tanah air, awal tahun ajaran baru selalu diwarnai dengan kemeriahan dan gegap gempita. Betapa para mahasiswa dan anak-anak sekolahan menikmatinya dengan suasana baru. Datang ke kampus atau sekolah dengan segala yang serba baru, semangat baru, teman baru bahkan kelengkapan belajar baru. Terlebih anak-anak Sekolah Dasar, ketika mulai sekolah kembali selalu saja identik dengan baju baru, tas baru, sepatu baru serta buku dan alat tulis baru. Mungkin jika tanpa pakaian baru itu serasa tidak naik kelas, sehingga para orang tua pun harus mengeluarkan banyak uang jika telah mulai awal tahun ajaran, malah kadang lebih banyak dibanding pengeluaran lebaran. Para pedagang pun meraup keuntungan berlipat-ganda.

Bagaimana keadaan disini, di Kairo ini? Suasana tahun ajaran baru di Kairo ini tak semeriah di Indonesia. Yang paling kita rasakan disini adalah jika aktivitas sekolah dan perkantoran dimulai, jalan-jalan akan mengalami kemacetan.

Lantas bagaimana kita sebagai seorang mahasiswi al-Azhar menyongsong “back to campus” ini? Apakah sama dengan pemahaman anak-anak sekolah Dasar yang memaknai lebih kepada hal-hal kebendaan yang serba baru, ataukah bahkan tidak merasakan sama sekali “back to campus” itu karena liburan dan kuliah sama saja, tidak harus datang ke kampus dan mengikuti muhadharah?

Sebenarnya ada tantangan tersendiri bagi kita seorang mahasiswa Al-Azhar dalam menyikapi “kembali ke kampus” ini, karena di Al-Azhar para mahasiswa tidak dipaksa untuk hadir kuliah, dengan kata lain hadir atau tidak hadir kuliah tidak jadi masalah. Ini mungkin menjadi salah satu sebab kenapa sebagian kita malah tidak merasakan momentum baru ketika tahun ajaran telah dimulai kembali

Yang ingin ditekankan disini, apakah dengan keadaan seperti ini kita tetap bisa untuk membiasakan diri selalu hadir kuliah meski sebenarnya kehadiran kita tidak pernah dipertanyakan oleh sang dosen, malah datang sekali setahun hanya untuk ujian pun oke-oke saja. Disinilah tolak ukur bukti kesungguhan kita sebagai seorang duta keluarga, masyarakat dan bangsa.

Apakah kita dikirim kesini hanya untuk berdiam di rumah atau hanya sibuk dengan organisasi dan hanya hadir ke kuliah jika ujian? Sementara keluarga kita dan bahkan masyarakat di kampung kita sudah barang tentu berprasangka baik bahwa kita di Kairo ini sedang kerja keras kuliah, menimba ilmu di kampus Al-Azhar dan bertatap muka dengan para dosen Al-Azhar.

Apakah harapan dan prasangka mereka hanya kita bayar dengan duduk-duduk dirumah dan hanya hadir ketika ujian akan digelar? Lalu apa yang akan kita jawab nanti jika mungkin suatu saat timbul pertanyaan dari mereka tantang siapa nama dosen  yang mengajar ini atau itu? Inilah yang harus kita sadari dan selalu menjadi ingatan kita bahwa kegiatan seorang mahasiswa adalah menghadiri kuliah. Lain halnya jika seorang pengangguran kerjanya ya cukup duduk-duduk dirumah saja.

Namun kadangkala banyak diantara kita yang masih menyia-nyiakan keberadaan kita di Kairo ini dengan merasa bisa tetap mendapatkan ilmu walau tanpa hadir kuliah. Padahal tujuan awal kita semua kesini adalah untuk kuliah. Memang tidak ada salahnya berkecimpung dalam aktifitas lain di luar aktifitas kuliah, tapi dengan berbagai kesibukan ekskul tersebut bukan berarti kita meninggalkan bangku kuliah sama sekali.

Betapa banyak manfaat yang bisa kita dapatkan jika hadir kuliah. Yang pasti kita bisa menimba ilmu dari para duktur Al-Azhar yang jelas lebih dalam mempelajari agama di bandingkan kita. Kita bisa belajar bagaimana cara seorang duktur menjelaskan tentang agama ini yang mungkin bisa kita gunakan untuk menyebar dakwah di negara kita nanti. Hendaknya kita jangan pernah merasa puas hanya memahami muqarrar dengan membaca sendiri di rumah. Masih banyak pelajaran-pelajaran di luar muqarrar yang bisa kita dapatkan jika bertemu langsung dengan para duktur. Banyak hal-hal baru yang disampaikan ketika muhadharah yang pasti kita butuhkan nanti jika kembali ke tanah air.

Mudah-mudahan ke depan kita bisa benar-benar mengisi hari-hari kuliah dengan mengikuti muhadharah dan bisa menimba ilmu langsung dari ahlinya.

Tulisan singkat ini hanya sebuah alarm bagi penulis pribadi dan kita semua yang mungkin kadang terlupa atau membiarkan diri untuk lupa dengan tujuan awal kita kesini. Lalu berpuas hati hanya dengan membaca muqarrar di rumah dan hanya hadir kuliah jika ujian saja. Wallahu A’lam bi as-Shawab ^_^

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

BACK TO KAMPUS (cerpen)

25 November 2010 at 10:12 am | Posted in Gen 8, MOTIVASI, SASTRA | Leave a comment


Oleh: Ervyta Sari

Yup… Start!!! Aku harus mulai dari sekarang, kalau tidak kapan lagi. Kata-kata ini sering menjadi pemacu diri ini kala hati lesu lunglai menjalani hidup dengan banyak bersantai, jalan dengan gontai, dan tangan pun ikut menari lemah gemulai. Kalo udah seperti itu, hidupku seakan hampa, seolah tak ada bingkai cita-cita yang harus ku kejar dan ku jadikan hadiah pada orang tua. Padahal niat mulia yang selalu kusemat dalam dada adalah menjadi thalibatul ilmi yang mulia. Dan ketika kaki sudah menginjak bumi kinanah ini semua seakan menjadi berbeda. Niat yang kutanam kuat mulai goyah dihantam kabut pasir padang sahara. Niat yang lurus mulai bengkok dan lemah dimakan usia. Seakan cita-citaku hanyut dibawa terjangan ombak pantai Alexandria. Namun, ku yakin aku kesini bukan terpesona oleh gemilang kota Alexandria atau cantiknya pesona Cleopatra.

Aku bukanlah gadis yang tak punya mimpi. Menjadi sang pemimpi untuk menjadi sang pemimpin itu sangatlah berarti. Dimulai dengan mimpi berharap menjadi cahaya yang abadi. Paling awal mejadi pemimpin hati diri sendiri agar bisa senantiasa mengaturnya, agar bisa membawa pada jalan yang lurus dan hakiki. Kalau bukan diri ini  yang memulai siapa lagi. Karena ku yakin motivasi terbesar terdapat dalam diri ini sendiri. Yah, aku harus bisa dan aku harus yakin bahwa potensi itu masih ada, masih tertanam kuat dalam jiwa, masih bersih dan belum ternoda. Ku yakin masih ada kesepatan kedua, ku tanamkan dalam relung jiwa taubat nasuha, agar hidupku kembali teratur dan berjaya diakhirnya.

Kata bunda, ku anak manja, kata ayah ku sangatlah gigih hingga mainan yang ku pinta pada ayah belum juga dikasih aku akan terus menangis. Sebelum dapat apa yang dicari tak mau berhenti, untuk sebuah mainan aku mampu seperti itu, karena itu ku sangat yakin untuk cita-citaku ku bisa lebih gigih dari itu. Kata kakak ku orangnya telaten dan rapi, hingga ku jarang lupa jadwal harianku, selalu ku kerjakan tepat waktu. Karena ku tau waktu tak kan setia menemaniku. Dia akan terus berjalan hingga hujung waktu. Karena waktu adalah kehidupanku. Tanpa waktu ku hilang ditelan bumi dan berakhirlah sejarah hidupku. Kata adik, aku sangat penyayang. Bermain bersama disaat ibu sibuk membereskan pekerjaan rumah tangga. Itu kata mereka, namun kataku gimana….?

Yah… inilah aku, yang terkadang sering sedih tak menentu. Kadang aku malu, tak mampu seperti teman-temanku yang semangat dan gigih mencari ilmu. Ku akui, selama ku di Kairo bisa dihitung hari kuliahku. Bisa dihitung kapan ku datang memenuhi jadwal bimbel. Organisasi…? Untuk yang satu ini, aku sudah mulai tidak mau ikutan lagi. Jadwal tidurku melebihi jadwal belajarku. Oh diriku… sedarlah…? Kau bukan berada di tanah airmu. Kau jauh-jauh datang dari negeri hanya untuk tidur dan berdiam diri di kamarmu. Berpisah dengan orang tua, kakak, adik, dan keluarga semua demi ilmu yang sangat kau damba. Oh diriku…? Lihatlah alam luar, kau akan menghirup udara segar. Belajarlah dari dunia sekitar agar kau semakin besar dan bertambah tegar.

Kini jadwal kuliah sudah tertera di dinding kelas. Ku masih asyik bermain dan bermalas-malas. Ya Allah hatiku beku untuk kembali berjuang dalam menuntut ilmu, otak ku beku setelah liburan panjang menemani hari-hariku. Anugrahi salju rindu dalam jiwaku agarku fresh menjalani padang pasir yang berdebu. Pancarkanlah cahaya iman dalam qalbuku agar ku mudah memahami setiap ilmu dari-Mu. Jadikanlah aku diantara para penuntut ilmu yang ilmunya selalu bermanfaat sepanjang waktu. Jadikanlah hari ini lembaran baru bagiku sebagai tebusan lembaran usang yang dulu penuh kesia-siaan dan keputus asaan. Temanilah aku dengan ridho-Mu di setiap jejak langkah yang ku lakukan. Moga ini langkah awalku menuju jalan yang kau cintai, jadikan aku termasuk hamba yang kau cintai, dan bawa aku kesurga yang kau ridhoi, surge yang haqiqi.

“Upsss… gi ngapain mbak…? Cie… cie… yang gi buat surcin…?” Tiba-tiba Khairiyah mengejutkan Annisa yang dari tadi sibuk memainkan jari di notebook mungilya.

Annisa gadis yang hoby baca tulis, jadi wajar dia suka menuliskan isi hatinya di lembaran MS Word. Yang namanya diary ya nggak mau dong dipublikasi, akhirnya teman-temannya sewot sendiri dan godain Annisa dengan gurauan yang kadang bikin geli. Buat surcin la alias surat cinta, buat proposal la, atau gurauan lainnya. Maksud proposal disini bukan proposal bantuan dana, atau program kerja, tapi surat lamaran ke ikhwan…

“Biasa mbak, lagi ngadu ma ke kasih hati. Dah lama ni nggak ngadu via surcin. Kalo dari hati ke hati, dah biasa kali, kalo pake surcin sungguh luar biasa. Bisa merasuk dalam ruang dada”, Nisa menimpali.

“Bisa ja kamu. Oh ya anis, kamu dah dapat jadwal kul belum? Aku dah dapat nich. Kamu mau gak?”

“Hmmm.. gimana ya…? Pikir-pikir dulu deh”

“Kamu masih seperti dulu ya, tak berubah. Ke kul jarang. Kalo gak mau kul, ngapain kesini coba”.

“Hmm… hehehe.. senang banget aku kalo mbak Khairiyah marah. Serasa dapat durian runtuh. Hmmm enaknya buah durian”. Anis masih saja bercanda.

“Mbak Khairiyah sayang, aku dah dapat jadwal kok. Bahkan ada rencana mau jadi yang pertama datang, barisan pertama duduk di bangku kelas”

“Lebay kamu”, Khairiyah menertawakan.

“ Berangkat bareng yuk…”, semangat sedang menggebu di hati Anis.

“Ayuk, siapa takut. Tapi ingat ye… tak boleh tidur pagi”

“Iya.. bu gulu.. back to kampus, keep spirit chayoo…”

 

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

HAJI TANPA MAHRAM, BOLEHKAH?

25 November 2010 at 10:10 am | Posted in FIQH KONTEMPORER, Gen 8, hadis | Leave a comment

Oleh: Fadhilah Is*

Labbaikka Allahumma labbaik.

Marhaban ya Syahr al-Hajj, bulan haram yang penuh berkah dan maghfirah. Dengan  iman dan ketundukkan jutaan umat Islam berbondong-bondong menyambut seruan tuhan-Nya. Memang, ibadah haji adalah dambaan setiap muslim. Apalagi zaman sekarang dengan  fasilitas yang serba canggih membuat segalanya menjadi mudah. Lonjakan peminat hajipun tak dapat dielakkan. Laki-laki dan perempuan berlomba-lomba menggapai rahmat Allah di “rumah-Nya”. Namun timbul pertanyaan, bagaimana dengan muslimah yang tidak memiliki mahram, apakah dia diperbolehkan berhaji sendirian? Dalam hal ini ulama berbeda pendapat.

  1. Pendapat yang menyatakan haram (Hanafiah, Hambali dan Ibnu Jauzi)

Kewajiban yang harus dipenuhi laki-laki (Islam, baligh, berakal, merdeka dan kemampuan dalam bekal dan kendaraan) dalam menunaikan haji juga merupakan kewajiban bagi perempuan. Ditambah syarat khusus yaitu adanya suami atau mahram. Maka tidak adanya mahram yang menyertai seorang wanita dalam menunaikan ibadah haji menjadi sebab terhapusnya kewajiban haji baginya. Pendapat ini dikuatkan dengan dalil-dalil:

1. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari Ibnu Abbas, beliau mendengar Rasulullah berkhutbah: ”tidak boleh berkhalwat seorang perempuan dengan laki-laki kecuali bersama mahram”. Kemudian seorang laki-laki berdiri:” wahai Rasulullah sesungguhnya istriku hendak menunaikan ibadah haji sedangkan saya ingin mengikuti perang ini dan ini,”  Rasulullah berkata: ”pergi dan berhajilah bersama istrimu”.

Wajhu dilalah: Kewajiban adanya mahram dalam haji disebabkan perintah Rasulullah agar  menemani istrinya menunaikan haji dan meninggalkan perang padahal perang itu wajib baginya.

2. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari Abi Sa’id ”Rasulullah melarang seorang wanita bepergian selama 2 hari 2 malam kecuali bersama suami atau mahramnya”.

Wajhu dilalah: Jelas bahwa wanita tidak dihalalkan melakukan safar tanpa mahramnya. Banyak hadis yang senada dengan ini, ada yang meriwayatkan larangan safar selama 1 hari ada juga 3 hari. Semua riwayat tersebut tidak bertentangan karena inti masalah bukan pada jumlah harinya tapi pada kewajiban mahram bagi wanita jika bepergian.

Pandangan ini sekaligus menafikan keabsahan ibadah haji seorang muslimah sendirian tanpa mahram, meskipun ditemani seorang muslimah tsiqah ataupun jamaah muslimah lainnya, karena mereka semua bukan termasuk golongan mahram yang mampu menjaganya sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

  1. Pendapat yang menyatakan boleh (Syafi’i, Ibnu Qudamah, Malik dan Auza’i)

Tidak ada kemestian adanya mahram bagi wanita untuk melaksanakan haji wajib, dan cukup bersamanya jama’ah  wanita (yang terpercaya). Pendapat ini dikuatkan dengan dalil-dalil:

  1. Al-Quran surat Ali Imran: 97 Artinya: “(dan diantara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke baitullah yaitu bagi orang-orang yang mampu)”.

Wajhu dilalah: Wanita yang dalam keadaan aman dari mara bahaya diwajibkan menunaikan ibadah haji. Karena syarat utama beribadah haji adalah kemampuan untuk berangkat dan pulang kembali serta mampu menyempurnakan seluruh rangkaian manasik haji.

  1. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari Ibnu Umar, ketika Rasulullah ditanya; ”apakah yang mewajibkan haji?’,beliau berkata: “al-zat (bekal pulang-pergi) dan al-rihalah (kendaraan yang memberikan rasa aman)”.

Wajhu dilalah: Apabila wanita memiliki  kemampuan dan adanya rasa aman dalam perjalanan haji haji maka tidak adanya mahram bukanlah menjadi penghalang yang mutlak. Boleh baginya pergi dengan rombongan haji perempuan lainnya.

  1. Perbuatan sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, ketika Umar memberikan izin bagi istri-istri Rasulullah menunaikan ibadah haji ditemani Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.

Wajhu dilalah: Adanya kesepakatan antara Umar, Usman, Abdurrahman bin Auf dan istri-istri Rasulullah serta tidak ada  diantara sahabat yang mengikari keberangkatan haji tersebut merupakan Ijma’ yang membolehkan wanita menunaikan ibadah haji bersama rombongan wanita terpercaya.

  1. Hadis Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari ‘Ady bin Khatim berkata: “ketika saya sedang bersama Rasulullah saw datang kepada beliau seorang laki-laki mengadu tentang kemiskinan, kemudian datang laki-laki lain mengadu tentang perampokkan. Kemudian Rasulullah berkata: ”wahai ‘Ady apakah kamu telah melihat al-Khiyarah (desa dekat Kufah)?” ‘Ady menjawab: “saya belum melihatnya tapi saya sudah pernah mendengarnya”. Rasulullah berkata: ”apabila panjang usiamu maka kamu akan melihat al-dha’inah (tandu pada punggung onta di dalamnya ada perempuan atau tidak) berjalan dari al-Khiyarah hingga berthawaf mengelilingi Ka’bah tidak ada ketakutan sedikitpun kecuali terhadap Allah”.

Wajhu dilalah: Boleh bagi wanita menunaikan ibadah haji jika terjamin keamanannya meskipun tanpa adanya mahram karena qiyas dari hadis ini.

Dari dalil-dalil yang dipaparkan diatas jelaslah bahwa adanya perbedaan persfektif ulama dalam memandang kemestian adanya mahram bagi wanita dalam menunaikan ibadah haji.  Kalau kita lihat realita sekarang pemerintah Arab Saudi mewajibkan keikutsertaan mahram haji bagi perempuan melalui selembar surat pernyataan demi keamanan selama perjalanan dan prosesi haji. Di sisi lain mulai menjamurnya jasa-jasa travel haji dan KBIH membuat para muslimah berlomba-lomba untuk menjawab panggilan Allah tiap tahunnya.

Maka semuanya kembali kepada kita pribadi. Bagi yang mewajibkan mahram mereka berlandaskan kepada dalil-dalil yang kuat dan bagi yang meyakini cukup adanya sekolompok wanita yang dipercaya mereka pun berpegang kepada dalil-dalil yang kuat.

Dan yang mesti dingat bagi setiap muslimah yang akan berhaji dengan atau tanpa mahram, hendaknya mempersiapkan segala-galanya. Tidak cuma fisik dan materi, tetapi juga mental dan ilmu manasik haji, sehingga bisa maksimal menunaikan semua ibadah di tanah suci sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan meraih haji mabrur. Ya Allah jadikanlah kami diantara tamu-tamu yang engkau panggil bersujud di “rumah-Mu”. Amin!!!

*Mahasiswi tk 4 Jur Hadis Univ Al-Azhar Kairo

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

KONTINIUTAS ILMU

25 November 2010 at 10:10 am | Posted in AL-QURAN, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment

Oleh: Rike Veronisa*

Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim karena landasannya termaktub dalam Al-Quran dan hadits. Namun, menuntut ilmu tidak hanya sekedar dilaksanakan lalu lepaslah tanggung jawab. Akan tetapi, jika ingin mendapatkan ilmu, khususnya ilmu agama seharusnya setiap muslim melengkapi syarat-syarat sebagai seorang penuntut ilmu. Karena dalam Islam, standar hidup seorang muslim yang ideal adalah batas kecukupan, bukan batas pas-pasan.

Azzarnuji dalam kitabnya Ta’lim Al-Muta’llim menyebutkan perkataan Imam Syafi’i tentang syarat-syarat seorang penuntut ilmu, yaitu :

1. Cerdas.

Kecerdasan merupakan anugrah Allah yang ada pada diri seseorang sejak lahir. Bukan berarti orang yang kurang cerdas tidak bisa belajar karena maksudnya di sini adalah setidaknya seorang yang cerdas mempunyai kemampuan dasar untuk menyerap ilmu dan mengolahnya dengan otaknya. Kecerdasan berbeda dengan kepintaran karena kepintaran diperoleh dari kerajinan.

2. Rakus mencari ilmu.

Menurut Imam Syafi’i penuntut ilmu tidak boleh cepat merasa puas terhadap apa yang telah diketahuinya dan jangan hanya menuntut ilmu di satu daerah saja. Jangan takut menderita, kenikmatan hidup dapat dirasakan sesudah menderita.

3. Penuh perjuangan dan sabar.

Surat Ali Imran yang terdiri dari 200 ayat menjelaskan tentang perjuangan berat Rasulullah sepanjang hidupnya di pertempuran Badar dan Uhud. Sabar yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu adalah sabar yang aktif yaitu mentalitas ketahanan belajar, memiliki mental yang kuat untuk tekun belajar dan berusaha keras. Dan salah satu bagian sabar adalah konsentrasi dalam belajar.

4. Bekal (biaya).

Penuntut ilmu harus yakin bahwa rizki itu telah dijamin Allah swt dan pintu rizki itu banyak. Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang berusaha dan selalu bersyukur terhadap segala nikmat yang dianugrahkan-Nya.

5. Bersahabat dengan guru, tidak hanya mengandalkan membaca buku.

6. Thuluz zaman atau memiliki waktu yang cukup untuk menuntut ilmu bahkan kalau bisa sepanjang hidup.

Enam syarat di atas menunjukkan bahwa untuk mendapatkan ilmu itu tidaklah mudah, butuh perjuangan dan kerja ekstra keras. Dan yang paling menentukan itu adalah proses menuntut ilmu, bukan sekedar hasilnya.

Kondisi mahasiswa dan sistem perkuliahan di universitas Al-Azhar Kairo tentu berbeda dengan tanah air. Yang paling menonjol adalah fatroh liburan di musim panas yang sangat lama. Ada yang mengisi waktu dengan talaqqi di mesjid Azhar, menyetor hafalan di berbagai tempat (dar huffaz), mempelajari buku-buku turas dan berbagai hal bermanfaat lain bahkan ada yang rela mengeluarkan uang untuk menjelajahi objek wisata dan situs bersejarah di negeri seribu menara ini. Namun ada pula yang hanya bermalas-malasan di rumah sambil tidur-tiduran sampai perkuliahan diaktifkan lagi.

Dan kini sudah memasuki bulan Oktober, Idul fitri telah lama usai dan bulan haji segera menjelang. Waktu liburan telah habis, tahun ajaran baru digelar kembali. Perkuliahan sudah menunggu, muqarrar baru sudah menanti, dan muhadarah di kelas pun juga sudah dimulai. Saatnya mahasiswa kembali menyibukkan diri dengan aktivitas kampus dan agenda keilmuan ekskul.

Biasanya kebanyakan mahasiswa cenderung malas ke kampus di awal tahun ajaran dengan alasan dosen-dosen belum ada yang datang, muqarrar belum turun, dan jumlah mahasiswa yang hadir pun masih sedikit. Alasan-alasan klasik yang dilontarkan ini bisa jadi karena terlena dengan masa liburan yang cukup panjang sehingga sulit untuk memulai belajar kembali. Itulah karakter manusia.

Salah seorang guru matematika MAN Koto Baru –yang kini menjabat kepala sekolah MAN Gunung- ustaz Amrizon S.Pd. menyatakan bahwa ketika otak kita telah banyak mendapatkan rehat panjang alias vakum, saat itulah kita harus langsung memaksanya (memulai kembali) dengan pelajaran matematika. Dengan artian otak harus diberi beban dengan permasalahan agar bisa segera berfungsi dan tidak dimanjakan. Jangan sampai terlalu lama menumbuhkan semangat belajar, karena masa ujian pun akan menjelang sehingga mau tidak mau setiap siswa terpaksa untuk belajar keras dan memfungsikan otaknya dengan lebih cepat lagi. Coba kita lihat sistem menghafal Al-Quran yang istimror dan bit takrir yaitu secara terus menerus dan diulang-ulang agar hafalan awet dan tetap di hati. Nah ini juga bisa kita praktikkan juga dalam sistem pembelajaran baik kuliah ataupun otodidak, hendaknya terus menerus menuntut ilmu dan mengasah otak agar proses belajar tidak terhenti.

Memang tidak dapat dipungkiri, ada beberapa kekurangan dalam sistim perkuliahan Al-Azhar yang kurang mendukung proses pembelajaran mahasiswa, antaranya:

1.      Menempuh kuliah di Azhar menuntut kita untuk sabar, mandiri, disiplin, tanggung jawab, ikhlas dan ulet karena kita menghadapi hal-hal seperti perubahan cuaca di Mesir, adat istiadat, bahasa, tempat, serta karakter masyarakat setempat yang membuat kita harus beradaptasi dengan semua hal tersebut.

2.      Di Azhar tidak memiliki sistem absensi yang tetap dan jumlah mahasiswa yang belajar dalam satu kelas sangat banyak jumlahnya sehingga orang acuh tak acuh untuk menghadiri kuliah.

3.      Bahasa pengantar yang digunakan oleh dosen terkadang bahasa Amiyah, sehingga di saat pelajar kurang paham terhadap apa yang dijelaskan dosen, mereka lebih memilih untuk membaca buku di rumah.

4.      Selama proses belajar dan mengikuti muhadarah mahasiswa kurang dituntut aktif, kalapun ada itu sangat jarang. Kekurangan sistem ini dapat kita lengkapi dengan memperbanyak bimbingan dan diskusi dengan kakak kelas dan kajian-kajian bersama teman.

5.      Mahasiswa tidak diwajibkan membuat makalah, tapi ada sebagian dosen yang memberikan tambahan nilai dengan membuat paper (bahts).

Akan tetapi, semua kekurangan ini hendaknya jangan dijadikan kambing hitam atas sebuah kegagalan. Malah seharusnya bisa menjadi motivasi dan lecutan untuk mengembangkan diri menutupi semua kekurangan itu selama belajar di Mesir.  Karena di balik kekurangan tersebut juga terdapat banyak kelebihan seperti kurikulum Al-Azhar yang lebih mendalam dan mengajarkan kita menggali khazanah klasik keilmuan Islam (turats) sehingga ilmu itu benar-benar didapatkan dari sumber asli.

Sedangkan untuk bergaul dengan guru atau dosen, di Azhar sangat mustahil rasanya dosen bisa mengenali mahasiswa satu persatu akibat jumlah yang begitu banyak di setiap muhadharah. Jadi, mahasiswa harus bisa mengenal aktif mengenal karakter para dosen dengan rajin kuliah. Kalau bisa usahakan bertanya saat muhadarah berlangsung, atau menyapa beliau ketika berpapasan di jalan dan menanyakan pelajaran yang kurang dipahami. Bisa juga dengan bertanya pada kakak-kakak senior yang juga belajar dengan beliau.

Hal yang tak kalah penting juga untuk dikuasai adalah cara belajar dan memahami muqarrar. Diantara kiat-kiat yang bisa dijadikan acuan dalam belajar dan memahami muqarrar adalah:

1.      Mengenali bentuk materi kuliah dan jangan sekali-kali menghafal sebelum memahami apa yang hendak dihafal.

2.      Meringkas apa yang dipahami dari penjelasan dosen sewaktu muhadarah dan apa yang dipahami dari buku.

3.      Kalau seandainya ujian sudah dekat dan muqarrar belum turun, ini bisa diatasi dengan rajin mengikuti kuliah dan berusaha meminjam catatan dari orang mesir yang kita yakini kerajinan dan kemampuannya.

4.       Rajin mengikuti kuliah dan bimbingan-bimbingan serta belajar kelompok.

5.      Jangan tergiur dengan tahdidan atau batasan-batasan muqarrar, usahakan membaca dan memahami buku sebaik-baiknya.

6.      Setelah membaca dan memahami muqarrar, kumpulkan soal-soal dari tahun-tahun sebelumnya dan coba untuk menjawabnya.

7.      Jaga kesehatan dan penuhi gizi makanan yang masuk ke dalam tubuh sehingga tubuh tetap fit.

8.      Berdoa dan tawakkal kepada Allah swt karena apapun yang kita usahakan hasilnya ada di tangan Allah SWT.

Dengan kedisiplinan dan usaha maksimal menuntut ilmu, insya Allah setiap langkah kaki kita akan diberkahi dan dimudahkan oleh Allah. Mari segera menyandang tas di pundak, membawa muqarrar ke kuliah, bersiap-siap di pagi hari menuju kuliatul banat Universitas Al-Azhar Asy-Syarif. Sudah saatnya kita mentajdid niat dan menumbuhkan semangat kembali dalam rangka menutut ilmu di negeri para Nabi ini, untuk menggapai ridha Allah dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

* Mahasiswi tk 1 Ushuluddin Univ Al-Azhar Kairo

Tulisan ini pernah diterbitkan buletin BK-Sheet KMM Mesir edisi Oktober 2010

Karma

25 November 2010 at 9:35 am | Posted in AKHLAK, Gen 6, SASTRA, UKHUWAH | Leave a comment

By: Fitri Shabrina Lc.

“Tingtong…tingtong..tingtong…” Suara-suara itu kembali memenuhi gandang telingaku. Baru saja aku mau menggamit al-Quran kesayanganku, belpun berbunyi lagi. Huuh.. bayangkan! Aku sebelumnya sudah membuka pintu dua kali berturut-turut. Masa harus aku lagi yang buka? “Nyebelin banget” gerutuku dalam hati. “Pokoknya aku gak mau buakain pintu lagii…!”  teriakku dari kamar. Ku gapai Quran biru yang dari tadi kucuekin, dan terus ku baca. “Tingtong…tingtong..tingtong…” belpun berbunyi lagi. Lalu, hening…hatiku mulai gelisah. Kenapa sih penghuni kamar-kamar sebelah gak ada yang mau bukain? Yang mau masuk juga, kenapa gak bawa kunci sih!

“Tingtong…tingtong..tingtong..” Akupun melangkah setengah hati menuju pintu. Segera kubuka, dan kulihat wajah letih menyembul di balik sana. Seburat tampang manyun plus kesal menghiasi wajah Itoh. “Pulang kuliah ya?’ Tanyaku basa basi. Kupun kembali kekamar melanjutkan kegiatanku yang hampir saja tak jadi terlaksana.

***

“Kriing..kriing..” Sekarang giliran telfon yang beraksi. Rasanya hidupku ini selalu dipenuhi suara-suara  aneh itu. Sebenarnya, kalo ada yang ngangkat sih gak masalah. Yang nyebelin itu gak ada satupun yang mau ngangkat karna semua pada sibuk di kamar masing-masing, seolah gak denger bunyi apa-apa. Tapi anehnya, pas lagi ngebet-ngebetnya ngangkap telpon, semuanya pada nyerbu bak pengungsi ngejar bantuan mie instant.

“Aku gak mau terus-terusan ngalah jadi relawan gagang telpon ama gagang pintu” kataku dalam hati sembari terus mengaduk oseng-oseng. “Kriing..kriing..kring..” Si telpon bunyi lagi setelah diam sesaat.  Sejenak ku lirik telpon yang nampaknya sudah letih menjerit melaksanakan tugasnya. Gak mau… Masa mesti aku lagi yang ngangkat? Aku jadi ingat kejadian kemarin.

Pas telpon gak ada yang ngangkat, aku buru-buru keluar kamar mandi menimbang perasaan si penelpon. Yang bikin aku sebel, si Sasa yang asyik makan disamping meja telpon. Seolah punya pertemuan penting sama sepiring nasi dan gak bisa diganggu.. “Eh.. bunyi ya..” selorohnya garing. Yang bikin aku mumet lagi, telponnya buat dia lagi. “Aduhh…Sa,tau begini mah aku gak mesti bela-belain keluar hammam” celotehku. “Maallisy deh Fi..” jawabnya singkat.

Please dong yang merasa punya kepentingan supaya peka ama tuh telpon. Kuteruskan motong-motong sabaneh. Bayangkan sodara-sodara. Padahal jarak dapur ama telpon Cuma dua langkah. Namun…”Kriing..kriing….” Akhirnya egoku mulai luluh. Siapa tau orang itu punya urusan penting” pikirku. Kupun melangkah menuju sumber suara.

Ketika jarak antara tanganku dan telpon tinggal 3 senti…”Tunggu Fi, biar aku aja yang ngangkat. Kayaknya dari Ramen deh.” Ujar Mia di pintu kamar. “Aduuh.. kok gak dari tadi neng” gerutuku. “Aku kan gak perlu perang batin gini ” sambungku dalam hati””

Beginilah nasib telpon sama bel di rumahku. Kalo salah satunya udah mulai unjuk gigi, rumah ini seolah gak ada penghuninya lagi. Semua hening…Semua pada cuek, apalagi aku. Sejak kejadian-kejadian itu aku jadi orang paling anti ngangkat telpon ama bukain pintu.  Jadi, kalo mau masuk rumah, mesti bawa kunci. Atau sebelum keluar pesen gini dulu,” Nanti bukain pintu ya…”

***

Panasnya hari ini gak seperti biasanya. Sinar raja siang yang menggarang ditambah badai pasir membuat ku sesak nafas “Buurrr…” angin  plus semburan debu menerpa tubuhku. Segera ku tempelkan sapu tangan ke mukaku untuk menyaring udara yang akan masuk keparu-paruku. Lima menitr.. sepuluh menit…tiga puluh menit.. Ahh… Sudah setengah jam lewat aku menunggu di sini. Namun bus-bus itu belum juga datang. Allah… Aku bener-benar lemas. Tenggorokan ini terasa kering, sekering kuliku yang yang terbakar matahari. Aku ingin cepat-cepat pulang, meminum sebotol air yang sudah dari tadi pagi aku dinginkan di kulkas. Kemudian merebahkan diri di kasur yang empuk sembari menikmati lembutnya hembusan kipas angin.

Akhirnya bus 939 melongok dari simpang Nurul Khitab.  ” Alhamdulillah.. busku sayangku…cintaku…akhirnya kamu datang juga” bisikku setengah meringis.  Kulambaikan tanganku , dan segera ku naik. Subhanallah… Sangat penuh dan sesak. Bak sarden teri yang ditabur bubuk merica, tubuhku pun meringkik di sela-sela himpitan ikan Salmon. Sabar… Aku harus bertahan

“Mutsallas ma”ek!” Teriakku khas dengan logat mesirku yang gak mirip-mirip amat. Aku menyerobot menyibak dempetan manusia untuk bergerak keluar.  Alhamdulillah… Aku sedikit plong. Ku paksakan langkah gontai ini menuju rumah. Perutku mulai menghentak-hentak kelaparan. Dahaga inipun begitu juga.  Sang panas dan debupun terus berlomba-lomba menerpa tubuhku. Namun tak aku hiraukan. Yang penting sampai rumah terlebih dahulu. Ku paculangkah seribu

“Satu..Dua.. Tiga sembilan…empat puluh..” Akupun telah berada di lantai dua, di depan pintu yang sudah tak sabar lagi kusibak. Kurogoh tasku mencari-cari kunci. Hah.. tak ada! Kembali kubongkar semua isi tasku. Benar-benar tak ada.. Terpaksa ku pencet bel yang selama ini tak kuhiraukan. Berkali-kali kupencet, tak kunjung ada yang menggerakkn gagang pintu di balik sana. Lima menit..sebelas menit…setengah jam. Aku tertuduk lemas. Bukankan Yuni dan Itoh udah dari jam sebelas tadi pulang? Tanyaku dalam hati. Kupun merai Hp mungilku, dan mendial “Baiti jannati”. Hasinya tetap nihil. Allah… Sepertinya ini karma” bisikku. Akupun lunglai di depan pintu

Ta’aruf MABA dan Grand Opening Kegiatan Al Makki Term 1

25 November 2010 at 7:50 am | Posted in ORGANISASI, UKHUWAH | Leave a comment

by: admin

Senin 24 Oktober 2010 pukul 16.00 clt Fs Al-Makki mengadakan Grand Opening kegiatan term 1 serta Ta’aruf Maba (mahasiswa baru) Universitas Al-Azhar Kairo tahun 2010/2011. Selain memperkenalkan 18 orang mahasiswa baru alumni MAN Kotobaru Padang Panjang (16 putra dan 2 putri), Al-Makki juga mengundang generasi pertama alumni pesantren Ar-Risalah Padang yang juga baru menginjakkan kaki di bumi Kinanah, Mesir.

Acara yang diadakan di sekretariat Al-Makki ini mengangkat tema “Sambut Laskar Pemimpi Dengan Meretas Silatulaturahmi”. Tausiyah disampaikan dengan bahasa Arab Fushah oleh Ust. Hafiz Muhammad Al-Afgani, sarjana hadits Universtitas Al-Azhar berkebangsaan Afganistan. Beliau memotivasi seluruh peserta agar semangat menuntut ilmu dan berjuang menaklukkan segala rintangan internal maupun eksternal di bumi para Nabi ini. Tak hanya pemaparan Al-Quran dan Hadis yang beliau ulas, tapi dibarengi dengan berbagai contoh ketekukan dan kesabaran para ulama terdahulu dalam perjuangan menuntut ilmu. Antusiasme 70 lebih anggota yang hadir terlihat jelas, apalagi ketika berkali-kali ditanyakan: “aina nahnu minhum?” (dinama posisi kita dibanding mereka –para ulama tersebut).

Sosialisasi kegiatan Al-Makki 2010-2011 disampaikan ketua Al-Makki baru, Taufiq Hidayat Nazar dan dilanjutkan dengan perkenalan seluruh peserta yang hadir dengan para mahasiswa baru. Sementara itu, Almakkiyat juga mengadakan ta’aruf dengan maba putri di ruangan terpisah, serta mensosialisasikan program Almakkiyat term 1 yaitu (1) Workshop Tafsir-Hadis, (2) Pelatihan Penyelenggaraan Jenazah dan (3) Kajian Fakultatif (memakai format yang sama dengan diskusi ilmiah periode lalu, namun tahun ini bekerjasama dengan Bundo Kanduang KMM Mesir dan Ikathiyah Mesir). Pengurus Almakkiyat periode ini adalah Sari Husna, Ervyta Sari dan Rike Veronisa.

Sebelum acara ditutup panitia menghidangkan mie ayam spesial, menambah kehangatan suasana ukhuwah di awal musim dingin kota Kairo yang selalu cerah.

kasih tiada batas

25 October 2010 at 11:22 am | Posted in Gen 6, KELUARGA, SASTRA | Leave a comment


by: Fitri Shabrina

mata nanar itu

bak bendungan yang hendak tumpah

alirkan  deras anak sungai

begitu sayu…

 

garis keras dipipimu

siratkan berjuta makna

dalam menapaki tapak demi tapak hidup

sangat pahit…

 

jemarimu yang mulai gemetaran

dengan buku yang mulai mencuat

kalahkan lapisan kulit yang kian menipis

selalu tadahkan doa-doa

mengharap pada Sang Pencipta

di sudut malam nan gelita

 

saat sang raja siang kian membakar

kau terus ayunkan cangkul tua

menanam benih-benih muda

seraya terus lantunkan do’a

demi lambung anak-anakmu yang menganga

memang,

mengharap pada manusia

selalu berbuah kecewa

 

bunda…

cita kami membuatmu berkalang duka

rentetan pinta kami membuatmu tersiksa

namun, tak ada penolakan walau sepatah kata

hanya seulas senyum yang tersungging di sudut bibirmu yang mulia

 

bunda…

betapa kami tiada berbakti

kami penuhi hidupmu dengan tuntutan tiada henti

sedangkan membalas walau setitik jasamupun tak pernah kami sanggupi

sedang kasihmu tiada berbatas lagi

 

bunda…

begitu egoisnya kami

jutaan pinta mengalir dari lidah ini

padahal,

di pengujung malam hari

kau terus memutar keras memori

siapakah yang dapat dihutangi esok pagi…?

SELAMAT IDUL FITRI 1431 H

10 September 2010 at 12:37 am | Posted in ORGANISASI, UKHUWAH | 1 Comment

Penutupan Program Almakkiyat 2009-2010

31 August 2010 at 12:15 pm | Posted in Gen 9, KEGIATAN, Uncategorized | 1 Comment
Tags: , , ,

By: Lina Rizqi Utami

Bismillahirrahmanirrahim.

Seiring berjalannya waktu, berputarnya bumi pada poros dengan ketentuan-Nya, mengalirnya riak air tak henti henti, dan alam tetap pada kepasrahannya menjalankan titah Sang Pencipta, maka Qadarullah pun menetapkan berakhirnya periode masa bakti kepengurusan Al Makkiyat 2009/2010 dengan koordinator ustazah Reni Rahmawati.
Sabtu, 28/8/2010 menjadi saksi berakhirnya kegiatan Almakkiyat periode 2009/2010 sekaligus silaturrahmi akbar anggota Al makkiyat dengan suguhan acara yang menarik. Acara dilaksanakan di rumah salah satu grand senior Al makkiyat yaitu ustazah Dwi Sukmanila Sayska bertempat di Saqor Quraisy. Acara ini dimulai pada jam 16.15 WK, yang di bawakan oleh Lina Rizqi Utami. Kemudian setelah beberapa kata sambutan dari sohibul bait sekaligus penjamu kami pada malam itu dan koordinator Almakkiyat, acara di meriahkan dengan adanya doorprize dari pengurus.

Terbukti para hadirin sangat antusias menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut dengan menipisnya hadiah yang telah disiapkan. Pertanyaan itu seputar pembahasan kajian Tafsir Hadis Almakkiyat, ke KMM_an, hafalan Al-qur’an dan pertanyaan2 umum. Acara selanjutnya cerdas cermat tuhfatul atfal yang sebenarnya diikuti oleh 3 peserta, tetapi yang siap diujikan adalah 2 peserta. Sesi ini dimenangkan oleh ustazah Elvi Rahmi.
Acara di pending beberapa jam karena azan telah berkumandang. Hidangan yang telah tersedia menjadi penyegar kerongkongan, dan penghilang rasa lapar setelah menahan diri dari lapar dan haus selama sehari penuh. Es bandung buah, Pargedel jagung, dan kue dorayaki chocolatah menjadi menu buka puasa yang disiapkan oleh pengurus sekaligus sohibul bait. Setelah bersantap ria, maka Salat maghrib berjamaah pun segera ditunaikan dan sesudahnya makanan berat siap untuk disantap dengan menu nasi sup daging special dan sambalado mantap.
Setelah berehat sejenak, acara disambung dengan doorprize dadakan karena hadiah tinggal satu buah. Pertanyaan dari pembawa acara dijawab oleh ustazah Kemala Dewi sebagai penunjuk pertama. Kemudian acara terakhir sekaligus penutup, yaitu pembagian sertifikat kepada para pemakalah kajian tafsir hadits Al makkiyat, sekaligus pembagian sertifikat kepada peserta terbaik khat riq’ah yaitu ustazah Desri Ningsih, dan ustazah Regita Asy Syifa. Acara ditutup dengan foto bareng dan pembacaan do’a kafaratul majlis

ابن عمرو بن العاص وابن القبطى

31 August 2010 at 8:30 am | Posted in Gen 4, MOTIVASI, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , ,

بسم الله الرحمن الرحيم

ازيكو اخواتى؟ اتمنى تكونو كويسين وفي صحة جبدة. امين

مرة, مسؤولة عن بلوغ بتعنا طلبت منى ان اكتب مقالة باللغة العامية. ففكرت شويا و قلت هجرب. انشاء الله. فقالت لى ماشى. و اخترت موضوع عن قصة مؤثرة لابن عمرو ابن العاص مع ابن القبطى.

في خلافة عمر ابن الخطاب ولى عمرو ابن العاص اميرا فى مصر.وفي يوم من الأيام عملوا سباق للفرسان. فاشترك فيه محمد ابن عمرو ابن العاص. و اشتد السباق بين ابن عمرو و ابن القبطى. فحصل  شيء غير متوقع.وهوان ابن القبطى سبق ابن اميرا مؤمنين. فغضب ابن عمرو,ازاي ابن القبطى بيبقى احسن منى؟. فانا ابن الأمير, ابن الفاتحين الأكرمين المهتدين. اخذ سوطا ليضرب به ابن القبطى. و الدم يسيل من ظهره لسلطان ابيه.

اشتكى المسكين لابيه. حزن ابوه عليه و استشار ابوه  اهل الرأى و المشوره. فقالو له ان الأمير رجل طيب, نشر العدل و حرر المستعبدين. فراح هو و ابنه لأمير المؤمنين فى المدينة المنورة. يشتكوا له فيما حصل على ابنه. اثر فى نفس الأمير ما اثر فى نفسه. كتب الأمير الرسالة الى عمرو ابن العاص عشان يجي هو و ابنه.

لما وصلوالى الخليفة عمر الفاروق.  تجمع الناس عند امير المومنين

اعطى سوطا الى ابن القبطى. قال له اضربه كما ضربك. ابن القبطى ضرب ظهر ابن عمرو ابن العاص امير مصر, لغيت لما حس انه استوفى حقه قال امير المؤمنين الفاروق: ” لو ضربت عمرو ابن العاص ما منعتك, لأن الغلام انما ضربك لسلطان ابيه.” رد عليه ” لا, انا ضربت اللى ضربنى.”  ثم التفت الى عمرو ابن العاص قائلا : ” متى استعبتم الناس وقد ولدتهم امهاتهم احرارا؟. “

شوفو القصة, شوفو ازاى عدل السلطان على شعبه. خلى ابن المسكين الذي ليس له مكانة بين الناس يضرب ابن الأمير؟. فهكذا فى الاسلام عدل السلطان. علشان ان الناس سواء عند رب العالمين.

لما نشوف لوقتي كلنا نقول ان العدل و الاهتمام و الرعاية على الشعب من السلطان ضاع. ما شفنش دى الوقت السلطان اللى بيتمسك بحقوق الشعب اللى بيدى حقوقهم حتى فى الظلم. الناس الغلبانين اللى اهلهم يتقتل, يتضرب او فلوسهم راح يتسرق ما عملوش فيهم حاجة عشان يرجع حقهم. كل دة عشان ما عندهمش المكان, او الشرف. عشان هما ناس عادي.

فنتمنى ربنا يغير السلطان الظالم با لسلطان العادل. خاصة فى بلدنا و بلاد الاسلام كلها. و فى كمم برض ( اتحات الطلبة سومطر الغربية بمصر ) اللى بيعملو تغيير الرئيس و كل المسؤول عن الطلبة

Perjalanan menuju Port Said (Rihlah II Almakki & Almakkiyat)

21 August 2010 at 9:25 am | Posted in Gen 5, KEGIATAN, UKHUWAH, Uncategorized | Leave a comment
Tags: ,

oleh: Reni Rahmawati

Uni2, kawan2…masih ingat g’ kenangan rihlah kita ke Portsaid…??
Kira-kira dah bikin report lom buat si diary? Bagi yang udah, bolehlah baca lagi tulisan sederhana ini untuk mengingat-ingat kembali perjalanan kita. hmmm…bagi yang belum, ahlan kopi pes aja tulisan ini tuk melengkapi diary mu.

Rabu, 4 agustus 2009 adalah hari bersejarah bagi Almakki dan Almakkiyat. Satu-satunya kenangan indah bagi kita semua dengan adanya rihlah perdana ke luar kota, yaitu Port Said. Ini adalah rihlah Almakki kedua (periode 2009-2010).Rihlah awal Almakki adalah ke hadiqah yang merupakan rihlah langganan meregenenasi bagi Almakki dari tahun ke tahun. Tidak bisa dipungkuri, kita tinggal ditengah gurun pasir dan jarang sekali melihat tumbuhan hijau dan asri. Makanya rihlah ke hadiqah sangat urgen bagi kita semua.

Peserta rihlah kali ini bukan hanya anggota Almakki aja, ternyata anggota lainpun ikut bergabung demi memeriahkan suasana rihlah.

Kira-kira pukul 2 pagi, kita berangkat menuju Port Said. Kota ini berada tepat diperbatasan benua Asia dan Afrika. Ceritanya, porsaid ini merupakan kawan kamp kerja dibangun tahun 1859 oleh Said Pasha untuk menampung para pekerja di terusan Suez. Nah, dari nama Said Pasha inilah kota ini dinamakan “Port Said” (pelabuhan Said) sampai abad 19. Selain itu, Port Said sebagai pelabuhan terpenting dimana angkatan laut mesir berpusat. Dan juga daerah persengketaan Mesir dengan Israel sejak tahun 1956, namun dapat dipertahankan Mesir hingga meraih kemenangan dalam perang oktober 1973. wah, hebat ya Mesir….!! Sehingga sampai saat ini, kota ini banyak mengalami pembangunan di segala bidang. Dan yang pastinya, menjadi salah satu tujuan wisata bagi masyarakat Mesir di musim panas, terkhusus kita nih sebagai turis, mahasiswa asing yang tinggal di lingkungan masyarakat Mesir.

Kira-kira pukul 5, alhamdulillah kita sampai ke Port Said, kemudian menyebrangi terusan Suez, yang dikenal dengan penyebrangan Ma’diyah. Udara segar mengisi suasana pagi itu. Semua mata tertegun dan terpesona dikala mamandang dan menikmati indahnya pemandangan dikala pagi yang cerah. Setelah kapal berhenti, kemudian kita menuju mesjid yang berdiri kokoh dan megah, tidak jauh dari tempat pemberhentian kapal, namanya mesjid Mujamma’ Kabir. Masih ingat kan..?? Mesjid ini ada keunikan tersendiri,lho. Temen-teman bisa temukan bangunan ini persis sama dan mirip dengan mesjid Nur di Abbasiyah dan juga mesjid yang di Ismailiyah. Katanya pembangunan mesjid ini dibangun dengan arsitek yang sama dan masa yang juga sama. Kalo ga’ percaya telurusuri aja sebagai bahan penelitian…. Nah, disitulah mesjid tempat kita shalat shubuh.

Ternyata, kita mengadakan perjalanan tidak hanya sekedar rihlah, tapi kita juga bisa ketemu uni leli yang domisili di sana…,,

Setelah itu langsung ke pantai, pembukaan di handel langsung dengan kata-kata sambutan dari ketua Almakki dan beberapa senior Almakki. Kemudian, kita Almakkiyat bikin acara yang spesial tuk kita buat kita-kita aja. Canda tawa mulai berhamburan, ketika ni dwi dan dila sebagai PeJe acara memulai simulasi dan games yang fun dan edukatif di depan pantai. Ami, sebagai ketua panitia akhwat, juga ikut berpartisipasi sebagai peserta simulasi. Di akhir pemainan, dilanjutkan dengan tabadul hadaya alias tukar kado dengan hadiah yang unik dan menarik.

Kemudian siangnya, kita menuju Museum Militer (Mathaf Harbi). Museum ini adalah tempat bersejarah, kenapa? Karena menyimpan persenjataan yang pernah dipakai dalam peperanagn masa Fir’aun dan Islam. Bayangkan, peralatan yang kita amati saat itu adalah peralatan masa perang tahun 1967 dan 1973. Wow,, kuno abizzz…

Sorenya, acara bebas sampai menjelang magrib. Ada yang istirahat di mesjid Syathi’ yang posisinya tepat di belakang museum tadi. Mesjid yang megah, nyaman dan bersih posisinya dekat dengan pantai Kornesy sehingga ada sebagian yang melepaskan penat seharian disana. Dan di depan museum ini, jalan lurus ke depannya ada pusat perbelanjaan yang luas, namanya suq Libiya. Inilah pasar bebas (suq hurrah), yang dimiliki kota ini yang sesuai dengan letaknya di jalur ekspor impor. Semua ada disini, mau baju, sepatu dan berbagai peralatan dapur pun ada. Made in Indonesia pun juga ada lho, seperti baju batik. Jadi ga’ heran, selain tempat wisata sekaligus berbelanja, apalagi untuk persiapan musim dingin. Masih ada lagi pasar yang belum kita kunjungi, seperti pasar Tujari dan Hamidi. Pasar ini juga luas, dengan menampilkan harga standar dan kualitas yang ok.

Acara penutupan di pantai Kornesy, letaknya dibelakang museum Militer tadi, sambil menikmati udara sore dan indahnya sunset. Disinilah pembagain hadiah bagi para pemenang simulasi dan games.

Saatnya pulang menuju Kairo…..
Setelah sholat Maqrib, kita beranjak menuju Kairo. Suasana hening dan diam di mobil. Ternyata semua pada terlelap pulas. Kita sampai pukul 1.30 pagi di Madrasah.

Perjalanan seharian penuh yang panjang dan mengesankan, akan jadi kenangan yang tidak terlupakan nantinya….
Loving you Almakkiyat…
إذا لـم تـجـمـعـنـا الأيـام جـمـعـتـنـا الذكـريـات
وإذا العـيـن لـم تـراك فـالقـلـب لـن يـنـسـاك

Silaturrahim relawan KISPA dengan mahasiwa Minang di Mesir

11 August 2010 at 4:06 pm | Posted in MASISIR NEWS, ORGANISASI, UKHUWAH, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , , ,

Sambil mengisi waktu keluarnya izin masuk Gaza oleh state security dari pemerintah Mesir, pada hari Senin, 9 Agustus 2010, tepatnya ba’da Maghrib waktu Kairo, Relawan KISPA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina) berkunjung dan bersilaturrahim dengan mahasiswa Minangkabau di kantor KMM (Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau), Block 502 Complex Emarat 1st Settlement New Cairo Helwan, Mesir.

Ust. Ferry Nur menjelaskan pengalamannya di Mavi Marmara

Dalam kunjungan silaturrahim tersebut, Relawan KISPA yang terdiri dari Ust. Ferry Nur, Ust. Muhendri Muchtar, Andi Syaifuddin, Agus Daroesman yang didampingi Muhammad Syarif, Mahasiswa Indonesia di Mesir, disambut oleh Alnofiandri Dinar, Lc, yang merupakan putra X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumbar dan Afdhalul Syukri, Direktur Badan Pengelola Rumah Gadang KMM Mesir.

Setelah Shalat Maghrib berjama’ah, acara silaturrahim dibuka oleh ketua KMM Mesir periode 2010 – 2011, Alnofiandri Dinar, Lc,  kemudian dilanjutkan dengan serita dan penjelasan oleh ustadz. Ferry Nur perihal alasan mengapa mengikuti misi kemanusiaan armada Freedom Flotilla serta persiapan dan kegiatan yang dilakukan oleh KISPA selama berada di Turki dan juga dalam perjalanan menuju Gaza diatas kapal Mavi Marmara.

Perjalanan relawan KISPA dimulai dari pelabuhan di Istanbul kemudian Antalya menuju Gaza. Ustadz. Ferry Nur juga menjelaskan kejadian demi kejadian yang dialami selama berada diatas kapal Mavi Marmara, serta adanya sebuah ikatan ukhwah yang kuat diantara para relawan yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, negara dan agama. Namun di dalam kapal Mavi Marmara hanya ada satu komando, yaitu dari IHH sebagai penyelanggara Vivapalestina ke 4.

Ustadz. Ferry Nur juga menggambarkan betapa kejinya tentara Israel yang telah menjarah kapal Mavi Marmara, semua peralatan elektronik yang dibawa hilang diambil oleh Zionis Israel, namun Allah masih memberikan perlindungan serta menunjukkan betapa kuasanya Allah Swt, karena pada saat di dalam seorang sipir penjara memaggilnya dan menyerahkan kembali dana amanah dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina.

Ust. Muhendri saat menjelaskan pengalamannya

Pada pembicaraan kedua ustadz. Muhendri Muchtar yang juga merupakan salah seorang relawan KISPA menjelaskan pengalaman yang dialaminya atas kekejian Zionis Israel selama berada di kapal Mavi Marmara dan juga pada saat mengalami interogasi yang dilakukan oleh tentara zionis Israel.

Ustadz. Muhendri juga menyampaikan beberapa pengalaman relawan KISPA lainnya yang juga mengalami pelecehan, ini sudah menunjukkan betapa sombongnya Zionis Israel, namun disisi lain mereka juga pengecut kalau melihat orang yang diinterogasi memiliki kepercayaan diri yang tinggi seperti yang dialami oleh Hardjito tambah Muhendri.

Sebelum acara berakhir, diadakan sesi tanya jawab, diantara peserta yang terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi, terlihat begitu antusias mendengar penjelasan pengalaman relawan Freedom Flotilla.

Para mahasiswa sedang meminta tanda tangan Ust. Ferry Nur pada buku Mavi Marmara Menembus GazaPara mahasiswa sedang meminta tanda tangan Ust. Ferry Nur pada buku Mavi Marmara Menembus Gaza

Foto bersama KMM Mesir
Foto bersama KMM Mesir

Acara ditutup oleh ketua KMM Mesir dan dilanjutkan dengan ramah tamah serta pada kesempatan tersebut juga penulis buku Mavi Marmara Menembus Gaza, Ustadz. Ferry Nur membubuhkan tanda tangan pada buku yang diperoleh oleh para mahasiswa dan mahasiswi serta melakukan foto bersama sebagai kenang-kenangan. (KISPA/aa/fn)

MANAJEMEN WAKTU BULAN RAMADHAN

5 August 2010 at 5:50 pm | Posted in Gen 1, Uncategorized | Leave a comment

Oleh: Dwi Sukmanila Sayska MA

Sepertiga malam Sampai Subuh

Ø  Upayakan  bangun di sepertiga malam terakhir yang istimewa. Laksanakan Qiyamullail meski hanya dua rakaat! Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS. Al-Insan:26) “Sebaik-baik shalat setelah fardhu adalah shalat malam. ” (HR.Muslim). “Sedekah dan shalat seseorang di tengah malam dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api” (Hadist riwayat At-Tirmidzi) “Barangsiapa mendirikan shalat malam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah) niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Ø Rasulullah menekankan“Carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Barang siapa yang beribadah pada malam ini dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh-Nya (HR. Bukhari dan Muslim).

Ø   “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezki kepadamu”(QS.Thaha:132)

Ø  Barsahurlah, sebab sesungguhnya pada makan sahur itu ada berkahnya” (HR.Tirmidzi)

Ø Ikhlas puasa. “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ø  Banyak beristghfar Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka momohon ampun (kepada Allah)” (Adz-Dzaariyaat: 17-18). “Barangsiapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka. ” (HR. Abu Daud)


Ø Banyak berdo’a. “Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghaafir: 60) “Allah Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam sewaktu malam tinggal sepertiga bagian akhir, lantas berfirman, ‘Barangsiapa berdo’a akan Aku kabulkan. Barangsiapa yang memohon pasti Aku perkenankan. Barangsiapa minta ampun niscaya Aku mengampuninya, hingga terbit fajar. ” (HR. Muslim) “Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.” (HR. Al Bazar)

Ø Membaca Al-Quran. Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam pada setiap malam di bulan Ramadhan selalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membacakan Al-Qur’an baginya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: “Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari”, ِAl-Qur’ an juga berkata: “Aku mencegahnya dari tidur dimalam hari, maka kami mohon syafaat buat dia.”Beliau bersabda: “Maka keduanya dibolehkan memberi syafaat.” (HR Ahmad). “Orang yang membaca sebuah huruf dari Kitabullah (Al-Qur`an), maka ia memperoleh suatu kebaikan, sedang satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang seperti itu. Saya tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim juga satu huruf.” (HR Imam Tirmidzi)

Setelah Shalat Subuh

Ø  Berusahalah tidak tidur hingga terbit matahari. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,”Barang siapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian tetap duduk berdzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, maka ia seakan-akan memperoleh pahala haji dan umrah (HR.Tirmizi, dishahihkan Al-Albani). “Barangsiapa yang mengucapkan “Subhaanallaahi wabihamdihi” seratus kali setiap pagi dan sore, maka tidak akan datang pada hari kiamat orang yang bisa membawa (pahala) lebih baik daripada apa yang dia bawa, kecuali seseorang yang mengucapkan seperti apa yang dia ucapkan, atau lebih” (HR. Muslim)

Ø Bertaubat dan berdoa. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orangyang beriman supaya kamu beruntung. (An-Nuur: 31). “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At Tahrim: 8). “Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “(An-Nisa’: 110). “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali “ (HR. Muslim).

Ø muraja’ah al-Quran.“Penghapal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah ia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku, ridhailah dia, maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah SWT menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan ni`mat dan kebaikan “. [HR. At Tirmizi]

Ø Shalatlah dua rakaat dhuha begitu matahari terbit. Abu Hurairah berkata:“Sahabatku (Rasulullah ) menasihatiku akan tiga hal (yang tidak akan pernah kutinggalkan hingga ku mati) : puasa tiga hari setiap bulan (puasa bhidh), dua raka’at shalat dhuha dan agar aku melaksanakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka Aku akan mencukupimu di sore harimu.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i)


Saat Beraktifitas

Ø Menjaga perbuatan dan lisan dari dosa. “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa kecilmu) dan Kami memasukkanmu ke tempat yang mulia (Surga). “(An-Nisaa’: 31). “Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang berpuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata ‘Sesungguhnya aku sedang puasa” (HR. Al- Bukhari, Muslim). “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta kedunguan maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum .(HR. Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya). Betapa banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga. ” (HR. Ahmad)

Ø  Minta ampun bila tersalah. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Q.S. Ali Imran 133-134).

Ø Menuntut ilmu ikhlas karna Allah. “Barangsiapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah SWT memudahkan baginya jalan menuju Surga.” [HR. Muslim]. “Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya. ” (HR. Muslim).

Pertengahan Siang

Ø  Berusahalah istirahat menjelang atau sesudah Zuhur sebagai simpanan energi untuk qiyamullail. “Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan untuk shalat malam dengan tidur siang ” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Setelah Ashar

Ø Zikir sore.” Dan sebutlah nama Rabbmu pada (waktu) pagi dan petang. (QS. Al-Insan:25)

Ø Perbanyak shalawat. “Barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku ketika pagi sepuluh kali dan ketika sore sepuluh kali maka dia akan mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat.” (HR. Ath-Thabraniy)

Ø Memperbanyak sedekah. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan sekali di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). “Tidak boleh dengki kecuali dalam dua perkara, yaitu: orang yang dikaruniai Allah Al-Qur’an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).

Ø Melayani kebutuhan keluarga. “Sebaik-baik wanita penunggang unta wanita Quraisy yg baik adl yg sangat penyayang terhadap anak ketika kecil dan sangat menjaga suami dlm apa yg ada di tangannya.” “Engkau sama dekatnya dengan Surga dan sama jauhnya dari Neraka sebagaimana dekatnya engkau dalam melayani suamimu”, dan dalam riwayat lain “suamimu adalah Surgamu atau Nerakamu”.“Seorang perempuan yang menegakkan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, dan mematuhi suaminya akan memasuki Surga melalui pintu mana saja dia suka”. (HR. Bukhari dan Muslim). (HR. Bukhari dan Muslim).

Setelah Maghrib

Ø Menyegerakan berbuka dengan korma dan air putih. “Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur . ” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan At-Tirmidzi). “Makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa disertai dengan berlebih-lebihan dan kesombongan. ” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Ø Berdoa dan bersyukur ketika berbuka. “Sesungguhnya orang-orang yang ber-puasa pada saat berbuka mempunyai waktu dimana do’anya tidak tertolak” (HR. Ibnu Majah). “Bagi orang yang berpuasa dua kegembiraan, kegembiraan ketika ia berbuka serta kegembiraan ketika ia menemui Rabbnya” (HR. Bukhari dan Muslim). “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS Ibrahim:7).

Ø Lakukan shalat magrib dulu, baru lanjutkan dengan makanan berat. “tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada-Ku dgn suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Ku-wajibkan.” (HR. Bukhari)

Ø Menjamu orang lain berbuka. “Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berpuasa maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya. ” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Setelah Isya

Ø  “Barangsiapa mendirikan shalat Isya’ dengan berjamaah; maka ia bagaikan melaksanakan shalat separuh malam; dan barangsiapa shalat shubuh berjamaah maka ia bagaikan shalat semalam suntuk. ” (HR. Muslim). “Sesungguhnya shalat yang terberat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya’ dan Shubuh, jika mereka mengetahui pahalanya, niscaya mereka mendatanginya kendatipun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ø  ”Siapa saja yang shalat Tarawih bersama imam hingga selesai, akan ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah).

Ø Bersiap tidur dgn mengunci pintu dll. “Matikanlah lampu-lampu diwaktu malam jika kalian hendak tidur, dan tutuplah pintu-pintu, bejana serta makanan dan minuman kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ø Muhasabah diri dan memaafkan kesalahan orang lain. “…Maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.” (Q.S.Asy-Syura : 40). “Rasulullah SAW bersabda, “wahai Uqbah, bagaimana jika ku beritahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mahu memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu.”(HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).

Ø Berzikir, membaca surat Sajadah, Al-Mulk, ayat kursi dan DOA TIDUR. Disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam TIDAK TIDUR, sebelum membaca “Alif laam mim Tanzil..” (surat As-Sajadah) dan “Tabaarakalladzi biyadihil-mulk…” (surat Al-Mulk) “ (HR. At-Tirmidziy dan An-Nasa`i).

sumber: sukmanila.multiply.com

Mendayagunakan liburan musim panas agar ia tak terbuang percuma

2 August 2010 at 5:34 pm | Posted in AKHLAK, MOTIVASI | Leave a comment
Tags: , ,

oleh: Feni Elfienti

Sangatlah tepat membiacakan musim panas yang kita laluii saat ini. Panasnya terasa begitu menyengat ke tulang belulang kita. Sebagai mahasiswa yang mempunyai segudang acara dan seabrek kegiatan pasti kita jadi serba salah karna panas. Bahkan tak jarang udara yang begitu menyengat menjadi alasan dan justifikasi untuk membatalkan agenda yang telah direncanakan.


Sebenarnya, kita patut bersyukur dengan adanya  musim panas sebagai anugrah dari Alalh. Toh di akhirat nanti, di Padang Mahsyar kita akan merasakan panas yang lebih dahsyat hingga ke ubun-ubun. Sedikitpun tak ada bandingannya dengan musim panas di dunia ini.

Musim panas tahun ini dan pasca imtihan yang baru saja berlalu,hendaknya tidak dihabiskan dengan hal-hal tak bermanfaat. Selayaknya kita membuat planning yang efisien agar liburan ini tidak sia-sia, namun menjadi ajang pesta menuntut ilmu bagi kita di bumi para Nabi ini. Saking pentingnya pemanfaatan waktu, Allah telah bersumpah tentang waktu, salah satunya: “Demi Masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-oragng yang beriman dan meralam shaleh dan nasehat-menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat-menasehati dalam kesabaran. (Surah Al-Ashr: 1-3).

Natijah yang baru saja turun, bagaimanapun harus disyukuri, jika hasilnya bagus, jangan dulu terlena dan merasa puas. Tetapi harus berusaha meningkatkanya di masa datang, begitu juga kalau hasilnya masih mengecewakan, don’t be sad…banyak-banyaklah introspeksi diri dan berbaik sangkalah kepada Allah. Mungkin usaha kita masih kurangd an butuh kerja keras yang lebih giat lagi. Yang pasti janga berputus asa. Allah berfirman: “boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. (Surah Al-Baqarah: 216).

Jadi, walaubagaimanapun natijah yang didapat, liburan musim panas tetap harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Banyak hal positif yang bisa kita lalukan untuk peningkatan kualitas diri kita. Seperti:

1. Menghafal Al-Quran

Sebagai penuntut ilmu syar’I di Universitas Al-Azhar, tentunya kita senantiasa bergelut dengan dalil-dalil Al-Quran. Apalagi tiap tahun kuliah membebankan hafalan 2 juz Al-Quran. Ini tentu saja harus memacu semangat kita untuk lebih meningkatkan hafalan Al-Quran. Bukan hanya sesuai beban mata kuliah saja tapi hendaknya bisa sampai hafal 30 Juz Al-Quran lengkap dengan sanad resmi dari Syekh Hafiz.

2. Membaca Muqarrar (diktat kuliah)

Selesai imtihan bukan berarti muqarrar dicampakkan atau ditumpuk dalam lemari saja. Sebaiknya dibaca kembali dan dimuthala’ah lagi bagian-bagian yang belum dipahami. Atau bisa jadi membaca muqarrar kakak kelas, setidaknya untuk mendapat gambaran umum tetang pelajaran yang dibahas tahun depan, meskipun nanti buku muqarrarnya akan berbeda.

3. Membaca buku-buku bermanfaat.

Mesir sebagai gudang ilmu Islam memproduksi banyak sekali buku-buku berwawasan kesilaman. Sangat rugi jika kita tidak memanfaatkannya. Rata-rata masisir punya perpustakaan pribadi, dan kita bisa mulai membaca buku-buku kita yang belum disentuh lagi sejak pertama kali beli, atau bisa meminjam buku dari perpustakaan pribadi kawan. Perpustakaan kampus dan perpustakaan PMIK di Wisma Nusantara juga pilihan terbaik untuk menambah pengetahuan.

4. Mengikuti halaqah-halaqah ilmiah.

Sudah jadi kebiasan mesjid-mesjid di Mesir mengadakan halaqah ilmiah, Jika kita ke mesjid Al-Azhar, tertampang jadwal talaqqi dengan para Syekh yang bisa diikuti. Baik materi umum atau khusus yang berkaiatan dengan bidang ilmu tertentu seperti tafsir, hadis, fiqh, nahwu dan lain-lain.

5. Mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Masisir

Liburan musim panas bagaikan pesta kegiatan bagi organisasi-organisasi mahasiswa yang ada di Mesir. Mulai dari PPMI dan Wihdah, organisasi kekeluargaan, almamater dan bahkan acara-acara yang diadakan KBRI Mesir. Tentunya kita harus bijak memilih acara yang sesuai.

Sedangkan hal-hal negatif yang seharusnya dihindari adalah:

1. Kebiasaan begadang dan tidur pagi

Gara-gara udara panas, jadi banyak orang –juga sebagian masyarakat mesir – begadang hingga subuh, lalu tidur setelah shalat subuh sampai zuhur. Hal ini seharusnya tidak dijadikan kebiasaan.

2. Terlalu banyak rihlah

Mesir merupakan negeri eksotis yang menyimpan sejarah peradaban, mulai dari zaman kuno hingga zaman Islam. Sangat banyak tempat wisata pelepas lelah pasca imtihan. Namun, tidak baik jika terlalu bayak jalan-jalan dalam jangka waktu yang berdekatan.

3. Sibuk Tak Menentu (STM)

Ini terjadi jika kita tak punya agenda jelas untuk mengisi liburan, sehingga bingung akan melakukan apa. Lalu larut dalam kegiatan-kegiatan tidak penting dan tidak bermanfaat dalam peningkatan kualitas diri.

Terakhir, penulis berharap kita mampu bijaksana memberdayakan liburan musim panas ini. Alangkah menyedihkan rasanya, ketika malam menjelang tak sedikitpun ilmu dan manfaat yang bisa kita petik pada hari itu. Wallahu A’lam.

Successful Career Through IELTS Qualifications

1 August 2010 at 11:47 am | Posted in ENGLISH CLUB, Gen 5, KEGIATAN, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , ,

PPMI is an association which combines most activities concerning intellectual and organizational needs of Indonesian students in Egypt. PPMI also facilitates a couple of programs which concerns development capabilities and student qualifications. Nowadays, it has introduced “IELTS Preparation Course” supported by Language Community (PII), WIHDAH-PPMI, PMIK, SIC and also KBRI. The participants of the course insist of 23 students that has been implemented during 8 sessions, as for beginning at PMIK and the next occasions at SIC (Sekolah Indonesia Cairo) in Dokki. The class starts from 4 pm until 8 pm. We have attended it 3 times a week for almost about three weeks since March until the last week of April taught by the keynote speaker from Argentina, Mrs. Regina Calcagno.

What is IELTS?

IELTS is an abbreviation of International English Language Testing System; this course has become a source to improve the capability for English learners. It is quite well-known that IELTS are managed in co-operation with the University of Cambridge ESOL Examinations (Cambridge ESOL), British Council and IDP: IELTS Australia.

Therefore IELTS has become world recognized compatible towards the high international standards of language assessment. Furthermore, it is designed to access the language ability of candidates who wish to study or work as professional career, immigration authorities and other government agencies where English is preferred as the language of communication or may also be a means for those who wish to know their level for career purposes.

Certainly, IELTS mandatory for non-native students for studying in nations where English as a language communication. In generally, IELTS is more recognized by British and Commonwealth institution, but the TOEFL is more recognized by universities in the USA and a couple of European countries right now.  However, nowadays both of them recognized everywhere. Anyway, there are some universities still require the TOEFL, but the IELTS is growing rapidly. Its means that many Universities in UK, Australia, New Zealand and Canada uses, the IELTS as the main barometer for English users. Without IELTS qualifications, may not be granted there and will be unheard of.

The examination conducted by the British Council and also some institutes runs short courses which are to prepare for IELTS. There is no fixed pass mark in IELTS. The score, below Band 6 is too low and above 6.5 is accepted as a good score. And the examination is just held thrice, once a month. And the IELTS is not recommended for candidates under the age of 16.

IELTS test is designed by in two formats -Academic and General Training. Academic is suitable for students who wish to enter an undergraduate or postgraduate study programme. Mean while General Training is suitable for candidates planning to undertake non-academic training, work experience, or for immigration purposes.

All candidates take the same modules which consist of Listening & Speaking, while Reading & Writing are separate for Academic and General Training. So it comprises the four language skills: listening, reading, writing and speaking which are relevant to the real world.

IELTS and TOEFL are very similar, the main difference is that IELTS uses a face to face interview to know speaking ability, while the TOEFL is entirely computer based.

As participants of “IELTS Preparation Course” we have obtained more tips and tricks from Mrs. Regina Calcagno directly. For instance, she has taught us effective exam techniques in listening, reading, writing and speaking.

In the listening module, we hear the conversation for about two minutes and we will hear it only once. She suggested us to imagine the situation and common sense in language by our selves. When listening was on, the answers on the recording always appear in the same order as the question. uhh.., it was a big trouble to understand hard as I felt before.

In the reading module, will take 60 minutes, so we have to be able to skim and scan quickly because it will help to save our time.

And then in the writing module, she taught us methods and strategies for successfully completing the integrated words and how to be independent writing skills.

And the last one, in the speaking module, she advised to talk confidently because when we are nervous, we may lose our place and it is the most significant how to imagine the topics when interview and always keep speaking.  Certainly, we have to evaluate on fluency and coherence, range of vocabulary, grammatical range and accuracy and also pronunciation.

And some interest techniques I got at that time about; using words or expressions like actually, well, it depends, Mmm…, or but, it will make more natural when speaking, and then using words like anyway, so, and well to change direction when talking to a new topic. That’s sound very interested me, when Mrs. Regina explained all of these things. In addition, she tough us not every question answered by Yes or No. In fact, for answering “yes, I do”, the best way we may try to “explain” it more. Otherwise, when answer of the question by using word “no, I do not”, it is will be better by using expression like: “actually, no”. If answered by saying “no” directly, so that was sound rather rude and did not make a sense.

Surely, IELTS preparation is suitable for:

1.  Students who wish to enter university in a native English speaking country.

2. Students who need an internationally recognized English qualification for their profession.

3.  Students who want better opportunities for future employment.

4. Students who are serious about improving all areas of their English and gaining a highly respected English qualification.

By taking an IELTS qualification will give us opportunities thought international education and employment. Accompanying an IELTS test will be guaranteed to show our ability to communicate in English. And furthermore, it supports us to be success in the future. Pass the IELTS and get education and success in career can provide us the security, independence and financial rewards.  And also get the satisfaction of quality education and have team-works with other professionals. May be one of us be a lecturer, scholar (ustadz), or property big company who has qualification in English. That’s wonderful..!!

That’s way, I think PPMI and other supporting hold “IELTS Preparation Course” to increase our capabilities and qualifications as an overseas student of al-Azhar University in Egypt. In order to develop ability in compete with another students in this world. Not only capabilities in Arabic or Ammeyah but also in English. As an object which has standard of qualities to communicate in speaking one comment language and I am sure PPMI also gives us all of awareness how important IELTS preparation before measure.

Of course, all of us know that English is the first rank and the most fluently spoken language around the world. By way of English language it will indeed open the doors of opportunities by opening the rest of the world to us. We can across the world without the fear of being scared and worried; in a sense the world becomes closer and small town. Of course, by using English will make a profit for our future such as tool in giving dakwah or giving better understanding about Islam in western world, on top of that will help our career. That’s very lucky, we are here as a student at al-Azhar University has ability in Arabic, Ammeyah (Egyptian) language, and it is indeed necessary for us to improve our skill in English language more and more. Consequently, we should learn to do everything by knowledge, as the world will be opened for us.

Written by:  Reni Rahmawati

Participants of “IELTS Preparation Course”

Published in buletin “SUARA PPMI”

Edisi V Jumadil Tsani 1431 H/Mei 2010

Dialektik Ulama Dalam Al-Muhkam Dan Al-Mutasyabih

25 July 2010 at 12:11 pm | Posted in AL-QURAN, Gen 5, Uncategorized | Leave a comment
Tags: , ,

Oleh: Arina Amir Lc.

Pendahuluan

Allah  Swt. menurunkan  al-Quran ke muka bumi  sebagai  petunjuk  bagi umat manusla.  al-Quran  dengan  ayat-ayatnya memberikan  petunjuk  kepada seluruh  muslim  bagaimana  beriman dengan  akidah  yang  benar  dan  beribadah  dengan  cara  yang  benar.  Diantara  ayat-ayat  tersebut  ada  yang  dengan mudah  dipahami  tanpa  memerlukan penafsiran  yang  daqiq (mendalam) dan  sebaliknya. Inilah  nantinya  yang  dikenal  dengan  al-Muhkam dan al-Mutasyabih.

Pengertian al-Muhkam dan al-Mutasyabih

Dari  segi  bahasa,  kata  al-muhkam berasal  dari kata al-ihkam yang  bermakna  al-man’u. Sebagai  contoh  kalimat ahkama al-amr bermakna atqanahu wa mana’ahu ‘an  al-fasad.

Sedangkan  kata al-mutasyabih bermakna  serupa  dari  segi  bentuk  dan sulit  untuk  dibedakan.  Atau  dua  atau lebih  yang serupa  dari  segi  kata,  berbeda  dari segi makna.  Seperti  firman Allah  Swt.  tentang  sifat  buah-buahan  di surga  “wa utu bihi mutasyabiha” (penduduk syurga diberi buah-buahan yang serupa  bentuknya namun  beda  rasanya).

Adapun  pemakaian  keduanya  dari segi  istilah,  terdapat  beberapa  pendapat ulama  yaitu:

Pertama,  muhkam adalah sesuatu  yang diketahui  maknanya,  baik  secara  langsung  maupun  melalui  takwil.  Sedangkan mutasyabih  adalah  sesuatu  yang maknanya  hanya  diketahui  Allah  Swt saja,  seperti  hari  kiamat,  datangnya Dajal, ahruf al-muqaththa’ah pada  permulaan  beberapa  surat  dalam  al-Quran. Ahlussunnah  menganggap  inilah  pendapat  yang  benar.

Kedua,  muhkam adalah  sesuatu yang  hanya  mengandung  satu  makna  atau satu takwil sedangkan mutasyabih mengandung banyak makna. Ibnu Abbas memilih pendapat ini, begitu juga kebanyakan ahli ushul.

Ketiga, muhkan adalah sesuatu yang dipahami secara langsung tanpa perlu penjelasan. Sedangkan mutasyabih adalah sesuatu yang membutuhkan penjelasan akibat berbedanya penakwilan. Dengan artian mutasyabih bersifat kondisional. Pendapat ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Keempat, muhkam adalah sesuatu yang bagus bentuk dan susunannya serta mengacu pada satu makna jelas. Sedangkan mutasyabih adalah sesuatu yang maknanya hanya bisa diketahui jika terdapat petunjuk yang mengacu pada makna yang dimaksud. Pendapat ini disnisbahkan kepada Imam Haramain.

Kelima, muhkam adalah apa yang dalalahnya rajih yaitu nash dan zahir. Sedangka mutasyabih adalah apa yang dalalahnya tidak rajih, yaitu mujmal, muawwal dan musykil. Imam ar-Razy berpegang pada pendapat ini.

Semua pendapat di atas tidak bertentangan satu sama lain. Tetapi mayoritas ahli tahqiq berpendapat bahwa pendapat terakhir adalah pendapat yang paling jelas.

Al-Quran dan Muhkam-Mutasyabih

Di dalam al-Quran terdapat ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Al-Quran itu seluruhnya muhkam, seperti firman Allah: كتاب أحكمت أياته Namun juga ada ayat yang menunjukkan bahwa al-Quran itu seluruhnya mutasyabih, seperti firman Allah: الله نزل أحسن الحديث كتابا متشابها Namun di sisi lain terdapat ayat yang menunjukkan bahwa ayat al-Quran sebagiannya muhkan dan sebaginnya mutasyabih, seperti firman Allah: أنزل عليك الكتاب هن أم الكتاب وأخر متشابهات

Muncul  pertanyaan  apakah  ayat-ayat  ini saling  bertentangan  satu  dengan  yang lainnya?

Jawabannya adalah tidak. Penjelasannya adalah, maksud dari perkataan bahwa  al-Quran  seluruhnya muhkam adalah, al-Quran tersusun dengan sangat  rapi  dan  teliti  serta  tidak  terdapat kekurangan  dari  segi  lafaz maupun makna. Sedangkan yang dimaksud dengan  al-Quran  seluruhnya mutasyabih adalah  bahwa  ayat-ayat al-Quran  serupa dari segi  keindahan,  saling membenarkan  satu  dan yang  lainnya  dari segi makna,  juga serupa  secara  lafaz  serta maknanya  sebagai  sebuah  mukjizat.

Adapun  pernyataan ketiga  bahwa  al-Quran  sebagiannya muhkam dan  sebagiannya  lagi mutasyabih, maknanya  adalah  di dalam  al-Quran terdapat ayat-ayat yang  jelas maknanya yaitu muhkam dan dan ada  ayat-ayat yang  tidak  jelas maknanya  serta butuh penafsiran yaitu mutasyabih. Ulama  berbeda  pendapat  dalam  hal  ini sebagaimana  dijelaskan  dalam  pengertian muhkam dan mutasyabih dari segi istilah.

Bentuk-Bentuk Mutasyabih

Ar-Raghib  mengatakan di dalam kitabnya Mufradat al-Quran bahwa  mutasyabih mempunyai  tiga bentuk: mutasyabih dari segi lafaz, mutasyabih dari segi makna, dan mutasyabih dari segi lafaz dan makna sekaligus.

l.  Mutasyabih dari segi  lafaz

a. Dari  segi  lafaz mufrad (tunggal) terbagi  dua:

-Disebabkan  keanehan  lafaznya, seperti  firman Allah  Swt. وفاكهة وأبا yang  artinya  rumput-rumputan, dengan  dalil  ayat  setelahnya متاعا لكم ولأنعامكم

-Disebabkan  lafaznya  mengandung banyak  makna  seperti  firman Allah Swt.  فراغ عليهم ضربا باليمين.

b. Dari  segi  lafaz murakkab (majemuk) terbagi  tiga  bentuk:

-Karpna  disebabkan  oleh  ringkasnya perkataan  seperti  firman  Allah  Swt.

وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم.

-Karena  disebabkan  oleh  panjangnya kalimat  seperti  firman Allah  Swt. ليس كمثله شيء mungkin  akan  lebih  jelas maknanya  seandainya  huruf  kaf  dihilangkan.

-Karena  disebabkan  oleh  susunan kalimatnya  seperti  firman Allah Swt.  الحمد لله الذي أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجا قيما

2.  Mutasyabih dari segi yaitu makna ayat-ayat tentang sifat Allah Swt, dan hari kiamat. Mutasyabih  lafaz dan  makna.

3.  Dari segi sekaligus, hal ini bisa dilihat dari lima segi:

a. Dari segi umum  dan khusus seperti dalam  firman  Allah Swt. فاقتلوا المشركين حيث وجدتموهم.

b. Dari  segi wajib dan  nadab seperti firman  Allah  Swt. فانكحوا ما طاب لكم من النساء

c. Dari  segi  waktu seperti  nasikh dan mansukh,  firman Allah  Swt. اتقوا الله حق تقاته

d. Dari  segi  tempat  dan perkara  yang menyebabkan  turunnya  ayat seperti firman  Allah  Swt.  إنما نسيء زيادة في الكفر akan  sulit mengetahui  makna ayat  ini  jika  tidak mengetahui  adat dan  kebiasaan  orang-orang  jahiliyah.

e, Dari  segi  syarat-syarat  sah  atau  tidaknya  suatu  perbuatan  seperti syarat-syarat  shalat  dan nikah.

Dari  bentuk-bentuk  mutasyabih  diatas  bisa  disimpulkan  bahwa  ayat-ayat mutasyabihat  di dalam  al-Quran terbagi ke  dalam tiga bagian:

1. Apa yang tidak mungkin diketahui ilmunya  oleh manusia  seperti  ilmu tentang  zat Allah Swt., sifatNya, ilmu tentang hari kiamat dan hal gaib lainnya  yang hanya diketahui oleh Allah Swt.  وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا الله

2. Apa yang  bisa diketahui  maknanya jalan oleh manusia  dengan  belajar dan  meneliti  seperti  mutasyabih yang  disebabkan oleh  ringkasnya kalimat atau susunannya.

3. Apa yang hanya dapat diketahui  oleh para  ulama melalui  tadabur dan ijtihad.

Ayat-Ayat  Sifat

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa  ayat-ayat  mutasyabihat  di  dalam al-Quran terbagi ke dalam beberapa bentuk.  Di antara  seluruh  bentuk  itu yang paling banyak  diperbincangkan adalah ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat Allah Swt (mutasyabih  ash-shifat) dan  ayat-ayat  dipermulaan surat yang terdiri dari kumpulan huruf hijaiyah (fawatih as-suwar). Ibnu al-Labban mengarang sebuah buku khusus  yang membahas tentang  mutasyabih  ash-shifat berjudul رد الشبهات إلى الأيات المحكمات

Para  ulama sepakat dalam  tiga hal mengenai  mutasyabih  ash-shifat yaitu;

1. Untuk menjaga makna  ayat mutasyabih ash-shifat terhindar dari makna yang mustahil, dengan meyakini bahwa Allah Swt. tidak mungkin memaknainya  dengan hal yang mustahil  itu.

2. Seandainya  pembelaan  terhadap agama sangat  tergantung kepada penafsiran  ayat mutasyabih ash-shifat maka diwajibkan untuk menafsirkannya dengan penafsiran  yang menghilangkan  keraguan.

3. Jika sebuah ayat mutasyabih ash-shifat mempunyai  satu penakwilan yang dekat  maknanya,  ulama sepakat untuk  memakai  penakwilan tersebut.

Seperti  fiman  Allah Swt. وهو معكم أين ما كنتم keberadaan Allah Swt. tidak mungkin sama dengan makhluk, dan hal ini sangat mustahil. Sehingga  yang tersisa  hanya satu penakwilan yaitu bahwa ilmu Allah Swt. melingkupi makhluk  dari  segi pendengaran, penglihatan, keinginan,  dan kemampuan.

Selain  tiga  hal di atas  para ulama berbeda  pendapat  mengenal  mutasyabih ash-shifat dalam  ayat-ayat  al-Quran, pendapat-pendapat ulama  terbagi  menjadi tiga:

Pertama, mazhab  salaf yang menyerahkan makna ayat-ayat  ini kepada Allah Swt.  setelah menjauhkannya  dari makna-makna yang mustahil. Dalil mazhab ini adalah:

a. Dalil  aqli, bahwa penentuan makna dari  ayat-ayat  ini bergantung  kepada kaidah-kaidah  bahasa  dan bagaimana orang Arab menggunakannya.  Hal  ini hanya  bersifat  zhan dan  bukan  yaqin. Sementara  sifat-sifat  Allah Swt.  termasuk bagian  dari akidah yang mengharuskan  dalil yang  qath’l  bukan zhanni.  Olen karena  itu  ayat-ayat  Ini tidak  ditafsirkan  dan maknanya  diserahkan  kepada Allah Swt.

b. Dalil naqli, mazhab  ini berpegang kepada  beberapa  hal:

  • Hadis Aisyah  ra. bahwa Rasulullah membaca ayat ini (Ali Imran:3)  lalu Rasulullah  bersabda فإذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فألئك الذين سمى الله فاحذروهم.
  • Ath-Thabrany  meriwayatkan  dari Abu Malik al-Asy’ary bahwa dia mendengar Rasulullah  Saw. bersabda “Aku tidak  khawatir  terhadap  umatku  kecuali  atas  tiga  perkara: mereka  mempunyai  banyak  harta  sehingga  saling iri  dan  saling  bunuh  dan  dibukakan kepada  mereka  kitab  lalu seorang mukmin menghendakinya dan ingin mentakwilkannya وما يعلم تأويله إلا الله .
  • Imam  Malik  ra. pernah ditanya  tentang makna “istiwa” dalam  firman Allah Swt. الرحمان على العرش استوى lalu beliau menjawab  الاستواء معلوم والكيف مجهول والأيمان به واجب والسؤال عنه بدعة وأظنك رجل سيء أخرجوه عني

Kedua,  mazhab  khalaf yang mencoba menakwilkan  ayat-ayat  sifat dengan makna  yang pantas bagi zat Allah Swt.

Ketiga,  mazhab  netral  adalah pendapat dengan menoleransikan  kedua mazhab di atas.  Ibn Daqiq al-Id  mengatakan2  “Kalau  ayat-ayat sifat  ditakwilkan  dengan  makna  yang  tidak asing bagi  orang  Arab  maka  makna ini  diterima. Tetapi jika maknanya jauh  dari makna yang dipahami orang Arab, maka tidak  perlu ditakwilkan.  Kewajiban kita cukup  beriman dengan makna yang diinginkan Allah Swt.

Hikmah  Adanya  Ayat-ayat  Mutasyabihat

Sesungguhnya ayat-ayat mutasyabihat ini mengandung hikmah tersendiri.  Ketika ditadaburi memberi-kan efek berupa penambahan rasa yakin bahwa al-Quran merupakan  suatu mukjizat  yang  tidak  ada tandingannya.

Diantara  hikmahnya  menurut  ulama adalah:

-Ayat-ayat  mutasyabihat  yang  mungkin diketahul maknanya:

1. Mendorong seorang pembaca  lebih berusaha untuk  mengetahui makna apa yang  dibacanya.  Semakin berusaha seseorang memahami maknanya  semakin  bertambah  pahala yang  didapatnya.

2.  Seseorang  yang membaca arat  mutasyabihat dan  ingin mengetahui maknanya akan  terdorong untuk mendalami  ilmu-ilmu yang lain, seperti  ilmu  bahasa, nahwu dan ilmu ushul  fiqh.

3.  Memperlihatkan  kelebihan orang yang berilmu dengan selainnya. Seseorang  yang telah mengetahui makna  satu  ayat mutasyabihat akan semakin bersemangat untuk mengetahui  makna  lainnya.

4.  Adanya ayat mutasyabihat mendorong  pembacanya  untuk menggunakan  nalar  akal  dalam  memahaminya.  Karena  seandainya  seluruh al-Quran  muhkam,  mungkin pembaca  al-Quran  akan  cenderung untuk memahami  apa  adanya  tanpa perlu mempelajari  dan meneliti makna ayat-ayat mutasyabih tersebut.

-Ayat-ayat  mutasyabihat yang maknanya  hanya  diketahui  Allah  swt.

1. Sebagai  rahmat  Allah  Swt.  bagi hamba-Nya  yang  tidak  mampu  mengetahui segala sesuatu. Karena  itulah Allah Swt tidak mengatakan di dalam al-Quran  kapan  akan  terjadinya kiamat sebagaimana Allah Swt tidak mengatakan  kapan  ajal  seseorang manusia  akan  datang.  Sehingga manusia tidak malas untuk mempersiapkan bekal menghadap-Nya.

2. Allah Swt. menurunkan  ayat-ayat mutasyabihat  sebagai ujian dan cobaan  bagi  hamba-Nya.  Apakah beriman  dengan  apa yang  maknanya  dikaburkan  oleh  Allah  Swt.dan  menyerahkan sepenuhnya  ke[ada-Nya atau  tetap bergelut  dengan ayat-ayat itu untuk memahami  maknanya?

3. Sebagai  dalil  bahwa  pada hakikatnya manusia  adalah  makhluk yang  lemah dan bodoh  walaupun memiliki ilmu  yang  banyak.  Juga  sebagai bukti akan kebesaran  kuasa  Allah  Swt.  Dan keluasan  ilmu-Nya  yang  mencakup segala  sesuatu  di  langit dan  di bumi.


Penutup

Dari  pembahasan  di atas  dapat dipahami  bahwa  mengetahui  muhkam dan mutasyabih  yang  terdapat  di dalam al-Quran  adalah  sebuah  kemestian. Karena ayat mutasyabihat harus  dipahami sesuai  dengan  bentuknya,  apakah ayat  tersebut  boleh  dipahami  apa adanya  atau  wajib  mengembalikan maknanya  ke makna  muhkam atau maknanya  diserahkan  sepenuhnya kepada  Allah  Swt. Wallahu A’lam.

*Pernah diterbitkan Buletin Menara

Next Page »

Blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.